journey healthy future

Tampilkan postingan dengan label aki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aki. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Juni 2014

Pentingnya Darah Untuk Menyelamatkan Ibu

Lebih kurang sepertiga dari penyebab kematian ibu melahirkan adalah perdarahan, sehingga akses terhadap pelayanan darah dalam jumlah yang cukup merupakan salah satu upaya pencegahan kematian ibu.

Hal ini dapat lebih mudah dicapai jika semakin banyak donor darah sukarela yang secara rutin mendonorkan darahnya ke Unit Transfusi Darah (UTD), sehingga dapat disalurkan guna memenuhi permintaan darah dari fasilitas pelayanan kesehatan. Pelayanan darah yang aman dan berkualitas merupakan bagian yang tidak terpisahkan untuk menurunkan angka kematian ibu melahirkan.

Saat ini jumlah persediaan darah masih belum dapat memenuhi kebutuhan. Di Indonesia, pemenuhan kebutuhan darah ideal pertahun adalah 2% dari jumlah penduduk, berarti dibutuhkan sekitar 4,8 juta kantong darah setiap tahunnya, sedangkan saat ini baru terpenuhi sekitar 3,5 juta kantong darah pertahun. Jumlah tersebut, tidak seluruhnya merupakan donor sukarela. Di beberapa daerah, didominasi oleh donor pengganti yang berasal dari anggota keluarga pasien.

Mengingat darah juga dapat menjadi media penularan penyakit seperti HIV, Hepatitis B, Hepatitis C dan Sifilis, maka diharapkan darah berasal dari donor beresiko rendah. Donor resiko rendah ini salah satunya berasal dari Donor Sukarela.

Pada kesempatan tersebut, Wamenkes memberikan apresiasi tinggi kepada para pendonor sukarela, atas hadiah live-saving berupa darah yang telah mereka sumbangkan kepada para ibu melahirkan yang membutuhkan darah. “Pemenuhan kebutuhan darah sangat penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan menyelamatkan nyawa seseorang. Untuk itu, mari berperan serta dalam upaya peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya donor darah sukarela”, kata Wakil Menteri Kesehatan melalui Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi, Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto, SH, M.Si, Sp.F(K), pada pembukaan Seminar Hari Donor Darah Sedunia tahun 2014 yang bertema “Darah Aman untuk Menyelamatkan para Ibu” atau Safe Blood for Saving Mother, di Jakarta kemarin.

Angka Kematian Ibu (AKI) masih cukup tinggi yaitu 359 per 100.000 kelahiran (SDKI, 2012). Pada tahun yang sama, data Ditjen Gizi & KIA Kemenkes RI menunjukan bahwa penyebab kematian ibu melahirkan 35% adalah akibat perdarahan. Diharapkan dengan tersedianya pelayanan darah yang mudah diakses, aman dan berkualitas, kematian ibu melahirkan dapat dicegah sehingga AKI dapat diturunkan.

Kamis, 31 Oktober 2013

KB Dinilai Gagal, Kesehatan Ibu di Indonesia Kembali ke Era 1997


Menurut SDKI 2012, Angka Kematian Ibu (AKI) melonjak cukup signifikan dibandingkan tahun 2007 dan bahkan lebih buruk dibandingkan era 1997. Kegagalan program kependudukan dan keluarga berencana dituding sebagai pemicu.

Perkumpulan Prakarsa menuding, peningkatan AKI dalam Survei Demografi dan Kependudukan (SDKI) 2012 menjadi 359/1.000 kelahiran, dari 228/1.000 kelahiran pada tahun 2007, disebabkan oleh kegagalan pemerintah dalam mendesain program kependudukan dan keluarga berencana (KKB).


Meski beberapa pihak menuding perbedaan metodologi survei sebagai penyebab tingginya AKI pada SDKI 2012, Prakarsa menilai kemunduran ini sudah bisa diprediksi dari pencapaian program kependudukan dan keluarga berencana (KKB).


Sensus penduduk 2010 sudah menunjukkan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi yakni 1,49 persen. Kondisi ini didorong dengan tingginya total fertility rate (TFR) atau angka kelahiran total perempuan usia produktif sebesar 2,7, naik dari 2,6 di tahun 2002.


Fertilitas remaja atau angka kelahiran di usia 15-19 tahun juga masih tinggi, sebesar 48 kelahiran per 1.000 remaja. Peningkatan tertinggi berada di perkotaan yaitu naik 23 persen dibandingkan tahun 2007. Padahal, biasanya nikah muda lebih dikaitkan dengan tradisi di daerah-daerah pedesaan.


"Dengan kondisi ini, target MDGs (Millenium Development Goals) mustahil untuk dikejar. Kami bisa bilang, Indonesia gagal mencapai target MDGs, khususnya soal AKI," kata Wiko Saputra, peneliti kebijakan ekonomi dan publik Perkumpulan Prakarsa, dalam temu media di Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (27/10/2013).


Target MDGs untuk AKI yang harus dicapai oleh Indonesia pada tahun 2015 adalah 102/1.000 kelahiran. Dengan kondisi AKI yang melonjak seperti sekarang ini, tidak berlebihan bila Wiko menganggap target tersebut mustahil terpenuhi tepat waktu.


Peningkatan AKI pada SDKI 2012 membawa Indonesia ke era 1997, ketika AKI masih mencapai 334/1.000 kelahiran. Dengan AKI 359/1.000 kelahiran pada 2012, Indonesia bahkan sudah tertinggal dari Timor Leste yang memiliki AKI hanya 300/1.000 kelahiran.


Mengingat AKI adalah salah satu indikator utama keberhasilan pembangunan sektor kesehatan, Wiko mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan cepat untuk memperbaikinya. Ia pun menyampaikan 3 rekomendasi untuk dilakukan pemerintah:

  1. Pemerintah perlu meningkatkan anggaran program pembinaan pelayanan kesehatan ibu dan reproduksi sebesar 3 persen dari total anggaran sektor kesehatan dalam APBN 2014.
  2. Revitalisasi program KKB di Indonesia.
  3. Pemerintah pusat perlu mendorong setiap pemerintah daerah untuk membuat Rencana Aksi Daerah (RAD) Penurunan AKI.



Referensi :
http://health.detik.com/read/2013/10/27/132653/2396585/763/kb-dinilai-gagal-kesehatan-ibu-di-indonesia-kembali-ke-era-1997?880004755

Jumat, 17 Februari 2012

Perdarahan Penyebab Terbesar Kematian Ibu Melahirkan

Kematian ibu saat persalinan sebagian besar disebabkan buruknya infrastruktur transportasi dan kesehatan lingkungan. Hal ini diperparah rendahnya tingkat kesehatan ibu bersangkutan.

Untuk menekan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia, perlu ditegakkan tiga pilar dalam pelayanan ibu hamil. Hal itu adalah penapisan kelainan kandungan, pelayanan kehamilan hingga persalinan yang aman, dan pencegahan disfungsi dasar panggul.

Hal ini disampaikan Junita Indarti, dokter ahli obstetri dan ginekologi, yang juga Ketua Cluster Women’s Health Center (WHC) RS Cipto Mangunkusumo Kencana, dalam pembukaan pusat pelayanan kesehatan itu, Selasa (14/2), di Jakarta.

”AKI di Indonesia tergolong tinggi di dunia, 250 kematian per 100.000 kelahiran hidup, menurut data Kementerian Kesehatan. Perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencapai 330 per 100.000,” kata ahli fetomaternal di RSCM/FKUI, Aria Wibawa.

Ibu melahirkan, demikian Aria, ada 20 persen perlu penanganan khusus karena mengalami perdarahan. Hal itu antara lain disebabkan kekurangan gizi, khususnya anemia; melahirkan lebih dari lima kali; dan kesalahan dalam proses melahirkan.

”Kondisi ini sering berakibat fatal karena ibu tak segera mendapat penanganan intensif,” ujarnya. Umumnya, tempat tinggal ibu tidak memiliki sarana dan prasarana transportasi yang memadai. Selain itu, fasilitas di pusat layanan kesehatan juga minim.

Kepala Departemen Obstetri Ginekologi RSCM/FKUI Budi Iman Santoso menambahkan, penanganan ibu hamil di rumah sakit dengan fasilitas memadai untuk ibu dengan faktor risiko itu hanya dapat menekan tingkat kematian 25 persen.

Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu hamil dan bersalin, kata Junita, RSCM memperkenalkan penanganan terpadu. Penanganan dilakukan mulai tahap dini, yaitu dari penapisan kelainan kandungan.

WHC tidak hanya menggunakan teknik pap smear, tetapi juga pemeriksaan HPV DNA. Pemeriksaan yang memiliki akurasi tinggi ini memungkinkan kanker mulut rahim dideteksi dini.

Penanganan selama kehamilan dilakukan di WHC untuk mencegah disfungsi dasar panggul. (kompas.com)

Angka Kematian Ibu, 228/100.000 Kelahiran Hidup

Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) BKKBN DR Sudibyo Alimoesa mengatakan, tingkat kematian ibu saat melahirkan di Indonesia masih tinggi, atau hampir setiap satu jam, dua ibu melahirkan meninggal dunia.

"Bila jumlah tersebut ditotal maka dapat dibayangkan dalam satu hari berapa ibu melahirkan yang meninggal dunia," katanya dalam pertemuan dengan Ulama se Kalsel di Banjarmasin, Selasa (31/1/2012).

Menurut dia, berdasarkan data dan penelitian tentang kualitas penduduk Indonesia 2011 tercatat Angka Kematian Ibu (AKI atau MMR) masih sebesar 228/100.000 kelahiran hidup.

Selanjutnya angka kematian bayi usia 0-11 bulan (AKB-IMR) adalah 34 per 1.000 kelahiran hidup, kemudian 60 persen penduduk hanya tamat SD atau lebih rendah, angka harapan hidup Indonesia sekitar 68/72 tahun.

"Sedangkan Jepang saja kini rata-rata umur penduduknya telah mencapai 100 tahun, sehingga saat ini 40 persen penduduknya merupakan lansia," katanya.

Meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM) yang berbasis pada pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan tersebut, BKKBN telah menempuh berbagai langkah dan menetapkan target berdasarkan MDGs 2015.

Meningkatkan harapan hidup dan mengurangi angka kematian ibu dan anak, tambah Sudibyo, BKKBN sedang menjalankan program pelatihan bagi 35 ribu bidan dan 10 ribu dokter umum maupun dokter kandungan.

Pelatihan untuk melakukan pertolongan dalam persalinan tersebut sekaligus juga diisi dengan pelatihan untuk melakukan pemasangan alat kontrasepsi sesuai dengan program BKKBN.

Diharapkan dengan adanya pelatihan tersebut, maka pertolongan kelahiran yang berada di daerah terpencil bisa dilakukan secara medis sehingga kematian ibu dan bayi bisa ditekan.

Taraaget nasional, pada 2015 AKI akan turun dari 228/100.000 kelahiran hidup menjadi 102/100.000 kelahiran hidup begitu juga dengan angka kematian bayi turun menjadi 23/1.000 kelahiran hidup.

Kepala BKKBN Kalsel Dra Chamnah Wahyuni mengatakan, khusus Kalsel pelatihan akan dilakukan kepada 900 bidan dan 300 dokter yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Kalsel.

Dialog dengan narasumber dari BKKBN pusat mendapatkan tanggapan cukup antusian dari para Ulama dan masyarakat Kalsel.

Salah seorang peserta dialog mempertanyakan efek samping pil KB dan suntik yang justru membuat lesu para wanita sehingga mengurangi gairah pada saat melayani suami.

"Karena para wanita menjadi lesu setelah minum pil KB dan suntik tersebut, akhirnya banyak suami "jajan" di luar," katanya disambut gelak tawa peserta.

Terhadap keluhan tersebut, Sudibyo mengatakan akan dilakukan penelitian lebih mendalam terhadap kebenaran informasi tersebut, karena selama ini tidak pernah ada keluhan seperti itu.

"Ini akan menjadi bahan diskusi kita, karena selama ini pil dan suntik adalah alat kontrasepsi yang paling banyak diminati peserta," katanya. (kompas.com)

Surat Keterangan Akreditasi FKM UNDIP

Bagi teman-teman yang membutuhkan informasi tentang Akreditasi FKM UNDIP... Silahkan download file di bawah ini... file sudah saya perb...

Find Us on Facebook

Blog Archives

Do Before You Die

Do Before You Die

Visitors


pinjaman utang