journey healthy future

Tampilkan postingan dengan label Penelitian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penelitian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Juli 2013

Betah Main Ponsel Bikin Badan Tidak Fit

PENGGUNAAN ponsel yang berlebihan, baik untuk berbicara, browsing internet, e-mail, atau bermain video game, dapat mengganggu aktivitas fisik dan mengurangi kebugaran kardiorespirasi.

Lebih lanjut, Jacob Barkley dan Andrew Lepp, peneliti dari fakultas di Kent State’s College of Education, Health and Human Services menjadi tertarik untuk memelajari hubungan antara smartphone dengan tingkat kebugaran. Mereka mengatakan, tidak seperti televisi, ponsel yang kecil dan fungsi portable sehingga memungkinkan untuk memgggunakannya saat melakukan aktivitas fisik.


Namun, penelitian mereka mengungkapkan, meskipun smartphone memiliki sifat portabilitas (bisa dibawa kemana-mana) dan kenyamanannya berkontribusi pada gaya hidup malas bergerak, para peneliti mensurvei lebih dari 300 mahasiswa terhadap penggunaan ponsel dan tingkat aktivitas mereka, dan kemudian mengukur tingkat kebugaran serta komposisi tubuh dari 49 peserta.

Selanjutnya, hasil penelitian menunjukkan, siswa yang menghabiskan waktu menggunakan ponsel mereka sekira 14 jam per hari ternyata kurang fit atau bugar, dibandingkan mereka yang hanya rata-rata 90 menit per hari menggunakan ponsel.

“Sekarang saya telah beralih ke smartphone, dan saya bisa katakan itu menurunkan aktivitas fisik saya. Hal ini, karena jika saya bosan, saya hanya dapat men-download apa pun yang saya inginkan,” kata salah satu peserta penelitian sebagaimana dilansir Redorbit.Sementara, peneltian yang dipublikasikan secara online dalam Internasional Jounal of Behavioral Nutritio tersebut diyakini menjadi yang pertama untuk menilai hubungan antara penggunaan ponsel dan tingkat kebugaran masyarakat. Para peneliti mengatakan, temuan ini menunjukkan penggunaan ponsel mungkin dapat menilai risiko seseorang mengalamii banyak masalah kesehatan yang berhubungan dengan gaya hidup.

Referensi:
http://health.okezone.com/read/2013/07/16/482/837635/betah-main-ponsel-bikin-badan-tidak-fit

Selasa, 18 Oktober 2011

Riset Operasional Intervensi Kesehatan Ibu dan Anak (ROI KIA) Berbasis Budaya Lokal

Riset Operasional Intervensi Kesehatan Ibu dan Anak (ROI KIA) Berbasis Budaya Lokal merupakan riset dalam rangka meningkatkan Kesehatan Ibu dan Anak dengan memanfaakan kearifan budaya lokal yang merupakan suatu budaya yang telah berkembang di masyarakat secara turun temurun. Penelitian ini diharapkan dapat diselenggarakan untuk membantu menyelesaikan masalah dan meningkatkan kesehatan ibu dan anak melalui suatu intervensi berbasis budaya lokal dengan mengikuti kaidah dan metode penelitian yang benar, dan dapat dipertanggung jawabkan secara etik ilmiah.

Pedoman Riset Operasional Intervensi Kesehatan Ibu dan Anak Berbasis Budaya lokal tahun 2012 merupakan acuan untuk menyusun riset operasional intervensi yang difokuskan kepada kesehatan ibu dan anak, sehingga proposal dapat disusun sesuai kriteria yang telah disyaratkan. Penelitian akan dilaksanakan tahun 2012 dengan penyelenggara adalah Pusat Humaniora Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat - Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan - Kementrian Kesehatan R.I.

Masalah KIA dan pengaruh sosial budaya masyarakat menjadi permasalahan yang memerlukan suatu pemecahan segera. Peran masyarakat perlu ditingkatkan dengan melihat permasalahan lokal serta potensi yang ada. Agar mempercepat perbaikan upaya kesehatan ibu dan anak, perlu dukungan riset operasional berupa intervensi berbasis budaya. Budaya lokal yang bernilai positip bagi kesehatan perlu diangkat sebagai kekayaan bangsa.

Wujud budaya dapat berupa:
(1) Sistem ide/gagasan/nilai/norma/peraturan
(2) Sistem Sosial yang berupa kompleks aktivitas tindakan berpola dalam masyarakat
(3) Alat-alat/benda yang merupakan hasil karya manusia

Wujud budaya tersebut merefleksikan budaya dan identitas sosial dari masyarakatnya. Pengembangan atau inovasi dengan melibatkan wujud sosial budaya lokal yang bermanfaat bagi upaya KIA sangat dibutuhkan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui suatu intervensi yang dapat diterima oleh masyarakat pelakunya. Dengan demikian, kekayaan budaya Indonesia yang baik dapat terus dikembangkan, dilestarikan dan dimanfaatkan secara lokal bahkan bila memungkinkan secara nasional.

Tujuan

Memberikan kesempatan kepada peneliti melaksanakan Riset Operasional Intervensi Kesehatan Ibu dan Anak berbasis budaya lokal.

Memberikan alternatif solusi masalah Kesehatan Ibu dan Anak melalui pendekatan budaya.

Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau besar dan kecil yang dihuni ratusan suku dengan berbagai ragam budaya telah memberikan suatu kekhasan tersendiri. Perilaku masyarakat khususnya masyarakat tradisional tercermin dari perilaku mereka memanfaatkan kekayaan intelektual masyarakat lokal berupa pengetahuan tradisional mereka dan keanekaragaman hayati di lingkungannya. Budaya lokal ini bila dikaitkan dengan kesehatan terutama ibu dan anak dapat bernilai positif maupun negatif. Untuk itu Balitbangkes Kementrian Kesehatan R.I. mengadakan Riset Khusus (Rikus) Budaya terkait Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) yang akan dilaksanakan tahun 2012.

Rikus budaya ini mempunyai dua kegiatan, (1) Etnografi KIA, (2) Riset Operasional Intervensi (ROI) KIA.

Untuk kegiatan (1) etnografi KIA akan dilakukan di 12 lokasi penelitian di beberapa wilayah di Indonesia yang memiliki tradisi budaya yang khas dan masih kuat. Sedangkan untuk kegiatan (2) ROI KIA, balitbangkes mengundang para peneliti/dosen/LSM/pemerhati kesehatan melalui call for proposals. ROI KIA merupakan riset dengan memanfaakan kearifan budaya lokal yang telah berkembang di masyarakat secara turun temurun. Penelitian ini diharapkan membantu menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan KIA dan/atau meningkatkan derajat KIA melalui suatu intervensi berbasis budaya lokal dengan mengikuti kaidah dan metode penelitian yang benar dan dapat dipertanggung jawabkan secara etik ilmiah. Lokasi ROI KIA bebas meliputi seluruh wilayah Indonesia dengan dana maksimal 150 juta rupiah.

Batas akhir proposal masuk Nopember 2011 ditujukan ke: pusathumaniora@yahoo.co.id
contact person: Yunita F (085643249008) dan Mabaroch (08155060325).

Unduh

Silakan klik tautan dibawah ini untuk mengetahui ketentuan dan seleksi proposal :

Senin, 26 September 2011

Bahaya Saat Dimanja Teknologi

Dengan semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia telah mengembangkan cara-cara baru dan inovatif untuk mengurangi tenaga kerja manual dan membuat hidup lebih mudah. Namun, sayangnya sangat sedikit perhatian yang diberikan bahwa inovasi berdampak pada kesehatan kita.

Sebuah penelitian telah menunjukkan bahwa gelombang elektromagnetik dan peningkatan tingkat emisi gas rumah kaca dapat menyebabkan kondisi yang melemahkan seperti kanker, diabetes, dan penyakit jantung. Pada kenyataannya, sebagian besar produk yang kita gunakan sehari-hari dapat berdampak negatif terhadap tingkat kebugaran dan menekan sistem kekebalan tubuh. Mari kita lihat beberapa bahaya kesehatan dari kenyamanan modern dan bagaimana mengatasinya :

Ponsel
Kebutuhan akan komunikasi dan interaksi instant telah membuat ponsel menjadi bagian integral dari kehidupan kita. Tapi, apakah Anda tahu bahwa ponsel dan menaranya memancarkan sejumlah besar elektromagnetik (EMFs). Menurut penelitian terakhir, EMFs telah dikaitkan dengan sejumlah masalah kesehatan termasuk keguguran, cacat lahir, dan kanker payudara. Frekuensi ini disebut-sebut mempengaruhi hormon tubuh melatonin yang melindungi sistem kekebalan tubuh dan bertindak sebagai antioksidan kuat.

Microwave
Ini merupakan sebuah cara populer dalam mempersiapkan dan menghangatkan kembali makanan. Ada banyak spekulasi mengenai penggunaan gelombang mikro. Memasak makanan dalam microwave selama jangka waktu yang lama dapat mempercepat degradasi struktural yang mengarah ke penurunan gizi makanan. Bioavailabilitas mengurangi nutrisi seperti vitamin C, E, B kompleks, mineral penting, dan nucleoproteins. Jadi, ketika menggunakan microwave, disarankan untuk menggunakannya sebentar saja.

Plastik
Ini sering dianggap sebagai kemudahan modern revolusioner. Nyatanya, plastik kerap dikaitkan dengan sejumlah kondisi kesehatan yang berbahaya. Produk plastik seperti polyvinyl klorida, pthalates, dan polistirena sering dikaitkan dengan efek merugikan kesehatan seperti kanker, maag, iritasi mata, infertilitas, dan gangguan sistem kekebalan tubuh. Oleh karena itu, disarankan untuk tidak berlebihan menggunakan produk plastik dan memilih menggunakan bahan alternatif bila memungkinkan.

Alat Masak Teflon
Jutaan orang di seluruh dunia menggunakan peralatan masak antilengket teflon untuk memasak yang bersih dan menyenangkan. Tapi, mereka tidak tahu adalah fakta bahwa teflon memiliki lapisan sintetis dapat menyebabkan masalah kesehatan yang parah seperti cacat lahir. Produk ini juga dianggap sebagai karsinogen dan tidak memiliki sifat biodegrading. (mediaindonesia.com)

Rabu, 21 September 2011

Gizi Anak Sekolah di Indonesia

Jajanan anak sekolah Indonesia ternyata kurang memperoleh perhatian. Baik dari orang tua maupun lingkungan sekitar.

Karena perhatian masyarakat untuk kebutuhan gizi lebih tercurah pada bayi, balita, dan ibu hamil.

Pertumbuhan fisik anak sekolah terutama SD, memang cenderung terlihat lambat. Padahal tetap dibutuhkan zat gizi lengkap untuk belajar, sekolah, dan bermain. Zat gizi lengkap juga dibutuhkan untuk perlindungan dari penyakit. Anak usia sekolah yang kurang pemenuhan gizinya menjadi kurus, pendek, tidak aktif bergerak.

Data dari Riskesdas 2007 menunjukkan, sebesar 35 persen anak usia Sekolah Dasar (SD) pendek. Hal ini berarti pada usia enam sampai 12 tahun, tiga dari 10 anak SD pendek. Sepuluh sampai 20 tahun kemudian, anak-anak ini beresiko lebih tinggi terkena diabetes, kolesterol, maupun darah tinggi. Karena dengan lebih pendek menjadi mudah gemuk.

Selain itu, anak usia SD juga cenderung kurus. Jika pada usia SD sudah kurus, maka cenderung tidak ada perubahan sampai Sekolah Menengah Atas (SMA). Tubuh yang lebih kurus mengindikasikan asupan gizi yang kurang. Akibatnya, anak menjadi tidak aktif bergerak.

Menurut data Riskesdas 2010, sekitar 70 persen anak usia sekolah kurang mendapat asumsi energi yang dibutuhkan. Anak usia sekolah juga mengkonsumsi protein kurang dari yang dibutuhkan. Prosentase kurang protein kira-kira 80 persen.

Asupan gizi yang kurang mengakibatkan penyerapan ilmu selama sekolah tidak maksimal. Anak menjadi susah konsentrasi, cenderung malas, sering menguap, dan tidak kreatif mencari pemecahan masalah. Kondisi ini tentu harus segera diperbaiki. Jika tidak, masa depan cerah yang ingin dicapai Indonesia masih harus dipertanyakan.

Minggu, 31 Juli 2011

Kristalisasi Urin Akibat Panas

Disadari atau tidak pekerja berinteraksi dengan lingkungan kerja dan kondisi tubuhnya serta gerakan yang kesemuanya dapat menimbulkan efek negatif bagi kesehatan. Setiap tempat kerja mempunyai resiko yang besar untuk terjadinya gangguan penyakit dan kecelakaan yang dikenal dengan Penyakit Akibat Kerja (PAK) atau Kecelakaan Kerja (KK) terhadap petugas yang bekerja ditempat tersebut.

Setiap perbuatan (unsafe action) atau kondisi tidak selamat (unsafe condition) dapat mengakibatkan terjadinya penyakit dan kecelakaan di tempat kerja. Kecelakaan kerja sebagian besar disebabkan oleh faktor manusia dan sebagian kecil disebabkan faktor teknis. Oleh karena kerja merupakan interaksi yang terjadi antara manusia, alat dan lingkungan. Salah satu faktor untuk meningkatkan produktifitas kerja adalah lingkungan kerja, secara umum lingkungan kerja yang nyaman dapat meningkatkan produktifitas kerja. Lingkungan kerja yang nyaman dan kondisi kesehatan pekerja saling berkaitan dimana dapat timbul gangguan kesehatan pada pekerja sehubungan dengan pekerjaannya dapat disebabkan oleh pemajanan di lingkungan kerja.

Secara eksplisit produktifitas di pengaruhi oleh kenyamanan lingkungan kerja atau suhu di lingkungan kerja. Suhu lingkungan kerja yang terlalu rendah atau kondisi dingin berlebih-lebihan berpengaruh pada rasa malas untuk beristirahat yang berakibat pada berkurangnya kewaspadaan dan konsentrasi, hal ini terutama berhubungan dengan pekerjaan yang menuntut kesiapan mental sehingga tidak sedikit dijumpai justru menimbulkan kesalahan terhadap pekerjaan.

Ketidaknyamanan dapat menjadi sebuah gangguan atau bahkan akan menimbulkan efek-efek psikologis ataupun nyeri fisiologis. Tubuh manusia mengandung kadar air yang cukup tinggi. Komponen air di dalam tubuh dikenal sebagai cairan tubuh dan mengandung elektrolit mineral seperti sodium, potassium, kalsium dan klorida. Keseimbangan total air didalam tubuh dan elektrolit akan terjadi jika adanya keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran. Pengeluaran air dalam tubuh melalui : urin, tinja, pernafasan (penguapan air dalam udara ekspirasi) dan keringat. Keluarnya air melalui udara ekspirasi dan keringat dikenal sebagai kehilangan cairan yang tidak disadari.

Jika suhu terlalu tinggi yang disebut lingkungan kerja panas, selain mengganggu kenyamanan juga mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh. Berkurangnya cairan dan garam dalam tubuh (termasuk natrium, kalium dan magnesium) akibat keringat yang keluar ketika melakukan aktifitas fisik bagi mereka pekerja manual dapat secara tiba-tiba memberikan efek rasa nyeri dan kram pada tangan, betis dan kaki, selanjutnya otot menjadi keras dan tegang. Jika jumlah cairan dan elektrolit yang keluar melalui keringat sangat banyak sedangkan cairan yang masuk tidak mencukupi, dengan kata lain pengeluaran keringat yang tidak diiringi dengan masukan air minum yang cukup akan mempengaruhi tekanan darah, terjadi penurunan tekanan darah dan nadi menjadi lebih cepat. Bahaya lain akibat pengeluaran cairan yang berlebihan akan mempengaruhi produksi urin sehingga meningkatkan kepekatan urin (hipersaturasi/supersaturasi). Keadaan ini yang berlangsung cukup lama dapat mendorong terbentuknya antara lain kristal dan batu asam urat di saluran kemih.

Kondisi lain yang lebih berat akibat paparan panas di lingkungan kerja adalah heat stroke, berupa gangguan yang terjadi dimana pekerja mengerahkan tenaganya secara berlebihan, mengakibatkan meningkatnya suhu tubuh yang tidak dapat dikendalikan oleh pusat pengatur panas (thermoregulator). Keadaan akan menjadi fatal karena tubuh tidak mampu mengeluarkan keringat, selanjutnya suhu tubuh meningkat, kulit menjadi kering, panas dan merah. Penderita mengalami disorientasi, penurunan kesadaran, kejang, koma dan berakhir pada kematian.

Lingkungan kerja panas tidak selalu berarti bekerja di luar ruangan, seperti memperbaiki jalan/pengaspal jalan, pekerja pertambangan tetapi juga mereka yang bekerja didalam ruangan (indoor) dengan suhu ruangan yang panas seperti : dapur restoran, instalasi gizi di rumah sakit, pekerja laundry, peleburan baja, gelas dan sebagainya.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Borghi pada pekerja pabrik gelas yang terpapar panas dengan suhu 290 – 310 WBGT (Wet Bulbe Globe Temperatur) di lingkungan kerja selama lebih dari 5 tahun menemukan batu asam urat di saluran kemih pada sekitar 38,8% pekerja yang mengeluh pegal atau nyeri di daerah pinggang dan atau rasa panas atau rasa sakit saat buang air kecil.

Batu asam urat akan menimbulkan beberapa masalah : selain rasa nyeri, bila berlangsung lama serta tidak ditangani secara seksama dapat menjadi salah satu faktor penyebab gangguan fungsi ginjal dimana fungsi ginjal mengalami penurunan dan jika keadaan ini berlangsung lama dapat mengakibatkan gagal ginjal dan ginjal tidak dapat berfungsi lagi. Akibatnya selain merugikan pekerja juga perusahaan secara keseluruhan, produktifitas kerja akan menurun dan biaya kesehatan pekerja akan meningkat.

Penelitian lainnya yang dilakukan terhadap pekerja, khususnya di bagian binatu dan dapur restoran hotel yang memang selalu terpapar panas. Data klinik perusahaan tersebut pada tahun 1994 mencatat 20% pekerja mengeluh sama seperti penelitian Borghi. Data ini juga mencatat 28,8% pekerja yang bekerja di lingkungan panas urinnya mengandung kristal asam urat.

Secara rinci jenis pekerjaan berhubungan secara signifikan dengan terjadinya kristal asam urat urin artinya jenis pekerjaan mempengaruhi resiko terjadinya kristal asam urat urin, jenis pekerjaan cook dan laundry sangat erat hubungannya dengan alat/mesin yang menghasilkan panas, akibatnya secara tidak langsung akan mempengaruhi keseimbangan cairan tubuh dan sistem pemekatan urin. Pekerja di laundry mempunyai resiko 431 kali lebih besar dibandingkan dengan pekerja stewall staf. Demikian juga cook jika dibandingkan dengan jenis pekerjaan staf mempunyai resiko 1,9 kali lebih besar untuk mempunyai kristal asam urat dalam urin, pekerjaan yang berhubungan dengan sumber panas mempunyai resiko pembentukan kristal asam urat urin yang lebih besar.

Untuk menyadarkan semua pihak tentang bahaya lingkungan kerja panas ini, banyak hal yang harus dilakukan salah satu diantaranya yang cukup penting adalah menyajikan data yang akurat mengenai resiko bahaya di tempat kerja, sehingga Penyakit Akibat Kerja (PAK) dapat diminimalisir.

Upaya pencegahan tersebut dilakukan melalui pencegahan primer, meliputi: pengenalan hazard (potensi bahaya), pengendalian pajanan yang terdiri dari monitoring lingkungan kerja, monitoring biologi, identifikasi terhadap pekerja yang rentan, pengendalian teknik, administrasi, pengunaan APD (Alat Pelindung Diri). Pencegahan sekunder meliputi screening (deteksi dini) penyakit, pemeriksaan kesehatan berkala, pemeriksaan kesehatan bagi pekerja yang berpotensi terpajan hazard tertentu, berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah kesadaran tenaga kerja/pekerja untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan panas sehingga cairan tubuh tetap seimbang, upaya yang dapat dilakukan dengan cara : memakai pakaian yang terbuat dari bahan cotton, minum air dingin sebelum bekerja denagan jumlah total air minum selama bekerja minimal 4 – 6 gelas perhari, jika diperlukan penambahan garam pada minuman akan mengganti kehilangan cairan melalui keringat. Pemberian minuman yang mengandung garam dapat digantikan dengan buah tomat (jus tomat dingin). Konsumsi vitamin C 250 mg setiap hari diperlukan tubuh untuk aklimatisasi setelah terpapar panas. Kemampuan fisik terhadap lingkungan panas dapat ditingkatkan dengan melakukan latihan/senam serta menghindari merokok dan minum alkohol. Jika suhu ruangan kerja sangat tinggi sebaiknya pihak perusahaan menyediakan ruangan khusus yang memiliki sirkulasi udara yang cukup sebagai tempat istirahat.

Kenyamanan suhu (Thermal comfort) dimanfaatkan bukan saja untuk mencegah kelainan fungsi ginjal pada tenaga kerja/pekerja, tetapi juga untuk meningkatkan produktifitas para pekerja. Oleh karenanya setiap tenaga kerja dalam melakukan pekerjaannya berhak mendapat perlindungan atas keselamatan dan kesehatannya, karena kesehatan dan keselamatan kerja adalah merupakan unsur yang penting untuk menjadikan sumber daya manusia yang berkualitas dan produktif. Untuk itu perlu dilakukan upaya untuk membina norma-norma perlindungan kerja. Pembinaan norma-norma tersebut telah diwujudkan dalam undang-undang dan peraturan Keselamatan dan kesehatan kerja yang memuat ketentuan-ketentuan umum tentang keselamatan dan kesehatan kerja serta hal-hal lainnya yang terkait dengan keselamatan dan kesehatan pekerja.

Kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja merupakan tiga komponen utama dalam kesehatan kerja, dimana hubungan interaktif dan serasi antara ketiga komponen tersebut akan menghasilkan kesehatan kerja yang baik dan optimal. Kapasitas kerja yang baik seperti status kesehatan kerja, gizi kerja, lingkungan kerja yang nyaman serta kemampuan fisik yang prima diperlukan agar seorang pekerja dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Kondisi atau tingkat kesehatan pekerja sebagai modal awal seseorang untuk melakukan pekerjaan harus pula mendapat perhatian.

Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan suatu masalah penting dalam setiap proses operasional, baik di sektor tradisional maupun sektor modern beberapa permasalahan dalam dunia kerja tersebut jika tidak diantisipasi sejak dini akan membawa berbagai dampak buruk serta dapat berakibat fatal bagi tenaga kerja. (waspada.co.id)

Jumat, 29 Juli 2011

Trik Sehat Berponsel

Ponsel sudah menjadi perangkat yang tak terpisahkan lagi dari keseharian kita. Padahal, kita patut berhati-hati dalam menggunakannya. Menurut studi terbaru dari National Institutes of Health, menggunakan ponsel lebih dari 30 menit sehari bisa membuat tubuh terpapar radiasi eletromagnetik. Ini bisa memicu risiko kanker otak.

Namun, tak usah cemas. Devra Lee Davis, PhD, dokter bidang epidemiologi sekaligus penulis buku Disconnect : The Truth About Cell Phone Radiation, memberikan 4 tip bersahabat dengan ponsel :
  1. Alih-alih menempelkan ponsel langsung ke telinga, sebaiknya dengarkan pembicaraan lewat speaker atau handsfree.
  2. Sebaiknya, jangan lakukan panggilan di dalam mobil atau kereta yang tengah melaju kencang. Mengapa? Sebab di kedua tempat ini, sinyal ponsel cenderung lemah dan perlu melakukan rekoneksi ke menara pemancar. Ketika melakukan rekoneksi inilah, radiasi jadi lebih kuat dan jika kita melakukan panggilan, radiasinya bisa memapari telinga.
  3. Anjurkan anak-anak untuk mengirim pesan singkat ketimbang melakukan panggilan dengan ponsel. Gunanya untuk mencegah radiasi eletromagnetik menembus tulang tengkorak anak yang masih tipis.
  4. Selingi pemakaian telepon selular dengan media telekomunikasi lainnya, seperti telepon kabel atau telepon berbasis internet yang juga memiliki aplikasi chatting atau video call seperti Skype. (tribunnews.com)

Kamis, 07 Juli 2011

Seluruh Susu Formula yang Beredar Bebas Bakteri Sakazakii

Hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Kesehatan RI, Badan POM dan Institut Pertanian Bogor (IPB) memastikan 47 merek susu formula yang beredar di Indonesia selama tahun 2011 aman dari cemaran bakteri Enterobacter sakazakii.

Hasil penelitian ulang terhadap 47 sampel susu formula bayi produksi 2011 tersebut diumumkan hari ini di kantor Kementrian Komunikasi dan Informatika di Jakarta (8/7). "Semua susu formula yang beredar tidak ditemukan bakteri E.sakazakii," kata Trihono, Kepala Litbang Kemenkes.

Trihono mengungkapkan, penelitian dilakukan dengan metode surveilance atau mencari sampai mendapatkan apakah ada bakteri yang ditemukan atau tidak pada semua susu formula yang beredar.

"Setiap merek diambil dua batch atau dua nomor pendaftaran yang berbeda. Contoh susu formula diambil dari tujuh region di 33 provinsi, baik yang beredar di pasar tradisional atau swayalan," lanjutnya.

Seluruh sampel yang diambil oleh petugas dari Badan POM itu kemudian diteliti secara silang oleh ketiga institusi yakni IPB, BPOM dan Litbang Kemenkes menggunakan sejumlah metode riset dan diperiksa dalam laboratorium yang berbeda.

Hasil pengumuman penelitian ini diharapkan bisa memberikan jaminan keamanan pangan bagi masyarakat.



Dalam kesempatan yang sama Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih kembali mengingatkan agar bayi berusia 0-6 bulan diberikan ASI. "Susu formula hanya diberikan pada keadaan tertentu, misalnya jika ibu tidak memungkinkan memberi ASI," katanya.

Sebelumnya hasil penelitian IPB terhadap 22 sampel susu formula dan 15 sampel makanan bayi produksi 2003-2006 menunjukkan 22,73 persen susu formula dan 40 persen sampel makanan bayi positif terkontaminasi bakteri E.sakazakii. (kompas.com)

Rabu, 06 Juli 2011

Jumlah Penderita Diabetes di Dunia Meningkat Tajam

Menurut hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal the Lancet, jumlah orang dewasa di seluruh dunia yang mengidap diabetes telah berlipat ganda dalam tiga dasawarsa terakhir, melonjak hingga hampir 350 juta orang.

Diabetes adalah masalah global. Penelitian baru menunjukkan bahwa satu dari sepuluh orang dewasa di berbagai negara di seluruh dunia mengidap diabetes. Goodarz Danaei, peneliti pada Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas Harvard dan salah seorang penulis penelitian tersebut, mengatakan, "Penelitian kami menunjukkan bahwa hal itu tidak lagi penyakit di negara-negara makmur."

Tim peneliti mengumpulkan data tentang kadar gula darah dari hampir tiga juta orang di 200 negara selama periode tiga puluh tahun. Sebagian besar peserta mengidap diabetes tipe dua, penyakit yang terkait dengan penuaan, obesitas dan tidak melakukan aktivitas fisik.

Pengidap diabetes tidak bisa mengontrol kadar gula darah mereka. Hal ini dapat memicu penyakit jantung dan stroke, lumpuh dan kematian dini.

Bahkan di negara-negara di mana diabetes tidak merajalela, populasi telah meningkat dan begitu juga jumlah penderita diabetesnya.

Dokter Danaei mengatakan, "Meskipun jika hanya satu atau dua persen populasi mengidap diabetes, tetapi jika penduduk negara itu lebih dari satu miliar orang, jumlah pasien diabetes yang begitu sedikit akan menaikkan biaya dan sumber daya yang harus dipikul oleh sistem kesehatan negara itu untuk menangani pengelolaan dan pemberantasan penyakit. "



Diabetes adalah salah satu penyakit termahal untuk diobati karena memerlukan perawatan jangka panjang, tidak hanya untuk mengatur kadar gula darah, tapi juga terkait dengan komplikasi medis yang serius. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO memperkirakan lebih dari 70 persen pengidap diabetes tinggal di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah. Banyak orang di negara-negara ini tidak mampu membeli obat-obatan yang mereka butuhkan untuk mengontrol diabetes mereka dan demikian pula negara-negara yang anggaran kesehatan masyarakatnya sedikit.

Dokter Danaei lebih lanjut mengatakan, "Mereka harus menemukan cara yang hemat biaya untuk mencegah penyakit itu atau mendiagnosis penyakit itu pada tahap awal atau mengobati komplikasi diabetes itu dengan cara yang lebih efektif."

Para penulis penelitian itu mengatakan negara-negara perlu secara agresif mengedepankan gaya hidup sehat. Hal sama juga dikatakan para dokter yang mengobati penyakit ini, seperti Dokter Betul Hatipolu. Ia mengatakan, "Saya ingin sekali memberitahu semua orang bahwa mereka harus berolahraga dan mengonsumsi makanan sehat. Jika tidak, semua orang berisiko terkena diabetes."

Kedua penulis penelitian itu mengatakan diabetes kemungkinan akan menjadi salah satu fitur yang menentukan dalam kesehatan global kecuali jika kampanye kesehatan masyarakat untuk mencegahnya berhasil. (voanews.com)

Rabu, 15 Juni 2011

Radiasi Ponsel Bisa Picu Kanker

Sebuah panel ilmuwan terkemuka mengungkapkan bahwa radiasi dari telepon seluler (ponsel) bisa menjadi agen penyebab kanker otak. Para ahli menempatkan ponsel dalam kategori benda yang memiliki risiko bagi kesehatan, sama dengan pestisida, DDT, knalpot bensin, dan kopi.

Menurut kantor berita Associated Press (AP), temuan ini diumumkan Selasa, 31 Mei 2011 di Lyon, Prancis, oleh Badan Internasional untuk Penelitian Kanker setelah melakukan sejumlah riset. Badan ini berada di bawah arahan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Setelah penelitian bersama selama seminggu penuh, para ilmuwan menemukan tipe radiasi elektronagnetik di telepon seluler, microwave, dan radar. Menurut mereka, ada bukti bahwa radiasi telepon seluler bisa memicu dua tipe kanker otak. Namun bukti itu perlu diteliti lebih lanjut.

"Kami menemukan beberapa benang merah, bukti yang mengungkapkan pada kami bagaimana kanker bisa terjadi. Namun masih ada beberapa hal yang belum diketahui dan harus dipastikan,"kata anggota panel, Jonathan Samet dari Universitas Southern California, seperti dimuat AP, Rabu 1 Juni 2011.



Sementara, anggota panel yang lain, Kurt Straif mengatakan, paparan tertinggi radiasi adalah saat ponsel digunakan untuk menelepon. "Untuk penggunaan pesan pendek (SMS) atau menggunakan perangkat hands-free akan memperkecil paparannya."

Namun, meski 'berpeluang karsinogen (zat penyebab kanker)' itu tak berarti ponsel secara otomatis menyebabkan kanker. Dan sejumlah ilmuwan pun yakin, temuan ini tak akan lantas mengubah kebiasaan orang.

"Apapun dimungkinkan menjadi karsinogen," kata Donald Berry, profesor biostatistik di MD Anderson Cancer Center di Universitas Texas. Ia tak terlibat dalam penelitian ini. "Ini bukan sesuatu yang saya khawatirkan dan tak akan menghentikan saya menggunakan telepon genggam."

Karena ponsel sangat populer, mungkin mustahil bagi para ahli untuk membandingkan antara pengguna ponsel yang menderita tumor otak dengan orang yang tidak menggunakan perangkat namun memiliki penyakit yang sama. Apalagi, menurut survei tahun lalu, jumlah pelanggan ponsel di seluruh dunia telah mencapai lima miliar, atau hampir tiga perempat dari populasi global.

Ponsel mengirimkan sinyal ke menara terdekat menggunakan frekuensi gelombang radio -- dengan bentuk yang sama dengan gelombang radio FM dan microwave. Namun radiasi dari ponsel tidak secara langsung merusak DNA dan berbeda dengan tipe radiasi yang lebih kuat seperti sinar X dan radiasi ultraviolet.

Dalam level tinggi, gelombang dari ponsel bisa memanaskan jaringan tubuh. Namun belum dipastikan, apakah itu bakal merusak sel tubuh manusia.

Beberapa ahli menyarankan pengguna ponsel mengenakan headset atau earpiece nirkabel jika khawatir dengan dampak yang ditimbulkan alat itu bagi kesehatan.

Menurut Otis Brawley, kepala kesehatan American Cancer Society, mengimbau agar orang-orang lebih mengkhawatirkan ancaman nyata ketimbang ponsel. "Meski ponsel bisa menyebabkan tumor otak, namun itu membunuh orang jauh lebih sedikit daripada kecelakaan lalu lintas misalnya," kata dia.

Meski demikian ia menyarankan pembatasan ponsel untuk anak-anak. Sebab, otak mereka masih berkembang. (vivanews.com)

Rabu, 11 Mei 2011

10 Manfaat Seks Yang Luar Biasa

MANFAAT kesehatan seks seluas kamar tidur Anda. Ternyata seks yang baik untuk Anda ada dengan cara-cara yang mungkin tidak pernah Anda bayangkan.Ternyata seks yang baik menawarkan manfaat kesehatan lebih banyak lagi.

Hal itu merupakan kejutan bagi banyak orang, kata Joy Davidson, PhD, New York psikolog dan terapis seks. “Tentu saja, seks ada di mana-mana,” katanya.

“Tapi gagasan kita sangat penting, makhluk seksual masih tampak di dalam beberapa kasus merasa jijik atau dalam kasus lain sedikit malu. Jadi harus benar-benar melihat bagaimana seksualitas kita meningkatkan kehidupan kita dan kesehatan kita, baik secara fisik dan psikologis, hal yang membuka mata banyak orang. ”

Seks agar berguna bagi tubuh yang baik, dilakukan dalam beberapa cara, menurut ahli Davidson dan lainnya. Manfaat tersebut tidak hanya anekdot atau desas-desus. Terdapat 10 manfaat kesehatan dari seks yang didukung oleh penelitian ilmiah.

1. Seks Meredakan Stress

Manfaat kesehatan yang besar dari seks adalah menurunkan tekanan darah dan mengurangi stres secara keseluruhan. Menurut peneliti dari Skotlandia yang melaporkan temuan mereka dalam jurnal Biological Psychology mereka mengambil sampel 24 wanita dan 22 pria yang menyimpan catatan aktivitas seksual mereka. Kemudian peneliti, mengamati situasi stres – seperti berbicara di depan umum dan melakukan aritmatika verbal – dan mencatat tekanan darah mereka respon terhadap stres.

Mereka yang pernah melakukan hubungan memiliki tanggapan yang lebih baik untuk menyikapi stres dibandingkan mereka yang tidak terlibat dalam perilaku seksual lain atau abstain.

Studi lain yang dipublikasikan dalam jurnal yang sama bahwa hubungan seksual sering dikaitkan dengan tekanan darah diastolik pada peserta kumpul kebo. Namun penelitian lain menemukan hubungan antara pelukan mitra dan menurunkan tekanan darah pada wanita.

2. Seks Meningkatkan Imunitas

Berhubungan seks sekali atau dua kali seminggu telah dikaitkan dengan tingkat yang lebih tinggi dari antibodi yang disebut immunoglobulin A atau IgA, yang dapat melindungi Anda dari flu mendapatkan dan infeksi lain. Para ilmuwan di Universitas Wilkes di Wilkes-Barre, Pa, mengambil sampel air liur yang mengandung IgA, dari 112 mahasiswa yang dilaporkan frekuensi seks yang mereka miliki.

Mereka yang berada di grup “sering” – sekali atau dua kali seminggu – memiliki tingkat IgA lebih tinggi dibandingkan dalam tiga kelompok lain – yang dilaporkan sedang berpuasa, melakukan hubungan seks kurang dari sekali seminggu, atau memiliki sangat sering, tiga atau kali lebih mingguan.

3. Seks Membakar Kalori

Tiga puluh menit seks membakar 85 kalori atau lebih. Mungkin tidak terdengar banyak, tetapi sama dengan menambahkan 42 sesi setengah jam akan membakar 3.570 kalori, lebih dari cukup untuk kehilangan berat badan Anda. Anda bisa drop jika mengurangi berat dalam 21 sesi selama satu jam.

“Seks adalah modus besar latihan,” kata Patti Britton, PhD, Los Angeles. Sementara itu seorang seksolog dan Presiden American Association of Seksualitas Pendidik dan Therapist. Dibutuhkan kerja, baik dari perspektif fisik dan psikologis, untuk melakukannya dengan baik, katanya.

4. Seks Meningkatkan Kesehatan Jantung

Sementara beberapa orang yang lebih tua mungkin khawatir bahwa upaya dikeluarkan selama seks bisa menyebabkan stroke, itu tidak begitu, menurut para peneliti dari Inggris. Dalam studi yang dipublikasikan dalam Journal of Epidemiology dan Kesehatan Masyarakat, ilmuwan menemukan frekuensi seks tidak berhubungan dengan stroke pada 914 laki-laki mereka diikuti selama 20 tahun.

Dan manfaat kesehatan jantung dari seks tidak berakhir di sana. Peneliti juga menemukan bahwa melakukan hubungan seks dua kali atau lebih dalam seminggu mengurangi risiko serangan jantung fatal bagi laki-laki, dibandingkan dengan mereka yang melakukan hubungan seks kurang dari sekali sebulan.



5. Seks Meningkatkan Penghargaan Diri

Meningkatkan harga diri adalah salah satu dari 237 alasan orang melakukan hubungan seks, dikumpulkan oleh peneliti dari Universitas Texas dan dipublikasikan dalam Archives of Sexual Behavior.

Temuan itu masuk akal untuk Gina Ogden, PhD, seorang terapis seks dan terapis pernikahan dan keluarga di Cambridge, Mass,. Meskipun ia menemukan bahwa mereka yang sudah memiliki harga diri mengatakan mereka kadang-kadang melakukan hubungan seks untuk merasa lebih baik. “Salah satu alasan orang mengatakan mereka berhubungan seks adalah untuk merasa baik tentang diri mereka sendiri,” katanya pada WebMD. “Seks yang besar dimulai dengan harga diri, dan menimbulkan itu jika seks adalah mencintai, terhubung,. Dan apa yang Anda inginkan, hal itu menimbulkan itu.”

6. Meningkatkan Keintiman Seks

Setelah seks dan meningkatkan orgasme tingkat hormon oxytocin, hormon cinta, yang membantu ikatan dan membangun kepercayaan. Peneliti dari Universitas Pittsburgh dan University of North Carolina mengevaluasi 59 wanita premenopause sebelum dan sesudah kontak yang hangat dengan suami mereka dan mitra berakhir dengan pelukan. Mereka menemukan bahwa lebih banyak kontak, semakin tinggi tingkat oxytocin.

“Oksitosin memungkinkan kita untuk merasakan dorongan untuk memelihara dan obligasi,” kata Britton.

Oksitosin lebih tinggi juga dihubungkan dengan perasaan kemurahan hati. Jadi jika Anda merasa tiba-tiba lebih murah hati terhadap pasangan Anda dari biasanya, kredit hormon cinta.

7. Seks Mengurangi Nyeri

Sebagai hormon oxytocin lonjakan, meningkatkan endorfin, dan penurunan nyeri. Jadi jika Anda sakit kepala, nyeri artritis, atau gejala PMS terlihat memperbaiki setelah berhubungan seks, Anda dapat berterima kasih kepada mereka tingkat oxytocin lebih tinggi.

Dalam studi yang dipublikasikan dalam Buletin Experimental Biologi dan Kedokteran, 48 relawan yang menghirup uap oksitosin dan kemudian harus jari mereka ditusuk menurunkan ambang nyeri mereka dengan lebih dari setengah.

8. Seks Mengurangi Resiko Kanker Prostat

Ejakulasi yang sering, terutama laki-laki dapat mengurangi risiko kanker prostat di kemudian hari. Peneliti Australia dalam dalam laporan British Journal of Urology International mengatakan ketika mereka melakukan diagnosis kanker prostat, ternyata penderita prostat adalah mereka yang jarang melakukan hubungan seks. Bahkan pria lima atau lebih ejakulasi dalam seminggu mengurangi risiko terkena kanker prostat sepertiga.

9. Seks Memperkuat Otot Pinggul

Bagi wanita, berhubungan seks bisa menguatkan otot pinggul .

10. Seks Membantu Anda Tidur Lebih Baik


Oksitosin yang dilepaskan selama orgasme bisa mempercepat tidur. Tidur yang cukup dapat menjaga berat badan tekanan darah. (poskota.co.id)

Selasa, 03 Mei 2011

No Sex Sebelum Nikah Ternyata Lebih Nikmat

PARA ilmuwan dari Institute of Medicine di Utah, Amerika Serikat, telah menganalisis kehidupan bersama lebih dari 2.000 pasangan yang menikah dari berbagai usia, dan membuat beberapa pengamatan yang menarik.

Pasangan yang berhasil menjaga keperawanan sampai menikah dan melakukan malam pertama, maka hubungan intim dalam perkawinan mereka 21 persen dinilai lebih tinggi daripada suami dan istri yang punya kehidupan seks sebelum mengesahkan hubungan mereka.

Selain itu, orang-orang yang tidak ngeseks sampai menikah, 20 persen lebih merasa puas dengan hubungan dengan pasangan mereka. Pemahaman Mutual ini sepuluh persen lebih tinggi dari pasangan mereka.

Dan banyak kelompok yang memiliki "pantangan dari aktivitas seks sebelum menikah" mencatat bahwa kehidupan seks dalam perkawinan mereka terasa menakjubkan. Demikian yang dinukil dari Genius Beauty, Senin (2/5/2011).



Menurut banyak ahli, hubungan seksual antara suami dan istri tidak hanya komponen hubungan perkawinan bahagia. Namun, seks, atau lebih tepatnya tidak bercinta sampai tiba waktunya pernikahan, memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan pasca-perkawinan.

Penulis studi mengklaim, dampak positif tersebut disebabkan oleh fakta bahwa pada saat hubungan intim pertama pasangan sudah mengenal satu sama lain dalam cara yang sangat baik, dan memahami keinginan pasangan mereka pada tingkat intuisi. (okezone.com)

Tak Semua Pemuda Inginkan Seks Berlebih

Menurut survei yang dilakukan di Australia pekan lalu, tidak semua anak muda menginginkan seks yang berlebihan. Menurut survei itu, sebanyak 12 persen lelaki Australia berusia 16-24 tahun mengatakan lebih sedikit menginginkan seks. Padahal, kelompok umur tersebut merupakan kelompok umur tertinggi penduduk Australia.

"Walaupun minoritas, atau hanya 12 persen, hal itu sangat menarik. Dibandingkan dengan kelompok umur lainnya, mereka lebih sedikit menginginkan seks. Mitos lelaki tidak pernah puas akan seks dan sampai mati menginginkannya telah terkikis," ujar Juliet Richters, profesor pada Jurusan Kesehatan Seksual di Universitas New South Wales, Sydney, kepada Reuters, Selasa (3/5/2011).

Richters dan satu tim peneliti dari seluruh penjuru Australia melakukan survei terhadap 4.300 lelaki heteroseksual dan 4.400 perempuan berusia 16-64 tahun. Dia menambahkan, survei serupa yang dilakukan lima tahun lalu juga menghasilkan hal yang sama.



Hanya 31 persen lelaki yang berada pada kelompok usia tersebut mengatakan menginginkan seks lebih banyak. Jumlah itu merupakan yang terkecil jika dibandingkan dengan kelompok umur lainnya. "Diketahui juga, diperlukan waktu lebih dari satu tahun bagi seorang lelaki untuk berkomitmen terhadap sebuah hubungan," kata Richters lagi.(kompas.com)

Kenapa Menikah Itu Lebih Sehat Dibanding Melajang?

Pernikahan adalah sesuatu yang baik dan bisa memberikan banyak manfaat bagi tubuh dan kesehatan. Kenapa menikah lebih sehat dibandingkan dengan hidup sendiri atau melajang?

Penelitian mengenai hubungan antara pernikahan dan kesehatan sebenarnya sudah dilakukan sejak awal tahun 1858 yang dilakukan oleh William Farr, ahli epidemiologi dari Inggris.

Menikah tidak hanya memiliki keuntungan bisa hidup bersama, tapi ada banyak manfaat lain yang bisa didapat dibandingkan dengan hidup melajang, seperti dikutip dari Psychologytoday.com, Jumat (29/4/2011) yaitu:

Memberikan gambaran keuangan yang lebih baik
Menikah bisa membuat seseorang memiliki rincian keuangan yang jelas dan terarah serta bisa menghemat pengeluaran karena bisa saling berbagi. Selain itu keduanya akan memiliki dukungan emosional yang kuat ketika salah satu bermasalah dengan keuangannya.

Memiliki hidup yang lebih lama
Orang yang menikah diketahui memiliki hidup yang lebih lama, laki-laki lajang memiliki tingkat kematian 25 persen lebih tinggi sedangkan perempuan lajang memiliki tingkat kematian 50 persen lebih tinggi. Dan orang yang memiliki pasangan bisa menurunkan risiko meninggal akibat kanker sebesar 10 persen.

Selain itu menikah juga bisa membuat seseorang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih baik, dapat memonitor tekanan darah dan kolesterolnya secara lebih baik yang memungkinkannya kurang berisiko terkena penyakit. Serta cenderung lebih sedikit terlibat dalam perilaku berisiko seperti mengonsumsi alkohol dan juga tidak merawat diri.



Memiliki kesehatan mental yang lebih baik
Orang yang menikah memiliki tingkat depresi dan stres yang lebih rendah dan sekitar 40 persen mengaku sangat bahagia dengan kehidupannya dibandingkan dengan orang yang melajang. Hal ini dikarenakan adanya dukungan dari pasangan dan teman untuk berbagi sehingga masalah yang dihadapinya terasa lebih ringan.

Menikah juga bisa meningkatkan harga diri, kepercayaan diri yang diimbangi dengan mengurangi kecemasan dan depresi. Akibatnya hormon kortisol (hormon stres) yang lebih rendah membuatnya terhindar dari penyakit jantung atau kardiovaskular lainnya.

Kehidupan seks yang lebih baik
Sekitar 40 persen orang yang sudah menikah akan melakukan hubungan seks 2 kali seminggu dibandingkan dengan orang yang melajang atau hanya tinggal bersama, serta 40 persen pasangan memiliki kehidupan seks yang secara fisik dan emosional memuaskan. (detik.com)

Senin, 18 April 2011

Kerja Malam Vs Kesehatan

Kerja malam pastinya memiliki banyak efek buruk bagi kesehatan. Seperti melawan kodratnya, manusia yang seharusnya tidur di malam hari, tapi memilih untuk bekerja akan berhadapan dengan berbagai masalah kesehatan.

Tidak hanya akan memperburuk kondisi kesehatan, bekerja di malam hari tentunya akan sangat mempengaruhi kinerja otak seseorang. Penelitian yang dilakukan oleh Sleeping Air Traffic Controllers, baru-baru ini, menemukan mereka yang bekerja di malam hari memiliki tingkat konsentrasi juga kinerja lebih rendah. Terutama, bila dibandingkan dengan mereka yang bekerja di pagi hari.

Efek buruk tersebut kerap dirasakan oleh mereka yang berprofesi sebagai pengemudi truk dan bus, pilot penerbangan, pekerja industri maritim, buruh pabrik, polisi, petugas pemadam kebakaran, pekerja darurat, perawat dan dokter, koki, karyawan hotel dan orang-orang yang bekerja di media.

Menurut ahli syaraf Dr. William Fishbein, ketika seseorang bekerja di malam hari, maka ia menentang ritme biologisnya. Akibatnya, kinerja otak menjadi terganggu. Selain itu, mereka yang kerap bekerja malam hari akan rentan terserang berbagai jenis kanker juga serangan jantung.



"Kita punya 500 saluran kabel, kita sering membawa pulang kerjaan untuk diselesaikan di rumah bersama dengan komputer dan BlackBerry, di mana kerjaan dan hiburan dapat dilakukan secara bersamaan. Itu semua mempengaruhi hormon yang akan berujung pada berbagai masalah kesehatan," kata Fishbein. (liputan6.com)

Kamis, 14 April 2011

Ketahanan Gizi dengan Memberi Tambahan Makanan pada Anak

Kemiskinan merupakan pokok akar masalah gizi buruk. Persentase anak gizi kurang dan gizi buruk berbanding terbalik dengan pendapatan.Semakin kecil pendapatan penduduk, semakin tinggi persentase anak kekurangan gizi, semakin tinggi pendapatan, semakin kecil persentase gizi buruk.

ZAT gizi adalah bahan dasar yang menyusun bahan makanan. Zat gizi dikenal ada lima yaitu; protein, kharbohidrat, vitamin, dan mineral, tapi para ahli gizi memasukan air dan oksigen sebagai zat gizi dengan alasan digunakan dalam proses metabolisme tubuh, tapi pendapat lain air dan oksigen tak masuk dan gizi karena zat ini mudah didapat dan tunggal.

Dalam susunan hidangan Indonesia berbagai bahan makanan dapat dikelompokan menjadi 4 kelompok, (1) bahan makan pokok, (2) bahan makan lauk-pauk, (3) kacang-kacangan, tahu, tempe dan sayur-sayuran (4) buah-buhan, seperti pisang.

Kalau melihat kategori status gizi yang penting ialah berat badan/umur (BB/u), tinggi badan/umur, berat badan/tinggi badan. Kita di Indonesia sepanjang diketahui dibagi atas gizi lebih, gizi baik, gizi kurang, gizi buruk. Semua ini memiliki cerita.

Secara umum di Indonesia untuk melakukan atau melihat berat badan di lakukan dengan menimbang si balita suatu parameter yang menggambarkan masa tubuh.

Masa tubah sangat sensitive terhadap perubahan yang mendadak, karena terserang penyakit seperti infeksi, menurunnya nafsu makan/menurunya jumlah makanan yang dikonsumsi.

Berat badan adalah parameter yang sangat labil. Dalam keadaan normal dimana keadaan kesehatan baik dan keseimhangan antara konsumsi dan kebutuhan zat gizi terjamin maka berat badan mengikuti patokan umur.

Faktor umur sangat penting dalam menentukan status gizi. Kesalahan menentukan umur akan menyebabkan interpelasi status gizi menjadi salah. Hasil pengukuran tinggi badan dan berat badan yang akurat menjadi tidak berarti bila tak disertai dengan penentuan umur yang tepat.

Menurut orang pintar hatasan umur yang digunakan adalah tahun umur penuh (completed year) dan untuk anak umur 0-2 tahun digunakan bulan usia penuh (completed month) sebagai contoh tahun usia penuh, umur lima tahun dua bulan dihitung lima tahun, contoh bulan penuh usia empat bulan lima hari dihitung empat bulan dan sebagainya. Umumnya di pedesaan keluarga tidak memiliki catatan, mereka menyebutnya satu setengah tahun dan seterusnya.



Patogenisis Penyakit Gizi

Perjalanan penyakit gizi kurang dan seterusnya melalui lima tahap (1) ketidakcukupan zat gizi. Apabila ketidakcukupan zat gizi ini berlangsung lama maka persediaan/cadangan jaringan akan digunakan ketidakcukupan itu.

Apabila ini cukup lama akan terjadi kemerosotan jaringan yang ditandai dengan penurunan berat badan. Kemudian terjadi perubahan biokimia yang dapat dideteksi dengan pemeriksaan laboratorium. Akhirnya terjadi perubahan fungsi khas yaitu perubahan anatomi.

Kemiskinan merupakan pokok akar masalah gizi buruk. Persentase anak gizi kurang dan gizi buruk berbanding terbalik dengan pendapatan. Semakin kecil pendapatan penduduk, semakin tinggi persentase anak kekurangan gizi, semakin tinggi pendapatan, semakin kecil persentase gizi buruk. Kekurangan gizi berpotensi sebagai penyebab kemiskinan melalui rendahnya pendidikan dan produktivitas.

Karena problem kemiskinan bersifat multidimensi, strategi penanggulangan harus bersifat multidimensi juga. Selama ini dilakukan oleh yang mengatasnamakan pemerintah hanya bersifat ekonomi (BLT, beras raskin, pengobatan Jamkesmas dan lain-lain) semata-mata sehingga apabila kebutuhan ekenomi terpenuhi seolah-olah proyek kemiskinan di anggap selesai.

Kalau lebih jauh lagi melihat pemerintah dalam mengurangi angka kemiskinan 31,02 juta jiwa pada 2010 tapi kenyataan di lapangan penerimaan beras miskin (raskin) rakyat miskin tahun 2010 mencapai 72 juta jiwa begitu juga dengan Jamkesmas mencapai 76,4 juta jiwa.

Data tahun 2010 orang miskin sebanyak 13,33 persen total penduduk Indonesia sebagai kemiskinan makro.

Data ini hanya menunjukan istimasi jumlah dan persentase penduduk miskin yang berguna untuk perencanaan dan evaluasi program kemiskiaan dengan target geoktafi(Kecuk Hariyanto).

Data ini tak dapat menunjukkan siapa, dimana penduduk miskin sehingga tidak operasional (istilah dalam penelitian) untuk program penyaluran BLT, beras rakyat miskin dan Jamkesmas.

Bantuan langsung tak dapat dilakukan sebab tak bisa pakai data kemiskinan mikro karena-nya harus ada sensus sampel dan lainnya.

Jumlah rumah tangga sasaran (RTS) pada 2008 sebanyak 17 juta jiwa. Jadi ada warga negara miskin dan hampir miskin (indikatornya apa).

Penelitian

Penulis mencoba meneliti hubungan antara berat badan dan program PMT di Posyandu yang berada di Desa Kubuan Kecamatan Tanjungpura sampel diambil 13 orang sampel acak.

Dalam penelitian ini dipakai paired t.test ternyata Th>Tt maka hipotesa nol ditolak berarti ada perbedaan berat badan pertama kali ditimbang dan diheri PM-F, vitamin dengan berat badan 6 bulan kemudian di timbang kembali, jadi program PMT tambahan pemberian vitamin tambah susu formula yang dilakukan di Desa Kubuan Tanjungpura sangat baik.

Ini berkat adanya komunikasi di tingkat pedesaan yaitu dengan memperkenalkan teori Roger (1974) mulai dari awareness, interest evaluation trial dan akhir adoption. Demikianlah kiranya Pemda Tingkat II memberikan anggaran APBD memasukan anggaran untuk PMT serta susu pendamping asi.

Dengan teori Roger ini, kita membuat mereka sadar, hanya dengan menimbang berat badan si balita dapat diketahui apakah balita kurang gizi. Ini di ketahui mereka dengan menimbang dimana berat badan balita naik atau turun. Penimbangan ini dilakukan di setiap bulan. Yang penulis ambil adalah saat penimbangan pertama dan enam bulan kemudian di ulang lagi.

Dari uraian yang tertera dalam tabel data-data dapat menunjukan seperti di bawah ini:

1. Ho : tak ada perbedaan data berat badan balita sekaligus diberi PMT tambah vitamin (sejak pertama kali ditemukan/di posyandu dan sesudah 6 bulan berat badan balita di timbang kembali)

2. Ha : ada perbedaan antara penimbangan pertama dan sesudah 6 bulan tambah PM l, tambah susu dengan balita berat badan sesudah 6 bulan kemudian

3. Jenis statistic yang dipakai Paired T-test. Tingkat singniflkan (p=0,05) dp=n-1=13-1=12 titik kritis Tt 2,179.

4. Dimana 5,8 /13 = 0,446
Sa. - _ = 0,668 Thiturtg _-_ 2,41 ,41

Karena Th ( 2,410 > Tt (2,179) maka hipotesa 0 ditolak berarti data berat badan pertama di temukan yang datang ke posyandu dan di timbang dan diberikan PMT tambah vitamin dengan 6 bulan kemudian di timbang kembali. Berarti ada kemajuan pemberian PMT serta vitamin-vitamin. Hendaknya program ini di lakukan sepanjang tahun.

Oleh : HM.Idris Pane
Penulis Adalah dokter mantan Dokabu Kabupaten Langkat Sl (dokter) USU. S2(FKM) UI (analisisdaily.com)

Rabu, 30 Maret 2011

Generasi Perokok

Pemerintah sedang disorot pembahasan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang rokok. Content RPP yang akan memberlakukan jumlah rokok dalam kemasan hingga gambaran terburuk akibat rokok belum seluruhnya disambut positif.

Bahkan, sejumlah daerah telah memprotes RPP yang tengah digodok Kemeterian Kesra itu. Mereka berdalih pembatasan rokok berakibat pada petani tembakau akan kehilangan pendapatan.

Di sisi lain, pemerintah memang perlu berbuat sesuatu untuk menyehatkan rakyatnya dari bahaya rokok kendati harus kehilangan Rp 63 triliun per tahun dari cukai rokok. Apalagi, sejumlah negara telah meratifikasi UU anti tembakau untuk mereduksi pemakaian tembakau dan zat adiktif di negaranya. Jika tidak, Indonesia akan dikucilkan kendati saat ini duduk kepada ketua ASEAN.

Kebebasan merokok dan perilaku merokok menyebabkan jumlah perokok terus meningkat. Sekitar 65 juta dari 235 juta penduduk Indonesia sebagai perokok aktif. Belum lagi hitungan perokok pasif yang umumnya para generasi muda dan kaum pelajar.

Sebagai cotoh perilaku merokok di Aceh. Seorang mahasiswa luar Aceh nyaris tak percaya dengan kondisi sebuah kampus kesehatan di Banda Aceh sangat leluasa bagi perokok. Para mahasiswa dengan bebas dan nyaman membeli rokok di lingkungan kampus. Kantin kampus setempat pun menyediakan semua jenis rokok yang menjadi pilihan mahasiswa. Nuansa merokok sangat kental menyamai pemandangan merokok di pasar-pasar tradisional. Dia tidak habis pikir, di kampus kesehatan, kebiasaan dan perilaku merokok menyamai pasar.

Mahasiswa ini pun menghitung frekuensi merokok tanpa jeda. Rest area atau kantin berubah menjadi arena kompetisi merokok bagi mahasiswa juga staf kampus tersebut. Kepulan asap rokok tak pernah putus dalam interval satu jam. Rokok hampir saja menjadi "kudapan" wajib bagi mereka yang memang menikmati atmosfir merokok, padahal itu masih dalam kawasan kampus kesehatan.

Bunuh Diri

Rokok bukan saja konsumsi mereka yang dewasa atau remaja, tapi juga anak-anak. Anak usia sekolah dasar sudah terbiasa dengan rokok. Bahkan, mereka tak segan meminta orang lain untuk membakar rokoknya. Kalau pun dilarang, mereka dengan santai berkilah bahwa merokok untuk menghilangkan masalah. Merokok telah merambah ke semua lapisan masyarakat dan jenjang usia. Jumlahnya makin bertambah seiring pengaruh iklan rokok yang membohongi publik.

Anak usia sekolah yang sebelumnya perokok pasif, malah jadi perokok aktif. Bukan hal tabu, ketika melihat siswa sekolah santai menikmati rokok saat menuju ke sekolah. Bahkan tanpa merasa bersalah, mereka mengepulkan asap rokok di depan sekolah saat kegiatan belajar-mengajar masih berlangsung. Sangat bertolak belakang dengan kondisi di era 80-an ketika rokok menjadi "barang haram" bagi anak usia sekolah.

Menurut survei Global Youth Tobacco Survey (GYTS) antara tahun 2004-2006 di enam lokasi sekolah kota besar di Indonesia menemukan 24 hingga 41 persen siswa berusia 13-15 tahun adalah perokok. Bahkan 83 hingga 93 persen anak perokok yang mencoba berhenti merokok tidak berhasil.

Perokok di Indonesia 63 persen adalah lelaki. Konsumsi tembakau menyebabkan 200 ribu orang meninggal dunia per tahun. Satu dari delapan orang meninggal bukan disebabkan langsung atau dialami perokok pasif. Perempuan non-perokok akibat asap rokok di rumah berpeluang 25 persen mengidap penyakit kanker paru-paru.

Mengalihkan sumber dana belanja rumah tangga untuk belanja tembakau berdampak buruk bagi kesehatan keluarga. Survei terhadap 175 ribu rumah tangga miskin perkotaan pada tahun 2004 menyimpulkan bahwa: kepala keluarga yang perokok menimbulkan kemungkinan besar gizi buruk kronis pada anak.

Bukti penelitian yang dilakukan 10 tahun terakhir, 50 persen perokok meninggal akibat kecanduan. Seperti kematian disebabkan kanker, penyakit jantung dan pernafasan kronis adalah penyebab utama kematian akibat rokok. Proyeksinya sebuah lembaga penelitian, kematian akibat rokok pada tahun 2015 adalah 50 persen lebih banyak daripada kematian akibat HIV/AIDS (Survei Sosial Ekonomi Nasional: 2004).

Beberapa daerah di Indonesia telah menerapkan peraturan daerah. Selain DKI Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Palembang, dan Bogor telah menerapkan larangan merokok di tempat umum, sarana kesehatan, tempat kerja dan tempat belajar mengajar, arena kegiatan anak, tempat ibadah dan angkutan umum. Yogyakarta telah menerapkan pajak hingga enam kali lipat dari pajak normal khusus untuk produk rokok. Meskipun, perda tersebut tidak berjalan efektif, paling tidak pemerintah daerah telah berbuat menyelamatkan warganya dari racun, nikotin, dan zat adiktif yang mematikan.

Masalah rokok bahkan telah diharamkan melalui fatwa MUI dan Majelis Tarjih Muhammadiyah. Kedua pimpinan lembaga ini melihat faktor kemudharatan rokok lebih besar daripada manfaat. Merokok merupakan perbuatan tabzir (pemborosan) dan habaits (buruk), Ketua PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas menyatakan, status haram merokok merupakan tujuan dari syari’ah (maqosidussar’iyyah). Karena, tujuan dari maqosidussar’iyyah di antaranya adalah hifdzunnas (menjaga manusia).

Jika dilihat dari akibat dan peringatan terhadap rokok, tak ada yang menguntungkan. Selain menimbulkan kemudharatan dan pemborosan juga mendatangkan kematian. Rokok tidak membunuh pecandunya secara cepat, tapi perlahan hingga zat racun yang mengendap dalam tubuh perokok menyebabkan kematian secara perlahan tapi pasti.

Oleh : Mukhtaruddin Yakob
Jurnalis dan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI ) Banda Aceh
(analisadaily.com)

Rabu, 24 Februari 2010

Berbahagialah, Maka Penyakit Pun Menjauh

Kebahagiaan yang kita rasakan ternyata bukan hanya terpancar dari aura wajah, melainkan juga kesehatan tubuh. Studi terhadap 9.981 orang Australia menunjukkan, orang yang sehat dan puas dengan hidupnya lebih jarang terkena penyakit.

Penelitian yang dipublikasikan dalam The American Journal of Health Promotion ini membandingkan tingkat kebahagiaan dan kepuasan responden yang diberikan tahun 2001 dengan status kesehatan mereka pada tahun 2004.

Untuk mengukur kadar kebahagiaan, responden diberikan pertanyaan, seperti "Dalam seminggu terakhir apakah Anda merasa bahagia?" atau "Bila semua hal diperhitungkan, seberapa puas Anda dengan hidup yang dijalani?"

Tiga tahun kemudian, tingkat kesehatan para responden diukur dengan tiga cara. Pertama, mereka ditanya bagaimana kondisi kesehatannya, kemudian mereka ditanyakan apakah mengalami gangguan kesehatan. Terakhir, mereka ditanyakan apakah menderita 17 jenis penyakit yang disebutkan, seperti nyeri punggung atau gangguan mata.

Sebanyak 63 persen responden menjawab mereka selalu merasa happy. Sementara itu, 90 persen mengaku puas dengan hidupnya. Orang-orang dari kelompok itu ternyata lebih sehat. Dengan kata lain, jika saat ini Anda merasa puas dan bahagia dengan hidup, maka dalam tiga tahun mendatang besar kemungkinan Anda akan sehat.

Sebuah penelitian lain yang dilakukan di Amerika Serikat terhadap para biarawati juga menunjukkan hasil tak jauh berbeda. Biarawati yang mengaku berbahagia serta punya harapan dan mencintai hidupnya ternyata lebih panjang umur.

Para ahli mengatakan, kebahagiaan, seperti halnya status ekonomi, harus dimasukkan sebagai indikator kesehatan.
(K)

Sabtu, 05 Desember 2009

Potensi Tanaman Asli Indonesia sbg Obat Anti HIV/AIDS

Banyak tanaman asli Indonesia yang berpotensi sebagai anti-HIV/AIDS, tetapi belum diuji skrining hingga menjadi obat yang diakui.

Skrining itu diawali dengan penentuan sitotoksisitas ekstrak terhadap kultur sel yang telah diinfeksi HIV, hingga skrining terhadap fraksi ekstrak tanaman untuk diketahui mana yang memiliki aktivitas mantap sebagai anti-HIV.

Dari hasil penelitian Barat terhadap kunyit (curcuma domestika/longa) diketahui pigmen berwarna kuningnya ternyata memiliki efek farmakologik seperti antitumor, aktivitas anti infeksi, anti-inflamasi dan dapat menghambat aktivitas enzim integrase HIV-1.

Acemannan yang merupakan polisakarida asetilasi dari lidah buaya (aloe vera) yang diteliti laboratorium di AS dan di Kanada, ternyata bersifat antitumor, imunostimulan, dan antiviral.

Diterpenoid lakton yang terdapat pada sambiloto (andrographis paniculata) dapat menghambat pertumbuhan virus HIV-1 maupun virus HIV-2 dan dipatenkan di Universitas Bastyr dengan nama AndroVir.

Penelitian terhadap akstrak meniran (phyllanthus niruri) bekerja sebagai anti-viral dan imunostimulator (perangsang imunitas) pada penderita HIV/AIDS.

Ekstrak buah mengkudu (morinda citrifolia) telah dipatenkan sejumlah peneliti di negara maju sebagai antiinfeksi dan antikanker.

Ekstrak Bratawali (tinospora cordifolia) mampu menurunkan gejala yang terjadi pada infeksi HIV seperti mual, muntah, anoreksia dan lemah.

Ekstrak jambu biji (psidium guajava) sebagai penghambat virus HIV dan meringankan efek samping penderita HIV, seperti diare.

China yang sudah melakukan skrining terhadap tanaman anti-HIV terhadap 5.000 spesies tanaman obat, hanya menghasilkan sekitar 90 spesies yang menunjukkan aktivitas anti-HIV atau hanya sekitar 13 persen saja.

Sejauh ini penanganan HIV/AIDS mengandalkan HAART (Highly active antiretroviral therapy) yang diperkenalkan sejak 1996, yang mencakup kombinasi tiga obat kimia yang berasal dari sedikitnya dua jenis agen antiretroviral.

HAART membuat adanya stabilisasi gejala dan meningkatkan waktu bertahan penderita antara 4-12 tahun, tetapi tidak menyembuhkan pasien dari HIV dan bisa kambuh kembali setelah perawatan berhenti.

Dengan demikian pasien HIV membutuhkan obat alternatif pendamping dan potensi obat herbal perlu terus digali.


Kamis, 15 Oktober 2009

Ceker dan Telur Ayam Penekan Darah Tinggi

Jurnal Japan Society for Bioscience Tsukuba baru-baru ini mengungkapkan temuan bahwa ceker ayam punya khasiat buat meredam darah tinggi.

Kandungan zat kolagen (chicken collagen extract) pada ceker ayam setara aktivitasnya dengan obat antihipertensi golongan ACE-inhibitor. Kolagen ceker ini bisa menurunkan kadar rennin dalam plasma, sehingga tidak mengungkit tekanan darah menjadi lebih tinggi.



Jadi pendekatan darah tinggi dengan diet kini diperkaya lagi oleh kehadiran ceker ayam. Sebelum ini yang diketahui berperan mengendalikan tekanan darah adalah mineral kalium. Itu maka pada mereka yang darah tinggi, asupan buah harus memadai. Tak cukup satu dua kali sehari, melainkan empat porsi buah dan sayur.


Selain ceker ayam, dikutip dari
Journal of Agricultural and Food Chemistry, ada temuan yang diungkapkan para ahli dari Universitas Alberta, Kanada, ihwal peran telur ayam bagi pengidap darah tinggi. Telur yang dimasak ternyata berpotensi setara dengan antihipertensi ACE-inhibitor, seperti ceker ayam.

Tergantung bagaimana telur disajikan, menentukan tinggi rendahnya khasiat. Telur yang digoreng lebih tinggi potensi antihipertensinya daripada yang direbus. Campuran putih dan kuning telur lebih berpotensi ketimbang hanya putih atau kuning telurnya saja.


Karena itu, ketakutan berlebihan akan telur perlu dihapuskan. Membatasi bukan berarti sama sekali tidak. Telur adalah sumber asam amino (essential amino acid) paling lengkap.


Bila tidak mengonsumsi telur sama sekali, kebutuhan tubuh akan delapan jenis asam amino esensial tidak terpenuhi. Tubuh tidak bisa memproduksi asam amino. Kekurangan salah satu atau lebih asam amino menimbulkan sejumlah keluhan dan penyakit. Konsumsi telur dua-tiga kali seminggu bukan larangan.


Temuan lain menyebutkan, mengonsumsi kacang-kacangan juga membantu menekan tekanan darah tinggi
(Journal of Clinical Nutrition) karena kacang mengandung lemak tak jenuh yang menyehatkan, selain mineral magnesium (Mg), dan kalium (K) yang tinggi, serta fiber, vitamin, dan antioksidan.

Jadi disimpulkan, pengendalian darah tinggi mungkin cukup dengan DASH (diet approach to stop hypertension) style diet, selain memanfaatkan telur ayam, ceker, serta kacang-kacangan. Sejatinya yang benar itu menu nenek moyang yang sejak dulu memilih diet serupa DASH, ceker, telur, dan kacang-kacangan.


Di Jepang, peninggalan tradisi makan yang menyehatkan itu kini masih diabadikan oleh nelayan di Okinawa. [K]

Sabtu, 25 Juli 2009

Vaksin Tifus, Murah dan Efektif

SEBUAH studi terbaru di India melaporkan, vaksin Vi tak hanya efektif melindungi individu yang divaksin dari demam tifoid, keluarga dan lingkungan di sekitarnya pun dapat ikut merasakan manfaatnya.
Berdasarkan uji coba selama dua tahun yang dilakukan pada penduduk di sebuah area perkampungan kumuh India, vaksin tifoid ternyata efektif mencegah timbulnya demam tifoid atau yang populer dengan tifus. Selain membantu mencegah infeksi kuman tifoid pada individu yang divaksin, orang lain di sekelilingnya yang tidak divaksinasi juga akan ikut merasakan manfaatnya.
Dalam dunia kesehatan, fenomena ini disebut herd immunity,yaitu ketahanan kelompok terhadap serangan penyakit, di mana sebagian besar anggotanya bersifat imun (kebal).




Guna mengetahui efektivitas pemberian vaksin tifoid atau disebut juga vaksin Vi,p ara peneliti melibatkan partisipan 37.673 anak usia 2 tahun atau lebih yang tinggal di wilayah kumuh Kalkuta, India.
Sejumlah partisipan dipilih secara acak untuk menerima satu dosis vaksin Vi, atau (sebagai perbandingan) ada pula yang diberi vaksin hepatitis A nonaktif. Pemberian vaksin dimulai akhir 2004 dan terus dipantau perkembangannya hingga 2 tahun. Hasilnya, seperti yang dikemukakan Dr Dipika Sur dari Institut Nasional India untuk penyakit tifus dan kolera, vaksin tifoid ini bekerja efektif pada 61 persen partisipan.
Efek perlindungan ini menurun menjadi 56 persen pada anak usia 5-14, dan 46 persen pada usia 15 atau lebih. Sementara itu, efektivitas tertinggi didapat pada anak-anak yang lebih muda (usia 2-5 tahun), yakni mencapai 80 persen. Demikian halnya orang di sekeliling anak yang divaksin yang kontak dengan anak tersebut, vaksin ini memberi efek proteksi 44 persen.
"Dalam komunitas secara menyeluruh, vaksinasi mencegah 57 persen kasus demam tifoid, baik pada individu yang divaksinasi maupun orang lain di sekeliling individu tersebut," kata Sur.
"Ini informasi baru yang penting," komentar Dr Myron Levine dari Sekolah Kedokteran Universitas Maryland.
"Perlindungan secara tidak langsung pada individu yang tidak divaksinasi dengan vaksin Vi ke depannya dapat membantu program imunisasi sekolah untuk mengendalikan wabah bakteri penyebab tifus ini," imbuhnya.
Temuan yang lantas diterbitkan dalam New England Journal of Medicine ini mungkin dapat mendesak WHO untuk segera memulai kampanye vaksinasi di negara-negara miskin guna melawan penyakit terkait infeksi bakteri yang bisa berakibat fatal ini.
WHO merekomendasikan pemakaian vaksin Vi di negara-negara berkembang, yang mana harganya hanya sekitar 50 sen dan hanya diperlukan sekali vaksin. Institut Vaksin Internasional (IVI) yang berbasis di Seoul, Korea Selatan, mensinyalir selama ini banyak ibu enggan melakukan vaksinasi tifoid bagi anaknya karena masih ragu akan efektivitasnya, terutama bagi anak-anak prasekolah.
"Perlindungan bagi anak usia di bawah lima tahun itu penting karena rentang usia tersebut paling berisiko terkena demam tifoid di area mana pun manakala penyakit ini sedang mewabah," kata Dirjen IVI John Clemens.
Demam tifoid merupakan masalah serius di negara-negara berkembang, yang mana mengenai sekitar 22 juta anak-anak maupun dewasa per tahun. Setiap tahun, sekitar 216.000-600.000 di antaranya meninggal dunia.
Salmonella Typhi, kuman penyebab tifoid, dapat menyebar melalui makanan dan air yang terkontaminasi oleh agen penyakit ini. Kontak yang bersifat langsung dan intens dengan orang yang terinfeksi juga meningkatkan risiko seseorang untuk tertular, terlebih jika daya tahan tubuhnya tengah melemah. Bakteri ini dapat terbawa dalam saluran pembuangan atau aliran darah.
Orang yang terinfeksi biasanya akan menampakkan gejala demam tinggi, lemah, nyeri perut, pusing, mual atau muntah. Ada pula yang disertai diare yang kadang-kadang bercampur darah. Antibiotik sejak lama telah digunakan untuk menangani demam tifoid.
Tanpa pemberian antibiotik, demam tifoid dapat berlangsung selama beberapa minggu, bahkan berbulan-bulan. Adapun sekitar 20 persen kasus di antaranya meninggal dunia. Kekhawatiran lainnya adalah dengan semakin banyaknya kuman yang kebal obat (resisten) sehingga penyakit ini pun kian sulit ditangani.
Vaksin memang telah tersedia, sayangnya belum dimanfaatkan secara luas dalam program kesehatan yang menyeluruh. Sejumlah negara berkembang dan negara maju memang sudah menerapkannya, tapi di negara miskin persentasenya masih amat sedikit. [O]

Surat Keterangan Akreditasi FKM UNDIP

Bagi teman-teman yang membutuhkan informasi tentang Akreditasi FKM UNDIP... Silahkan download file di bawah ini... file sudah saya perb...

Find Us on Facebook

Blog Archives

Do Before You Die

Do Before You Die

Visitors


pinjaman utang