journey healthy future

Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Kerja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Kerja. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 November 2018

Diabetes Hantui Kaum Pekerja Indonesia

Diabetes tipe dua mulai menghantui para pekerja di Indonesia. Penyakit kronis ini bahkan sudah menyerang usia produktif atau kaum pekerja, yang ditandai dengan semakin mudanya umur pengidap.

Menurut ahli yang kerap menangani diabetes menyatakan banyak mendapati kaum pekerja usia produktif yang mengidap diabetes. Penyakit ini ditandai dengan tingginya gula darah atau di atas 125 mg/dL. Jika sudah terkena diabetes, penyakit ini tak bisa disembuhkan dan dapat menimpulkan komplikasi di bagian tubuh lain.
"Usia penderita diabetes tipe dua sudah semakin muda. Sebelumnya terjadi pada orang dewasa. Namun, beberapa tahun terakhir makin banyak ditemukan pada usia dewasa muda atau 30 tahunan," kata Kepala Divisi Metabolik Endokrin Departemen Penyakit Dalam RSCM-FKUI Dante Saksono dalam peringatan Hari Diabetes Sedunia yang digelar Tropicana Slim di Jakarta, Minggu (11/11).

Temuan yang sama juga disampaikan dokter spesialis penyakit dalam Suharko Soebardi. Menurutnya, faktor gaya hidup dan lingkungan yang tidak sehat di kalangan para pekerja membuat penyakit diabetes semakin cepat berkembang.

"Risiko yang besar memang di atas usia 40 tahun. Tapi faktanya di klinik atau rumah sakit sudah kami temui di bawah usia tersebut," ucap Suharko.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang baru saja dirilis menunjukkan prevalensi penyandang diabetes naik menjadi 8,5 persen dari 6,9 persen pada Riskesdas 2013. Di Jakarta, yang mayoritas merupakan kaum pekerja, prevalensi diabetes mencapai 12,8 persen. Artinya, satu dari delapan orang di Jakarta merupakan penderita diabetes.

Dante menjelaskan rutinitas pekerja yang bekerja dari pagi hingga malam membuat mereka cenderung melupakan hidup sehat seperti berolahraga dan juga makan-makanan dengan gizi yang berimbang. Kurang berolahraga dan kelebihan berat badan merupakan salah satu faktor risiko yang menyebabkan diabetes.

"Yang paling susah di Jakarta itu olahraga karena jalanan macet, pergi harus pagi dan pulang malam. Tapi, ini harus segera diantisipasi," ucap Dante.

Dante menyarankan agar kaum pekerja lebih banyak melakukan aktivitas fisik dan berolahraga agar dapat mengurangi risiko diabetes. Aktivitas fisik itu, kata Dante, dapat dimulai dengan sederhana seperti memperbanyak jalan kaki dan naik turun tangga. Risiko diabetes juga bisa diturunkan dengan menerapkan pola makan yang sehat dan berimbang.

"Dimulai dengan memilih makanan yang sehat dan mempertahankan berat badan. Makanya, jangan malas untuk aktivitas," ujar Dante.

Selain gaya hidup tidak sehat, risiko diabetes juga meningkat pada orang yang memiliki garis keturunan diabetes, obesitas, tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, dan merokok.

"Itu semua faktor risko, sehingga mereka yang punya faktor risiko yang banyak lebih besar kemungkinannya terkena diabetes," ujar Suharko. 

Dokter di RSCM ini menyarankan untuk menghindari atau mengurangi faktor risiko tersebut agar terhindar dari diabetes. Hari Diabetes Sedunia diperingati setiap 14 November. CNN Indonesia

Selasa, 09 Januari 2018

Mengapa Pekerjaan Bisa Menyebabkan Bunuh Diri?

Berita bunuh diri, kembali membuat heboh media Senin, 8 Januari 2018. Disebutkan juga bahwa korban diduga stres karena tekanan pekerjaan.

Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Omni Hospital Tangerang, Andri, menyebutkan bahwa seorang yang bunuh diri gara-gara depresi, memang banyak, "Ini menjadi perhatian kita semua," katanya.

Dan Andri mengingatkan bahwa depresi yang menyebabkan bunuh diri, biasanya sudah berlangsung lama. "Gangguan jiwa yang sudah berlangsung lama ini biasanya sifatnya berat. Salah satu tandanya adalah ingin bunuh diri," katanya. Disebutkan juga bahwa keinginan bunuh diri itu biasanya sudah diungkapkan beberapa kali, "Tapi ada juga yang tidak diungkapkan, ini karena rasa malu," tambah Andri, Selasa 9 Januari 2018 .

Apa penyebab depresi? Andri menyebutkan bahwa biasanya pemicunya seolah-olah dari lingkungan saja. "Faktanya depresi ini juga bisa disebabkan oleh biologi, artinya ada faktor genetik bawaan yang membuat yang bersangkutan lebih mudah mengalami depresi. Juga faktor psikologi yang biasanya berhubungan dengan kondisi perkembangan dari masa kecil, remaja bahkan hingga dewasa. Artinya ada faktor pola asuh yang berhubungan dengan hal ini," katanya panjang lebar.

Faktor lingkungan yang disebabkan oleh pekerjaan, menurut Andri, sampai saat ini masih menjadi faktor pemicu yang sering menjadi penyebab masalah bunuh diri. "Dalam praktek saya juga sering muncul pasien yang karena pekerjaan mengalami gejala stres dan kemudian depresi, ada rasa tegang dan ketidaknyamanan dan pada akhirnya akan membuat depresi," katanya.

Karena banyaknya masalah depresi gara-gara tekanan pekerjaan ini, tak heran jika tema Hari Kesehatan Dunia pada 2017 adalah Kesehatan Jiwa ditempat Kerja (Mental Health in the Workplace).

Kesehatan mental di tempat kerja ini memang sangat penting, menurut Andri. "Mereka yang banyak mengalami stres atau depresi di tempat kerja ini tidak terdeteksi. Kenapa? Karena yang bersangkutan ketakutan, tidak bisa memberi tahukan pada perusahaan bahwa dia mengalami masalah kejiwaan," kata Andri.

Masalah kejiwaan ini sering dianggap sesuatu yang berasal dari dirinya sendiri. Memang betul, kata Andri, tapi masalah kejiwaan adalah masalah medis yang sebetulnya tidak berbeda dengan masalah medis fisik lainnya, hanya saja gejala dan tandanya adalah berupa pikiran, perasaan dan perilaku."Jadi orang yang mengalami gangguan kejiwaan itu sebetulnya tidak berbeda dengan masalah medis fisik," kata Andri serius.

Ironisnya, asuransi kesehatan tidak semua meliputi masalah kejiwaan. Sampai sekarang juga banyak karyawan berobat ke dokter jiwa secara diam-diam. "Mereka khawatir dipertanyakan, takut dipecat, dan khawatir disebut lebay. Hal seperti ini seharusnya tidak terjadi, semoga di Indonesia semakin banyak yang sadar persoalan [masalah kejiwaan yang bisa berakibat bunuh diri] ini," katanya.tempo

Senin, 30 Oktober 2017

Berhentilah Mengabaikan Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Kamis (26/10/2017) pagi itu langit menjadi gelap di sekitar lokasi pabrik kembang api milik PT Panca Buana Cahaya Sukses di Desa Belimbing, Kosambi, Tangerang. Itu menyusul rentetan letusan yang berlangsung satu menit dan munculnya kobaran api. Sekitar pukul sembilan pagi, pabrik itu terbakar.

Ada 103 karyawan sedang bekerja ketika kebakaran melalap pabrik itu. Beberapa karyawan berhasil menyelamatkan diri dengan melewati pintu utama. Namun tidak semua karyawan bisa melakukannya karena kemudian pintu utama itu ikut terbakar juga.

Beberapa karyawan lain berhasil melompati tembok setinggi 3 meter untuk menyelamatkan diri. Karyawan yang tidak dapat melompati dinding itu, yang jumlahnya lebih banyak lagi, tertahan di dalam berteriak-teriak minta tolong. Untuk mengeluarkan mereka, warga sekitar berinisiatif menjebol dinding pabrik. Tidak semuanya lolos dari kobaran api.

Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kabupaten Tangerang mengerahkan 10 unit mobil pemadam kebakaran untuk mengatasi kobaran api di pabrik itu. Karena lokasi mudah dijangkau, proses pemadaman api berlangsung nyaris tanpa hambatan. Api berhasil dipadamkan menjelang tengah hari.

Polisi menyatakan, kebakaran tersebut dipicu oleh bunga api yang berasal dari las. Pada hari terjadinya kebakaran itu ada penggunaan las dalam proses pembuatan atap di pabrik itu. Subarna, si tukang las, telah ditetapkan sebagai salah satu tersangka dalam kasus ini.

Selain si tukang las, tersangka lain adalah pemilik pabrik bernama Indra Liyono dan direktur operasional perusahaan kembang api itu yang bernama Andri Hartanto.

Sampai Senin (30/10) kemarin, polisi menyatakan, korban meninggal berjumlah 49 orang. Salah satu dari korban meninggal itu adalah Surnah, pekerja yang masih berusia 14 tahun. Dua belas orang lainnya masih dirawat di rumah sakit.

Korban peristiwa ini sungguh banyak. Peristiwa ini perlu didalami oleh banyak pihak terkait. Bukan sekadar untuk menemukan pihak yang harus menjadi tersangka, pendalaman itu diperlukan untuk melihat persoalan-persoalan yang terkait dengan peristiwa tersebut.

Perihal perizinan, misal. Menurut Bupati Tangerang, Ahmed Zaki Iskandar, tidak ada masalah dengan perizinan. Pabrik tersebut legal dari sisi itu. Meski demikian, Ahmed Zaki menyatakan akan mencabut izin tersebut karena -terungkap setelah peristiwa kebakaran tersebut- ada sejumlah pelanggaran dilakukan oleh perusahaan tersebut.

Yang harus dicatat, izin yang dimintakan oleh perusahaan pembuat kembang api itu adalah usaha industri alat permainan anak-anak. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Banten malah mengaku bingung apakah pabrik kembang api itu tergolong industri alat permainan anak-anak.

Selain itu, daerah Kosambi -tempat kebakaran itu terjadi- merupakan kawasan gudang dan pabrik, sebuah kawasan industri. Padahal, seperti yang dilaporkan oleh Kompas, kawasan tersebut nyaris menempel dengan perkampungan yang sudah ada terlebih dulu sebelum kawasan industri itu terbentuk. Beberapa peristiwa kebakaran yang pernah terjadi di kawasan itu, membuat warga di perkampungan menjadi cemas.

Dengan fakta-fakta itu, patutlah untuk mempertanyakan penataan kawasan tersebut dan pengawasan kegiatan industri di kawasan tersebut. Bagaimana bisa industri yang melibatkan bahan-bahan yang mudah terbakar, misal, begitu dekat dengan perkampungan penduduk? Apakah tidak ada pengawasan yang memadai sehingga perusahaan yang meminta izin industri alat permainan anak bisa menjalankan industri yang melibatkan bahan yang berbahaya?

Sudah seharusnya pemerintah daerah maupun pemerintah pusat tidak semata-mata menyandarkan diri kepada informasi dokumen saja. Pengawasan nyata harus dilakukan untuk memastikan akurasi informasi yang berada dalam dokumen dengan kenyataan di lapangan.

Atas kejadian kebakaran ini, Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Tangerang berkilah bahwa pengawasan sudah menjadi kewenangan Dinas Tenaga Kerja Provinsi. Lalu, apakah pemerintah daerah provinsi mempunyai tangan yang cukup untuk melakukan pengawasan itu?

Pengawasan itu terutama sekali untuk memastikan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) di setiap tempat kerja; apalagi jika tempat kerja itu menyimpan bahan baku yang berbahaya. Dalam kunjungannya ke lokasi kebakaran, Menteri Tenaga Kerja Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Hanif Dhakiri melihat K3 di pabrik tersebut diabaikan.

Tempat terjadinya kebakaran, menurut Hanif, lebih menyerupai gudang ketimbang pabrik. Tidak ada jalur evakuasi. Padahal pabrik tersebut menggunakan bahan berbahaya, yang standard operating procedure-nya menuntut sarana dan prasarana yang khusus -yang tak tersedia di situ.

Tentang kesehatan dan keselamatan kerja, sudah cukup banyak regulasi yang mengaturnya. Kita mempunyai Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, yang mengatur secara cukup rinci tentang kewajiban pengelola tempat kerja serta hak dan kewajiban pekerja.

Kita juga mempunyai Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang mengatur secara khusus perihal kesehatan kerja dalam Bab XII. Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan juga dengan jelas menegaskan keselamatan dan kesehatan kerja sebagai hak pekerja.

Belum lagi, ada sejumlah Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri, Keputusan Menteri, dan Instruksi Menteri yang terkait dengan K3 tersebut.

Pekerja harus meminta haknya itu. Pengusaha harus memenuhi kewajiban itu. Pemerintah harus mengawasi pelaksanaannya. Untuk penggunaan bahan-berhaya, seperti yang dipakai oleh pabrik kembang api itu, polisi juga sudah seharusnya ikut mengawasi.

Berhentilah mengabaikan keselamatan dan kesehatan kerja. Jangan sampai jatuh korban lagi. sumber:beritagar.id

Kamis, 26 Oktober 2017

Pemilik Pabrik Mercon yang Meledak Diduga Langgar Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri menduga pemilik pabrik mercon PT Panca Buana Cahaya Sukses (PBCS) melanggar Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) sebagaimana telah diatur dalam Undang-Undang tentang Ketenagakerjaan No 13 tahun 2003. Akibatnya, ledakan dan kebakaran di gudang petasan itu menyebabkan sedikitnya 47 karyawan meninggal dan 46 terluka. 

"Kalau memperhatikan dahsyatnya kejadian serta banyak korban meninggal dan luka karena tak dapat menyelamatkan diri, diduga kuat ada pelanggaran keselamatan dan kesehatan kerja. Kasus ini harus diusut tuntas," kata Hanif di Jakarta, Kamis (26/10/2017).

Lantaran itu, Menteri Hanif mengaku telah menginstruksikan kepada jajarannya untuk mengusut tuntas kasus kecelakaan kerja tersebut. Ia telah menginstruksikan kepada Dirjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PPK dan K3), Sugeng Priyanto, untuk melakukan pengusutan hingga tuntas.

Menurut Hanif, berdasarkan temuan di lapangan kondisi pintu gerbang pabrik selalu terkunci. Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut tidak memiliki SMK3. Salah satu butir aturan tersebut berisi tentang ketentuan perusahaan harus mampu menanggulangi kebakaran serta menyediakan akses jika terjadi kondisi kegawatdaruratan.

"Jika memang terjadi pelanggaran K3, pihak perusahaan harus bertanggung jawab dan dikenai sanksi," tegas Hanif.

Hanif juga menyampaikan, pemerintah akan menjamin terlaksananya pemberian hak-hak korban, baik hak bagi ahli waris pekerja yang meninggal, hak pengobatan bagi korban terluka, serta hak-hak lainnya.

Sementara itu, Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar menduga pimpinan PT PBCS telah melanggar UU Ketenagakerjaan karena memperkerjakan anak. Hal ini ia ketahui setelah mengunjungi tujuh korban luka bakar yang dirawat di RSUD Kabupaten Tangerang. Dari tujuh korban, ada diantaranya masih anak-anak berusia 15 tahun bernama Siti Fatimah.

"Sudah dianggap menyalahi Undang-Undang tentang Ketenagakerjaan No. 13 tahun 2003," kata Ahmed.

Lantaran itu Ahmed berencana memanggil pimpinan PT PBCS untuk dimintai klarifikasi mengenai kejadian ini.

Namun menurut pihak kepolisian, pemilik pabrik mercon, Indra Liyono selaku pemilik pemilik PT PBCS kini tengah berada di Malaysia. Menurut Kapolres Metro Tangerang Kota Komisaris Besar Polisi Harry Kurniawan, polisi akan memeriksa Indra terkait izin usahanya jika sudah kembali ke Indonesia.

"Kami akan klarifikasi mengenai izin usahanya," kata Harry. sumber:tirto.id

Sabtu, 07 Oktober 2017

Pekerja Tak Pernah Cuti, Ini Risikonya Bagi Kesehatan Mental

Sisa berapa cuti tahunan Anda? Gunakan secepatnya dan jangan sampai hangus jika tak ingin mengalami masalah kesehatan mental ini.

Sebuah riset yang dipublikasikan di American Journal of Orthopsychiatry menyebut pekerja yang tak pernah mengambil cuti berisiko 1,45 kali lebih besar mengalami masalah mental. Masalah mental yang dialami pun beragam, mulai dari stres, insomnia, hingga cemas dan depresi.

Penelitian dilakukan oleh LeaAnne DeRigne dari Florida Atlantic University kepada 17.897 partisipan dewasa. Mereka diminta melaporkan jam kerja harian, pendapatan, jatah cuti, dan jumlah cuti yang diambil, lalu dibandingkan dengan laporan kesehatannya.

"Masalah mental yang dialami pekerja mungkin terlihat sepele. Namun jika dibiarkan, hal ini bisa mengganggu kehidupan mereka, yang nantinya membuat produktivitas menurun dan merugikan perusahaan," tutur DeRigne, dikutip dari Huffington Post.

Peneliti juga menyebut pekerja tak mengambil cuti karena berbagai alasan. Tak ingin kehilangan uang harian dan stigma buruk soal pekerja yang cuti di kantor merupakan dua alasan utama mengapa pekerja enggan mengambil cuti.

Secara terpisah, dr Andri, SpKJ, FAPM dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera mengatakan stres karena pekerjaan bisa muncul kapan saja. Cara pertama untuk menghilangkan stres karena tekanan pekerjaan adalah dengan mengambil cuti. 

Cuti bisa digunakan untuk pergi liburan atau istirahat di rumah bersama keluarga. Cara lainnya untuk mengurangi stres pekerja adalah perusahaan mau memberikan apresiasi terhadap karyawan yang sudah bekerja dengan giat.

"Nah, dengan memberi penghargaan, misalnya dengan lemburnya dibayar atau diberi bonus, akan membuat karyawan lebih termotivasi bekerja dan merasa dihargai. Jadinya dia nggak gampang kecewa yang jika ditambah tekanan bisa menyebabkan depresi," tutur dr Andri.detik

Kemenkes: Pekerja Sehat Modal Keluarga Bahagia

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang akan jatuh pada 10 Oktober mendatang memiliki pesan penting soal pekerja. Pasalnya tema yang diangkat tahun ini adalah Kesehatan Jiwa di Tempat Kerja.

Direktur Pencegahan & Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa & Napza, Kementerian Kesehatan RI, Dr dr Fidiansjah, SpKJ, MPH, mengatakan berbicara soal kesehatan tidak bisa dilepaskan dari kesehatan jiwa. Sebabnya aspek fisik dan mental pada kesehatan sangat berhubungan erat.

"Pekerja sehat adalah modal keluarga bahagia. Pribadi yang sehat terbina dari jiwa yang sehat. Karena itu penting bagi pekerja untuk tetap sehat agar keluarga bahagia," tutur dr Fidi, dalam temu media di Kementerian Kesehatan, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (5/10/2017).

Dijelaskan dr Fidi, pekerja yang sakit tidak akan bisa menghidupi keluarga. Sama saja dengan pekerja yang sehat namun keluarganya sakit, yang akan menambah beban keluarga.

"Yang bahaya lagi pekerjanya sakit, keluarga sakit juga. Inilah nantinya yang bisa menimbulkan bencana keluarga," terangnya lagi.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Pengurus Pusat Persatuan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PP-PDSKJI), dr Eka Viora, SpKJ, mengatakan bekerja sejatinya baik bagi kesehatan jiwa dibandingkan dengan menganggur. Dengan bekerja, seseorang bisa menjaga kesehatan jiwanya lebih baik.

Namun beberapa masalah seperti beban kerja berlebih, jam kerja yang panjang serta hubungan dengan rekan kerja yang buruk malah bisa membuat masalah bagi kesehatan jiwa. 

"Karena itu masalah kesehatan jiwa tidak boleh disepelekan. Pekerja juga harus sehat, dengan memerhatikan masalah kesehatan mental di lingkungan kerja," tutupnya.detik

Selasa, 05 Mei 2015

Perlu Tahu, Zat Penyebab Kanker Paru di Tempat Kerja

Rokok diketahui sebagai faktor risiko utama terjadinya kanker paru. Namun, selain rokok, pajanan atau paparan karsinogen (zat yang menyebabkan kanker) di tempat kerja juga turut memberi andil.

Dijelaskan dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Persahabatan, Agus Dwi Susanto, bahan-bahan karsinogen di tempat kerja yang dapat menyebabkan kanker paru antara lain asbes, radon, arsenik, krom, silika, berilium, nikel kadmium, serta hasil pembakaran diesel.

"Polusi udara juga bisa menyebabkan kanker paru karena mengandung karsinogen," kata Agus dalam Pertemuan Ilmiah Berkala yang diadakan Badan Litbang Kesehatan Kementerian Kesehatan di Jakarta, Rabu (29/4).

Namun menurut Agus, bahan karsinogen di dalam asap rokok tetap menjadi faktor utama, apalagi bila pajanan karsinogen juga terjadi di tempat kerja.

"Orang yang merokok dan terpajan karsinogen di tempat kerja, risiko untuk kena kanker parunya sampai delapan kali lipat dibandingkan dengan yang hanya terpajan karsinogen di tempat kerja," papar Agus.*beritasatu

Senin, 14 Juli 2014

6 Bahaya Mengintai Saat Anda Nyandu Smartphone

Di era modern, ketergantungan terhadap smartphone atau telepon seluler (ponsel) makin besar. Bahkan saat lupa tidak membawanya, Anda bisa sangat cemas. Saat di dekatnya pun, sedikit-sedikit mengecek apakah ada pesan masuk atau tidak.

Disadari atau tidak smartphone membuat sebagian besar penggunanya kecanduan. Padahal, segala sesuatu yang berlebihan tidak baik. Berikut masalah kesehatan yang ditimbulkan gara-gara keasyikan ber-smartphone-ria seperti dikutip laman Cosmopolitan, Minggu (13/7/2014):

1. Text claw
Ini adalah istilah non medis yang menggambarkan kram jari dan nyeri otot gara-gara terlalu lama mengetik teks atau bermain game. Parahnya, bisa juga sampai membuat peradangan pada tendon.

2. Cell Phone Elbow
Pernah merasakan jemari kesemutan saat pegang smartphone? Itu tandanya Anda sudah terlalu lama memegangnya. Saat memegang smartphone pasti lengan ditekuk, hal ini membuat tegang otot-otot yang ada disekitarnya.

3. Text Neck
Saat mengetik maupun bermain di smartphone leher akan sedikit menunduk ke arah layar. Kecanduan smartphone membuat Anda terlalu lama dalam posisi ini. Akibatnya, mengganggu otot leher dan punggung Anda. Studi di Inggris menyebutkan, sekitar 84% anak muda di sana mengalami sakit punggung karena terlalu lama berinteraksi dengan smartphone, tablet, dan komputer.

4. Computer Vision Syndrome
Menatap layar smartphone maupun komputer dengan tulisan berukuran kecil menyebabkan mata lelah, pandangan kabur, dan mata kering.  Mark Rosenfield, O.D., Ph.D menyarankan agar memberi jarak dengan layar sekitar 16 inchi agar mata tak terlalu lelah.

5. Nomophobia
Kepanjangannya adalah no-mobile-phone-media, yaitu sebuah ketakutan atau kecemasan ketika jauh dari smartphone. Sekitar 66% dari 1000 orang Inggris mengiyakan adanya ketakutan saat tak di dekat ponselnya.

6. Phantom Pocket Vibration Syndrome
Pernah merasa kesal karena saat melihat layar tak mendapati notifikasi sosial media maupun pesan WhatsApp? Selamat, Anda terkena sindrom ini. Seorang profesor di Universitas Indiana mendapatkan hasil bahwa sekitar 89% mahasiswanya mengalami kecemasan saat smartphone nya tidak bergetar sebagai indikator adanya pesan yang masuk.

Rabu, 31 Juli 2013

Kebiasaan Kerja Lembur Tidak Baik untuk Kesehatan

Fenomena kerja lembur sudah menjadi hal biasa terutama bagi para pekerja. Memang dari sisi pendapatan, pekerjaan lembur akan menghasilkan tambahan penghasilan. Namun, kalau ditilik dari risiko yang dihadapi pelakunya, kerja lembur yang dilakukan secara rutin justru tidak baik bagi kesehatan.


Konsekuensi kesehatan yang mesti dihadapi saat bekerja lebih dari 8 jam ini patut diwaspadai. Dikutip dari She Knows, manusia memiliki keterbatasan saat dirinya diajak tetap aktif bekerja lebih dari 8 jam. Ada empat efek yang sangat mungkin dialami oleh pekerja lembur, yaitu:

  1. Mereka yang bekerja lebih dari 10 jam sehari berpeluang 60 persen lebih tinggi untuk mengalami serangan jantung. Bahkan, serangan ini sifatnya tiba-tiba atau mendadak kejadiannya.
  2. Kerja lembur menyita waktu seseorang untuk memenuhi kebutuhan tidur antara 6-8 jam. Padahal, efek kurang tidur itu patut untuk diperhatikan. Beberapa di antaranya yaitu meningkatan risiko diabetes, obesitas, stroke, hingga serangan jantung.
  3. Biasanya pelaku kerja lembur lebih mudah terserang cemas, frustrasi, dan kurang sabar.
  4. Pelakunya juga lebih mungkin mengalami stres yang sifatnya adiktif, atau menjadi kebiasaan. Banyak akibat yang buruk bagi kesehatan saat seseorang kerap mengalami stres.

Para pekerja lembur diketahui pula kerap menerapkan gaya hidup tidak sehat untuk mengimbangi tuntutan pekerjaan. Mereka lebih suka makan fast food dan mengambil kafein dari minuman kopi yang dikonsumsi. Padahal, ketika seseorang mengalami tekanan dan mendapat pengaruh kafein, maka menjadikannya mudah marah. Selain itu sistem kekebalan tubuhnya melemah dan lebih mudah mengembangkan sikap-sikap yang negatif. Jika sudah parah dapat menimbulkan depresi.


Jika Anda termasuk orang yang tidak bisa lepas dari lingkungan kerja lembur, pastikan Anda memiliki “penyeimbang”. Penyeimbang ini meliputi aktivitas-aktivitas untuk meredam stres dan memberikan tubuh nutrisi yang lebih baik. Atur pekerjaan agar Anda dapat meminimalkan adanya lembur demi memberikan tubuh untuk beristirahat. Atur waktu sebaik-baiknya dan terapkan gaya hidup sehat.

Referensi :
http://sidomi.com/205258/kebiasaan-kerja-lembur-tidak-baik-untuk-kesehatan/

Kamis, 20 Juni 2013

Kesehatan Tidur untuk Performa Kerja

Kita sudah tahu bagaimana kurang tidur dapat memengaruhi performa kerja di siang hari. Konsentrasi yang berkurang, lamban serta ceroboh adalah tanda-tanda kantuk yang masih diabaikan para pekerja.

Di era 24 jam ini, tidur adalah kebutuhan biologis yang paling sering dikorbankan atas nama produktivitas. Tanpa disadari bahwa kurang tidur justru dapat mengurangi performa seseorang. Karena ketika tidur, kita diam tak bergerak bukan berarti tidak produktif. Justru tubuh sangat aktif membangun kesehatan, daya tahan tubuh dan kemampuan otak.

Kondisi emosi juga dijaga saat tidur. Saat lelah, seseorang cenderung lebih memperhatikan kepentingan dirinya sendiri tanpa memperhatikan masukan dari sekelilingnya. Tak heran jika kondisi kurang tidur juga mengganggu proses kerja tim serta mendorong terjadinya tindakan kurang etis di lingkungan kerja.

Tidur dan Stres
Ketika sedang stres karena tekanan pekerjaan, siapa pun menjadi sulit tidur. Tapi bukan itu saja, kondisi kurang tidur juga menyebabkan seseorang menjadi mudah stres. Kesehatan tidur dan stres saling memengaruhi seolah menjadi lingkaran setan. Sebuah penelitian mengingatkan bahwa terjaga selama 24 jam akan meningkatkan hormon stres secara signifikan.

Kesibukan di siang hari sering kali mengganggu tidur kita di malam hari. Stres di pekerjaan maupun macet perjalanan meninggalkan ketegangan yang harus kita turunkan sebelum naik ke tempat tidur. Kantuk akan jadi percuma jika kita masih terlalu tegang untuk tidur. Akibatnya, kita hanya memejamkan mata di tempat tidur tanpa bisa terlelap.

Turunkan dulu ketegangan dengan menyenangkan diri sebelum tidur. Sekedar membaca atau mendengarkan musik akan membantu suasana hati lebih rileks.

Pekerjaan 24/7

Bekerja dua puluh empat jam sehari dan tujuh hari seminggu belum tentu produktif. Walau ditopang dengan stimulan semacam kafein atau nikotin, otak yang lelah tetap tak terbantu. Sampai saat ini, belum ada satu zat pun yang dapat menggantikan proses restoratif tidur. Stimulan hanyalah penunda kantuk.

Terkoneksi 24 jam dengan internet sebenarnya membantu waktu kerja kita jadi lebih fleksibel. Tetapi, banyak orang justru tak dapat berhenti bekerja walau sudah meninggalkan kantor. Seolah organ tubuh dan smartphone sudah menyatu, menjadi bagian dari diri kita. Sebuah survei di AS menyatakan bahwa 72 persen pekerja tidur dengan smartphone menyala di sisinya. Bahkan 45 persen;nya masih menjawab e-mail sebelum jatuh tidur.

Parahnya, para pemimpin justru menghargai para pekerja yang masih mengirimkan e-mail di dini hari. Sikap yang justru berbahaya. Kemampuan untuk menganalisa dan mengambil keputusan di saat mengantuk tidaklah baik, bahkan buruk. Setiap keputusan penting yang diambil di saat mengantuk layak diragukan. Bill Clinton mengaku bahwa setiap kesalahan yang ia lakukan, selalu dilakukan saat lelah.

Kantuk Turunkan Kreativitas
Pekerja yang mengantuk sulit untuk kreatif. Sebuah penelitian di tahun 1999 melihat bagaimana kurang tidur dapat mengganggu kemampuan mengambil keputusan dan menerima masukan. Penelitian belakangan bahkan melihat bagaimana terjaga selama 24 jam dapat mengganggu fungsi bagian korteks prefrontal pada otak, bagian yang mengontrol kreativitas, kontrol diri dan cara berpikir yang inovatif.

Bagi perusahan di bidang kreatif atau yang membutuhkan pikiran-pikiran "out of the box" dari para karyawannya, kesehatan tidur jadi amat penting. Mengabaikan kesehatan tidur sama dengan menurunkan kreativitas dan menurunkan mutu karya.

Kafein dan Produktivitas
Benarkah kafein dan minuman penambah energi dapat meningkatkan produktivitas? Mungkin saja. Tetapi mengabaikan tidur lalu menopang keterjagaan dengan kafein bukanlah jawaban yang tepat. Stimulan, baik itu dalam bentuk minuman maupun suplementasi makanan hanya akan menunda kantuk. Otak yang lelah tetap akan lelah. Pemikiran yang sempit dan lamban tetap akan lamban.

Kafein di lingkungan kerja mungkin sudah dianggap biasa. Tetapi konsumsi secara membabi buta tidaklah bijak. Prioritaskan tidur yang sehat terlebih dahulu, di saat tertentu baru konsumsi kafein atau minuman penambah energi.

Jam Biologis dan Produktivitas
Di dalam otak kita tertanam jam yang mengatur ritme tubuh. Mulai dari waktu lapar, buang air, hingga kantuk dan bugar. Selain tidur yang cukup dan berkualitas, baik juga kita kenali ritme jam biologis untuk tingkatkan produktivitas.

Kenali jam biologis lalu sesuaikan ritme kerja agar produktif.

 -    Sesampai di tempat kerja, karena masih pagi dan belum ada tugas penting yang harus dikerjakan silahkan menikmati aroma kafein. Kafein baru akan bekerja setelah 30 menit dikonsumsi. Jadi, jangan saat sudah mengantuk baru minum kopi, percuma.

-    Pagi hari jam 8 bukan waktu yang baik bagi kebanyakan pekerja dewasa muda untuk memulai dengan pekerjaan yang berat dan terlalu serius. Manfaatkan untuk mengatur jadwal dan tugas-tugas.

-    Mendekati jam 9:00 kebugaran mulai menghampiri. Bagi kantor dengan banyak pekerja usia dewasa muda, ini waktu yang tepat untuk memulai briefing pagi. Apalagi di bidang kreatif. Ide-ide inovatif akan dengan mudah dan lancar dikeluarkan.

-    Jam makan siang biasanya kita punya waktu satu jam untuk beristirahat. Gunakan waktu ini untuk menikmati "power nap". Setelah makan siang, bersandar santai di kursi, tutup mata dengarkan lagu lembut dan nikmati tidur siang selama 15-20 menit. Dengan demikian, kita mendapatkan segala manfaat tidur, hingga lebih produktif saat bangun.

-    Rapat-rapat penting setelah jam makan siang di jam 14.00-15.00 adalah yang paling melelahkan. Jam biologis kita sedang berada di titik rendah. Beban kantuk sedang kuat-kuatnya. Emosi juga jadi sulit dikontrol.

-    Mendekati jam pulang, dengan stres tinggi dan ketegangan menghadapi macet, ada baiknya jika bersantai sejenak dengan ber-social media atau sekedar duduk main game. Berkumpul dengan teman-teman di kafe sambil menunggu macet biasanya menjadi pilihan paling enak. Tapi sadari juga bahwa kafein dapat bekerja selama 12 jam. Pilihlah minuman dengan kadar kafein rendah atau lebih baik lagi tak mengandung kafein sama sekali.

-    Dengan waktu yang serba mepet. Sore hingga malam adalah waktu yang tersisa untuk berolahraga. Olahraga sangat penting bagi kesehatan. Tetapi olah raga yang baik juga memerhatikan ritme biologis. Jarak selesai berolah raga dan tidur disarankan 3 jam. Olahraga memang menyenangkan dan membuat tubuh lelah. Tetapi, banyak jenis olahraga yang justru meningkatkan adrenalin hingga justru menyegarkan otak. Pilih olah raga yang santai dan tidak kompetitif. Berenang atau jogging ringan sekitar rumah misalnya.

Referensi:
http://health.kompas.com/read/2013/06/02/10172029/Kesehatan.Tidur.untuk.Performa.Kerja

Rabu, 05 September 2012

Bahaya Kerja Shift Malam Bagi Jantung

Apakah kantor Anda memberlakukan kerja shift? Sebuah studi mengungkap bahwa bekerja dengan sistem shift berpotensi meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.

Dikutip Daily Mail, studi yang dipublikasikan di situs Jurnal Kesehatan Inggris bmj.com itu memperingatkan bahwa mereka yang terbiasa kerja dengan sistem shift memiliki risiko 41 persen mengalami penyakit jantung dan stroke.

Mereka umumnya juga rentan mengembangkan perilaku tidak sehat seperti konsumsi junk food, pola tidur buruk, dan malas berolahraga. Yang semua itu terkait dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan kardiovaskuler.

Studi dilakukan dengan menganalisis hasil 34 penelitian terdahulu yang melibatkan 2.011.935 responden, yang terbiasa berkerja dengan sistem shift. Hampir 25 persen di antaranya mulai memperlihatkan gejala mengembangkan dua penyakit kronis tersebut.

Studi sengaja dilakukan untuk memperjelas efek buruk kerja shift terhadap kesehatan kardiovaskuler secara keseluruhan. Menyempurnakan studi terdahulu yang menyebut kerja shift berpotensi merusak jam biologis: memicu tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan diabetes.

Yang masuk kategori kerja shift adalah mereka yang memiliki jadwal kerja malam, jadwal kerja shift yang tidak teratur, serta jadwal shift rotasi malam dan siang. Yang menjadi pembanding adalah mereka yang memiliki jadwal kerja normal dari pagi hingga sore.

Daniel Hackam, farmakolog Klinis dari Pusat Penelitian Pencegahan Stroke & Atherosclerosis (SPARC), London, Inggris, dan Ontario, Kanada, mengatakan, studi ini hendaknya menjadi peringatan bagi mereka yang terbiasa bekerja dengan sistem shift untuk lebih peduli dengan kesehatan.

"Pekerja dengan sistem shift sebaiknya harus lebih memahami tentang gejala-gejala penyakit kardiovaskular sebagai upaya pencegahan dini, selain tentunya harus lebih rajin melakukan pemeriksaan kesehatan rutin," ujar Hackam.


Referensi:
http://us.life.viva.co.id/news/read/339263-bahaya-kerja-shift-malam-bagi-jantung


Download artikel tersebut KLIK DISINI AJA,,,,

Senin, 14 Mei 2012

Langkah Atasi Stres di Tempat Kerja

Siapa yang tidak pernah stres????,,, saya yakin tidak ada seoranpun didunia ini yang tidak pernah mengalami stress,,,,stres memang hal yang serius karena dapat menyebabkan sakit kepala, ketegangan otot, kelelahan, insomnia, kecemasan, gelisah, kurang motivasi, kurangnya fokus, depresi, kepekaan bahkan dapat mengganggu pola makan. Stres paling banyak dipicu oleh masalah pekerjaan dan lingkungan tempat kerja.

Saya bagikan 5 langkah yang dapat Anda lakukan untuk mengatasi stres di tempat kerja antara lain: 

1. Buat Sebuah Oasis 

Ketika terlalu banyak tugas memusingkan yang harus Anda kerjakan dengan komputer, mungkin Anda dapat mematikan sejenak layar komputer dengan mode ‘sleep’ agar pekerjaan Anda tetap tersimpan. 

Mengalihkan perhatian sejenak dari layar komputer akan baik untuk menghindarkan Anda dari stres. Hal ini akan memberikan sedikit waktu bagi mata dan otak untuk tidak tegang menghadapi tugas yang harus Anda selesaikan dengan komputer Anda. 

Tetapi hal ini mungkin dapat menggangu pekerjaan Anda jika jenis pekerjaan Anda mengharuskan untuk sering mengecek email. Jika demikian, alihkan perhatian Anda sejenak dengan mengarahkan pandangan ke jauh ke luar ruangan. 

2. Mengategorikan Pekerjaan 

Jika jenis pekerjaan Anda terdiri dari beberapa tugas-tugas tertentu, Anda dapat mengategorikan setiap tugas berdasarkan tingkat kesulitannya. 

Kerjakan tugas dari yang menurut Anda berat dan membutuhkan waktu yang lebih lama dalam pengerjaannya lebih awal. Karena ketika masih pagi, kemampuan otak dalam berpikir dalam keadaan optimal. 

Semakin siang, otak akan semakin lelah dan sulit untuk menyelesaikan hal-hal yang rumit. Simpanlah pekerjaan yang mudah di akhir, karena mendekati jam pulang kerja, Anda pasti ingin segera menyelesaikannya dan segera pulang. Tapi cara ini kurang efektif bagi pekerjaan yang menerapkan deadline bagi masing-masing tugasnya. 

3. Melakukan Negosiasi Beban Kerja 

Jika menurut Anda pekerjaan yang dibebankan oleh atasan Anda terlalu berat, Anda dapat melakukan negoisasi pekerjaan. Anda tidak perlu takut hal ini akan memberi efek yang buruk bagi karir Anda, asal alasan yang Anda sampaikan masuk akal dan disampaikan dengan cara yang benar. 

Terkadang melakukan pekerjaan di luar kapasitas dan kapabilitas seseorang akan tidak baik untuk kesehatan mental juga kan menghasilkan hasil yang tidak memuaskan. 

4. Batasi Membaca Berita 

Media berita mungkin dapat memberikan hiburan tersendiri bagi Anda di sela-sela tugas kantor yang rumit. Tapi terkadang berita-berita seperti bisnis dan politik kadang menyulut emosi-emosi yang hampir seluruhnya negatif, seperti kemarahan, ketakutan, kecemasan dan frustrasi. 

Jadi, setiap kali ada berita yang mulai membuat Anda kesal atau kecewa, beralihlah ke berita yang menghibur dan menyenangkan yang sifatnya lebih ringan. 

5. Hindari Rekan Kerja yang Stres 

Anda mungkin tidak menyadarinya, tetapi fisiologi Anda diprogram sebagai cermin fisiologi orang di sekitar Anda. Dengan kata lain, Anda dapat ‘menangkap’ stres yang dialami oleh orang lain. 

Jadi meskipun tidak mungkin untuk menghindari rekan kerja yang sedang stres sepanjang hari, Anda harus mencoba membatasi kontak dengannya setidaknya sampai Anda telah menaklukkan stres Anda sendiri.

Selasa, 24 April 2012

40 Persen Kecelakaan Kerja Terjadi di Jalan

Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) mengirimkan 13.751 orang ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) ke perusahaan-perusahaan di seluruh Indonesia. Ini bertujuan menekan angka kecelakaan kerja dan memperluas jangkauan pengawasan norma K3. Sehingga bisa mengurangi kecelakaan kerja yang pada tahun 2011 mencapai 99.491 kasus. 

Saat ini konsep keselamatan dan kesehatan kerja belum sepenuhnya dilaksanakan oleh manajemen perusahaan, pekerja/buruh maupun masyarakat. Maka tak heran jika kecelakaan kerja di Indonesia masih relatif tinggi. Untuk itu para pengusaha, manajemen perusahaan dan tenaga kerja, diharapkan mengambil inisiatif dan lebih serius dalam meningkatkan pelaksanaan K3 di tempat kerjanya masing-masing. 

Kecelakaan kerja yang terjadi masih didominasi oleh kecelakaan lalu lintas sebanyak 40 persen kasus terjadi pada saat pekerja berangkat dan pulang bekerja. Saat ini, masih banyak perusahaan kelas menengah dan kecil yang belum menyadari bahwa pelaksanaan K3 merupakan bagian dari investasi perusahaan yang wajib dilaksanakan. 

Dengan keterbatasan kemampuan perusahaan kecil-menengah, maka pemerintah berusaha mendorong agar perusahaan-perusahaan besar yang sudah maju penerapan K3-nya. Ini juga untuk melatih perusahan-perusahan menengah dan kecil dengan memanfaatkan program CSR yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan besar. 

Pada hakekatnya ahli K3 akan membimbing dan mengarahkan perusahaan-perusahaan agar dapat merubah perilaku pekerja menjadi berperilaku aman dan sehat, membentuk kondisi kerja aman, nyaman, tenaga kerja sehat dan produktif serta mencegah kecelakaan kerja sehingga menciptakan lingkungan kerja semakin harmonis. 

Dengan adanya kerja sama yang baik antara pengusaha dan pekerja dalam menerapkan K3 di lingkungan kerja diharapkan dapat menghindarkan tenaga kerja dari risiko kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja dan serta meningkatan mutu kerja dan produktivitas. 

So,,,bagi teman-teman alumni fkm minat K3 sudah seharusnya berkomitmen untuk menjadi ahli yang benar-benar ahli dalam bidang keselamatan dan kesehatan kerja, sehingga diharapkan lulusan FKM UNDIP minat K3 benar-benar bermanfaat setelah lulus sarjana,,,,

Jumat, 30 Maret 2012

10 Pekerjaan Terburuk untuk Paru-Paru

Banyak jenis pekerjaan yang cukup berisiko untuk kesehatan. Misalnya, banyak pekerja yang mengembangkan penyakit paru oleh karena lingkungan tempat kerja yang tidak sehat. Jika mengetahui penyebabnya, risiko penyakit paru pada para pekerja dapat dicegah atau setidaknya dapat menurunkan risiko.

Sebagian besar jenis penyakit paru akibat lingkungan kerja dapat dicegah. Tindakan pengendalian sederhana dapat secara nyata mengurangi paparan dan risiko.

Kira-kira pekerjaan apa saja yang memiliki risiko terhadapat penyakt paru?

Berikut 10 pekerjaan terburuk bagi kesehatan paru-paru pekerja :

1. Pekerja konstruksi
Pekerja yang menghirup debu pada pembongkaran atau renovasi bangunan dapat berisiko terkena kanker paru-paru, mesothelioma dan asbestosis.

Asbestosis merupakan penyakit yang menyebabkan jaringan parut di paru-paru. Pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan memakai alat pelindung, termasuk respirator saat bekerja di sekitar bangunan dan menghindari merokok.

2. Pekerja pabrik
Pekerja pabrik dapat terkena debu, bahan kimia, dan gas yang menempatkan pada risiko Chronic obstructive pulmonary disease (COPD).

3. Praktisi medis
Sekitar 8-12 orang yang sensitif terhadap residu bubuk yang ditemukan dalam sarung tangan lateks adalah praktisi medis.

Sensitifitas tersebut dapat menyebabkan reaksi asma tipe berat. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut adalah membatasi paparan bila memungkinkan.

4. Pekerja tekstil
Bisinosis, juga disebut brown lung disease, adalah umum di antara pekerja tekstil yang membuat jok, handuk, kaus kaki, seprei dan pakaian.

Pekerja dapat menghirup partikel yang dilepaskan dari kain katun atau bahan lainnya. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan memakai masker dan meningkatkan ventilasi di lingkungan kerja.

5. Bartender
Melayani minuman di ruangan penuh asap menempatkan bartender pada risiko tinggi untuk penyakit paru-paru. Terutama jika secara terpapar perokok pasif selama bertahun-tahun.

Saat ini, banyak negara yang melarang merokok di restoran dan bar. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan sistem ventilasi yang baik dalam lingkungan bar.

6. Pembuat kue
"Pembuat kue menempati bagian atas daftar pekerjaan yang menyebabkan asma, yang secara keseluruhan mencapai 15 persen kasus asma baru pada orang dewasa.

Pembuat kue yang terpapar debu tepung berisiko sangat signifikan mengembangkan sensitisasi alergi. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan ventilasi yang baik dan penggunaan masker pelindung," kata Dr Harber.

7. Industri otomotif
Asma dapat menjadi risiko kesehatan paru bagi pekerja dalam industri otomotif. Cat auto spray seperti isosianat dan produk poliuretan, dapat mengiritasi kulit, menyebabkan alergi dan menyebabkan sesak dada, dan kesulitan bernapas yang parah.

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan respirator, sarung tangan, kacamata, dan ventilasi yang memadai.

8. Pekerja angkutan
Supir truk, yang sering membongkar muatan barang di dermaga, dan pekerja industri kereta api dapat berisiko untuk COPD. Knalpot diesel adalah faktor terbesar.

Meskipun mesin sekarang memancarkan gas buang diesel yang lebih sedikit karena perkembangan teknologi, diesel knalpot masih tersebar luas. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah sedapat mungkin menghindari area knalpot diesel dan mengenakan masker pelindung.

9. Pekerja pertambangan
"Penambang berada pada risiko tinggi untuk sejumlah penyakit paru-paru, termasuk COPD, karena paparan debu," kata Dr Harber.

Silika di udara yang juga dikenal sebagai kuarsa dapat menyebabkan silikosis. Penambang batubara berisiko untuk jenis lain dari penyakit jaringan parut di paru yang disebut pneumokoniosis (paru-paru hitam). Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah tidak merokok dan menggunakan masker.

10. Pemadam kebakaran
Petugas pemadam kebakaran dapat menghirup asap dan berbagai bahan kimia yang mungkin ada dalam gedung atau rumah yang terbakar.

Meskipun perlengkapan pelindung pernapasan telah disediakan bagi pekerja, namun kadang tidak selalu dipakai. Paparan bahan beracun dan asbes adalah risiko bahkan setelah api berhasil dipadamkan. International Association of Firefighters telah merekomendasikan pemakaian alat pelindung pernapasan pada semua tahap pemadam kebakaran. (detik.com)

Jumat, 23 Desember 2011

Waspadai Stroke Saat Kerja

Rencana komedian Ade Namnung untuk segera kembali ke Ibu Kota pada Senin lalu batal. Pria bertubuh subur itu harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Mitra Keluarga di Darmo Satelit, Surabaya, karena terserang stroke ringan. Sehari sebelumnya, ia mengisi acara hiburan di Kota Malang. Nah, saat hendak kembali ke Jakarta melalui Bandara Juanda, Surabaya, ia mengeluh pusing dan sempat tak sadarkan diri.

Pengisi acara hiburan di sebuah stasiun televisi swasta dan presenter kocak ini sempat dilarikan ke RS Mitra Keluarga Waru, Sidoarjo. Namun, karena peralatan medis di rumah sakit ini tidak memadai, Ade dirujuk ke RS Mitra Keluarga Surabaya. Hasil pindai di rumah sakit ini menunjukkan bahwa Ade mengalami perdarahan di otak. “Serangan stroke terjadi mungkin karena Ade kecapekan,” kata ayah Ade, Raymon Papana, Selasa lalu.

Pusing, muntah, lalu pingsan juga sempat dialami oleh Eri Anugerah, 41 tahun. Saat kejadian, Sabtu pekan lalu, wartawan harian Media Indonesia ini sedang meliput Orientasi Pariwisata Ekonomi Kreatif yang diadakan di Pulau Umang, Banten. Panitia dan rekan wartawan lain yang berada di lokasi liputan sempat membawa Eri ke pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) terdekat. Lantaran dokter tak kunjung datang, Eri pun dibawa ke rumah sakit di Serang. Namun, di tengah perjalanan, ia mengembuskan napas terakhir. Eri diduga meninggal dunia akibat stroke.

“Stroke memang ditandai dengan defisit neurologis, dari baal (mati rasa), kesemutan, pusing sebelah, hingga penurunan kesadaran, yang disebut defisit neurologis global,” ujar Yoeswar Darisan, dokter spesialis saraf dari RS Palang Merah Indonesia (PMI) Bogor, Sabtu pekan lalu.

Menurut Ketua Umum Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) ini, setiap saat semua orang bisa terkena stroke. Bahkan stroke bisa menghampiri seseorang yang sedang aktif bekerja. Apalagi bagi mereka yang memiliki faktor risiko, seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi. “Stroke harus dicegah dari awal, penyakit ini tidak bisa sembarangan ditangani,” kata Yoeswar. “Dari seluruh penyakit, stroke adalah penyakit mematikan yang jumlahnya paling banyak, 15 persen.”

Untuk mencegah faktor risiko berkembang menjadi faktor pemicu stroke, ia menyarankan agar orang yang telah memiliki faktor risiko rajin memeriksakan kesehatan. Dengan cara itulah, bagi yang terkena diabetes bisa menurunkan kadar gula darahnya atau menurunkan tekanan darahnya bagi yang ketahuan mengalami hipertensi. Selain itu, mereka harus menjaga pola hidup sehat. Adapun deteksi dini stroke bisa dilakukan dengan pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI) dan computed tomography scan (CT scan).

“Selama ini, ada orang yang mengeluh baal tangannya dan pusing-pusing, tapi membiarkannya,” kata Yoeswar. “Tiba-tiba dia jatuh pingsan, baru dibawa ke rumah sakit, dan sudah terlambat.” Dalam keadaan stroke, ia melanjutkan, pembuluh yang mengatur aliran darah tersumbat dan menyempit. Padahal jantung tetap memompa darah dengan volume yang normal. Akibatnya, darah mengumpul di pembuluh dan pecah.

Gaya hidup seseorang juga disebut Yoeswar menjadi pemicu stroke. Pada orang yang bekerja terlalu keras, tekanan yang diterima otak lebih besar. Tekanan pada otak ikut mempengaruhi kerja pembuluh darah dan mengakibatkan ritme jantung saat memompa darah tidak normal. “Justru berbahaya, bagi orang yang tensinya tiba-tiba naik, tapi beberapa hari kemudian turun lagi, terus naik lagi. Ini yang bisa menyebabkan stroke karena aliran darah dalam tubuhnya tidak normal,” ujarnya.

Dalam kasus Eri, ia menduga stroke dipicu oleh kelelahan yang mengakibatkan tekanan darahnya tidak normal, meski, tak tertutup kemungkinan, Eri sudah memiliki faktor risiko, seperti hipertensi, diabetes, atau kolesterol. “Capek dan pusing tak dirasakan, tahu-tahu jatuh tidak sadar, bisa saja seperti itu,” kata Yoeswar. (tempo.com)

Minggu, 31 Juli 2011

Kristalisasi Urin Akibat Panas

Disadari atau tidak pekerja berinteraksi dengan lingkungan kerja dan kondisi tubuhnya serta gerakan yang kesemuanya dapat menimbulkan efek negatif bagi kesehatan. Setiap tempat kerja mempunyai resiko yang besar untuk terjadinya gangguan penyakit dan kecelakaan yang dikenal dengan Penyakit Akibat Kerja (PAK) atau Kecelakaan Kerja (KK) terhadap petugas yang bekerja ditempat tersebut.

Setiap perbuatan (unsafe action) atau kondisi tidak selamat (unsafe condition) dapat mengakibatkan terjadinya penyakit dan kecelakaan di tempat kerja. Kecelakaan kerja sebagian besar disebabkan oleh faktor manusia dan sebagian kecil disebabkan faktor teknis. Oleh karena kerja merupakan interaksi yang terjadi antara manusia, alat dan lingkungan. Salah satu faktor untuk meningkatkan produktifitas kerja adalah lingkungan kerja, secara umum lingkungan kerja yang nyaman dapat meningkatkan produktifitas kerja. Lingkungan kerja yang nyaman dan kondisi kesehatan pekerja saling berkaitan dimana dapat timbul gangguan kesehatan pada pekerja sehubungan dengan pekerjaannya dapat disebabkan oleh pemajanan di lingkungan kerja.

Secara eksplisit produktifitas di pengaruhi oleh kenyamanan lingkungan kerja atau suhu di lingkungan kerja. Suhu lingkungan kerja yang terlalu rendah atau kondisi dingin berlebih-lebihan berpengaruh pada rasa malas untuk beristirahat yang berakibat pada berkurangnya kewaspadaan dan konsentrasi, hal ini terutama berhubungan dengan pekerjaan yang menuntut kesiapan mental sehingga tidak sedikit dijumpai justru menimbulkan kesalahan terhadap pekerjaan.

Ketidaknyamanan dapat menjadi sebuah gangguan atau bahkan akan menimbulkan efek-efek psikologis ataupun nyeri fisiologis. Tubuh manusia mengandung kadar air yang cukup tinggi. Komponen air di dalam tubuh dikenal sebagai cairan tubuh dan mengandung elektrolit mineral seperti sodium, potassium, kalsium dan klorida. Keseimbangan total air didalam tubuh dan elektrolit akan terjadi jika adanya keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran. Pengeluaran air dalam tubuh melalui : urin, tinja, pernafasan (penguapan air dalam udara ekspirasi) dan keringat. Keluarnya air melalui udara ekspirasi dan keringat dikenal sebagai kehilangan cairan yang tidak disadari.

Jika suhu terlalu tinggi yang disebut lingkungan kerja panas, selain mengganggu kenyamanan juga mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh. Berkurangnya cairan dan garam dalam tubuh (termasuk natrium, kalium dan magnesium) akibat keringat yang keluar ketika melakukan aktifitas fisik bagi mereka pekerja manual dapat secara tiba-tiba memberikan efek rasa nyeri dan kram pada tangan, betis dan kaki, selanjutnya otot menjadi keras dan tegang. Jika jumlah cairan dan elektrolit yang keluar melalui keringat sangat banyak sedangkan cairan yang masuk tidak mencukupi, dengan kata lain pengeluaran keringat yang tidak diiringi dengan masukan air minum yang cukup akan mempengaruhi tekanan darah, terjadi penurunan tekanan darah dan nadi menjadi lebih cepat. Bahaya lain akibat pengeluaran cairan yang berlebihan akan mempengaruhi produksi urin sehingga meningkatkan kepekatan urin (hipersaturasi/supersaturasi). Keadaan ini yang berlangsung cukup lama dapat mendorong terbentuknya antara lain kristal dan batu asam urat di saluran kemih.

Kondisi lain yang lebih berat akibat paparan panas di lingkungan kerja adalah heat stroke, berupa gangguan yang terjadi dimana pekerja mengerahkan tenaganya secara berlebihan, mengakibatkan meningkatnya suhu tubuh yang tidak dapat dikendalikan oleh pusat pengatur panas (thermoregulator). Keadaan akan menjadi fatal karena tubuh tidak mampu mengeluarkan keringat, selanjutnya suhu tubuh meningkat, kulit menjadi kering, panas dan merah. Penderita mengalami disorientasi, penurunan kesadaran, kejang, koma dan berakhir pada kematian.

Lingkungan kerja panas tidak selalu berarti bekerja di luar ruangan, seperti memperbaiki jalan/pengaspal jalan, pekerja pertambangan tetapi juga mereka yang bekerja didalam ruangan (indoor) dengan suhu ruangan yang panas seperti : dapur restoran, instalasi gizi di rumah sakit, pekerja laundry, peleburan baja, gelas dan sebagainya.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Borghi pada pekerja pabrik gelas yang terpapar panas dengan suhu 290 – 310 WBGT (Wet Bulbe Globe Temperatur) di lingkungan kerja selama lebih dari 5 tahun menemukan batu asam urat di saluran kemih pada sekitar 38,8% pekerja yang mengeluh pegal atau nyeri di daerah pinggang dan atau rasa panas atau rasa sakit saat buang air kecil.

Batu asam urat akan menimbulkan beberapa masalah : selain rasa nyeri, bila berlangsung lama serta tidak ditangani secara seksama dapat menjadi salah satu faktor penyebab gangguan fungsi ginjal dimana fungsi ginjal mengalami penurunan dan jika keadaan ini berlangsung lama dapat mengakibatkan gagal ginjal dan ginjal tidak dapat berfungsi lagi. Akibatnya selain merugikan pekerja juga perusahaan secara keseluruhan, produktifitas kerja akan menurun dan biaya kesehatan pekerja akan meningkat.

Penelitian lainnya yang dilakukan terhadap pekerja, khususnya di bagian binatu dan dapur restoran hotel yang memang selalu terpapar panas. Data klinik perusahaan tersebut pada tahun 1994 mencatat 20% pekerja mengeluh sama seperti penelitian Borghi. Data ini juga mencatat 28,8% pekerja yang bekerja di lingkungan panas urinnya mengandung kristal asam urat.

Secara rinci jenis pekerjaan berhubungan secara signifikan dengan terjadinya kristal asam urat urin artinya jenis pekerjaan mempengaruhi resiko terjadinya kristal asam urat urin, jenis pekerjaan cook dan laundry sangat erat hubungannya dengan alat/mesin yang menghasilkan panas, akibatnya secara tidak langsung akan mempengaruhi keseimbangan cairan tubuh dan sistem pemekatan urin. Pekerja di laundry mempunyai resiko 431 kali lebih besar dibandingkan dengan pekerja stewall staf. Demikian juga cook jika dibandingkan dengan jenis pekerjaan staf mempunyai resiko 1,9 kali lebih besar untuk mempunyai kristal asam urat dalam urin, pekerjaan yang berhubungan dengan sumber panas mempunyai resiko pembentukan kristal asam urat urin yang lebih besar.

Untuk menyadarkan semua pihak tentang bahaya lingkungan kerja panas ini, banyak hal yang harus dilakukan salah satu diantaranya yang cukup penting adalah menyajikan data yang akurat mengenai resiko bahaya di tempat kerja, sehingga Penyakit Akibat Kerja (PAK) dapat diminimalisir.

Upaya pencegahan tersebut dilakukan melalui pencegahan primer, meliputi: pengenalan hazard (potensi bahaya), pengendalian pajanan yang terdiri dari monitoring lingkungan kerja, monitoring biologi, identifikasi terhadap pekerja yang rentan, pengendalian teknik, administrasi, pengunaan APD (Alat Pelindung Diri). Pencegahan sekunder meliputi screening (deteksi dini) penyakit, pemeriksaan kesehatan berkala, pemeriksaan kesehatan bagi pekerja yang berpotensi terpajan hazard tertentu, berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah kesadaran tenaga kerja/pekerja untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan panas sehingga cairan tubuh tetap seimbang, upaya yang dapat dilakukan dengan cara : memakai pakaian yang terbuat dari bahan cotton, minum air dingin sebelum bekerja denagan jumlah total air minum selama bekerja minimal 4 – 6 gelas perhari, jika diperlukan penambahan garam pada minuman akan mengganti kehilangan cairan melalui keringat. Pemberian minuman yang mengandung garam dapat digantikan dengan buah tomat (jus tomat dingin). Konsumsi vitamin C 250 mg setiap hari diperlukan tubuh untuk aklimatisasi setelah terpapar panas. Kemampuan fisik terhadap lingkungan panas dapat ditingkatkan dengan melakukan latihan/senam serta menghindari merokok dan minum alkohol. Jika suhu ruangan kerja sangat tinggi sebaiknya pihak perusahaan menyediakan ruangan khusus yang memiliki sirkulasi udara yang cukup sebagai tempat istirahat.

Kenyamanan suhu (Thermal comfort) dimanfaatkan bukan saja untuk mencegah kelainan fungsi ginjal pada tenaga kerja/pekerja, tetapi juga untuk meningkatkan produktifitas para pekerja. Oleh karenanya setiap tenaga kerja dalam melakukan pekerjaannya berhak mendapat perlindungan atas keselamatan dan kesehatannya, karena kesehatan dan keselamatan kerja adalah merupakan unsur yang penting untuk menjadikan sumber daya manusia yang berkualitas dan produktif. Untuk itu perlu dilakukan upaya untuk membina norma-norma perlindungan kerja. Pembinaan norma-norma tersebut telah diwujudkan dalam undang-undang dan peraturan Keselamatan dan kesehatan kerja yang memuat ketentuan-ketentuan umum tentang keselamatan dan kesehatan kerja serta hal-hal lainnya yang terkait dengan keselamatan dan kesehatan pekerja.

Kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja merupakan tiga komponen utama dalam kesehatan kerja, dimana hubungan interaktif dan serasi antara ketiga komponen tersebut akan menghasilkan kesehatan kerja yang baik dan optimal. Kapasitas kerja yang baik seperti status kesehatan kerja, gizi kerja, lingkungan kerja yang nyaman serta kemampuan fisik yang prima diperlukan agar seorang pekerja dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Kondisi atau tingkat kesehatan pekerja sebagai modal awal seseorang untuk melakukan pekerjaan harus pula mendapat perhatian.

Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan suatu masalah penting dalam setiap proses operasional, baik di sektor tradisional maupun sektor modern beberapa permasalahan dalam dunia kerja tersebut jika tidak diantisipasi sejak dini akan membawa berbagai dampak buruk serta dapat berakibat fatal bagi tenaga kerja. (waspada.co.id)

Kamis, 28 April 2011

2,3 Juta orang tewas tiap tahun karena kecelakaan kerja

International Labour Organization memperkirakan sebanyak 337 juta kecelakaan kerja terjadi setiap tahunnya di berbagai negara yang mengakibatkan sekitar 2,3 juta orang pekerja kehilangan nyawa.

Sementara itu, data PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) sampai akhir 2010 mencatat sekitar 0,7% pekerja Indonesia mengalami kecelakaan kerja dari sebanyak 8,9 juta pekerja yang terdaftar di lembaga ini atau mengakibatkan kerugian nasional mencapai Rp50 triliun.

Menurut Direktur International Labour Organization (ILO) Jakarta Peter van Rooij, budaya keselamatan dan kesehatan kerja (K3) menjadi kebutuhan untuk mengurangi risiko kecelakaan kerja itu dengan mengutamakan manajemen risiko.

"Untuk mengurangi terjadinya kecelakaan kerja, maka menerapkan budaya K3 menjadi sangat penting, karena tidak hanya menjadi kepentingan pekerja, tapi juga dunia usaha," katanya dalam pembukaan seminar K3, hari ini.

Dia mengatakan perlindungan terhadap keselamatan dan kesehatan pekerja merupakan tujuan utama dari ILO sejak awal mula didirikan lebih dari 90 tahun yang lalu, sebagai bagian dari piagam berdiri lembaga ini.

Upaya perlindungan pekerja terhadap kecelakaan, kesakitan dan penyakit yang terkait dengan pekerjaan, lanjutnya, menjadi bagian penting dan agenda utama dari ILO, terutama fokus pada penyusunan standar dan berbagai macam upaya lainnya.



"Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan hak asasi manusia dan menjadi bagian tidak terpisahkan dalam upaya pembangunan sumber daya manusia," ungkapnya.

Peter menuturkan khususnya untuk negara berkembang, dimana tren angka kecelakaan kerja cenderung meningkat menghadapi tantangan yang berat.

Tantangan itu menjadi semakin berat, dia menambahkan karena sebagian besar industri adalah dari kelompok usaha kecil dan menengah, serta sebagian besar pekerja adalah pekerja informal.

"Pada kelompok itu tantangan utamanya adalah tidak tercatatnya angka kesakitan maupun kecelakaan kerja, sehingga keselamatan dan kesehatan mereka juga harus menjadi perhatian utama," tutur Peter.

Dalam kesempatan yang sama, Muji Handoyo, Plt Dirjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan Kemenakertrans menyatakan saat ini strategi global K3 umumnya mencakup membangun dan mempertahankan budaya nasional akan keselamatan dan kesehatan, serta pengenalan mengenai sistem pendekatan manajemen K3.

Menurut dia, sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3) dapat dilihat sebagai suatu alat pencegahan yang penting untuk mengendalikan kecelakaan dan bahaya di tempat kerja secara efektif.

Berdasarkan pada kriteria standar kinerja K3 dan yang lebih penting lagi SMK3 bertujuan untuk menciptakan suatu mekanisme yang berstruktur dan komprehensif, baik bagi pengusaha maupun pekerja dalam menindaklanjuti upaya keselamatan dan kesehatan.

"SMK3 mengikuti suatu metode yang logis dan bertahap untuk menentukan yang harus dilakukan, yang terbaik untuk dijalankan, memantau kemajuan, mengevaluasi seberapa baik langkah itu dilakukan dan mengidentifikasi hal-hal untuk perbaikan," ujarnya.

Muji menilai kemungkinan yang lebih penting lagi adalah sistem manajemen tersebut menjadi suatu mekanisme K3 untuk perbaikan yang berkelanjutan. (bisnis.com)

Minggu, 24 April 2011

AJI: Penuhi Hak-hak Pekerja Perempuan

Jurnalis perempuan di Indonesia rentan terhadap pengabaian hak kesehatan reproduksi. Misalnya, kebanyakan perusahaan media tidak menyediakan ruang khusus menyusui dan hak cuti haid bagi jurnalis yang mengalami rasa sakit pada hari pertama haid.

Dengan memanfaatkan momentum Hari Kartini, pada Rabu (20/4/2011) Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyerukan kepada perusahaan media agar segera memenuhi hak-hak pekerjanya, terutama menyangkut kesehatan reproduksi jurnalis perempuan, sesuai perintah Undang-Undang (UU) Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

AJI meminta perusahaan media untuk memberikan jaminan keselamatan dan kesehatan kerja kepada jurnalis perempuan dan keluarganya, seperti pelayanan medis rawat jalan oleh dokter umum, rawat jalan dokter spesialis, rawat inap di rumah sakit, perawatan kehamilan dan persalinan, serta layanan penunjang lainnya.



Perusahaan juga diminta memberi jaminan sosial tenaga kerja kepada jurnalis perempuan, menyediakan fasilitas antar-jemput (khususnya jurnalis perempuan yang hamil), serta memberi pelatihan kepada jurnalis perempuan tentang pentingnya pemeliharaan kesehatan reproduksi.

Di lingkup global, pentingnya pemenuhan atas hak kesehatan reproduksi perempuan sudah diakui sejak Konferensi Dunia Pertama tentang Perempuan di Meksiko pada 1975. Indonesia telah meratifikasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women/CEDaW) melalui UU Nomor 7 Tahun 1984. (kompas.com)

Surat Keterangan Akreditasi FKM UNDIP

Bagi teman-teman yang membutuhkan informasi tentang Akreditasi FKM UNDIP... Silahkan download file di bawah ini... file sudah saya perb...

Find Us on Facebook

Blog Archives

Do Before You Die

Do Before You Die

Visitors


pinjaman utang