journey healthy future

Tampilkan postingan dengan label penyakit tidak menular. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penyakit tidak menular. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 November 2018

Diabetes Hantui Kaum Pekerja Indonesia

Diabetes tipe dua mulai menghantui para pekerja di Indonesia. Penyakit kronis ini bahkan sudah menyerang usia produktif atau kaum pekerja, yang ditandai dengan semakin mudanya umur pengidap.

Menurut ahli yang kerap menangani diabetes menyatakan banyak mendapati kaum pekerja usia produktif yang mengidap diabetes. Penyakit ini ditandai dengan tingginya gula darah atau di atas 125 mg/dL. Jika sudah terkena diabetes, penyakit ini tak bisa disembuhkan dan dapat menimpulkan komplikasi di bagian tubuh lain.
"Usia penderita diabetes tipe dua sudah semakin muda. Sebelumnya terjadi pada orang dewasa. Namun, beberapa tahun terakhir makin banyak ditemukan pada usia dewasa muda atau 30 tahunan," kata Kepala Divisi Metabolik Endokrin Departemen Penyakit Dalam RSCM-FKUI Dante Saksono dalam peringatan Hari Diabetes Sedunia yang digelar Tropicana Slim di Jakarta, Minggu (11/11).

Temuan yang sama juga disampaikan dokter spesialis penyakit dalam Suharko Soebardi. Menurutnya, faktor gaya hidup dan lingkungan yang tidak sehat di kalangan para pekerja membuat penyakit diabetes semakin cepat berkembang.

"Risiko yang besar memang di atas usia 40 tahun. Tapi faktanya di klinik atau rumah sakit sudah kami temui di bawah usia tersebut," ucap Suharko.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang baru saja dirilis menunjukkan prevalensi penyandang diabetes naik menjadi 8,5 persen dari 6,9 persen pada Riskesdas 2013. Di Jakarta, yang mayoritas merupakan kaum pekerja, prevalensi diabetes mencapai 12,8 persen. Artinya, satu dari delapan orang di Jakarta merupakan penderita diabetes.

Dante menjelaskan rutinitas pekerja yang bekerja dari pagi hingga malam membuat mereka cenderung melupakan hidup sehat seperti berolahraga dan juga makan-makanan dengan gizi yang berimbang. Kurang berolahraga dan kelebihan berat badan merupakan salah satu faktor risiko yang menyebabkan diabetes.

"Yang paling susah di Jakarta itu olahraga karena jalanan macet, pergi harus pagi dan pulang malam. Tapi, ini harus segera diantisipasi," ucap Dante.

Dante menyarankan agar kaum pekerja lebih banyak melakukan aktivitas fisik dan berolahraga agar dapat mengurangi risiko diabetes. Aktivitas fisik itu, kata Dante, dapat dimulai dengan sederhana seperti memperbanyak jalan kaki dan naik turun tangga. Risiko diabetes juga bisa diturunkan dengan menerapkan pola makan yang sehat dan berimbang.

"Dimulai dengan memilih makanan yang sehat dan mempertahankan berat badan. Makanya, jangan malas untuk aktivitas," ujar Dante.

Selain gaya hidup tidak sehat, risiko diabetes juga meningkat pada orang yang memiliki garis keturunan diabetes, obesitas, tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, dan merokok.

"Itu semua faktor risko, sehingga mereka yang punya faktor risiko yang banyak lebih besar kemungkinannya terkena diabetes," ujar Suharko. 

Dokter di RSCM ini menyarankan untuk menghindari atau mengurangi faktor risiko tersebut agar terhindar dari diabetes. Hari Diabetes Sedunia diperingati setiap 14 November. CNN Indonesia

Kamis, 04 Oktober 2018

Media Sosial Banyak Bikin Remaja Perempuan 'Galau' Berat

Selama satu dekade terakhir, platform media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram telah mencuri perhatian banyak orang. Laman media sosial ini kian populer dan membuat banyak orang sangat bergantung pada ponsel pintar.

Namun, di balik popularitasnya yang kian melonjak, fiksasi media sosial tanpa disadari justru menimbulkan korban, khususnya kaum hawa. 

Melansir The Independent, jajak pendapat teranyar yang dilakukan Girlguiding, organisasi sosial di Inggris yang beranggotakan perempuan menyebut, sebagian besar remaja perempuan merasa hidupnya tidak bahagia akibat serbuan media sosial.

Jajak pendapat itu mendapatkan hanya seperempat remaja perempuan berusia 7-21 tahun yang mengaku bahagia. Angka ini menurun drastis dari 2009 lalu sebanyak 41 persen.

Sebanyak 59 persen remaja perempuan berusia 7-21 tahun mengatakan bahwa media sosial adalah salah satu penyebab utama stres yang dirasakannya. Sementara 69 persen di antaranya menyalahkan ujian yang sulit atas stres yang dideritanya.

Organisasi tersebut melakukan jajak pendapat terhadap 1.903 remaja perempuan berusia 7-21 tahun selama Maret hingga Mei 2018. Hasil ini dibandingkan dengan penemuan jajak pendapat sebelumnya pada 2009 lalu.

Peneliti utama dari Girlguiding, Amanda Medler, mengatakan bahwa perlu adanya tindakan yang lebih efektif untuk memperhatikan kesehatan mental remaja perempuan.

"Pesannya jelas tentang keseriusan masalah yang dihadapi perempuan di zaman kiwari, serta dampak negatifnya terhadap kehidupan mereka," ujar Medler.

Belakangan, berbagai penelitian soal kesehatan mental remaja kerap dilakukan oleh sejumlah organisasi. Rata-rata dari penelitian menyebutkan adanya krisis kesehatan mental pada remaja, baik perempuan atau laki-laki.

Teranyar, sebuah penelitian di Inggris menunjukkan adanya peningkatan penggunaan obat painkiller atau penghilang rasa sakit dan antidepresan pada remaja. Hasil penelitian itu menjadi bukti baru yang lain dari krisis kesehatan mental pada remaja di zaman kiwari. Jakarta, CNN Indonesia

Selasa, 25 September 2018

Satu dari Tiga Mahasiswa Baru Alami Gangguan Mental

Peralihan dari masa SMA menuju dunia perkuliahan memberikan kesan yang berbeda-beda bagi setiap orang. Ada di antaranya yang berujung bahagia, tapi ada pula beberapa lainnya yang berujung nestapa.

Gejala gangguan mental mengintai euforia masa-masa menjadi mahasiswa baru. Hal itu dibuktikan dalam sebuah penelitian yang diinisiasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Studi menyebut satu dari tiga mahasiswa baru dilaporkan mengalami gejala gangguan mental.

Penelitian itu mencari tahu prevalensi gangguan psikologis di antara mahasiswa baru di delapan negara seperti Australia, Belgia, Jerman, Meksiko, Irlandia Utara, Afrika Selatan, Spanyol, dan Inggris.

Beberapa gangguan psikologis yang menjadi sorotan di antaranya depresi, gangguan kecemasan, gangguan panik, dan kecanduan alkohol.

Temuan yang dipublikasikan dalam Journal of Abnormal Psychology ini didasarkan pada serangkaian survei kesehatan berbasis daring yang diberikan kepada mahasiswa baru dalam beberapa bulan awal perkuliahan.

Hasilnya, sebanyak 35 persen dari 13.984 responden dilaporkan mengalami gangguan mental selama hidupnya. Sementara 31 persen di antaranya mengalami gangguan mental setidaknya 12 bulan sebelum survei dilakukan. Depresi adalah gangguan paling umum yang dialami mahasiswa. 

"Transisi dari SMA menuju perguruan tinggi benar-benar menjadi tantangan bagi mereka," ujar salah satu penulis studi, Randy Auerback dari Columbia University, AS, melansir The Guardian.

Tingkat gangguan, kata Auerback, tampak sangat mengkhawatirkan. Temuan tersebut menunjukkan adanya masalah kesehatan mental masyarakat yang sangat besar.

Auerback menduga, prevalensi sesungguhnya bisa lebih tinggi dari apa yang didapatkan dalam penelitian. Pasalnya, peneliti hanya fokus pada beberapa gangguan mental yang umum terjadi.

"Kami menemukan bahwa gangguan-gangguan itu didistribusikan secara luas dalam lingkungan mahasiswa," kata Auerback. Hal itu, lanjutnya, menunjukkan bahwa perlu adanya pemahaman lebih menyeluruh perihal gangguan mental yang tumbuh dalam lingkungan perguruan tinggi. 

Kendati demikian, para peneliti menganggap perlu adanya penelitian lebih lanjut terkait hal tersebut. Jakarta, CNN Indonesia.

Jumat, 21 September 2018

Penyebab Orang Muda Sekarang Lebih Banyak Kena Stroke

Jika biasanya stroke menyerang usia lanjut (di atas 65 tahun), maka fenomena yang kini terjadi, banyak orang muda kena stroke. Sasaran orang muda yang kena stroke rentang usia 20 sampai 30 tahun.

Lebih banyak orang muda yang kena stroke disampaikan dokter spesialis saraf Mohammad Kurniawan usai acara talkshow penanganan stroke di Hotel Double Tree, Jakarta.

"Ini karena problem (masalah) genetik. Saya bahkan punya pasien yang berusia 18 tahun kena stroke. Itu ya karena ada masalah kelainan genetik," jelas Kurniawan, ditulis Jumat (21/9/2018).

Kurniawan menceritakan, banyak pasien berusia 20-an maupun 30-an yang kena stroke datang berobat. Penyebab mereka kena stroke disebabkan gaya hidup yang buruk.

"Orang suka makan yang manis-manis. Gula darah enggak dicek, eh ternyata diabetes. Itu berpotensi terjadi penyumbatan pembuluh darah, yang berujung stroke," Kurniawan menambahkan.

Bukan hanya masalah diabetes, kolesterol tinggi yang dialami orang muda juga menjadi penyebab penyumbatan pembuluh darah. Kondisi ini meningkatkan risiko stroke.

"Data pasti kolesterol saja yang menjadi penyebab stroke sampai saat ini belum ada datanya. Kolesterol biasanya disertai dengan hipertensi (tekanan darah tinggi)," lanjut Kurniawan, yang berpraktik di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta.

Yang menjadi penyebab terbesar stroke dari gangguan irama jantung (aritmia fibrilasi) berupa irama jantung tidak teratur. Gangguan irama jantung membuat terjadi bekuan darah di jantung, yang mana dapat menyumbat pembuluh darah di otak.

"Apalagi pasien tua (lanjut usia) yang punya riwayat gangguan irama jantung dan ada hipertensi, makin berlipat risikonya (kena stroke)," Kurniawan menerangkan. Jakarta, Liputan6

Sabtu, 15 September 2018

Mengenal Lebih Dekat Kanker Limfoma

Tanggal 15 September setiap tahunnya diperingati sebagai hari kanker limfoma sedunia. Mungkin jenis kanker ini tak terlalu umum terdengar, di luar kanker yang paling umum dijumpai seperti serviks, paru-paru, hati, dan payudara. 

Hanya saja kenyataannya, jenis kanker getah bening ini ternyata menjadi kanker nomor tujuh yang paling sering diderita orang Indonesia.  Di Indonesia, penderita limfoma mencapai 14.905 jiwa berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013.

Mengutip Healthline, limfoma merupakan kanker darah dalam sistem limfatik yang menyebabkan pembesaran kelenjar getah bening. Sistem limfatik termasuk salah satu bagian penting untuk kekebalan tubuh manusia. 

Dengan bantuan sel-sel darah putih dalam sistem limfatik, antibodi tubuh terbentuk sempurna. Jika sel-sel darah putih terserang kanker, maka sistem kekebalan tubuh akan menurun drastis hingga rentan mengalami infeksi. 

Banyak orang menduga limfoma serupa dengan kanker darah atau leukemia pada umumnya. Namun, faktanya limfoma dan leukemia adalah dua jenis kanker yang berbeda.

Leukimia berawal dari sel pembentuk darah dalam sumsum tulang belakang. Sementara limfoma berawal dari sel-sel darah putih limfosit sebagai pembentuk kekebalan tubuh.

Ada dua jenis limfoma berdasarkan jenis sel limfosit yang terserang, yaitu limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin. 

Limfoma non-Hodgkin adalah jenis yang paling umum ditemui. Di Indonesia, data Globocan menyebut jenis limfoma non-Hodgkin merupakan kanker nomor tujuh yang sering dijumpai. Sementara Hodgkin hanya mengambil 20 persen dari kasus limfoma.

Sama seperti jenis kanker lainnya, pengobatan limfoma dilakukan dengan kemoterapi, imunoterapi, atau terapi radiasi. Sayangnya, terapi ini tak bisa dilakukan pada pasien dengan riwayat medis tertentu, seperti jantung.

Sebagai jawaban, limfoma bisa diatasi dengan terapi bendamustin yang sudah mulai diproduksi di Indonesia. Obat ini sebenarnya telah ditemukan sejak 50 tahun lalu, tapi hanya terbatas di Jerman. Jakarta, CNN Indonesia

Kamis, 13 September 2018

WHO: Kanker Membunuh Hampir 10 Juta Orang di Dunia Tahun Ini

Jumlah penderita kanker di seluruh dunia terus meningkat signifikan. Laporan terbaru yang dirilis oleh International Agency for Research on Cancer, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengestimasi terdapat 18,1 juta kasus kanker baru dan 9,6 juta kematian yang terjadi pada tahun ini.

Serangan kanker yang masif ini membuat WHO memprediksi kanker bakal menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia pada akhir abad ini. Kanker bakal menjadi penghalang terbesar bagi manusia untuk meningkatkan angka harapan hidup.

Hasil laporan ini didapat setelah peneliti menganalisis data dari 185 negara di dunia dengan melihat lebih dalam pada 36 jenis kanker. 

Berdasarkan data itu, ditemukan satu dari lima pria dan satu dari enam wanita bakal mengalami kanker dalam hidup mereka. Sebanyak satu dari delapan pria dan satu dari 11 wanita akan meninggal karena kanker.

Laporan itu menyimpulkan, penambahan jumlah penderita kanker berjalan seiring dengan populasi warga dunia yang juga kian bertambah. Populasi yang menua membuat risiko kanker meningkat seiring bertambahnya usia. 

Angka kematian karena kanker juga terlihat meningkat lantaran kematian akibat stroke dan penyakit jantung di banyak negara semakin menurun.

Kanker paru, kolorektal, lambung, hati, dan payudara merupakan jenis kanker yang paling banyak diderita. Laporan itu mencatat kanker paru merupakan kanker paling mematikan dengan 1,8 juta kematian atau 18,4 persen dari total kematian pada 2018.

Kanker kolorektal mengekor di posisi kedua dengan 881 ribu kematian, kanker lambung 783 ribu kematian, kanker hati 782 ribu kematian, dan kanker payudara 627 ribu kematian.

Laporan ini juga menemukan kejadian kanker lebih tinggi 20 persen pada pria dibandingkan pada wanita dan tingkat kematian juga lebih tinggi 50 persen pada pria.

Pada pria, kanker yang banyak diderita meliputi kanker paru, prostat, kolorektal, hati, dan lambung. Sedangkan perempuan banyak menderita kanker payudara.

Seperti diberitakan CNN, kanker yang terjadi pada seseorang tergantung pada lokasi dia berada. Laporan itu menyebut hampir setengah dari kasus kanker baru dan lebih dari setengah kematian akibat kanker terjadi di Asia, yang mencakup 60 persen populasi dunia. 

Di Amerika tercatat 21 persen kasus kanker dengan 14,4 persen kematian akibat kanker, meski hanya mencakup 13,3 persen populasi dunia. Sedangkan Eropa menyumbang 23,4 persen kasus kanker dan 20,3 persen kematian, walau memiliki 9 persen populasi dunia.

Di sisi lain, laporan ini menemukan bahwa upaya pencegahan dapat membuahkan hasil. Negara yang memiliki kampanye kesadaran publik dan hukum yang kuat untuk membuat orang berhenti merokok seperti di Eropa Utara dan Amerika dapat menurunkan jumlah penderita kanker paru-paru. Kasus kanker serviks juga menurun karena upaya pemeriksaan dini yang digalakkan.

Pada negara dengan ekonomi yang kuat, jumlah kanker akibat kemiskinan dan infeksi juga menurun. Namun, kanker akibat gaya hidup seperti obesitas dan alkohol justru meningkat. Jakarta, CNN Indonesia

Rabu, 12 September 2018

Kenali Tanda Penyakit Skizofrenia Sejak Dini

Jakarta, CNN Indonesia -- Skizofrenia bisa menyerang siapa saja. Penyakit mental yang mengganggu pikiran dan persepsi ini kerap menyerang individu berusia 16-30 tahun.

Penyakit skizofrenia menyerang sekitar lebih dari 23 juta orang di dunia. Sementara di Indonesia, prevalensi gangguaan jiwa berat seperti skizofrenia mencapai sekitar 400 ribu orang.

Meski penyebab skizofrenia tak diketahui, namun pengaruh genetik dan faktor lingkungan sosial dipercaya sebagai sesuatu yang dapat menimbulkan penyakit mental satu ini.

Sampai saat ini, tak ada metode pasti untuk mencegah skizofrenia. Namun, mengenali tanda penyakit skizofrenia sejak dini dipercaya mampu mencegah potensi berkembangnya gangguan. 

Berikut melansir Medical Daily, beberapa tanda dini penyakit skizofrenia yang bisa Anda cermati.

1. Menjauhkan diri dari lingkungan sosial

Seseorang yang menolak interaksi dengan keluarga atau teman biasanya lebih senang untuk mengisolasi diri. Kebiasaan itu bisa memengaruhi rutinitas harian mereka seperti bolos sekolah atau kerja serta absen dari berbagai agenda sosial lainnya.

Orang-orang jenis ini merasa tak tertarik dengan situasi-situasi ramai yang ujung-ujungnya 'melenyapkan' gairah hidup mereka.

2. Tingkat kebersihan yang buruk

Kondisi kebersihan pribadi yang memburuk bisa jadi tanda awal penyakit skizofrenia. Perlahan mereka bakal meninggalkan kebiasaan harian seperti mandi, menyikat gigi, atau mengganti pakaian yang digunakan.

Memburuknya kebersihan diri itu merupakan akar dari sikap apatis, emosi datar, dan pengabaian diri. Dalam beberapa kasus, penderita skizofrenia sama sekali tak peduli dengan kebersihan dan penampilan mereka.

3. Percaya dengan gangguan supranatural

Literatur media telah menunjukkan kaitan antara kepercayaan akan kekuatan supranatural dengan berbagai aspek skizofrenia.

"Penderita skizofrenia kerap mengalami delusi dan halusinasi yang bersifat supranatural. Ada sebuah bukti yang membuktikan bahwa tingkat kepercayaan memengaruhi level gangguan kejiwaan seseorang," tulis Indian J Psychol Med dalam literaturnya.

Gejala itu berbentuk paranoia dan semakin menjauhkan penderita dengan kenyataan. Pada tahap awal, seseorang akan memperlihatkan delusinya seperti merasa dihantui oleh kekuatan roh jahat.

4. Gerak-gerik yang aneh

Gerakan atau ekspresi tertentu dapat diamati sejak tahap awal penyakit skizofrenia. Ekspresi wajah kosong, ujung mulut yang kerap bergerak, dan jarang berkedip bisa menjadi tanda awal penyakit skizofrenia.

Selain itu, gerakan lain seperti kerap mondar-mandir dan seolah bergetar ketakutan juga bisa jadi penanda awal skizofrenia.

5. Halusinasi suara

Halusinasi pada penderita skizofrenia akan terjadi pada kelima indera manusia. Namun, indera pendengaran adalah yang paling sering terganggu. 

Lebih dari 70 persen penderita skizofrenia dilaporkan mendengarkan suara-suara 'gaib' yang tak jelas asalnya. Suara-suara itu bisa berujung pada gangguan pikiran, menghilangnya konsentrasi, dan melemahnya daya ingat seseorang.

Selasa, 11 September 2018

Lima Menit di Alam Terbuka Dapat Hilangkan Stres

Jakarta, CNN Indonesia -- Ketika akhir pekan datang, kebanyakan orang khususnya kaum pekerja ingin menghabiskan satu hari itu untuk bersantai, sebelum kembali ke rutinitas kerja pada keesokan harinya. 

Sebagian orang mungkin tidak ingin beranjak dari tempat tidur. Beberapa lainnya mungkin lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan menonton serial drama kesukaan di platform film streaming.

Meski begitu, Heather Silvestri, psikolog yang berbasis di New York, Amerika Serikat (AS) menyatakan bahwa santai pada Minggu seharusnya tetap diisi dengan rutinitas yang jelas.

Misalnya, berolahraga di alam terbuka, seperti mendaki, bersepeda, berenang, yoga di taman, dan lainnya, sehingga tidak sekedar 'berleyeh-leyeh' di dalam ruangan. 

Namun, olahraga tersebut, katanya, tak perlu dilakukan terlalu berat. Sebab, justru bisa menciptakan stress baru. 

"Inti dari kegiatan ini adalah untuk menikmati waktu Anda dan merasa bersemangat dan aktif, bukan untuk menghasilkan kesuksesan lain," ucapnya, seperti dikutip dari Bustle, Minggu (9/9). 

Bila latihan olahraga terasa melelahkan, ada cara lain yang bisa diikuti. Menurut Qing Li, penulis buku Forest Bathing: How Trees Can Help You Find Health and Happiness, setidaknya memandangi alam terbuka selama lima menit pada hari Minggu dapat menghilangkan rasa stress. 

"Dengan berada di alam, Anda dapat terhubung melalui indera penglihatan, pendengaran, rasa, bau, dan sentuhan. Membuka indera bisa menjembatani kesenjangan antara kita dengan alam," ujarnya. 

Studi dari Journal of Environmental Science and Technology menyebutkan berada di alam pada akhir pekan ampuh untuk menciptakan suasana positif pada hati Anda, sehingga meredakan kecemasan sebelum kembali ke rutinitas kerja. 

"Dalam sebuah meta analisis dari 10 penelitian, mereka yang keluar dan bergerak hanya lima menit pada satu waktu bisa meningkatkan mood suasana hati dan kepercayaan diri," tulis jurnal tersebut. 

Studi lain dari Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America menyebutkan bahwa berada di alam terbuka juga bisa meningkatkan fungsi kekebalan tubuh seseorang dan mencegah munculnya penyakit. 

Ahli:Ada Niat Bunuh Diri Berarti Punya Masalah Kesehatan Jiwa

Jakarta, CNN Indonesia -- Bunuh diri bukanlah jalan pintas mengakhiri derita hidup. Orang yang berniat bunuh diri atau sudah melakukannya memiliki persoalan penting yang harus diselesaikan yakni gangguan kesehatan mental. 

Sehingga, solusi yang tepat bukanlah melanjutkan bunuh diri, melainkan mencari pertolongan memperbaiki kesehatan mental.

Spesialis kedokteran jiwa Eka Viora menjelaskan orang yang punya niatan bunuh diri, sudah berada pada kondisi yang akut dan memiliki tindakan yang agresif untuk mengakhiri hidup.

"Orang sehat enggak bakal bunuh diri. Kalau sudah berpikiran negatif, hidup enggak penting lagi, putus asa, itu gejala depresi berat. Jadi, enggak ada orang bunuh diri itu yang sehat, pasti orang sakit kalo dari segi kesehatan mental," kata Eka dalam South East Asia Mental Health Forum 2018 di Jakarta, Kamis (30/8). 

Eka yang menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia itu menyebut keinginan untuk bunuh diri tidak berkaitan dengan pekerjaan dan agama seseorang. Menurutnya, setiap orang rentan terhadap bunuh diri dan berkewajiban saling mengingatkan agar menjauhi pikiran tersebut.

"Pekerjaan apa saja. Semua kita rentan tergantung daya tahan untuk menghadapi masalah tersebut. Jangan juga dibilang karena kurang beriman, tambah ingin bunuh diri dia. Dia enggak kuat menghadapi kehidupan, makanya kita harus perkuat dia," tutur Eka. 

Berdasarkan data WHO pada 2017, bunuh diri menjadi penyebab kematian tertinggi nomor dua di dunia pada kalangan remaja dan dewasa usia 15-29 tahun. Total, tercatat lebih dari 800 ribu kematian pertahun atau satu kematian setiap 40 detik.

Di Indonesia, kejadian bunuh diri mencapai 5.000 kematian pada 2010 dan meningkat dua kali lipat pada dua tahun terakhir.

Agar terhindar dari bunuh diri, Eka menyarankan setiap orang harus mencari pertolongan memperbaiki kesehatan mental dengan menghubungi para ahli seperti dokter atau psikiater.

Di sisi lain, Eka pun tak menampik jumlah psikiater dan puskesmas yang mampu menangani masalah kejiwaan di Indonesia masih terbatas. Saat ini, distribusi psikiater di 66 persen masih menumpuk di Pulau Jawa dan 22 persen diantaranya di Jakarta. Hanya 34 persen psikiater yang ada di luar Jawa.

"Masalah depresi jangan dianggap enteng. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi itu, Anda disarankan menghubungi pihak yang bisa membantu, misalnya saja Komunitas Save Yourselves https://www.instagram.com/saveyourselves.id, Yayasan Sehat Mental Indonesia melalui akun Line @konseling.online, atau Tim Pijar Psikologi https://pijarpsikologi.org/konsulgratis"

15,8 Persen Keluarga Hidup dengan Penderita Gangguan Mental

Kondisi kesehatan mental kini tak lagi bisa dianggap remeh. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik dan penyakit atau kecacatan lain yang timbul pada tubuh.

Di Indonesia, kondisi kesehatan mental masih menjadi salah satu isu yang dikesampingkan. Padahal, secara jumlah, penderita gangguan mental terus meningkat. 

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan pada usia 15 tahun mencapai 14 juta orang. Angka ini setara dengan 6 persen jumlah penduduk Indonesia. Sementara itu, prevalensi gangguan jiwa berat seperti skizofrenia mencapai 400 ribu.

Tingginya angka penderita gangguan jiwa pun berjalan beriringan dengan sejumlah kasus bunuh diri di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat setidaknya ada 812 kasus bunuh diri di seluruh wilayah Indonesia pada tahun 2015. 

Pemerintah sendiri telah memasukkan gangguan mental yang terobati sebagai salah satu dari 12 indikator pendekatan kesehatan keluarga. Beberapa contoh gangguan kesehatan mental berat di antaranya skizofrenia dan bipolar.

Indikator itu dipantau melalui Aplikasi Keluarga Sehat yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan RI pada 2015 lalu.

"Sebanyak 15,8 persen keluarga memiliki penderita gangguan jiwa berat yang diobati dan tidak diobati," ujar Konsultan Health Policy Unit, Setjen Kementerian Kesehatan, Trihono, pada Southeast Asia Mental Health Forum 2018 di Jakarta, Kamis (30/8).

Namun, angka itu tak mencakup keseluruhan keluarga di Indonesia. Hingga 7 Juli 2018, baru tercatat sebanyak 13 juta keluarga yang dipantau dan terdata dalam aplikasi. Angka itu hanya mencakup 20,24 persen dari seluruh keluarga di Indonesia.

Hasil data Aplikasi Keluarga Sehat itu mengasumsikan ada satu kasus gangguan mental berat dalam satu keluarga. Hasilnya, terdapat 85.788 orang dengan gangguan mental berat. 

Dari jumlah itu, sebanyak 37.013 penderita gangguan mental berat mendapat pengobatan. Sementara 13.204 lainnya justru diasingkan.

Trihono meyakini bahwa jumlah itu masih terbilang kecil lantaran berbagai faktor. Mulai dari stigma 'gila' dan tak bisa diobati, kekurangan tenaga medis, hingga keterbatasan obat yang tersedia.*cnnindonesia.com

Sabtu, 27 Juni 2015

Robby Indra Wahyuda, Mantan Perokok Leher Berlubang Sudah Meninggal

Robby Indra Wahyuda, Mantan Perokok Leher Berlubang Sudah Meninggal. Pastinya Anda telah mengenal sosok pria bersahaja ini, pasalnya pada beberapa waktu yang lalu pernah tersebar berita pengakuan Robby Indra Wahyuda. Ia harus rela kehilangan pita suara dan jakun, akibat menderita kanker tenggorokan, dikarenakan merokok. Sekarang Robby pun telah meninggal dunia.

Setelah Robby Indra Wahyuda jalani beberapa kali operasi, Ia selanjutnya menjadi salah satu penggiat dan motivator dalam berkampanye antirokok. Ia selalu unggah beberapa foto di akun facebook dan twitter, hanya untuk menunjukkan bagaimana ganas dan bahayanya dampak negatif yang memang ditimbulkan dari asap rokok untuk kesehatan.

Gerakan Muda FCTC, menegaskan, jika rekan mereka Robby Indra Wahyuda dikabarkan telah meninggal dunia, tepatnya hari Selasa, 23 Juni 2015. Robby wafat sekitar jam 14.00 pada usia 27 tahun sesudah Ia berjuang keras lawan kanker pada tenggorokannya. Diketahui, jika semenjak bulan Oktober 2014 silam, Robby nampak suka bergabung dan berkampanye anti rokok, Ia pun sempat mendesak kepada Presiden RI untuk secepatnya mengaksesi FCTC.

Inilah sekilas pernyataan Robby pada petisi onlinenya, “Mayoritas generasi muda waktu ini menjadi perokok akibat terpengaruh adanya iklan / promosi rokok yang sangat besar-besaran sehingga hal itu membuat mereka terjerat jadi perokok pemula. Tak adanya regulasi terkait masalah iklan rokok di media massa menjadikan kita target empuk terutama dengan penyampaian beberapa pesan  yang menggiurkan.  Usaha yang kasih beasiswa, mendanai banyknya kompetisi olahraga juga pentas seni remaja pun dilakukan dengan dalih rasa tanggung jawab sosial dari pihak perusahaan maupun Corporate Social Responsibility (CSR)”

Robby mengungkapkan pada FCTC, jika ia menjadi korban dari betapa berbahayanya untuk menghisap rokok. Akibat aktivitasnya dalam merokok semenjak kelas 6 SD, Robby Indra Wahyuda tak meneruskan kariernya akibat rokok yang mengerogoti pita suaranya. Innalillahi Wainna Ilaihi Rajiun. Kita Berdoa Semoga Robby Indra Wahyuda, diterima disisi-Nya. Amiin.*indoberita

Senin, 22 Juni 2015

Diabetes Memicu Disabilitas

Populasi penduduk lanjut usia bertambah seiring kenaikan usia harapan hidup. Namun, waktu hidup lebih lama itu kurang produktif karena dijalani dalam kondisi disabilitas akibat sakit dan kecelakaan nonfatal. Diabetes melitus dan penyakit paru obstruktif kronik jadi pemicu utama.

Menurut riset tentang waktu tak produktif atau tahun yang dilalui dalam disabilitas (years lived with disability/YLD) kurun waktu 1990-2013 yang dimuat di The Lancet, 8 Juni 2015, di Indonesia waktu tak produktif akibat diabetes melitus bagi perempuan naik 242 persen dan pada laki-laki naik 292 persen. Selain itu, waktu tak produktif pada pria akibat penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) naik 90 persen.

Penelitian itu menguantifikasi hidup dengan disabilitas akibat masalah kesehatan. Analisis dilakukan terhadap 301 jenis penyakit dan kecelakaan akut serta kronis di 188 negara.

Soewarta Kosen, peneliti di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan, yang terlibat riset itu, Rabu (17/6) di Jakarta, menyatakan, hasil riset tersebut menunjukkan meski orang Indonesia berusia panjang, sebagian dari mereka tak produktif. Sejumlah penyakit menyebabkan warga kehilangan usia produktif. "Seseorang tak meninggal karena penyakit nonfatal, tetapi hidup dalam disabilitas," ujarnya.

Ia mencontohkan, seseorang berusia 70 tahun yang terkena diabetes dan hipertensi hidup lebih lama, tetapi harus bergantung pada pengobatan sehingga produktivitasnya terganggu. Jadi, usia produktifnya selama hidup kurang dari usianya.

Selain diabetes dan PPOK sebagai penyakit penyebab disabilitas paling mengancam, ada sejumlah masalah kesehatan yang menjadi penyebab disabilitas orang Indonesia pada 2013. Beberapa gangguan kesehatan tersebut antara lain nyeri pinggang bawah, migrain, depresi berat, hilang pendengaran, nyeri leher, cemas, dan skizofrenia.

Penyakit degeneratif

Menurut Soewarta, seiring bertambahnya populasi penduduk lanjut usia karena kenaikan usia harapan hidup, kasus penyakit degeneratif juga meningkat. Waktu yang dilalui dalam kondisi disabilitas akibat penyakit pun tinggi. Itu diperburuk dengan tak terkontrolnya faktor risiko penyakit tak menular. Akibatnya, kasus penyakit tak menular meningkat pesat.

"Diet tak sehat dan obesitas jadi faktor risiko diabetes yang tak diatasi. Gawatnya, banyak orang tak sadar kalau terkena diabetes. Selain itu, banyaknya orang merokok meningkatkan kasus PPOK," ujarnya. Namun, pemerintah dinilai belum maksimal melakukan promosi kesehatan dan pencegahan penyakit tak menular.

Direktur Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) University of Washington Christopher Murray mengatakan, seiring penyakit nonfatal yang menyerang lebih banyak orang di segala usia, negara mesti mengarahkan anggaran kesehatannya untuk mengatasi masalah itu.

Profesor Theo VOS yang menjadi penulis utama riset itu mengatakan, banyak negara di dunia membuat kemajuan dalam mengatasi penyakit fatal. Namun, justru penyakit nonfatal yang jadi ancaman serius berikut dalam hal beban penyakit.

Murray dan para peneliti menemukan, secara global pada 1990-2013, tahun yang dijalani dalam disabilitas (YLD) per orang naik di 139 dari 188 negara yang diteliti. Jadi, lebih banyak orang menjalani sebagian besar hidup dalam kondisi kesehatan buruk. Gangguan muskuloskeletal, cedera fraktura, dan jaringan lunak menyumbang seperlima YLD global pada 2013.

Dengan bertambahnya umur, seseorang mengalami lebih banyak penyakit dan cedera nonfatal. Dari 2,3 miliar penderita lebih dari lima penyakit, 81 persen di antaranya berusia di bawah 65 tahun. Adapun YLD global naik dari 537,7 juta pada 1990 jadi 764,8 juta pada 2013.*kompas

Senin, 27 April 2015

Momok Penyakit Kanker dan Jantung bagi Warga Ibu Kota

Dibandingkan daerah lain, fasilitas kesehatan di Ibu Kota jauh lebih lengkap. Tahun 2013, 130 rumah sakit yang dipenuhi hampir 22.000 tempat tidur siap melayani warga Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta. Tenaga kesehatan pun relatif banyak. Tersedia 156 dokter umum untuk tiap 100.000 penduduk di Jakarta. Angka ini adalah yang tertinggi di Indonesia.

Meski demikian, kekhawatiran akan penyakit tetap muncul. Menurut jajak pendapat Litbang Kompas yang diadakan pada awal bulan ini, tak kurang dua dari lima responden di Jakarta dan sekitarnya menyebut kanker sebagai penyakit yang paling dikhawatirkan menyerang diri mereka dan anggota keluarga.

Menurut laman Rumah Sakit Dharmais, kanker terjadi ketika sel-sel yang tidak normal membelah tanpa kontrol dan akhirnya menyerang jaringan lain. Sel-sel kanker ini kemudian bisa menyebar ke bagian tubuh lain melalui darah dan sistem limfa. Kanker dengan berbagai macam jenisnya sering kali muncul tanpa gejala dan tiba-tiba telah menggerogoti tubuh atau sudah mencapai tahap akut.

Menurut Kementerian Kesehatan, prevalensi atau frekuensi terjadinya kanker di setiap 1.000 penduduk di DKI Jakarta tinggi, bahkan menduduki nomor empat di Indonesia, yakni 1,9 orang pada tahun 2013. Angka ini lebih tinggi dibandingkan angka rata-rata negeri ini yang hanya 1,4 orang per 1.000 jiwa.

Penyakit kedua yang jadi momok bagi warga metropolitan adalah jantung. Bahkan, bagi responden pria, penyakit ini mengalahkan kanker dan menjadi penyakit paling ditakuti.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, pada 2015 kematian akibat penyakit jantung bakal mencapai 20 juta orang. Proporsi kematian yang disebabkan penyakit itu sekitar 30 persen dari total kematian. Di Indonesia, jumlah penderita penyakit jantung dan pembuluh darah terus bertambah serta akan memberikan beban kesakitan, kecacatan, dan beban sosial ekonomi bagi keluarga penderita, masyarakat, dan negara (Kompas, 16/4).

Di kota besar seperti Jakarta, cukup banyak penduduk berpenyakit jantung. Prevalensi penyakit jantung koroner penduduk Ibu Kota yang berusia minimal 15 tahun mencapai 1,6 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata Indonesia, yakni 1,5 persen.

Selain kanker dan jantung, penyakit demam berdarah dengue (DBD) menjadi kehawatiran sekitar 8 persen responden.

Gaya hidup sehat

Gaya hidup tak sehat, inovasi teknologi yang memudahkan tapi justru makin mengurangi aktivitas fisik, dan ditambah kerasnya hidup di perkotaan menyebabkan penduduk mudah stres dan rentan berpenyakit.

Responden survei, Aminah (33), ibu rumah tangga warga Sawah Besar, Jakarta Pusat, menilai, kualitas udara telah memengaruhi kesehatannya. "Asap kendaraan dan rokok di tempat-tempat umum membuat saya gampang sakit," katanya.

Masyarakat perkotaan kini berupaya melindungi diri sendiri dari ancaman penyakit dengan memperbaiki gaya hidup. Usaha yang paling banyak dilakukan adalah menjaga pola makan. Sebanyak 62,9 persen warga metropolitan sepakat untuk mengonsumsi makanan sehat demi menjaga keluarganya terhindar dari penyakit kronis.

Lusiana (50) yang khawatir terkena kanker yang paling sering terjadi di Indonesia, yakni kanker rahim dan kanker payudara, berusaha selalu menghindari makanan tak sehat.

"Makanan cepat saji yang serba instan dan berpengawet memicu penyakit yang susah obatnya itu. Makanya, saya lebih suka memasak sendiri makanan di rumah, ditambah dengan rajin minum vitamin dan ramuan herbal," kata pengusaha laundry di Ciracas, Jakarta Timur, ini.

Bernard (29), wirausahawan yang berdomisili di Pademangan, Jakarta Utara, mengatakan, dirinya berolahraga rutin untuk menghindari penyakit jantung, "Saya rajin berenang dan joging dua kali seminggu. Selain itu, juga rajin kontrol kesehatan paling tidak tiga bulan sekali untuk mencegah penyakit jantung," ujarnya.

Tidur teratur menjadi pilihan sekelompok kecil warga sebagai upaya menjaga kesehatan. Kekurangan waktu tidur dalam jangka waktu lama dapat berakibat menurunnya beberapa fungsi tubuh, termasuk sistem kekebalan dan metabolisme tubuh. Menghindari rokok juga dilakukan sebagian kecil responden untuk tetap bugar. Seperti yang tertera di setiap bungkusnya, rokok bisa menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, serta gangguan kehamilan dan janin.*kompas

Sabtu, 25 April 2015

Bondan: Di TV Makan Enak, di Rumah Saya Makan Kayak Gembel

Siapa tak kenal Bondan Winarno? Pengamat kuliner senior Indonesia yang biasa disapa Pak Bondan itu dikenal masyarakat luas sejak memandu sebuah program kuliner di televisi. 

Hingga kini jargon 'pokoke muaknyus' yang selalu ia ucapkan ketika menyantap makanan lezat pun telah begitu akrab di telinga.

Sudah cukup lama, ia menjadi pencicip aneka hidangan lezat. Pekerjaan ini, menjadi profesi yang paling diinginkan banyak orang. Ia pun telah mencicipi beragam menu kuliner Indonesia langsung di daerah asalnya.

Tapi ternyata Bondan masih memiliki keinginan yang belum tercapai yaitu ingin merekomendasikan makanan-makanan lezat ke masyarakat luas seperti yang selama ini ia lakukan, tapi disertai penjelasan mengenai gizi dan kesehatan.

"Selama ini dakwah saya kan tentang makanan enak. Tapi di acara saya, saya nggak boleh ngomong soal gizi. Sebenarnya saya benci karena makanan enak harus dilandasi dengan pengertian tentang gizi," ungkap Bondan saat ditemui beberapa waktu lalu.

Pria asal Surabaya, Jawa Timur itu juga mengatakan dia bosan ditanya orang soal kolesterol tinggi. Bondan menjelaskan ia makan bebas hanya saat memandu acaranya. Di luar itu, ia benar-benar makan makanan sehat untuk mengimbangi segala makanan berlemak yang  ia santap saat syuting.

"Di rumah, saya jangan harap ketemu gula. Saya kalau di rumah makan kaya gembel. Tapi saat sedang kerja saya makan seperti biasa. Seperti tadi saya makan durian, kan dalam hidup sesekali menyantap makanan enak itu perlu," ujarnya.

Namun, ia tetap mengimbau kepada masyarakat untuk memperhatikan kesehatan dan asupan gizi sehari-hari. Selain itu porsi makanan juga menjadi hal yang patut dijadikan concern.

Ia mengatakan penyebab Indonesia menjadi negara dengan penduduk berpenyakit gula tertinggi keempat di dunia adalah karena masyarakatnya mengonsumsi nasi terlalu banyak. 

"Bukan berarti Anda harus benar-benar berhenti makan nasi. Harus diakui makanan seperti rendang itu nggak nikmat kalau nggak dimakan pakai nasi. Tapi tolong jangan berlebihan," ujarnya.*vivanews

Kamis, 23 April 2015

6 Intervensi Pencegahan PTM dari WEF guna Kembalikan Investasi

Direktur Senior Global Health and Healthcare Industries Arnaud Bernaert mengemukakan permasalahan penyakit tidak menular (PTM) dapat diperbaiki melalui intervensi pencegahan dan promosi kesehatan kepada seluruh masyarakat. Pencegahan PTM sebagai investasi jangka panjang yang baik untuk segmen bisnis, pemerintahan maupun masyarakat secara keseluruhan. Hal itu dikemukakan Bernaert di World Economic Forum dalam siaran pers di Jakarta, Selasa (21/4).

Dalam kesempatan ini, World Economic Forum (WEF) memberikan enam ulasan intervensi untuk pencegahan PTM secara geografis. Intervensi ini, bila dilaksanakan dengan baik, diperkirakan dapat mengembalikan investasi sebesar 90 persen hingga 3.700 persen.

Program intervensi tersebut di antaranya, mengurangi asupan lemak jenuh melalui regulasi pemerintah bagi penggunaan komposisi minyak sehat untuk makanan di luar rumah, pencegahan serangan jantung dan stroke melalui pemeriksaan awal dan peningkatan akses terhadap obat yang dibutuhkan, mendukung kehamilan yang sehat, memerangi gizi buruk di awal kehidupan, mengurangi polusi udara.

Dalam laporan pertama dari sesi Perekonomian PTM ini dipaparkan intervensi yang dilakukan di India. Misalnya, pemeriksaan untuk hipertensi, vaksinasi Human Papilloma Virus (HPV) untuk mencegah kanker serviks dan mengurangi penggunaan tembakau, telah memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan masyarakat serta keuntungan ekonomi.

Seperti diketahui,  Indonesia diperkirakan menghadapi potensi kerugian sebesar US$ 4,47 triliun dari 2012 sampai 2030 akibat PTM. PTM yang paling sering dialami masyarakat Indonesia, antara lain penyakit jantung, kanker, pernapasan kronis, diabetes, dan gangguan kesehatan mental.

Hal ini terungkap dalam laporan “The Economics of non-communicable diseases (NCD) in Indonesia“ dari World Economic Forum 2015. Ini adalah laporan terbaru dari World Economic Forum mengenai pengaruh ekonomi yang disebabkan oleh PTM dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang kerugian pengeluaran yang dapat dialami oleh suatu negara.

Laporan yang dirilis Senin (20/4) pada World Economic Forum on East Asia tersebut menekankan peningkatan PTM di Indonesia dari tahun 2004 sampai dengan 2014. Angka kematian yang diakibatkan oleh PTM mengalami kenaikan dari 50,7 persen menjadi 71 persen. Pada 2030 nanti, peningkatan dampak kasus penyakit diabetes diperkirakan akan meningkat hampir dua kali lipat.

"PTM memberikan beban yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia yang kemungkinan akan meningkat dalam dua dekade mendatang," kata Bernaert.

Indonesia Hadapi Kerugian US$ 4,47 Triliun Akibat Penyakit Tidak Menular

Hasil laporan terbaru dari World Economic Forum (WEF) menyebutkan, Indonesia tengah menghadapi kerugian sebesar US$ 4,47 triliun sejak 2012 hingga 2030 nanti yang disebabkan oleh penyakit tidak menular (PTM), termasuk penyakit jantung, kanker, pernapasan kronis, diabetes, dan kondisi mental. Beban ekonomi ini diakibatkan oleh meningkatnya permasalaham PTM di Indonesia.

Direktur Senior Global Health and Healthcare Industries Arnaud Bernaert menyampaikan, PTM memberikan beban yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia, dengan kemungkinan ada peningkatan dalam dua dekade mendatang.

“Kabar baiknya adalah permasalahan ini dapat diperbaiki dengan intervensi lewat mempromosikan status kesehatan secara keseluruhan kepada masyarakat, dimana kami telah menemukan pembuktian atas hasil investasi (Return on Investment) yang baik untuk segmen bisnis, pemerintahan dan masyarakat secara keseluruhan,” kata Bernaert, di Jakarta, Selasa (21/4).

Laporan yang diterbitkan, Senin (20/4), di WEF on East Asia, itu menekankan peningkatan PTM di Indonesia, yang berawal sejak 2004 hingga 2014, dengan angka kematian yang diakibatkan oleh PTM mengalami kenaikan dari 50,7 persen menjadi 71 persen. Selain itu, diperkirakan ada peningkatan dampak penyakit kasus diabetes yang diperkirakan bertambah dua kali lipat pada 2030 mendatang.

Rabu, 25 Februari 2015

Ngerinya Gejala Penyakit Jantung yang Tak Selalu Khas

Sering kali jika ada sebuah kasus tentang seseorang yang tiba-tiba meninggal, dikaitkan dengan penyakit angin duduk. Di kalangan masyarakat luas, penyakit angin duduk awalnya berasal dari masuk angin biasa, namun dibiarkan terlalu lama dan tidak diobati. Pada titik yang paling fatal, masyarakat pun percaya kalau angin duduk dapat menyebabkan kematian mendadak. 

Namun, tidak ada definisi secara ilmiah tentang penyakit ini. Gejalanya pun sulit didefinisikan. Sebagian besar orang menganggap gejala angin duduk adalah rasa perut yang kembung, sesak di dada, nyeri di ulu hati dan badan yang terasa kurang enak. 

Tapi, ada juga masyarakat yang mendefinisikan penyakit angin duduk sebagai penyakit jantung. Mereka menganggap orang yang meninggal seketika, terkena serangan jantung. 

Apapun gejalanya dan apapun anggapannya, jika dirasakan sesuatu yang tidak enak pada tubuh harus segera diperiksakan ke dokter. 

Gejala angin duduk sebenarnya pun mirip dengan penyakit lambung atau penyakit jantung. Kedua gejala ini memang sulit dibedakan.

Orang yang menderita gejala ini sering kali menganggap remeh. Sulit menghadapi orang yang seperti ini karena sering dianggap enteng. Kalau itu cuma karena lambung itu akan mereka menganggap akan membaik kalau minum obat lambung, atau dengan kerokan. 

Padahal, seharusnya masyarakat harus memeriksakan kondisinya segera jika mengalami gejala seperti itu karena bisa jadi itu merupakan penyakit jantung. 

Sulitnya, gejala penyakit jantung memang tidak selalu khas. Seperti misalnya nyeri di dada kiri, menjalar ke lengan kiri. Apakah ini serangan jantung atau gejala yang jinak seperti sakit lambung?. 

Untuk itu, pemeriksaan rutin tes kesehatan harus dilakukan. Jangan anggap enteng apapun gejalanya. Yang paling benar adalah periksa ke dokter.

Fakta Tentang Fenomena Olahraga dan Mati Mendadak

Beberapa waktu belakangan banyak beredar kasus kematian yang terjadi ketika sedang atau setelah berolahraga. Akhirnya timbul sebuah pertanyaan, bukankah olahraga baik untuk kesehatan, tapi mengapa jadi memicu kematian?

Hal ini biasanya terjadi pada orang yang menderita penyempitan pembuluh darah yang mengarah pada penyakit jantung koroner. 

Penyempitan pembuluh darah ke jantung sebesar 50, 60, sampai 70 persen tidak menimbulkan gejala. Kondisi inilah yang menyebabkan orang merasa sehat, namun kenyataannya tidak. Yang kita tahu, kita tidak sakit. Tapi, bukan berarti sehat.

Jika terjadi penyempitan pembuluh darah pada seseorang, misalnya 30 persen, itu tidak akan menimbulkan gejala apapun ketika melakukan aktivitas fisik yang normal. Kalau aktiviasnya berat, itu enggak cukup suplai darah ke jantung. Akhirnya nyeri, pingsan, dan sebagainya. Hal ini pula yang menyebabkan jantung seseorang berdebar sangat kencang ketika atau setelah berolahraga.

Minggu, 01 Februari 2015

Jumat, 23 Januari 2015

Alasan si Kurus Punya Kolesterol Tinggi

Kolesterol memang identik dengan orang-orang bertubuh gemuk. Namun, bukan berarti orang bertubuh gemuk bebas dari serangan kolesterol jahat. Kolesterol bisa menyerang siapa saja, baik gemuk maupun kurus.

Orang yang mengalami obesitas atau kegemukan memang berisiko lebih tinggi mengalami kolesterol tinggi, karena metabolisme lemak dalam tubuh berubah lantaran adanya resistensi insulin. Namun, si kurus yang tidak bisa menjaga pola hidupnya juga bisa mengalami kolesterol tinggi.

Mengapa demikian? Dilansir dari laman galloinstitute.org, berikut alasan mengapa orang bertubuh kurus juga bisa mengalami kolesterol tinggi:

1. Kurang bergerak

Salah satu alasan utama mengapa orang kurus memiliki kolesterol tinggi adalah karena mereka tidak melakukan olahraga secara teratur. Hal ini meningkatkan kadar asam lemak jenuh, yang meningkatkan kadar kolesterol.

Juga, kebanyakan orang menggunakan gadget terbaru untuk menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang semakin mengurangi tingkat aktivitas mereka. Terlalu banyak menonton televisi atau menggunakan komputer, yang mengurangi aktivitas fisik juga berkontribusi meningkatkan kolesterol.

2. Kebiasaan makan

Cegah keputihan dan kanker serviks [lihat video gejala2 kanker serviks 
click here] bersama dr. Boyke Dian Nugraha, Sp.Og  click here

Mengonsumsi makanan yang mengandung asam lemak jenuh secara teratur dapat meningkatkan kadar kolesterol. Beberapa makanan yang kaya kolesterol jahat adalah kuning telur, daging babi, udang, margarin, dan hati. Kebanyakan orang kurus makan lebih sedikit makanan tetapi mereka masih menderita kolesterol tinggi karena mereka tidak makan makanan bergizi.

3. Alkohol

Minum alkohol berlebihan dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam tubuh. Ketika Anda minum terlalu banyak, alkohol tidak dapat dimetabolisme oleh tubuh yang meningkatkan tingkat low-density lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat.

4. Stres

Gaya hidup sibuk telah meningkatkan level stres, yang merupakan salah satu penyebab utama dari kolesterol tinggi. Penelitian telah menunjukkan bahwa peningkatan level stres dapat menyebabkan akumulasi glukosa dan asam lemak yang meningkatkan kolesterol.

5. Gen

Gen Anda juga bertanggung jawab untuk meningkatkan kadar kolesterol dalam tubuh. Kolesterol diproduksi oleh hati, juga ditambah dari makanan yang Anda makan. Gen memengaruhi fungsi hati dalam hal ini.

*cnn

Surat Keterangan Akreditasi FKM UNDIP

Bagi teman-teman yang membutuhkan informasi tentang Akreditasi FKM UNDIP... Silahkan download file di bawah ini... file sudah saya perb...

Find Us on Facebook

Blog Archives

Do Before You Die

Do Before You Die

Visitors


pinjaman utang