journey healthy future

Kamis, 06 Desember 2018

Manfaat Melon: Anti-Kanker Hingga Cegah Penuaan Dini

Buah melon tak sekadar menawarkan rasa yang manis. Buah dari famili Cucurbitaceae ini juga kaya akan manfaat mulai dari anti-kanker hingga mencegah penuaan kulit. 

Melon merupakan buah yang sebagian besar atau hampir 95 persen mengandung air. Berdasarkan data dari USDA National Nutrient, melon kaya akan vitamin seperti Vitamin A, C, E, K, folat, dan niasin. 
Melon merupakan salah satu sumber vitamin A terbaik lantaran setiap 100 gr mengandung 112 persen dari rekomendasi konsumsi harian.

Melon juga kaya akan mineral seperti kalsium, tembaga, zat besi, magnesium, mangan, dan seng. Buah ini juga memiliki elektrolit seperti kalium. 

Berikut manfaat kesehatan dari Melon yang tak banyak diketahui.

1. Anti-kanker
Melon kaya akan karotenoid yang dapat mencegah kanker dan menurunkan risiko kanker paru-paru. Health Beckon menyatakan, konsumsi melon secara rutin setiap hari efektif mencegah dan membunuh benih kanker yang menyerang tubuh.

2. Mencegah penyakit jantung
Melon juga memiliki antikoagulan yang disebut adenosin. Zat ini bisa menghentikan pembekuan sel darah merah yang sering kali menjadi penyebab penyakit kardiovaskular seperti stroke dan penyakit jantung.

3. Mengatasi masalah pencernaan
Buah melon dapat membuat gerakan usus halus menjadi lebih mudah. Kandungan air yang tinggi dalam melon membantu melancarkan buang air besar. Sedangkan mineral di dalam melon menghilangkan keasaman yang menyebabkan sembelit, terutama di lambung.

Melon yang bersifat diuretik juga dapat menjaga kesehatan ginjal.

4. Menurunkan berat badan
Melon juga merupakan buah yang ideal untuk menurunkan berat badan. Buah ini bebas lemak dan kolesterol. Kandungan air yang tinggi dan rasa yang manis membuat orang yang memakan melon akan merasa kenyang. Buah ini cocok dimakan saat sedang menurunkan berat badan.

5. Mencegah penuaan kulit
Melon mengandung kolagen yang baik untuk struktur dan mempertahankan kekencangan kulit. Kolagen juga membantu menghaluskan dan menghidrasi kulit.

Sedangkan vitamin A, B, dan C di dalam melon bersifat mencegah penuaan kulit. Konsumsi rutin buah melon dapat memberikan kesegaran pada kulit.

6. Mencegah rambut rontok
Melon merupakan sumber yang baik untuk betakaroten yang terdapat dalam vitamin A. Vitamin ini baik untuk pertumbuhan rambut. 

Selain itu, melon juga memiliki vitamin B yang kaya akan asam folat dan inositol. Kedua zat ini dapat mencegah rambut rontok.

Selasa, 04 Desember 2018

Penanganan Stagnan, WHO Sebut Polio Bisa Kembali Mewabah

Penanganan penyakit polio dalam beberapa tahun terakhir cenderung stagnan bahkan mulai menunjukkan penurunan. Kondisi ini membuat Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) khawatir polio yang menyebabkan kelumpuhan ini kembali merebak.

Komite Darurat WHO kembali memasukkan polio dalam darurat kesehatan publik atau Public Health Emergency of International Concern. Artinya polio dianggap sebagai ancaman kesehatan yang serius dan membahayakan dunia.

Penurunan penanganan wabah polio itu ditandai dengan kenaikan jumlah kasus polio. 
Tahun ini WHO sudah mencatatkan terdapat 27 wabah virus polio di seluruh dunia. Jumlah tersebut meningkat dari 22 kasus pada tahun lalu. 

Komite Darurat WHO menyatakan jika pemberantasan polio tidak tercapai dalam beberapa tahun ke depan, penyakit ini diprediksi dapat kembali mewabah di dunia sama seperti penyakit campak atau Measless-Rubella.

Polio atau poliomielitis, merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus yang ditularkan orang-ke-orang melalui rute fekal-oral atau feses ke mulut dan juga melalui makanan yang terkontaminasi. Virus ini banyak menyerang anak-anak muda. 

Gejala polio ditandai dengan demam, kelelahan, sakit kepala, muntah, kekakuan di leher dan nyeri tungkai. 

Penyakit yang menyebabkan kelumpuhan ini tidak bisa diobati, tapi dapat dicegah hanya dengan vaksin. 

Penanganan polio secara internasional melalui Global Polio Eradication Initiative sudah berlangsung sejak 1988. Saat itu polio merupakan penyakit endemis di 125 negara dan menyerang 350 ribu anak setiap tahun. 

Saat ini Polio endemis di Afghanistan, Nigeria dan Pakistan dengan total kasus sudah turun hingga 99 persen. 

Indonesia juga sudah dinyatakan bebas dari polio. Meski demikian, banyak negara tetap rentan terhadap polio.

Untuk mencegah penyebaran polio, WHO menetapkan setiap anak harus diimunisasi dengan vaksin. CNN Indonesia

WHO: Kasus Campak Meningkat 30 Persen

Kasus campak di dunia melonjak hingga 30 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat peningkatan terbesar terjadi di sejumlah negara Eropa seperti Jerman.

Melansir AFP, tren peningkatan kasus campak merupakan fenomena global dengan penyebab yang saling berbeda untuk setiap kawasan.

Di Eropa, para ahli mengatakan bahwa peningkatan kasus campak disebabkan oleh informasi yang salah tentang vaksin. 
Direktur Imunisasi, Vaksin, dan Biologis WHO, Martin Friede mengatakan bahwa pegiat medis membuat 'tuduhan' terhadap vaksin tanpa bukti. Hal itu, lanjutnya, secara tidak langsung berdampak pada keputusan orang tua untuk mengimunisasi anak.

Klaim tak berdasar itu kira-kira menyebutkan korelasi antara campak dengan autisme. Klaim itu telah tersebar di media sosial dan menimbulkan gerakan anti-vaksin.

Sementara di Venezuela, peningkatan kasus campak disebabkan oleh krisis politik dan ekonomi yang memicu inflasi besar-besaran. Hal itu berujung dengan ketersediaan vaksin yang terbatas.

Yang lebih mengkhawatirkan, kata Friede, adalah adanya transmisi campak di negara-negara yang sebelumnya jarang terserang wabah campak.

"Ini benar-benar kemunduran untuk kita," tegas Friede.

Beberapa negara seperti Jerman, Rusia, dan Venezuela, sebelumnya telah berhasil mengeliminasi campak. 

Berdasarkan pedoman WHO, pencegahan wabah campak membutuhkan 95 persen cakupan dari dosis pertama vaksin.

Namun, kini cakupan vaksin hanya mencapai 85 persen selama beberapa tahun terakhir. Angka itu biasanya terjadi di daerah-daerah berpenghasilan rendah seperti Afrika, yang memiliki tingkat cakupan vaksin sebesar 70 persen pada tahun 2017 lalu.

Campak adalah penyakit menular yang menyebabkan diare berat, radang paru-paru, dan gangguan penglihatan. CNN Indonesia

Rabu, 28 November 2018

Tanda dan Gejala Tubuh Kekurangan Vitamin D

Vitamin D ini memiliki peranan penting di seluruh tubuh. Berbeda dengan vitamin lainnya, vitamin D berfungsi seperti hormon untuk seluruh sel di dalam tubuh. Kekurangan vitamin D dapat menimbulkan tanda dan gejala yang bisa berakibat fatal.

Vitamin D merupakan salah satu vitamin yang didapatkan dari proses produksi di dalam tubuh. Vitamin ini dibuat dari kolesterol saat tubuh terpapar sinar matahari. Beberapa makanan seperti lemak ikan dan produk susu juga mengandung vitamin D.
Kekurangan vitamin D kini menjadi salah satu masalah umum. Diperkirakan sekitar 1 miliar orang di seluruh dunia memiliki kadar vitamin D yang rendah di dalam darah.

Berikut tanda dan gejala yang muncul pada tubuh saat kekurangan vitamin D.

1. Nyeri tulang dan punggung
Vitamin D merupakan vitamin yang berfungsi menjaga kesehatan tulang. Vitamin D membantu peningkatan penyerapan kalsium pada tubuh. Nyeri pada tulang dan punggung bisa jadi pertanda kekurangan asupan vitamin D.

Dikutip dari Healthline, studi menemukan ada hubungan kekurangan vitamin D dan nyeri punggung pada lebih dari 9.000 perempuan. 

2. Tulang keropos
Selain nyeri tulang, tulang yang keropos juga penanda tubuh kekurangan vitamin D. Nutrisi ini berperan penting dalam penyerapan kalsium dan metabolisme tulang. 

Tulang keropos merupakan indikasi tulang kehilangan kalsium dan mineral lainnya. Tulang yang keropos bila dibiarkan dapat meningkatkan risiko patah tulang.

3. Luka sulit sembuh
Proses penyembuhan luka yang lama setelah cedera atau operasi merupakan salah satu tanda kekurangan vitamin D. Pasalnya, vitamin ini membantu meningkatkan produksi senyawa yang sangat penting untuk membentuk kulit baru saat proses penyembuhan luka.

Vitamin D juga berperan dalam melawan peradangan dan infeksi dalam penyembuhan luka.

4.  Sering sakit
Vitamin D berfungsi menjaga sistem imun tetap kuat sehingga bisa melawan virus dan bakteri yang menyebabkan penyakit di dalam tubuh. 

Kekurangan vitamin D dapat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan seseorang terserang flu dan demam. Beberapa penelitian juga menunjukkan terdapat hubungan antara kekurangan vitamin D dengan infeksi saluran pernapasan seperti pilek, bronkitis, dan pneumonia.

5. Rambut rontok
Rambut rontok bukan hanya gejala stres. Beberapa penelitian mengaitkan rambut rontok karena kekurangan vitamin D. Kekurangan vitamin D berhubungan dengan autoimun alopecia areata yang menjadi penyebab rambut rontok. 

Selain itu, dalam sebuah studi kasus, aplikasi vitamin D terbukti dapat mengobati rambut rontok pada anak laki-laki. CNN Indonesia

Rabu, 21 November 2018

Studi: Pneumonia Ancam 11 Juta Nyawa Balita pada 2030

Pneumonia bukan penyakit main-main. Penyakit infeksi saluran pernapasan ini diprediksi bakal 'membunuh' hampir 11 juta balita pada tahun 2030 mendatang.

Prediksi itu muncul dari analisis teranyar yang dilakukan oleh Johns Hopkins University bersama dengan organisasi non-pemerintah, Save the Children. Mereka menganalisis perkiraan tersebut berdasarkan tren yang ada saat ini.

Melansir AFP, hasilnya lebih dari 10,8 juta balita akan 'menyerah' terhadap penyakit ini pada akhir dekade berikutnya.
Infeksi pernapasan yang menyerang anak banyak ditemukan di negara-negara berkembang. Ratusan ribu anak meninggal setiap tahunnya akibat pneumonia.

Pada tahun 2016, tercatat lebih dari 880 ribu anak di bawah usia di bawah dua tahun meninggal karena infeksi pernapasan.

Penelitian ini juga mencatat bahwa beberapa negara harus mempersiapkan diri untuk menanggung beban tertinggi akibat pneumonia dengan 1,7 juta anak berisiko di Nigeria dan India, 700 ribu anak di Pakistan, dan 635 ribu di Republik Demokratik Kongo.

Kendati demikian, penelitian ini juga setidaknya memberikan kabar baik tentang penanganan pneumonia. Penelitian yang dipublikasikan tepat pada Hari Pneumonia Sedunia 12 November 2018 ini juga menemukan beberapa hal yang sangat bisa dilakukan untuk menangani kematian anak akibat penyakit infeksi pernapasan ini.

Beberapa hal tersebut di antaranya meningkatkan cakupan vaksinasi, ketersediaan antibiotik yang lebih terjangkau, dan memastikan nutrisi yang baik untuk anak. Jika ketiga hal itu dilakoni, total sebanyak 4,1 juta jiwa anak bisa terselamatkan.

Pneumonia merupakan infeksi pernapasan yang dapat tertular melalui virus dan bakteri. Penyakit ini dapat terobati jika dideteksi sejak dini dan sistem kekebalan tubuh pasien tidak terganggu.

Sebagian besar pneumonia menyerang anak-anak dengan malnutrisi. Penyakit ini bahkan membunuh lebih banyak bayi setiap tahun daripada malaria, diare, dan campak.

2030 sendiri merupakan target United Nations Sustainable Development Goals, yang salah satunya termasuk mengakhiri kematian anak yang dapat dicegah, salah satunya pneumonia. CNN

Surat Keterangan Akreditasi FKM UNDIP

Bagi teman-teman yang membutuhkan informasi tentang Akreditasi FKM UNDIP... Silahkan download file di bawah ini... file sudah saya perb...

Find Us on Facebook

Blog Archives

Do Before You Die

Do Before You Die

Visitors


pinjaman utang