journey healthy future

Tampilkan postingan dengan label mie instan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mie instan. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Juni 2015

Akibat Sahur Hanya Makan Mi Instan

Siapa yang tidak pernah makan mi instan? Di Indonesia, konsumsi masyarakat terhadap mi instan cukup tinggi. Mi instan menjadi pilihan, karena sangat mudah dan cepat untuk disajikan. Padahal, mi instan jelas bukan makanan yang sehat.

"Itu bukan makanan yang lengkap gizi, lho. Itu makanan darurat," ujar dokter Spesialis Gizi Klinik Saptawati Bardosono, Jumat (19/6/2015).

Tak terkecuali di bulan Ramadhan ini, mi instan mungkin dijadikan menu sahur. Bagi mereka yang tidak sempat memasak atau membeli menu sahur yang bergizi, mi instan kerap menjadi penggantinya. Sangat praktis memang menyajikan makanan ini. Semangkuk mi instan juga cukup mengenyangkan.

Akan tetapi, konsumsi mi instan bisa membuat tubuh tak bertenaga saat berpuasa. Mi instan berbahan dasar tepung ini, sangat mudah dicerna sehingga membuat orang akan cepat lapar kembali. Mi instan pun menggunakan bahan pengawet yang tak baik untuk kesehatan.

"Mi dari tepung pabrikan akan membuat orang cepat lapar dan lemas," jelas Saptawati.

Menurut Saptawati, jika terpaksa harus makan mi instan, tambahkan telur dan sayuran. Telur dan sayuran akan membuat Anda lebih bertenaga saat berpuasa. Hal senada dikatakan dokter Spesialis Gizi Klinik Tirta Prawira Sari. Menurut Tirta, menu sahur sebaiknya bergizi seimbang, sama halnya dengan menu makan sehari-hari.

“Kita ibaratkan satu piring itu setengahnya isi sayur dan buah-buahan. Bukan nasi yang paling banyak. Nasi seperempat piring kita saja. Seperempat lagi bisa lauk pauk, yaitu protein hewani dan nabati,” imbuh Tirta.

Tirta juga menyarankan, saat sahur pilihlah makanan yang mengandung protein, karena lambat dicerna sehingga bisa menunda rasa lapar. Selain itu, bisa juga dengan karbohidrat kompleks yang tinggi serat seperti biji-bijian.*kompas

Senin, 05 Januari 2015

Apa Efeknya Terlalu Sering Makan Mi Instan?

Semangkuk mi instan rebus dengan telur dan irisan cabai rawit memang godaan yang sulit ditolak. Tak heran jika mi instan termasuk dalam makanan siap saji yang paling banyak disukai. Namun, sebaiknya batasi konsumsinya.

Terlalu sering mengonsumsi mi intan, yakni sekitar 3 kali seminggu, akan meningkatkan risiko penyakit sindrom kardiometabolik. Kondisi ini bisa membuat seseorang berisiko tinggi terkena penyakit jantung, diabetes, dan stroke.

Penelitian tersebut dilakukan di Amerika Serikat dan dimuat dalam Journal of Nutrition. Menurut ketua peneliti, Dr Hyun Joon Shin, kebiasaan mengonsumsi mi instan lebih berdampak buruk pada kaum wanita.

Cegah keputihan dan kanker serviks [lihat video gejala2 kanker serviks 
click here] bersama dr. Boyke Dian Nugraha, Sp.Og  click here

Penelitian yang dilakukan Shin difokuskan di Korea Selatan karena mi instan dan juga ramen merupakan favorit orang Asia. Korea Selatan sendiri merupakan negara dengan konsumsi mi instan tertinggi di dunia.

Dalam beberapa tahun terakhir ditemui peningkatan jumlah masalah kesehatan, terutama penyakit jantung dan banyaknya orang dewasa yang kegemukan. Atas dasar inilah Shin melakukan penelitian untuk mengetahui kaitan antara konsumsi mi dan kesehatan.

Mi instan, seperti halnya makanan yang diproses lainnya, mengandung garam yang tinggi. Pola makan tinggi mineral seperti ini bisa meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. 

Penelitian lain juga dilakukan oleh Braden Kuo, ahli kesehatan pencernaan dari Massachusetts General Hospital di Boston. Ia menggunakan kamera berukuran sangat kecil untuk melihat apa yang terjadi pada organ pencernaan setelah seseorang makan mi ramen instan.

Kebanyakan mi ramen instan, menurut Kuo, mengandung zat kimia tertiary-butyl hydroquinone (TBHQ), pengawet makanan yang merupakan produk biobutane, yang juga dipakai dalam industri minyak.

"Hal yang paling menarik dari percobaan ini adalah setelah satu atau dua jam, mi instan ramen tidak mudah dipecah oleh usus dibanding dengan mi ramen yang dibuat sendiri," katanya.

Kamis, 12 Desember 2013

Kebanyakan Makan Mi Instan Bikin Anak Indonesia Kurang Gizi

Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi kembali menyerukan pola makan sehat yang kini sudah mulai berubah. Menurutnya, saat ini banyak anak Indonesia yang kekurangan gizi karena terlalu banyak makan mi instan.


"Ada pergerseran gizi terutama di desa-desa. Saya mendapat laporan adanya perubahan pola makan yang mengakibatkan anak-anak kurang gizi. Aneh, semestinya ketika ekonomi makin baik, gizi anak juga makin baik. Tapi yang bertambah gizi justru orang dewasa," kata menkes di sela rangkaian acara Peringatan hari Ibu ke-85 tahun 2013 yang berlangsung di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Senin (9/12/2013).


Menurut menkes, saat ini kelebihan gizi terjadi di kalangan ibu-ibu dan bapak-bapak karena terlihat banyak yang gemuk. Ini karena ada pergeseran makan. Bahkan pergeseran ini sudah sampai beberapa desa.


"Pergeseran makan tersebut adalah kebiasaan anak-anak yang mulai banyak makan mi instan sementara konsumsi buah dan sayur menurun. Ini terjadi di hampir seluruh Indonesia. Kurang gizi juga meningkat karena ibu jarang masak sayur dan makan mi. Habis makan mi, duduk, nonton tv dan kegiatan berkurang," jelas menkes.


Menkes menegaskan, terlalu banyak makan mi instan yang memiliki karbohidrat tinggi akan menyebabkan seseorang kekurangan darah, vitamin dan mineral.


"Saya mengerti itu kalau memang ibu-ibu kurang waktu. Tapi konsumsi sayur dan buah jangan dikurangi. Dulu sewaktu saya masih aktif di PKK, kami punya kegiatan menanam sayur sendiri. Tapi agaknya itu mulai berkurang," kata Menkes.


Menkes menerangkan, makan banyak mi juga bisa menyebabkan gemuk. Bila gemuk, seseorang akan diabetes, tekanan darah tinggi. Belum lagi bapak-bapak yang merokok sehingga bisa meningkatkan risiko stroke atau kanker.


"Ayo, kita bikin tindakan supaya anak-anak sehat sehingga mereka punya daya saing," tambah menkes.


Referensi :
http://health.liputan6.com/read/769034/kebanyakan-makan-mi-instan-bikin-anak-indonesia-kurang-gizi



Minggu, 08 Januari 2012

Mengapa Air Rebusan Mi Instan Harus Dibuang?

Mi instan merupakan salah satu makanan yang paling mudah ditemukan, praktis, dan disukai banyak orang karena rasanya yang enak. Daya simpannya yang lama juga membuat mi instan kerap menjadi pilihan untuk mereka yang tinggal sendiri, namun tak punya waktu untuk memasak.

Meski begitu, terlalu banyak mengonsumsi mi instan disinyalir akan menimbulkan banyak efek negatif bagi tubuh oleh karena kandungan bahan pengawet atau penyedap rasanya. Kemudian, selain kandungan karbohidrat, mi instan tak cukup memiliki kandungan vitamin, mineral, atau serat, yang bermanfaat bagi tubuh. Sehingga, pada dasarnya mi instan tidak cukup memiliki nutrisi bagi keseimbangan gizi tubuh manusia.

"Namun yang paling berbahaya adalah adanya kandungan bahan pengawet, MSG (monosodium glutamat), dan bahan pewarna makanan yang ada di dalam mi instan," ungkap dr Patricia Wijaya, dokter ahli kecantikan dari Beauty Inc. kepada Kompas Female, usai peluncuran produk mi instan baru di Swiss Bel Hotel, Jakarta Pusat, Minggu (8/1/2012) lalu.

Kandungan bahan berbahaya dalam mi instan ini didapatkan dari proses pengolahan sampai proses pengawetan yang dilakukan dengan cara menggoreng mi sampai kering. Proses penggorengan biasanya menggunakan minyak goreng, yang membuat air rebusan menjadi keruh dan sedikit berminyak ketika direbus.

"Banyak orang yang mengatakan bahwa air rebusan pertama ini harus dibuang agar pengawetnya hilang. Namun sebenarnya zat pengawet ini tidak akan hilang," tukas dr Patricia.

Air rebusan mi instan yang pertama akan mengeluarkan minyak dan zat kimia lainnya yang mungkin saja digunakan untuk membuatnya. Namun, bahan pengawet dan kandungan lain yang berbahaya bagi kesehatan ketika diolah lebih lanjut ini tidak akan hilang 100 persen. Ia hanya akan berkurang sedikit ketika air rebusan pertama dibuang.

Kandungan minyak, bahan pengawet, MSG, dan zat pewarna masih akan tetap menempel pada mi instan meski kadarnya sudah berkurang beberapa persen. Perlu Anda ketahui, penggunaan bahan pengawet tak selamanya membahayakan, karena produsen mi instan tentunya harus mengikuti standar aman yang ditetapkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Namun kandungan bahan kimia ini masih berpotensi untuk menyebabkan berbagai gangguan kesehatan bila dikonsumsi secara rutin. "Efek yang dirasakan memang adalah efek jangka panjang, misalnya gangguan pencernaan, konstipasi, sampai kanker pencernaan, dan lainnya," tukasnya.

Dalam jangka panjang, bahan kimia tersebut juga akan sangat berbahaya bagi kecantikan wajah dan kulit. Kulit menjadi lebih kering, yang kelak akan menimbulkan berbagai gejala penuaan dini. Selain itu, mi instan juga akan merusak program diet Anda, karena kadar kalorinya tinggi. Sekali lagi, boleh-boleh saja menikmati mi instan, tetapi sebaiknya tidak dikonsumsi terlalu sering. Jangan menjadikan mi instan sebagai makanan utama, melainkan sebagai jajanan selingan saja. Tetaplah mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang untuk sarapan, makan siang, dan makan malam. (kompas.com)

Surat Keterangan Akreditasi FKM UNDIP

Bagi teman-teman yang membutuhkan informasi tentang Akreditasi FKM UNDIP... Silahkan download file di bawah ini... file sudah saya perb...

Find Us on Facebook

Blog Archives

Do Before You Die

Do Before You Die

Visitors


pinjaman utang