Ahli Gizi: Metode Diet "Clean Eating" Berisiko
Semakin maraknya tren mengonsumsi makanan segar dan raw (tanpa diolah), yang dikenal dengan istilah clean eating, di antara masyarakat urban tidak hanya terjadi di luar negeri seperti Amerika Serikat (AS), tetapi juga di Indonesia. Namun, metode diet tersebut ternyata dinilai kurang aman karena rentan terhadap infeksi parasit.
"Metode diet populer yang sudah ada beberapa waktu belakangan, seperti OCD, diet mayo, clean eating, diet golongan darah dan sebagainya, sepertinya akan masih diminati tahun ini. Namun, kadang beberapa orang masih salah kaprah dan kurang hati-hati dalam mengikuti tren diet yang ada," ujar dokter spesialis gizi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Nurul Ratna, Selasa (6/1).

Cegah keputihan dan kanker serviks [lihat video gejala2 kanker serviks
Ia menjelaskan, sebelum memutuskan melakukan metode diet tertentu, seperti mengonsumsi makanan yang belum diolah, seharusnya melakukan riset atau konsultasi terlebih dahulu dengan yang lebih ahli. Karena, konsumen tidak pernah tahu di mana dan bagaimana cara penanaman sayuran dan buah yang dibeli. Begitu juga dengan daging.
"Bila ingin mengonsumsi makanan mentah atau belum diolah harus dipastikan menggunakan bahan makanan yang organik. Selain itu, harus dicuci bersih. Kadang dicuci bersih pun tidak menjamin makanan tersebut bebas dari bakteri," tuturnya.
Menurutnya, justru yang lebih aman adalah mengonsumsi makanan yang direbus dalam waktu yang tidak terlalu lama. Karena bila sayuran direbus dalam durasi waktu yang tidak terlalu lama, maka vitamin dan nutrisi lain yang terkandung tidak akan hilang.
"Durasi merebusnya tergantung dari jenis sayurannya. Seperti, contohnya sawi yang hanya sebentar saja merebusnya tidak sampai satu menit. Kalau brokoli dan wortel sekitar lima menit," kata Nurul.

