journey healthy future

Tampilkan postingan dengan label Promosi Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Promosi Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Oktober 2018

Cara Alami Mencegah Batu Empedu

Endapan batu dalam kandung empedu merupakan salah satu kondisi yang banyak terjadi pada tubuh manusia. 

Batu yang besar dapat menyumbat empedu sehingga mengganggu saluran pencernaan dan menimbulkan rasa sakit yang hebat. Walau berbahaya, penyakit ini dapat dicegah secara alami dengan menerapkan gaya hidup sehat.

Batu empedu merupakan gumpalan material yang terbentuk dalam kandung empedu, organ kecil di bawah hati. Organ ini berfungsi mencerna lemak dengan menyimpan dan melepaskan empedu ke usus kecil. Empedu juga membantu menghilangkan kolesterol.
Batu itu terbentuk karena tersumbatnya saluran empedu. Endapan ini dapat berupa batu kolesterol akibat kolesterol yang tak bisa dicerna dan batu pigmen yang berwarna kehitaman karena bilirubin yang berlebihan.

Kondisi batu empedu pada setiap orang dapat memiliki ukuran dan jumlah yang berbeda. Kondisi yang kecil sering kali tidak menimbulkan gejala. Namun, ukuran yang besar atau jumlah yang banyak dapat memicu gejala dan memerlukan operasi pengangkatan empedu. Di Indonesia tercatat lebih dari dua juta kasus per tahun.

Gejala yang timbul akibat batu empedu ini di antaranya nyeri pada perut bagian kanan atas atau punggung, gangguan pencernaan, mual, dan muntah. Orang-orang yang rentan terkena batu empedu ini meliputi perempuan, obesitas, dan orang berusia 40 tahun ke atas.

Mencegah batu empedu dilakukan secara alami dengan beberapa cara berikut ini.

1. Diet sehat
Dikutip dari Web MD, diet sehat merupakan cara terbaik untuk mencegah batu empedu. Hindari pola makan rendah kalori atau kurang dari 800 kalori setiap hari. 

Konsumsi sumber serat yang baik seperti buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan gandum. Serta, hindari terlalu banyak konsumsi lemak untuk menghindari peningkatan kolesterol dan memicu terbentuknya batu empedu. Namun, perlu diingat, terlalu sedikit lemak juga dapat menghasilkan pembentukan batu empedu.

Penelitian terbaru juga menunjukkan, konsumsi minyak zaitun setiap hari dapat mencegah perkembangan batu empedu.

2. Menurunkan berat badan bertahap
Menurunkan berat badan secara bertahap dapat mencegah pembentukan endapan di empedu. Sebaliknya, menurunkan berat badan dengan cepat justru dapat meningkatkan potensi batu di empedu.

Dikutip dari Everyday Health, orang dengan obesitas direkomendasikan untuk mengurangi 5-10 persen berat badannya setiap pekan selama enam bulan untuk mencapai berat badan ideal.

3. Olahraga
Olahraga yang teratur dapat mencegah perkembangan batu dalam empedu. Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik dikaitkan dengan penurunan risiko batu empedu.

Setiap orang direkomendasikan untuk setidaknya mekakukan aktivitas fisik 150 menit per minggu atau lima kali dalam seminggu masing-masing selama 30 menit untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah obesitas. CNN indonesia

Kamis, 25 Oktober 2018

Jarang Olahraga Lebih Berbahaya daripada Merokok

Tanpa olahraga, fungsi tubuh tak akan berjalan optimal. Faktanya, ada sederet bahaya yang mengintai di balik kebiasaan melupakan olahraga atau aktivitas fisik. 

Bahaya jarang berolahraga tak main-main. Bahkan, sebuah penelitian teranyar menemukan tingkat risiko kematian lebih tinggi pada orang-orang yang jarang berolahraga. Bahaya yang ditimbulkan disebut lebih parah daripada kebiasaan merokok, mengidap diabetes, atau menderita hipertensi.

Penelitian yang dipublikasikan pada jurnal JAMA Network Open itu menyebutkan bahwa jarang berolahraga memiliki risiko kematian 30 persen lebih tinggi.
"Jarang berolahraga harus diperlakukan sebagai penyakit yang memiliki resep," ujar pemimpin studi, dr Wael Jaber, ahli kesehatan jantung di Cleveland Clinic, melansir CNN.

Peneliti mempelajari 122.007 pasien yang getol melakukan treadmill di Cleveland Clinic selama periode waktu 1 Januari 1991-31 Desember 2014. Mereka mengukur semua penyebab kematian peserta penelitian, khususnya yang berkaitan dengan kebiasaan jarang berolahraga. Sebanyak 12 persen kematian disebabkan oleh tingkat intensitas olahraga atau aktivitas fisik yang rendah.

Risiko kematian yang lebih tinggi itu terlihat ketika peneliti membandingkan kedua kelompok: mereka yang getol berolahraga dan mereka yang jarang berolahraga. 

"Orang-orang yang jarang berolahraga atau melakukan treadmill berisiko dua kali lipat terserang gagal ginjal," kata Jaber.

Meski sudah jadi rahasia umum, tapi penelitian ini disebut-sebut semakin meyakinkan anggapan bahwa kebugaran bisa memberikan angka harapan hidup yang lebih panjang. Manfaat olahraga kebugaran seperti aerobik, kata Jaber, tak berbatas.

Sebelumnya, sejumlah penelitian mengaitkan intensitas olahraga yang tinggi dengan risiko kematian. Namun, hal itu dibantah dalam penelitian teranyar ini.

"Tak ada tingkat intensitas olahraga tertentu yang bisa menimbulkan risiko kematian. Di sini justru kami melihat intensitas olahraga tinggi memiliki risiko kematian yang lebih rendah," jelas Jaber.

Manfaat dari getol berolahraga bisa dirasakan orang tanpa pandang bulu, segala umur, dan segala jenis kelamin. "Meskipun Anda berusia 40-80an tahun, manfaat olahraga tetap bisa Anda dapatkan," kata Jaber.

Dengan kata lain, penelitian ini mengajak Anda untuk bergerak dan bangkit dari kasur atau tempat duduk Anda. 

Ahli kesehatan jantung di Lenox Hill Hospital, Satjit Bhusri, mengatakan bahwa penelitian ini memperkuat apa yang telah diketahui sebelumnya. 

Gaya hidup minim aktivitas fisik telah menimbulkan risiko tinggi gangguan jantung. Namun, Bhusri yakin jika hal tersebut dapat diubah. 

"Kita ditakdirkan untuk berjalan, berlari, berolahraga. Ini semua tentang bangkit dari kursi dan bergerak lah," tutup Bhusri. Jakarta, CNN Indonesia

Kamis, 27 September 2018

Inggris Bakal Jadi Negara Bebas Asap Rokok

Jumlah perokok yang terus menurun membuat Inggris bakal menjadi negara bebas asap rokok. Pemerintah Inggris melalui Public Health England (PHE) memprediksi hanya akan ada 1 dari 10 orang Inggris yang merokok pada 2023.

Jumlah itu bahkan diprediksi terus menurun dan membuat Inggris bebas rokok pada 2030. Perkiraan ini didapat setelah menganalisis statistik nasional Inggris.

Pada tahun lalu, tercatat 400 ribu orang Inggris berhenti merokok. Tersisa 6,1 juta perokok aktif atau setara dengan 14,9 persen dari populasi Inggris. Angka ini menurun dari tahun 2016 sebanyak 15,5 persen dan dari 2011 sebanyak 19,8 persen.

PHE memprediksi jika tren ini akan terus terjadi. Hasilnya, pada 2023 hanya terdapat sekitar 8,5 persen hingga 11,7 persen di Inggris.

Kepala PHE, Dunca Selbie, mendesak National Health Service (NHS) untuk berkomitmen membuat Inggris bebas asap rokok pada 2030. Bebas asap rokok ini berarti hanya terdapat kurang dari 5 persen populasi yang merokok. Menurut Selbie, Inggris dalam jalan yang tepat untuk mewujudkan negara bebas asap rokok.

Pemerintah Inggris banyak melakukan kampanye yang mendorong warganya untuk berhenti merokok, salah satunya imbauan tidak merokok selama 28 hari di bulan Oktober.

Di sisi lain, beberapa ahli menyoroti perokok yang masih tersisa di Inggris berasal dari kalangan ekonomi dan pendidikan yang rendah. Satu dari empat pekerja manual merokok dibandingkan satu dari sepuluh manajer yang merokok.

"Ketika jumlah perokok menurun, tapi menyisakan orang yang miskin. Pendanaan mesti diberikan jika pemerintah Inggris ingin mencapai bebas rokok pada 2030," kata kepala organisasi nirlaba Action on Smoking and Helath Deborah Arnott. Jakarta, CNN Indonesia

Kamis, 20 September 2018

Berapa Lama Manusia Kuat Tak Tidur?

Menurut para ahli, orang dewasa disarankan tidur dengan durasi tujuh hingga sembilan jam setiap malam. Namun, beberapa orang kadang tidak memiliki waktu untuk memejamkan mata dan tidur.

Entah karena alasan pekerjaan atau tugas, sebagian orang kerapkali harus terjaga untuk waktu yang lama. Hal ini membuat mereka tidak tidur untuk durasi yang kadang tidak bisa ditentukan. Walaupun begitu, berapa lama sesungguhnya manusia bisa terjaga?

Hingga saat ini, pria asal Amerika Serikat bernama Randy Gardner (70 tahun) hingga saat ini memegang rekor dunia untuk tidak tidur yaitu 11 hari 25 menit. Aksi tak tidur Randy lakukan di 1965, kala itu usianya sekitar 16 tahun. 

Menurut dokter dari Klinik Charlottesville Neurology and Sleep Medicine, Christopher Winter, ada alasan untuk bersikap skeptis dengan catatan yang dibuat Randy itu.

"Para penyelidik mengakui bahwa dia dekat dengan microsleep (periode singkat untuk tidur dengan durasi beberapa detik) saat itu," ucap Winter seperti dilansir Men's Health pada Kamis (20/9/2018), 

Bahkan, ketika seseorang berhasil begadang selama berhari-hari, tentu saja hal itu tidak baik untuk kesehatan fisik dan mental manusia.

Pada 1959, seorang presenter radio Peter Tripp melakukan acaranya selama 201 jam untuk mengumpulkan dana bagi sebuah yayasan. Pada hari ketiga, dia mulai bertingkah dan memaki orang-orang di sekitarnya. Dia juga mengalami halusinasi.

Winter mengatakan, cerita-cerita di internet yang mengklaim bahwa mereka hanya tidur satu jam per malam tidaklah akurat. Dia mengatakan, kemungkinan mereka sesungguhnya tidur dalam beberapa menit, meskipun tidak disadari.

Secara fisik, seseorang hampir tidak mungkin untuk tetap terjaga selama berhari-hari. Otak pada dasarnya akan memaksa seseorang untuk tidur.

Winter mengatakan, pada titik tertentu, otak akhirnya tetap terpaku pada tidur sekalipun Anda memaksakan diri terjaga.

"Pada titik tertertentu tidak banyak yang bisa Anda lakukan," tambahnya.

Sehingga, tidak ada jumlah jam yang ditetapkan untuk berapa lama seseorang bisa begadang. Namun, Winter mengatakan ini bukanlah suatu eksperimen yang patut dicoba.

"Rekor saya adalah 48 jam dan saya berhalusinasi tentang suara ibu saya yang berbisik di akhirnya. Tidak menyenangkan," tambah Winter.

Jadi, daripada menjajal hal yang bisa membahayakan, sebaiknya tidur dengan teratur dan jumlah cukup setiap malam. Jakarta, Liputan6

Selasa, 18 September 2018

Minggu, 16 September 2018

Bersyukur Bikin Hidup Lebih Bahagia

Bersyukur bisa membantu kita tidur lebih nyenyak, serta menurunkan tingkat stres. Namun, ada manfaat lain dari kebiasaan itu, yaitu membuat seseorang jauh lebih bahagia.

"Uji klinis menunjukkan bahwa bersyukur dapat memberikan efek dramatis dan panjang dalam kehidupan seseorang," ujar profesor psikologi di Universitas California Davis, Amerika Serikat Robert A. Emmons pada NBC Today.

Melansir Reader's Digest pada Minggu (16/9/2018), penelitian yang dipublikasi dalam Journal of Personality and Social Psychology menemukan, orang yang mengungkapkan rasa syukur-nya dalam sebuah jurnal akan merasa lebih bahagia.

Emmons mengatakan, setelah satu bulan menulis jurnal harian, mereka menunjukkan peningkatan 10 persen pada kebahagiaan yang bersifat subjektif. Ini juga bisa menjadi sebuah lompatan bagi Anda yang ingin menggandakan penghasilan.

Dalam penelitian ini, peneliti hanya meminta subyek untuk merekam peristiwa yang ada dalam hidup mereka dalam sebuah jurnal. Satu kelompok peserta diminta untuk membuat daftar bagaimana kehidupan mereka lebih baik daripada orang kebanyakan. 

Studi ini mengungkap bahwa peserta yang bersyukur melaporkan tingkat kepuasan hidup yang jauh lebih tinggi daripada mereka yang merupakan kelompok kontrol.

"Tampaknya partisipasi dalam kondisi bersyukur, menyebabkan peningkatan substansial dan konsisten dalam penilaian orang tentang kesejahteraan secara penuh," ujar studi itu.

Anda tidak memerlukan banyak waktu untuk membuat catatan rasa syukur. Cukup memakai waktu semenit saja untuk membuat daftar tiga sampai lima hal dalam hidup yang patut disyukuri dalam sehari.

Anda bisa menjadikannya bagian dari rutinitas pagi saat minum kopi atau sebelum tidur. Satu kata saja sudah cukup. Bisa kegiatan yang terjadi dari saat matahari terbenam hingga tentang makanan lezat dan acara TV favorit.

Seiring waktu, Anda mungkin menemukan diri semakin rinci dan ingin menghabiskan lebih banyak waktu untuk menulis jurnal ini. Jakarta, Liputan6

AS Larang Peredaran Rokok Elektrik di Kalangan Remaja

Amerika Serikat mengambil langkah tegas untuk membatasi peredaran rokok elektrik atau vape pada remaja. Badan pengawas obat dan makanan AS atau Food and Drug Administration (FDA) menindak lebih dari 1.300 pengecer dan lima produsen utama rokok elektrik.

"Rokok elektrik menjadi tren di mana-mana dan berbahaya di kalangan remaja. Penyebaraannya yang semakin cepat dan menghasilkan kecanduan harus dihentikan. Ini sudah tidak bisa ditolerir," kata komisioner FDA, Scott Gottlieb, melansir CNN.

Gottlieb menyebut, FDA telah mengirimkan 1.100 surat peringatan ke toko yang menjual rokok elektrik pada anak-anak usia di bawah 18 tahun. FDA juga memberi denda pada 131 toko yang melanggar pembatasan penjualan rokok elektrik kepada anak-anak.

Gottlieb mendeskripsikan hal ini sebagai tindakan bersejarah yang pernah dilakukan FDA. Pasalnya, ini merupakan upaya pelarangan terbesar oleh FDA.

Sementara itu, lima produsen utama rokok elektrik di AS diminta untuk mengurangi penjualan pada pemuda dalam waktu 60 hari. Jika tidak, sejumlah produsen itu bakal menghadapi sanksi hukum.

Gottlieb menyebut, perusahaan produsen rokok itu harus mengubah pemasaran mereka, berhenti mendistribusikan kepada pengecer yang menjual pada anak-anak, serta menghilangkan beberapa rasa yang menarik minat anak-anak. Penelitian menunjukkan produk rasa yang beraroma menarik perhatian anak-anak.

"Kami fokus pada rasa dalam rokok elektrik. Dan kami serius mempertimbangkan perubahan kebijakan yang menghapus produk rasa itu dari pasar," tutur Gottlieb. Jakarta, CNN Indonesia

Sabtu, 15 September 2018

3 Tips Gaya Hidup untuk Mengurangi Risiko Kanker

Gaya hidup menjadi hal yang begitu mempengaruhi kesehatan. Sementara, untuk menjaga kesehatan diperlukan menjalani gaya hidup yang baik. Pasalnya hal ini menjadi salah satu cara untuk mengurangi risiko kanker.

Seperti dilansiir Asia One, ada beberapa tips gaya hidup untuk tak hanya sekadar sehat, juga mengurangi risiko kanker. Menariknya, hal ini bisa dilakukan tanpa perlu mengeluarkan biaya yang mahal. 

1. Pertahankan Berat Badan Ideal
Kelebihan berat badan akan meningkatkan risiko kanker secara keseluruhan. Lemak perut telah dikaitkan dengan peningkatan risiko usus besar, terlepas dari berat badan.

Kelebihan berat badan atau obesitas adalah kondisi dimana seseorang memiliki proporsi lemak tubuh yang tinggi dan tidak sehat secara abnormal. Obesitas dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker tertentu, termasuk kanker kolon dan rektum (CRC).

Sebuah studi di Amerika Serikat, memperkirakan sekitar 34.000 ribu kasus baru kanker pada pria sebesar 4%, dan 50.500 pada wanita sebesar 7% disebabkan karena obesitas. Di Eropa, sebanyak 11% kasus CRC telah dikaitkan dengan kelebihan berat badan atau obesitas.

2. Aktif Secara Fisik
Aktivitas teratur dikaitkan dengan menurunkan risiko banyak penyakit, termasuk kanker usus besar. Aktivitas fisik dimulai dari berjalan kaki hingga berlari santai.

Aktif secara fisik bermanfaat bagi kesehatan secara keseluruhan. Para peneliti telah menetapkan bahwa aktivitas fisik secara teratur dapat meningkatkan kesehatan. Seperti membantu mengontrol berat badan, mempertahankan tulang, otot dan sendi yang sehat, mengurangi risiko terkena tekanan darah tinggi dan diabetes. 

Mempromosikan kesejahteraan psikologis melalui endorphin yang dilepaskan selama latihan dan mengurangi risiko kematian akibat penyakit jantung.

3. Mengkonsumsi Vitamin D
Asupan vitamin D dapat mengurangi risiko kanker kolorektoral dan meningkatkan tingkat kelangsungan hidup bagi mereka yang sudah terkena kanker kolorektoral.

Vitamin D bekerja melalui berbagai mekanisme, termasuk mengurangi penyebaran sel kanker, mendorong diferensiasi sel, dan menstimulasi apoptosis.

Beberapa penelitian terbesar tentang efek vitamin D, termasuk yang menunjukkan seberapa tinggi tingkat konsentrasi vitamin D dikaitkan dengan penurunan risiko kanker kolorektoral.

Untuk mencapai konsentrasi vitamin D, setidaknya 30ng/mL dalam darah, direkomendasikan asupan harian vitamin D berkisar 10 – 20 mcg sehari. Sumber utama vitamin D berasal dari paparan sinar matahari. Makanan yang mengandung vitamin D seperti, ikan tuna, ikan salmon, jus jeruk, susu kedelai, hati sapi, keju, dan kuning telur. Jakarta, Sindonews

Jumat, 14 September 2018

Studi: Kurang Tidur Bikin Kepandaian Menurun

Kurang tidur tak cuma berpengaruh terhadap kesehatan tubuh, tapi juga pada nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) pada kalangan mahasiswa.

Hal itu ditemukan dalam sebuah penelitian terbaru yang menyebutkan dampak kurang tidur sama seperti mabuk akibat alkohol dan narkoba.

Studi menunjukkan, mahasiswa yang mengalami gangguan tidur setiap malam dikaitkan dengan penurunan 0,02 poin dari IPK mereka. Hasil IPK itu berkebalikan dengan mahasiswa yang tidur dengan cukup.

Selain itu, mahasiswa kurang tidur juga 10 persen lebih mungkin membolos dari kelas dibandingkan dengan yang tidak.

"Seseorang yang secara rutin beristirahat dengan baik memiliki keuntungan IPK 0,14 lebih tinggi dari seseorang yang selalu mengantuk," kata penulis penelitian, J. Roxanne Prichard, yang merupakan direktur ilmiah di Center for College Sleep, University of St. Thomas Amerika Serikat, mengutip Reuters.

Prichard menjelaskan, mahasiswa dengan waktu istirahat yang cukup dapat belajar serta menyelesaikan pekerjaan dan masalah lebih efisien. Sedangkan saat kurang tidur, tubuh cenderung merasa cemas, depresi, dan muncul penyakit lain yang dapat mengganggu efektivitas belajar.

Temuan penelitian ini didapat setelah menganalisis 55.322 mahasiswa di Amerika Serikat yang disurvei pada 2009 lalu. Rata-rata mahasiswa memiliki IPK 3,21 dan sebanyak 2,4 malam mengalami kesulitan tidur. 

Studi ini juga menemukan mahasiswa tahun pertama merupakan mahasiswa paling rentan terhadap kurang tidur yang bakal memengaruhi nilai IPK. 

Pada mahasiswa baru, peneliti menyatakan, dampak kurang tidur terhadap IPK sama dengan mengonsumsi alkohol dan penggunaan narkoba. Sedangkan untuk mahasiswa senior, efek kurang tidur sama buruknya dengan 'hubungan yang kasar'.

Peneliti lalu menyimpulkan agar mahasiswa dapat memperbaiki kualitas tidur agar lebih efektif saat belajar di kelas.

"Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa individu dengan keluhan tidur di perguruan tinggi memiliki lebih banyak kesulitan dalam mempertahankan nilai akademik. Terlalu sedikit tidur dapat memengaruhi perhatian dan ingatan, yang keduanya sangat penting untuk akademis," kata praktisi dari University of Colorado Anschutz Medical Campus James Pagel mengomentari penelitian ini. Jakarta, CNN Indonesia

Senin, 10 September 2018

7 Tanda Tubuh Butuh 'Me-Time'

Cnnindonesia.com - Sebagian orang membayangkan 'sendirian' sebagai sesuatu yang sulit diwujudkan. Jangankan diwujudkan, membayangkannya saja enggan. Namun, memiliki waktu sendiri adalah hal yang penting.

"Ini sebenarnya proses yang sangat penting untuk memberikan diri kita waktu dan ruang sendiri untuk lepas, hal-hal terkait pekerjaan, atau hanya tidak terhubung dengan segala sesuatu di sekitar kita," ujar psikolog, Nikki Martinez, mengutip Bustle.

Pertanyaannya, kapan Anda membutuhkan waktu untuk sendiri alias 'me time'? Berikut beberapa sinyalnya.

1. Ketakutan saat ponsel berdering

Bagi sebagian orang, ponsel jadi senjata utama saat bekerja. Tak hanya itu, ponsel juga dianggap mampu menggantikan tugas-tugas benda lain. Orang bisa memanfaatkannya sebagai alarm, buku catatan, dan penunjuk waktu. Apalagi saat ponsel berdering, mau tidak mau orang buru-buru menjawab. 

Akan tetapi, jika Anda merasa takut saat ponsel berdering, artinya Anda perlu waktu dengan diri sendiri. Konselor klinis, Paula Anderson mengatakan, tubuh mencoba memberitahu untuk menjauh dari ponsel dan memerlukan waktu untuk menyendiri sejenak.

2. Terlalu khawatir

Rasa cemas atau khawatir wajar terjadi. Namun, itu mulai tidak wajar jika semua hal kecil turut menyita perhatian. Orang perlu jeda untuk sejenak menjauh dari rutinitas. 

Jika tidak, ada kemungkinan rasa khawatir akan terus-menerus muncul dan berlangsung lama. Gangguan kecemasan bisa saja terjadi jika rasa khawatir ini berlangsung selama enam bulan atau lebih. 

3. Sering merasa lelah

Tubuh tetap merasa lelah meski sudah cukup tidur bisa menjadi sinyal bahwa Anda perlu 'me time'. 

"Tidur itu benar-benar menghabiskan waktu sendiri, sehingga merasa mengantuk atau lelah bisa memaksa kita untuk lebih banyak sendiri dengan cara yang mudah," kata life coach, Laura Powers. 

4. Sakit

Lelah yang tidak segera ditindaklanjuti hanya akan berakhir menjadi sakit. Reaksi ini wajar mengingat tubuh tidak mendapatkan apa yang ia perlukan. 

"Dengan sakit, tubuh kita akan bereaksi saat kita tidak mendapat apa yang diperlukan," kata Laura. 

Menurut Laura, sakit memaksa tubuh untuk beristirahat. Tubuh yang sakit biasanya diawali dengan demam sepulang kerja atau flu. Sepele, tetapi ini sinyal agar Anda memiliki waktu untuk santai. 

5. Semua orang dianggap mengganggu 

Orang sekitar mungkin tak melakukan sesuatu yang bermaksud mengganggu. Namun, jika dalam satu waktu Anda merasa bahwa semua orang adalah gangguan, artinya Anda membutuhkan 'me time'.

"Teman sekamar, pacar, atau orang tua mungkin berjalan di seputaranmu. Tiap bunyi langkah mereka terdengar menakutkan," kata life coach, Nina Rubin memberikan contoh. 

Hal-hal demikian wajar terjadi lantaran level sensitivitas seseorang akan meningkat pada kondisi itu. Ini jelas menjadi sinyal untuk rehat sejenak.

6. Frustasi meski tanpa alasan

Tak ada sesuatu yang terjadi atau dilakukan tanpa alasan. Ada alasan untuk marah, kecewa, atau sedih. Namun, pernahkah Anda merasa marah tapi tak tahu mengapa? Ini bisa jadi tanda Anda perlu pergi dan mencari waktu sendiri. 

Tak perlu pergi jauh. Jalan-jalan di sekitar komplek rumah cukup untuk menjernihkan pikiran dan bersantai. 

7. Makan berlebih

Tanda lain yang menunjukkan bahwa seseorang memerlukan waktu sendiri ialah makan berlebih. Hal ini terjadi karena dalam kondisi itu, seseorang cenderung mencari sesuatu yang nyaman, misalnya dengan makan. 

Terkadang, stres juga mendorong orang untuk makan lebih banyak. Padahal, yang diperlukan hanyalah waktu untuk sendiri dan menjauhkan diri sejenak dari sumber stres.

Kamis, 17 Mei 2018

Rabu, 31 Januari 2018

Menulis vs Mengetik, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Coba ingat-ingat kapan terakhir kali Anda menulis tangan lebih dari satu halaman kertas? Sudah sangat lama? Tidak masalah, karena kebanyakan orang pun mengalami hal yang serupa.

Seiring kemajuan teknologi dan aktivitas sehari-hari yang mengandalkan kecepatan, kebutuhan menulis dengan tangan semakin tergantikan oleh kemudahan mengetik di smartphone, tablet, laptop, ataupun notebook. Jadi, bukan hal yang aneh lagi jika banyak orang lebih memilih untuk mengetik di atas keyboard komputer atau layar sentuh ponselnya dibandingkan harus repot-repot menulis manual menggunakan tangan di atas kertas.

Meski begitu, tahukah Anda jika menulis secara manual memiliki manfaat kesehatan yang jauh lebih banyak dibandingan mengetik menggunakan gadget? Mengapa bisa begitu? 

Kebanyakan orang mengaku sudah lama tidak menulis secara manual

Pada tahun 2014, Docmail, perusahaan pengiriman surat sekaligus percetakan di Inggris melakukan survei terhadap 2 ribu orang. Hasilnya, satu dari tiga responden sama sekali tidak menulis tangan lebih dari enam bulan lamanya. Tidak hanya itu, survei juga menunjukkan bahwa rata-rata responden sudah tidak menulis secara manual lebih dari 41 hari.

Dari temuan tersebut sebenarnya tidak terlalu mengagetkan. Pasalnya, semakin canggihnya teknologi memungkinkan Anda melakukan aktivitas sehari-hari jadi kian mudah. Hal ini pun yang menjadikan banyak orang mulai meninggalkan kebiasaan menulis tangan dan lebih memilih mengetik menggunakan perangkat gadget.

Padahal, menulis secara manual bermanfaat untuk mengasah kemampuan motorik

Meski menulis menggunakan keyboard adalah kemampuan yang menjadi kunci masa depan, menguasai kemampuan tulis tangan memberikan efek tersendiri bagi tubuh.

Menurut Eduard Gentaz, seorang profesor di bidang psikologi Universitas Genewa mengatakan bahwa menulis langsung menggunakan tangan merupakan aktivitas rumit yang membutuhkan berbagai keterampilan. Secara sederhana tulisan tangan adalah hasil dari gerakan singular seluruh tubuh yang unik.

Pasalnya, seseorang membutuhkan waktu untuk bisa menulis tangan. Anda perlu belajar bagaimana caranya memegang pensil yang benar, menghafal berbagai abjad, hingga bisa menulis kata demi kata. Nah, hal inilah yang menjadi perbedaan terbesar dibandingkan jika Anda mengetik menggunakan keyboard.

Berbeda dengan menulis, gerakan mengetik selalu sama apapun hurufnya, yaitu hanya sebatas memencet tombol. Padahal, kemampuan motorik yang terasah dengan menulis tangan amat dibutuhkan terutama ketika seseorang masih anak-anak.

Manfaat kesehatan lain yang bisa didapat dari menulis dengan tangan

Selain mengasah kemampuan motorik, menulis tangan juga menawarkan berbagai manfaat kesehatan yang sayang untuk dilewatkan.

Bagi sebagian orang, menulis merupakan cara ampuh untuk mengungkapkan perasaan atas segala hal yang sedang mereka alami. Bahkan, sebuah penelitian dari Selandia Baru menyatakan bahwa menulis pikiran dan perasaan setelah peristiwa traumatis benar-benar dapat membuat luka fisik lebih cepat sembuh.

Sementara menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Advance in Psychiatric Treatment, manfaat menulis tangan tidak hanya dialami dalam jangka pendek saja, namun juga dalam jangka panjang. Pasalnya, orang yang memiliki kebiasaan menulis secara manual telah diketahui memiliki peningkatan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Dimulai dari peningkatan suasana hati, kesejahteraan, serta fungsi tubuh seperti paru-paru dan hati yang lebih baik. Tidak hanya itu, menulis juga dikaitkan dengan penurunan tekanan darah serta tingkat stres dan gejala depresi.

Ternyata, manfaat menulis tidak sampai di situ saja. Jika Anda mengalami kesulitan untuk tidur, cobalah untuk menulis. Menurut sebuah studi “Applied Psychology: Health and Well-being”, menghabiskan waktu sekitar 15 menit di malam hari, hanya untuk menuliskan segala hal yang Anda syukuri bisa membuat keajaiban terhadap tidur Anda. Para peneliti menemukan bahwa peserta studi yang menuliskan catatan harian mengenai berbagai hal yang mereka syukuri sebelum tidur diketahui memiliki kualitas tidur yang baik dan lebih panjang.nationalgeographic

Senin, 08 Januari 2018

Ini Efek Sauna Terhadap Kesehatan

Siapa yang tidak kenal dengan sauna? Tempat pemandian tradisional asal Finlandia itu ada diberbagai belahan dunia, bahkan di Indonesia. Tidak hanya sekedar tempat pemandian uap, sauna ternyata berdampak baik untuk kesehatan.

Menurut para ilmuwan di Universitas Finlandia Timur menyebutkan mandi sauna selama 30 menit dapat mengurangi tekanan darah dan meningkatkan vascular compliance. 

Vascular compliance adalah kemampuan pembuluh darah dinding untuk memperluas dan kontrak pasif dengan perubahan dalam tekanan yang merupakan hal yang penting dalam fungsi arteri dan vena besar, sementara juga meningkatkan denyut jantung sama dengan latihan intensitas sedang.

Penelitian lain yang berbasis populasi juga menyebutkan pemandian sauna reguler dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit koroner, serangan jantung, hipertensi, Alzheimer, dan demensia. Sering mandi sauna juga dikaitkan dengan penurunan penyakit pernapasan dan tingkat CRP yang lebih rendah.

Studi eksperimental yang dilakukan di proyek Kesehatan Sauna dan Kardiovaskular memberikan wawasan baru tentang perubahan yang terjadi dalam tubuh manusia selama dan setelah melakukan sauna. Studi tersebut menganalisis efek pemandian sauna 30 menit pada 100 subjek tes.

Secara khusus, tujuannya adalah untuk menganalisis peran, vascular compliance, dan mengurangi tekanan darah pada manfaat kesehatan yang disebabkan oleh mandi sauna. Kepatuhan vaskular diukur dari arteri karotis dan femoralis sebelum dan setelah sauna.

Segera setelah 30 menit mandi sauna, tekanan darah pada saat terjadi kontraksi otot jantung (sistolik) peserta rata-rata berkurang dari 137 mmHg menjadi 130 mmHg (satuan tekanan dorangan darah terhadap dinding pembuluh arteri). Tak hanya itu, tekanan darah diastolik juga mengalami penurunan dari 82 mmHg menjadi 75 mmHg. 

Selain itu, mandi sauna juga dapat meningkatkan denyut jantung peserta tes. Peningkatan tersebut hampir serupa saat olahraga intensitas sedang, dan suhu tubuh mereka naik sekitar 2 derajat Celcius. 

Dengan berbagai manfaat tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa sauna bisa menjadi pelengkap untuk menjaga kesehatan jantung selain berolahraga. Sebab, mandi sauna mengurangi tekanan darah dan meningkatkan vascular compliance.metrotvnews 

Selasa, 26 Desember 2017

Selfitis, Gangguan Kesehatan bagi yang Rajin Swafoto

Praktisi kesehatan klinis dan Ketua Indonesian Society of Digestive Endoscopy Ari F Syam mengingatkan fenomena swafoto harus disikapi dengan bijaksana dan profesional.

"Di era berkembangnya teknologi gadget yang semakin deras dengan kualitas gambar dan modifikasi gambar yang baik membuat fenomena selfie menjadi populer dan mendunia. Tetapi tetap kita harus menyikapi dengan bijaksana dan proporsional dalam melakukan selfie," kata Ari Syam dalam keterangan tertulisnya, Selasa (26/12/2017).

Ia berpendapat mengambil foto diri secara mandiri dan membagikan melalui media sosial sudah merupakan budaya masyarakat zaman "now".

"Tujuannya macam-macam dan dianggap sebagai upaya pengembangan psikososial. Kegiatan selfie sudah mendunia dalam lima tahun terakhir ini dan semakin meningkat drastis dalam dua tahun terakhir. Semakin banyak pelakunya semakin banyak laporan kecelakaan yang berhubungan dengan pengambilan selfie," ucapnya.

Ari mengungkapkan, berdasarkan riset Nottingham Trent University, ada enam motivasi seseorang melakukan swafoto, yaitu meningkatkan kepercayaan diri dan menjadi berbahagia, mencari perhatian, meningkatkan mood, berhubungan dengan lingkungan sekitar, meningkatkan adaptasi mereka dengan kelompok sosial di sekitar mereka serta bisa juga untuk berkompetisi secara sosial.

Untuk itu, ujar dia, di satu sisi jelas bahwa swafoto membawa dampak positif untuk mental seseorang. Namun jika selfie dilakukan secara berlebihan sehingga menjadi obsesif bisa dikelompokan pada gangguan kesehatan yang disebut selfitis.

"Selfie sendiri jika tidak dilakukan secara hati-hati bisa membuat celaka bagi pelakunya. Berbagai penelitian dan laporan menyampaikan bahwa terjadi kecelakaan yang membuat pelaku selfie mengalami luka-luka bahkan sampai menyebabkan kematian misalnya jatuh pada satu ketinggian, serangan dari hewan liar, sengatan listrik, trauma pada kegiatan olahraga karena kurang konsentrasi kondisi sekitar saat sedang melakukan selfie, kecelakaan lalu lintas baik saat sebagai pengendara maupun saat sebagai pejalan kaki," paparnya.

Ia menganjurkan untuk tidak melakukan swafoto ketika berada di ketinggian, sedang berolah raga, sedang berada di sekitar hewan liar bahkan di beberapa negara melarang masyarakatnya melakukan selfie saat mengemudi dan saat sedang berjalan kaki.

Sedangkan penyakit selfitis, berdasarkan sejumlah kajian, dapat dibagi menjadi tiga yaitu "boderline" (mengambil gambar selfie sebanyak tiga kali dalam sehari tetapi tidak diposting ke sosial media), "akut" (mengambil foto selfie sebanyak tiga kali dalam sehari dan mempostingnya seluruh fotonya ke sosial media), dan "kronik" (jika keinginan membuat foto selfie tidak terkendali dan memposting ke sosial media lebih dari enam kali per hari).netralnews

Jumat, 10 November 2017

Posisi Tidur Terbaik untuk Kesehatan

Selain olahraga dan makanan bergizi, tidur cukup adalah faktor penting bagi  kesehatan jiwa dan raga. Meski begitu, mungkin Anda juga termasuk dalam jutaan orang di dunia yang sering mengalami susah tidur atau insomnia.

Kebanyakan orang menyalahkan kondisi kasur untuk setiap gangguan tidur yang dialaminya. Padahal, kemungkinan besar disebabkan karena posisi tidur yang salah.

Banyak yang menduga bahwa posisi tidur paling sehat adalah dengan memiringkan tubuh ke kiri dan melengkungkan kaki dengan memeluk bantal di antara kedua lutut.

Posisi tersebut dapat meringankan sakit punggung dan mencegah kita mendengkur keras. Selain itu, posisi tersebut juga bisa mencegah naiknya asam lambung (reflux).

Sebaliknya, tidur menghadap kanan kurang dianjurkan karena dapat mendorong pembuluh darah dan mencegah sirkulasi maksimum.

Untuk mengimbangi tidak adanya sirkulasi, tubuh Anda akan bergerak sedikit demi sedikit dan inilah yang menyebabkan Anda tidak bisa tidur.

Masih banyak alasan lain mengapa tidur menghadap kiri adalah posisi tidur terbaik demi kesehatan anda.

Lantas, bagaimana posisi tidur yang membahayakan tubuh? Hindarilah posisi tengkurap yang bisa menekan bagian perut. Selain itu, hindari posisi yang menyiksa punggung dan leher. Posisi itulah yang membuat Anda mendengkur keras saat tidur.

Selasa, 10 Oktober 2017

Kenapa Orang Selalu Cek Ponsel?

Entah saat menunggu antrean, bis atau kereta, atau seorang teman yang berjanji bertemu di sebuah kafe, Anda pasti memilih mengisi waktu kosong itu untuk membuka berbagai aplikasi di ponsel.

Begitu ponsel bergetar atau berbunyi dari sebuah notifikasi, apakah Anda segera mengecek untuk melihat apa yang muncul? Apakah Anda merasa tidak sabar ketika ponsel bergetar di dalam saku tapi Anda tahu tidak bisa mengeceknya?

Itu merupakan dorongan kompulsif yang sulit ditolak banyak orang saat ini. Namun, menurut Sharon Begley, penulis buku Can't Just Stop: An Investigation of Compulsions, ada alasan psikologis di balik hal tersebut.

Penelitian di tahun 1950-an menunjukkan bahwa karena dopamin bisa membuat senang, ini adalah kesenangan yang membuat orang kecanduan. Tapi sekarang, kita tahu lebih baik.

"Apa yang muncul dalam beberapa tahun terakhir adalah bahwa sirkuit dopamin sebenarnya dapat memprediksi seberapa banyak Anda bisa menyukai sesuatu dan seberapa banyak kesenangan yang bisa Anda dapat. Sirkuit itu akan mengkalkulasi seberapa banyak realitas yang sesuai dengan prediksi atau kurang," jelas Begley dilansir The Independent.

Dia melanjutkan, gagasan yang muncul itu terjadi apabila saat kenyataan tidak sesuai, kita merasa dopamin itu menurun. Hal itu membuat perasaan menjadi buruk, jadi kita terus berusaha melakukan sesuatu yang akan membuat realita itu sesuai dengan harapan kita.

"Hal itu, bagi saya, cocok dengan dorongan tadi, karena hal yang kita lakukan tersebut sebenarnya tidak menyenangkan seperti itu. Tapi lebih kepada sirkuit bahan bakar dopamin, kesenangan, dan hadiah yang membuat kita merasa buruk," katanya.

Jadi, yang membuat kita kecanduan mengecek telepon pintar sebenarnya bukan dorongan untuk, katakanlah, membaca komentar di media sosial, tapi seringkali lebih kepada antisipasi dari komentar yang muncul. Sebenarnya membaca komentar tidak memenuhi apa yang kita harapkan.

Menurut Begley, ini artinya kita merasa terdorong untuk terus mencoba hingga ada hal yang sangat menyenangkan. Jika tidak pernah, maka Anda akan terus berada dalam kemerosotan dopamin abadi ini.

Bermain game adalah salah satu contoh utama bagaimana candu seperti itu bekerja, dan sudah ada debat etis di industri ini mengenai apakah tepat membuat orang secara sadar terpaku pada hal ini.

"Tidak bisakah game hanya menjadi hal menyenangkan dan tidak memiliki efek jahat ini dengan cara menggambarkan bagaimana otak bekerja?" tanya Begley.

Begley meyakini bahwa kalau kita ingin tidak begitu bergantung pada telepon, kita harus bisa mengidentifikasi sumber kecemasan kita. Tanyakan pada diri Anda, "Seberapa buruk hal yang akan terjadi jika saya tidak membaca pesan itu segera?", "Seberapa buruk yang terjadi bila saya membaca semua pesan atau email yang masuk dalam satu atau dua jam, atau di penghujung hari?".

Anda harus membangun diri Anda secara perlahan dengan pelan-pelan mengurangi waktu melihat ponsel, mulai dari satu jam, kemudian saat makan malam, dan cobalah tidak menjadikan mengecek ponsel sebagai hal pertama yang dilakukan setiap pagi. sumber: viva.co.id

Surat Keterangan Akreditasi FKM UNDIP

Bagi teman-teman yang membutuhkan informasi tentang Akreditasi FKM UNDIP... Silahkan download file di bawah ini... file sudah saya perb...

Find Us on Facebook

Blog Archives

Do Before You Die

Do Before You Die

Visitors


pinjaman utang