Loading...

Perdarahan Penyebab Terbesar Kematian Ibu Melahirkan

Kematian ibu saat persalinan sebagian besar disebabkan buruknya infrastruktur transportasi dan kesehatan lingkungan. Hal ini diperparah rendahnya tingkat kesehatan ibu bersangkutan.

Untuk menekan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia, perlu ditegakkan tiga pilar dalam pelayanan ibu hamil. Hal itu adalah penapisan kelainan kandungan, pelayanan kehamilan hingga persalinan yang aman, dan pencegahan disfungsi dasar panggul.

Hal ini disampaikan Junita Indarti, dokter ahli obstetri dan ginekologi, yang juga Ketua Cluster Women’s Health Center (WHC) RS Cipto Mangunkusumo Kencana, dalam pembukaan pusat pelayanan kesehatan itu, Selasa (14/2), di Jakarta.

”AKI di Indonesia tergolong tinggi di dunia, 250 kematian per 100.000 kelahiran hidup, menurut data Kementerian Kesehatan. Perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencapai 330 per 100.000,” kata ahli fetomaternal di RSCM/FKUI, Aria Wibawa.

Ibu melahirkan, demikian Aria, ada 20 persen perlu penanganan khusus karena mengalami perdarahan. Hal itu antara lain disebabkan kekurangan gizi, khususnya anemia; melahirkan lebih dari lima kali; dan kesalahan dalam proses melahirkan.

”Kondisi ini sering berakibat fatal karena ibu tak segera mendapat penanganan intensif,” ujarnya. Umumnya, tempat tinggal ibu tidak memiliki sarana dan prasarana transportasi yang memadai. Selain itu, fasilitas di pusat layanan kesehatan juga minim.

Kepala Departemen Obstetri Ginekologi RSCM/FKUI Budi Iman Santoso menambahkan, penanganan ibu hamil di rumah sakit dengan fasilitas memadai untuk ibu dengan faktor risiko itu hanya dapat menekan tingkat kematian 25 persen.

Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu hamil dan bersalin, kata Junita, RSCM memperkenalkan penanganan terpadu. Penanganan dilakukan mulai tahap dini, yaitu dari penapisan kelainan kandungan.

WHC tidak hanya menggunakan teknik pap smear, tetapi juga pemeriksaan HPV DNA. Pemeriksaan yang memiliki akurasi tinggi ini memungkinkan kanker mulut rahim dideteksi dini.

Penanganan selama kehamilan dilakukan di WHC untuk mencegah disfungsi dasar panggul. (kompas.com)

Angka Kematian Ibu, 228/100.000 Kelahiran Hidup

Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) BKKBN DR Sudibyo Alimoesa mengatakan, tingkat kematian ibu saat melahirkan di Indonesia masih tinggi, atau hampir setiap satu jam, dua ibu melahirkan meninggal dunia.

"Bila jumlah tersebut ditotal maka dapat dibayangkan dalam satu hari berapa ibu melahirkan yang meninggal dunia," katanya dalam pertemuan dengan Ulama se Kalsel di Banjarmasin, Selasa (31/1/2012).

Menurut dia, berdasarkan data dan penelitian tentang kualitas penduduk Indonesia 2011 tercatat Angka Kematian Ibu (AKI atau MMR) masih sebesar 228/100.000 kelahiran hidup.

Selanjutnya angka kematian bayi usia 0-11 bulan (AKB-IMR) adalah 34 per 1.000 kelahiran hidup, kemudian 60 persen penduduk hanya tamat SD atau lebih rendah, angka harapan hidup Indonesia sekitar 68/72 tahun.

"Sedangkan Jepang saja kini rata-rata umur penduduknya telah mencapai 100 tahun, sehingga saat ini 40 persen penduduknya merupakan lansia," katanya.

Meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM) yang berbasis pada pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan tersebut, BKKBN telah menempuh berbagai langkah dan menetapkan target berdasarkan MDGs 2015.

Meningkatkan harapan hidup dan mengurangi angka kematian ibu dan anak, tambah Sudibyo, BKKBN sedang menjalankan program pelatihan bagi 35 ribu bidan dan 10 ribu dokter umum maupun dokter kandungan.

Pelatihan untuk melakukan pertolongan dalam persalinan tersebut sekaligus juga diisi dengan pelatihan untuk melakukan pemasangan alat kontrasepsi sesuai dengan program BKKBN.

Diharapkan dengan adanya pelatihan tersebut, maka pertolongan kelahiran yang berada di daerah terpencil bisa dilakukan secara medis sehingga kematian ibu dan bayi bisa ditekan.

Taraaget nasional, pada 2015 AKI akan turun dari 228/100.000 kelahiran hidup menjadi 102/100.000 kelahiran hidup begitu juga dengan angka kematian bayi turun menjadi 23/1.000 kelahiran hidup.

Kepala BKKBN Kalsel Dra Chamnah Wahyuni mengatakan, khusus Kalsel pelatihan akan dilakukan kepada 900 bidan dan 300 dokter yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Kalsel.

Dialog dengan narasumber dari BKKBN pusat mendapatkan tanggapan cukup antusian dari para Ulama dan masyarakat Kalsel.

Salah seorang peserta dialog mempertanyakan efek samping pil KB dan suntik yang justru membuat lesu para wanita sehingga mengurangi gairah pada saat melayani suami.

"Karena para wanita menjadi lesu setelah minum pil KB dan suntik tersebut, akhirnya banyak suami "jajan" di luar," katanya disambut gelak tawa peserta.

Terhadap keluhan tersebut, Sudibyo mengatakan akan dilakukan penelitian lebih mendalam terhadap kebenaran informasi tersebut, karena selama ini tidak pernah ada keluhan seperti itu.

"Ini akan menjadi bahan diskusi kita, karena selama ini pil dan suntik adalah alat kontrasepsi yang paling banyak diminati peserta," katanya. (kompas.com)

FKM UNDIP Gandeng Empat Lembaga

Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Diponegoro (Undip) jalin kerja sama dengan empat lembaga sekaligus. Kerja sama itu dalam bidang praktikum produksi media promosi kesehatan, pelatihan, pendidikan, magang, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Penandatanganan MoU tersebut dilakukan langsung oleh oleh Dekan FKM Dra VG Tinuk Istiarti MKes, Kepala Balai Kesehatan Paru Masyarakat Wilayah Jawa Tengah dokter I Gusti A Trimurti M Kes yang diwakili oleh dokter gigi Endang Budhi, Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Semarang AKBP drg Glenn Kaunang, Direktur Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang dokter Daniel Budi Wibowo MKes dan Kepala Lembaga Penyiaran Publik RRI Semarang Dra Hj Saraswati SA di Kampus FKM Tembalang.

Dalam sambutannya Tinuk mengatakan untuk meningkatkan kompetensi para lulusan FKM pihaknya selalu melakukan evaluasi yang dilakukan dengan pihak pengguna lulusan bersama dengan alumni. Sementara setiap dua tahun sekali dia juga melakukan koreksi kurikulum untuk menyesuaikan dengan perkembangan.

”Selama ini masa tunggu mahasiswa FKM yang mencari kerja relatif cepat yaitu enam bulan. Hal itu menunjukkan bahwa lulusan kami dapat bersaing dalam dunia kerja dengan baik,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Daniel mengucapkan terima kasih atas kepercayaan FKM Undip dalam kerjasama tersebut.

“Kami membuka diri untuk para mahasiswa guna praktek, penelitian, magang dan pengabdian masyarakat. Hal itu merupakan salah satu bentuk komitmen RS Panti Wilasa dalam dunia pendidikan,” katanya. (suaramerdeka.com)

Indahnya Hidup Kesehatan

If you have health, you probably will be happy, and if you have health and happiness, you have all the wealth you need, even if it is not all you want.

ELBERT HUBBARD, seorang penulis dan filsuf Amerika Serikat pada akhir 1800-an, mengungkapkan hal indah mengenai kesehatan seperti di atas. Kesehatan dan kebahagiaan mungkin merupakan harta terbesar yang dimiliki seseorang, walaupun ia tidak mendapatkan hal-hal yang diinginkan. Bahkan, banyak pula yang berpendapat bahwa walaupun ia tidak mendapatkan hal-hal yang diinginkan. Bahkan, banyak pula yang berpendapat bahwa walaupun seseorang memiliki segalanya, tetap tak ada artinya bila kehilangan kesehatan.

Oleh karena itu, berbagai upaya meningkatkan kesehatan senantiasa dilakukan oleh berbagai pihak. Pasalnya, masa depan dan kondisi suatu keluarga, bahkan bangsa, kelak ditentukan antara lain oleh sumber daya manusia yang sehat sehingga segala potensi dan produktivitasnya bisa maksimal.

Data menunjukkan, kondisi kesehatan di Indonesia mengalami perkembangan sangat berarti beberapa dekade terakhir. Tampak, misalnya, angka kematian bayi turun dari 118 kematian per 1.000 kelahiran pada tahun 1970 menjadi 35 pada tahun 2010. Menurut sumber tersebut, perkembangan banyak terjadi karena tersedianya fasilitas kesehatan publik yang lebih memadai serta dampak dari program keluarga berencana.

Namun hal tersebut tak lantas membuat masyarakat merasa lega. Apalagi berbagai jenis penyakit baru yang melanda dunia saat ini, lebih mengkhawatirkan ketimbang penyakit pada masa lalu. Bila dahulu, penyakit banyak bersumber dari lingkungan yang kotor atau kurang terjaga kebersihannya, tetapi masa sekarang ini penyakit berbahaya mayoritas dipicu oleh pola hidup modern dan serba praktis.

Kemunduran Kesehatan

Akan tetapi, dewasa ini ditengarai tingkat kesehatan masyarakat mengalami kemunduran karena pola hidup. Fakta pertama, berkaitan dengan masalah kelebihan berat badan (obesitas) bahwa selama lebih dari 30 tahun belakangan ini, jumlah anak-anak yang mengalami masalah kelebihan berat badan meningkat dua kali lipat, sedangkan usia remaja meningkat tiga kali lipat. Faktor pencetus obesitas yang dapat memicu berbagai penyakit, antara lain pola makan dan konsumsi makanan cepat saji.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa 20 persen lebih dari mereka yang mengalami kelebihan berat badan, memiliki potensi yang lebih besar mengidap diabetes tipe dua, tekanan darah tinggi, penyakit hati, stroke, arthritis, dan beberapa jenis kanker. Bahkan, pengidap diabetes meningkat sebanyak 33 persen dalam kurun waktu 20 tahun ini karena peningkatan jumlah penderita obesitas, termasuk anak-anak.

Tak hanya itu, sekitar 300.000 kematian disebabkan oleh kurangnya asupan nutrisi pada tubuh dan serta minimnya aktivitas fisik.

Kedua, semakin meningkatnya jumlah penderita kanker di seluruh dunia. Kanker merupakan penyakit yang diindikasikan dengan adanya pertumbuhan sel-sel abnormal yang tak terkendali dan menyebar ke seluruh tubuh, hingga dapat menyebabkan kematian. Salah satu faktor yang memicu kanker adalah faktor eksternal, seperti tembakau, bahan kimia, radiasi, dan organisme yang terinfeksi. Sementara itu, sisanya seperti faktor hormonal, genetik atau keturunan, dan kondisi sistem imun, merupakan faktor internal.

Pemicunya juga kebanyakan dari gaya hidup masa kini, seperti kebiasaan merokok, mengonsumsi minuman keras dan makanan cepat saji “miskin” nutrisi, atau terkena paparan sinar matahari langsung. Menurut data World Health Organization (WHO), diperkirakan sejumlah 170.000 kematian akibat kanker di tahun 2008 disebabkan oleh konsumsi tembakau. Selain itu, sepertiga dari 565.650 kematian akibat kanker pada 2008, berkaitan dengan obesitas, kurangnya aktivitas fisik, dan kurangnya nutrisi bagi tubuh.

Bila tidak dicegah dan ditangani dengan tepat, WHO memperkirakan sebanyak 9 juta orang akan meninggal karena kanker pada tahun 2015, dan 11,4 juta jiwa akan terenggut kehidupannya akibat kanker di tahun 2030.

Ketiga, selain penyakit fisik, kesehatan mental pun kian mengalami kemunduran beberapa tahun belakangan. Faktanya, dalam jangka waktu 24 jam ke depan, lebih dari 1.400 remaja akan melakukan percobaan bunuh diri. Yang lebih mengerikan, kasus bunuh diri merupakan penyebab ketiga tertinggi dari angka kematian remaja usia 15 hingga 19 tahun. Artinya, lebih banyak remaja menemui ajal akibat bunuh diri, daripada karena kanker, penyakit hati, AIDS, dan lainnya.

Kemudian, studi populasi juga menunjukkan pada beberapa waktu, 10 hingga 15 persen anak dan remaja telah mengindikasikan adanya tanda dan gejala depresi. Bahkan, sekali seseorang pernah mengalami depresi berat, ia sangat berisiko mengalami depresi lainnya dalam kurun waktu 5 tahun ke depan, serta memiliki potensi besar mengalami masalah kesehatan mental lainnya.

Aksi Sehat

Bila setiap individu menyadari untuk melakukan pola hidup sehat dan mengurangi pemakaian bahan-bahan kimia, bukan mustahil segala penyakit yang disebabkan oleh perkembangan zaman akan tertangani dengan maksimal. Salah satu contohnya adalah 40 persen dari berbagai jenis kanker, bisa dicegah dengan menjaga dan mempertahankan pelaksanaan diet kesehatan, berolahraga, serta menghindari konsumsi tembakau.

Bagaimanapun juga, mencegah tetap lebih baik daripada mengobati. Oleh karena itu, tidak ada salahnya pula bila Anda kembali ke cara-cara leluhur dalam menjaga kesehatan. Obat dan ramuan herbal, seperti jamu (yang diracik secara benar dan tepat), bisa menjadi salah satu alternatifnya. Bila mengalami kesulitan dalam mengolah bahan baku, tidak ada salahnya bila Anda sekali-sekali mengonsumsi jamu herbal yang telah diproduksi secara modern dan higienis. Pilih produsen jamu terpercaya, yang menghasilkan produk berkualitas untuk membantu menjaga kesehatan Anda.

Sementara itu, untuk penyakit dan permasalahan kesehatan mental yang begitu membahayakan, bisa dicegah dengan menjalani hidup positif dan penuh optimisme. Dukungan keluarga dan orang-orang terdekat juga senantiasa diperlukan untuk menciptakan atmosfer nyaman, juga penuh kehangatan. Hidup sehat itu begitu indah dan berharga.

Menyoroti Kebijakan Obat Nasional

Sebagai negara berkembang, Indonesia masih mempunyai banyak pekerjaan rumah untuk menyejahterakan rakyatnya. Salah satunya di bidang kesehatan masyarakat. Dan salah satu unsur yang memegang peranan penting terhadap kesehatan masyarakat adalah keterjangkauan obat yang beredar di masyarakat. Oleh karena itu diperlukan sebuah kebijakan obat nasional untuk mengontrol harga obat di Indonesia. Kebijakan tersebut harus mencakup berbagai regulasi yang mengatur seluruh pemangku kepentingan dalam kesehatan masyarakat.

Sayangnya regulasi mengenai kebijakan obat di Indonesia tidak hanya mengedepankan sektor kesehatan masyarakat semata, tetapi juga dipengaruhi kepentingan industri. Banyaknya jumlah investor yang masuk di dalam industri farmasi nasional dianggap sebagai progress yang baik di bidang industri. Para pejabat di Kementerian Kesehatan, terutama di masa lalu, menganggap bahwa dengan semakin banyaknya merek obat yang beredar di pasar akan menciptakan persaingan pasar yang nantinya berdampak pada turunnya harga obat. Mereka menyamakan perdagangan produk obat dengan produk konsumsi lainnya, dimana semakin banyak merek semakin murah harganya.

Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Dalam produk konsumsi, seperti baju, konsumen dapat memilih dan memutuskan mana yang paling sesuai dengan kebutuhan. Dalam hal obat, terutama obat etikal, konsumen sama sekali tidak tahu mana yang harus ia beli, mana yang paling cocok dengan penyakitnya, dan mana yang mutunya lebih baik. Yang menentukan adalah dokter.

Dengan kendali penentuan resep obat yang berada di tangan dokter, hukum persaingan pasar menjadi tidak berlaku untuk obat etikal. Karena pada praktiknya, banyak dokter yang justru meresepkan obat originator yang harganya bisa sepuluh kali lipat harga obat generik. Dan ini juga dipengaruhi oleh faktor psikologis pasien yang pada umumnya menginginkan obat yang dianggap paling mujarab, walau harganya mahal.

Terlalu mudahnya pemerintah memberi izin bagi para pelaku industri farmasi (terutama lokal) untuk memproduksi obat, membuat jenis obat yang beredar di Indonesia menjadi terlalu banyak. Tercatat setidaknya saat ini di Indonesia terdapat sekitar 15.000 merek obat dengan lebih dari 200 perusahaan obat. Padahal, menurut Sulastomo, mantan Ketua Tim Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), 800-1.000 nama generik dan dagang sudah bisa memenuhi kebutuhan pengobatan/medik secara nasional.

Banyaknya jenis obat yang beredar saat ini, ditambah dengan tidak adanya kebijakan yang terarah, membuat beberapa produsen farmasi lokal bebas menentukan harga produk. Pada umumnya mereka menentukkan harga produk mereka mendekati harga produk obat originator. Padahal, berbeda dengan industri penemu, mereka tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar untuk melakukan riset awal.

Akibatnya tren harga obat tidak menurun, karena hukum persaingan pasar tidak berlaku. Para produsen obat originator yang masa patennya telah habis merasa tidak perlu untuk menurunkan harga obat mereka, karena pesaing lokal mereka menetapkan harga yang mendekati harga obat paten tersebut.

Hal ini juga diperparah dengan ketidakpercayaan sebagian dokter dan juga masyarakat terhadap kualitas dan khasiat obat generik. Banyak diantara mereka, terutama di kalangan masyarakat sendiri, yang menyangsikan bahwa obat dengan harga yang jauh lebih murah dari harga obat originator memiliki khasiat yang sama. Padahal, obat generik menggunakan bahan aktif yang sama dengan obat originator atau obat generik bermerek.

Untungnya, kini regulasi Permenkes 1799/2010 telah mewajibkan para industri farmasi asing untuk membuat pabrik di Indonesia. Jadi, mereka bukan hanya sekedar menjadi agen, dan bisa dengan bebas mendaftarkan mereknya ke BPOM. Kebijakan tersebut diharapkan dapat memicu kesempatan transfer knowledge atas riset dan pembuatan obat-obatan berkualitas atas berbagai jenis penyakit.

Tapi toh, obat yang sudah beredar di Indonesia sudah terlanjur melimpah ruah, sehingga membuat pasar farmasi nasional tidak efektif. Karena itu BPOM harus betul-betul menjadi regulatory body yang sangat powerful, yakni instansi yang dapat secara tegas mengatur dan menyeleksi obat-obat yang boleh beredar di Indonesia. Pengurangan jumlah obat yang beredar di Indonesia diharapkan bisa membuat masyarakat mendapatkan obat-obatan yang benar-benar mereka butuhkan.

Pemerintah juga perlu membuat regulasi yang mengatur penetapan harga obat generik bermerek. Dengan adanya sebuah rambu penetapan harga, produsen obat generik bermerek tidak bisa seenaknya menetapkan harga obat mereka menyamai harga obat originator. Dan hal itu akan berdampak kembali berjalannya hukum persaingan pasar, dimana produsen obat originator mau tidak mau harus menyesuaikan harga obat mereka dengan pasar.

Selain itu, pemerintah juga perlu menyosialisasikan bahwa obat generik juga memiliki kualitas dan khasiat yang sama dengan obat originator. Pemerintah harus bisa membangun paradigma masyarakat bahwa obat yang berkhasiat tidak harus selalu memiliki harga yang selangit. Dengan terbentuknya paradigma masyarakat yang tepat mengenai obat generik, diharapkan penggunaan obat generik bisa semakin banyak, sehingga harga obat juga bisa turun. (kabarindonesia.com)

Air Zat Gizi Esensial yang Sering Terlupakan

Air merupakan zat gizi esensial untuk hidup sehat dan aktif serta merupakan komponen utama dalam gizi seimbang. Air yang dalam seharinya dibutuhkan lebih dari dua liter diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya terutama untuk mengatur proses kehidupan.

Namun demikian penyampaian pesan untuk minum air yang aman dan dalam jumlah cukup setiap hari seringkali terabaikan. Padahal air memiliki fungsi yang sangat vital bagi kehidupan, tidak hanya berfungsi bagi kesehatan, daya ingat, dan stamina.

Fungsi air juga seringkali dilupakan, padahal kekurangan air tubuh satu persen saja dari berat tubuh sudah dapat menimbulkan berbagai gangguan pada fungsi tubuh. Masyarakat termasuk tenaga kesehatan selama ini cenderung lebih memperhatikan makanan dibanding minuman.

Menurut Wakil Sekjen Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Dr Fauzi Masjhur MKes dalam acara "Simposium Hydration and Health" untuk Sosialisasi Peranan Air Bagi Kesehatan baru-baru ini di Medan mengatakan, dewasa ini di dunia termasuk di Indonesia sedang menghadapi masalah dehidrasi ringan kronik.

"Di Indonesia ada penelitian yang mengungkap tentang hal itu, yaitu The Indonesia Hydration (THIRST) yang melakukan pemeriksaan urin terhadap 1.200 sampel dewasa dan remaja di enam kota Indonesia, bahwa sekitar separuh orang dewasa dan remaja mengalami dehidrasi ringan," katanya.

Air berguna sebagai pelarut berbagai partikel termasuk zat gizi agar berfungsi dengan baik dalam sel dan jaringan tubuh. Air diperlukan untuk melembabkan jaringan mulut, mata dan hidung, melindungi organ dan jaringan tubuh, membantu melarutkan mineral dan zat gizi lainnya sehingga dapat dimanfaatkan oleh tubuh.

Selain itu air juga berfungsi untuk mengatur suhu tubuh, pelumasan sendi, meringankan beban ginjal dan hati dengan melarutkan sisa-sisa metabolisme dan membawa zat-zat gizi dan oksigen ke sel.

Salah satu masalah yang sering timbul akibat kurangnya asupan cairan adalah masalah dehidrasi yakni kondisi jumlah air dalam tubuh tidak mencukupi untuk melakukan fungsi kerja tubuh secara normal.

Dehidrasi terbagi atas tiga kategori, pertama kategori ringan yang ditandai rasa haus, bibir kering, gangguan mood, mengantuk dan lelah, warna urin kuning, otot lemah, sakit kepala serta pusing, silau jika melihat sinar.

Sedangkan kategori sedang dan berat ditandai dengan haus dan kerongkongan kering, urin sedikit dan berwarna kuning gelap, perasaan mengantuk dan pusing, mengalami gangguan konsentrasi, suhu badan meningkat, amat sedikit keringat bila dalam suasana panas.

Hidrasi tingkat berat ditandai dengan rasa haus yang ekstrim, warna urin kuning coklat seperti warna teh pekat, kulit kering, menggigil, mata cekung, tekanan darah rendah, nadi cepat, panas badan ektrim dan kesadaran menurun bahkan pingsan dan fatal pada kondisi paling ekstrim.

Cara yang sederhana untuk melihat kecukupan air dalam tubuh adalah dengan mencermati warna urin. Konsep ini dikembangkan pertama kali oleh Prof Lawrence Armstrong, ahli fisiologi dan pakar nutrisi dari Amerika Serikat.

Prof Lawrance Armstrong menciptakan tabel warna urin yang telah diadaptasi IDI dalam bentuk kartu Periksa Urin Sendiri (PURI). Pengguna kartu PURI sangat mudah, cukup dengan membandingkan warna air seni dengan warna dikartu PURI.

Kartu Puri ini dibagikan secara gratis sebagai salah satu upaya IDI meningkatkan kesadaran masyarakat untuk minum air putih minimal dua liter sehari untuk mencegah dehidrasi.

"Kartu ini berupa stiker yang praktis ditempel di pintu kamar kecil di rumah, kantor, tempat umum maupun sekolah-sekolah. Ini mendukung setiap upaya dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat," katanya.

70 Persen Tubuh Terdiri dari Air

DR dr Parlindungan Siregar, ahli ginjal hipertensi dari Departemen Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, pada kesempatan yang sama mengatakan, berat badan manusia sebagian besar terdiri dari air yakni mencapai 60-70 persen.

Air merupakan zat gizi yang penting karena air terlibat dalam semua fungsi tubuh meliputi transportasi zat gizi dan produk akhir metabolisme, serta fungsi organ tubuh termasuk fungsi ginjal.

"Bila tubuh tidak mendapat cukup air, maka tubuh akan berusaha mempertahankan fungsi tubuh pada ketidakcukupan air adalah tubuh akan menurunkan pengeluaran urin. Hal ini berarti urin menjadi lebih pekat dan selanjutnya berdampak terbentuknya batu ginjal," katanya.

Menurut dia, asupan air yang cukup perhari dapat mencegah pembentukan urin yang pekat, dengan demikian juga dapat mencegah terjadinya batu ginjal. Dengan asupan air yang cukup maka tidak ada kesempatan produk metabolik, racun ataupun bakteri yang mengendap.

Asupan air yang cukup akan dengan cepat mengeluarkan produk-produk metabolik bersama urin. Walaupun sudah terbentuk kristal kecil atau infeksi, asupan air yang cukup dapat membantu mengeluarkannya bersama dengan urin.

Minum air juga dapat mencegah terjadinya infeksi saluran kemih (Urinary tract infention/UTI) yakni ditandai dengan gejala rasa sakit pada saat berkemih.

Penderita juga merasa ingin berkemih tapi jumlah yang keluar hanya sedikit, adanya rasa nyeri di pinggang atau perut bagian bawah atau posisi tepatnya diatas tulang kemaluan dan terkadang disertai rasa mual.

Mengenai jumlah kebutuhan air pada berbagai usia, Parlindungan mengatakan terdapat perbedaan fisiologis antara bayi dan anak dengan orang dewasa dalam hal cairan dalam tubuh. Perbedaan tersebut mencakup perbedaan komposisi, metabolisme dan derajat kematangan sistem pengaturan air dan elektrtonik.

Metabolisme air juga sangat berbeda pada bayi bila dibandingkan dengan pada anak dan orang dewasa. Kecepatan siklus air pada bayi sangat tinggi yakni sekitar lima kali lebih besar per kilogram berat badan bila dibandingkan dengan orang dewasa.

Oleh karena itu bayi dan anak cenderung waran terhadap penyakit yang menimbulkan dehirasi. Perbedaan lain adalah adanya kematangan sistem pengaturan air dalam berbagai sistem atau organ tubuh, belum matangnya fungsi ginjal akan menyebakan perbedaan komposisi plasma pada bayi bila dibandingkan dengan anak yang lebih besar," katanya.

Konsumsi air yang cukup pada orang dewasa dalam keadaan basal adalah sebanyak dua liter dalam 24 jam. Volume asupan air tambahan disesuaikan dengan keadaan, misalnya deman, latihan fisik, suhu lingkungan yang tinggi dan lainnya yang kesemuanya ini akan diberi isyarat haus oleh pusat rasa di hipotalamus.

Akan tetapi menentukan kebutuhan air minum orang dewasa dengan mengendalikan rasa haus tidak sepenunya benar. Itulah sebabnya para ahli gizi dan dokter menganjurkan agar jangan hanya minum bila merasa haus. Kebiasaan banyak minum, terutama air putih yang aman merupakan kebiasaan sehat.

Kebutuhan air pada usia lanjut, kata dia, umur diatas 64 tahun berbeda dengan mereka yang lebih muda. Hal ini disebabkan terjadinya 8 perubahan fisilogis terhadap pengaturan keseimbangan air yaitu kadar hormon anti diuretik meningkat, kadar hormon atrial natriuretic peptide meningkat.

Kemudian juga volume air total tubuh turun, laju filtrasi glomerulus ginjal turun, kemampuan pemekatan urin turun, kadar hormon aldosteron turun, kepekaan pusat rasa haus turun, kemampuan kliren air turun.

"Kedepan perubahan ini membuat para usia lanjut peka terhadap terjadinya hiponatremia bila mengkonsumsi air yang banyak. Penelitian yang dilakukan sendiri di Jakarta menunjukkan bahwa konsumsi air 1000 ml merupakan batas yang optimal, sedangkan konsumsi air lebih dari 1500 ml per hari pada usia lanjut memudahkan terjadinya hiponatremia," katanya. (antaranews.com)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger | Supported by PT Accelerate Business Eminence