Loading...

Menyoroti Kebijakan Obat Nasional

Sebagai negara berkembang, Indonesia masih mempunyai banyak pekerjaan rumah untuk menyejahterakan rakyatnya. Salah satunya di bidang kesehatan masyarakat. Dan salah satu unsur yang memegang peranan penting terhadap kesehatan masyarakat adalah keterjangkauan obat yang beredar di masyarakat. Oleh karena itu diperlukan sebuah kebijakan obat nasional untuk mengontrol harga obat di Indonesia. Kebijakan tersebut harus mencakup berbagai regulasi yang mengatur seluruh pemangku kepentingan dalam kesehatan masyarakat.

Sayangnya regulasi mengenai kebijakan obat di Indonesia tidak hanya mengedepankan sektor kesehatan masyarakat semata, tetapi juga dipengaruhi kepentingan industri. Banyaknya jumlah investor yang masuk di dalam industri farmasi nasional dianggap sebagai progress yang baik di bidang industri. Para pejabat di Kementerian Kesehatan, terutama di masa lalu, menganggap bahwa dengan semakin banyaknya merek obat yang beredar di pasar akan menciptakan persaingan pasar yang nantinya berdampak pada turunnya harga obat. Mereka menyamakan perdagangan produk obat dengan produk konsumsi lainnya, dimana semakin banyak merek semakin murah harganya.

Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Dalam produk konsumsi, seperti baju, konsumen dapat memilih dan memutuskan mana yang paling sesuai dengan kebutuhan. Dalam hal obat, terutama obat etikal, konsumen sama sekali tidak tahu mana yang harus ia beli, mana yang paling cocok dengan penyakitnya, dan mana yang mutunya lebih baik. Yang menentukan adalah dokter.

Dengan kendali penentuan resep obat yang berada di tangan dokter, hukum persaingan pasar menjadi tidak berlaku untuk obat etikal. Karena pada praktiknya, banyak dokter yang justru meresepkan obat originator yang harganya bisa sepuluh kali lipat harga obat generik. Dan ini juga dipengaruhi oleh faktor psikologis pasien yang pada umumnya menginginkan obat yang dianggap paling mujarab, walau harganya mahal.

Terlalu mudahnya pemerintah memberi izin bagi para pelaku industri farmasi (terutama lokal) untuk memproduksi obat, membuat jenis obat yang beredar di Indonesia menjadi terlalu banyak. Tercatat setidaknya saat ini di Indonesia terdapat sekitar 15.000 merek obat dengan lebih dari 200 perusahaan obat. Padahal, menurut Sulastomo, mantan Ketua Tim Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), 800-1.000 nama generik dan dagang sudah bisa memenuhi kebutuhan pengobatan/medik secara nasional.

Banyaknya jenis obat yang beredar saat ini, ditambah dengan tidak adanya kebijakan yang terarah, membuat beberapa produsen farmasi lokal bebas menentukan harga produk. Pada umumnya mereka menentukkan harga produk mereka mendekati harga produk obat originator. Padahal, berbeda dengan industri penemu, mereka tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar untuk melakukan riset awal.

Akibatnya tren harga obat tidak menurun, karena hukum persaingan pasar tidak berlaku. Para produsen obat originator yang masa patennya telah habis merasa tidak perlu untuk menurunkan harga obat mereka, karena pesaing lokal mereka menetapkan harga yang mendekati harga obat paten tersebut.

Hal ini juga diperparah dengan ketidakpercayaan sebagian dokter dan juga masyarakat terhadap kualitas dan khasiat obat generik. Banyak diantara mereka, terutama di kalangan masyarakat sendiri, yang menyangsikan bahwa obat dengan harga yang jauh lebih murah dari harga obat originator memiliki khasiat yang sama. Padahal, obat generik menggunakan bahan aktif yang sama dengan obat originator atau obat generik bermerek.

Untungnya, kini regulasi Permenkes 1799/2010 telah mewajibkan para industri farmasi asing untuk membuat pabrik di Indonesia. Jadi, mereka bukan hanya sekedar menjadi agen, dan bisa dengan bebas mendaftarkan mereknya ke BPOM. Kebijakan tersebut diharapkan dapat memicu kesempatan transfer knowledge atas riset dan pembuatan obat-obatan berkualitas atas berbagai jenis penyakit.

Tapi toh, obat yang sudah beredar di Indonesia sudah terlanjur melimpah ruah, sehingga membuat pasar farmasi nasional tidak efektif. Karena itu BPOM harus betul-betul menjadi regulatory body yang sangat powerful, yakni instansi yang dapat secara tegas mengatur dan menyeleksi obat-obat yang boleh beredar di Indonesia. Pengurangan jumlah obat yang beredar di Indonesia diharapkan bisa membuat masyarakat mendapatkan obat-obatan yang benar-benar mereka butuhkan.

Pemerintah juga perlu membuat regulasi yang mengatur penetapan harga obat generik bermerek. Dengan adanya sebuah rambu penetapan harga, produsen obat generik bermerek tidak bisa seenaknya menetapkan harga obat mereka menyamai harga obat originator. Dan hal itu akan berdampak kembali berjalannya hukum persaingan pasar, dimana produsen obat originator mau tidak mau harus menyesuaikan harga obat mereka dengan pasar.

Selain itu, pemerintah juga perlu menyosialisasikan bahwa obat generik juga memiliki kualitas dan khasiat yang sama dengan obat originator. Pemerintah harus bisa membangun paradigma masyarakat bahwa obat yang berkhasiat tidak harus selalu memiliki harga yang selangit. Dengan terbentuknya paradigma masyarakat yang tepat mengenai obat generik, diharapkan penggunaan obat generik bisa semakin banyak, sehingga harga obat juga bisa turun. (kabarindonesia.com)

Air Zat Gizi Esensial yang Sering Terlupakan

Air merupakan zat gizi esensial untuk hidup sehat dan aktif serta merupakan komponen utama dalam gizi seimbang. Air yang dalam seharinya dibutuhkan lebih dari dua liter diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya terutama untuk mengatur proses kehidupan.

Namun demikian penyampaian pesan untuk minum air yang aman dan dalam jumlah cukup setiap hari seringkali terabaikan. Padahal air memiliki fungsi yang sangat vital bagi kehidupan, tidak hanya berfungsi bagi kesehatan, daya ingat, dan stamina.

Fungsi air juga seringkali dilupakan, padahal kekurangan air tubuh satu persen saja dari berat tubuh sudah dapat menimbulkan berbagai gangguan pada fungsi tubuh. Masyarakat termasuk tenaga kesehatan selama ini cenderung lebih memperhatikan makanan dibanding minuman.

Menurut Wakil Sekjen Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Dr Fauzi Masjhur MKes dalam acara "Simposium Hydration and Health" untuk Sosialisasi Peranan Air Bagi Kesehatan baru-baru ini di Medan mengatakan, dewasa ini di dunia termasuk di Indonesia sedang menghadapi masalah dehidrasi ringan kronik.

"Di Indonesia ada penelitian yang mengungkap tentang hal itu, yaitu The Indonesia Hydration (THIRST) yang melakukan pemeriksaan urin terhadap 1.200 sampel dewasa dan remaja di enam kota Indonesia, bahwa sekitar separuh orang dewasa dan remaja mengalami dehidrasi ringan," katanya.

Air berguna sebagai pelarut berbagai partikel termasuk zat gizi agar berfungsi dengan baik dalam sel dan jaringan tubuh. Air diperlukan untuk melembabkan jaringan mulut, mata dan hidung, melindungi organ dan jaringan tubuh, membantu melarutkan mineral dan zat gizi lainnya sehingga dapat dimanfaatkan oleh tubuh.

Selain itu air juga berfungsi untuk mengatur suhu tubuh, pelumasan sendi, meringankan beban ginjal dan hati dengan melarutkan sisa-sisa metabolisme dan membawa zat-zat gizi dan oksigen ke sel.

Salah satu masalah yang sering timbul akibat kurangnya asupan cairan adalah masalah dehidrasi yakni kondisi jumlah air dalam tubuh tidak mencukupi untuk melakukan fungsi kerja tubuh secara normal.

Dehidrasi terbagi atas tiga kategori, pertama kategori ringan yang ditandai rasa haus, bibir kering, gangguan mood, mengantuk dan lelah, warna urin kuning, otot lemah, sakit kepala serta pusing, silau jika melihat sinar.

Sedangkan kategori sedang dan berat ditandai dengan haus dan kerongkongan kering, urin sedikit dan berwarna kuning gelap, perasaan mengantuk dan pusing, mengalami gangguan konsentrasi, suhu badan meningkat, amat sedikit keringat bila dalam suasana panas.

Hidrasi tingkat berat ditandai dengan rasa haus yang ekstrim, warna urin kuning coklat seperti warna teh pekat, kulit kering, menggigil, mata cekung, tekanan darah rendah, nadi cepat, panas badan ektrim dan kesadaran menurun bahkan pingsan dan fatal pada kondisi paling ekstrim.

Cara yang sederhana untuk melihat kecukupan air dalam tubuh adalah dengan mencermati warna urin. Konsep ini dikembangkan pertama kali oleh Prof Lawrence Armstrong, ahli fisiologi dan pakar nutrisi dari Amerika Serikat.

Prof Lawrance Armstrong menciptakan tabel warna urin yang telah diadaptasi IDI dalam bentuk kartu Periksa Urin Sendiri (PURI). Pengguna kartu PURI sangat mudah, cukup dengan membandingkan warna air seni dengan warna dikartu PURI.

Kartu Puri ini dibagikan secara gratis sebagai salah satu upaya IDI meningkatkan kesadaran masyarakat untuk minum air putih minimal dua liter sehari untuk mencegah dehidrasi.

"Kartu ini berupa stiker yang praktis ditempel di pintu kamar kecil di rumah, kantor, tempat umum maupun sekolah-sekolah. Ini mendukung setiap upaya dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat," katanya.

70 Persen Tubuh Terdiri dari Air

DR dr Parlindungan Siregar, ahli ginjal hipertensi dari Departemen Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, pada kesempatan yang sama mengatakan, berat badan manusia sebagian besar terdiri dari air yakni mencapai 60-70 persen.

Air merupakan zat gizi yang penting karena air terlibat dalam semua fungsi tubuh meliputi transportasi zat gizi dan produk akhir metabolisme, serta fungsi organ tubuh termasuk fungsi ginjal.

"Bila tubuh tidak mendapat cukup air, maka tubuh akan berusaha mempertahankan fungsi tubuh pada ketidakcukupan air adalah tubuh akan menurunkan pengeluaran urin. Hal ini berarti urin menjadi lebih pekat dan selanjutnya berdampak terbentuknya batu ginjal," katanya.

Menurut dia, asupan air yang cukup perhari dapat mencegah pembentukan urin yang pekat, dengan demikian juga dapat mencegah terjadinya batu ginjal. Dengan asupan air yang cukup maka tidak ada kesempatan produk metabolik, racun ataupun bakteri yang mengendap.

Asupan air yang cukup akan dengan cepat mengeluarkan produk-produk metabolik bersama urin. Walaupun sudah terbentuk kristal kecil atau infeksi, asupan air yang cukup dapat membantu mengeluarkannya bersama dengan urin.

Minum air juga dapat mencegah terjadinya infeksi saluran kemih (Urinary tract infention/UTI) yakni ditandai dengan gejala rasa sakit pada saat berkemih.

Penderita juga merasa ingin berkemih tapi jumlah yang keluar hanya sedikit, adanya rasa nyeri di pinggang atau perut bagian bawah atau posisi tepatnya diatas tulang kemaluan dan terkadang disertai rasa mual.

Mengenai jumlah kebutuhan air pada berbagai usia, Parlindungan mengatakan terdapat perbedaan fisiologis antara bayi dan anak dengan orang dewasa dalam hal cairan dalam tubuh. Perbedaan tersebut mencakup perbedaan komposisi, metabolisme dan derajat kematangan sistem pengaturan air dan elektrtonik.

Metabolisme air juga sangat berbeda pada bayi bila dibandingkan dengan pada anak dan orang dewasa. Kecepatan siklus air pada bayi sangat tinggi yakni sekitar lima kali lebih besar per kilogram berat badan bila dibandingkan dengan orang dewasa.

Oleh karena itu bayi dan anak cenderung waran terhadap penyakit yang menimbulkan dehirasi. Perbedaan lain adalah adanya kematangan sistem pengaturan air dalam berbagai sistem atau organ tubuh, belum matangnya fungsi ginjal akan menyebakan perbedaan komposisi plasma pada bayi bila dibandingkan dengan anak yang lebih besar," katanya.

Konsumsi air yang cukup pada orang dewasa dalam keadaan basal adalah sebanyak dua liter dalam 24 jam. Volume asupan air tambahan disesuaikan dengan keadaan, misalnya deman, latihan fisik, suhu lingkungan yang tinggi dan lainnya yang kesemuanya ini akan diberi isyarat haus oleh pusat rasa di hipotalamus.

Akan tetapi menentukan kebutuhan air minum orang dewasa dengan mengendalikan rasa haus tidak sepenunya benar. Itulah sebabnya para ahli gizi dan dokter menganjurkan agar jangan hanya minum bila merasa haus. Kebiasaan banyak minum, terutama air putih yang aman merupakan kebiasaan sehat.

Kebutuhan air pada usia lanjut, kata dia, umur diatas 64 tahun berbeda dengan mereka yang lebih muda. Hal ini disebabkan terjadinya 8 perubahan fisilogis terhadap pengaturan keseimbangan air yaitu kadar hormon anti diuretik meningkat, kadar hormon atrial natriuretic peptide meningkat.

Kemudian juga volume air total tubuh turun, laju filtrasi glomerulus ginjal turun, kemampuan pemekatan urin turun, kadar hormon aldosteron turun, kepekaan pusat rasa haus turun, kemampuan kliren air turun.

"Kedepan perubahan ini membuat para usia lanjut peka terhadap terjadinya hiponatremia bila mengkonsumsi air yang banyak. Penelitian yang dilakukan sendiri di Jakarta menunjukkan bahwa konsumsi air 1000 ml merupakan batas yang optimal, sedangkan konsumsi air lebih dari 1500 ml per hari pada usia lanjut memudahkan terjadinya hiponatremia," katanya. (antaranews.com)

Sering 'Jajan' Seks Risiko Alami Penyakit Ini

BERGONTA-ganti pasangan bukan hanya mengancam kelangsungan hubungan dengan pasangan, tapi juga kesehatan organ intim Anda. Inilah beberapa penyakit yang dapat menjangkiti tubuh.

Sejauh ini kebanyakan orang memutuskan berpacaran dengan satu orang saja dalam satu waktu. Namun di era modern ini, tak jarang banyak pasangan yang memutuskan memiliki beberapa pacar secara bersamaan. Jika hubungan pacaran ini sampai melibatkan hubungan seks, maka yang mereka lakukan dicap sebagai hubungan “berganti-ganti pasangan” alias “jajan” seks.

Perilaku tersebut tentu sangat tak menyehatkan. Pasalnya, berganti-ganti pasangan mendatangkan banyak risiko negatif bagi kesehatan Anda. Karenanya, ada beberapa hal yang harus mereka pertimbangkan jika melakukan hal ini. Selain moral dan agama, ada beberapa masalah dan risiko yang menyertai hubungan seks dengan lebih dari satu orang. Salah satu risiko terbesarnya adalah kemungkinan tertular penyakit menular seksual (PMS). Khusus bagi wanita, risiko berkembangnya kanker serviks pun akan meningkat.

"Penyakit (PMS) ini hampir selalu berupa infeksi dan hanya didapat melalui hubungan seks," tutur Dr Miriam Stoppard dalam bukunya berjudul "Panduan Kesehatan Keluarga".

Dalam bukunya, Dr Stoppard pun menggambarkan beberapa gejala membahayakan untuk menandai Anda terjangkit penyakit menular seksual. Inilah beberapa di antaranya:

Kutil genital dan herpes genital

Kutil genital dan herpes genital adalah infeksi virus. Kutil bisa disembuhkan, herpes tidak, tapi gejalanya bisa ditangani. Virus kutil juga dapat menimbulkan kanker serviks.

Gonorea, sifilis, dan klamidia

Ketiganya adalah infeksi bakteri, yang dapat disembuhkan dengan antibiotik. Namun, klamidia sulit terdiagnosis karena sering kali tidak menimbulkan gejala. Klamidia juga bisa menimbulkan penyakit peradangan panggul (pelvic inflammatory disease/PID).

HIV/AIDS dan hepatitis B

Keduanya adalah infeksi virus yang tidak bisa disembuhkan. AIDS menyebabkan kematian, tapi hepatitis B tidak.

Kutu pubis (jengger ayam) dan kudis

Dua hal ini adalah parasit, yang bisa disembuhkan dengan insektisida.

Kandidiasis

Adalah infeksi jamur yang bisa disembuhkan dengan fungisida.

Trikomonas

Adalah parasit bersel satu yang bisa disembuhkan dengan obat antiparasit. (okezone.com)

Unik, Wanita Ini Miliki Dua Miss V

BERBEDA dengan kebanyakan, wanita ini memiliki tampilan yang langka pada organ intimnya yakni punya dua leher rahim dan dua Miss V.

Sekilas melihat kondisinya yang tampak sehat, perempuan ini sama sekali tak terlihat seperti memiliki keanehan pada dirinya. Padahal wanita ini memiliki kelainan yang sangat langka, yaitu hidup dengan rahim, dua leher rahim, dan dua Miss V.

Hazel Jones (27), baru menyadari bahwa dirinya memiliki dua Miss V saat berusia 18 tahun. Merasa janggal, kala itu, dirinya pun sempat melakukan diagnosis untuk mencari tahu penyebab rasa sakit yang amat sangat kram dan mengalami masa pubertas yang berat.

Meski memiliki kondisi yang tak lazim bagi orang kebanyakan, tapi hal ini tak membuatnya minder dalam dunia pergaulannya. Bahkan dia tak malu menceritakan kondisinya pada teman-teman wanitanya.

"Bagi saya ini hal yang luar biasa, tidak perlu malu," ujarnya, sebagaimana dilansir Telegraph, Kamis (12/1/2012).

"Jika teman-teman perempuan saya ingin melihat keadaan saya, saya cukup senang untuk menunjukkan kepada mereka, itu bukan sesuatu yang membuat saya malu," tambahnya.

Hazel mengatakan, sebelumnya ia merasakan seks yang sangat tidak nyaman, meski tidak menimbulkan efek samping. Walau demikian, Hazel menolak untuk melakukan operasi karena takut terjadi masalah baru dengan jaringan parutnya.

"Aku memiliki kehidupan seks yang dahsyat," ujarnya.

Dokter yang memeriksanya menjelaskan, bahwa apa yang terjadi pada Hazel dikarenakan adanya kerusakan pada saat pembentukan rahim dalam tubuhnya.

"Ketika dalam masa perkembangan, rahim seorang perempuan berasal dari dua tabung. Kedua tabung itu kemudian bergabung, septum (pembatas dua tabung) rusak dan membentuk satu rahim (uterus)," jelas Dr Dawn Harper, dokter yang menangani Hazel.

"Hazel harus waspada melahirkan bayi dalam keadaan sungsang karena rahimnya yang sempit. Ia pun harus melakukan pap smear dua kali agar pasti tak mengidap kanker serviks," saran sang dokter. (okezone.com)

Waspadai Penyakit Musim Penghujan

KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat untuk mewaspadai sembilan penyakit yang biasa mewabah saat musim penghujan.

Wakil Menteri Kesehatan Ali Gufron Mukti mengatakan, saat ini Indonesia sudah memasuki musim penghujan dengan curah hujan tertinggi diperkirakan terjadi pada Januari hingga awal Februari 2012. Musim penghujan merupakan faktor risiko untuk terjadi penyakit. Beberapa penyakit yang perlu diwaspadai selama musim penghujan di antaranya penyakit akibat virus seperti influenza dan diare.

“Lalu penyakit akibat bakteri dan parasit, terutama pada daerah yang airnya meluap sehingga bakteri dan parasit dari septic tank, serta kotoran hewan terangkat, lalu hanyut kemudian mengontaminasi air, bahan pangan, atau menginfeksi langsung manusia.

Penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan parasit ini seperti diare, disentri, kecacingan, dan leptospirosis,” ungkapnya kepada SINDO di Jakarta kemarin.

Di samping itu, Gufron menyampaikan, penyakit lain yang perlu diwaspadai yakni penyakit akibat jamur, terutama akibat kelembapan pada pakaian. Lalu penyakit tidak menular seperti asma, rinitis, dan perburukan penyakit kronik. Penyakit yang tidak asing dengan musim penghujan yakni demam berdarah dengue (DBD) karena meningkatnya tempat perindukan nyamuk.

“Lalu, pada peralihan musim penghujan ke musim kemarau perlu diwaspadai penyakit demam berdarah akibat tingginya populasi nyamuk demam berdarah pada masa itu karena banyaknya tempat perindukan,” papar dia.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kemenkes Tjandra Yoga Aditama menyebutkan, sebagai antisipasi untuk menghadapi musim penghujan, pihaknya melakukan beberapa upaya. Upaya-upaya tersebut seperti meningkatkan upaya promosi kesehatan kepada masyarakat tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), terutama dalam penggunaan air bersih.

Hal ini dilakukan dengan cuci tangan dengan air bersih dan sabun; penggunaan jamban sehat; pemberantasan jentik di rumah, sekolah, kantor, dan lingkungan sekitar.

“Diingatkan juga konsumsi untuk mengonsumsi buah dan sayur setiap hari,” tutur dia. (okezone.com)

Indonesia Peringkat 5 Dunia untuk Jumlah Anak Pendek

Sebanyak 35,6 persen anak Indonesia berumur kurang dari lima tahun bertinggi badan lebih rendah dari semestinya. Makin dewasa, kurang tinggi makin besar.

”Indonesia peringkat ke-5 dunia dengan jumlah anak pendek terbanyak,” kata Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Abdul Razak Thaha dalam diskusi ”Gerakan Nasional Sadar Gizi Menuju Manusia Indonesia Prima”, Rabu (11/1), di Jakarta.

Posisi Indonesia hanya lebih baik dibandingkan India, China, Nigeria, dan Pakistan.

Tinggi standar anak usia 5 tahun adalah 110 sentimeter. Namun, tinggi rata-rata anak Indonesia umur 5 tahun pada tahun 2010 kurang 6,7 sentimeter untuk anak laki-laki dan kurang 7,3 sentimeter untuk anak perempuan. Pada usia 19 tahun, beda tinggi kurang 13,6 sentimeter untuk anak laki-laki dan 10,4 sentimeter untuk anak perempuan dari tinggi semestinya.

Anak-anak bertubuh pendek karena kurang gizi kronis sejak dalam kandungan. Kemiskinan dan kekurangtahuan orangtua membuat anak dan ibu hamil tak mendapat asupan gizi sesuai kebutuhan.

Kurang gizi pada ibu hamil membuat 11,1 persen bayi lahir dengan berat badan rendah, yaitu kurang dari 2.500 gram.

Kondisi itu diperparah dengan tingginya ketidaktahuan tentang pemberian air susu ibu (ASI). Sebanyak 11,1 persen ibu baru memberikan ASI 48 jam sesudah kelahiran. Ini membuat kolostrum yang mengandung zat kekebalan yang bermanfaat bagi bayi terbuang. Bayi yang diberi ASI eksklusif hingga usia 5 bulan hanya 15,3 persen.

Menurut Razak, kekurangtahuan ini dipicu rendahnya tingkat pendidikan perempuan. Pernikahan muda masih tinggi sehingga saat hamil mereka banyak yang belum siap menjadi ibu.

Dampak kurang gizi bukan hanya pada tubuh pendek, tetapi otak yang kurang berkembang. Sebanyak 80 persen sel otak berkembang hingga usia 2 tahun dan 95 persen pada usia 6 tahun.

”Makan saja salah kok minta (negara) maju,” kata Ketua Kaukus Kesehatan Dewan Perwakilan Rakyat Subagyo Partodiharjo.

Deputi Bidang Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Nina Sardjunani, mengatakan, pemerintah telah menyiapkan rencana intervensi untuk mengatasi masalah tubuh pendek pada anak-anak. Penanganan tersebut berupa perubahan perilaku, pemberian zat gizi mikro, dan pemberian makanan pendamping bagi anak-anak.

”Investasi pada 1.000 hari pertama sejak anak dalam kandungan hingga berusia 2 tahun penting bagi kecerdasan dan perkembangan anak,” kata Nina. (kompas.com)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger | Supported by PT Accelerate Business Eminence