journey healthy future

Tampilkan postingan dengan label diabetes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label diabetes. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 November 2018

Diabetes Hantui Kaum Pekerja Indonesia

Diabetes tipe dua mulai menghantui para pekerja di Indonesia. Penyakit kronis ini bahkan sudah menyerang usia produktif atau kaum pekerja, yang ditandai dengan semakin mudanya umur pengidap.

Menurut ahli yang kerap menangani diabetes menyatakan banyak mendapati kaum pekerja usia produktif yang mengidap diabetes. Penyakit ini ditandai dengan tingginya gula darah atau di atas 125 mg/dL. Jika sudah terkena diabetes, penyakit ini tak bisa disembuhkan dan dapat menimpulkan komplikasi di bagian tubuh lain.
"Usia penderita diabetes tipe dua sudah semakin muda. Sebelumnya terjadi pada orang dewasa. Namun, beberapa tahun terakhir makin banyak ditemukan pada usia dewasa muda atau 30 tahunan," kata Kepala Divisi Metabolik Endokrin Departemen Penyakit Dalam RSCM-FKUI Dante Saksono dalam peringatan Hari Diabetes Sedunia yang digelar Tropicana Slim di Jakarta, Minggu (11/11).

Temuan yang sama juga disampaikan dokter spesialis penyakit dalam Suharko Soebardi. Menurutnya, faktor gaya hidup dan lingkungan yang tidak sehat di kalangan para pekerja membuat penyakit diabetes semakin cepat berkembang.

"Risiko yang besar memang di atas usia 40 tahun. Tapi faktanya di klinik atau rumah sakit sudah kami temui di bawah usia tersebut," ucap Suharko.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang baru saja dirilis menunjukkan prevalensi penyandang diabetes naik menjadi 8,5 persen dari 6,9 persen pada Riskesdas 2013. Di Jakarta, yang mayoritas merupakan kaum pekerja, prevalensi diabetes mencapai 12,8 persen. Artinya, satu dari delapan orang di Jakarta merupakan penderita diabetes.

Dante menjelaskan rutinitas pekerja yang bekerja dari pagi hingga malam membuat mereka cenderung melupakan hidup sehat seperti berolahraga dan juga makan-makanan dengan gizi yang berimbang. Kurang berolahraga dan kelebihan berat badan merupakan salah satu faktor risiko yang menyebabkan diabetes.

"Yang paling susah di Jakarta itu olahraga karena jalanan macet, pergi harus pagi dan pulang malam. Tapi, ini harus segera diantisipasi," ucap Dante.

Dante menyarankan agar kaum pekerja lebih banyak melakukan aktivitas fisik dan berolahraga agar dapat mengurangi risiko diabetes. Aktivitas fisik itu, kata Dante, dapat dimulai dengan sederhana seperti memperbanyak jalan kaki dan naik turun tangga. Risiko diabetes juga bisa diturunkan dengan menerapkan pola makan yang sehat dan berimbang.

"Dimulai dengan memilih makanan yang sehat dan mempertahankan berat badan. Makanya, jangan malas untuk aktivitas," ujar Dante.

Selain gaya hidup tidak sehat, risiko diabetes juga meningkat pada orang yang memiliki garis keturunan diabetes, obesitas, tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, dan merokok.

"Itu semua faktor risko, sehingga mereka yang punya faktor risiko yang banyak lebih besar kemungkinannya terkena diabetes," ujar Suharko. 

Dokter di RSCM ini menyarankan untuk menghindari atau mengurangi faktor risiko tersebut agar terhindar dari diabetes. Hari Diabetes Sedunia diperingati setiap 14 November. CNN Indonesia

Senin, 22 Juni 2015

Diabetes Memicu Disabilitas

Populasi penduduk lanjut usia bertambah seiring kenaikan usia harapan hidup. Namun, waktu hidup lebih lama itu kurang produktif karena dijalani dalam kondisi disabilitas akibat sakit dan kecelakaan nonfatal. Diabetes melitus dan penyakit paru obstruktif kronik jadi pemicu utama.

Menurut riset tentang waktu tak produktif atau tahun yang dilalui dalam disabilitas (years lived with disability/YLD) kurun waktu 1990-2013 yang dimuat di The Lancet, 8 Juni 2015, di Indonesia waktu tak produktif akibat diabetes melitus bagi perempuan naik 242 persen dan pada laki-laki naik 292 persen. Selain itu, waktu tak produktif pada pria akibat penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) naik 90 persen.

Penelitian itu menguantifikasi hidup dengan disabilitas akibat masalah kesehatan. Analisis dilakukan terhadap 301 jenis penyakit dan kecelakaan akut serta kronis di 188 negara.

Soewarta Kosen, peneliti di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan, yang terlibat riset itu, Rabu (17/6) di Jakarta, menyatakan, hasil riset tersebut menunjukkan meski orang Indonesia berusia panjang, sebagian dari mereka tak produktif. Sejumlah penyakit menyebabkan warga kehilangan usia produktif. "Seseorang tak meninggal karena penyakit nonfatal, tetapi hidup dalam disabilitas," ujarnya.

Ia mencontohkan, seseorang berusia 70 tahun yang terkena diabetes dan hipertensi hidup lebih lama, tetapi harus bergantung pada pengobatan sehingga produktivitasnya terganggu. Jadi, usia produktifnya selama hidup kurang dari usianya.

Selain diabetes dan PPOK sebagai penyakit penyebab disabilitas paling mengancam, ada sejumlah masalah kesehatan yang menjadi penyebab disabilitas orang Indonesia pada 2013. Beberapa gangguan kesehatan tersebut antara lain nyeri pinggang bawah, migrain, depresi berat, hilang pendengaran, nyeri leher, cemas, dan skizofrenia.

Penyakit degeneratif

Menurut Soewarta, seiring bertambahnya populasi penduduk lanjut usia karena kenaikan usia harapan hidup, kasus penyakit degeneratif juga meningkat. Waktu yang dilalui dalam kondisi disabilitas akibat penyakit pun tinggi. Itu diperburuk dengan tak terkontrolnya faktor risiko penyakit tak menular. Akibatnya, kasus penyakit tak menular meningkat pesat.

"Diet tak sehat dan obesitas jadi faktor risiko diabetes yang tak diatasi. Gawatnya, banyak orang tak sadar kalau terkena diabetes. Selain itu, banyaknya orang merokok meningkatkan kasus PPOK," ujarnya. Namun, pemerintah dinilai belum maksimal melakukan promosi kesehatan dan pencegahan penyakit tak menular.

Direktur Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) University of Washington Christopher Murray mengatakan, seiring penyakit nonfatal yang menyerang lebih banyak orang di segala usia, negara mesti mengarahkan anggaran kesehatannya untuk mengatasi masalah itu.

Profesor Theo VOS yang menjadi penulis utama riset itu mengatakan, banyak negara di dunia membuat kemajuan dalam mengatasi penyakit fatal. Namun, justru penyakit nonfatal yang jadi ancaman serius berikut dalam hal beban penyakit.

Murray dan para peneliti menemukan, secara global pada 1990-2013, tahun yang dijalani dalam disabilitas (YLD) per orang naik di 139 dari 188 negara yang diteliti. Jadi, lebih banyak orang menjalani sebagian besar hidup dalam kondisi kesehatan buruk. Gangguan muskuloskeletal, cedera fraktura, dan jaringan lunak menyumbang seperlima YLD global pada 2013.

Dengan bertambahnya umur, seseorang mengalami lebih banyak penyakit dan cedera nonfatal. Dari 2,3 miliar penderita lebih dari lima penyakit, 81 persen di antaranya berusia di bawah 65 tahun. Adapun YLD global naik dari 537,7 juta pada 1990 jadi 764,8 juta pada 2013.*kompas

Kamis, 26 Juni 2014

Tiga Jam Sehari Nonton TV Bikin Anda Cepat Mati

Banyak ibu rumah tangga dan anak-anak yang belum sekolah menghabiskan waktu untuk menikmati televisi. Kebanyakan menghabiskan waktu lebih 3 jam. Tidak banyak yang tahu, ternyata, menonton televisi selama 3 jam setiap hari bikin kita cepat matii.

Sebuah studi baru dari Spanyol menyebutkan, terlalu banyak menghabiskan waktu di depan layar berbentuk kotak tersebut, berpotensi mengancam nyawa. Para peneliti percaya, terlalu banyak duduk, mungkin menjadi faktor risiko kematian dini dan penyakit kardiovaskular seperti diabetes dan penyakit jantung.

"Temuan kami ini sejalan dengan berbagai penelitian sebelumnya, di mana terlalu banyak menghabiskan waktu menonton televisi dikaitkan dengan kematian," kata Profesor Miguel Martinez-Gonzalez seperti dikutip Daily Mail, Kamis (26/6/2014).

Ketua Departemen Kesehatan Masyarakat di Universitas Navarra, Pamplona, melakukan penelitian dengan menilai 13.284 orang lulusan Universitas Spanyol berusia muda dan juga sehat. Peserta yang rata-rata berusia 37 tahun itu nantinya akan diselediki kemungkinan tentang kaitan antara tiga jenis perilaku menetap dan risiko kematian; waktu menonton televisi, waktu bermain komputer, dan waktu mengemudi.

Keseluruhan responden ini diikutsertakan dalam penelitian tersebut selama delapan bulan. Dan selama itu pula, ada 97 kematian, termasuk 19 kematian akibat penyakit kardiovaskular, kanker, dan 46 orang dari 32 penyebab lainnya. 

Menurut Miguel, risiko kematian dini, dua kali lipat lebih tinggi bagi mereka yang menonton televisi selama 3 atau lebih dari itu selama sehari, dibandingkan mereka yang menonton selama satu jam atau kurang. 

Dalam Journal of American Heart Association disebutkan bahwa risiko dua kali lipat lebih tinggi pada kematian dini ini disebabkan oleh banyak variabel lainnya.

Jumat, 07 Maret 2014

Cities challenged to be "diabetes aware"



The world's cities will soon have the opportunity to be officially designated "diabetes aware". They will be challenged to show that their public services and businesses encourage healthy lifestyles for people with diabetes and those at risk.


The new scheme is being created by the International Diabetes Federation (IDF) and the European Connected Health Alliance (ECHAlliance) who plan to launch it on World Diabetes Day, 14 November 2014. IDF and the ECHAlliance want to create a global network of "diabetes aware" cities using mobile health tools to promote diabetes awareness and support.


A "diabetes aware" city will demonstrate that all sections of the community are committed to creating a healthy urban environment. Local public services, businesses and institutions will demonstrate that they understand challenges faced by people with diabetes and those at risk. This may include providing appropriate nutritional information in restaurants or city authorities ensuring green spaces are safe and accessible for exercise.


Using mobile health tools and apps, key stakeholders in city life will be able to target diabetes aware options to those at risk of diabetes and those with the disease.


An expert group is being established by IDF and the ECHAlliance to draw up the scheme. It will include representatives from business, NGO and mHealth sectors amongst others.


"By 2035 one in ten of the world's population will have diabetes unless there is radical change" says Dr Petra Wilson, IDF's Chief Executive. "People in urban areas will be particularly vulnerable. Socially and economically this diabetes epidemic will be very costly. It is important that we find new ways of working across all sectors to provide people with targeted information on healthier lifestyle options", she added.


Brian O'Connor, Chair of the ECHAlliance welcomed the new partnership, "Providing people with mobile information on healthier places to eat, shop and exercise in cities is the first step toward making the healthy choice the easy choice. Information is the key to enabling healthy choices".




Powered By WizardRSS.com | Info CPNS Terlengkap | Bisnis Dari Rumah | Kerja Sambil Bisnis

View the original article here

Kamis, 06 Maret 2014

Diabetes Sebabkan Kebutaan & Masalah Ginjal


DIABETES merupakan salah satu penyakit yang sering dialami oleh sebagian besar orang di Indonesia. Penyakit ini dapat menyebabkan beberapa komplikasi kesehatan yang serius dan tak jarang berujung pada kematian.

Beberapa hal harus diketahui dari salah satu penyakit degeneratif ini, berikut seperti yang dilansir Magforwomen.

Ada tiga jenis diabetes


Ada tiga jenis diabetes, yaitu diabetes tipe I, II, dan diabetes gestasional. Diabetes tipe I terjadi ketika ada masalah dengan pankreas dan tidak ada produksi insulin sama sekali. Sedangkan pada diabetes tipe II terjadi karena produksi insulin yang terlalu rendah untuk memngontrol kadar gula darah. Sementara, diabetes gestasional terjadi selama kehamilan dan sangat jarang berlanjut setelah melahirkan. Oleh karena itu, genetik memainkan peran penting dalam meningkatkan risiko diabetes gestasional.

Kadar gula darah melonjak setelah makan


Orang-orang dengan diabetes harus sangat berhati-hati mengenai apa yang mereka makan, karena makanan tertentu dapat meningkatkan kadar gula darah dalam tubuh. Kadang-kadang kadar gula darah tetap tinggi sampai empat jam setelah makan. Bahkan, kadar gula darah tinggi yang tidak diobati dapat menyebabkan banyak kerusakan pada jaringan di dalam tubuh.

Diabetes menyebabkan kebutaan dan masalah ginjal


Peningkatan kadar gula darah dalam tubuh dapat merusak pembuluh darah kecil yang melintas melalui retina dan ginjal. Hal ini dapat menyebabkan kebutaan dan masalah ginjal, bahkan persentase  kebutaan akibat diabetes mencapai 20 hingga 74  persen.

Diabetes mempengaruhi sistem saraf


Orang dengan diabetes berkelanjutan dapat mengalami gangguan saraf. Hal ini karena saraf menjadi kaki dan mereka mengalami sedikit nyeri dan luka di jari-jari kaki. Akibatnya, luka terbentuk pada kaki dan dalam kasus terburuknya harus diamputasi untuk menyelematkan nyawa mereka.

Diabetes menyebabkan stroke


Diabetes juga disinyalir dapat menyebabkan stroke, masalah gigi, dan penyakit jantung pada orang dewasa. Diabetes dan penyakit jantung bisa menjadi kombinasi mematikan karena keduanya sangat sulit diobati. (tty)





Powered By WizardRSS.com | Info CPNS Terlengkap | Bisnis Dari Rumah | Kerja Sambil Bisnis

View the original article here

Selasa, 15 November 2011

Diabetes Melitus, The Silent Killer

Secara harfiah, diabetes melitus bermakna “manis seperti madu”. Seseorang yang menderita diabetes melitus mengalami kondisi dimana tubuhnya tidak mampu mengubah makanan menjadi energi. Kondisi ini menyebabkan penderita memiliki kadar gula dalam darah sangat tinggi dalam jangka waktu lama. Perlu diketahui, diabetes melitus adalah penyakit kronis dan sebaiknya ditangani dengan perawatan khusus.

Dalam kondisi normal, tubuh orang sehat mampu mengubah makanan menjadi gula atau glukosa menjadi energi. Pengolahan ini dilakukan dengan bantuan hormon insulin yang dihasilkan oleh pankreas, organ vital yang terletak dekat lambung.

Apabila terjadi gangguan pada proses produksi dan penggunaan insulin membuat glukosa tetap beredar dalam aliran darah yang menyebabkan kadar gula dalam darah menjadi tinggi (hiperglikemi). Di lain pihak, sel-sel tubuh tidak memiliki cukup gula untuk membentuk energi yang dibutuhkan.

Sekitar 30% penderita diabetes melitus disebabkan karena faktor genetik dan 70% lainnya disebabkan oleh faktor psikis, pola makan dan jenis makanan yang dikonsumsi, serta overweight.

Dari hasil survey, 80% orang terkena diabetes melitus meninggal dunia karena penyempitan pembuluh darah di jantung dan lebih dari 75% meninggal karena komplikasi. Gaya hidup yang kurang sehat dapat menyebabkan kadar kolesterol jahat (LDL) menjadi tinggi dan sangat tidak bagus untuk kesehatan jantung.

Sel-sel lemak seolah menghalangi hormon insulin untuk masuk ke dalam otot. Akibatnya gula tidak dapat masuk sel dan sel cepat rusak terutama sel-sel pembuluh darah. Jika hal ini berlangsung selama 5-10 tahun lagi, dapat menyebabkan berbagai komplikasi.

Pengobatan Seumur Hidup

Sekali seseorang tervonis menderita diabetes, maka dia akan menderita penyakit tersebut selamanya. Penyakit ini tidak dapat disembuhkan, tetapi bisa ditangani dengan perawatan khusus tergantung tipe diabetes yang diderita.

Diabetes sendiri terdiri dari dua tipe. Tipe 1 dapat terjadi karena penyakit autoimun yang dapat merusak pankreas sehingga tidak dapat memproduksi insulin. Kondisi ini sangat serius. Diabetes tipe 1 dapat menyerang anak-anak dan dewasa. Diabetes yang timbul pada masa anak-anak disebut “Juvenile Diabetes”. Diabetes tipe 1 sering disebut IDDM (Insulin Dependent Diabetes Mellitus – Diabetes yang tergantung Insulin).

Tubuh kehilangan kemampuannya memproduksi hormon insulin karena sistem kekebalan tubuh menghancurkan sel-sel pembuat insulin. Ketika tidak ada insulin di dalam tubuh, glukosa tinggal di dalam darah dan tidak dapat digunakan sebagai energi.

Penderita diabetes tipe 1 harus menyuntikkan insulin untuk bertahan hidup. Bila jumlah gula darah terlalu tinggi (hiperglikemi) makan akan menyebabkan ketoasidosis, yaitu kondisi dimana tubuh tidak mampu menyerap gula dalam darah untuk membentuk energi. Akibatnya tubuh membakar lemak sebagai sumber energi dan menghasilkan sisa berupa Keton.

Penumpukan Keton dalam darah (ketosis) harus dikeluarkan dari tubuh bersama urine (ketonuria). Produksi urine makin meningkat, sehingga timbul dehidrasi yang membuat pH darah menjadi asam dan proses ketoasidosis dimulai. Kondisi ini dapat menyebabkan koma dan kematian. Gejala ketoasidosis diantaranya : sering buang air kecil, sangat haus, mual dan muntah, pandangan kabur, sering mengantuk dan disorientasi. Koma akibat ketoasidosis adalah kondisi serius. Ketoasidosis ringan tidak menyebabkan koma.

Tipe selanjutnya adalah diabetes melitus tipe 2 atau disebut NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes Melitus / Diabetes yang tidak tergantung pada Insulin). Biasanya menyerang usia dewasa. Penyebabnya adalah kurangnya produksi insulin atau tidak efektifnya penggunaan insulin oleh tubuh. Gejala diabetes tipe 2 yang muncul pada masa kehamilan disebut Diabetes Gestasional. Sekitar 40% penderita Diabetes Gestasional akan menderita diabetes melitus tipe 2 dalam waktu 4 tahun.

Pentingnya Pemeriksaan Darah Sejak Dini

Mengingat diabetes melitus adalah penyakit menahun yang akan diderita seumur hidup, maka akan sangat menolong apabila gejala diabetes terdeteksi sejak dini. Jika didiagnosis sejak awal, sebenarnya komplikasi akibat diabetes dapat dihambat atau dicegah sehingga kualitas hidup penyandang diabetes (disebut diabetesi) tidak terganggu. Gejala awal diabetes dapat terdeteksi dengan melakukan pemeriksaan darah atau medical check up sejak dini. Ironisnya, fakta menunjukkan bahwa hanya sekitar 50% dari diabetesi yang terdiagnosis dan menyadari mereka menyandang diabetes. Hal ini dikarenakan kurangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan medical check up sejak usia muda. Maka tidak salah jika diabetes melitus dianggap sebagai The Sillent Killer atau pembunuh diam-diam bagi mereka yang menderitanya namun tidak menyadarinya.

Pilar Pengelolaan Diabetes

Pada dasarnya, keberhasilan pengelolaan diabetes tergantung pada kepatuhan diabetesi terhadap pengelolaan diabetes, diantaranya : edukasi dan pemahaman diabetes melitus, pengaturan pola makan, olahraga teratur dan pengobatan serta pemantauan hasil terapi melalui pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan ini bermanfaat untuk memantau kondisi individu penyandang diabetes, memantau kepatuhan dalam mengikuti terapi dan melihat resiko komplikasi yang mungkin terjadi. Pemeriksaan yang dilakukan antara lain :
  • Glukosa Puasa & Glukosa 2 Jam PP (untuk melihat konsentrasi glukosa individu pada saat diperiksa).
  • HbA1c (untuk melihat konsentrasi rata-rata glukosa selama 3 bulan terakhir, menilai kepatuhan individu dalam mengikuti regimen terapi Diabetes [keberhasilan terapi] serta berguna untuk manajemen diabetes melitus yang optimal).
  • Albumin Urine Kuantitatif, Kreatinin, Urine Rutin (untuk menilai fungsi ginjal, karena pada penyandang Diabetes banyak komplikasi yang mengarah pada ginjal).
  • Albumin/Globulin, SGPT (untuk melihat ada tidaknya gangguan hati).
  • Kolesterol Total, Kolesterol LDL Direk, Kolesterol HDL, Trigliserida (untuk melihat ada tidaknya gangguan lemak yang seringkali terjadi pad penyandang diabetes dan dapat meningkatkan risiko Penyakit Jantung Koroner [PJK]).

Rabu, 06 Juli 2011

Jumlah Penderita Diabetes di Dunia Meningkat Tajam

Menurut hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal the Lancet, jumlah orang dewasa di seluruh dunia yang mengidap diabetes telah berlipat ganda dalam tiga dasawarsa terakhir, melonjak hingga hampir 350 juta orang.

Diabetes adalah masalah global. Penelitian baru menunjukkan bahwa satu dari sepuluh orang dewasa di berbagai negara di seluruh dunia mengidap diabetes. Goodarz Danaei, peneliti pada Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas Harvard dan salah seorang penulis penelitian tersebut, mengatakan, "Penelitian kami menunjukkan bahwa hal itu tidak lagi penyakit di negara-negara makmur."

Tim peneliti mengumpulkan data tentang kadar gula darah dari hampir tiga juta orang di 200 negara selama periode tiga puluh tahun. Sebagian besar peserta mengidap diabetes tipe dua, penyakit yang terkait dengan penuaan, obesitas dan tidak melakukan aktivitas fisik.

Pengidap diabetes tidak bisa mengontrol kadar gula darah mereka. Hal ini dapat memicu penyakit jantung dan stroke, lumpuh dan kematian dini.

Bahkan di negara-negara di mana diabetes tidak merajalela, populasi telah meningkat dan begitu juga jumlah penderita diabetesnya.

Dokter Danaei mengatakan, "Meskipun jika hanya satu atau dua persen populasi mengidap diabetes, tetapi jika penduduk negara itu lebih dari satu miliar orang, jumlah pasien diabetes yang begitu sedikit akan menaikkan biaya dan sumber daya yang harus dipikul oleh sistem kesehatan negara itu untuk menangani pengelolaan dan pemberantasan penyakit. "



Diabetes adalah salah satu penyakit termahal untuk diobati karena memerlukan perawatan jangka panjang, tidak hanya untuk mengatur kadar gula darah, tapi juga terkait dengan komplikasi medis yang serius. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO memperkirakan lebih dari 70 persen pengidap diabetes tinggal di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah. Banyak orang di negara-negara ini tidak mampu membeli obat-obatan yang mereka butuhkan untuk mengontrol diabetes mereka dan demikian pula negara-negara yang anggaran kesehatan masyarakatnya sedikit.

Dokter Danaei lebih lanjut mengatakan, "Mereka harus menemukan cara yang hemat biaya untuk mencegah penyakit itu atau mendiagnosis penyakit itu pada tahap awal atau mengobati komplikasi diabetes itu dengan cara yang lebih efektif."

Para penulis penelitian itu mengatakan negara-negara perlu secara agresif mengedepankan gaya hidup sehat. Hal sama juga dikatakan para dokter yang mengobati penyakit ini, seperti Dokter Betul Hatipolu. Ia mengatakan, "Saya ingin sekali memberitahu semua orang bahwa mereka harus berolahraga dan mengonsumsi makanan sehat. Jika tidak, semua orang berisiko terkena diabetes."

Kedua penulis penelitian itu mengatakan diabetes kemungkinan akan menjadi salah satu fitur yang menentukan dalam kesehatan global kecuali jika kampanye kesehatan masyarakat untuk mencegahnya berhasil. (voanews.com)

Surat Keterangan Akreditasi FKM UNDIP

Bagi teman-teman yang membutuhkan informasi tentang Akreditasi FKM UNDIP... Silahkan download file di bawah ini... file sudah saya perb...

Find Us on Facebook

Blog Archives

Do Before You Die

Do Before You Die

Visitors


pinjaman utang