journey healthy future

Tampilkan postingan dengan label Epidemiologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Epidemiologi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Desember 2018

Penanganan Stagnan, WHO Sebut Polio Bisa Kembali Mewabah

Penanganan penyakit polio dalam beberapa tahun terakhir cenderung stagnan bahkan mulai menunjukkan penurunan. Kondisi ini membuat Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) khawatir polio yang menyebabkan kelumpuhan ini kembali merebak.

Komite Darurat WHO kembali memasukkan polio dalam darurat kesehatan publik atau Public Health Emergency of International Concern. Artinya polio dianggap sebagai ancaman kesehatan yang serius dan membahayakan dunia.

Penurunan penanganan wabah polio itu ditandai dengan kenaikan jumlah kasus polio. 
Tahun ini WHO sudah mencatatkan terdapat 27 wabah virus polio di seluruh dunia. Jumlah tersebut meningkat dari 22 kasus pada tahun lalu. 

Komite Darurat WHO menyatakan jika pemberantasan polio tidak tercapai dalam beberapa tahun ke depan, penyakit ini diprediksi dapat kembali mewabah di dunia sama seperti penyakit campak atau Measless-Rubella.

Polio atau poliomielitis, merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus yang ditularkan orang-ke-orang melalui rute fekal-oral atau feses ke mulut dan juga melalui makanan yang terkontaminasi. Virus ini banyak menyerang anak-anak muda. 

Gejala polio ditandai dengan demam, kelelahan, sakit kepala, muntah, kekakuan di leher dan nyeri tungkai. 

Penyakit yang menyebabkan kelumpuhan ini tidak bisa diobati, tapi dapat dicegah hanya dengan vaksin. 

Penanganan polio secara internasional melalui Global Polio Eradication Initiative sudah berlangsung sejak 1988. Saat itu polio merupakan penyakit endemis di 125 negara dan menyerang 350 ribu anak setiap tahun. 

Saat ini Polio endemis di Afghanistan, Nigeria dan Pakistan dengan total kasus sudah turun hingga 99 persen. 

Indonesia juga sudah dinyatakan bebas dari polio. Meski demikian, banyak negara tetap rentan terhadap polio.

Untuk mencegah penyebaran polio, WHO menetapkan setiap anak harus diimunisasi dengan vaksin. CNN Indonesia

WHO: Kasus Campak Meningkat 30 Persen

Kasus campak di dunia melonjak hingga 30 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat peningkatan terbesar terjadi di sejumlah negara Eropa seperti Jerman.

Melansir AFP, tren peningkatan kasus campak merupakan fenomena global dengan penyebab yang saling berbeda untuk setiap kawasan.

Di Eropa, para ahli mengatakan bahwa peningkatan kasus campak disebabkan oleh informasi yang salah tentang vaksin. 
Direktur Imunisasi, Vaksin, dan Biologis WHO, Martin Friede mengatakan bahwa pegiat medis membuat 'tuduhan' terhadap vaksin tanpa bukti. Hal itu, lanjutnya, secara tidak langsung berdampak pada keputusan orang tua untuk mengimunisasi anak.

Klaim tak berdasar itu kira-kira menyebutkan korelasi antara campak dengan autisme. Klaim itu telah tersebar di media sosial dan menimbulkan gerakan anti-vaksin.

Sementara di Venezuela, peningkatan kasus campak disebabkan oleh krisis politik dan ekonomi yang memicu inflasi besar-besaran. Hal itu berujung dengan ketersediaan vaksin yang terbatas.

Yang lebih mengkhawatirkan, kata Friede, adalah adanya transmisi campak di negara-negara yang sebelumnya jarang terserang wabah campak.

"Ini benar-benar kemunduran untuk kita," tegas Friede.

Beberapa negara seperti Jerman, Rusia, dan Venezuela, sebelumnya telah berhasil mengeliminasi campak. 

Berdasarkan pedoman WHO, pencegahan wabah campak membutuhkan 95 persen cakupan dari dosis pertama vaksin.

Namun, kini cakupan vaksin hanya mencapai 85 persen selama beberapa tahun terakhir. Angka itu biasanya terjadi di daerah-daerah berpenghasilan rendah seperti Afrika, yang memiliki tingkat cakupan vaksin sebesar 70 persen pada tahun 2017 lalu.

Campak adalah penyakit menular yang menyebabkan diare berat, radang paru-paru, dan gangguan penglihatan. CNN Indonesia

Rabu, 21 November 2018

Studi: Pneumonia Ancam 11 Juta Nyawa Balita pada 2030

Pneumonia bukan penyakit main-main. Penyakit infeksi saluran pernapasan ini diprediksi bakal 'membunuh' hampir 11 juta balita pada tahun 2030 mendatang.

Prediksi itu muncul dari analisis teranyar yang dilakukan oleh Johns Hopkins University bersama dengan organisasi non-pemerintah, Save the Children. Mereka menganalisis perkiraan tersebut berdasarkan tren yang ada saat ini.

Melansir AFP, hasilnya lebih dari 10,8 juta balita akan 'menyerah' terhadap penyakit ini pada akhir dekade berikutnya.
Infeksi pernapasan yang menyerang anak banyak ditemukan di negara-negara berkembang. Ratusan ribu anak meninggal setiap tahunnya akibat pneumonia.

Pada tahun 2016, tercatat lebih dari 880 ribu anak di bawah usia di bawah dua tahun meninggal karena infeksi pernapasan.

Penelitian ini juga mencatat bahwa beberapa negara harus mempersiapkan diri untuk menanggung beban tertinggi akibat pneumonia dengan 1,7 juta anak berisiko di Nigeria dan India, 700 ribu anak di Pakistan, dan 635 ribu di Republik Demokratik Kongo.

Kendati demikian, penelitian ini juga setidaknya memberikan kabar baik tentang penanganan pneumonia. Penelitian yang dipublikasikan tepat pada Hari Pneumonia Sedunia 12 November 2018 ini juga menemukan beberapa hal yang sangat bisa dilakukan untuk menangani kematian anak akibat penyakit infeksi pernapasan ini.

Beberapa hal tersebut di antaranya meningkatkan cakupan vaksinasi, ketersediaan antibiotik yang lebih terjangkau, dan memastikan nutrisi yang baik untuk anak. Jika ketiga hal itu dilakoni, total sebanyak 4,1 juta jiwa anak bisa terselamatkan.

Pneumonia merupakan infeksi pernapasan yang dapat tertular melalui virus dan bakteri. Penyakit ini dapat terobati jika dideteksi sejak dini dan sistem kekebalan tubuh pasien tidak terganggu.

Sebagian besar pneumonia menyerang anak-anak dengan malnutrisi. Penyakit ini bahkan membunuh lebih banyak bayi setiap tahun daripada malaria, diare, dan campak.

2030 sendiri merupakan target United Nations Sustainable Development Goals, yang salah satunya termasuk mengakhiri kematian anak yang dapat dicegah, salah satunya pneumonia. CNN

Kurangi Stres dengan Batasi Penggunaan Media Sosial 30 Menit

Asyik seharian bermain dengan media sosial di layar gawai mungkin menyenangkan. Media sosial bak candu pelepas penat bagi kebanyakan orang. 

Namun, sejumlah penelitian telah mengkorelasikan penggunaan media sosial dengan risiko kesehatan mental seperti kesepian dan depresi. Teranyar, sebuah studi menyebutkan bahwa mengurangi intensitas bermain media sosial bisa mengurangi depresi dan rasa kesepian.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Social and Clinical Psychology ini mencoba mencari bukti apakah orang-orang benar-benar menjadi lebih baik dengan mengurangi kegiatan media sosial.
"Temuan kami menyarankan untuk membatasi penggunaan media sosial hingga sekitar 30 menit per hari dapat menjauhkan diri dari depresi," ujar tim penulis dari University of Pennsylvania, mengutip Quartz.

Para peneliti menjadi 143 mahasiswa sarjana sebagai sampel penelitian untuk dua percobaan yang berbeda. Penelitian pertama dilakukan di musim semi, sementara yang lainnya di musim gugur.

Setiap subjek memiliki akun Facebook, Instagram, dan Snapchat dengan iPhone sebagai gawainya yang mampu melacak total waktu yang dihabiskan untuk bermain setiap media sosial yang dimiliki.

Peneliti memantau siswa selama sepekan untuk mendapatkan dasar dari penggunaan media sosial mereka. Peneliti juga memberikan mereka kuesioner yang menilai kesejahteraan mental mereka menurut tujuh faktor berbeda seperti dukungan sosial, rasa takut akan kehilangan, kesepian, penerimaan diri, kecemasan, depresi, dan harga diri.

Selanjutnya, selama tiga pekan berikutnya, satu kelompok secara acak ditugaskan untuk tetap menggunakan media sosial. Sementara kelompok lain diminta untuk membatasi penggunaan masing-masing media sosial hingga 10 menit per hari.

Pemimpin penelitian, Mellisa G Hunt, mengatakan bahwa menggunakan lebih sedikit waktu untuk media sosial dapat memberikan penurunan signifikan pada depresi dan kesepian. "Efek ini sangat terasa bagi orang-orang yang lebih tertekan ketika mereka datang ke ruang kerja," ujarnya, mengutip Science Daily.

Mengurangi lama waktu penggunaan media sosial dianggap sebagai pilihan yang realistis dibanding berhenti menggunakannya sama sekali. 

"Ini sedikit ironis, mengurangi penggunaan media sosial justru membuat Anda bisa menurunkan rasa kesepian," kata Hunt. 

Namun, ketika digali lebih dalam, hal itu disebabkan oleh beberapa dampak negatif yang dimiliki media sosial. Apa yang dilihat di media sosial setidaknya akan mendistraksi pikiran seseorang. 

"Ketika Anda melihat kehidupan orang lain, terutama di Instagram, mudah bagi Anda untuk menyimpulkan bahwa kehidupan orang lain lebih baik daripada Anda," jelas Hunt.

Namun, langkah mengurangi penggunaan media sosial tak berpengaruh terhadap beberapa faktor kesejahteraan mental yang jadi acuan seperti dukungan sosial, harga diri, dan penerimaan diri. 

Studi ini juga dinilai masih terbatas lantaran tak memantau penggunaan platform media sosial lainnya seperti Twitter dan penggunaan media sosial dalam gawai pribadi mereka yang lain. 

"Penelitian kami adalah yang pertama, ada banyak peluang untuk penyelidikan lebih lanjut," ujar Hunt.

Kesimpulan ini setidaknya selaras dengan beberapa penelitian sebelumnya. Mengutip Psycom, studi terpisah yang dilakukan oleh University of Pittsburgh School of Medicine menemukan bahwa semakin banyak waktu yang dihabiskan di media sosial, semakin besar kemungkinan seseorang mengalami masalah tidur dan gejala depresi. CNN 

Senin, 12 November 2018

Mengenal Japanese Encephalitis, Si Radang Otak Karena Virus

Isu penyebaran kasus penyakit Japanese encephalitis di Pulau Bali merebak beberapa hari belakangan ini. Namun Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek mengungkapkan bahwa dia masih akan mengecek kabar tersebut.

"Ini lagi ditelaah, tingkat kebenarannya mesti dilihat, kita minta ke balai besar lab kesehatan dulu buat dicek," kata Nila di Acara Ekspo Disertasi Kemenkes di Gedung Kemenkes Jakarta, Jumat (9/11).

"Yang di Sulawesi Utara itu negatif."
Terkait kebenaran penyebaran penyakit tersebut, apa sebenarnya Japanese encephalitis? Japanese encephalitis disebut juga sebagai penyakit radang otak atau ensefalitis. Namun radang otak yang disebabkan oleh virus. 

Mengutip berbagai sumber, virus penyebab penyakit tersebut termasuk dalam golongan flavivirus. 

Vektor penyebaran dan penularan virus penyakit tersebut melalui nyamuk culex (terutama Culex tritaeniorhynchus), babi, unggas liar, atau burung sawah dan ladang. Nyamuk ini biasanya lebih aktif pada malam hari khususnya di musim hujan.

Nyamuk ini biasanya banyak terdapat di persawahan dan area irigasi. Kondisi ini umumnya banyak ditemukan di Indonesia, salah satunya di Bali. 

Di Bali sendiri, kejadian penyakit radang otak ini dikaitkan dengan banyaknya area sawah dan peternakan babi di sana. 

Tahun 2016 lalu, mengutip data Kemenkes RI, jumlah kasus Japanese Encephalitis dilaporkan terjadi sebanyak 326 kasus. Kasus terbanyak berada di Bali dengan jumlah 226 (69,3 persen).

"Indonesia merupakan salah satu daerah yang menjadi jalur migrasi unggas liar misalnya. Selain itu, di dalam riset Rikhus Vektora (2016), Badan Litbangkes Kemenkes menemukan 22 spesies kelelawar yang terkonfirmasi mengandung virus (Japanese enchepalitis) di beberapa daerah di Indonesia," kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Anung Sugihantono saat pertemuan tingkat menteri The 5th Global Health Security Agenda (GHSA) di Nusa Dua Bali, Senin (5/11) dalam pernyataannya di laman Kemenkes.

Hal ini perlu kita antisipasi, karena kita mengetahui ada sebagian masyarakat kita yang mengonsumsi unggas liar juga kelelawar dengan berbagai alasan."  

Penularan ke manusia

Manusia sendiri bisa terinfeksi virus tersebut karena penyakit ini merupakan penyakit zoonosis (bersumber dari binatang).

Penularan penyakit radang otak ini menular dari nyamuk ke manusia lewat nyamuk culex. Nyamuk ini bersifat antrosoofilik. 

Nyamuk ini tak cuma menghisap darah binatang tapi juga manusia. Penularan virus pun menular dari situ. Hanya saja manusia sendiri tidak menjadi sumber penyebaran virus Japanese Encephalitis ini. Pasalnya, manusia merupakan inang puncak (dead end host) untuk virus tersebut. 

Gejala

Gigitan nyamuk yang terinfeksi penyakit ini akan menyebabkan munculnya gejala penyakit. Gejala ensefalitis akan muncul setelah 4-14 hari setelah gigitan nyamuk mengalami masa inkubasi. 

Gejala utama dari penyakit ini adalah demam tinggi mendadak, perubahan status mental, sakit kepala, sampai gejala gastriintestinal. 

Selain itu, gejalanya juga disertai perubahan gradual gangguan bicara, berjalan, adanya gerakan involuntir ekstremitas ataupun disfungsi motorik lainnya. 

Sekitar 1 dari 200 penderita japanese encephalitis ini menunjukkan gejala berat yang berkaitan dengan peradangan otak (ensefalitis) seperti kaku tengkuk, disorientasi, koma, kejang, lumpuh, dan demam tinggi.

Gejala yang berbeda atas penyakit radang otak ini menimbulkan gejala yang berbeda pada anak-anak. 

Pada anak, gejala awal biasanya berupa demam, iritabilitas, muntah, diare, dan kejang. Kejadian kejang terjadi pada 75 persen kasus anak. 

Secara umum, penyakit ini agak sulit untuk dikenali secara langsung. Pasalnya penyakit ini mirip dengan gejala flu. 

Hanya saja penyakit ini tak bisa disepelekan. Kasus penyakit ini bisa menyebabkan kematian dengan persentasi antara 5-30 persen. Angka kematian akan jauh lebih tinggi pada anak-anak. CNN Indonesia

Diabetes Hantui Kaum Pekerja Indonesia

Diabetes tipe dua mulai menghantui para pekerja di Indonesia. Penyakit kronis ini bahkan sudah menyerang usia produktif atau kaum pekerja, yang ditandai dengan semakin mudanya umur pengidap.

Menurut ahli yang kerap menangani diabetes menyatakan banyak mendapati kaum pekerja usia produktif yang mengidap diabetes. Penyakit ini ditandai dengan tingginya gula darah atau di atas 125 mg/dL. Jika sudah terkena diabetes, penyakit ini tak bisa disembuhkan dan dapat menimpulkan komplikasi di bagian tubuh lain.
"Usia penderita diabetes tipe dua sudah semakin muda. Sebelumnya terjadi pada orang dewasa. Namun, beberapa tahun terakhir makin banyak ditemukan pada usia dewasa muda atau 30 tahunan," kata Kepala Divisi Metabolik Endokrin Departemen Penyakit Dalam RSCM-FKUI Dante Saksono dalam peringatan Hari Diabetes Sedunia yang digelar Tropicana Slim di Jakarta, Minggu (11/11).

Temuan yang sama juga disampaikan dokter spesialis penyakit dalam Suharko Soebardi. Menurutnya, faktor gaya hidup dan lingkungan yang tidak sehat di kalangan para pekerja membuat penyakit diabetes semakin cepat berkembang.

"Risiko yang besar memang di atas usia 40 tahun. Tapi faktanya di klinik atau rumah sakit sudah kami temui di bawah usia tersebut," ucap Suharko.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang baru saja dirilis menunjukkan prevalensi penyandang diabetes naik menjadi 8,5 persen dari 6,9 persen pada Riskesdas 2013. Di Jakarta, yang mayoritas merupakan kaum pekerja, prevalensi diabetes mencapai 12,8 persen. Artinya, satu dari delapan orang di Jakarta merupakan penderita diabetes.

Dante menjelaskan rutinitas pekerja yang bekerja dari pagi hingga malam membuat mereka cenderung melupakan hidup sehat seperti berolahraga dan juga makan-makanan dengan gizi yang berimbang. Kurang berolahraga dan kelebihan berat badan merupakan salah satu faktor risiko yang menyebabkan diabetes.

"Yang paling susah di Jakarta itu olahraga karena jalanan macet, pergi harus pagi dan pulang malam. Tapi, ini harus segera diantisipasi," ucap Dante.

Dante menyarankan agar kaum pekerja lebih banyak melakukan aktivitas fisik dan berolahraga agar dapat mengurangi risiko diabetes. Aktivitas fisik itu, kata Dante, dapat dimulai dengan sederhana seperti memperbanyak jalan kaki dan naik turun tangga. Risiko diabetes juga bisa diturunkan dengan menerapkan pola makan yang sehat dan berimbang.

"Dimulai dengan memilih makanan yang sehat dan mempertahankan berat badan. Makanya, jangan malas untuk aktivitas," ujar Dante.

Selain gaya hidup tidak sehat, risiko diabetes juga meningkat pada orang yang memiliki garis keturunan diabetes, obesitas, tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, dan merokok.

"Itu semua faktor risko, sehingga mereka yang punya faktor risiko yang banyak lebih besar kemungkinannya terkena diabetes," ujar Suharko. 

Dokter di RSCM ini menyarankan untuk menghindari atau mengurangi faktor risiko tersebut agar terhindar dari diabetes. Hari Diabetes Sedunia diperingati setiap 14 November. CNN Indonesia

Sabtu, 10 November 2018

Bahaya Tersembunyi 'Nge-Fly' dengan Air Rebusan Pembalut

Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Tengah (BNNP Jateng) menemukan tren perilaku menyimpang anak-anak dan remaja yang menggunakan rebusan air pembalut bekas dan baru untuk nge-fly. 

Rebusan air pembalut ini dijadikan pengganti narkoba jenis sabu yang sulit didapatkan serta lem dan pil koplo yang semakin mahal.

Gaya baru mabuk ini tak cuma terlihat menjijikan tapi juga punya bahaya kesehatan. Selain kotor, rebusan air pembalut bekas itu amat berpotensi menularkan berbagai macam penyakit.
Profesor dari RSIA Brawijaya dan UI Ali Baziad mengungkapkan bahwa bahaya minum air rebusan pembalut tersebut akan berdampak pada kesehatan jika pembalut mengandung berbagai bahan kimia yang berbahaya. 

"Bila terminum tergantung bahan atau zat apa yang ada di pembalut. Kalau ada bahan kimiawi pasti berdampak, bisa iritasi lambung dan mual. Kalau pembalutnya bekas maka ada banyak kuman dan risikonya infeksi berat," ungkapnya,.  

Hanya saja, Ali mengungkapkan bahwa dia tak tahu bahan apa saja yang terkandung di dalam pembalut. 

Senada dengan Ali, dokter Dokter spesialis kandungan dan reproduksi wanita Budi Wiweko mengungkapkan bahwa dia juga tak tahu apa kandungan bahan kimia di dalam pembalut.

"Saya nggak tahu kandungan di pembalut itu apa, belum pernah meneliti, tapi dilihat dari ada darahnya itu bahaya sekali," kata Dokter spesialis kandungan dan reproduksi wanita Budi Wiweko.

Dia menjelaskan dilihat dari kandungan darah dalam pembalut bekas, rebusan air pembalut bekas pakai itu dapat menularkan berbagai penyakit karena mengandung darah yang dapat membawa penyakit.

"Bahaya sekali penularan penyakitnya, luar biasa. Karena darah bisa mengandung apa saja seperti virus, bakteri atau jamur," kata Budi.

Profesor di Universitas Indonesia ini menyebut darah pada pembalut merupakan darah yang lepas dari dinding rahim.

"Semua penyakit yang bisa ditularkan lewat darah, bisa terkena. Seperti infeksi virus hepatitis dan HIV," ucap Budi. Selain itu, perpindahan darah juga bisa menularkan penyakit tuberkulosis, sipilis dan malaria. 

Budi juga menegaskan penyimpangan konsumsi rebusan air pembalut ini tidak benar secara etika, moral dan ilmu kesehatan. Dia menyebut tindakan itu sangat konyol.

Hasil penelusuran BNNP Jateng menemukan para remaja yang mengkonsumsi air rebusan pembalut ini mendapatkan pembalut bekas di tempat-tempat pembuangan sampah. Namun, karena pertimbangan kebersihan dan higienis, beberapa sudah beralih menggunakan pembalut baru. 

"Kebanyakan mereka itu anak-anak dan remaja jalanan yang biasa ngelem, ngomix dan ngoplo. Karena sekarang sabu mahal dan susah, lem pun juga harganya naik, dan pil koplo juga naik, mereka ini beralih ke pembalut. Awalnya pembalut bekas yang di tempat sampah, tapi sekarang ke yang baru karena bersih," kata Suprinarto.

BNNP Jateng kini masih mendalami kasus penyimpangan nge-fly dengan mengonsumsi air rebusan pembalut ini. CNN Indonesia

Sabtu, 27 Oktober 2018

Menkes Sebut RI Tetap Harus Waspada Polio dari Papua Nugini

Menteri Kesehatan Nila Moeloek menyebut Indonesia tetap harus waspada dan hati-hati terhadap penularan virus polio akibat terjadinya kejadian luar biasa (KLB) penyakit polio di Papua Nugini.

"Untuk polio, Indonesia sudah bebas. Tapi tentu harus hati-hati karena di Papua Nugini sedang terjadi KLB," kata Nila, dikutip dari Antara, Selasa (23/10).
Ia menjelaskan 70 juta anak di bawah 15 tahun sudah terlindung dari polio. Vaksin polio sudah termasuk dalam program imunisasi dasar lengkap yang diberikan kepada bayi.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Anung Sugihantono memastikan hingga kini belum ada kasus polio yang disebabkan penularan dari Papua Nugini. Namun, ia mengaku ada tujuh kasus lumpuh layu akut secara mendadak yang terjadi pada anak di Provinsi Papua, dua kasus di antaranya di Kota Merauke.

Pada tahun lalu, pemerintah juga menemukan terdapat 18 kasus lumpuh layu akut yang terjadi di Provinsi Papua, dengan dua kasus di Kota Jayapura dan satu kasus di Kota Merauke.

Kendati demikian, Anung memastikan tidak ada satu pun kasus lumpuh layu akut tersebut yang disebabkan penyakit polio.

Ia pun mengklaim pihaknya telah memberikan perhatian lebih terhadap dampak KLB polio di Papua Nugini, dengan memberikan imunisasi polio kepada anak di Provinsi Papua dan Papua Barat.

Pada program kampanye imunisasi Campak dan Rubella yang sedang dilaksanakan, pemberian vaksin MR di Provinsi Papua ditambah dengan vaksin polio.

"Per 17 Oktober, imunisasi di Papua diberikan dengan vaksin MRP, MR dan polio," jelas Anung. Jakarta, CNN Indonesia

Senin, 22 Oktober 2018

Bahaya di Balik Kebiasaan Oles Lip Balm dengan Jari

Penggunaan pelembap bibir alias lip balm sangat disarankan untuk menghindari kondisi bibir kering, pecah-pecah dan merusak tampilan. 

Lip balm juga didesain untuk 'mengunci' kelembapan bibir sehingga udara tak akan membuatnya kering dengan cepat. 

Demi kepraktisan dan kenyamanan, sebagian produsen lip balm mengeluarkan wadah berupa tube tanpa aplikator. Cukup dengan jari dan bibir pun terselamatkan dari risiko kekeringan. 
Tak salah memang kalau jari jadi andalan paling praktis untuk mengoleskan lipbalm. Selain itu, penggunaan jari juga membuat Anda jadi lebih mudah untuk meratakan dan merasakan semua bagian bibir agar teroles lip balm dengan rata.

Akan tetapi, tubuh diintai oleh risiko kesehatan akibat penggunaan lip balm dengan jari. 

Menggunakan lip balm dengan jari artinya orang harus siap dengan masuknya beragam bakteri, virus atau mikroorganisme lain penyebab penyakit yang menular lewat jari. Menurut Elaine Larson, peneliti penyakit menular dan profesor di Columbia University, kandungan antigen pada lip balm pun tidak bisa mencegah pertumbuhan bakteri. 

"Itu tidak akan melindungi jika Anda memiliki bakteri di jari saat menggunakan lip balm," kata Larson dikutip dari Prevention (27/5). 

Tak dimungkiri, tanpa sadar jari yang sudah melalui berbagai aktivitas 'mengumpulkan' bakteri atau virus dari beragam tempat. Menyentuh gagang pintu, memegang ponsel mampu membuat bakteri Streptococcus sp atau Staphylococcus sp menempel pada jari. Adam Friedman, dermatolog di George Washington University menjelaskan bakteri staph bisa menyebabkan pneumonia, dan beberapa jenis bakteri staph lain bisa menyebabkan meningitis, radang tenggorokan dan mata merah. 

Lama-kelamaan, lip balm bakal sekotor dudukan toilet jika kebiasaan ini diteruskan. Namun Friedman memberikan trik jika Anda belum ingin mengganti lip balm dengan lip balm stick. 

"Ini akan sangat membantu jika anda mencuci tangan dengan baik sebelum menggunakan lip balm," katanya. Jakarta, CNN Indonesia

Jumat, 19 Oktober 2018

Penyakit Misterius Sebabkan Ratusan Anak di AS Lumpuh

Sebuah penyakit misterius membuat beberapa anak di beberapa negara bagian Amerika Serikat lumpuh. Kasus yang disebut acute flaccid myelitis akut tersebut saat ini sudah mencapai lebih dari 125 anak.

Mengutip New York Post pada Kamis (18/10/2018), pejabat kesehatan federal mengatakan mereka tidak tahu apa yang menyebabkan kasus tersebut.
"Ada banyak hal yang tidak kami ketahui tentang AFM (Acute flaccid myelitis) dan saya frustrasi bahwa terlepas dari semua upaya kami, kami belum dapat mengidentifikasi penyebab penyakit misterius ini," kata Direktur Pusat Nasional untuk Imunisasi dan Penyakit Pernapasan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Nancy Messonnier.

CDC menerima laporan, setidaknya 62 kasus dikonfirmasi di 22 negara bagian. Penyakit misterius tersebut menyerang sistem saraf anak-anak. Mereka mengatakan, sekitar 90 persen kasus berakibat pada kelumpuhan.

"Kami tahu bahwa beberapa pasien yang didiagnosis AFM telah pulih dengan cepat dan beberapa terus mengalami kelumpuhan, sehingga membutuhkan perawatan berkelanjutan," tambah Messonier.

Dia mengatakan, sebagian besar pasien mengalami kelemahan yang terjadi tiba-tiba di awal.

"Mereka umumnya mencari perawatan medis dan dievaluasi oleh ahli saraf, dokter penyakit menular dan dokter anak."

Pasien yang mengalami penyakit itu dilaporkan berusia 4 hingga 18 tahun. Selain itu, beberapa area ditemukannya kasus tersebut berada di New York, Minnesota, Illinois, Colorado, dan Washington.

CDC memperkirakan, kemungkinan penyebabnya adalah enterovirus yang mempengaruhi sistem pencernaan, dan rhinovirus, agen infeksi yang terkait dengan flu biasa.

"Saat ini kita tahu bahwa virus polio bukanlah penyebabnya," ujar Messonnier yang menyingkirkan kaitan AFM dengan polio. Jakarta, Liputan6

Selasa, 16 Oktober 2018

Makanan Sehari-hari Penurun Kadar Gula Darah

Diabetes merupakan salah satu gangguan kronis yang paling banyak diderita. Kadar gula darah yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh lain seperti jantung dan ginjal.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat peningkatan angka kasus diabetes dari 108 juta pada tahun 1980 menjadi 422 juta pada 2014 lalu. Prevalensi global diabetes pada usia dewasa meningkat hampir dua kali lipat dalam kurun waktu tersebut.
Di Indonesia, Riset Kesehatan Dasar (2013) mencatat prevalensi diabetes sebesar 6,9 persen. Angka itu meningkat dari Riskesdas 2007 sebesar 5,7 persen.

ajin memantau kadar gula darah adalah salah satu cara terbaik untuk mencegah diabetes. Namun, di luar itu, menurunkan kadar gula darah juga bisa dilakukan dengan mengonsumsi berbagai jenis makanan.

Ada beberapa makanan sehari-hari yang mampu membantu penurunan kadar gula darah. 

1. Telur
Tak cuma dikenal karena kandungan proteinnya, mengonsumsi telur dua kali dalam sehari disebut mampu menurunkan kadar gula darah.

Mengutip Daily Star, ahli nutrisi, Franziska Spritzler mengatakan, menu sarapan pada umumnya meningkatkan sensitivitas insulin dan menurunkan kadar kolesterol jahat.

2. Tomat
Tomat memiliki tingkat indeks glikemik (GI) yang rendah. Tomat juga telah terbukti mampu mengurangi kadar gula darah.

Sebuah penelitian menemukan, mengonsumsi 200 gram tomat mentah setiap hari dapat menurunkan kadar gula darah dan risiko gangguan jantung yang diasosiasikan pada diabetes tipe-2.

Tomat juga mengandung likopen, antioksidan yang mampu menjaga kesehatan jantung.

3. Mentimun
Mentimun dapat membantu penderita diabetes tipe-2 untuk mengurangi kadar gula darah.

"Mengonsumsi banyak serat seperti yang ada di dalam mentimun dapat menurunkan kadar gula darah," tulis Diabetes Council. Serat dapat memperlambat tubuh mencerna karbohidrat dan gula.

Tambahkan beberapa potong mentimun untuk makan siang Anda untuk menangkal diabetes.

4. Alpukat
Mononsaturated fatty acids (MUFA) merupakan salah satu kandungan nutrisi yang ada dalam alpukat. MUFA berperan untuk meningkatkan sensitivitas insulin dan berdampak baik pada penurunan kadar gula darah.

Mengutip Healthline, penelitian menunjukkan bahwa alpukat bisa menurunkan risiko sindrom metabolis yang mampu menurunkan kadar gula darah sekaligus risiko diabetes.

5. Bawang putih
Bawang putih berpotensi untuk mengatur kadar gula darah dalam tubuh. Laporan menunjukkan asupan bawang putih mampu menurunkan glukosa, sekaligus menimbulkan efek positif pada kadar gula darah.

Bawang putih juga diketahui tak memiliki indeks glikemik (GI) yang membuatnya tak akan mampu meningkatkan kadar gula darah. Jakarta, CNN Indonesia

Gelombang Kedua Wabah Ebola Menyerang Kongo Timur

Wabah Ebola tak henti-hentinya menyerang Kongo. Setelah sebelumnya merenggut 125 nyawa, gelombang kedua wabah Ebola ditemukan di Kongo bagian timur.

Gelombang teranyar ini terpusat di Beni, sebuah kota yang berada di Kivu Utara, berdekatan dengan perbatasan Uganda.
"Kami tidak tahu sebesar apa skalanya. Episentrum yang sebelumnya berada di Mangina, kini berpindah ke Beni," ujar Menteri Kesehatan Kongo, Oly Ilunga, melansir AFP. Kedua kota itu dipisahkan oleh jarak sejauh 20 kilometer.

Gelombang baru Ebola ini diketahui setelah pemerintah menemukan dua kasus baru yang telah terkonfirmasi di Beni. Salah seorang pekerja satuan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa dinyatakan terjangkit Ebola di Beni.

Angka ini menambah jumlah kasus Ebola di Kongo menjadi 127 sejak mulai mewabah pada Agustus 2018 lalu. 

"Epidemi di Beni berada pada risiko tinggi, dan situasinya sangat mengkhawatirkan," ujar Ilunga.

Mengutip News.com.au, sebelumnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengingatkan kemungkinan penyebaran kasus Ebola ke wilayah Beni. 

Keamanan yang rawan, pembangkangan publik mengenali vaksinasi, dan perebutan kekuasaan politik menyebabkan wabah Ebola menyebar luas.

Wabah Ebola di Kongo dimulai sejak 1 Agustus 2018 lalu. Ini merupakan wabah Ebola kesepuluh yang menyerang Kongo setelah pertama kali dideteksi pada 1976 silam. Jakarta, CNN Indonesia

Minggu, 14 Oktober 2018

Pasung, 'Hantu Gentayangan' Bagi Orang dengan Gangguan Jiwa

Sodikin yang sekarang bukan Sodikin yang dulu. Jika dulu Sodikin adalah beban keluarga, kini dia merupakan tulang punggung keluarga.


Perjalanan dari 'beban' untuk kemudian menjadi 'tulang punggung' itu harus dijalani Sodikin selama bertahun-tahun lamanya akibat kondisi gangguan jiwa yang dideritanya.

Sebelumnya, Sodikin adalah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang mengalami pemasungan. Dia dikurung di sebuah kandang di luar kediaman keluarganya di Cianjur, Jawa Barat.
Puskesmas yang tidak memiliki fasilitas pengobatan kesehatan mental dan letak rumah sakit yang terlampau jauh membuat keluarga urung memberikan perawatan medis pada Sodikin. Akibatnya, Sodikin menghabiskan lebih dari delapan tahun dalam pasung di kandang.

Baru pada 2016 lalu, Sodikin dibebaskan berkat pendampingan sebuah organisasi masyarakat sipil setempat.

Kini, Sodikin bekerja di sebuah pabrik pakaian sebagai penjahit seragam untuk sekolah khusus pelajar putra. "Sekarang yang menjadi tulang punggung keluarga adalah Sodikin," ujar Sandi, kakak ipar Sodikin sebagaimana disebutkan dalam laporan Human Right Watch teranyar yang dirilis Oktober 2018.

Sodikin hanyalah satu dari ribuan ODGJ yang akhirnya terbebas dari belenggu 'hantu' pasung. Hingga Juli 2018, Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 12.382 ODGJ yang dipasung. Angka itu menurun dari 13.528 pada Desember 2017.

Namun, angka itu sulit untuk didokumentasikan karena pasung kerap terjadi di wilayah-wilayah terpencil. Belum lagi pemasungan ulang yang kerap dilakukan terhadap orang yang telah terbebas dari pasung akibat kurangnya layanan pendukung masyarakat.

Meski telah berhasil ditekan, tapi pemasungan ODGJ masih menjadi 'hantu' yang bergentayangan di Indonesia.

"Pemerintah Indonesia telah berupaya serius untuk mengatasi praktik pasung. Tapi dengan kurangnya pengawasan, belasan ribu ODGJ masih dirantai atau dikurung," ujar peneliti senior HRW, Kriti Sharma.

Dalam laporan sebelumnya pada 2016, HRW menemukan bahwa ribuan ODGJ mengalami pemasungan secara paksa. Kondisi ini bertahan hingga saat ini meski sejak 1977 pemerintah telah melarang praktik pasung. Penyebabnya apalagi jika bukan persoalan stigma dan kurangnya layanan pendukung kesehatan mental.

Jalan Panjang Indonesia Bebas Pasung

Sejumlah institusi telah meneken nota kesepahaman untuk bekerja sama dalam menerapkan larangan pasung yang telah diatur sejak 1977 silam. Penandatanganan itu dilakukan pada 2017 lalu oleh Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, Kapolri, beserta Organisasi Asuransi Kesehatan Jiwa.

Selain itu, pemerintah juga telah berkampanye untuk mengakhiri praktik pasung dengan Indonesia Bebas Pasung 2019.

Selama dua setengah tahun terakhir, pemerintah telah mengambil sejumlah langkah untuk mengatasi praktik pasung. Berbagai program, komitmen, dan target dikeluarkan oleh pemerintah.

Salah satunya adalah program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga milik Kementerian Kesehatan. Sampai September 2018, program ini telah menjangkau 16,2 juta atau sekitar 25 persen keluarga di Indonesia.

Namun, data yang terkumpul menunjukkan bahwa hanya 16 persen pasien dengan gangguan mental dan jiwa yang disurvei memiliki akses ke layanan kesehatan mental.

"Mengintegrasikan kesehatan masyarakat ke dalam perawatan kesehatan dasar sangat penting, tapi itu saja tidak cukup," ujar Sharma.

Untuk mengakhiri pasung, lanjut Sharma, perlu adanya edukasi terhadap masyarakat mengenai kesehatan mental. Selain itu, pemerintah juga perlu menyediakan layanan yang lebih dari sekadar pengobatan.

Tak hanya itu, HRW juga menemukan adanya praktik tak semena-mena terhadap ODGJ di sejumlah panti rehabilitasi sosial. Tindakan berupa kekerasan fisik, pengobatan tak sukarela, pemenjaraan, dan pengasingan paksa menjadi hal yang lumrah di sejumlah panti rehabilitasi sosial.

Salah satunya terjadi pada salah satu yayasan sosial yang berada di Brebes, Jawa Tengah. Pada September 2018, ada 50 pasien di yayasan tersebut yang dipasung selama hampir 24 jam sehari.

Mereka juga tak mendapatkan perawatan medis sebagaimana mestinya. Tak ada pula makanan sehat yang mereka lahap. Yang lebih mengkhawatirkan, pasien berisiko menerima kekerasan fisik dari pasien lain atau staf yayasan.

Praktik tak semena-mena itu menunjukkan bahwa ada yang salah dari konsep panti rehabilitasi sosial saat ini. Bukannya membantu menghilangkan pengalaman traumatis, sejumlah panti rehabilitasi sosial malah menambah beban psikologis pasien.

Kurangnya pengawasan dari pemerintah sebagai salah satu penyebab kasus kekerasan dan pemasungan di sejumlah panti rehabilitasi sosial menjadi begitu kentara.

HRW meminta Ombudsman, Komnas HAM, dan Komnas Perempuan untuk memerintahkan peninjauan rutin terhadap seluruh institusi pemerintah dan swasta.

"Meski ada kemajuan, perjalanan pemerintah masih panjang untuk mengakhiri pemasungan," ujar Sharma. Jakarta, CNN Indonesia

Rabu, 10 Oktober 2018

WHO: 23 Juta Warga Dunia Idap Skizofrenia

Kesehatan jiwa kerap disepelekan bahkan diabaikan. Dunia memperingati World Mental Health Day atau hari kesehatan jiwa sedunia dengan tujuan meningkatkan kesadaran akan masalah kesehatan jiwa di seluruh dunia sekaligus menggerakkan dukungan akan kesehatan jiwa. 

Saat hal ini dianggap sepele, rupanya Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat setidaknya sekitar 300 juta orang di seluruh dunia mengidap depresi dan 50 juta lainnya mengalami demensia. Dikutip dari Reuters, sekitar 23 juta orang mengalami skizofrenia dan sekitar 60 juta orang mengalami gangguan bipolar. 
Kesehatan jiwa tak hanya mengancam orang dewasa tetapi juga generasi milenial. Jika awalnya gangguan kesehatan jiwa muncul akibat perubahan situasi lingkungan seperti pindah lokasi kerja atau putus dengan kekasih, kini ancaman kesehatan jiwa juga bisa timbul akibat teknologi. 

Kehadiran teknologi komunikasi yang canggih salah satunya lewat media sosial mau tidak mau memberikan sisi positif yakni konektivitas. Sedangkan sisi negatifnya, konektivitas ini juga bisa menghadirkan tekanan kapan pun bahkan kala waktu tidur saat orang seharusnya beristirahat. 

Dilansir dari situs resmi WHO, separuh dari gangguan kesehatan jiwa dimulai dari usia 14 tahun. Banyak kasus yang tak terdeteksi dan diabaikan untuk terapi. Alasannya pun beragam. 

"Dalam hal beban penyakit di antara remaja, depresi menempati urutan ketiga penyebab kasus. Bunuh diri jadi penyebab kedua kematian di antara orang usia 15-29 tahun," tulis WHO dalam laman resminya (10/10). 

Oleh karena itu, harapan akan kesadaran kesehatan jiwa benar-benar harus ditingkatkan. Pencegahan dimulai dengan waspada dan memahami tanda dan gejala awal. WHO menyebut guru dan orang tua dapat membantu anak untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam menghadapi tantangan baik di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal. 

Sekolah dapat menyediakan dukungan dari segi psikososial. Selain itu, penting bagi pemerintah untuk berinvestasi dalam program-program yang berkaitan dengan peningkatan kesadaran kesehatan jiwa. Jakarta, CNN Indonesia

Selasa, 09 Oktober 2018

Atasi Kolera, Zimbabwe Berikan Vaksinasi Oral

Zimbabwe berjuang untuk mengatasi wabah kolera melalui pemberian vaksinasi oral. 

"Vaksinasi oral kolera menargetkan setidaknya untuk 1,4 juta orang di daerah dengan kepadatan tinggi untuk usia satu tahun dengan satu dosis," kata Marc Poncin, seorang ahli. vaksinasi WHO di Harare kepada AFP. 

"Dosis kedua akan diberikan dalam waktu enam bulan untuk memberikan perlindungan setidaknya tiga tahun."

Poncin mengungkapkan bahwa perlindungan dari vaksin tersebut hanya bersifat sementara. Dia menyarankan warga sekitar untuk melakukan cara terbaik mencegah kolera adalah dengan meningkatkan sanitasi dan kebersihan. 

Jumat (5/10) warga mulai berdatangan ke pusat kesehatan untuk mendapatkan dosis pertama mereka. 

"Saya datang kemari untuk mendapatkan vaksinasi. Terlalu banyak orang yang meninggal karena penyakit ini. Itu menakutkan," kata Noreen Mahiya, salah satu warga. 

Pejabat WHO mengatakan bahwa wabah kolera merenggut setidaknya 49 orang dalam kurun waktu sebulan terakhir di Zimbabwe. Wabah penyakit ini sendiri pertama kali terdeteksi di luar Harare pada 5 September lalu. Hal ini pun mendorong kementerian kesehata untuk menyatakan keadaan darurat di ibukota. 

Setidaknya ada 9 ribu kasus yang dicurigai terjadi sejauh ini. Pasalnya wabah kolera ini sudah menyebar ke kota-kota lain dan juga di pedesaan di seluruh negeri. 

Negara ini mengalami wabah kolera terburuk pada 2008 lalu. Setidaknya 4 ribu orang meninggal dan 100 ribu lainnya jatuh sakit. Jakarta, CNN Indonesia

Senin, 08 Oktober 2018

Australia Bakal Jadi Negara Pertama Bebas Kanker Serviks

Kanker serviks merupakan salah satu pembunuh utama bagi wanita di seluruh dunia. Di banyak negara, kanker serviks bersama kanker payudara menempati peringkat teratas penyebab kematian pada wanita, termasuk di Indonesia.

Meski demikian, bukan berarti harapan itu nihil. Kabar baik datang dari Australia. Negeri Kanguru itu bakal menjadi negara pertama di dunia yang bebas dari kanker serviks. 

Australia diprediksi sukses mengeliminasi kanker serviks berkat program vaksinasi dan pemeriksaan dini secara nasional. Laporan terbaru menunjukkan Australia berada di jalur yang tepat untuk bebas dari kanker serviks pada 2028. 
Bebas dari kanker serviks itu berarti hanya ada maksimal empat kasus baru per 100 ribu wanita setiap tahunnya. Saat ini, di Australia tercatat tujuh kasus kanker serviks per 100 ribu wanita.

Berdasarkan penelitian itu, tren kanker serviks di Australia terus menunjukkan penurunan. Pada 2022 mendatang, kanker serviks bakal dikategorikan sebagai penyakit langka dengan hanya enam kasus baru per 100 ribu perempuan. Pada 2034, kematian akibat kanker serviks menjadi satu per 100 ribu wanita.

Peneliti menyatakan, prediksi ini bisa terwujud jika Australia terus menggencarkan pemeriksaan dini dan memperluas cakupan vaksin.

"Ini adalah berita yang membahagiakan bagi wanita di seluruh Australia. Kami unggul dalam pengendalian kanker serviks selama bertahun-tahun dan kami akan berbagi penelitian dan pendekatan kami kepada seluruh dunia untuk menghilangkan kanker yang dapat dicegah ini," kata pemimpin penelitian ini, Direktur Cancer Council NSW profesor Karen Canfell.

Australia merupakan salah satu negara pertama yang memperkenalkan program vaksinasi Human papillomavirus, virus penyebab kanker serviks, kepada anak perempuan pada 2007 lalu. Sejak saat itu, Australia terus mengembangkan cakupan vaksinasi tidak hanya untuk perempuan tapi juga laki-laki.

Sebanyak 99,7 persen kasus kanker serviks disebabkan oleh infeksi Human papillomavirus (HPV). Virus ini menyebar melalui hubungan seksual dan kontak kulit-ke-kulit di sekitar alat kelamin.

Program vaksin dan pemeriksaan dini di Australia ini terbukti sukses. Indonesia sejauh ini sudah mulai melakukan vaksinasi HPV dan juga pemeriksaan dini. Namun, cakupannya masih sangat terbatas. Jakarta, CNN Indonesia

Kamis, 04 Oktober 2018

Media Sosial Banyak Bikin Remaja Perempuan 'Galau' Berat

Selama satu dekade terakhir, platform media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram telah mencuri perhatian banyak orang. Laman media sosial ini kian populer dan membuat banyak orang sangat bergantung pada ponsel pintar.

Namun, di balik popularitasnya yang kian melonjak, fiksasi media sosial tanpa disadari justru menimbulkan korban, khususnya kaum hawa. 

Melansir The Independent, jajak pendapat teranyar yang dilakukan Girlguiding, organisasi sosial di Inggris yang beranggotakan perempuan menyebut, sebagian besar remaja perempuan merasa hidupnya tidak bahagia akibat serbuan media sosial.

Jajak pendapat itu mendapatkan hanya seperempat remaja perempuan berusia 7-21 tahun yang mengaku bahagia. Angka ini menurun drastis dari 2009 lalu sebanyak 41 persen.

Sebanyak 59 persen remaja perempuan berusia 7-21 tahun mengatakan bahwa media sosial adalah salah satu penyebab utama stres yang dirasakannya. Sementara 69 persen di antaranya menyalahkan ujian yang sulit atas stres yang dideritanya.

Organisasi tersebut melakukan jajak pendapat terhadap 1.903 remaja perempuan berusia 7-21 tahun selama Maret hingga Mei 2018. Hasil ini dibandingkan dengan penemuan jajak pendapat sebelumnya pada 2009 lalu.

Peneliti utama dari Girlguiding, Amanda Medler, mengatakan bahwa perlu adanya tindakan yang lebih efektif untuk memperhatikan kesehatan mental remaja perempuan.

"Pesannya jelas tentang keseriusan masalah yang dihadapi perempuan di zaman kiwari, serta dampak negatifnya terhadap kehidupan mereka," ujar Medler.

Belakangan, berbagai penelitian soal kesehatan mental remaja kerap dilakukan oleh sejumlah organisasi. Rata-rata dari penelitian menyebutkan adanya krisis kesehatan mental pada remaja, baik perempuan atau laki-laki.

Teranyar, sebuah penelitian di Inggris menunjukkan adanya peningkatan penggunaan obat painkiller atau penghilang rasa sakit dan antidepresan pada remaja. Hasil penelitian itu menjadi bukti baru yang lain dari krisis kesehatan mental pada remaja di zaman kiwari. Jakarta, CNN Indonesia

Rabu, 26 September 2018

236 Wilayah di Indonesia Endemis Kaki Gajah

Program Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) kaki gajah cukup berhasil mengatasi penyakit kaki gajah di beberapa wilayah di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, 236 dari total 514 kabupaten/kota di Indonesia merupakan wilayah endemis filariasis atau penyakit kaki gajah. Namun, 131 dari 236 kabupaten/kota tersebut telah melaksanakan POPM. 

"Dari 236 itu total minum obat. Dari total 236 itu, 131 sudah selesai (melaksanakan POPM). Karena minum obatnya setiap bulan Oktober, tapi lima tahun berturut-turut," papar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dr Elizabeth Jane Soepardi di Kantor Kemenkes, Kuningan, Jakarta, Rabu (26/9/2018).

Nantinya, kabupaten atau kota yang tingkat mikrofilariasisnya sudah di bawah 1 persen akan mendapatkan sertifikat dan masuk dalam kategori wilayah non-endemis. Jane mengatakan, saat ini sudah ada 278 kabupaten/kota yang dinyatakan non-endemis kaki gajah.

Dari data yang dihimpun oleh Kemenkes, beberapa daerah seperti Nusa Tenggara Timur, Papua, Maluku, serta Kalimantan masih harus waspada terhadap kaki gajah. 

Jane mengungkapkan bahwa ibu kota DKI Jakarta memang sudah ditetapkan sebagai wilayah non-endemis filariasis. Namun, tidak dengan daerah-daerah sekitarnya.

"DKI (Jakarta) itu mungkin sudah hijau (bersih dari filaria), tapi sekelilingnya masih merah (endemis)," kata Jane mengatakan pada awak media.

Menurutnya, wilayah seperti Bekasi, Bogor, dan Depok masih berada dalam area endemis filariasis. Hanya Tangerang yang sudah dinyatakan bebas. Karena itu, pihak pemerintah daerah yang masih berada dalam kategori wilayah endemis diminta untuk tidak menolak POPM yang dilakukan oleh pemerintah.

Anggota National Task Force Filariasis Prof. Dr. Dra.Taniawati Supali mengatakan, beberapa daerah diakui cukup sulit untuk menerima POPM.

"Selain rubela, Aceh, itu (POPM) juga gagal. Makanya harus diadvokasi lagi. Jadi tidak gampang. Terutama daerah konflik. Papua susah, NTB juga. Tapi kalau mereka di-advokasi betul, ini gunanya untuk kamu, biasanya mereka akan nurut," kata Tania. Jakarta, Liputan6

Selasa, 25 September 2018

Penelitian Vaksin MR Buatan Lokal Sudah Mulai Lima Tahun Lalu

Penelitian untuk mengembangkan vaksin MR halal buatan dalam negeri sesungguhnya sudah dimulai cukup lama. Hal ini diungkap oleh Corporate Secretary Bio Farma Bambang Heryanto.

"Mungkin empat sampai lima tahun yang lalu," kata Bambang mengungkapkannya di kantor Bio Farma, Bandung, Senin (24/9/2018).

Bambang mengatakan, sesungguhnya penelitian mereka hanya dilakukan untuk vaksin Rubella saja. Hal ini karena vaksin Measles sudah diproduksi oleh Bio Farma.

"Campaknya sudah ada. Cuma Rubellanya Bio Farma belum bikin," kata Bambang.

Menurut dia, apabila vaksin Rubella yang sebelumnya dipermasalahkan tersebut sudah berhasil diproduksi sendiri, kedua vaksin tersebut akan digabungkan. Hal ini bisa memakan waktu hingga bertahun-tahun.

"Rubella itu satu penelitian. Belum nanti digabunginnya," kata Bambang.

"Digabungkannya nanti beda lagi. Harus ada compatibility antara dua ini harus nyambung, kan. Harus bisa satu, kan? Yang satu punya sifat-sifat, yang satu punya sifat-sifat. Bagaimana caranya dalam formula yang satu ini biar dua-duanya tidak saling terpengaruh," kata Bambang.

Bambang sendiri mengatakan, paling tidak satu jenis vaksin paling cepat bisa memakan waktu hingga 15 tahun untuk proses produksinya.

Menurut dia, untuk satu tahapan saja bisa memakan waktu hingga dua sampai tiga tahun.

"Tahap satu untuk safety, efikasi. Nanti tahap duanya tambah lagi populasinya. Misalnya dari 500 sampel jadi 1000 atau 2000. Setelah itu fase tiga lebih besar lagi populasinya. (Waktunya) hampir sama sekitar dua sampai tiga tahun," ujar Bambang.

Belum lagi, apabila gagal, proses penelitian harus diulang seluruhnya dari pencarian kandidat virus dari awal.

"Jadi, mulai dari awal. Harus cari kandidat lagi," kata Bambang. Jakarta, Liputan6

Satu dari Tiga Mahasiswa Baru Alami Gangguan Mental

Peralihan dari masa SMA menuju dunia perkuliahan memberikan kesan yang berbeda-beda bagi setiap orang. Ada di antaranya yang berujung bahagia, tapi ada pula beberapa lainnya yang berujung nestapa.

Gejala gangguan mental mengintai euforia masa-masa menjadi mahasiswa baru. Hal itu dibuktikan dalam sebuah penelitian yang diinisiasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Studi menyebut satu dari tiga mahasiswa baru dilaporkan mengalami gejala gangguan mental.

Penelitian itu mencari tahu prevalensi gangguan psikologis di antara mahasiswa baru di delapan negara seperti Australia, Belgia, Jerman, Meksiko, Irlandia Utara, Afrika Selatan, Spanyol, dan Inggris.

Beberapa gangguan psikologis yang menjadi sorotan di antaranya depresi, gangguan kecemasan, gangguan panik, dan kecanduan alkohol.

Temuan yang dipublikasikan dalam Journal of Abnormal Psychology ini didasarkan pada serangkaian survei kesehatan berbasis daring yang diberikan kepada mahasiswa baru dalam beberapa bulan awal perkuliahan.

Hasilnya, sebanyak 35 persen dari 13.984 responden dilaporkan mengalami gangguan mental selama hidupnya. Sementara 31 persen di antaranya mengalami gangguan mental setidaknya 12 bulan sebelum survei dilakukan. Depresi adalah gangguan paling umum yang dialami mahasiswa. 

"Transisi dari SMA menuju perguruan tinggi benar-benar menjadi tantangan bagi mereka," ujar salah satu penulis studi, Randy Auerback dari Columbia University, AS, melansir The Guardian.

Tingkat gangguan, kata Auerback, tampak sangat mengkhawatirkan. Temuan tersebut menunjukkan adanya masalah kesehatan mental masyarakat yang sangat besar.

Auerback menduga, prevalensi sesungguhnya bisa lebih tinggi dari apa yang didapatkan dalam penelitian. Pasalnya, peneliti hanya fokus pada beberapa gangguan mental yang umum terjadi.

"Kami menemukan bahwa gangguan-gangguan itu didistribusikan secara luas dalam lingkungan mahasiswa," kata Auerback. Hal itu, lanjutnya, menunjukkan bahwa perlu adanya pemahaman lebih menyeluruh perihal gangguan mental yang tumbuh dalam lingkungan perguruan tinggi. 

Kendati demikian, para peneliti menganggap perlu adanya penelitian lebih lanjut terkait hal tersebut. Jakarta, CNN Indonesia.

Surat Keterangan Akreditasi FKM UNDIP

Bagi teman-teman yang membutuhkan informasi tentang Akreditasi FKM UNDIP... Silahkan download file di bawah ini... file sudah saya perb...

Find Us on Facebook

Blog Archives

Do Before You Die

Do Before You Die

Visitors


pinjaman utang