journey healthy future

Tampilkan postingan dengan label diet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label diet. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Januari 2015

Ahli Gizi Ingatkan Masyarakat Tak Tergiur Penurunan Berat Badan Singkat

Dokter spesialis gizi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Nurul Ratna menilai, berbagai metode diet yang populer belakangan ini seperti diet mayo, diet golongan darah dan Obsessive Corbuzier's Diet (OCD), tidak masalah untuk dijalankan. Namun, masyarakat kadang salah kaprah dalam memahami metode diet yang menawarkan hasil penurunan berat badan singkat itu.

"Penurunan berat badan yang singkat justru bisa berbahaya. Bila kita melakukan diet ketat untuk hasil cepat malah bisa menurunkan kadar natrium dalam darah," katanya. "Bahkan, perubahan pola makan yang drastis juga bisa menyebabkan penyakit batu empedu," dia melanjutkan.

Cegah keputihan dan kanker serviks [lihat video gejala2 kanker serviks 
click here] bersama dr. Boyke Dian Nugraha, Sp.Og  click here

Menurut dia,  tubuh tetap membutuhkan makanan yang bervariasi. Nurul tidak setuju dengan diet golongan darah yang membatasi konsumsi makanan.

Selain itu, lanjut dia, diet mayo dipahami kebanyakan masyarakat sebagai diet yang merestriksi makanan, tidak boleh mengonsumsi garam dan lemak sama sekali. "Kalau merestriksi saja tidak apa, bukan benar-benar menghilangkan. Karena tubuh kita sangat membutuhkan lemak," ujarnya.

Menurutnya, lemak adalah bahan baku untuk pembentukan hormon, terutama hormon seks seperti estrogen dan sebagainya.

Jika tidak mengonsumsi lemak, secara otomatis hormon akan tidak stabil. Contohnya haid menjadi tidak lancar.

Lemak juga bermanfaat untuk melarutkan vitamin A, D, E dan K yang ada dalam tubuh. 

Pada dasarnya setiap orang hanya membutuhkan metode diet tradisional yang dikenal di dunia medis sebagai diet rendah kalori dan diet sangat rendah kalori. "Memang hasilnya lebih lama, tapi jauh lebih aman," kata Nurul.

"Tidak ada orang yang tubuhnya lebih cocok dengan metode diet tertentu," ujarnya. "Semua orang hanya memerlukan pola hidup sehat dan seimbang," dia menambahkan.

Ahli Gizi: Metode Diet "Clean Eating" Berisiko

Semakin maraknya tren mengonsumsi makanan segar dan raw (tanpa diolah), yang dikenal dengan istilah clean eating, di antara masyarakat urban tidak hanya terjadi di luar negeri seperti Amerika Serikat (AS), tetapi juga di Indonesia. Namun, metode diet tersebut ternyata dinilai kurang aman karena rentan terhadap infeksi parasit. 

"Metode diet populer yang sudah ada beberapa waktu belakangan, seperti OCD, diet mayo, clean eating, diet golongan darah dan sebagainya, sepertinya akan masih diminati tahun ini. Namun, kadang beberapa orang masih salah kaprah dan kurang hati-hati dalam mengikuti tren diet yang ada," ujar dokter spesialis gizi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Nurul Ratna, Selasa (6/1). 

Cegah keputihan dan kanker serviks [lihat video gejala2 kanker serviks 
click here] bersama dr. Boyke Dian Nugraha, Sp.Og  click here

Ia menjelaskan, sebelum memutuskan melakukan metode diet tertentu, seperti mengonsumsi makanan yang belum diolah, seharusnya melakukan riset atau konsultasi terlebih dahulu dengan yang lebih ahli. Karena, konsumen tidak pernah tahu di mana dan bagaimana cara penanaman sayuran dan buah yang dibeli. Begitu juga dengan daging.

"Bila ingin mengonsumsi makanan mentah atau belum diolah harus dipastikan menggunakan bahan makanan yang organik. Selain itu, harus dicuci bersih. Kadang dicuci bersih pun tidak menjamin makanan tersebut bebas dari bakteri," tuturnya.

Menurutnya, justru yang lebih aman adalah mengonsumsi makanan yang direbus dalam waktu yang tidak terlalu lama. Karena bila sayuran direbus dalam durasi waktu yang tidak terlalu lama, maka vitamin dan nutrisi lain yang terkandung tidak akan hilang.

"Durasi merebusnya tergantung dari jenis sayurannya. Seperti, contohnya sawi yang hanya sebentar saja merebusnya tidak sampai satu menit. Kalau brokoli dan wortel sekitar lima menit," kata Nurul.

Sabtu, 03 Januari 2015

Diet Ala Barat Buruk Bagi Kesehatan dan Lingkungan

Diet berkadar lemak dan gula tinggi dapat membuat para pelakunya menjadi kian gemuk dan rentan terkena penyakit. 

Kajian yang dipublikasikan di jurnal Nature itu juga menyebut diet ala Barat yang tinggi kadar gula, garam, minyak dan daging buruk untuk kesehatan manusia dan lingkungan.

Dilansir dari VOA, pada studi tersebut, David Tilman seorang dosen ekologi dari University of Minnesota, menganalisa data dari 100 negara untuk melihat apa saja yang di makan oleh orang-orang. Selain itu, penelitian ini juga untuk melihat bagaimana pola makan dapat mempengaruhi kesehatan.

Dia mencatat sebuah tren yang mulai pada 1960an: negara-negara semakin terindustrialisasi, populasi meningkat dan pendapatan naik. Semakin banyak orang mengadopsi diet ala barat, yang berkadar gula halus, lemak, minyak dan daging yang tinggi. Orang-orang pun mulai menggemuk dan tidak sehat. 

Cegah keputihan dan kanker serviks [lihat video gejala2 kanker serviks 
click here] bersama dr. Boyke Dian Nugraha, Sp.Og  click here

"Di 15 negara terkaya di dunia saat ini, banyak orang makan 400 atau 500 kalori tambahan sehari di luar yang diperlukan, sehingga berat badan mereka naik," ujar Tilman.

Tilman menambahkan, orang-orang yang memiliki berat badan berlebih memiliki risiko lebih besar atas penyakit-penyakit tidak menular seperti diabetes, penyakit jantung dan beberapa jenis kanker.

"Diabetes melonjak sangat tinggi di Amerika Serikat dan seluruh Eropa. Penyakit jantung adalah sebab utama kematian di negara-negara Barat. Dan sayangnya, ketika negara-negara menjadi lebih industrialis, mereka mengadopsi diet Barat, dan memiliki dampak-dampak kesehatan yang sama dan di beberapa kasus, jika Anda orang Asia, dampaknya lebih parah daripada orang Barat," ujar Tilman.

Hal itu terjadi di China, tempat penderita diabetes melonjak dari kurang dari 1% menjadi 10% dari populasi dalam periode 20 tahun.

"Angka ini masih akan terus naik, dan hal ini terjadi di seluruh dunia, di Meksiko, Nigeria dan lainnya, negara demi negara," ujar Tilman.

Menurut dia, pola makan ala barat juga buruk bagi lingkungan. Para ahli memperkirakan bahwa ketika populasi global meningkat, lebih banyak habitat hutan dan tropis yang akan diubah menjadi lahan pertanian dan peternakan untuk memenuhi meningkatnya permintaan akan makanan.

"Akan lebih banyak gas rumah kaca yang dihasilkan pertanian akibat pergeseran pola makan ini, dibandingkan gas-gas rumah kaca saat ini yang dihasilkan mobil, pesawat terbang, kapal dan semua bentuk transportasi," ujar Tilman.

Surat Keterangan Akreditasi FKM UNDIP

Bagi teman-teman yang membutuhkan informasi tentang Akreditasi FKM UNDIP... Silahkan download file di bawah ini... file sudah saya perb...

Find Us on Facebook

Blog Archives

Do Before You Die

Do Before You Die

Visitors


pinjaman utang