journey healthy future

Tampilkan postingan dengan label penyakit menular. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penyakit menular. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Oktober 2018

Australia Bakal Jadi Negara Pertama Bebas Kanker Serviks

Kanker serviks merupakan salah satu pembunuh utama bagi wanita di seluruh dunia. Di banyak negara, kanker serviks bersama kanker payudara menempati peringkat teratas penyebab kematian pada wanita, termasuk di Indonesia.

Meski demikian, bukan berarti harapan itu nihil. Kabar baik datang dari Australia. Negeri Kanguru itu bakal menjadi negara pertama di dunia yang bebas dari kanker serviks. 

Australia diprediksi sukses mengeliminasi kanker serviks berkat program vaksinasi dan pemeriksaan dini secara nasional. Laporan terbaru menunjukkan Australia berada di jalur yang tepat untuk bebas dari kanker serviks pada 2028. 
Bebas dari kanker serviks itu berarti hanya ada maksimal empat kasus baru per 100 ribu wanita setiap tahunnya. Saat ini, di Australia tercatat tujuh kasus kanker serviks per 100 ribu wanita.

Berdasarkan penelitian itu, tren kanker serviks di Australia terus menunjukkan penurunan. Pada 2022 mendatang, kanker serviks bakal dikategorikan sebagai penyakit langka dengan hanya enam kasus baru per 100 ribu perempuan. Pada 2034, kematian akibat kanker serviks menjadi satu per 100 ribu wanita.

Peneliti menyatakan, prediksi ini bisa terwujud jika Australia terus menggencarkan pemeriksaan dini dan memperluas cakupan vaksin.

"Ini adalah berita yang membahagiakan bagi wanita di seluruh Australia. Kami unggul dalam pengendalian kanker serviks selama bertahun-tahun dan kami akan berbagi penelitian dan pendekatan kami kepada seluruh dunia untuk menghilangkan kanker yang dapat dicegah ini," kata pemimpin penelitian ini, Direktur Cancer Council NSW profesor Karen Canfell.

Australia merupakan salah satu negara pertama yang memperkenalkan program vaksinasi Human papillomavirus, virus penyebab kanker serviks, kepada anak perempuan pada 2007 lalu. Sejak saat itu, Australia terus mengembangkan cakupan vaksinasi tidak hanya untuk perempuan tapi juga laki-laki.

Sebanyak 99,7 persen kasus kanker serviks disebabkan oleh infeksi Human papillomavirus (HPV). Virus ini menyebar melalui hubungan seksual dan kontak kulit-ke-kulit di sekitar alat kelamin.

Program vaksin dan pemeriksaan dini di Australia ini terbukti sukses. Indonesia sejauh ini sudah mulai melakukan vaksinasi HPV dan juga pemeriksaan dini. Namun, cakupannya masih sangat terbatas. Jakarta, CNN Indonesia

Kamis, 20 September 2018

Tuberkulosis, Penyakit Paling Mematikan di Dunia

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan tuberkulosis (TB) masih menjadi penyakit infeksi yang paling mematikan di dunia. Pernyataan ini diungkap dalam Global TB Report 2018 pada Selasa lalu.

Dalam laporan terbaru, negara-negara yang tergabung di WHO masih belum cukup mampu untuk mengakhiri tuberkulosis pada 2030. Sekalipun, ada upaya global sejak 2000 yang mencegah sekitar 54 juta terhadap penyakit tersebut.

Seperti dilansir Times Now News pada Jumat (21/9/2018), sekitar 10 juta orang menderita tuberkulosis pada 2017. Meski jumlah kasus menurun selama dua persen per tahun, India menyumbang 27 persen dari 10 juta orang yang terkena penyakit itu di 2017.

Dari 10 juta orang yang terkena TB pada 2017, hanya 6,4 juta yang secara resmi dicatat oleh sistem pelaporan nasional. Berarti ada 3,6 juta orang tidak terdiagnosis atau terdeteksi tapi tidak dilaporkan.

Selain India, Indonesia dan Nigeria masuk 10 peringkat teratas kasus tuberkulosis.

"Dua pertiganya ada di delapan negara yakni India (27 persen), Cina (9 persen), Indonesia (8 persen), Filipina (6 persen), Pakistan (5 persen), Nigeria (4 persen), Bangladesh (4 persen) dan Afrika Selatan (3 persen)," tulis laporan tersebut.

Hanya 6 persen dari kasus tuberkulosis berada di wilayah Eropa (3 persen) dan Amerika (3 persen).

Laporan WHO tersebut juga mengungkapkan bahwa cakupan pengobatan TB masih berada di 64 persen. Angka ini harusnya sudah mencapai 90 persen pada 2025 untuk memenuhi target mengakhiri TB di 2030.

Karena itu, WHO dan mitra-mitranya segera meluncurkan inisiatif baru pada 2018 untuk segera meningkatkan deteksi, diagnosis, dan tingkat pengobatan.

Inisiatif ini untuk menetapkan target penyediaan layanan berkualitas bagi 40 juta orang dengan TB dari 2018 sampai 2022, sembari memprediksi bahwa 30 juta orang harus dapat mengakses pengobatan pencegahan TB selama periode itu.

"Kami belum pernah melihat perhatian dan pemahaman politik tingkat tinggi, seperti apa yang perlu dilakukan dunia untuk mengakhiri TB dan TB yang resistan obat," ujar Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus.

"Kita harus memastikan bahwa kita meminta pemimpin kita bertanggung jawab atas tindakan yang mereka janjikan. Dan kita harus menjaga diri bertanggung jawab untuk tetap menekan," tambahnya. Jakarta, Liputan6

Rabu, 19 September 2018

100 Anak di Riau Cacat Akibat Rubella

Dinas Kesehatan Provinsi Riau memperkirakan 100 lebih warga Riau memiliki anak yang cacat gara-gara sindrom rubella kongenital (Congenital Rubella Syndrome/CRS) dan terus berupaya mendorong warga menyukseskan program nasional imunisasi campak dan rubella (Measles-Rubella/MR).

"Diperkirakan lebih dari 100 orang ibu di Provinsi Riau memiliki anak dengan CRS," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Mimi Nazir, di Pekanbaru, Rabu.

Sindrom rubela kongenital, menurut siaran di laman resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia, adalah kumpulan gejala penyakit yang terdiri dari katarak (kekeruhan lensa mata), penyakit jantung bawaan, gangguan pendengaran, dan keterlambatan perkembangan, termasuk keterlambatan bicara dan disabilitas intelektual.

Sindrom rubela kongenital disebabkan oleh infeksi virus rubela pada janin selama masa kehamilan karena ibu tidak mempunyai kekebalan terhadap virus rubela.

Guna mencegah peningkatan kasus CRS, Mimi mengharapkan dukungan semua pihak untuk menyukseskan program imunisasi MR di Riau, yang sempat terkendala menyusul kontroversi berkenaan dengan kehalalan produk vaksin dari India yang digunakan dalam vaksinasi.

Ia menjelaskan infeksi virus yang bisa mengakibatkan ibu hamil keguguran atau melahirkan anak dalam kondisi cacat pendengaran, penglihatan terganggu, dan kelainan pada jantung tersebut bisa dicegah dengan imunisasi.

Apalagi, ia melanjutkan, "Kalau HIV penularan dari hubungan badan, tapi kalau MR lebih mudah lagi karena dari udara juga bisa menular".

Poppi Morina, penggagas Komunitas Anakku Sayang yang beranggotakan orangtua dengan anak yang hidup dengan CRS, menyebut data anak dengan CRS yang ada sebagai fenomena gunung es, mengatakan kemungkinan data itu hanya berasal dari orangtua yang mau membuka diri.

"Masih banyak orangtua yang menyembunyikan anak-anak mereka yang terdampak rubella, mungkin karena malu," kata Poppi, yang anaknya kehilangan pendengaran karena CRS.

Komunitas Anakku Sayang, ia mengatakan, ingin membantu mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mencegah penyebaran penyakit itu lewat imunisasi MR.

Ia mengaku sedih melihat banyaknya informasi keliru tentang imunisasi MR yang terlanjur berkembang di tengah masyarakat.

"Sehingga masyarakat sudah terbentuk pola pikirnya duluan untuk menolaknya. Dan itu tidak mudah untuk mengubahnya," kata dia.

Capaian imunisasi rendah

Mimi Nazir mengatakan hingga September imunisasi MR baru mencakup 18,47 persen dari target 1,955 juta anak usia sembilan bulan hingga 15 tahun.

"Capaian Provinsi Riau sampai dengan 8 September 2018 hanya 18,47 persen, masih jauh dari target. Bahkan, Riau berada di urutan dua paling bawah dari capaian provinsi se-Indonesia," katanya.

Sejak imunisasi MR untuk provinsi di luar Jawa dilaksanakan Agustus lalu, Dinas Kesehatan Riau menargetkan cakupan imunisasi bisa sampai 95 persen dari seluruh anak yang menjadi sasaran.

Namun pro dan kontra mengenai kehalalan vaksin MR menghambat pelaksanaan program imunisasi di hampir seluruh kabupaten/kota.

Riau kini hanya berada di atas Provinsi Aceh yang tingkat pencapaian imunisasi MR hanya 6,86 persen. Dari 12 kabupaten/kota di Riau, hanya lima daerah yang pencapaiannya di atas 20 persen dan paling tinggi di Kabupaten Kuantan Singingi sekitar 37,66 persen.

Realiasi imuniasi di Ibukota Provinsi Riau, Kota Pekanbaru, hanya 15,36 persen, dan di Kabupaten Kepulauan Meranti, Siak dan Kota Dumai pencapaiannya masih di bawah 10 persen.

"Memang masih ada pemerintah daerah seperti di Dumai, Indragiri Hilir dan Pekanbaru, masih menunda pelaksanaan kegiatan imunisasi MR," kata Mimi. Jakarta, Liputan6

MUI: Dalam Situasi Darurat, Imunisasi adalah Kewajiban

Polemik akan penggunaan Vaksin MR di Indonesia akhirnya menemui titik terang. 

Sebelumya, ada banyak perdebatan di antara masyarakat, apakah vaksin MR diperbolehkan atau tidak. Pasalnya, diketahui bahwa vaksin ini memilki kandungan yang dinilai tidak halal untuk dikonsumsi umat islam. 

Menanggapi hal ini, dalam Forum Merdeka Barat dengan tema Jalan Panjang Fatwa MUI Vaksin MR, KH. Ma’aruf Amin selaku ketua MUI memberikan komentarnya. 

“Sebenarnya untuk masalah imunisasi, MUI sudah mengeluarkan (keputusan) pada tahun 2016, yaitu fatwa nomor 4, bahwa melakukan imunisasi itu karena ada bahaya yang mengancam," ungkap Ma’aruf saat ditemui pada kegiatan tersebut, Selasa (18/09/2018), di Kementerian Komunikasi dan Informasi, Jakarta.

"Maka bukan hanya boleh, bahkan wajib. Karena menghindari bahaya itu wajib. Kalau itu diyakini bahaya,” ujarnya lagi. 

Ma’aruf juga menambahkan bahwa bahaya campak dan rubella akan mempengaruhi generasi bangsa Indonesia ke depannya jika tidak ditangani. Jika generasi muda mengalami rubella, Indonesia akan menjadi bangsa yang lemah, cacat, dan tidak tidak bisa berkompetisi dengan negara lain. 

Ia pun berkata bahwa terkait campak dan rubella, Indonesia berada pada kondisi darurat. 

Menurut data Kementerian Kesehatan, dalam kurun 2010 hingga 2017, ada 27.384 kasus campak yang dilaporkan. Selain itu, terdapat penyakit rubella yang perlu dikenalkan pada masyarakat. Menurut data yang sama, dalam kurun 2013 hingga 2017, terdapat laporan soal rubella sebanyak 31.449 laporan.

“Dari sisi kesehatan, tentu harus betul-betul melakukan kewajiban untuk mencegah kematian dari penyakit ini. Campak dan rubella ini adalah penyakit yang luar biasa. Kita perlu memikirkan dampak dan akibat yang diperoleh apabila kita menolak imunisasi,” ujar Nila F Moeloek, Menteri Kesehatan Indonesia, yang juga menjadi pembicara dalam kegiatan yang sama.

Diketahui, rubella dapat berdampak pada ketulian, gangguan pengelihatan, kebutaan, bahkan kelainan jantung. 

Beberapa negara sudah mengonfirmasikan bahwa mereka sudah mengeliminasi virus campak dan rubella. Untuk Indonesia, saat ini masih dalam proses peningkatan cakupan. 

“Saya terus terang, beberapa negara sudah eliminasi rubella. Bangladesh, India sudah, tapi Indonesia belum. Ini perlu diperhatikan karena mereka khawatir orang Indonesia yang ke sana akan membawa kembali virus rubella karena Indonesia belum eliminasi rubella,” jelas Nila.

Mendukung hal ini, Ma’aruf menegaskan akan turut mendukung vaksin ini untuk mengentaskan campak dan rubella dari Indonesia. 

“Kita akan ajak pihak-pihak MUI daerah yang masih menolak. Kenapa menolak? Nanti kita akan kirim komisi kita ke daerah mereka untuk mensosialisasikan kalau vaksin ini sudah boleh,” pungkas Ma’ruf. Jakarta, Kompas

Perjuangan Nursiah dan Anaknya Lawan Rubella

Perhatian akan penyakit campak dan rubela masih belum merata di Indonesia. Padahal, rubella dapat menyebabkan ketulian, kebutaan, hingga kelainan jantung.

Daerah dengan cakupan pencegahan paling sedikit adalah Aceh. Tercatat hanya ada 7 persen anak yang diimunisasi dan divaksinaki untuk mencegah penyakit tersebut.

Nursiah (47), warga Mon Geudong, Lhoksumawe Aceh, membagikan kisahnya sebagai seorang ibu yang berjuang untuk anaknya yang menderita rubella.

“Saya terkena rubella saat mengandung 2 bulan. Saat itu saya enggak tahu itu rubella. Saya tahunya itu campak. Ketika saya ke dokter, saya disarankan untuk dirawat di rumah. Karena saya sedang hamil, kata dokter saya enggak bisa dikasih obat,” jelas Nursiah.

Nursiah bukanlah satu-satunya orang yang menderita rubella di keluarganya. Penyakit langka ini juga dialami anak keduanya, Syakila (7), yang didiagnosis menderita rubella pada usia 2 tahun.

Padahal, Nursiah dan keluarganya memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya kesehatan. Mereka juga  mengikuti segala jenis imunisasi untuk mencegah berbagai penyakit. 

"Saya sendiri vaksin lengkap, anak saya yang pertama lengkap, itu yang disayangkan, lingkungan. Saya sendiri juga imunisasi, tapi karena lingkungan sedang terwabah, dan saya sedang hamil, saya ikut kena," ungkap Nursiah. 

Untuk mengobati rubella, Nursiah sudah mengorbankan harta bendanya, termasuk menjual rumah untuk asa bagi Syakila.

Nursiah menuturkan, putrinya sudah melakukan beberapa operasi untuk melawan rubella. Mulai dari tanam lensa karena putrinya mengalami katarak akibat rubella, dan operasi jantung akibat penyakit yang sama. 

"Syakila sekarang sudah tidak bisa mendengar. Saya ingin sekali membelikan dia implan, tapi saya tidak sanggup karena harganya ratusan juta untuk implan," ungkap Nursiah yang hadir bersama putrinya pada diskusi Jalan Panjang MUI Vaksin MR, Selasa (18/09/2018) di Kominfo Jakarta.

Ia berharap kejadian seperti ini tidak dialami oleh keluarga lainnya. Untuk itu, Nursiah berpesan agar semua orang tanpa terkecuali mau melakukan imunisasi untuk mencegah wabah campak dan rubella. 

Kasus yang dialami Nursiah adalah bukti nyata pentingnya imunisasi dan vaksinasi agar dilakukan semua masyarakat. 

Walaupun ia dan keluarga melakukan imunisasi, namun jika masyarakat sekitar banyak yang tidak melakukannya dan terserang penyakit maka orang yang sudah diimunisasi pun dapat tertular.

"Harapan saya pada siapapun yang anti terhadap vaksin. Jangan lah mengatakan vaksin itu haram. Bagaimana jika anda yg mengalami. Saya mengalami sendiri. Saya harus mengobati anak saya. Saya harus mengoperasi jantung. Saya harus mengoperasi mata karena katarak," jelas Nursiah. 

"Jadi tolonglah jangan liat haramnya, tapi bagaimana kalau kita yg mengalami. Saya pesan, tolong perhatian pada imunisasi. Bukan hanya pada anak saja, tapi pada kita juga ibu hamil. Satu kena semuanya kena,” tambahnya.

Nursiah menyampaikan, saat ini harapan untuk Syakila dapat kembali hidup normal sangat kecil, bahkan cenderung tidak ada. 

"Harapan dari dokter tidak ada. Operasi jantung sudah, mata sudah, terapi juga. Kemungkinan sembuhnya kecil, meskipun nanti pasang implan, tetap belum maksimal. Saat ini ya cuma bisa terapi, entah sampai kapan, enggak tau," ungkapnya lirih. Jakarta, Kompas

Jumat, 14 September 2018

Cacar Monyet, Penyakit Langka yang 'Menyerang' Inggris

Kasus baru infeksi cacar monyet atau monkeypox baru saja ditemukan menjangkiti warga Inggris. Public Health England (PHE) sudah memastikan dua orang warga Inggris telah didiagnosis terinfeksi virus langka cacar monyet.

PHE menyebut kedua kasus itu terjadi pada orang yang baru saja mengunjungi Nigeria. Cacar monyet memang merupakan virus yang pertama kali terjadi dan berkembang di Afrika tengah dan barat.

Seperti diberitakan Reuters, kedua orang itu kini tengah dirawat di pusat penyakit infeksi pernapasan di Liverpool dan London.

Cacar monyet adalah infeksi virus langka yang sebenarnya tidak dapat menyebar dengan mudah antarmanusia. Virus ini mirip dengan cacar (variola atau smallpox, bukan cacar air) meskipun lebih ringan. 

Penderita cacar monyet dapat pulih dalam beberapa minggu. Hanya dalam beberapa kasus yang jarang saja dapat berakibat fatal.

WHO menjelaskan sebagian besar virus ini ditularkan oleh hewan liar seperti hewan pengerat dan primata kepada manusia, sementara penyebaran dari manusia ke manusia lain sangat terbatas. Inilah alasan virus ini diberi nama cacar monyet. 

Penularan utama dari hewan ke manusia terjadi lewat kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau kulit hewan yang terinfeksi. Memakan daging yang tidak dimasak dengan baik dari hewan yang terinfeksi juga mungkin menjadi salah satu cara penularan.

Sementara, penularan sekunder dari manusia ke manusia dapat terjadi melalui kontak tatap muka dalam waktu yang lama dengan orang yang terinfeksi, lesi kulit atau benda yang terkontaminasi cairan pasien.

Saat sudah terinfeksi, cacar monyet ini mengalami masa inkubasi selama 5 hingga 21 hari sampai munculnya gejala. Pada periode 0-5 hari ditandai dengan muncul demam, sakit kepala hebat, pembengkakan kelenjar getah bening, nyeri punggung, nyeri otot, dan kurang bertenaga.

Dalam 1-3 hari biasanya muncul ruam seperti cacar di sekitar wajah dan tempat lain di tubuh. Ruam ini bakal hilang sekitar tiga pekan.

Tak ada pengobatan khusus atau vaksin yang tersedia untuk menangkal cacar monyet. Tapi, WHO menyatakan vaksin cacar 85 persen efektif mencegah cacar monyet.

WHO mencatat kasus kematian dalam wabah cacar monyet berkisa 1-10 persen, dengan sebagian besar kematian terjadi pada usia muda. 

Kasus pertama cacar monyet pada manusia terjadi pada 1970 pada seorang anak laki-laki berusia 9 tahun di Kongo. Sejak saat itu, kasus cacar monyet semakin banyak ditemukan. Tercatat, terdapat 10 negara di Afrika yang pernah terserang wabah cacar monyet. Yang terbaru adalah Nigeria pada tahun lalu. Jakarta, CNN Indonesia

Jumat, 26 Juni 2015

Dunia Bebas Polio pada 2020

Dunia ditargetkan bebas dari penyebaran virus polio pada tahun 2020. Untuk itu, semua negara didorong untuk menarik vaksin oral polio dan menggantinya dengan vaksin polio tak aktif. Namun, upaya pencegahan penularan virus tersebut terkendala penolakan imunisasi oleh sejumlah komunitas di beberapa negara.

Hal itu mengemuka dalam diskusi polio dan vaksinasi yang diselenggarakan Pusat Akses Vaksin Internasional di Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, dari Hanoi, Vietnam, Jumat (12/6). Diskusi menghadirkan ahli vaksin dan polio antara lain dari India, Filipina, Australia, dan Hongkong.

Sejumlah ahli kesehatan menemukan vaksin tetes oral polio berisiko menyebabkan polio jenis baru yang bisa mengakibatkan kelumpuhan. Oleh karena itu, vaksin oral polio perlu ditarik, digantikan dengan vaksin polio inaktif yang diberikan secara suntik. Kini, semua negara didorong mengganti vaksin itu.

Mantan Kepala Departemen Virus dan Anak-anak di Christian Medical College Vellore, India, T Jacob John mengatakan, pada tahun 2012-2014, jumlah kasus polio akibat penggunaan vaksin oral lebih tinggi daripada kasus polio karena penularan virus asli. Sejak 2010, ada 400 kasus polio akibat pemakaian vaksin. Adapun jumlah penderita polio karena penularan virus mencapai 223 kasus di lima negara pada 2012 dan ada 407 kasus di delapan negara pada 2013.

"Polio jenis baru ini merupakan polio sporadis karena virus aktif di dalam vaksin tetes mulut atau oral. Penyakit ini disebut kelumpuhan polio yang berasosiasi dengan vaksinasi (VAPP). Angka kasusnya 1-5 per 1 juta anak atau 200-400 kasus per tahun, lebih tinggi daripada jumlah kasus polio karena virus liar pada 2012 dan 2013," tuturnya.

Vaksin tetes oral polio (OPV) adalah vaksin polio yang digunakan di dunia. Adapun vaksin polio terbaru ialah vaksin polio inaktif (inactivated polio vaccine/IPV) yang diberikan dengan cara disuntikkan. Namun, harganya relatif mahal, 35-80 dollar AS atau setara dengan Rp 400.000 hingga Rp 1 juta per dosis.

Jadi ancaman

Kendati jumlah kasus polio amat kecil selama beberapa tahun terakhir, polio masih mengancam. Hingga 2013, penularan polio terjadi di negara-negara di Asia dan Afrika, seperti Pakistan, Nigeria, Somalia, Suriah, dan Irak. Karena tingkat penularan tinggi, selama kasus polio ada, semua negara terancam virus penyebab kelumpuhan dan kematian itu.

Jacob John mengatakan, dunia bebas polio ditargetkan tercapai 2020. Untuk itu, negara-negara diharap memperkenalkan IPV pada 2016 dan menarik vaksin oral polio secara total pada 2020. Itu penting sebagai langkah akhir pemberantasan polio. Pada pertemuan tersebut, Indonesia menyatakan siap mengganti vaksin oral secara bertahap.

Direktur IV Biro Pengembangan Sistem Kesehatan Lokal Departemen Kesehatan Filipina Enrique A Tayag mengatakan, Filipina mulai mengganti pemakaian virus oral dengan IPV. Penggantian ditargetkan dilakukan pada 2016 dan semua vaksin oral ditarik pada 2020.

Hingga kini, sejumlah komunitas menolak imunisasi. Penolakan antara lain terkait dengan ketidaktahuan, dianggap bertentangan dengan ajaran agama, dan tak sesuai budaya setempat.

Kondisi itu diperparah dengan munculnya gerakan anti vaksinasi di berbagai kawasan. Di Pakistan dan Nigeria, misalnya, pembunuhan para petugas pemberi vaksin polio pada 2012. Selain itu, vaksinasi polio dilarang Pemerintah Taliban dan Al-Shabab di Nigeria hingga kini.

Direktur Kebijakan, Advokasi, dan Komunikasi Internasional Pusat Akses Vaksin Internasional Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health Lois Privor Dumm mengatakan, gerakan anti virus itu bermunculan justru dari masyarakat berpendidikan tinggi. Itu pernah ditemui di Amerika Serikat dan negara-negara lain. Gerakan itu umumnya didasari keyakinan vaksin dan imunisasi adalah bagian dari industri kesehatan yang berdampak buruk.

Meski relatif kecil, gerakan itu bisa membahayakan kekebalan suatu komunitas dari penyakit menular. Kian banyak anggota komunitas tak mendapat vaksin, makin besar kemungkinan penyakit itu kembali menyebar.*print.kompas

Kamis, 25 Juni 2015

Potensi Penularan MERS di Indonesia Tinggi

Kewaspadaan terhadap penularan virus korona penyebab sindrom pernapasan Timur Tengah perlu ditingkatkan. Dengan jumlah jemaah sedikitnya 750.000 orang yang pergi umrah ke Arab Saudi per tahun, Indonesia rentan terhadap penyebaran penyakit itu.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Mohamad Subuh mengatakan, pola hidup sehat menjadi cara terbaik mencegah penularan sindrom pernapasan Timur Tengah yang disebabkan virus korona (MERS-CoV).

Hal itu karena belum ada vaksin yang bisa menangkal virus itu. "Belum ada pengobatan bersifat spesifik. Pengobatan yang dilakukan tergantung dari keluhan dan kondisi pasien," kata Subuh, di Jakarta, Kamis (25/6).

Indonesia termasuk negara rentan penularan MERS-CoV. Hal itu karena 13 embarkasi melayani rute penerbangan luar negeri pada pelaksanaan ibadah haji. Tiap tahun, sekitar 250.000 anggota jemaah haji dan sedikitnya 750.000 anggota jemaah umrah asal Indonesia pergi ke Arab Saudi, negara lokasi kasus MERS. "Tidak ada negara sebesar Indonesia yang penduduknya datang dalam jumlah besar ke negara terjangkit MERS untuk waktu lama," kata Subuh.

Pada tahun 2014, ada dua warga negara Indonesia positif terinfeksi MERS-CoV di Arab Saudi, yakni seorang perempuan yang tinggal di Arab Saudi dan seorang anggota jemaah umrah terinfeksi saat beribadah. Setelah dirawat intensif, anggota jemaah itu sembuh dan kembali ke Indonesia.

Untuk itu, jemaah umrah ataupun haji amat dianjurkan memakai masker dan sanitizer. Sebagai upaya pencegahan, pemerintah juga akan menyediakan kartu kendali bagi warga negara asing dan warga Indonesia yang pulang pergi ke Arab Saudi ataupun Korea Selatan, negara-negara dengan kasus MERS-CoV. Kartu berfungsi memantau kesehatan mereka, terutama yang baru pulang dari Arab Saudi dan Korea Selatan.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Tjandra Yoga Aditama mengingatkan, MERS-CoV tak hanya mewabah di Korea Selatan, tetapi penyakit itu masih aktif di Arab Saudi. Terakhir, ada tiga pasien baru MERS-CoV sehingga total pasien terinfeksi 1.038 orang, 459 pasien meninggal dunia, 573 orang sembuh, dan 6 pasien dirawat.

Untuk itu, calon jemaah umrah dan haji perlu mewaspadai penularan virus itu. Sebelum berangkat ke Arab Saudi, mereka dianjurkan periksa ke dokter untuk menangani penyakit kronis, seperti paru-paru, jantung, ginjal, dan diabetes melitus, yang merupakan faktor risiko utama gejala MERS-CoV. Selain kerap mencuci tangan dengan sabun, hindari kontak langsung dengan unta selama berada di Arab Saudi.*print.kompas

Kamis, 07 Mei 2015

Waspadai Penyakit Menular di Era Pasar Bebas

Menjelang era pasar bebas ASEAN, dikhawatirkan penularan penyakit dari suatu negara ke negara lain akan lebih mudah terjadi. Termasuk bagi negara berkembang seperti Indonesia. 

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan, HM. Subuh mengatakan, penyakit menular yang perlu diwaspadai adalah infeksi yang bisa ditularkan dari hewan pada manusia atau dikenal dengan zoonosis. 

"Yang paling utama kalau kita menghadapi zona bebas yaitu antisipasi penyakit zoonotik, seperti flu burung, antrax, coronavirus, ebola. Itu yang perlu kita waspadai," kata Subuh di sela-sela acara diskusi Pengendalian Penyakit Menular di Indonesia sebagai Antisipasi dalam Era Perdagangan Bebas di Jakarta, Rabu (6/5/2015). 

Subuh mengatakan, sebanyak 80 persen kasus penyakit infeksi baru adalah zoonosis. Penyakit ini cukup ganas dan bisa menyebabkan kematian. Penyakit yang bersumber dari hewan pun tak sama di setiap negara. 

Subuh mencontohkan, di Malaysia dan Singapura terdapat penyakit kuku dan mulut yang bersumber dari sapi. Bisa saja, penyakit tersebut juga masuk ke Indonesia. "Kesehatan hewan-hewannya juga harus diperhatikan. Itu yang perlu diwaspadai," kata Subuh. 

Era pasar bebas juga diwaspadai memunculkan kembali penyakit yang sudah tereleminiasi di Indonesia, seperti polio. Untuk itu, Subuh mengingatkan pentingnya imunisasi untuk mencegah penyakit yang disebabkan oleh virus. 

Subuh mengatakan, pemerintah sendiri telah memiliki 20 posko 24 jam yang memantau suatu gejala penyakit di seluruh Indonesia. Untuk mencegah penularan penyakit, ia juga mengingatkan pentingnya melakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti cuci tangan pakai sabun.*kompas

Selasa, 28 Januari 2014

Ilmuwan Cemaskan Kembalinya Wabah Menyeramkan Black Death

Black Death mewabah pada tahun 1348 hingga tahun 1853, secara drastis mengurangi populasi Eropa saat itu. Kini, ilmuwan memperingatkan bahwa wabah yang menewaskan lebih dari 100 juta jiwa itu mungkin saja menyerang lagi.

Ilmuwan meneliti kaitan antara Black Death dengan wabah Justinian, wabah yang melanda 800 tahun sebelum tahun 1300-an ketika Black Death mewabah. Ternyata kedua wabah itu disebabkan oleh patogen yang sama dengan strain atau varian genetik yang berbeda.

Dave Wagner, profesor di Pusat Mikroba Genetika dan Genomics di Northern Arizona University, Amerika, memperingatkan bahwa wabah Black Death yang disebabkan oleh Yersinia pestis itu bisa kembali menyerang di masa depan. 

"Kita telah tahu bahwa sepanjang sejarah, bakteri Y. Pestis berpindah dari hewan pengerat ke tubuh manusia. Dan hewan pengerat yang jadi penampung wabah masih ada sampai saat ini di banyak bagian dunia," ungkap Wagner.

Sampel kecil bakteri penyebab wabah diambil dari rangka korban Wabah Justisian yang dikubur di Bavaria, Jerman. Bagian DNA bakteri yang ditemukan di gigi berusia 1.500 tahun itu lantas digunakan untuk mereka kode genetik bakteri secara keseluruhan.

Peneliti kemudian membandingkan kode genetik bakteri dengan ratusan data patogen penyebab wabah modern yang membunuh ratusan orang tiap tahunnya. Hasilnya varian genetik atau strain bakteri penyebab Wabah Justinisian berbeda dengan penyebab Black Death. 

Pandemik ketiga yang menyebar dari Hong Kong ke seluruh dunia juga merupakan turunan bakteri penyebab Black Death. Itulah mengapa ia lebih ampuh dibanding strain penyebab Wabah Justinisian.

"Penelitian ini menarik sekaligus membingungkan, memicu pertanyaan-pertanyaan baru yang perlu dieksplorasi. Misalnya mengapa pandemi yang membunuh 50 hingga 100 juta orang ini bisa lenyap?" Demikian ungkap pakar DNA purba, Profesor Hendrik Poinar, sebagaimana dikutip dari Daily Mail, Selasa (28/1/2014).

Salah satu kemungkinan penyebab lenyapnya wabah itu adalah karena manusia telah mengembangkan imun yang lebih baik. Akibatnya dampak dari serangan bakteri bisa dikurangi. Kemungkinan lain, sebagaimana diungkapkan oleh Wagner, adalah karena perubahan iklim yang mengakibatkan bakteri tidak bisa bertahan.

Black Death akan kembali? Tak perlu cemas berlebih. Sebab pengobatan modern telah memiliki antiobiotik yang ampuh mengatasi penyakit dan mencegah meluasnya wabah.

Referensi :
http://health.detik.com/read/2014/01/28/190435/2481159/763/ilmuwan-cemaskan-kembalinya-wabah-menyeramkan-black-death

The Black Death, Wabah Penyakit Terburuk Sepanjang Sejarah

Black Death mungkin bisa dikatakan sebagai wabah terburuk sepanjang sejarah. Bagaimana tidak, wabah mematikan ini telah mengurangi populasi Eropa hingga 60 %. Bahkan dikatakan pada saat itu, jenazah-jenazah korban keganasan Black Death bergelimpangan dimana - mana di benua Eropa. Bagaimana wabah ini dapat membuat teror yang begitu mencekam bagi masyarakat di dunia?

Black Death merupakan salah satu wabah penyakit paling mematikan sepanjang sejarah manusia. Wabah ini menyebar dengan cepat di benua Eropa pada tahun 1348 sampai 1350. Lalu, apakah penyakit yang menyebabkan epidemi seperti itu?

Wabah penyakit yang menyebabkan teror itu adalah wabah pes dan radang paru yang disebabkan oleh bakteri Yersinia Pestis. Wabah ini diduga menyebar pertama kali di Asia, tepatnya di daerah China pada tahun 1346. Bakteri yang terdapat pada tikus ini kemudian dibawa oleh kutu tikus, dan sialnya kutu ini merupakan parasit yang bisa hidup di tubuh manusia, sehingga jika manusia terjangkit oleh kutu ini, maka ia akan mengalami radang paru. Orang - orang yang sakit ini merupakan pedagang - pedagang yang akan kembali ke Eropa, jadi wabah ini telah menyebar di kapal, dan penyakit ini ditularkan melalui udara.

Beberapa kisah menceritakan jika di Crimea, suatu pusat perdagangan di China, diserbu oleh kelompok Mongol. Kelompok ini kemudian membuang jenazah yang terinfeksi penyakit ini ke tengah keramaian. Pedagang - pedagang dari Eropa yang terjangkit inilah yang membawa penyakit ke Eropa dan menimbulkan wabah terburuk.

Black death telah membuat populasi dunia berkurang dari sekitar 450 juta jiwa menjadi sekitar 350-375 juta jiwa pada tahun 1400. Eropa membutuhkan 150 tahun untuk memulihkan populasinya yang berkurang drastis itu.

Black Death dikategorikan menjadi tiga tipe wabah, ini karena selama wabah black death berlangsung, ditemukan gejala - gejala yang berbeda. Wabah tersebut yaitu wabah pes, wabah infeksi paru - paru, dan wabah infeksi darah yang merupakan paling mematikan dari ketiga jenis wabah tersebut.

Seperti yang sudah saya sebutkan tadi, wabah ini disebabkan oleh bakteri Yersinia Pestis yang dibawa oleh Tikus Hitam (Rattus rattus) dan menyebar oleh kutu yang hidup di tikus tersebut. Manusia yang telah terjangkit oleh Yersinia Pestis akan meninggal dalam waktu 3 sampai tujuh hari.

Menurut sejarawan, black death mulai menyebar di daratan China pada tahun 1346, penyakit ini pertama kali dibawa oleh para pedagang yang melakukan perjalanan pada tahun 1320-1330 hingga sampai di Crimea, pusat perdagangan di China saat itu. Dari Crimea, penyakit ini terus menyebar ke Eropa Barat hingga ke Afrika. Penyakit ini telah membunuh setidaknya 75 juta jiwa, Eropa sendiri kehilangan 25 - 50 juta jiwa penduduknya saat itu, dan memicu terjadinya krisis ekonomi. Karena banyaknya penduduk Eropa yang tewas, kelangkaan tenaga kerja terjadi di seluruh penjuru benua Eropa.

Pada awal abad ke-19, wabah ini mulai reda, namun ternyata muncul penyakit baru yang juga berasal dari Asia. Wabah yang disebut dengan Kolera Asia ini juga menyebar dengan cepat di benua Eropa selama abad 19 sampai dengan abad ke-20, namun penyakit ini tidak separah seperti apa yang disebabkan oleh black death.

Oh ya, wabah ini disebut dengan black death karena penyakit ini pada umumnya membuat warna kulit penderitanya berubah menjadi agak gelap, namun ada juga yang mengatakan jika nama black death diberikan karena penyakit ini dibawa oleh tikus hitam.

Gejala Penyakit

Gejala black death dibagi menjadi tiga sesuai dengan wabah yang sudah saya sebutkan diatas tadi.

Wabah pes yang dikatakan merupakan biang keladi terjadinya wabah ini menyebabkan demam yang cukup tinggi, yaitu sekitar 38–41 °C, sakit kepala, sakit yang luar biasa disekujur tubuh, mual - mual, dan tidak enak badan. Persentase kematian jika terjangkit wabah ini adalah sekitar 30 - 75% dan dalam delapan hari, 4 atau 5 orang meninggal karena wabah jenis ini.

Wabah jenis kedua, yaitu infeksi paru - paru yang sering ditemukan selama wabah Black Death. Gejala yang terjadi adalah demam, batuk dan dahak yang berwarna merah. Persentase kematian jika terjangkit wabah ini adalah 90 - 95%.

Wabah jenis ketiga, yaitu infeksi darah merupakan jenis penyakit yang paling jarang ditemukan selama wabah black death, namun jenis ini juga yang paling mematikan dengan persentae kematian mencapai 100%. Gejalanya adalah demam yang sangat tinggi, dan warna kulit yang berubah menjadi lebih gelap.

Banyak yang menduga bahwa tingginya tingkat kematian akibat wabah ini disebabkan karena pengetahuan medis yang minim. Satu - satunya cara untuk memusnahkan bakteri ini adalah dengan membakar jenazah yang terinfeksi. Dikisahkan bahwa mayat - mayat orang Yahudi yang meninggal akibat wabah ini dibakar untuk mencegah wabah semakin menyebar.

Salah satu upaya untuk memutus rantai penyebaran wabah ini adalah dengan membuat tempat untuk mengisolasi orang - orang yang terjangkit dengan orang - orang yang sehat. Ketika orang - orang yang sakit mulai meninggal satu persatu, jenazah mereka kemudian dibakar, dan begitu seterusnya hingga wabah semakin lama wabah semakin reda dan berkurang, meski butuh waktu yang cukup lama untuk melakukannya.

Krisis ekonomi yang melanda benua Eropa membuat banyak budak - budak yang mendapat kemerdekaannya untuk digunakan sebagai tenaga kerja. Beberapa negara Eropa juga mengalami perubahan di sektor religi, kebudayaan, dan aspek sosial lainnya yang merubah kehidupan masyarakat Eropa.

Sebagai tenaga kesehatan masyarakat tentu kita sangat mengandalkan surveilans epidemiologi untuk terus-menerus memantau kasus-kasus penyakit yang ada di masyarakat, sehingga bisa untuk deteksi dini adanya potensi KLB, sehingga bisa dilakukan langkah-langkah untuk pencegahan. So kita harus tetap waspada terhadap potensi KLB black death,,,

Referensi :
http://en.wikipedia.org/wiki/Black_death
http://vahn-saryu1.blogspot.com/2010/07/black-death-wabah-penyakit-terburuk.html

Minggu, 26 Januari 2014

Pedoman Penggunaan Insektisida Dalam Pengendalian Vektor

Penyakit tular vektor merupakan penyakit yang menular melalui hewan perantara (vektor) penyakit. Contohnya antara lain malaria, Demam Berdarah Dengue, Chikungunya, Japanese B Encephalitis (radang otak), filariasis limfatik (kaki gajah), pes (sampar) dan demam semak (scrub typhus). Penyakit tersebut hingga kini merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dengan angka kesakitan dan kematian yang cukup tinggi dan berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa (KLB).

Penanggulangan   penyakit tular vektor adalah selain dengan pengobatan terhadap penderita, juga dilakukan upaya-upaya pengendalian vektor termasuk upaya mencegah kontak dengan vektor guna mencegah penularan penyakit. Satu di antaranya adalah cara pengendalian vektor adalah dengan menggunakan insektisida.

Karena    pada    dasarnya    semua    insektisida    adalah racun, maka penggunaannya harus penuh dengan kehati-hatian dengan mempertimbangkan aspek keamanaan bagi kesehatan masyarakat, petugas, serta lingkungannya. Selain itu, upaya pengendalian vektor juga perlu mempertimbangkan aspek-aspek efektifitas dan efisiensi serta bioekologi vektor dan dinamika penularan penyakit di masing-masing wilayah.

Berdasarkan berbagai pertimbangan tersebut di atas dan agar penggunaan insektisida memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dalam pengendalian vektor, maka pelaksanaannya harus mengacu pada peraturan perundang-undangan yang ada.

Pedoman ini memuat standar dan persyaratan penggunaan insektisida   untuk   pengendalian vektor termasuk bahan, peralatan dan tenaga pelaksananya, sebagaimana yang dimaksud pada Pasal 9 Permenkes No 374/MENKES/PER/III/2010 tentang Pengendalian Vektor. Pedoman ini disusun sebagai panduan bagi penentu kebijakan dan petugas lapangan baik pemerintah maupun swasta/dunia usaha, serta masyarakat  dalam menggunakan insektisida untuk pengendalian vektor di lingkungan atau lingkup kerja masing-masing.

Untuk membaca dan mendownload KLIK DISINI ya,,,,

Kamis, 09 Januari 2014

Ancaman Baru Virus West Nile

Beban ganda yang diterima masyarakat Indonesia semakin berat, penyakit menular seperti demam berdarah, AIDS, malaria belum bisa diatasi sudah muncul trend kenaikan kasus penyakit tidak menular yang mengkhawatirkan seperti hipertensi, diabetes dll. Kini kita dihadapkan pada ancaman virus menular yang mematikan.

INDONESIA dihantui virus jenis baru. Adalah virus west nile, sejenis penyakit demam berdarah yang ditularkan oleh gigitan nyamuk jenis culex.

Virus ini telah menginfeksi 2 warga Surabaya yang saat ini dirawat intensif di Rumah Sakit Dr Soetomo, Surabaya. Virus west nile ini terindikasi oleh dokter yang tergabung alam Institute of Tropical Disease Universitas Airlangga, Surabaya.

Hasil penelitian dari 35 orang yang terindikasi, 2 orang positif terjangkit virus yang ditularkan ke manusia dari gigitan nyamuk jenis culex tersebut.

Virus west nile bermula dari migrasi burung yang berasal dari negara terinfeksi. Burung tertular setelah digigit nyamuk culex dan menularkannya pada manusia. Indonesia merupakan negara Asia pertama yang terindikasi.

Virus west nile penyebab penyakit endemik di beberapa negara seperti Afrika, Australia, Timur Tengah, Eropa dan Amerika Serika dimana telah menewaskan 200 lebih orang yang terinfeksi.

Hingga saat ini, penyakit tersebut belum ditemukan obatnya. Sebagai pengobatan awal, pasien akan diberikan sejenis obat pereda demam.

Mengingat ancaman virus tersebut cukup serius, ada baiknya mengenali tanda-tanda terindikasi virus tersebut, di antaranya:

- Demam
- Menggigil
- Nyeri kepala
- Nyeri otot
- Sulit tidur

Selain itu, virus ini juga menyebabkan infeksi pada

- lapisan otak
- urat saraf
- tulang belakang
- hingga menyebabkan kematian

Referensi :
google.co.id


Jumat, 13 Januari 2012

Sering 'Jajan' Seks Risiko Alami Penyakit Ini

BERGONTA-ganti pasangan bukan hanya mengancam kelangsungan hubungan dengan pasangan, tapi juga kesehatan organ intim Anda. Inilah beberapa penyakit yang dapat menjangkiti tubuh.

Sejauh ini kebanyakan orang memutuskan berpacaran dengan satu orang saja dalam satu waktu. Namun di era modern ini, tak jarang banyak pasangan yang memutuskan memiliki beberapa pacar secara bersamaan. Jika hubungan pacaran ini sampai melibatkan hubungan seks, maka yang mereka lakukan dicap sebagai hubungan “berganti-ganti pasangan” alias “jajan” seks.

Perilaku tersebut tentu sangat tak menyehatkan. Pasalnya, berganti-ganti pasangan mendatangkan banyak risiko negatif bagi kesehatan Anda. Karenanya, ada beberapa hal yang harus mereka pertimbangkan jika melakukan hal ini. Selain moral dan agama, ada beberapa masalah dan risiko yang menyertai hubungan seks dengan lebih dari satu orang. Salah satu risiko terbesarnya adalah kemungkinan tertular penyakit menular seksual (PMS). Khusus bagi wanita, risiko berkembangnya kanker serviks pun akan meningkat.

"Penyakit (PMS) ini hampir selalu berupa infeksi dan hanya didapat melalui hubungan seks," tutur Dr Miriam Stoppard dalam bukunya berjudul "Panduan Kesehatan Keluarga".

Dalam bukunya, Dr Stoppard pun menggambarkan beberapa gejala membahayakan untuk menandai Anda terjangkit penyakit menular seksual. Inilah beberapa di antaranya:

Kutil genital dan herpes genital

Kutil genital dan herpes genital adalah infeksi virus. Kutil bisa disembuhkan, herpes tidak, tapi gejalanya bisa ditangani. Virus kutil juga dapat menimbulkan kanker serviks.

Gonorea, sifilis, dan klamidia

Ketiganya adalah infeksi bakteri, yang dapat disembuhkan dengan antibiotik. Namun, klamidia sulit terdiagnosis karena sering kali tidak menimbulkan gejala. Klamidia juga bisa menimbulkan penyakit peradangan panggul (pelvic inflammatory disease/PID).

HIV/AIDS dan hepatitis B

Keduanya adalah infeksi virus yang tidak bisa disembuhkan. AIDS menyebabkan kematian, tapi hepatitis B tidak.

Kutu pubis (jengger ayam) dan kudis

Dua hal ini adalah parasit, yang bisa disembuhkan dengan insektisida.

Kandidiasis

Adalah infeksi jamur yang bisa disembuhkan dengan fungisida.

Trikomonas

Adalah parasit bersel satu yang bisa disembuhkan dengan obat antiparasit. (okezone.com)

Rabu, 28 Desember 2011

Penyakit Menular Masih Jadi Ancaman

Indonesia belum terlepas dari ancaman penyakit menular, hal yang masih umum terjadi di negara berkembang lainnya dimana sepanjang tahun 2011 tercatat beberapa kali terjadi wabah penyakit menular yaitu merebaknya Hepatitis A di beberapa daerah, wabah difteri di Jawa Timur, flu burung maupun rabies.

Awal November lalu, sebuah sekolah di Depok, Jawa Barat, yaitu Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) II Depok terpaksa diliburkan selama beberapa hari setelah wabah Hepatitis A telah menular kepada 90 orang, yaitu 89 siswa dan seorang guru sekolah tersebut.

Beberapa bulan sebelumnya, wabah Hepatitis A juga merebak di daerah Bandung, Sukabumi dan Tasikmalaya sehingga Kementerian Kesehatan mengumpulkan tim ahli untuk membahas penyakit tersebut dan memformulasikan kebijakan yang harus diambil.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Tjandra Yoga Aditama, mengatakan bahwa rapat dengan tim ahli itu juga akan digunakan untuk mengecek kondisi penyebaran penyakit Hepatitis A di berbagai wilayah selama beberapa tahun terakhir.

Sementara itu, Menteri Kesehatan (Menkes), Endang Rahayu Sedyaningsih, mengemukakan bahwa kemungkinan Hepatitis A menjadi wabah sangat besar mengingat virus penyebab penyakit tersebut dapat dengan mudah ditularkan lewat makanan yang disantap bersama-sama.

"Jadi, kalau ada satu terkena dan orang itu masuk ke kantor atau sekolah dan makan beramai-ramai, seperti sambal yang dicocol ramai-ramai, itu akan cepat menyebar (virusnya). Makanya kalau jajan lihat-lihat dulu," katanya usai menghadiri apel Hari Kesehatan Nasional (HKN) 2011 di Gedung Kementerian Kesehatan Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ia menimpali, "Bagi yang tidak bisa bawa makanan dari rumah, kalau jajan carilah tempat bersih dan jangan lupa cuci tangan sebelum makan."

Menkes mengungkapkan bahwa wabah Hepatitis A memang sering terjadi karena penyebarannya yang mudah antara lain lewat makanan.

Untuk langkah pencegahan, Menkes kembali mengingatkan mengenai pentingnya higiene pribadi seperti menerapkan perilaku hidup bersih sehat (PHBS) yang antara lain dengan mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah makan dan sebelum melakukan beberapa kegiatan lain.

Selain itu, disebut Menkes, tidak kalah pentingnya adalah sanitasi lingkungan seperti membuang sampah pada tempatnya atau menggunakan air bersih untuk memasak.

Untuk mencegah terjadinya wabah Hepatitis A di masa yang akan datang, Kementerian Kesehatan juga menurunkan tim untuk melakukan sosialisasi kepada kantin sekolah maupun kantin pabrik di wilayah-wilayah yang dinilai rawan mengenai langkah pencegahan penularan virus.

Penularan Hepatitis A umumnya terjadi pada pencemaran air minum, makanan yang tidak dimasak, makanan yang tercemar, sanitasi yang buruk dan higienitas rendah dan seseorang yang terjangkit virus itu biasanya akan menunjukkan gejala demam, lemah lesu, anoreksia dan gangguan abdominal serta ikterus.

Flu Burung

Wabah penyakit menular lainnya yang kembali muncul di tahun 2011 adalah flu burung dimana pada bulan Oktober, dua orang kakak beradik WA (10) dan NRA (5) dari Kabupaten Bangli, Bali, meninggal dunia di Rumah Sakit Sanglah, Denpasar dan dipastikan kedua korban positif terjangkit flu burung (H5N1).

Kementerian Kesehatan disebut Menkes melakukan kerjasama erat dengan Kementerian Pertanian untuk mengatasi kemungkinan wabah flu burung yang fatal karena tingkat kematiannya yang masih tinggi, sekitar 70-80 persen.

Indonesia, juga disebut Menkes, belum bebas dari ancaman flu burung dan sebanyak 30 provinsi masih endemi flu burung di unggas dan hanya tiga provinsi yang belum dilaporkan terjangkit yaitu Kalimantan Barat, Gorontalo dan Maluku Utara.

Menkes mengingatkan bahwa virus flu burung memang masih ada pada unggas dan dapat berpindah ke manusia sehingga masyarakat diharapkan dapat mengambil langkah pencegahan penularan seperti menjauhi unggas jika tidak penting, selalu mencuci tangan dengan sabun dan bagi anak-anak agar tidak bermain dengan bangkai ayam.

Di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), juga dilaporkan ada sekira 1.000 ayam di tiga lokasi di Kabupaten Lombok Tengah mati mendadak dan dipastikan bahwa penyebab kematian adalah flu burung.

Kementerian Kesehatan tidak menerima laporan pasien manusia suspek flu burung di Lombok paska matinya ribuan ayam mendadak di kawasan itu namun tetap melakukan langkah pencegahan dan sosialisasi kepada masyarakat.

Selain itu, sebanyak 100 rumah sakit di seluruh Indonesia masih disiagakan untuk menangani flu burung yang tahun 2011 ini telah memakan korban 10 orang, jumlah yang sudah menurun dari tahun-tahun sebelumnya yang bisa mencapai puluhan orang.

"Rumah sakit tetap disiagakan, upaya-upaya pencegahan juga telah dilakukan dengan baik. Masalahnya memang tingkat kematian untuk kasus flu burung ini masih tinggi," kata Tjandra Yoga Aditama.

Bahkan, sejak pertengahan Desember lalu, sebanyak sepuluh rumah sakit di berbagai daerah di Indonesia akan memiliki ruang isolasi lengkap bagi penanganan pasien flu burung yang lokasinya tersebar dan dipilih dengan mempertimbangkan endemisitas daerah itu terhadap kasus tersebut.

Pembangunan ruang isolasi itu merupakan bantuan dari Uni Eropa melalui Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang bertugas untuk menyalurkan dana bantuan untuk Pengendalian flu burung di Indonesia melalui kerja sama dengan Kementerian Kesehatan.

Pada 2008, Kementerian Kesehatan mengusulkan pembangunan ruang isolasi di beberapa rumah sakit untuk penanggulangan penyakit yang sempat mewabah tidak hanya di Indonesia namun di negara-negara lainnya itu dan pembangunan kemudian disetujui di 10 Rumah Sakit rujukan flu burung.

Rumah sakit rujukan tersebut adalah RSUP Persahabatan; RSPI Sulianti Saroso; RSPAD Gatot Subroto; RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou, Manado; RSUD Dr. Soetomo, Surabaya; RSUD Dr. Moewardi, Solo; RSUD Ulin, Banjarmasin; RSUD Dr. Abdoel Moeloek, Lampung; RSUD Gunung Jati, Cirebon dan RSUD Tangerang.

Kasus flu burung pada manusia yang untuk pertama kali dilaporkan di Indonesia berasal dari Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, pada 2005 dan sejak itu kasus flu burung mulai dilaporkan dari berbagai provinsi lain dan saat ini sebanyak 53 kabupaten/kota di 13 provinsi di Indonesia telah melaporkan kasus flu burung pada manusia.

Kementerian Kesehatan mencatat dari tahun ke tahun jumlah kasus flu burung di Indonesia cenderung menurun, namun sampai dengan November 2011, terdapat 182 kasus flu burung positif dan 150 orang (82,42 persen) di antaranya meninggal dunia dengan tiga provinsi dengan kasus terbanyak adalah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Wabah Difteri

Kejadian Luar Biasa (KLB) lainnya yang menjadi perhatian nasional juga terjadi di Jawa Timur pada bulan Oktober lalu ketika wabah difteri menyerang 328 anak serta menewaskan 11 anak.

Kejadian ini mendapat perhatian khusus karena difteri merupakan penyakit yang bisa dicegah lewat imunisasi sewaktu bayi atau balita.

Terhadap kejadian itu, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan imunisasi untuk pencegahan difteri akan diperbaiki pasca wabah yang melanda beberapa kabupaten di Jawa Timur itu.

"Imunisasi kami perbaiki karena ada anak yang tidak mempan divaksin. Untuk anak berusia 7-15 tahun juga akan diberi vaksinasi tambahan," kata Menkes.

Gubernur Jawa Timur, Sukarwo, telah menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) wabah penyakit difteri yang melanda sejumlah kabupaten/kota dan meminta warga untuk waspada terhadap bakteri yang menjangkiti saluran pernapasan itu dan melakukan vaksinasi bagi anak-anak mereka.

Menkes juga berharap masyarakat dapat memahami pentingnya imunisasi dasar tersebut bagi pencegahan penyakit difteri karena ada gerakan anti-imunisasi yang muncul di beberapa tempat.

"Sekarang ada banyak orang yang tidak mau divaksinasi, padahal pencegahan difteri adalah lewat vaksinasi," kata Menkes dan berharap warga mau mendatangi Puskesmas untuk mendapatkan pelayanan imunisasi dasar itu.

Untuk tindakan kuratif, Menkes menyebutkan, jika ditemukan pasien difteri, pasien tersebut akan dirawat di rumah sakit dan tiap orang yang mengalami kontak dengan pasien akan divaksinasi.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggelar vaksinasi massal di beberapa daerah penyebaran difteri terutama di 11 kabupaten/kota yaitu Kota Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Mojokerto, Bangkalan, Sampang, Sumenep, Pamekasan, Blitar, Gresik dan Banyuwangi.

Untuk penanganan wabah tersebut, sebanyak Rp21 miliar dana dikucurkan yaitu dari Pemerintah pusat sebesar Rp13 miliar dan Pemerintah Provinsi Rp8 miliar untuk pembelian vaksin, surveilans, melakukan imunisasi masal dan biaya penyembuhan lainnya.

Menkes menyatakan keprihatinannya atas kejadian luar biasa (KLB) difteri di Jawa Timur tersebut dan kembali mengingatkan pentingnya imunisasi bagi bayi dan balita sebagai langkah pencegahan kasus serupa terulang.

"Imunisasi adalah program yang paling `cost effective` (biayanya paling kecil) untuk menekan morbiditas dan mortalitas penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti difteri ini," ujar Menkes.

Ia melanjutkan bahwa jika program imunisasi rutin tidak berjalan dengan baik atau cakupannya masih cukup rendah, maka akan ada kantong-kantong daerah dimana anak-anaknya tidak diimunisasi sehingga suatu saat kemungkinan untuk muncul KLB menjadi lebih besar dibanding daerah yang telah diimunisasi lengkap.

"Jika jadi KLB, maka biayanya jadi mahal untuk penanganannya, ada ongkos ekstra untuk itu," ujar Menkes.

Ia menekankan bahwa sejak Indonesia melakukan imunisasi masal tahun 1956 telah terbukti aman dan melindungi penduduk dari kematian dan kecacatan.

Adapun Tjandra Yoga Aditama mengatakan, kegiatan imunisasi merupakan salah satu kegiatan prioritas Kementerian Kesehatan yang merupakan salah satu bentuk kegiatan promotif preventif serta bentuk nyata komitmen pemerintah untuk mencapai Millenium Development Goals (MDGs) khususnya untuk menurunkan angka kematian pada anak dan ibu.

Saat ini, Kementerian Kesehatan mencatat, imunisasi dasar di Indonesia meliputi 5 jenis yaitu, BCG, DPT Hb, Polio, Campak dan Hepatitis B dan pada tahun 2008, desa yang telah mencapai Universal Child Immunization (UCI) baru 68,3 persen dari 65.781 desa dan setelah program akselerasi dijalankan tahun 2010 mencapai 75,3 persen dari 75.990 desa.

"Walaupun semakin banyak desa yang telah mencapai UCI, tetapi masih ada desa yang merupakan kantong yang rentan terhadap penyakit," kata Tjandra.

Untuk kasus campak, Indonesia telah berhasil mereduksi penyakit campak dari lebih dari 180.000 kasus di tahun 1990 menjadi sekitar 20.000 kasus di tahun 2010, dan menurunkan angka kematiannya sebesar 90 persen.

Adapun untuk kasus polio, Indonesia sudah tidak ada lagi kasus dalam beberapa tahun terakhir, walau ancaman dari luar negeri disebut Tjandra masih tetap ada, yaitu beberapa negara di dunia masih melaporkan adanya virus polio liar.

Sebagai antisipasi bagi penyakit menular yang bisa dicegah lewat vaksinasi itu, sejak tahun 2009 Kementerian Kesehatan melakukan kampanye imunisasi tambahan dalam tiga tahap mulai 2009-2011 dimana tahap ketiga atau terakhir akan dilaksanakan di 17 propinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, Lampung, Papua, serta seluruh provinsi di Kalimantan dan Sulawesi.

Kampanye tahun 2011 dimulai pada tanggal 18 Oktober 2011 dan berlangsung selama satu bulan yang akan memberikan imunisasi kepada seluruh Balita di 17 provinsi tersebut dengan jumlah anak yang harus mendapatkan campak (umur 9 bulan sampai dengan kurang 5 tahun) sebanyak 14 juta orang dan polio (umur 0 sampai kurang 5 tahun) sebanyak 16,5 juta orang.

Dengan banyaknya kasus wabah penyakit menular tersebut, Menkes menyatakan, sejak 2012 akan memprioritaskan upaya promotif preventif sebagai pencegahan antara lain dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk mengurangi jumlah korban.

Upaya promotif preventif memang merupakan tindakan yang lebih efektif daripada sekadar kuratif (penyembuhan) karena selain dapat mengurangi jumlah korban, tindakan preventif juga meningkatkan produktivitas masyarakat secara umum, tidak perlu terganggu dan menderita karena penyakit. (antaranews.com)

Surat Keterangan Akreditasi FKM UNDIP

Bagi teman-teman yang membutuhkan informasi tentang Akreditasi FKM UNDIP... Silahkan download file di bawah ini... file sudah saya perb...

Find Us on Facebook

Blog Archives

Do Before You Die

Do Before You Die

Visitors


pinjaman utang