journey healthy future

Tampilkan postingan dengan label polio. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label polio. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Oktober 2018

Menkes Sebut RI Tetap Harus Waspada Polio dari Papua Nugini

Menteri Kesehatan Nila Moeloek menyebut Indonesia tetap harus waspada dan hati-hati terhadap penularan virus polio akibat terjadinya kejadian luar biasa (KLB) penyakit polio di Papua Nugini.

"Untuk polio, Indonesia sudah bebas. Tapi tentu harus hati-hati karena di Papua Nugini sedang terjadi KLB," kata Nila, dikutip dari Antara, Selasa (23/10).
Ia menjelaskan 70 juta anak di bawah 15 tahun sudah terlindung dari polio. Vaksin polio sudah termasuk dalam program imunisasi dasar lengkap yang diberikan kepada bayi.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Anung Sugihantono memastikan hingga kini belum ada kasus polio yang disebabkan penularan dari Papua Nugini. Namun, ia mengaku ada tujuh kasus lumpuh layu akut secara mendadak yang terjadi pada anak di Provinsi Papua, dua kasus di antaranya di Kota Merauke.

Pada tahun lalu, pemerintah juga menemukan terdapat 18 kasus lumpuh layu akut yang terjadi di Provinsi Papua, dengan dua kasus di Kota Jayapura dan satu kasus di Kota Merauke.

Kendati demikian, Anung memastikan tidak ada satu pun kasus lumpuh layu akut tersebut yang disebabkan penyakit polio.

Ia pun mengklaim pihaknya telah memberikan perhatian lebih terhadap dampak KLB polio di Papua Nugini, dengan memberikan imunisasi polio kepada anak di Provinsi Papua dan Papua Barat.

Pada program kampanye imunisasi Campak dan Rubella yang sedang dilaksanakan, pemberian vaksin MR di Provinsi Papua ditambah dengan vaksin polio.

"Per 17 Oktober, imunisasi di Papua diberikan dengan vaksin MRP, MR dan polio," jelas Anung. Jakarta, CNN Indonesia

Jumat, 26 Juni 2015

Dunia Bebas Polio pada 2020

Dunia ditargetkan bebas dari penyebaran virus polio pada tahun 2020. Untuk itu, semua negara didorong untuk menarik vaksin oral polio dan menggantinya dengan vaksin polio tak aktif. Namun, upaya pencegahan penularan virus tersebut terkendala penolakan imunisasi oleh sejumlah komunitas di beberapa negara.

Hal itu mengemuka dalam diskusi polio dan vaksinasi yang diselenggarakan Pusat Akses Vaksin Internasional di Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, dari Hanoi, Vietnam, Jumat (12/6). Diskusi menghadirkan ahli vaksin dan polio antara lain dari India, Filipina, Australia, dan Hongkong.

Sejumlah ahli kesehatan menemukan vaksin tetes oral polio berisiko menyebabkan polio jenis baru yang bisa mengakibatkan kelumpuhan. Oleh karena itu, vaksin oral polio perlu ditarik, digantikan dengan vaksin polio inaktif yang diberikan secara suntik. Kini, semua negara didorong mengganti vaksin itu.

Mantan Kepala Departemen Virus dan Anak-anak di Christian Medical College Vellore, India, T Jacob John mengatakan, pada tahun 2012-2014, jumlah kasus polio akibat penggunaan vaksin oral lebih tinggi daripada kasus polio karena penularan virus asli. Sejak 2010, ada 400 kasus polio akibat pemakaian vaksin. Adapun jumlah penderita polio karena penularan virus mencapai 223 kasus di lima negara pada 2012 dan ada 407 kasus di delapan negara pada 2013.

"Polio jenis baru ini merupakan polio sporadis karena virus aktif di dalam vaksin tetes mulut atau oral. Penyakit ini disebut kelumpuhan polio yang berasosiasi dengan vaksinasi (VAPP). Angka kasusnya 1-5 per 1 juta anak atau 200-400 kasus per tahun, lebih tinggi daripada jumlah kasus polio karena virus liar pada 2012 dan 2013," tuturnya.

Vaksin tetes oral polio (OPV) adalah vaksin polio yang digunakan di dunia. Adapun vaksin polio terbaru ialah vaksin polio inaktif (inactivated polio vaccine/IPV) yang diberikan dengan cara disuntikkan. Namun, harganya relatif mahal, 35-80 dollar AS atau setara dengan Rp 400.000 hingga Rp 1 juta per dosis.

Jadi ancaman

Kendati jumlah kasus polio amat kecil selama beberapa tahun terakhir, polio masih mengancam. Hingga 2013, penularan polio terjadi di negara-negara di Asia dan Afrika, seperti Pakistan, Nigeria, Somalia, Suriah, dan Irak. Karena tingkat penularan tinggi, selama kasus polio ada, semua negara terancam virus penyebab kelumpuhan dan kematian itu.

Jacob John mengatakan, dunia bebas polio ditargetkan tercapai 2020. Untuk itu, negara-negara diharap memperkenalkan IPV pada 2016 dan menarik vaksin oral polio secara total pada 2020. Itu penting sebagai langkah akhir pemberantasan polio. Pada pertemuan tersebut, Indonesia menyatakan siap mengganti vaksin oral secara bertahap.

Direktur IV Biro Pengembangan Sistem Kesehatan Lokal Departemen Kesehatan Filipina Enrique A Tayag mengatakan, Filipina mulai mengganti pemakaian virus oral dengan IPV. Penggantian ditargetkan dilakukan pada 2016 dan semua vaksin oral ditarik pada 2020.

Hingga kini, sejumlah komunitas menolak imunisasi. Penolakan antara lain terkait dengan ketidaktahuan, dianggap bertentangan dengan ajaran agama, dan tak sesuai budaya setempat.

Kondisi itu diperparah dengan munculnya gerakan anti vaksinasi di berbagai kawasan. Di Pakistan dan Nigeria, misalnya, pembunuhan para petugas pemberi vaksin polio pada 2012. Selain itu, vaksinasi polio dilarang Pemerintah Taliban dan Al-Shabab di Nigeria hingga kini.

Direktur Kebijakan, Advokasi, dan Komunikasi Internasional Pusat Akses Vaksin Internasional Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health Lois Privor Dumm mengatakan, gerakan anti virus itu bermunculan justru dari masyarakat berpendidikan tinggi. Itu pernah ditemui di Amerika Serikat dan negara-negara lain. Gerakan itu umumnya didasari keyakinan vaksin dan imunisasi adalah bagian dari industri kesehatan yang berdampak buruk.

Meski relatif kecil, gerakan itu bisa membahayakan kekebalan suatu komunitas dari penyakit menular. Kian banyak anggota komunitas tak mendapat vaksin, makin besar kemungkinan penyakit itu kembali menyebar.*print.kompas

Jumat, 28 Maret 2014

Indonesia Berhasil Jadi Salah Satu Negara Bebas Polio di Asia Tenggara

World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa kini kawasan Asia Tenggara bebas polio. Sertifikasi ini dianggap sebagai tonggak bersejarah dalam perang global untuk membasmi virus mematikan tersebut.

Dikutip dari BBC, sertifikasi ini juga diperoleh setelah selama tiga tahun India tercatat secara resmi tidak memiliki kasus baru polio. Nah, Indonesia merupakan salah satu dari sebelas negara South East Asia Regional WHO yang menerima sertifikat bebas polio. Dengan Asia Tenggara dinyatakan bebas polio, berarti 80 persen dunia sudah terbebas dari polio.

Dalam keterangan tertulis yang diterima detikHealth, Jumat (28/3/2014), Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan RI, Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE menyebutkan, dalam sambutannya, Dr. Poonam Singh selaku Direktur Regional WHO Asia Tenggara, mengatakan bahwa setelah pemberian sertifikat ini bukan berarti upaya untuk mengimunisasi anak-anak diturunkan dan melakukan surveilens AFP.

Sebaliknya, perlu terus ditingkatkan cakupan imunisasi dan penguatan surveilen AFP. "Indonesia juga akan terus meningkatkan cakupan imunisasi polio, termasuk proses perubahan vaksin ke arah B-OPV dan IPV, serta terus menjamin terlaksananya surveilans AFP diseluruh Indonesia," kata Prof Tjandra.

Sehingga, diharapkan seluruh dunia benar-benar bebas dari polio sebagai penyakit kedua setelah cacar yang telah dieradikasi di muka bumi. Meskipun penyakit ini masih endemik di beberapa negara seperti Nigeria, Afghanistan, dan Pakistan. Tapi, negara lain di Asia Tenggara seperti Sri Lanka, Maladewa, dan Bhutan sudah bebas polio selama lebih dari 15 tahun.

Walaupun demikian, WHO mengaku masih ada tantangan besar agar semua negara bisa bebas polio di tahun 2018. Seperti diketahui, polio terutama menyerang anak-anak di bawah usia lima tahun. Virus ini ditularkan melalui makanan dan air yang terkontaminasi dan mengalir di dalam usus. Kemudian virus akan menyerang sistem saraf dan mengakibatkan kelumpuhan pada satu dari 200 kejadian infeksi.

Asia Tenggara adalah wilayah keempat yang dideklarasikan WHO bebas polio setelah Amerika, Pasifik Barat, dan Eropa. Sementara Mediterania Timur dan Afrika belum mendapatkan status yang sama. dr Poonam Khetrapal Singh mengatakan sertifikasi ini penting karena berarti setengah dari populasi dunia bisa dinyatakan bebas polio.

"India memiliki hampir 170 juta balita yang perlu diimunisasi dan kondisi yang kurang sehat yang bisa membuat polio berkembang biak serta masalah ketersediaan air minum bersih. Tapi dengan keberhasilan ini, diharap bisa mengirim pesan yang kuat dan menjadi motivasi untuk tiga negara tersisa yang masih terjangkit polio," papar Deepak Kapur, Rotary International's India National Polio Plus Committee.

Memang diakui Kapur sejak tahun 1988 ada 350.000 kasus polio yang tercatat dan pada tahun 2012 jumlahnya menurun menjadi 233. Tapi, tahun lalu ada peningkatan sejumlah 406 infeksi baru. Peningkatan ini sebagian besar disebabkan karena terhambatnya kampanye vaksinasi akibat konflik. Misalnya sampai Maret 2014 ada 25 kasus di Suriah.

"Semua anak berisiko dan satu-satunya cara untuk mencegah berkembangnya virus polio adalah dengan imunisasi sehingga bisa dipastikan semua wilayah di dunia bebas polio. Jika India yang memiliki situasi paling sulit untuk memberantas polio saja berhasil melakukannya, seluruh negara di dunia pasti bisa melakukannya," imbuh Kapur.

Surat Keterangan Akreditasi FKM UNDIP

Bagi teman-teman yang membutuhkan informasi tentang Akreditasi FKM UNDIP... Silahkan download file di bawah ini... file sudah saya perb...

Find Us on Facebook

Blog Archives

Do Before You Die

Do Before You Die

Visitors


pinjaman utang