Ini Besarnya Peran Gizi dalam ASI pada Seribu Hari Pertama Kehidupan
Pada masa Perang Dunia II, bencana kemiskinan dan kelaparan melanda kawasan Eropa, termasuk Belanda.
Kendati durasi bencana kelaparan ini tidak berlangsung lama, namun ternyata meninggalkan dampak jangka panjang.
Menurut Dr Martine Alles, Direktur Developmental Physiology & Nutition Danone Nutricia Early Life Nutrition, Belanda, para perempuan di Eropa yang terpapar bencana kelaparan pada masa Perang Dunia II ini mengalami kurang gizi dan gizi buruk, sehingga terbukti melahirkan anak-anak dengan berat badan rendah.
“Dampak jangka panjang dari bayi-bayi yang lahir dengan berat badan lebih rendah ini berisiko tinggi terhadap obesitas, sindrom metabloik, dan diabetes di masa dewasanya,” papar Martine.
Oleh karena itu, lanjut Martine, harus dipahami pentingnya peran gizi pada fase Seribu Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai modal sehat di masa mendatang.
Martine memaparkan, “Pada seribu hari pertama kehidupan, merupakan periode penting bagi pertumbuhan anak. Selama periode ini terjadi pertumbuhan fisik di mana pada tiga tahun pertamanya anak akan mengalami dua kali tinggi badannya, lima kali berat badannya, dan penambahan masa otak lebih dari 1 gram setiap harinya. Termasuk pengembangan signifikan pada kemampuan kognitif, tulang dan komposisi tubuh, pematangan imunitas, sistem pencernaan, dan organ-organ metabolisme.”
Kualitas pertumbuhan yang dialami pada periode ini, lanjut Martine, akan sangat memengaruhi kualitas kesehatan mereka di masa depan.
“Bangsa Belanda telah membuktikan, kuatnya peran gizi pada fase seribu Hari Pertama Kehidupan terhadap kualitas pertumbuhan,” ujar Martine.
Dengan adanya perbaikan gizi pada seribu HPK ini, ujar Martine, Belanda mencatat telah mengalami peningkatan pada berat badan lahir anak.
“Pada tahun 1989 hingga 1991, rata-rata berat badan lahir anak adalah 3370 gram, sedangkan pada 2004-2006, berat badan lahir meningkat menjadi 3430 gram.”
Di samping itu, peran gizi pada fase seribu Hari Pertama Kehidupan ini sangat erat kaitannya dengan pemberian air susu ibu (ASI) atau menyusui. Martine mengatakan, “Semakin lama ibu menyusui anaknya, akan semakin jauh anak dari risiko mengalami obesitas pada masa dewasanya.”
Untuk itu, sangat disarankan kepada para ibu untuk mulai memenuhi kecukupan gizinya sejak masa konsepsi (sebelum hamil), kemudian selama hamil dan menyusui.
“Kecukupan gizi ini harus diteruskan ketika anak telah lahir dengan memberi ASI hingga anak usia 2 tahun,” tandas Martine.*sriwijayapos

