-
Di Sawahlunto, Ada Destinasi Wisata Suasana Eropa - Mau berwisata cantik layaknya di Eropa? Tidak perlu jauh-jauh. Langkahkan saja kaki Anda ke Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Kota ini menawarkan sensasi E...
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 12 Mei 2018
Jawa Barat disebut menjadi daerah yang cukup banyak menyedot dana pemerintah pusat dalam hal kesehatan. Dari total Rp9 triliun anggaran untuk BPJS Kesehatan sebanyak Rp1,9 triliun disedot oleh masyarakat Jawa Barat.
Bahkan, uniknya lagi, sebanyak Rp1,2 triliun dana itu dihabiskan oleh masyarakat yang bertempat tinggal di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, kondisi ini menjadi hal yang penting bagi pemerintah untuk melakukan langkah-langkah cepat menangani bahaya air Sungai Citarum bagi kesehatan masyarakat.
"Ditemukan juga banyak yang berobat di Jabar itu ada 70 ribu yang sakit jiwa, stres. Apakah karena makan ikan (sungai citarum) atau karena apa kita enggak tahu," kata Luhut dalam konferensi pers di kantornya, Jumat 11 Mei 2018.
Menurut Luhut, bahaya dari limbah dan sampah di Sungai Citarum sudah jelas. Sehingga airnya sudah tidak layak lagi untuk dikonsumsi.
"Hasil penelitian ini, ada plastik yang jadi mikro plastik nih. Kan, Kalau dimakan ikan, ikan kita makan. Kalau itu dimakan ibu hamil pasti anaknya kuntet," ujar Luhut.
Untuk itu Luhut meminta seluruh masyarakat untuk sadar lingkungan. Menurutnya pemerintah telah menerbitkan aturan Waste to Energy yaitu mengolah limbah menjadi energi yang bermanfaat.
Dia juga mengatakan, bahwa seluruh Kementerian berperan aktif untuk terus memperbaiki pembersihan Sungai Citarum melalui teknologi terkini.
Di satu sisi, Ia juga mencontohkan, seperti di Sukabumi selatan, juga ada tambang emas liar yang juga menyebabkan pencemaran dari bahan sianida dan merkuri yang jatuh juga ke aliran sungai hingga ke laut. Dia berjanji akan menindak tegas masyarakat yang membuang limbah sembarangan di lingkungan di Jawa Barat. Bahkan, pihaknya juga menggandeng Kejaksaan Agung untuk hal ini.
"Jadi menurut saya ini kita harus bersama-sama melawan ini, Sekarang pekerjaan berat pemerintah ini. Tapi enggak mungkin pemerintah sendiri tapi juga stakeholder dan teman-teman media," katanya.
Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional, Doni Monardo mengatakan, bakteri yang mengkhawatirkan di Sungai Citarum selain ecoli adalah bakteri pseudomonas aerogonosa. "Dari hasil diskusi dengan mediskus grup, Ini sangat mungkin bakteri ini disebabkan limbah medis yang dibuang dan memang kami temukan sejumlah limbah medis di lapangan yang ada tulisan kantong darah HIV Aids," kata dia.
Menurutnya, bakteri ini tidak hanya ada di Sungai Citarum melainkan juga ada di Sungai Ciliwung dan Cisadane. "Kami juga menemukan potongan tubuh manusia, bekas operasi. Di samping ada sejumlah alat-alat operasi ada pisau ada gunting dan macam-macam," ujarnya.
Dia mengatakan, jumlah mata air di DAS Citarum pada tahun 2009 awalnya berjumlah 300 dan pada tahun 2015 setelah diteliti oleh Ditjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR hanya tersisa 144 mata air.viva
Rabu, 22 November 2017
Pencemaran Sungai Citarum Sangat Mengkhawatirkan
Posted by admin |
No Comments |
Pencemaran Sungai Citarum sudah sangat mengkhawatirkan sehingga perlu langkah strategis untuk mengatasinya agar tidak menjadi penyebab bencana nasional. Saat ini, air Citarum masih dimanfaatkan sebagai sumber air bagi pertanian dan perikanan, padahal kualitas airnya sudah tercemar.
“Upaya penyelamatan Citarum harus dilakukan bersama-sama, koordinasi harus jelas. Gubenur, bupati, TNI, dan Polri harus bersama-sama turun,” kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut B Panjaitan, dalam Lokakarya Penanganan Citarum, di Bandung, Rabu (22/11).
Pencemaran Sungai Citarum yang mendapatkan predikat sebagai sungai terkotor di dunia ini membuat Luhut turun tangan. Kemenko Bidang Kemaritiman akan mengoordinasi upaya penyelamatan Citarum agar tidak menjadi penyebab bencana nasional.
Luhut sudah berkoordinasi dengan Menteri Perindustrian untuk meminta kalangan industri tidak membuang limbah ke sungai. Sebab, sekitar 27 juta warga saat ini menggantungkan hidup dari Sungai Citarum, termasuk untuk keperluan air bersih.
“Hasil ikan dan padi pasti tercemar, lalu dikonsumsi masyarakat. Ini akan memberikan dampak buruk pada kesehatan masyarakat yang mengonsumsinya, dan kualitas SDM Indonesia di masa depan terancam,” tegasnya.
Untuk keperluan itu, menurut Luhut, pemerintah sudah mempersiapkan dananya, baik untuk keperluan program ataupun pembangunan fisik. Jika ada koordinasi maka dana tidak akan besar, bahkan tidak perlu meminjam atau berutang pada lembaga luar negeri.
Dalam acara tersebut, Gubernur Jawa Barat (Jabar), Ahmad Heryawan, sempat melontarkan ide pembentukan badan otoritas yang menangani Sungai Citarum secara khusus. Menurut Luhut, ide tersebut bisa saja direalisasikan, namun untuk saat ini masih perlu dikaji terlebih dahulu.
“Sementara ini saya ditunjuk untuk koordinasikan dulu. Soal badan otoritas masih akan dikaji dulu,” tegas Luhut usai acara.
Kesadaran Masyarakat
Ahmad Heryawan mengatakan perlu ada fatwa dari ulama atau pemuka masyarakat yang menyatakan membuang sampah di sungai adalah perbuatan haram. “Perlu kesadaran masyarakat untuk menjaga Sungai Citarum, jika perlu harus ada fatwa haram membuang sampah di sungai,” katanya.
Sementara untuk memulihkan hulu Sungai Citarum, Pemprov Jabar akan memberikan bibit kopi kepada masyarakat yang selama ini membudidayakan tanaman sayuran. Dengan demikian, maka hulu Sungai Citarum akan lebih aman dari longsor. Di sisi lain, masyarakat akan mendapatkan manfaat ekonomis dari tanaman kopi.
Pangdam III/Siliwangi, Mayjen Doni Munardo, menyatakan TNI siap untuk membantu pemulihan Sungai Citarum dari hulu hingga hilir.
“Selama ini seperti memadamkan kebakaran, kami membersihkan sampah, seminggu kemudian kotor lagi. Bukan begini caranya, tidak akan berhasil. Kesadaran masyarakat yang harus diutamakan,” tegasnya.
Kapolda Jabar, Irjen Pol Agung Budi Maryoto, mengatakan segera mengundang para pengusaha di Jabar terutama yang ada di sepanjang jalur Sugai Citarum untuk mengimbau agar tidak lagi membuang limbah ke Citarum. Jika nantinya masih ada pengusaha yang tetap membuang limbah ke Sungai Citarum, akan ada tindakan tegas, bahkan bisa dipidanakan.sumber:koran-jakarta.com
Minggu, 22 Oktober 2017
Pencemaran Lebih Banyak Membunuh daripada Perang
Posted by admin |
No Comments |
Pencemaran lingkungan, mulai dari udara kotor sampai air yang terkontaminasi, setiap tahunnya membunuh lebih banyak orang daripada perang dan kekerasan di dunia.
Jumlah kematian akibat polusi juga lebih banyak daripada kematian akibat merokok, kelaparan, atau bencana, bahkan lebih banyak dari gabungan kematian akibat penyakit AIDS, TBC, dan malaria.
Mengutip VOA News, satu dari enam kematian dini di dunia tahun 2015, atau sekitar 9 juta kematian, bisa dikatakan akibat terpapar polusi beracun, demikian menurut sebuah penelitian yang yang dimuat dalam jurnal kedokteran, Lancet, edisi pekan ini.
Biaya dari kematian akibat pencemaran, penyakit, dan kesejahteraan juga tidak kalah besar, yaitu sekitar US$4,6 triliun setahun atau kira-kira 6,2 persen dari ekonomi global, menurut penelitian tersebut.
Jumlah 9 juta kematian dini dalam penelitian ini hanyalah perkiraan sebagian, kata para pakar. Jumlah orang yang meninggal akibat polusi dipastikan lebih tinggi dan akan bisa dihitung setelah penelitian selesai dan metode baru untuk menilai dampak-dampak buruk bisa dikembangkan.
"Ada banyak studi mengenai polusi, tapi tidak pernah menerima sumber atau perhatian yang sama seperti misalnya, AIDS atau perubahan iklim," kata Philip Landrigan, pakar epidemiologi yang juga juga penulis utama dari laporan ini.
Laporan itu merupakan upaya pertama dalam mengumpulkan data mengenai penyakit dan kematian akibat gabungan semua bentuk pencemaran digabung.
"Polusi ialah masalah yang sangat besar yang tidak dilihat orang karena mereka melihat sebagai bagian yang terpisah-pisah," kata Landrigan yang juga merupakan dekan kesehatan global dari Icahn School of Medicine di Mount Sinai, New York, AS.
Menurut penelitian tersebut, Asia dan Afrika ialah wilayah-wilayah yang paling membahayakan warganya, sementara India berada di puncak daftar per negara. sumber:sumedang.info
Rabu, 04 Oktober 2017
Masuk Sumur, Hati-Hati Gas Berbahaya di Dalamnya
Posted by admin |
No Comments |
Keracunan gas yang menewaskan tujuh orang di Bogor patut menjadi pelajaran bagi masyarakat luas. Gas yang menjadi penyebab adalah gas dari limbah kardus telur. Ahli Kesehatan Lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, Adi Heru Husodo mengatakan gas beracun bisa dihasilkan oleh limbah sampah yang menumpuk. “Penumpukan limbah itu bisa mengakibatkan adanya sulfur dioksida dan asam nitrat,” katanya saat dihubungi Selasa 3 Oktober 2017.
Adi mengimbau agar masyarakat mewaspadai kedua zat itu. “Zat itu bisa mengakibatkan kematian,” katanya.
Seseorang pun bisa mengalami keracunan gas yang berisi kandungan karbon monoksida. Menurut Adi banyak sekali kasus seperti ini terjadi. Biasanya para korban meninggal saat beraktivitas di dalam sumur. “Semakin dalam sumur, biasanya kandungan karbon monoksida tinggi,” kata Adi.
Menurut Adi, biasanya kedalaman sumur yang sudah mulai mengandung karbon monoksida sedalam belasan meter. Sebenarnya karbon monoksida juga dihasilkan oleh kendaraan bermotor. Asap knalpot itu tentunya bisa memperburuk kesehatan orang yang menghirupnya. Namun mengapa karbon monoksida di jalanan tidak mengakibatkan kematian, seperti kandungan karbon monoksida yang ada di sumur?
Kondisi lingkungan menjadi faktor. Adi menjelaskan bahwa zat karbon monoksida yang dihasilkan kendaraan bermotor bisa tertiup angin sehingga terhempas jauh dan tidak mengenai orang langsung. Selain itu asap knalpot yang ada di jalanan pun ada di udara bebas sehingga tidak terkumpul di satu titik saja. Sebaliknya, saat di sumur, gas karbon monoksida terperangkap di ruang yang sempit, sehingga gas yang beracun itu pun terkumpul menjadi satu, statis dan stabil. “Jadi, bila ada pekerja menghirupnya, bisa langsung berakibat buruk baginya,” kata Adi.
Ada cara sederhana yang bisa dilakukan penggali sumur untuk mengecek apakah sumur itu mengandung gas beracun atau tidak. Yaitu dengan melempar obor ke dalam sumur. Bila obor masih menyala saat mencapai dasar, maka oksigen di dalam sumur itu masih ada dan cukup untuk pekerja. Api hanya bisa menyala bila ada oksigen. Sebaliknya, bila obor itu mati, maka ada kemungkinan oksigen tidak ada, dan sumur itu mengandung gas berbahaya.
Adi menyarankan agar para penggali obor melakukan tindakan pencegahan terlebih dahulu sebelum turun mengecek dasar sumur. Selain itu, peralatan perlindungan pekerja pun penting untuk digunakan bagi kegiatan dengan resiko tinggi itu. Bisa saja dengan mengikat tali di pinggang si pekerja yang akan menggali sumur. “Sehingga bila ada masalah seperti ternyata ada gas berbahaya, pekerja bisa diselamatkan dengan langsung ditarik ke atas,” katanya.
Ia menyayangkan kurangnya perhatian masyarakat dan pemerintah dalam memberikan perlindungan pekerja. Padahal berbagai pekerjaan bisa saja berakibat buruk pada keselamatan si pekerja. “Dalam hal keselamatan kerja, kita perlu mencontoh negara maju yang ,memberikan perhatian pada tindakan pencegahan,” katanya.tempo
Rabu, 27 September 2017
Riwayat Bensin Bertimbal dan Tragedi Ilmuwan Penemunya
Posted by admin |
No Comments |
Di hadapan para wartawan yang skeptis pada sebuah konferensi pers yang digelar pada Oktober 1924, Thomas Midgley secara dramatis mengeluarkan timbal atau timah tetraethyl -zat kimia aditif- dalam sebuah wadah dan mencuci tangannya di dalam wadah tersebut.
"Ini bukan berarti saya mengambil risiko," kata Midgley. "Saya juga tidak akan melakukannya setiap hari."
Midgley - mungkin - sedikit tidak jujur. Dia baru saja menghabiskan beberapa bulan di Florida, memulihkan diri dari keracunan timbal.
Beberapa lagi tidak begitu beruntung, karena itulah wartawan tertarik.
Pada hari Kamis sebelum konferensi pers Midgley, di pabrik Standard Oil di New Jersey, seorang pekerja bernama Ernest Oelgert mengalami halusinasi. Pada hari Jumatnya, dia berlari mengelilingi laboratorium, berteriak-teriak ketakutan.
Pada hari Sabtu, keadaan Oelgert yang semakin berbahaya dan tidak terkontrol, sehingga adiknya memanggil polisi. Dia dibawa ke rumah sakit dan ditenangkan secara paksa. Pada hari Minggu, dia meninggal. Dalam seminggu, empat rekannya mengalami nasib yang sama - sementara 35 lainnya dirawat di rumah sakit.
Padahal hanya 49 orang yang bekerja di sana.
'Gedung gas sinting'
Semua itu sama sekali tak mengejutkan bagi pekerja di tempat selain di fasilitas Standard Oil. Mereka tahu ada masalah dengan timbal tetraetil.
Seperti yang Gerald Markowitz dan David Rosner catat dalam buku mereka Deceit and Denial: The Deadly Politics of Industrial Pollution, laboratorium tempat zat itu dikembangkan dikenal sebagai "gedung gas gila"
Hal itu juga tak akan mengejutkan bagi Standard Oil, General Motors dan DuPont Corporation, tiga perusahaan terlibat dalam langkah menambahkan timbal pada bensin.
Jalur produksi pertama di Ohio telah ditutup setelah dua orang meninggal. Terdapat satu korban jiwa juga di pabrik ketiga yang berlokasi di New Jersey. Para buruh terus berhalusinasi tentang serangga- laboratorium itu dikenal sebagai "rumah kupu-kupu".
Jika praktek kerja dibuat lebih baik, timbal tetraethyl bisa aman untuk diproduksi. Tapi apakah masuk akal untuk menambahkannya ke dalam bensin, ketika asapnya akan menyesaki jalanan kota?
Sekitar satu abad yang lalu, ketika General Motors pertama kali mengusulkan penambahan timbal ke dalam bensin - untuk meningkatkan performa kendaraan - para ilmuwan terkejut. Mereka mendesak pemerintah untuk menyelidiki implikasinya terhadap kesehatan masyarakat.
Midgley meyakinkan bahwa "jalanan umum kemungkinan akan sangat bebas dari timbal sehingga tidak mungkin untuk mendeteksi zat itu atau penyerapannya", walaupun dia mengakui bahwa mereka "tidak punya data berdasarkan eksperimen yang sebenarnya,".
General Motors membiayai sebuah lembaga pemerintah untuk melakukan sejumlah riset, dengan satu klausul bahwa penemuan-penemuannya hanya bisa disepakati kalau mereka ikut memberikan persetujuan.
Ahli kimia Thomas Midgley dengan mesin uji Delco
Berisiko, tapi berguna?
Laporan lembaga tersebut diterbitkan di tengah perhatian media pada rekan-rekan kerja Oelgert yang keracunan. Hal ini mendorong dicantumkannya timbal dalam rancangan rancangan undang-undang tentang kesehatan dan disambut dengan skeptis.
Di bawah tekanan, pemerintah mengadakan sebuah konferensi di Washington DC pada bulan Mei 1925. Perdebatan di sana menunjukkan dua pendekatan ekstrem terhadap gagasan baru yang terlihat berisiko, namun bermanfaat.
Di salah satu sudut: Frank Howard, wakil presiden Ethyl Corporation - perusahaan patungan antara General Motors dan Standard Oil. Dia menyebut bensin bertimbal sebagai 'hadiah dari Tuhan,' dengan alasan bahwa "keberlanjutan pengembangan bahan bakar motor sangat penting untuk peradaban kita".
Dr Alice Hamilton berpendapat, manfaat penambahan timbal ke dalam bensin tidak sepadan dengan bahaya yang ditimbulkannya.
Di sudut lain: Dr Alice Hamilton, otoritas paling utama tentang timbal di Amerika.
Dia berpendapat bensin bertimbal adalah pertaruhan yang tidak layak untuk diambil. "Di mana ada timbal," katanya, "banyak kasus keracunan timbal cepat atau lambat berkembang, bahkan kendati di lokasi yang berada di bawah pengawasan ketat."
Hamilton tahu bahwa timbal telah meracuni orang selama ribuan tahun. Pada tahun 1678, pekerja yang membuat timbal putih - pigmen untuk cat - digambarkan mengalami penyakit berat, antara lain "pusing, dengan rasa sakit terus-menerus di alis, kebutaan, kebodohan."
Orang Romawi menggunakan timbal di pipa air. Penambang timbal sering kali akhirnya gila atau mati - dan banyak yang menyadari bahwa bukan hal yang bijak untuk terpapar dalam jangka panjang.
"Air yang mengalir melalui pipa tanah lebih sehat ketimbang yang melalui timbal," tulis insinyur sipil Vitruvius, 2.000 tahun yang lalu. "Ini bisa diverifikasi dengan mengamati pekerja di timbal, yang kulitnya pucat."
Polusi vs kemajuan
Banyak yang masih bergulat dengan pertanyaan umum yang membuat Howard dan Hamilton berselisih: berapa tingkat polusi yang bisa ditoleransi sebagai harga untuk kemajuan?
Sejumlah bukti menunjukkan bahwa ketika suatu negara semakin kaya, mereka mulanya cenderung tidak mementingkan kebersihan lingkungan, baru di kemudian hari membersihkannya.
Para ekonom menyebut ini sebagai "kurva lingkungan Kuznets," dan ini masuk akal. Jika Anda miskin, Anda memprioritaskan pemasukan material. Seiring bertambahnya penghasilan, Anda akan memilih untuk menggunakan sebagian dari uang itu di lingkungan yang lebih baik dan lebih aman.
Insinyur sipil Romawi kuno, Vitruvius sudah memperingatkan bahaya Timbal sejak 2.000 tahun lalu.
Tapi apakah bensin bebas timbal itu benar-benar kemewahan yang mahal? Benar, aditif timbal memecahkan masalah: memungkinkan mesin untuk menggunakan rasio kompresi yang lebih tinggi, yang membuat mobil lebih kuat.
Namun, itu bukan satu-satunya cara untuk memecahkan masalah.
Etil alkohol memiliki efek yang sama dan tidak akan membuat kepala anda berantakan, kecuali anda meminumnya. Midgley tahu ini, setelah menggabungkan bensin dengan hampir semua zat yang bisa dibayangkan, mulai dari yodium sampai kapur bar sampai mentega cair.
Mengapa perusahaan bensin memaksa untuk menggunakan timbal tetraetil, bukan etil alkohol? Para periset yang mempelajari keputusan tersebut tetap bingung. Orang-orang sinis mungkin menunjukkan bahwa setiap petani tua bisa menyaring etil alkohol dari gandum. Jadi tidak bisa dipatenkan, atau distribusinya bisa dengan mudah dikontrol. Timbal tidak bisa.
Kaitan kejahatan
AS tidak mematok pajak untuk bensin bertimbal sampai tahun 1970an, lalu akhirnya melarangnya dalam undang-undang udara bersih, seiring pergerakan negara tersebut di tepi luar kurva lingkungan Kuznets.
Dua dekade kemudian, pada 1990-an, tingkat kejahatan kekerasan mulai turun. Banyak alasan mengapa hal ini terjadi, namun ekonom Jessica Reyes memiliki pemikiran yang menarik.
Otak anak-anak sangat rentan terhadap keracunan timbal kronis. Mungkinkah anak-anak yang tidak menghirup asap bensin bertimbal tumbuh menjad suatu generasi dengan kekerasan yang lebih rendah?
Reyes bisa menguji hipotesisnya: berbagai negara bagian AS menghapuskan bensin bertimbal pada waktu yang berbeda-beda.
Dengan membandingkan tanggal pemberlakuan undang-undang udara bersih dengan data kejahatan, dia menyimpulkan bahwa lebih dari setengah penurunan tingkat kejahatan - 56% - dkarenakan beralihnya bahan-bakar mobil ke bensin tanpa timbal.
Peneliti lain juga menemukan hubungan yang sama antara pipa air bertimbal dan tingkat pembunuhan di perkotaan.
Sengketa ilmu dan penundaan aturan
Indeks penurunan kejahatan bisa dinilai dengan uang, Reyes menyimpulkan. Nilainya sekitar 20 kali lebih tinggi dari biaya penghapusan bensin bertimbal - dan itu sebelum masalah lain yang diderita anak-anak yang menghirup timbal, seperti prestasi yang buruk di sekolah.
Bagaimana AS bisa begitu salah begitu lama?
Asbestos masih terus digunakan juga di bidang konstruksi kendati bahaya bahan itu makin terbukti.
Ini kisah sengketa sains dan peraturan yang tertunda, sebagaimana asbes, atau tembakau, atau produk lain yang sekarang kita tahu membunuh kita dengan perlahan.
Masalahnya, orang yang ingin melarang hal-hal seperti itu tidak selalu seperti Hamilton yang visioner. Terkadang mereka bisa jadi sangat obstruktif. Satu-satunya cara untuk mengubah keadaan adalah dengan melakukan penelitian.
Dan seperti yang ditekankan oleh Gerald Markowitz dan David Rosner, "Selama empat dekade berikutnya, semua penelitian tentang penggunaan timbal tetraetil dilakukan oleh laboratorium dan ilmuwan yang didanai oleh Ethyl Corporation dan General Motors".
Dan bagaimana dengan ilmuwan yang pertama kali menuangkan timbal dalam bensin?
Bagaimana pun, Midgley adalah pria ramah yang bahkan mungkin percaya pada permainannya sendiri tentang amannya penggunaan timbal untuk mencuci tangan sehari-hari.
Tapi, sebagai seorang penemu, inspirasinya sepertinya telah dikutuk. Kontribusi besarnya yang kedua terhadap peradaban adalah chlorofluorocarbon, atau CFC, yang meningkatkan kinerja kulkas, namun menghancurkan lapisan ozon.
Di usia lanjut, Midgley yang menderita polio, menggunakan otak penemunya untuk mengangkat tubuhnya yang lemah dari tempat tidur. Dia merancang suatu sistem katrol dan dawai yang praktis. Yang dijeratkan ke lehernya, dan membunuhnya.bbc
Minggu, 24 September 2017
Merkuri Ancam Kualitas Lingkungan dan Kesehatan
Posted by admin |
No Comments |
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar mengatakan, dampak pencemaran bahan beracun berbahaya (B3) merkuri menjadi ancaman kualitas lingkungan hidup dan kesehatan.
"Hal ini bila dibiarkan berpotensi menimbulkan penurunan kualitas lingkungan hidup dan kesehatan, bahkan dapat mengakibatkan kematian dan hilangnya generasi penerus bangsa ini," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (23/9/2017).
Merkuri atau air raksa adalah unsur kimia berupa logam berat yang sangat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan hidup karena bersifat toksik, persisten, bioakumulasi dan dapat berpindah antarwilayah maupun antarnegara.
Dampak pencemaran merkuri terhadap kesehatan yang ditimbulkan meliputi tremor, gangguan motorik, gangguan syaraf, pencernaan, kekebalan tubuh, ginjal dan paru-paru, serta iritasi kulit, mata dan saluran pencernaan. Ibu hamil yang terpapar merkuri akan melahirkan anak dengan IQ rendah.
Siti Nurbaya mengatakan, di samping itu, dampak lanjut secara sosial-ekonomi meliputi beralihnya mata pencaharian utama, konflik horizontal masyarakat pendatang dengan masyarakat setempat, meningkatnya kriminalitas serta mobilisasi tenaga kerja wanita dan anak di bawah umur.
Menurut dia, di Indonesia, merkuri sebagian besar digunakan pada Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) untuk proses amalgamasi emas. Selain itu merkuri juga digunakan di sektor industri klor-alkali dan sektor kesehatan (alat kesehatan).
Pengesahan Konvensi Minamata yang baru rapung dilakukan Pemerintah, menurut dia, sudah sejalan dengan amanat Pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 alinea keempat yang menyebutkan melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Selain itu, Siti Nurbaya mengatakan, ratifikasi konvensi tersebut bertujuan menjamin masyarakat mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat.
Hal itu sesuai diatur dalam Pasal 28H ayat (1) UUD Tahun 1945 yang menyebutkan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.
Pengesahan Konvensi Minamata, lanjutnya, sekaligus mempertegas arahan Presiden RI pada Rapat Kabinet Terbatas 9 Maret 2017 terkait Penanganan Merkuri pada PESK dalam hal kebijakan dan peraturan perundang-undangan, tata kelola PESK diluar maupun di dalam kawasan hutan, tata niaga pengadaan dan distribusi Merkuri, pengembangan alternatif mata pencaharian bagi para penambang; serta bantuan medis atau kesehatan kepada masyarakat terpapar Merkuri dan untuk secara lebih luas sosialisasi dari aspek kesehatan.bisnis
Selasa, 07 Maret 2017
Tragedi Minamata Mengancam Indonesia
Posted by admin |
No Comments |
Pernah dengarkah ada tragedi pencemaran merkuri (Hg) atau air raksa di kota Minamata, Prefektur Kumamoto di Jepang yang membuat sebagian besar warganya menderita seumur hidup sekitar tahun 1958? Mereka terdampak limbah PT Chisso yang membuang limbah kimianya ke Teluk Minamata dalam jumlah yang sangat besar (200 – 600 ton Hg dari tahun 1932).
Sebagai pengkonsumsi ikan yang cukup tinggi (286 – 410 gr/hari), masyarakat sekitar Prefektur Kumamoto terdampak sangat dahsyat. Sampai saat inipun masih ada warga Minamata yang hidup tetapi dengan kondisi cacat fisik. Kondisi tersebut dikenal dengan Penyakit Minamata atau Sindrom Minamata.
Dampak buruk mulai terlihat sekitar tahun 1949. Saat itu terjadi wabah penyakit aneh di Minamata. Ratusan orang mati karena kelumpuhan syaraf dan menurut para ahli kesehatan saat itu, penyakit itu disebabkan karena orang Jepang suka makan ikan yang ternyata sudah tercemar logam berat Hg yang berasal dari industri batu baterai milik Chisso yang membuang merkuri ke laut. Pabrik itu akhirnya ditutup dan pemiliknya harus memberikan ganti rugi sekitar US$ 26,6 juta kepada masyarakat dan Pemerintah Kerajaan Jepang.
Puluhan tahun kemudian, ternyata bencana itu kembali terulang di perairan Indonesia dalam kadar yang lebih dahsyat sebagai akibat menjamurnya tambang emas rakyat ilegal di sekitar 800 daerah di seluruh Indonesia. Studi yang dilakukan oleh tim dari Medicus Foundation, patut diduga telah menguak tragedi serupa Minamata di Indonesia. Bahkan konon lebih dahsyat. Seberapa parahkan pencemaran tersebut dan apakah sudah ada tindakan langsung dari Pemerintah? Mari kita bahas singkat dari sisi kebijakan.
Pencemaran Merkuri di Perairan Indonesia Lebih Dahsyat dari Minamata
Merkuri pada prinsipnya ada di udara dan beberapa bahan yang ada disekitar kita, akan tetapi sumber terbesar (37%) berasal dari pertambangan emas skala kecil dan illegal. Banyak dari merkuri yang dilepaskan ke alam dihasilkan oleh Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) ilegal, misalnya di Poboya Sulawesi Tengah, Gunung Botak di Pulau Buru, Cisitu, Cibeber di Lebak Banten, Bombana di Sulawesi Tenggara dsb.
Hal ini menyebabkan kita perlu mewaspadai aktifitas yang ada pada PESK serta dampaknya bagi penambang maupun masyarakat yang ada di sekitarnya. Hg yang dibuang ke alam membawa konsekuensi serius kepada kehidupan masyarakat dan lingkungan. Ironisnya hasil tambang mineral yang berlimpah ini tidak dinikmati oleh bangsa Indonesia secara optimal, bahkan negara harus menanggung semua kerusakan manusia dan lingkungan yang diakibatkan oleh proses penambangan ilegal tersebut. Sebagian besar emas dari PESK ilegal dinikmati oleh "tauke" atau investor yang ujudnya hampir tidak tampak di Indonesia, hanya kaki tangannya saja yang patut diduga dilindungi oknum aparat Pemerintah Daerah maupun keamanan dan Kepolisian setempat.
Pada kasus di Minamata dan 4 daerah di sekitarnya (Kumamoto, Tottori, Wakayama dan Chiba), kadar konsentrasi merkuri rata-rata sebesar 2,55 mikrogram/gram pada laki-laki dan 1,43 mikrogram/gram pada perempuan (sumber https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12703660). Sedangkan pencemaran merkuri alibat penambangan illegal, contoh di P. Buru (Desa Gunung Botak, Namlea Maluku), kandungan Hg di air seni rakyat di seputar area penambangan (Desa Debowae) kadar Hg penduduk berkisar antara 10,5 mikrogram/liter – 127 mikrogram/liter (hasil pemeriksaan darah penduduk di Debowae oleh Tim Kesehatan Kodam Pattimura). Artinya di satu lokasi tambang emas ilegal saja kadar pencemaran Hg nya sangat tinggi karena acuan standarnya hanya 9 mikrogram/liter.
Produksi emas yang ada pada pertambangan emas rakyat di Indonesia sebenarnya cukup besar. Berikut ilustrasi berapa besar emas yang dapat hasilkan di pertambangan emas rakyat di Indonesia. Perkiraan produksi emas per lokasi per minggu adalah 5 – 10 kg emas. Berdasarkan laporan beberpa LSM yang melakukan studi lapangan, diperkirakan ada sekitar 800 lokasi PESK ilegal yang belum dikelola dengan baik oleh Negara dan Negara juga tidak mendapatkan manfaatnya.
Selain sisi kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup, dari sisi finansial Indonesia juga mengalami kerugian besar. Mari kita perhatikan ilustrasi berikut:
Emas yang dihasilkan oleh sekitar 800 PESK di Indonesia per minggu sekitar 4.000 kg – 8.000 kg emas. Artinya per bulan sekitar 16.000 kg – 32.000 kg atau per tahun sekitar 192.000 kg – 384.000 kg emas.
Jika harga emas di Aneka Tambang saat ini sekitar Rp. 500.000 per gram, maka hasil PESK mencapai sekitar Rp. 500.000 x 192.000 x 1.000 = Rp. 96.000.000.000.000 sampai Rp. 500.000 x 384.000 x 1.000 = Rp. 192.000.000.000.000.
Ironisnya potensi pendapatan Pemerintah per tahun dari sektor PESK ilegal tersebut di atas menguap entah kemana (sumber: Laporan dan Rekomendasi Survey Masalah Merkuri di P. Buru : Medicuss Foundation bejerjasama dengan Kodam Pattimura, Kementerian Linkungan Hidup & Kehutanan serta Pemerintah Daerah Maluku). Sayang negara tidak mendapatkannya karena penambang atau investor tidak membayar pajak, uang mengalir ke pribadi investor asing yang membawa devisa keluar maupun pribumi yang merupakan pencari rente. Namun negara harus menanggung biaya kerusakan kesehatan masyarakat dan kerusakan lingkungan akibat pencemaran logam berat seperti merkuri sangat sangat sangat besar.
Langkah yang Harus Dilakukan oleh Pemerintah
Kalaupun semua data di atas benar, seharusnya Pemerintah menyikapi hal tersebut dengan cerdas melalui pembuatan peraturan perundang-undangan yang memadai khusus dalam membina para PESK ilegal supaya tidak menggunakan logam berat (Hg) yang dibuang begitu saja ke sungai dan laut, namun harus dicarikan pengganti yang harganya tidak berbeda jauh dengan Hg.
Kedua, harus dibuatkan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan insentif yang akan di dapat oleh Pemerintah Daerah dan aparat penegak hukum jika mereka dapat melakukan pengawasan yang sangat ketat terkait dengan perambahan lahan, pencemaran lingkungan, kesehatan masyarakat dan pembagian hasil yang jelas. Namun jika gagal (termasuk ikut melindungi dan mengelola PESK ilegal), maka sanksi berat harus dijatuhkan ke mereka.
Ketiga, PESK illegal harus ditata dengan baik dan ketat. Selain itu perlu dicarikan lapangan pekerjan baru untuk masyarakat penambang di sektor lain, misalnya melalui program kehutanan sosial yang ada di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Pemerintah sudah mengalokasikan 12,7 juta Ha untuk hutan sosial).
Jika tidak dilakukan pengaturan dan pengawasan yang ketat terkait dengan PESK ilegal, maka Indonesia akan mengalami kerugian yang besarnya tak terhingga di sektor sumber daya manusia, lingkungan hidup dan ekonomi. Misalnya, Program pariwisata yang mengandalkan keindahan bahari akan hancur karena tidak ada lagi turis mancanegara yang mau menyelam dan berkegiatan di laut jika laut kita tercemar merkuri dan logam berat lainnya. Industri perikanan kita juga akan hancur karena tidak ada lagi yang akan membeli ikan kita karena mengandung Hg dan sebagainya.
*) AGUS PAMBAGIO adalah adalah Pemerhati Kebijakan Publik dan Perlindungan Konsumen.*detik
Polusi Lingkungan Bunuh 1,7 Juta Balita Setiap Tahun
Posted by admin |
No Comments |
Polusi lingkungan membunuh lebih satu dari empat balita setiap tahun, atau berarti 1,7 juta anak di seluruh dunia.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa kematian anak-anak ini akan meningkat secara dramatis jika tidak ada langkah yang diambil untuk mengurangi risiko lingkungan.
WHO mengkaji dampak lingkungan berbahaya terhadap kesehatan anak-anak dan memberikan solusi dalam dua penelitiannya yang berjudul “Mewarisi Dunia Berkelanjutan: Atlas Kesehatan Anak dan Lingkungan” dan sebuah laporan tambahan “Jangan Kotori Masa Depan Saya! Dampak Lingkungan pada Kesehatan Anak.”
Penulis laporan itu setuju bahwa polusi udara adalah pembunuh nomor satu dan bertanggung jawab atas kematian 6,5 juta bayi prematur setiap tahun, termasuk hampir 600 ribu anak di bawah lima tahun.
Dirjen WHO Margaret Chan mengatakan balita paling berisiko meninggal akibat lingkungan tercemar karena “perkembangan organ-organ tubuh dan sistem mereka, juga saluran pernafasan dan tubuh yang lebih kecil.”
Meskipun sebagian besar kematian anak ini terjadi di negara-negara berkembang, Direktur WHO Bidang Kesehatan Publik, Lingkungan Hidup dan Penentu Kesehatan Sosial, Maria Neira mengatakan pada VOA, polusi udara terjadi di negara miskin dan kaya.
“Anda bisa merupakan anak yang sangat kaya, orang tua Anda kaya raya, tetapi tinggal di suatu tempat, di kota yang udaranya sangat kotor, dan hanya sedikit yang bisa dilakukan karena kita semua perlu bernapas. Jadi meskipun Anda kaya atau miskin, Anda tetap perlu bernapas dan ini sangat merugikan. Polusi udara ada di mana-mana,’’ ujarnya.
WHO melaporkan bahwa penyebab utama kematian anak-anak berusia satu bulan hingga lima tahun adalah diare, malaria dan pneumonia.
“Ini adalah faktor-faktor yang sangat dipengaruhi oleh polusi udara, air dan sanitasi, yang tidak layak; tetapi juga akibat perantara yaitu nyamuk yang ada di sekeliling rumah dan masyarakat,” ujar Annette Pruss-Ustun, ilmuwan di Departemen Kesehatan Publik dan Lingkungan Hidup WHO.
“Ini adalah masalah utama di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah, kecuali polusi udara, dimana anak-anak yang berada di negara-negara berpendapatan tinggi juga terkena dampaknya,” ujarnya.
“Tetapi mereka tidak meninggal karena hal ini, karena sistem layanan kesehatan membantu mereka tepat pada waktunya,” tambah Annette.
WHO melaporkan tindakan-tindakan termasuk penyediaan air bersih dan sanitasi, pembatasan paparan bahan kimia berbahaya, dan perbaiki manajemen limbah yang bisa mencegah banyak masalah lingkungan hidup pemicu kematian.
“Hampir separuh penduduk dunia menggunakan bahan bakar kotor untuk memasak, menghangatkan makanan dan listrik di rumah. Dan hal ini tidak saja sangat mempengaruhi para ibu yang tinggal dan memasak di rumah, tetapi juga anak-anak yang berada di sekitar ibunya, mereka juga terkena dampaknya,” ujar Neira.*voaindonesia
Senin, 27 April 2015
Dinkes Bali Cek Penggunaan Jarum Suntik Bekas
Posted by admin |
No Comments |
Dinas Kesehatan Provinsi Bali akan mengecek dugaan penggunaan jarum suntik dan infus bekas ke sejumlah rumah sakit di Pulau Dewata, setelah Kepolisian Daerah Jawa Timur mengungkap praktik penyimpangan dalam pengolahan limbah medis.
"Kami sudah mendapat informasi adanya alat kesehatan dari Jatim yang didaur ulang, tetapi untuk penggunaannya di Bali kami belum mendapat infonya. Oleh karena itu akan kami cek," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr Ketut Suarjaya di Denpasar, Senin (27/4).
Menurut dia, kalau sampai ditemukan adanya rumah sakit di Bali yang menggunakan alat kesehatan bekas, maka pihaknya akan meminta aparat hukum untuk segera bertindak.
Suarjaya mengemukakan, pihaknya selama ini sudah melakukan pengawasan yang ketat terkait pengadaan alat kesehatan di rumah sakit. "Barang-barang yang diadakan mulai dari proses tender, maupun pembelian langsung harus dicek langsung apakah barangnya baru atau tidak," ujarnya.
Dinas Kesehatan, lanjut dia, mengawasi sejauh mana fungsi layanan kesehatan dilakukan oleh pihak RS dengan benar, alat medis yang digunakan sudah baru, barang habis pakai, jarum suntik dan obat-obatan baru, serta sesuai dengan fungsinya.
"Namun untuk MoU pengadaan alat kesehatan dengan pihak ketiga, kami di dinas tidak ikut karena itu kewenangan masing-masing rumah sakit. Bukan ranah kami untuk mencampuri," ujar Suarjaya.
Di sisi lain, semua rumah sakit di Bali (RS daerah dan swasta) sudah memiliki instalasi pembuangan air limbah (IPAL) dan memang itu merupakan salah satu syarat bagi RS untuk bisa melakukan kegiatan.
"Sedangkan untuk insinerator atau alat untuk memusnahkan alat kesehatan yang sudah tidak terpakai seperti jarum suntik, tabung darah dan sebagainya, seharusnya setiap RS memiliki alat itu," katanya.
Untuk insinerator, Suarjaya mengemukakan semua RS pemerintah di Bali telah memiliki, namun berbeda halnya dengan RS swasta, masih ada yang belum punya. "RS swasta yang tidak punya harus bekerja sama dengan RS pemerintah untuk memusnahkan alat kesehatan yang sudah terpakai," katanya.
Sebelumnya, Kepolisian Daerah Jawa Timur membongkar praktik penyimpangan dalam pengolahan limbah medis B3 (Bahan Berbahaya Beracun). Limbah medis itu disebut dijual kembali ke apotek dan rumah sakit, termasuk di Bali, setelah melalui proses pemilahan.
"Limbah yang masih bagus dikumpulkan, lalu dijual lagi ke beberapa rumah sakit dan apotek di Jawa Timur dan Bali. Sedangkan limbah yang sudah tidak bisa dijual, dikirim ke depo kontainer di Tanjung Perak Surabaya. Ada enam rumah sakit swasta dan pemerintah yang terlibat dalam penyimpangan pengolahan limbah medis B3 itu," kata Kepala Subdirektorat Tindak Pidana Tertentu (Subdit Tipiter) Polda Jatim, AKBP Maruli Siahaan, Jumat (24/4).*beritasatu
Sabtu, 17 Januari 2015
6 Kondisi Lingkungan yang Bisa Picu Kanker
Posted by admin |
No Comments |
Makanan atau gaya hidup memang bisa menjadi penyebab kanker. Tapi, ternyata, faktor lingkungan pun bisa memicu timbulnya penyakit mematikan ini di dalam tubuh.
Lingkungan yang tidak sehat baik di sekitar rumah atau pun tempat kerja memang mengganggu kesehatan. Risiko penyakit berbahaya pun timbul dari kondisi ini, termasuk kanker. Mengutip HealthMeUp, setidaknya ada 6 kondisi lingkungan buruk yang dapat memicu kanker.
1. Asap Rokok
Asap rokok dapat menimbulkan pencemaran udara dan berbahaya kesehatan pada manusia. Asap rokok yang mengandung zat karsinogen memiliki berbagai potensi penyebab kanker. Karsinogen ini termasuk bahan kimia hadir yang sering dijumpai di rumah dan tempat kerja serta di tempat umum. Faktor-faktor seperti sering menghirup asap rokok dapat mempengaruhi kemungkinan seseorang terkena kanker.

Cegah keputihan dan kanker serviks [lihat video gejala2 kanker serviks
2. Radiasi Nuklir
Meskipun tidak semua bentuk radiasi berbahaya, namun ada beberapa jenis radiasi yang bisa berbahaya bagi kesehatan. Radiasi pengion sangat berbahaya bagi kesehatan dan buruk untuk lingkungan. Radiasi tersebut biasa dikenal dengan radiasi atom atau radiasi nuklir, yang memiliki kemampuan merusak DNA dan menyebabkan kanker.
3. Asap Knalpot
Asap knalpot kendaraan mengandung zat karsinogen yang berbahaya pada dan penyumbang utama polusi udara serta dapat meningkatkan risiko kanker paru-paru. Asap ini biasanya dikeluarkan truk, bus, kereta api, generator, kapal dan kendaraan lain yang bermesin diesel. Orang-orang yang menghirup asap diesel rentan terkena kanker.
4. Gas Radioaktif
Gas radioaktif berwarna dan tidak berbau ini banyak ditemukan di dalam tanah dan batuan. Radon dapat menyebabkan kanker paru-paru, dan bertanggung jawab atas 20.000 kematian di Uni Eropa setiap tahunnya. Tingginya kadar radon telah dikaitkan dengan kanker paru-paru, tapi ini biasanya terjadi hanya ketika radon mendapatkan akumulasi di daerah dan tidak mampu dihilangkan.
5. Zat Kimia Berbahaya di dalam Rumah
Zat Kimia yang ditemukan di gedung-gedung tua, membawa risiko kanker paru-paru dan perut. Bahan Kimia yang digunakan dalam dry cleaning seperti tetrachloroethylene juga bisa memicu beberapa jenis kanker. Ada baiknya menjemur pakaian yang telah di-dry cleaning di luar rumah, supaya zat berbahaya pada pengeringan di mesin cuci bisa dihilangkan dengan panasnya matahari.
6. Produk Kecantikan
Ini mungkin menjadi bagian dari gaya hidup sebagian orang, tapi sayangnya deodorant, bedak, pewarna rambut, dan kosmetik serta produk makanan yang mengandung aspartame dan pewarna berpotensi menyebabkan kanker. Meskipun para peneliti masih mencoba menentukan tingkat zat berbahaya mereka, tapi orang-orang disarankan agar mengurangi produk kecantikan yang dipakai.
Sabtu, 03 Januari 2015
Indonesia Ramah Orangnya, Kenapa Tak Ramah Lingkungan?
Posted by admin |
No Comments |
Banyak yang menyebutkan orang Indonesia merupakan pribadi yang ramah, perduli dan peka terhadap sesama. Ini dibuktikan oleh beberapa warga negara asing yang datang ke Indonesia menyatakan bahwa orang Indonesia begitu ramah tamah.
Orang Indonesia terkenal dengan keramah tamahannya, akan tetapi kenapa tidak ramah terhadap lingkungan? Pertanyaan seperti ini pasti masih sering terlintas oleh beberapa orang. Gerakan ramah lingkungan sudah sering ada. Akan tetapi mengapa perilaku orang Indonesia masih kurang perhatian terhadap kebersihan lingkungan ya.
Kebersihan lingkungan merupakan hal utama yang mencerminkan suatu lingkungan bahkan negara, perilaku buruk yang masih tertinggal ini masih sulit untuk diubah. Contohnya saja kebiasaan membuang sampah sembarangan, membuang sampah sembarangan selain dapat mengganggu kebersihan lingkungan juga dapat menghambat sanitasi.

Cegah keputihan dan kanker serviks [lihat video gejala2 kanker serviks click here] bersama dr. Boyke Dian Nugraha, Sp.Og click here
Sanitasi yang buruk akan membuat angka kesehatan menurun pula, akibat dari sanitasi yang buruk tentu saja sudah banyak disadari masyarakat contohnya saja seperti diare dan demam berdarah. Selain membuang sampah sembarangan sikap buruk akan tak ramah lingkungan yang masih saja ada ini seperti menggunakan kertas berlebihan, memakai listrik berlebihan, memakai air berlebihan, padahal faktanya hal-hal tersebut bisa kita kurangi, dimulai dari diri sendiri. Berikut adalah beberapa langkah untuk menjadi pribadi yang ramah lingkungan :
1.Matikan Lampu
Biasakan mematikan lampu saat ingin keluar ruangan atau bila sudah tak terpakai, saat siang hari bukalah jendela agar cahaya masuk maksimal, bila malam hari saat beranjak tidur matikan lampu.
2.Gunakan Air Secukupnya
Gunakan air secukupnya, jangan terbiasa membudayakan boros air, jika tidak dipakai matikan air, biasakan budaya seperti ini setiap hari maka akan teringat terus.
3.Gunakan Kertas Secukupnya
Kertas berasal dari pohon, semakin banyak kertas yang digunakan semakin banyak pohon yang ditebang, ini akan membuat bumi kita semakin rusak dan gundul. Biasakan untuk menggunakan kertas secukupnya, misalnya jika ingin mengirim surat atau tugas bisa dengan email atau sms, sehingga mengurangi penggunaan kertas.
4.Gunakan Alat Elektronik Secukupnya
Penggunaan alat elektronik yang berlebihan juga dapat merusak dan menyerap banyak energi, mulailah dari matikan lampu saat tidur juga cabut semua alat elektronik saat ingin pergi.
5.Berhenti Merokok
selain buruk bagi kesehatan sendiri, rokok juga mempunyai efek buruk bagi lingkungan, mulailah berhenti merokok, atau bertahap seperti mengurangi porsi merokok, yang biasanya satu hari satu bungkus menjadi 3 kali dalam sehari semisalnya sehabis makan.
Mudah bukan untuk menjadi ramah lingkungan, yuk mulai dari diri sendiri hari ini saat ini juga. Jadilah pribadi yang ramah tamah juga ramah lingkungan.
Jumat, 14 Februari 2014
Bahaya Debu Vulkanik Terhadap Kesehatan
Posted by admin |
No Comments |
Akibat letusan Gunung Kelud, hujan debu vulkanik menutupi beberapa wilayah Jawa Timur, Yogyakarta, Jawa Tengah dan juga Jawa Barat. Mungkin banyak teman-teman saya dan alumni maupun fans page blog kita yang terkena langsung dampak letusan Gunung Kelud, karena di tempat pengelola web juga terjadi hujan debu vulkanik walaupun tidak lebat. Hujan debu vulkanik yang turun dengan lebat tak bisa diremehkan begitu saja. Karena jika terhirup, debu vulkanik sangat buruk untuk kesehatan. Tak hanya masalah pernapasan, debu vulkanik juga bisa menyebabkan masalah pada kulit dan mata. Berikut adalah efek buruk abu vulkanik untuk kesehatan yang perlu diwaspadai.
Kesehatan Pernapasan
Menghirup abu vulkanik sangat membahayakan pernapasan. Namun ini juga bergantung pada beberapa faktor seperti konsentrasi abu vulkanik pada udara, durasi hujan vulkanik, dan adanya gas atau aerosol yang tercampur dengan abu vulkanik. Semakin banyak faktor tersebut, maka abu vulkanik semakin berbahaya. Beberapa gejala ketika seseorang mulai terkena masalah akibat abu vulkanik, antara lain:
- Iritasi saluran pernapasan dan keluarnya ingus
- Iritasi tenggorokan, radang tenggorokan, dan batuk kering
- Sakit pada dada, batuk, napas pendek-pendek, napas berbunyi, dan sesak napas
- Bernapas menjadi tidak nyaman dan sulit.
Abu vulkanik terutama sangat berbahaya pada orang yang memiliki masalah pernapasan sebelumnya, seperti asma, sakit paru-paru, atau bronchitis. Jika ada orang yang memiliki masalah pernapasan, sebaiknya segera diamankan di tempat yang tak terkena abu vulkanik, karena efeknya pada kesehatan mereka akan lebih parah.
Mata
Abu vulkanik yang berukuran kecil tak hanya bisa terhirup oleh hidung, melainkan juga bisa masuk ke mata. Abu vulkanik berbeda dengan abu biasa. Abu vulkanik memiliki sudut kristal yang runcing dan sangat mampu menggores serta mengelupas permukaan mata. Hal ini tak hanya bisa menyebabkan mata menjadi iritasi, tetapi juga merusak kornea. Orang yang paling berisiko terkena iritasi jika ada hujan abu vulkanik adalah orang yang memakai lensa kontak. Sebaiknya lepas lensa kontak dan gunakan kacamata untuk melindungi mata Anda. Masalah yang bisa disebabkan oleh abu vulkanik pada mata, antara lain:
- Iritasi mata
- Mata gatal, sakit, dan terasa tak nyaman
- Mengeluarkan air mata terus-menerus, atau mengeluarkan kotoran mata (belek)
- Abrasi pada kornea dan goresan pada mata
- Peradangan pada bola mata karena abu vulkanik yang bisa menyebabkan rasa terbakar, mata merah, dan penurunan daya penglihatan.
Ketika ada abu vulkanik yang masuk ke mata, jangan digosok atau dikucek, karena hal ini akan semakin memperburuk iritasi serta bisa menyebabkan abrasi dan goresan pada kornea. Selain itu, abu vulkanik juga mengandung zat-zat yang bisa berbahaya untuk kesehatan mata.
Kulit
Tak hanya pernapasan dan mata, kulit juga bisa mengalami efek buruk ketika terkena abu vulkanik. Meski jarang dan tak selalu dialami oleh semua orang, namun abu vulkanik juga bisa menyebabkan iritasi kulit. hal ini biasanya jika abu vulkanik disertai dengan zat berbahaya, atau karena kulit yang sensitif.
Tanggap bencana oleh pemerintah berhasil menyelamatkan masyarakat dari bahaya letusan Gunung Kelud, namun dampak terhadap kesehatan tentu saja ada setelah erupsi maupun saat erupsi, gunakanlah perlengkapan kesehatan seperti kacamata, masker, dan baju lengan panjang untuk melindungi kulit Anda.
Perlukah Masker Khusus Hadapi Debu Vulkanik?
Posted by admin |
No Comments |
Meletusnya Gunung Kelud Jumat (14/2/2014) dini hari tadi berdampak pada timbulnya hujan abu vulkanik untuk sejumlah wilayah di Jawa Tengah, Yogyakarta, serta Jawa Timur. Materi abu vulkanik berpotensi membahayakan kesehatan khususnya sistem pernapasan.
Bagi masyarakat yang berada di dalam wilayah hujan abu untuk selalu menggunakan masker saat keluar ruangan. Penggunaan masker khusus kategori N95-N100 lebih direkomendasikan karena dapat mencegah materi yang berukuran kurang dari 10 mikron. Hanya saja, tidak semua orang mampu mendapatkan masker khusus tersebut, ditambah lagi ketidaknyamanan dalam menggunakannya menambah keenganan orang untuk memakainya.
Namun daripada ketidaknyamanan dan kesulitan mendapatkannya menjadi kendala, lebih baik menggunakan masker operasi atau masker kain biasa. Semua masker pasti akan mengurangi partikel yang masuk ke dalam tubuh, meskipun tidak mampu menyaring partikel yang berukuran lebih kecil dari 10 mikron, namun masker atau kain apapun sudah dapat mengurangi partikel abu vulkanik dengan signifikan.
Partikel abu vulkanik berukuran kurang dari 5 mikron, padahal dengan ukuran tersebut, partikel bisa terhirup masuk ke saluran pernapasan bagian bawah, seperti paru-paru. Partikel abu vulkanik, berpotensi mengganggu sistem pernapasan karena mengandung kristal silika.
Kristal silika merupakan salah satu bahan yang digunakan dalam industri kaca untuk membuat kaca keras. Jika terhirup dan masuk ke dalam paru-paru, partikel ini berpotensi merusak alveoli, unit pernapasan terkecil dari paru-paru.
Idealnya, orang-orang di kawasan yang terkena hujan abu vulkanik tidak keluar ruangan dulu, tetapi kalau harus keluar, harus gunakan masker. Selain masker, masyarakat dihimbau untuk menggunakan kain yang dilibatkan pada kepala untuk mencegah debu mengenai daerah kepala. Serta, menggunakan kaca mata untuk melindungi mata.
Dilansir International Volcanic Health Hazard Network, para peneliti dari Universitas Cambridge Inggris menyarankan beberapa hal untuk menghindari bahaya hujan abu vulkanik, antara lain selalu menggunakan masker dan kaca mata pelindung, serta minum air putih yang cukup, paling tidak untuk 72 jam (3-4 liter per orang per hari).
Jadi berhati-hatilah terhadap debu vulkanik ini, utamanya masyarakat yang dekat dengan Gunung Kelud.
Kamis, 31 Oktober 2013
Indonesia, Negara dengan Sanitasi Terburuk Kedua di Dunia!
Posted by admin |
No Comments |
Kini sudah seharusnya para pemangku kepentingan di Indonesia benar-benar mencermati bahwa pembangunan sanitasi di Indonesia masih relatif rendah. Hal itu terungkap pada Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional (KSAN) 2013 di Jakarta, Rabu (30/10/2013), bertema "Menuju Pelayanan Prima Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat Melalui Penguatan Institusi Daerah dan Pelibatan Swasta Lokal".
Pada konferensi yang diselenggarakan oleh World Bank Water Sanitation Program (WSP) itu terungkap, bahwa Indonesia berada di urutan kedua di dunia sebagai negara dengan sanitasi buruk. Menurut data yang dipublikasikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), 63 juta penduduk Indonesia tidak memiliki toilet dan masih buang air besar (BAB) sembarangan di sungai, laut, atau di permukaan tanah.
Menurut data Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia (MDG), pada 2010 cakupan pelayanan air minum di Indonesia baru mencapai 46 persen. Padahal, target di 2015, Indonesia harus sudah mencapai 68,87 persen. Sementara itu, target pemenuhan akses sanitasi layak harus mencapai 62,41 persen.
Memang, meski terdengar sepele bagi penduduk kota yang berkelimpahan pasokan air bersih, masalah seputar ketersediaan air bersih dan fasilitas sanitasi di daerah-daerah lain ternyata cukup parah. Karena itulah, perlu kerjasama berbagai pihak untuk segera memperbaiki hal ini.
"Sanitasi termasuk target MDG (Millenium Development Goal). Mungkin ini target tiga tahun lalu. Saat ini, akses kita sudah 57 persen. Ada optimisme, targetnya 62 persen. Informasi dua minggu lalu dari BPS, di kuartal pertama 2013 ternyata sanitasi kita maju satu persen. Akhir 2013 ini bukan tidak mungkin sampai empat persen. Jadi, saya optimistis," kata Nugroho Tri Utomo, Direktur Perumahan dan Permukiman Bappernas, menanggapi kekhawatiran publik.
Menurut Nugroho, jika usaha ini tidak terhenti di tahun depan, maka target tentu akan terpenuhi. Sementara masalah kedua adalah masalah kesadaran. Nugroho bersikeras akan mendukung segala kegiatan yang mampu mendorong kesadaran penduduk Indonesia, lewat jalur pendidikan, agama, maupun ekonomi. Intinya, kesadaran harus didahulukan.
Menanggapi hal itu, Direktur Pengembangan Air Minum Kementerian Pekerjaan Umum Danny Sutjiono, dan Direktur Penyehatan Lingkungan Ditjan P2PL Kementerian Kesehatan Wilfred H. Purba mengaku sependapat dengan Nugroho. Keduanya menyatakan sepakat, bahwa bukan tidak ada usaha untuk menyediakan sanitasi memadai dan akses ke air bersih. Bahkan, masyarakat yang ada di daerah umumnya justru mengedepankan konsep gotong royong untuk mengusahakan hal ini. Dengan kata lain, yang terjadi adalah sebuah proses.
Donny menmgakui, sulit menjawab mengapa pendapatan Indonesia yang cukup ternyata belum mampu menyelesaikan masalah sanitasi. Namun, kesadaran semua pihak perlu ditumbuhkan lebih banyak lagi untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Sementara Wilfred juga mengutarakan, bahwa dalam menumbuhkan kesadaran semua penduduk Indonesia, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi. Pertama, orang Indonesia cenderung lebih senang "mengobati". Kegiatan promotif dan preventif memakan waktu lebih lama, maka tidak disukai oleh orang Indonesia.
"Yang kedua, tantangan kita yang lain biayanya meningkat, baik di tingkat pusat maupun daerah. Yang ketiga, orang sakit bisa karena beberapa alasan. Bisa karena genetis, sulitnya akses ke kesehatan, dan karena perilaku," ujarnya.
Referensi :
Surat Keterangan Akreditasi FKM UNDIP
Bagi teman-teman yang membutuhkan informasi tentang Akreditasi FKM UNDIP... Silahkan download file di bawah ini... file sudah saya perb...
Find Us on Facebook
Category
Blog Archives
Do Before You Die














