journey healthy future

Tampilkan postingan dengan label aids. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aids. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 November 2013

Pakar: HIV/AIDS Marak Akibat Seks Bebas

Pakar penyakit tropik infeksi (HIV-AIDS) RSUD dr Soetomo Surabaya Dr Erwin Astha Triyono SpPD KPTI FINASIM menegaskan bahwa HIV/AIDS marak terjadi akibat seks bebas dan penggunaan obat terlarang.

"Tapi, seks bebas itu tidak selalu dilakukan remaja, karena banyak ibu-ibu rumah tangga yang terpapar HIV/AIDS akibat suaminya suka `jajan`," kata dosen Universitas Airlangga Surabaya itu di Surabaya, Minggu.

Ditemui di sela-sela bakti sosial Dharma Wanita Persatuan Universitas Airlangga Surabaya untuk remaja, ia menjelaskan hal itu menunjukkan penderita HIV/AIDS tidak selalu dari "dunia hitam".

"Diskriminasi dan stigma dari masyarakat terhadap penderita HIV/AIDS sebagai kelompok `hitam` membuat penderita menyembunyikan penyakit mereka," kata ahli penyakit dalam RSUD dr Soetomo/Unair itu.

Akibatnya, 90 persen pasien HIV/AIDS yang datang ke rumah sakit sudah dalam keadaan parah, padahal HIV-AIDS bisa disembuhkan, asalkan pasien patuh pada dokter.

"Angka kematian karena HIV-AIDS saat ini hanya 20 persen, bukan 100 persen seperti yang dipercaya masyarakat, karena itu hindari berbagai hal yang berpotensi menyebarkan HIV, seperti seks bebas dan menggunakan obat terlarang (kasus narkoba jarum suntik)," katanya.

Oleh karena itu, jangan memberi stigma negatif pada ODHA (Orang Dengan HIV-AIDS). "Jangan sembunyi, jangan diisolasi, jangan dikeluarkan dari sekolah. Jika sudah terlanjur tertular HIV, segera berobat. Mereka bisa diobati dan bisa hidup normal," katanya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Bakti Sosial Dharma Wanita Persatuan Unair, Atiet Eddy Rahardjo, mengatakan bakti sosial dalam bentuk sosialisasi pencegahan paparan HIV-AIDS akan dilakukan secara berkelanjutan pada siswa sekolah-sekolah pinggiran.

"Sekolah di pinggiran lebih memerlukan sosialisasi ini karena keterbatasan akses informasi. Tampaknya tidak banyak remaja yang mengetahui risiko HIV/AIDS terkait perilaku seksual yang tidak bertanggung jawab," katanya.

Pada Mei 2012, Yayasan Rahima menyelenggarakan sebuah penelitian sederhana mengenai perilaku seksual remaja di Jawa Timur. Yayasan ini menyebar kuesioner kepada 473 pelajar berusia 15-17 tahun dari 18 sekolah setingkat SMA di Banyuwangi, Jombang, Lamongan dan Kediri. 

Hasilnya, 73 persen responden pernah pacaran dan hampir sepertiga (31 persen) menjawab berpegangan tangan dan pelukan, 11 persen berpegangan tangan, pelukan, dan mencium pipi, serta 12 persen menjawab pegangan tangan, pelukan, cium pipi dan mencium bibir.

Selanjutnya, lima persen responden menjawab mereka melakukan semua hal di atas ditambah meraba-raba tubuh pasangan, dua persen responden mengatakan mereka tidak hanya meraba-raba tubuh pacar, tapi juga melakukan oral seks.

Sisanya sebanyak 39 persen responden menjawab "lainnya". Kriteria lainnya adalah ngobrol, berkirim SMS, jalan bareng, mengirim surat, hingga melakukan hubungan seksual. "Tampaknya, remaja perlu bekal tentang perilaku yang sehat dan bertanggung jawab agar terhindar risiko HIV/AIDS," katanya.

Referensi :
http://www.antaranews.com/berita/402337/pakar-hivaids-marak-akibat-seks-bebas


Waspadai HIV dan AIDS pada Dunia Usaha

Dunia usaha harus waspada terhadap penularan kasus HIV dan AIDS, karena sebanyak 80 persen Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) adalah usia produktif 15-49 tahun, berdasarkan data IBCA (Indonesian merupakan Business Coalition on AIDS). 

Kasus HIV dan AIDS menurut Direktur Eksekutif IBCA, dr. Leo Indarwahono merupakan isu bisnis bila dilihat dampaknya bagi dunia usaha. 

"Prevalensi HIV dan AIDS memiliki dampak sosial ekonomi yang sangat besat bagi Indonesia dan dunia termasuk dunia usaha," katanya di sela pelatihan "Program Pencegahan dan Penanggulangan HIV dan AIDS di Tempat Kerja", Jakarta, Selasa. 

Dampak sosial ekonomi ini karena sejumlah alasan di antaranya, menghambat investasi dan pertumbuhan usaha, menurunkan produktivitas kerja, membebani sistem jaminan sosial dan jasa kesehatan. 

Alasan lainnya ialah mengurangi penghasilan keluarga dan produktivitas rumah tangga dan meningkatkan angka kemiskinan serta meningkatnya masalah sosial ekonomi lainnya. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, pada Juni 2013 baru ditemukan sebanyak 780 kasus AIDS dan 10.250 orang yang terinfeksi HIV. 

Berdasarkan wilayah persebarannya, DKI Jakarta menduduki peringkat pertama jumlah kasus HIV dan AIDS terbanyak yakni 24.807 (kasus HIV) dan 6299( kasus AIDS). Diikuti sejumlah wilayah lain seperti Jawa Timur ( 14.285 kasus HIV dan 6900 kasus AIDS), Papua (11.871 kasus HIV dan 7795 kasus AIDS), Jawa Barat (8161 kasus HIV dan 4131 kasus AIDS), Sumatera Utara ( 7078 kasus HIV dan 512 kasus AIDS) serta Bali (7073 kasus HIV dan 344 kasus AIDS).

Sebagai langkah pengendalian atas kasus ini, dr. Leo menyarankan pihak perusahaan melakukan Voluntary Counseling and Testing (VCT) pada karyawannya. "Untuk mengetahui lebih dini, sehingga dapat ditangani dengan lebih tepat," ujarnya.

Referensi :
http://www.antaranews.com/berita/405724/waspadai-hiv-dan-aids-pada-dunia-usaha


Kenali Empat Cairan Penular HIV AIDS

Tak ada gejala klinis yang menunjukkan seseorang telah terinfeksi HIV, namun penularan HIV dan AIDS dapat dicegah salah satunya dengan mengenali empat cairan yang bisa menjadi media penularannya.

"Hanya empat cairan yang bisa menjadi media penularan HIV-AIDS," kata dr. Leo Indarwahono dari IBCA (Indonesian Business Coalition on AIDS), disela pelatihan "Program Pencegahan dan Penanggulangan HIV dan AIDS di Tempat Kerja" di Jakarta, Selasa.

Menurutnya, keempat cairan ini yakni darah orang yang telah terinfeksi, cairan sperma orang yang positif HIV, cairan vagina, dan air susu dari ibu yang sudah positif terkena HIV. 

Penggunaan narkotika dalam bentuk jarum suntik, transfusi darah dan kegiatan medis lainnya merupakan cara penularan HIV melalui darah.

"Jadi kalau mau tusuk jarum (disuntik), minta jarumnya pribadi, minta jarum baru atau bawa jarum sendiri," saran dr.Leo. 

Sementara untuk mencegah penularan HIV melalui cairan sperma dan vagina dr. Leo menyarankan penggunaan kondom. 

Hal ini menurutnya bukan mengarahkan orang melakukan seks bebas, namun sebagai upaya memotong mata rantai penularan HIV pada keluarga. 

"Seorang suami yang tidak pernah diperiksa darahnya, tidak pernah tahu apakah tertular HIV lalu menularkan pada istrinya. Istrinya yang tidak tahu apa-apa lalu hamil dengan kondisi sudah tertular HIV," katanya. 

Dokter Leo menambahkan bahwa sejumlah aktivitas seperti tidur dengan orang yang positif HIV, berenang, berjabat tangan, makan bersama, atau melalui gigitan nyamuk tidak dapat menularkan HIV. 

"Semua kegiatan itu tidak menularkan HIV," tegasnya.

Referensi :
http://www.antaranews.com/berita/405714/kenali-empat-cairan-penular-hiv-aids


PBB: Asia-Pasifik Belum Berhasil Tekan HIV/AIDS

Laporan tahunan badan PBB UNAIDS yang dirilis pada Kongres AIDS Internasional di Asia-Pasifik mengungkapkan jumlah orang dengan HIV/AIDS di wilayah ini  belum berubah dalam rentang lima tahun, meskipun sejumlah negara telah berhasil mengurangi infeksi HIV hingga 50 persen sejak tahun 2001.

Laporan tersebut menyebutkan sekitar 1,25 juta orang mendapatkan perawatan tahun 2012 dan banyak yang sudah mendapatkan akses layanan HIV di Asia-Pasifik.

Meskipun demikian, fokus yang tidak memadai pada populasi kunci yang memiliki risiko terinfeksi HIV dan wilayah geografis dengan beban HIV yang lebih tinggi, itu menandakan sebagian besar negara-negara di Asia-Pasifik tidak mengalami kemajuan cepat mencapai sasaran global dalam pencegahan, pengobatan, perawatan dan dukungan terhadap HIV/AIDS.

“Upayanya harus lebih fokus pada investasi di tempat yang tepat dan program buat menjangkau orang-orang yang sangat membutuhkan,” kata Direktur Tim Dukungan Regional untuk Asia dan Pasifik UNAIDS, Steven Kraus.

Saat ini, 90 persen orang dengan HIV/AIDS terdapat di 12 negara di kawasan ini, yakni Kamboja, Cina, India, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Nepal, Pakistan, Papua Nugini, Filipina, Thailand dan Vietnam.

Tahun 2012, jumlah orang dengan HIV di Asia-Pasifik mencapai 4,5 juta orang. Sebanyak 64 persennya adalah laki-laki dan sisanya perempuan.

Trend Penyebaran

Infeksi HIV kini terkonsentrasi di populasi kunci yang beresiko tinggi dan epidemi peningkatannya pada hubungan seks sesama jenis.

Sekitar 10 persen revalensi HIV di antara kelompok ini, setidaknya terdapat di sepuluh daerah metropolitan Asia, termasuk Bangkok, Jakarta dan Ho Chi Min.

Sedangkan peningkatan epidemi juga semakin tinggi di kelompok pengguna narkoba yang mencapai sekitar 2-4 juta orang di Asia-Pasifik.

Jika ditotal pengeluaran untuk mengatasi HIV di Asia-Pasifik menghabiskan US$ 2.2 miliar atau lebeih dari Rp 20 triliun, lebih tinggi lima persen dari tahun 2011.

Sementara UNAIDS memperikirakan dibutuhkan sekitar US$ 5.4 miliar untuk investasi di negara Asia-Pasifik yang berpendapatan rendah buat investasi menekan epidemi.

Referensi :
http://indonesia.ucanews.com/2013/11/21/pbb-asia-pasifik-belum-berhasil-tekan-hivaids/


Jumat, 14 Oktober 2011

Mengerikan!!! Kasus HIV/AIDS Ibu Rumah Tangga Kalahkan Penjaja Seks

Data kumulatif kasus AIDS perempuan Indonesia pada tahun 2010 berdasarkan jenis pekerjaan menunjukkan, ibu rumah tangga adalah kelompok paling banyak mengidap AIDS ketimbang penjaja seks. Angka ini dipastikan terus bertambah jika tidak segera dilakukan upaya preventif.

Hal itu disampaikan Sekretaris Komisi Penangulangan AIDS Nasional (KPAN) Nasfiah Mboi, saat rapat koordinasi kemitraan pemerintah dan sektor swasta untuk penanggulangan HIV dan AIDS, Senin, (26/9/2011) di Jakarta.

"Kalau di kalangan perempuan yang terbanyak ada di ibu rumah tangga, artinya dia dapat dari suaminya. Karena laki-lakinya mungkin tidak memperhatikan kalau dia bisa menularkan ke istrinya," ujar Nafsiah.

Ia menuturkan, banyaknya ibu rumah tangga yang terinfeksi HIV/AIDS umumnya dipicu minimnya informasi terkait masalah kesehatan seksual. Sedangkan pada wanita penjaja seks, Pemerintah, KPAN, dan LSM sudah membuat suatu program-program di tempat prostitusi terkait informasi, penyediaan kondom, dan pengobatan penyakit kelamin sehingga bisa lebih melindungi diri.

"Dari semua kasus AIDS perempuan berdasarkan data pekerjaannya, sebanyak 2.640 adalah ibu tangga, sedangkan pekerja seks cuma 457. Pada ibu tumah tangga, mereka tidak terpapar informasi itu," lanjutnya.

Di samping itu, tingginya angka HIV/AIDS pada ibu rumah tangga juga tidak lepas dari peran para suami atau lelaki yang sering jajan, ditambah masih banyak pria yang malas menggunakan kondom saat melakukan hubungan seks berisiko.

"Selama ini, kita belum fokus pada ibu rumah tangga, kita fokusnya kepada pekerja seks. Oleh karena itu, sejak 2011 ini setelah melakukan penelitian dan kajian, kita mengubah strategi dengan fokus pada laki-laki. Harapannya, kalau laki-laki tidak ada yang terinfeksi HIV lagi, otomatis ibu rumah tangga dan bayi-bayi juga akan selamat," tandasnya. (kompas.com)

Senin, 27 Juni 2011

Sekeluarga di Depok Tewas Terinfeksi HIV

Sebuah keluarga di Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat, terdiri dari ayah, ibu, dan anak, tewas karena terinfeksi HIV (human immunodeficiency virus).

“Zh diketahui menderita HIV setelah dirinya melakukan cek darah dan mendapat perawatan di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan, selama 12 hari,” kata Nenek Zh, Nyaimanih, di Depok, Senin (27/6/2011).

Adapun Zh yang saat ini berusia enam tahun terinfkesi HIV sejak tiga tahun lalu. Nyai menduga anak dan dua cucunya terkena penyakit tersebut dari ayahnya yang merupakan pencandu narkoba jarum suntik.

“Dalam waktu dua tahun saya kehilangan tiga orang anggota keluarga. Menantu, anak, dan cucu,” katanya.

Dilansir Antara, tiga anggota keluarga tersebut meninggal dunia akibat penyakit tersebut, yaitu Rdw ayah Zh, Mr ibu Zh, dan Mt kakak Zh.

“Ayahnya meninggal saat Zh usia enam bulan. Tidak lama kakaknya juga meninggal. Setelah itu baru ibunya meninggal dunia. Sekarang Zh tinggal bersama saya dan kakeknya saja,” kata Manih. “Ketika dokter menyatakan penyakit tersebut saya sangat sedih sekali,” katanya dengan linangan air mata.

Nyaimanih mengatakan, gejala awal, Zh yang berusia enam tahun adalah panas yang tinggi, pusing, susah bernapas, dan mulutnya berjamur.

Menurut dia, pengobatan yang dilakukan adalah diuap dan hilang putih-putih di mulutnya. “Dia harus minum obat seumur hidup. Penyakitnya sama seperti orangtua dan kakaknya yang meninggal,” paparnya.

Selama menjalani perawatan, biaya pengobatan Zh ditanggung keluarga dan harus membayar Rp 700.000 dari total keseluruhan tagihan yang mencapai Rp 4,7 juta.

Cucunya tersebut harus berobat rutin setiap bulan. Manih bersyukur cucunya mendapat bantuan berobat dari Pemerintah Kota Depok melalui Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) sejak enam bulan lalu.

“Namun karena sudah habis masa berlakunya, sekarang harus berobat pakai uang sendiri dan sudah habis Rp 1,1 juta,” ujarnya.

Biaya tersebut, katanya, sangat memberatkan kehidupannya karena suami Nyaimanih hanya seorang buruh tani yang penghasilannya sangat jauh dari cukup untuk keperluan sehari-hari. Dia berharap cucunya dapat bertahan hidup lebih lama dan berharap bantuan dari donatur untuk berobat cucunya.

Ketika ditemui di rumah tersebut, Zh tampak ceria tanpa beban saat bermain bersama teman-teman sebayanya. “Dia itu anak yang periang. Berat badannya juga saat ini terus naik dan mencapai 16 kiloggram,” ujar Nyaimanih. (kompas.com)

Kamis, 23 Juni 2011

Seks Bebas, 95 Pelajar di Bali Terjangkit HIV/AIDS

Sebanyak 95 remaja di Bali positif terjangkit virus HIV/AIDS. Sebagian besar tertular melalui hubungan seksual. Fakta memilukan tersebut merupakan hasil penelitian terakhir 2011 yang dilansir Komisi Penanggulangan Daerah (KPAD) Provinsi Bali.

“Kelompok usia 15-19 tahun yang terjangkit HIV/AIDS berjumlah 95 orang merupakan kelompok usia pelajar,” ujar dr Made Oka Negara, pengajar Andrologi dan Seksologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana kepada wartawan di Denpasar, Senin (30/5/2011).

Sementara, penyebab penularan HIV/AIDS dari jarum suntik atau IDU cendrung menurun. Penyebab melalui hubungan seksual justru bertambah.

Menurut dia, secara golongan usia maka bisa disimpulkan bahwa tingkat SMP sudah terkena HIV/AIDS.



Oka memaparkan, kelompok usia pelajar yang masih tergolong remaja, sangat rentan terhadap ancaman HIV/AIDS. "Mereka secara psikologis sangat labil sehingga mudah terpengaruh hal-hal yang berbau negatif seperti narkoba dan perilaku seks bebas,” bebernya.

Karena itu, remaja perlu dibekali informasi yang tepat dan hal ini merupakan tanggung jawab semua pihak, yakni pemerintah, orangtua, guru, serta kalangan LSM.

“Remaja perlu dibentuk sebagai pribadi mandiri dan bertanggung jawab agar bisa memilah dan memilih mana hal yang baik dan benar,” ujar Oka yang juga konselor dan dokter klinik Remaja Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Bali.

Fakta lain yang tak kalah mencengangkan, lanjut Oka, pihaknya pernah menemukan kasus kelompok pelajar SMP yang sudah aktif melakukan hubungan seksual setiap pekannya secara rutin dengan mendatangi lokalisasi.

“Ada yang mengaku sebelum berangkat sekolah pada pagi hari pergi ke lokalisasi untuk berhubungan seksual dengan PSK,” ucapnya. Ada istilah populer di kalangan mereka yakni mencari perawan alias PSK yang belum melayani pelanggan lain karena masih pagi hari.

Ironisnya lagi, para PSK juga tetap saja melayani mereka dan tidak mempedulikan apakah pelanggan mereka masih berstatus pelajar atau tidak. (okezone.com)

Surat Keterangan Akreditasi FKM UNDIP

Bagi teman-teman yang membutuhkan informasi tentang Akreditasi FKM UNDIP... Silahkan download file di bawah ini... file sudah saya perb...

Find Us on Facebook

Blog Archives

Do Before You Die

Do Before You Die

Visitors


pinjaman utang