journey healthy future

Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 September 2012

Fakultas Kesehatan Masyarakat UNDIP Jadi Favorit

Pada Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun 2012 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, Jawa Tengah, menjadi salah satu fakultas terfavorit. Itu terlihat dari tingginya animo calon mahasiswa yang mendaftar untuk kuliah di fakultas tersebut. 

Tahun ini ribuan mahasiswa memperebutkan 451 kursi yang disediakan FKM Undip. Bahkan mahasiswa asing pun berminat mendalami ilmu kesehatan masyarakat di FKM. 

Para calon mahasiswa tersebut mendaftar dari berbagai jalur pendaftaran di FKM Undip. Peminat tertinggi dari jalur undangan, yang mencapai 2.333 pendaftar, padahal jumlah mahasiswa yang diterima di jalur ini hanya 110 orang. Begitu juga peminat FKM yang mendaftar di jalur SNMPTN Tulis mencapai 2.150, dan yang ikut seleksi melalui jalur Ujian Mandiri dan Program Seleksi Siswa Berpotensi (PSSB) kemitraan sebanyak 1.753 orang. 

Dekan FKM Undip, Tinuk Istiarti menyatakan fenomena ini sejalan dengan kebutuhan stakeholder yang membutuhkan lulusan di bidang kesehatan masyarakat, baik di instansi pemerintah maupun industri swasta. 

"Angka pendaftar tersebut bisa dikategorikan tinggi, bahkan dari 44 program studi yang ada di Undip, FKM termasuk yang paling diminati," kata Tinuk, Rabu (15/8/2012) di Semarang. 

Untuk merespons tingginya jumlah pendaftar di FKM, pada tahun ini FKM Undip meningkatkan kuota jumlah mahasiswa yang diterima, dari tahun sebelumnya hanya 403 tahun ini menjadi 451. 

Tinuk menyatakan, pada tahun ini peminat yang tinggi untuk masuk FKM tidak hanya dari pendaftar lokal, tapi ada juga dari mahasiswa asing. Tahun ini ada empat mahasiswa asing yang akan belajar di FKM, yaitu Dingo Anaro (Papua), Loreta Renz (Jerman), serta Alex Christoper Hansell, dan Keyra Eddy (keduanya dari Amerika Serikat yang juga perwakilan Unicef di Indonesia).

"Mahasiswa asing tersebut akan belajar mengenai kesehatan komunitas di daerah tropis serta perilaku kesehatan masyarakat tropis," katanya. 

Tingginya peminat yang masuk FKM, menurut Tinuk, memberi keuntungan positif bagi Undip, karena seleksi yang semakin ketat akan menghasilkan mahasiswa yang mempunyai kualitas akademik dan potensi yang baik, sehingga calon sarjana kesehatan masyarakat tersebut terseleksi kualitasnya sejak awal. 

Selain berpengaruh terhadap hasil belajar, rata-rata mahasiswa tersebut memerlukan masa studi yang tidak terlalu lama, yaitu antara 3,5 sampai dengan 4 tahun. "Beberapa langsung dipesan oleh industri untuk bekerja sebagai karyawan. Masa tunggu lulusan untuk mendapatkan pekerjaan pun tidak terlalu lama, antara 3 hingga 6 bulan hampir mayoritas lulusan FKM undip sudah mendapat pekerjaan," ungkapnya. 

Referensi: 
http://edukasi.kompas.com/read/2012/08/15/2232384/Fakultas.Kesehatan.Masyarakat.Undip.Jadi.Favorit

Download berita tersebut KLIK DISINI AJA,,,

Rabu, 05 September 2012

Bahaya Kerja Shift Malam Bagi Jantung

Apakah kantor Anda memberlakukan kerja shift? Sebuah studi mengungkap bahwa bekerja dengan sistem shift berpotensi meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.

Dikutip Daily Mail, studi yang dipublikasikan di situs Jurnal Kesehatan Inggris bmj.com itu memperingatkan bahwa mereka yang terbiasa kerja dengan sistem shift memiliki risiko 41 persen mengalami penyakit jantung dan stroke.

Mereka umumnya juga rentan mengembangkan perilaku tidak sehat seperti konsumsi junk food, pola tidur buruk, dan malas berolahraga. Yang semua itu terkait dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan kardiovaskuler.

Studi dilakukan dengan menganalisis hasil 34 penelitian terdahulu yang melibatkan 2.011.935 responden, yang terbiasa berkerja dengan sistem shift. Hampir 25 persen di antaranya mulai memperlihatkan gejala mengembangkan dua penyakit kronis tersebut.

Studi sengaja dilakukan untuk memperjelas efek buruk kerja shift terhadap kesehatan kardiovaskuler secara keseluruhan. Menyempurnakan studi terdahulu yang menyebut kerja shift berpotensi merusak jam biologis: memicu tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan diabetes.

Yang masuk kategori kerja shift adalah mereka yang memiliki jadwal kerja malam, jadwal kerja shift yang tidak teratur, serta jadwal shift rotasi malam dan siang. Yang menjadi pembanding adalah mereka yang memiliki jadwal kerja normal dari pagi hingga sore.

Daniel Hackam, farmakolog Klinis dari Pusat Penelitian Pencegahan Stroke & Atherosclerosis (SPARC), London, Inggris, dan Ontario, Kanada, mengatakan, studi ini hendaknya menjadi peringatan bagi mereka yang terbiasa bekerja dengan sistem shift untuk lebih peduli dengan kesehatan.

"Pekerja dengan sistem shift sebaiknya harus lebih memahami tentang gejala-gejala penyakit kardiovaskular sebagai upaya pencegahan dini, selain tentunya harus lebih rajin melakukan pemeriksaan kesehatan rutin," ujar Hackam.


Referensi:
http://us.life.viva.co.id/news/read/339263-bahaya-kerja-shift-malam-bagi-jantung


Download artikel tersebut KLIK DISINI AJA,,,,

Minggu, 13 Mei 2012

Warga yang Dijamin BPJS Sebanyak 86 Juta

Pemerintah menetapkan jumlah warga yang dijamin BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan pada 2013 sebanyak 86 juta orang. Jumlah itu berkurang sekitar 10 juta orang dari rencana awal yang ditetapkan sebanyak 96 juta orang. 

"Jumlahnya dikurangi hingga 10 juta orang dari rencana awal, karena sebagian dananya dipergunakan untuk membangun fasilitas kesehatan," kata Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Ali Ghufron Mukti, usai membuka pertemuan industri farmasi Asia bertajuk Convention on Pharmaceutical Ingredients Southeast Asia (CPhI SEA), di Jakarta, akhir pekan lalu. 

Ali Ghufron menjelaskan, keterbatasan anggaran menjadi penyebab dikuranginya target awal penerima BPJS Kesehatan. Namun ia memastikan bahwa masyarakat miskin (poor) dan mendekati miskin (near poor) telah terjamin. 

Soal pembangunan fasilitas kesehatan, Wamenkes memaparkan roadmap pemenuhan jumlah tempat tidur sekitar 10 ribu tempat tidur baru untuk perawatan. Direncanakan akan dibangun RS pratama di 42 kabupaten/kota serta pembangunan puskesmas di 383 kecamatan yang belum punya puskesmas. 

"Tahun ini, fasilitas kesehatan baru bisa menjangkau sekitar 76,4 juta orang melalui program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Setiap tahun, nantinya akan ditingkatkan hingga 10 juta orang. Diharapkan 2019 sudah tercapai cakupan kesehatan universal yang menjangkau seluruh penduduk yang dikelola oleh BPJS Kesehatan," tutur Ali Ghufron. 

Soal ajang pameran semacam CPhI, Ali Ghufron mengatakan, forum semacam itu menjadi sangat penting bagi produsen obat dan produsen bahan baku obat untuk berkomunikasi dalam menjamin ketersediaan obat. Karena permintaan obat dalam negeri selalu meningkat setiap tahunnya. 

"Akses terhadap obat merupakan tanggung jawab pemerintah. Termasuk ketersediaan material sebagai bahan baku obat," ujarnya. 

Karena, lanjut Ali Ghufron, pada pelaksanaan BPJS Kesehatan pada 2014, sekitar 63 persen kebutuhan obat akan ditanggung oleh asuransi. Dan pada 2019, kebutuhan itu naik menuju cakupan universal 100 persen. 

Sebelumnya, Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan kementerian Kesehatan Maura Linda Sitanggang mengatakan penerapan BPJS bidang kesehatan akan meningkatkan konsumsi obat. 

Linda mengatakan peningkatan permintaan obat itu diperkirakan akan dapat terpenuhi, mengingat produksi obat dalam negeri saat ini telah mencapai 90 persen, meskipun 96 persen bahan bakunya masih diimpor. 

"Beberapa upaya disebutnya dilakukan pemerintah untuk mengurangi impor antara lain dengan menarik investasi kedalam negeri atau mengembangkan bahan baku obat dari bahan lokal seperti obat herbal," katanya. (suarakarya-online.com)

Selasa, 24 April 2012

40 Persen Kecelakaan Kerja Terjadi di Jalan

Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) mengirimkan 13.751 orang ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) ke perusahaan-perusahaan di seluruh Indonesia. Ini bertujuan menekan angka kecelakaan kerja dan memperluas jangkauan pengawasan norma K3. Sehingga bisa mengurangi kecelakaan kerja yang pada tahun 2011 mencapai 99.491 kasus. 

Saat ini konsep keselamatan dan kesehatan kerja belum sepenuhnya dilaksanakan oleh manajemen perusahaan, pekerja/buruh maupun masyarakat. Maka tak heran jika kecelakaan kerja di Indonesia masih relatif tinggi. Untuk itu para pengusaha, manajemen perusahaan dan tenaga kerja, diharapkan mengambil inisiatif dan lebih serius dalam meningkatkan pelaksanaan K3 di tempat kerjanya masing-masing. 

Kecelakaan kerja yang terjadi masih didominasi oleh kecelakaan lalu lintas sebanyak 40 persen kasus terjadi pada saat pekerja berangkat dan pulang bekerja. Saat ini, masih banyak perusahaan kelas menengah dan kecil yang belum menyadari bahwa pelaksanaan K3 merupakan bagian dari investasi perusahaan yang wajib dilaksanakan. 

Dengan keterbatasan kemampuan perusahaan kecil-menengah, maka pemerintah berusaha mendorong agar perusahaan-perusahaan besar yang sudah maju penerapan K3-nya. Ini juga untuk melatih perusahan-perusahan menengah dan kecil dengan memanfaatkan program CSR yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan besar. 

Pada hakekatnya ahli K3 akan membimbing dan mengarahkan perusahaan-perusahaan agar dapat merubah perilaku pekerja menjadi berperilaku aman dan sehat, membentuk kondisi kerja aman, nyaman, tenaga kerja sehat dan produktif serta mencegah kecelakaan kerja sehingga menciptakan lingkungan kerja semakin harmonis. 

Dengan adanya kerja sama yang baik antara pengusaha dan pekerja dalam menerapkan K3 di lingkungan kerja diharapkan dapat menghindarkan tenaga kerja dari risiko kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja dan serta meningkatan mutu kerja dan produktivitas. 

So,,,bagi teman-teman alumni fkm minat K3 sudah seharusnya berkomitmen untuk menjadi ahli yang benar-benar ahli dalam bidang keselamatan dan kesehatan kerja, sehingga diharapkan lulusan FKM UNDIP minat K3 benar-benar bermanfaat setelah lulus sarjana,,,,

Jumat, 30 Maret 2012

10 Pekerjaan Terburuk untuk Paru-Paru

Banyak jenis pekerjaan yang cukup berisiko untuk kesehatan. Misalnya, banyak pekerja yang mengembangkan penyakit paru oleh karena lingkungan tempat kerja yang tidak sehat. Jika mengetahui penyebabnya, risiko penyakit paru pada para pekerja dapat dicegah atau setidaknya dapat menurunkan risiko.

Sebagian besar jenis penyakit paru akibat lingkungan kerja dapat dicegah. Tindakan pengendalian sederhana dapat secara nyata mengurangi paparan dan risiko.

Kira-kira pekerjaan apa saja yang memiliki risiko terhadapat penyakt paru?

Berikut 10 pekerjaan terburuk bagi kesehatan paru-paru pekerja :

1. Pekerja konstruksi
Pekerja yang menghirup debu pada pembongkaran atau renovasi bangunan dapat berisiko terkena kanker paru-paru, mesothelioma dan asbestosis.

Asbestosis merupakan penyakit yang menyebabkan jaringan parut di paru-paru. Pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan memakai alat pelindung, termasuk respirator saat bekerja di sekitar bangunan dan menghindari merokok.

2. Pekerja pabrik
Pekerja pabrik dapat terkena debu, bahan kimia, dan gas yang menempatkan pada risiko Chronic obstructive pulmonary disease (COPD).

3. Praktisi medis
Sekitar 8-12 orang yang sensitif terhadap residu bubuk yang ditemukan dalam sarung tangan lateks adalah praktisi medis.

Sensitifitas tersebut dapat menyebabkan reaksi asma tipe berat. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut adalah membatasi paparan bila memungkinkan.

4. Pekerja tekstil
Bisinosis, juga disebut brown lung disease, adalah umum di antara pekerja tekstil yang membuat jok, handuk, kaus kaki, seprei dan pakaian.

Pekerja dapat menghirup partikel yang dilepaskan dari kain katun atau bahan lainnya. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan memakai masker dan meningkatkan ventilasi di lingkungan kerja.

5. Bartender
Melayani minuman di ruangan penuh asap menempatkan bartender pada risiko tinggi untuk penyakit paru-paru. Terutama jika secara terpapar perokok pasif selama bertahun-tahun.

Saat ini, banyak negara yang melarang merokok di restoran dan bar. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan sistem ventilasi yang baik dalam lingkungan bar.

6. Pembuat kue
"Pembuat kue menempati bagian atas daftar pekerjaan yang menyebabkan asma, yang secara keseluruhan mencapai 15 persen kasus asma baru pada orang dewasa.

Pembuat kue yang terpapar debu tepung berisiko sangat signifikan mengembangkan sensitisasi alergi. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan ventilasi yang baik dan penggunaan masker pelindung," kata Dr Harber.

7. Industri otomotif
Asma dapat menjadi risiko kesehatan paru bagi pekerja dalam industri otomotif. Cat auto spray seperti isosianat dan produk poliuretan, dapat mengiritasi kulit, menyebabkan alergi dan menyebabkan sesak dada, dan kesulitan bernapas yang parah.

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan respirator, sarung tangan, kacamata, dan ventilasi yang memadai.

8. Pekerja angkutan
Supir truk, yang sering membongkar muatan barang di dermaga, dan pekerja industri kereta api dapat berisiko untuk COPD. Knalpot diesel adalah faktor terbesar.

Meskipun mesin sekarang memancarkan gas buang diesel yang lebih sedikit karena perkembangan teknologi, diesel knalpot masih tersebar luas. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah sedapat mungkin menghindari area knalpot diesel dan mengenakan masker pelindung.

9. Pekerja pertambangan
"Penambang berada pada risiko tinggi untuk sejumlah penyakit paru-paru, termasuk COPD, karena paparan debu," kata Dr Harber.

Silika di udara yang juga dikenal sebagai kuarsa dapat menyebabkan silikosis. Penambang batubara berisiko untuk jenis lain dari penyakit jaringan parut di paru yang disebut pneumokoniosis (paru-paru hitam). Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah tidak merokok dan menggunakan masker.

10. Pemadam kebakaran
Petugas pemadam kebakaran dapat menghirup asap dan berbagai bahan kimia yang mungkin ada dalam gedung atau rumah yang terbakar.

Meskipun perlengkapan pelindung pernapasan telah disediakan bagi pekerja, namun kadang tidak selalu dipakai. Paparan bahan beracun dan asbes adalah risiko bahkan setelah api berhasil dipadamkan. International Association of Firefighters telah merekomendasikan pemakaian alat pelindung pernapasan pada semua tahap pemadam kebakaran. (detik.com)

Jumat, 17 Februari 2012

Perdarahan Penyebab Terbesar Kematian Ibu Melahirkan

Kematian ibu saat persalinan sebagian besar disebabkan buruknya infrastruktur transportasi dan kesehatan lingkungan. Hal ini diperparah rendahnya tingkat kesehatan ibu bersangkutan.

Untuk menekan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia, perlu ditegakkan tiga pilar dalam pelayanan ibu hamil. Hal itu adalah penapisan kelainan kandungan, pelayanan kehamilan hingga persalinan yang aman, dan pencegahan disfungsi dasar panggul.

Hal ini disampaikan Junita Indarti, dokter ahli obstetri dan ginekologi, yang juga Ketua Cluster Women’s Health Center (WHC) RS Cipto Mangunkusumo Kencana, dalam pembukaan pusat pelayanan kesehatan itu, Selasa (14/2), di Jakarta.

”AKI di Indonesia tergolong tinggi di dunia, 250 kematian per 100.000 kelahiran hidup, menurut data Kementerian Kesehatan. Perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencapai 330 per 100.000,” kata ahli fetomaternal di RSCM/FKUI, Aria Wibawa.

Ibu melahirkan, demikian Aria, ada 20 persen perlu penanganan khusus karena mengalami perdarahan. Hal itu antara lain disebabkan kekurangan gizi, khususnya anemia; melahirkan lebih dari lima kali; dan kesalahan dalam proses melahirkan.

”Kondisi ini sering berakibat fatal karena ibu tak segera mendapat penanganan intensif,” ujarnya. Umumnya, tempat tinggal ibu tidak memiliki sarana dan prasarana transportasi yang memadai. Selain itu, fasilitas di pusat layanan kesehatan juga minim.

Kepala Departemen Obstetri Ginekologi RSCM/FKUI Budi Iman Santoso menambahkan, penanganan ibu hamil di rumah sakit dengan fasilitas memadai untuk ibu dengan faktor risiko itu hanya dapat menekan tingkat kematian 25 persen.

Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu hamil dan bersalin, kata Junita, RSCM memperkenalkan penanganan terpadu. Penanganan dilakukan mulai tahap dini, yaitu dari penapisan kelainan kandungan.

WHC tidak hanya menggunakan teknik pap smear, tetapi juga pemeriksaan HPV DNA. Pemeriksaan yang memiliki akurasi tinggi ini memungkinkan kanker mulut rahim dideteksi dini.

Penanganan selama kehamilan dilakukan di WHC untuk mencegah disfungsi dasar panggul. (kompas.com)

FKM UNDIP Gandeng Empat Lembaga

Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Diponegoro (Undip) jalin kerja sama dengan empat lembaga sekaligus. Kerja sama itu dalam bidang praktikum produksi media promosi kesehatan, pelatihan, pendidikan, magang, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Penandatanganan MoU tersebut dilakukan langsung oleh oleh Dekan FKM Dra VG Tinuk Istiarti MKes, Kepala Balai Kesehatan Paru Masyarakat Wilayah Jawa Tengah dokter I Gusti A Trimurti M Kes yang diwakili oleh dokter gigi Endang Budhi, Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Semarang AKBP drg Glenn Kaunang, Direktur Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang dokter Daniel Budi Wibowo MKes dan Kepala Lembaga Penyiaran Publik RRI Semarang Dra Hj Saraswati SA di Kampus FKM Tembalang.

Dalam sambutannya Tinuk mengatakan untuk meningkatkan kompetensi para lulusan FKM pihaknya selalu melakukan evaluasi yang dilakukan dengan pihak pengguna lulusan bersama dengan alumni. Sementara setiap dua tahun sekali dia juga melakukan koreksi kurikulum untuk menyesuaikan dengan perkembangan.

”Selama ini masa tunggu mahasiswa FKM yang mencari kerja relatif cepat yaitu enam bulan. Hal itu menunjukkan bahwa lulusan kami dapat bersaing dalam dunia kerja dengan baik,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Daniel mengucapkan terima kasih atas kepercayaan FKM Undip dalam kerjasama tersebut.

“Kami membuka diri untuk para mahasiswa guna praktek, penelitian, magang dan pengabdian masyarakat. Hal itu merupakan salah satu bentuk komitmen RS Panti Wilasa dalam dunia pendidikan,” katanya. (suaramerdeka.com)

Jumat, 13 Januari 2012

Sering 'Jajan' Seks Risiko Alami Penyakit Ini

BERGONTA-ganti pasangan bukan hanya mengancam kelangsungan hubungan dengan pasangan, tapi juga kesehatan organ intim Anda. Inilah beberapa penyakit yang dapat menjangkiti tubuh.

Sejauh ini kebanyakan orang memutuskan berpacaran dengan satu orang saja dalam satu waktu. Namun di era modern ini, tak jarang banyak pasangan yang memutuskan memiliki beberapa pacar secara bersamaan. Jika hubungan pacaran ini sampai melibatkan hubungan seks, maka yang mereka lakukan dicap sebagai hubungan “berganti-ganti pasangan” alias “jajan” seks.

Perilaku tersebut tentu sangat tak menyehatkan. Pasalnya, berganti-ganti pasangan mendatangkan banyak risiko negatif bagi kesehatan Anda. Karenanya, ada beberapa hal yang harus mereka pertimbangkan jika melakukan hal ini. Selain moral dan agama, ada beberapa masalah dan risiko yang menyertai hubungan seks dengan lebih dari satu orang. Salah satu risiko terbesarnya adalah kemungkinan tertular penyakit menular seksual (PMS). Khusus bagi wanita, risiko berkembangnya kanker serviks pun akan meningkat.

"Penyakit (PMS) ini hampir selalu berupa infeksi dan hanya didapat melalui hubungan seks," tutur Dr Miriam Stoppard dalam bukunya berjudul "Panduan Kesehatan Keluarga".

Dalam bukunya, Dr Stoppard pun menggambarkan beberapa gejala membahayakan untuk menandai Anda terjangkit penyakit menular seksual. Inilah beberapa di antaranya:

Kutil genital dan herpes genital

Kutil genital dan herpes genital adalah infeksi virus. Kutil bisa disembuhkan, herpes tidak, tapi gejalanya bisa ditangani. Virus kutil juga dapat menimbulkan kanker serviks.

Gonorea, sifilis, dan klamidia

Ketiganya adalah infeksi bakteri, yang dapat disembuhkan dengan antibiotik. Namun, klamidia sulit terdiagnosis karena sering kali tidak menimbulkan gejala. Klamidia juga bisa menimbulkan penyakit peradangan panggul (pelvic inflammatory disease/PID).

HIV/AIDS dan hepatitis B

Keduanya adalah infeksi virus yang tidak bisa disembuhkan. AIDS menyebabkan kematian, tapi hepatitis B tidak.

Kutu pubis (jengger ayam) dan kudis

Dua hal ini adalah parasit, yang bisa disembuhkan dengan insektisida.

Kandidiasis

Adalah infeksi jamur yang bisa disembuhkan dengan fungisida.

Trikomonas

Adalah parasit bersel satu yang bisa disembuhkan dengan obat antiparasit. (okezone.com)

Unik, Wanita Ini Miliki Dua Miss V

BERBEDA dengan kebanyakan, wanita ini memiliki tampilan yang langka pada organ intimnya yakni punya dua leher rahim dan dua Miss V.

Sekilas melihat kondisinya yang tampak sehat, perempuan ini sama sekali tak terlihat seperti memiliki keanehan pada dirinya. Padahal wanita ini memiliki kelainan yang sangat langka, yaitu hidup dengan rahim, dua leher rahim, dan dua Miss V.

Hazel Jones (27), baru menyadari bahwa dirinya memiliki dua Miss V saat berusia 18 tahun. Merasa janggal, kala itu, dirinya pun sempat melakukan diagnosis untuk mencari tahu penyebab rasa sakit yang amat sangat kram dan mengalami masa pubertas yang berat.

Meski memiliki kondisi yang tak lazim bagi orang kebanyakan, tapi hal ini tak membuatnya minder dalam dunia pergaulannya. Bahkan dia tak malu menceritakan kondisinya pada teman-teman wanitanya.

"Bagi saya ini hal yang luar biasa, tidak perlu malu," ujarnya, sebagaimana dilansir Telegraph, Kamis (12/1/2012).

"Jika teman-teman perempuan saya ingin melihat keadaan saya, saya cukup senang untuk menunjukkan kepada mereka, itu bukan sesuatu yang membuat saya malu," tambahnya.

Hazel mengatakan, sebelumnya ia merasakan seks yang sangat tidak nyaman, meski tidak menimbulkan efek samping. Walau demikian, Hazel menolak untuk melakukan operasi karena takut terjadi masalah baru dengan jaringan parutnya.

"Aku memiliki kehidupan seks yang dahsyat," ujarnya.

Dokter yang memeriksanya menjelaskan, bahwa apa yang terjadi pada Hazel dikarenakan adanya kerusakan pada saat pembentukan rahim dalam tubuhnya.

"Ketika dalam masa perkembangan, rahim seorang perempuan berasal dari dua tabung. Kedua tabung itu kemudian bergabung, septum (pembatas dua tabung) rusak dan membentuk satu rahim (uterus)," jelas Dr Dawn Harper, dokter yang menangani Hazel.

"Hazel harus waspada melahirkan bayi dalam keadaan sungsang karena rahimnya yang sempit. Ia pun harus melakukan pap smear dua kali agar pasti tak mengidap kanker serviks," saran sang dokter. (okezone.com)

Waspadai Penyakit Musim Penghujan

KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat untuk mewaspadai sembilan penyakit yang biasa mewabah saat musim penghujan.

Wakil Menteri Kesehatan Ali Gufron Mukti mengatakan, saat ini Indonesia sudah memasuki musim penghujan dengan curah hujan tertinggi diperkirakan terjadi pada Januari hingga awal Februari 2012. Musim penghujan merupakan faktor risiko untuk terjadi penyakit. Beberapa penyakit yang perlu diwaspadai selama musim penghujan di antaranya penyakit akibat virus seperti influenza dan diare.

“Lalu penyakit akibat bakteri dan parasit, terutama pada daerah yang airnya meluap sehingga bakteri dan parasit dari septic tank, serta kotoran hewan terangkat, lalu hanyut kemudian mengontaminasi air, bahan pangan, atau menginfeksi langsung manusia.

Penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan parasit ini seperti diare, disentri, kecacingan, dan leptospirosis,” ungkapnya kepada SINDO di Jakarta kemarin.

Di samping itu, Gufron menyampaikan, penyakit lain yang perlu diwaspadai yakni penyakit akibat jamur, terutama akibat kelembapan pada pakaian. Lalu penyakit tidak menular seperti asma, rinitis, dan perburukan penyakit kronik. Penyakit yang tidak asing dengan musim penghujan yakni demam berdarah dengue (DBD) karena meningkatnya tempat perindukan nyamuk.

“Lalu, pada peralihan musim penghujan ke musim kemarau perlu diwaspadai penyakit demam berdarah akibat tingginya populasi nyamuk demam berdarah pada masa itu karena banyaknya tempat perindukan,” papar dia.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kemenkes Tjandra Yoga Aditama menyebutkan, sebagai antisipasi untuk menghadapi musim penghujan, pihaknya melakukan beberapa upaya. Upaya-upaya tersebut seperti meningkatkan upaya promosi kesehatan kepada masyarakat tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), terutama dalam penggunaan air bersih.

Hal ini dilakukan dengan cuci tangan dengan air bersih dan sabun; penggunaan jamban sehat; pemberantasan jentik di rumah, sekolah, kantor, dan lingkungan sekitar.

“Diingatkan juga konsumsi untuk mengonsumsi buah dan sayur setiap hari,” tutur dia. (okezone.com)

Kamis, 12 Januari 2012

Indonesia Peringkat 5 Dunia untuk Jumlah Anak Pendek

Sebanyak 35,6 persen anak Indonesia berumur kurang dari lima tahun bertinggi badan lebih rendah dari semestinya. Makin dewasa, kurang tinggi makin besar.

”Indonesia peringkat ke-5 dunia dengan jumlah anak pendek terbanyak,” kata Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Abdul Razak Thaha dalam diskusi ”Gerakan Nasional Sadar Gizi Menuju Manusia Indonesia Prima”, Rabu (11/1), di Jakarta.

Posisi Indonesia hanya lebih baik dibandingkan India, China, Nigeria, dan Pakistan.

Tinggi standar anak usia 5 tahun adalah 110 sentimeter. Namun, tinggi rata-rata anak Indonesia umur 5 tahun pada tahun 2010 kurang 6,7 sentimeter untuk anak laki-laki dan kurang 7,3 sentimeter untuk anak perempuan. Pada usia 19 tahun, beda tinggi kurang 13,6 sentimeter untuk anak laki-laki dan 10,4 sentimeter untuk anak perempuan dari tinggi semestinya.

Anak-anak bertubuh pendek karena kurang gizi kronis sejak dalam kandungan. Kemiskinan dan kekurangtahuan orangtua membuat anak dan ibu hamil tak mendapat asupan gizi sesuai kebutuhan.

Kurang gizi pada ibu hamil membuat 11,1 persen bayi lahir dengan berat badan rendah, yaitu kurang dari 2.500 gram.

Kondisi itu diperparah dengan tingginya ketidaktahuan tentang pemberian air susu ibu (ASI). Sebanyak 11,1 persen ibu baru memberikan ASI 48 jam sesudah kelahiran. Ini membuat kolostrum yang mengandung zat kekebalan yang bermanfaat bagi bayi terbuang. Bayi yang diberi ASI eksklusif hingga usia 5 bulan hanya 15,3 persen.

Menurut Razak, kekurangtahuan ini dipicu rendahnya tingkat pendidikan perempuan. Pernikahan muda masih tinggi sehingga saat hamil mereka banyak yang belum siap menjadi ibu.

Dampak kurang gizi bukan hanya pada tubuh pendek, tetapi otak yang kurang berkembang. Sebanyak 80 persen sel otak berkembang hingga usia 2 tahun dan 95 persen pada usia 6 tahun.

”Makan saja salah kok minta (negara) maju,” kata Ketua Kaukus Kesehatan Dewan Perwakilan Rakyat Subagyo Partodiharjo.

Deputi Bidang Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Nina Sardjunani, mengatakan, pemerintah telah menyiapkan rencana intervensi untuk mengatasi masalah tubuh pendek pada anak-anak. Penanganan tersebut berupa perubahan perilaku, pemberian zat gizi mikro, dan pemberian makanan pendamping bagi anak-anak.

”Investasi pada 1.000 hari pertama sejak anak dalam kandungan hingga berusia 2 tahun penting bagi kecerdasan dan perkembangan anak,” kata Nina. (kompas.com)

FKM Undip Kembangkan Laboratorium Terpadu

Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNDIP mengembangkan laboratorium terpadu untuk kegiatan penelitian, pendidikan, dan pengabdian masyarakat.

Laboratorium tersebut nantinya bisa digunakan oleh dosen dan mahasiswa dalam melakukan penelitian bersama. Hal tersebut disampaikan dekan FKM Tinuk Istiarti, dalam acara Laboratorium Insight Expose di Kampus FKM Tembalang, Rabu (11/1).

Tinuk mengungkapkan, laboratorim terpadu itu fokus pada upaya menata kembali sistem pengelolaan laboratorium yang selama ini masih berdiri sendiri-sendiri. Laboratorium terpadu yang dikembangkan meliputi laboratorium kering, laboratorium basah, dan laboratorium kesehatan masyarakat.

“Integrasi itu akan lebih mengoptimalisasi manfaat laboratorium, terutama pada peningkatan kuantitas dan kualitas hasil riset. Saat ini, FKM mempunyai 63 dosen dan setiap dosen dalam satu tahun harus menghasilkan satu judul penelitian yang akan didukung bantuan pendanaan dari fakultas,” ujarnya.

Selain meningkatkan hasil penelitian, keberadaan laboratorium tersebut juga untuk meningkatkan kompetensi lulusan FKM. Jadi setiap mahasiswa yang lulus dinyatakan siap memasuki dunia kerja, karena mempunyai pengalaman konseptual dan praktis.

Jadi Rujukan

Koordinator Laboratorium Terpadu FKM Laksmi Wijayanti menuturkan, laboratorium itu juga diproyeksikan menjadi rujukan untuk menangani persoalan berkaitan dengan fenomena kesehatan masyarakat.

“Laboratorium kering dapat digunakan untuk mengkaji masalah, seperti administrasi kebijakan kesehatan, biostatistik, serta pemetaan potensi penyakit di daerah tertentu. Hal tersebut penting dilakukan, terutama bagi para pengambil kebijakan pengelolaan kesehatan,” jelasnya.

Sementara laboratorium basah digunakan untuk mengkaji persoalan fenomena kesehatan masyarakat, seperti analisis zat zat gizi, mikrobiologi, pangan, gizi olahraga, biokimia, dan penentuan status gizi.

Adapun laboratorium kesehatan masyarakat didirikan di luar kampus. Dosen Jurusan Gizi FKM Undip tersebut mengungkapkan, Laboratorium Terpadu tersebut sebenarnya juga sudah menghasilkan beberapa produk yang dipakai oleh beberapa instansi. (suaramerdeka.com)

Selasa, 10 Januari 2012

Layanan Kesehatan Dasar Masih Terabaikan

Program jaminan kesehatan akan terselenggara baik jika sistem kesehatan mendukung. Jika tidak, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial akan kesulitan menangani membengkaknya biaya kesehatan masyarakat. Kualitas layanan juga akan terganggu.

”Berapa pun biaya yang disediakan untuk jaminan pembiayaan kesehatan tidak akan pernah cukup selama pembangunan yang dilakukan menggunakan paradigma orang sakit,” kata anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional, Fachmi Idris, dalam diskusi terbatas ”Pemberlakuan UU BPJS, What Next...?”, Senin (9/1), di Jakarta.

Paradigma pembangunan perlu diubah menjadi masyarakat sehat. Upaya pencegahan dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat menjadi penting, bukan lagi terfokus pada pengobatan.

Pengobatan harus didasarkan sistem rujukan yang benar. Dokter umum memiliki peran penting dalam memberikan layanan kesehatan dasar. Dengan demikian, penduduk tidak perlu berobat ke rumah sakit serta dokter spesialis atau subspesialis untuk penyakit ringan.

Menurut Fachmi, sistem dokter keluarga yang dirancang dalam Sistem Kesehatan Nasional 2004 perlu dihidupkan kembali.

Sistem dokter keluarga menekankan penanganan kesehatan individu. Pola ini diharapkan menggantikan peran puskesmas. Sistem ini juga dinilai lebih cocok dengan sistem pembiayaan kesehatan menyeluruh yang akan diberlakukan tahun 2014.

”Puskesmas dibangun dengan pola komunitas untuk menangani 30.000 penduduk. Dalam sistem dokter keluarga, satu dokter bertanggung jawab menjaga 2.500 penduduk,” katanya.

Agar sistem dokter keluarga berjalan, jumlah dokter harus memadai dan tersebar merata. Data Konsil Kedokteran Indonesia 2011 menyebutkan, dokter yang terdaftar 80.582 orang.

Perbandingan rata-rata jumlah dokter per 100.000 penduduk mencapai 40,5. Namun, provinsi yang memiliki dokter lebih atau sama dengan rata-rata nasional hanya DKI Jakarta, Sulawesi Utara, DI Yogyakarta, Bali, dan Sumatera Utara.

Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prijo Sidipratomo menambahkan, untuk mendukung sistem dokter keluarga, pendidikan kedokteran perlu ditata ulang dengan menjadikan rumah sakit sebagai basis pendidikan dokter, bukan universitas. Pusat-pusat pendidikan yang berfokus pada layanan dasar dan keluarga perlu dibangun. ”Dokter keluarga dididik mampu menjawab 80 persen permasalahan kesehatan individu dan keluarga,” katanya.

Gaji dokter

Untuk mendukung sistem ini, perlu ada sistem penggajian dokter yang memadai dan tidak menimbulkan kesenjangan gaji di mana pun dokter berada.

Saat ini, kata Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Hasbullah Thabrany, terjadi kesenjangan penghasilan dokter yang besar. Sebagai contoh, rasio penghasilan dokter dalam satu rumah sakit di Jakarta bisa 1:100.

Gaji yang lebih besar membuat dokter terkonsentrasi di kota-kota besar. Mereka enggan bertugas di daerah, khususnya daerah terpencil. Tahun 2010, IDI pernah mengusulkan kepada Menteri Kesehatan besaran gaji layak Rp 11,78 juta-Rp 17,33 juta per bulan untuk dokter umum dan Rp 36,8 juta-Rp 54,1 juta per bulan untuk dokter spesialis.

Hasbullah mengingatkan, agar layanan kesehatan masyarakat yang dikelola BPJS berjalan baik, dokter tidak bisa digaji murah.

Wakil Menteri Kesehatan Ali Ghufron Mukti mengatakan, upaya pencegahan dan peningkatan kesehatan masyarakat tetap menjadi agenda pemerintah utama. Hal ini dilakukan dengan memperbesar anggaran promosi dan pencegahan penyakit. (kompas.com)

Minggu, 08 Januari 2012

Mengapa Air Rebusan Mi Instan Harus Dibuang?

Mi instan merupakan salah satu makanan yang paling mudah ditemukan, praktis, dan disukai banyak orang karena rasanya yang enak. Daya simpannya yang lama juga membuat mi instan kerap menjadi pilihan untuk mereka yang tinggal sendiri, namun tak punya waktu untuk memasak.

Meski begitu, terlalu banyak mengonsumsi mi instan disinyalir akan menimbulkan banyak efek negatif bagi tubuh oleh karena kandungan bahan pengawet atau penyedap rasanya. Kemudian, selain kandungan karbohidrat, mi instan tak cukup memiliki kandungan vitamin, mineral, atau serat, yang bermanfaat bagi tubuh. Sehingga, pada dasarnya mi instan tidak cukup memiliki nutrisi bagi keseimbangan gizi tubuh manusia.

"Namun yang paling berbahaya adalah adanya kandungan bahan pengawet, MSG (monosodium glutamat), dan bahan pewarna makanan yang ada di dalam mi instan," ungkap dr Patricia Wijaya, dokter ahli kecantikan dari Beauty Inc. kepada Kompas Female, usai peluncuran produk mi instan baru di Swiss Bel Hotel, Jakarta Pusat, Minggu (8/1/2012) lalu.

Kandungan bahan berbahaya dalam mi instan ini didapatkan dari proses pengolahan sampai proses pengawetan yang dilakukan dengan cara menggoreng mi sampai kering. Proses penggorengan biasanya menggunakan minyak goreng, yang membuat air rebusan menjadi keruh dan sedikit berminyak ketika direbus.

"Banyak orang yang mengatakan bahwa air rebusan pertama ini harus dibuang agar pengawetnya hilang. Namun sebenarnya zat pengawet ini tidak akan hilang," tukas dr Patricia.

Air rebusan mi instan yang pertama akan mengeluarkan minyak dan zat kimia lainnya yang mungkin saja digunakan untuk membuatnya. Namun, bahan pengawet dan kandungan lain yang berbahaya bagi kesehatan ketika diolah lebih lanjut ini tidak akan hilang 100 persen. Ia hanya akan berkurang sedikit ketika air rebusan pertama dibuang.

Kandungan minyak, bahan pengawet, MSG, dan zat pewarna masih akan tetap menempel pada mi instan meski kadarnya sudah berkurang beberapa persen. Perlu Anda ketahui, penggunaan bahan pengawet tak selamanya membahayakan, karena produsen mi instan tentunya harus mengikuti standar aman yang ditetapkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Namun kandungan bahan kimia ini masih berpotensi untuk menyebabkan berbagai gangguan kesehatan bila dikonsumsi secara rutin. "Efek yang dirasakan memang adalah efek jangka panjang, misalnya gangguan pencernaan, konstipasi, sampai kanker pencernaan, dan lainnya," tukasnya.

Dalam jangka panjang, bahan kimia tersebut juga akan sangat berbahaya bagi kecantikan wajah dan kulit. Kulit menjadi lebih kering, yang kelak akan menimbulkan berbagai gejala penuaan dini. Selain itu, mi instan juga akan merusak program diet Anda, karena kadar kalorinya tinggi. Sekali lagi, boleh-boleh saja menikmati mi instan, tetapi sebaiknya tidak dikonsumsi terlalu sering. Jangan menjadikan mi instan sebagai makanan utama, melainkan sebagai jajanan selingan saja. Tetaplah mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang untuk sarapan, makan siang, dan makan malam. (kompas.com)

Rabu, 28 Desember 2011

Penyakit Menular Masih Jadi Ancaman

Indonesia belum terlepas dari ancaman penyakit menular, hal yang masih umum terjadi di negara berkembang lainnya dimana sepanjang tahun 2011 tercatat beberapa kali terjadi wabah penyakit menular yaitu merebaknya Hepatitis A di beberapa daerah, wabah difteri di Jawa Timur, flu burung maupun rabies.

Awal November lalu, sebuah sekolah di Depok, Jawa Barat, yaitu Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) II Depok terpaksa diliburkan selama beberapa hari setelah wabah Hepatitis A telah menular kepada 90 orang, yaitu 89 siswa dan seorang guru sekolah tersebut.

Beberapa bulan sebelumnya, wabah Hepatitis A juga merebak di daerah Bandung, Sukabumi dan Tasikmalaya sehingga Kementerian Kesehatan mengumpulkan tim ahli untuk membahas penyakit tersebut dan memformulasikan kebijakan yang harus diambil.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Tjandra Yoga Aditama, mengatakan bahwa rapat dengan tim ahli itu juga akan digunakan untuk mengecek kondisi penyebaran penyakit Hepatitis A di berbagai wilayah selama beberapa tahun terakhir.

Sementara itu, Menteri Kesehatan (Menkes), Endang Rahayu Sedyaningsih, mengemukakan bahwa kemungkinan Hepatitis A menjadi wabah sangat besar mengingat virus penyebab penyakit tersebut dapat dengan mudah ditularkan lewat makanan yang disantap bersama-sama.

"Jadi, kalau ada satu terkena dan orang itu masuk ke kantor atau sekolah dan makan beramai-ramai, seperti sambal yang dicocol ramai-ramai, itu akan cepat menyebar (virusnya). Makanya kalau jajan lihat-lihat dulu," katanya usai menghadiri apel Hari Kesehatan Nasional (HKN) 2011 di Gedung Kementerian Kesehatan Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ia menimpali, "Bagi yang tidak bisa bawa makanan dari rumah, kalau jajan carilah tempat bersih dan jangan lupa cuci tangan sebelum makan."

Menkes mengungkapkan bahwa wabah Hepatitis A memang sering terjadi karena penyebarannya yang mudah antara lain lewat makanan.

Untuk langkah pencegahan, Menkes kembali mengingatkan mengenai pentingnya higiene pribadi seperti menerapkan perilaku hidup bersih sehat (PHBS) yang antara lain dengan mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah makan dan sebelum melakukan beberapa kegiatan lain.

Selain itu, disebut Menkes, tidak kalah pentingnya adalah sanitasi lingkungan seperti membuang sampah pada tempatnya atau menggunakan air bersih untuk memasak.

Untuk mencegah terjadinya wabah Hepatitis A di masa yang akan datang, Kementerian Kesehatan juga menurunkan tim untuk melakukan sosialisasi kepada kantin sekolah maupun kantin pabrik di wilayah-wilayah yang dinilai rawan mengenai langkah pencegahan penularan virus.

Penularan Hepatitis A umumnya terjadi pada pencemaran air minum, makanan yang tidak dimasak, makanan yang tercemar, sanitasi yang buruk dan higienitas rendah dan seseorang yang terjangkit virus itu biasanya akan menunjukkan gejala demam, lemah lesu, anoreksia dan gangguan abdominal serta ikterus.

Flu Burung

Wabah penyakit menular lainnya yang kembali muncul di tahun 2011 adalah flu burung dimana pada bulan Oktober, dua orang kakak beradik WA (10) dan NRA (5) dari Kabupaten Bangli, Bali, meninggal dunia di Rumah Sakit Sanglah, Denpasar dan dipastikan kedua korban positif terjangkit flu burung (H5N1).

Kementerian Kesehatan disebut Menkes melakukan kerjasama erat dengan Kementerian Pertanian untuk mengatasi kemungkinan wabah flu burung yang fatal karena tingkat kematiannya yang masih tinggi, sekitar 70-80 persen.

Indonesia, juga disebut Menkes, belum bebas dari ancaman flu burung dan sebanyak 30 provinsi masih endemi flu burung di unggas dan hanya tiga provinsi yang belum dilaporkan terjangkit yaitu Kalimantan Barat, Gorontalo dan Maluku Utara.

Menkes mengingatkan bahwa virus flu burung memang masih ada pada unggas dan dapat berpindah ke manusia sehingga masyarakat diharapkan dapat mengambil langkah pencegahan penularan seperti menjauhi unggas jika tidak penting, selalu mencuci tangan dengan sabun dan bagi anak-anak agar tidak bermain dengan bangkai ayam.

Di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), juga dilaporkan ada sekira 1.000 ayam di tiga lokasi di Kabupaten Lombok Tengah mati mendadak dan dipastikan bahwa penyebab kematian adalah flu burung.

Kementerian Kesehatan tidak menerima laporan pasien manusia suspek flu burung di Lombok paska matinya ribuan ayam mendadak di kawasan itu namun tetap melakukan langkah pencegahan dan sosialisasi kepada masyarakat.

Selain itu, sebanyak 100 rumah sakit di seluruh Indonesia masih disiagakan untuk menangani flu burung yang tahun 2011 ini telah memakan korban 10 orang, jumlah yang sudah menurun dari tahun-tahun sebelumnya yang bisa mencapai puluhan orang.

"Rumah sakit tetap disiagakan, upaya-upaya pencegahan juga telah dilakukan dengan baik. Masalahnya memang tingkat kematian untuk kasus flu burung ini masih tinggi," kata Tjandra Yoga Aditama.

Bahkan, sejak pertengahan Desember lalu, sebanyak sepuluh rumah sakit di berbagai daerah di Indonesia akan memiliki ruang isolasi lengkap bagi penanganan pasien flu burung yang lokasinya tersebar dan dipilih dengan mempertimbangkan endemisitas daerah itu terhadap kasus tersebut.

Pembangunan ruang isolasi itu merupakan bantuan dari Uni Eropa melalui Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang bertugas untuk menyalurkan dana bantuan untuk Pengendalian flu burung di Indonesia melalui kerja sama dengan Kementerian Kesehatan.

Pada 2008, Kementerian Kesehatan mengusulkan pembangunan ruang isolasi di beberapa rumah sakit untuk penanggulangan penyakit yang sempat mewabah tidak hanya di Indonesia namun di negara-negara lainnya itu dan pembangunan kemudian disetujui di 10 Rumah Sakit rujukan flu burung.

Rumah sakit rujukan tersebut adalah RSUP Persahabatan; RSPI Sulianti Saroso; RSPAD Gatot Subroto; RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou, Manado; RSUD Dr. Soetomo, Surabaya; RSUD Dr. Moewardi, Solo; RSUD Ulin, Banjarmasin; RSUD Dr. Abdoel Moeloek, Lampung; RSUD Gunung Jati, Cirebon dan RSUD Tangerang.

Kasus flu burung pada manusia yang untuk pertama kali dilaporkan di Indonesia berasal dari Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, pada 2005 dan sejak itu kasus flu burung mulai dilaporkan dari berbagai provinsi lain dan saat ini sebanyak 53 kabupaten/kota di 13 provinsi di Indonesia telah melaporkan kasus flu burung pada manusia.

Kementerian Kesehatan mencatat dari tahun ke tahun jumlah kasus flu burung di Indonesia cenderung menurun, namun sampai dengan November 2011, terdapat 182 kasus flu burung positif dan 150 orang (82,42 persen) di antaranya meninggal dunia dengan tiga provinsi dengan kasus terbanyak adalah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Wabah Difteri

Kejadian Luar Biasa (KLB) lainnya yang menjadi perhatian nasional juga terjadi di Jawa Timur pada bulan Oktober lalu ketika wabah difteri menyerang 328 anak serta menewaskan 11 anak.

Kejadian ini mendapat perhatian khusus karena difteri merupakan penyakit yang bisa dicegah lewat imunisasi sewaktu bayi atau balita.

Terhadap kejadian itu, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan imunisasi untuk pencegahan difteri akan diperbaiki pasca wabah yang melanda beberapa kabupaten di Jawa Timur itu.

"Imunisasi kami perbaiki karena ada anak yang tidak mempan divaksin. Untuk anak berusia 7-15 tahun juga akan diberi vaksinasi tambahan," kata Menkes.

Gubernur Jawa Timur, Sukarwo, telah menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) wabah penyakit difteri yang melanda sejumlah kabupaten/kota dan meminta warga untuk waspada terhadap bakteri yang menjangkiti saluran pernapasan itu dan melakukan vaksinasi bagi anak-anak mereka.

Menkes juga berharap masyarakat dapat memahami pentingnya imunisasi dasar tersebut bagi pencegahan penyakit difteri karena ada gerakan anti-imunisasi yang muncul di beberapa tempat.

"Sekarang ada banyak orang yang tidak mau divaksinasi, padahal pencegahan difteri adalah lewat vaksinasi," kata Menkes dan berharap warga mau mendatangi Puskesmas untuk mendapatkan pelayanan imunisasi dasar itu.

Untuk tindakan kuratif, Menkes menyebutkan, jika ditemukan pasien difteri, pasien tersebut akan dirawat di rumah sakit dan tiap orang yang mengalami kontak dengan pasien akan divaksinasi.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggelar vaksinasi massal di beberapa daerah penyebaran difteri terutama di 11 kabupaten/kota yaitu Kota Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Mojokerto, Bangkalan, Sampang, Sumenep, Pamekasan, Blitar, Gresik dan Banyuwangi.

Untuk penanganan wabah tersebut, sebanyak Rp21 miliar dana dikucurkan yaitu dari Pemerintah pusat sebesar Rp13 miliar dan Pemerintah Provinsi Rp8 miliar untuk pembelian vaksin, surveilans, melakukan imunisasi masal dan biaya penyembuhan lainnya.

Menkes menyatakan keprihatinannya atas kejadian luar biasa (KLB) difteri di Jawa Timur tersebut dan kembali mengingatkan pentingnya imunisasi bagi bayi dan balita sebagai langkah pencegahan kasus serupa terulang.

"Imunisasi adalah program yang paling `cost effective` (biayanya paling kecil) untuk menekan morbiditas dan mortalitas penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti difteri ini," ujar Menkes.

Ia melanjutkan bahwa jika program imunisasi rutin tidak berjalan dengan baik atau cakupannya masih cukup rendah, maka akan ada kantong-kantong daerah dimana anak-anaknya tidak diimunisasi sehingga suatu saat kemungkinan untuk muncul KLB menjadi lebih besar dibanding daerah yang telah diimunisasi lengkap.

"Jika jadi KLB, maka biayanya jadi mahal untuk penanganannya, ada ongkos ekstra untuk itu," ujar Menkes.

Ia menekankan bahwa sejak Indonesia melakukan imunisasi masal tahun 1956 telah terbukti aman dan melindungi penduduk dari kematian dan kecacatan.

Adapun Tjandra Yoga Aditama mengatakan, kegiatan imunisasi merupakan salah satu kegiatan prioritas Kementerian Kesehatan yang merupakan salah satu bentuk kegiatan promotif preventif serta bentuk nyata komitmen pemerintah untuk mencapai Millenium Development Goals (MDGs) khususnya untuk menurunkan angka kematian pada anak dan ibu.

Saat ini, Kementerian Kesehatan mencatat, imunisasi dasar di Indonesia meliputi 5 jenis yaitu, BCG, DPT Hb, Polio, Campak dan Hepatitis B dan pada tahun 2008, desa yang telah mencapai Universal Child Immunization (UCI) baru 68,3 persen dari 65.781 desa dan setelah program akselerasi dijalankan tahun 2010 mencapai 75,3 persen dari 75.990 desa.

"Walaupun semakin banyak desa yang telah mencapai UCI, tetapi masih ada desa yang merupakan kantong yang rentan terhadap penyakit," kata Tjandra.

Untuk kasus campak, Indonesia telah berhasil mereduksi penyakit campak dari lebih dari 180.000 kasus di tahun 1990 menjadi sekitar 20.000 kasus di tahun 2010, dan menurunkan angka kematiannya sebesar 90 persen.

Adapun untuk kasus polio, Indonesia sudah tidak ada lagi kasus dalam beberapa tahun terakhir, walau ancaman dari luar negeri disebut Tjandra masih tetap ada, yaitu beberapa negara di dunia masih melaporkan adanya virus polio liar.

Sebagai antisipasi bagi penyakit menular yang bisa dicegah lewat vaksinasi itu, sejak tahun 2009 Kementerian Kesehatan melakukan kampanye imunisasi tambahan dalam tiga tahap mulai 2009-2011 dimana tahap ketiga atau terakhir akan dilaksanakan di 17 propinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, Lampung, Papua, serta seluruh provinsi di Kalimantan dan Sulawesi.

Kampanye tahun 2011 dimulai pada tanggal 18 Oktober 2011 dan berlangsung selama satu bulan yang akan memberikan imunisasi kepada seluruh Balita di 17 provinsi tersebut dengan jumlah anak yang harus mendapatkan campak (umur 9 bulan sampai dengan kurang 5 tahun) sebanyak 14 juta orang dan polio (umur 0 sampai kurang 5 tahun) sebanyak 16,5 juta orang.

Dengan banyaknya kasus wabah penyakit menular tersebut, Menkes menyatakan, sejak 2012 akan memprioritaskan upaya promotif preventif sebagai pencegahan antara lain dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk mengurangi jumlah korban.

Upaya promotif preventif memang merupakan tindakan yang lebih efektif daripada sekadar kuratif (penyembuhan) karena selain dapat mengurangi jumlah korban, tindakan preventif juga meningkatkan produktivitas masyarakat secara umum, tidak perlu terganggu dan menderita karena penyakit. (antaranews.com)

Seluruh RS Harus Terima Jamkesmas

Menteri Kesehatan RI, Endang Rahayu Sedyaningsih meminta seluruh rumah sakit (RS) di Indonesia, baik milik pemerintah maupun swasta, menerima pasien Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Pasalnya, belum semua rumah sakit pemerintah maupun swasta menerima pasien Jamkesmas untuk ditempatkan di kelas tiga.

"Di Jabar pun belum ada rumah sakit swasta yang menerima pasien Jamkesmas. Kalaupun ada jumlahnya baru setangahnya, dan itu pun kelas tiga," ungkap Menkes kepada wartawan usai pembukaan Sosialisasi Kesiapan Jabar Menuju Universal Coverage Insurance Melalui KTP Berasuransi Kesehatan Serta Pencanangan dan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Jamkesmas di Hotel Savoy Homann, Jln. Asia Afrika Bandung, Rabu (28/12).

Ia menyebutkan, dari 1.874 RS di Indonesia dengan 100.114 tempat tidur, baru 1.080 RS yang sudah menerima Jamkesmas. Sisanya sekitar 800 RS, yang umumnya RS swasta, belum menerima Jamkesmas. Karena itu, lanjutnya, Menkes akan menaikkan jumlah kelas tiga sebagai syarat di RS swasta.

Pada kesempatan itu, Menkes pun mengapresiasi Pemprov Jabar yang telah mencanangkan universal coverage (jaminan kesehatan semesta) yang pertama kali di Indonesia melalui kartu tanda penduduk (KTP). "Tentunya apa yang dicanangkan Pemprov Jabar ini akan diikuti daerah lainnya di Indonesia," tandasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Jabar, dr. Alma Lucyati mengatakan, KTP berasuransi ini adalah nama lain dari universal coverage inssurance dan baru melayani masyarakat yang memiliki Jamkesmas, Jamkesda dan jamisan kesehatan lainnya melalui sistem yang sama sehingga bisa dipertanggungjawabkan dan bermutu. (klik-galamedia.com)

Pemkab Indramayu Tingkatkan Kesehatan Ibu Hamil

Pemerintah Kabupaten Indramayu berupaya meningkatkan kesehatan ibu-ibu yang sedang hamil. Program ini sekaligus untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi dalam persalinan.

Program Pemkab Indramayu yang dipimpin Bupati Hj Anna Sophanah dicanangkan lewat Gerakan Sayang Ibu di pendopo Raden Bagus Arya Wiralodra, Pemkab Indramayu.

Selain itu juga dilakukan di seluruh puskesmas, puskesmas pembantu, posyandu atau puskesdes (pusat kesehatan desa) se-Kabupaten Indramayu.

Program ini terselenggara berkat kerja sama antara Dinas Kesehatan setempat, Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Persatuan Persalinan Perawat Indonesia (PPNI), dan Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI).

Hal itu diungkapkan oleh Kabid Promosi Kesehatan dan Peningkatan Lingkungan Dinas Kesehatan Indramayu, dr HA Zaenal Arifin, ketika dikonfirmasi Suara Karya di halaman pendopo Indramayu beberapa hari lalu.

"Kegiatan Gerakan Sayang Ibu ini dilaksanakan selama sebulan. Pemeriksaan terhadap ibu-ibu hamil diberikan secara gratis. Persalinan ibu hamil juga bisa ditolong oleh tenaga kesehatan yang ada," kata Zaenal Arifin.

Pembiayaan persalinan itu diberikan melalui program jaminan kesehatan persalinan (Jampersal) lewat anggaran pusat (APBN tahun 2011). Pembiayaan program itu juga didukung anggaran APBD Kabupaten Indramayu untuk mendukung pelayanan kesehatan di masing-masing puskesmas dengan persalinannya. (suarakarya-online.com)

Surat Keterangan Akreditasi FKM UNDIP

Bagi teman-teman yang membutuhkan informasi tentang Akreditasi FKM UNDIP... Silahkan download file di bawah ini... file sudah saya perb...

Find Us on Facebook

Blog Archives

Do Before You Die

Do Before You Die

Visitors


pinjaman utang