Perang Ribuan Tahun Bakteri Versus Antibiotika
Sebuah penelitian mikrobiologi terbaru menambah pengetahuan atas pandangan umum bahwa resistensi bakteri disebabkan oleh penggunaan obat-obatan antibotika yang tidak terkontrol. Sekelompok peneliti Amerika Serikat dan Venezuela menemukan bahwa gen bakteri flora dapat resisten terhadap obat-obatan antibiotika pada orang yang belum pernah mengonsumsi obat-obatan antibiotika.
Temuan dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa bakteri pada tubuh manusia punya kemampuan melawan antibiotika jauh sebelum obat-obatan antibiotika modern digunakan untuk menyembuhkan penyakit.
Penelitian tersebut resmi dipublikasikan di jurnal Science Advances. Laman Universitas Washington di St Louis pada 17 April 2015 juga memberitakan hal itu. ( https://news.wustl.edu/news/Pages/Bacterial-flora-of-remote-tribespeople-carries-antibiotic-resistance-genes.aspx). Hasil penelitian juga dipublikasikan di sciencedaily.com ( http://www.sciencedaily.com/releases/2015/04/150417145023.htm). Kantor berita Reuters memberitakan, Jumat pekan lalu.
Selain Fakultas Kedokteran Universitas Washington, penelitian juga melibatkan FK Universitas New York, Lembaga Penelitian Ilmiah Venezuela, dan sejumlah lembaga lain.
Penelitian dilakukan di pegunungan selatan Venezuela pada anggota suku Yanomami Ameridian, yang merupakan suku terasing di hutan hujan Amazon. Suku ini adalah suku pengumpul dan pemburu semi-nomadik.
Para peneliti menemukan bahwa suku Yanomami Ameridian terisolasi lebih dari 11.000 tahun dari masyarakat sekitarnya. Karena keterisolasian tersebut, populasi bakteri di tubuh suku terpencil ini berbeda dengan bakteri yang ditemukan di Amerika Serikat dan Eropa.
"Ini kesempatan yang ideal untuk mempelajari bagaimana hubungan antara mikroba dan manusia terjadi ketika mereka terbebas dari pengaruh masyarakat modern. Pengaruh itu termasuk perjalanan lintas negara dan paparan antibiotika," ujar Prof Gautam Dantas, Guru Besar Patologi dan Imunologi Universitas Washington, yang menjadi salah satu peneliti.
Mahasiswi pascasarjana Erica Pehrsson menganalisis bakteri-bakteri tersebut di laboratorium Dantas. Bakteri-bakteri itu diambil dari bagian kulit, mulut, dan kotoran 34 orang dari 54 anggota suku Yanomami. Ia menemukan gen pada bakteri tersebut yang resisten terhadap antibiotika.
Peneliti juga membandingkan contoh bakteri di tubuh suku Yanomami dengan kelompok orang di Amerika Serikat; suku asli Amazon Venezuela, Guahibo; dan penduduk pedesaan Malawi di selatan Afrika.
"Orang-orang (Yanomami) ini tidak terpapar antibiotika modern. Satu-satunya antibiotika yang potensial masuk melalui bakteri tanah yang tertelan yang secara alami membentuk obat-obatan ini," kata Pehrsson.
Antibiotika alami
Ribuan tahun sebelum manusia menggunakan antibiotika modern, bakteri tanah memproduksi antibiotika alami untuk membunuh saingan mereka. Mikroba-mikroba tersebut mengembangkan mekanisme pembelaan diri dari antibiotika yang dibentuk mikroba lain dengan cara membentuk gen resisten melalui transfer gen horizontal.
Beberapa tahun belakangan, melimpahnya penggunaan antibiotika dalam dunia medis dan pertanian-terutama peternakan-mempercepat proses resistensi, merangsang perkembangan dan penyebaran gen-gen yang membantu bakteri tahan terhadap paparan antibiotika. Konsekuensinya, muncul galur penyakit manusia yang lebih sulit disembuhkan.
"Kita telah kehabisan obat untuk menyembuhkan infeksi yang resisten terhadap bermacam-macam antibiotika," ujar Dantas.
Seorang peneliti, M Gloria Dominguez-Bello, mengemukakan, ada hubungan antara antibiotika modern, diet dari negara-negara industri, dan berkurangnya keragaman mikrobioma-yaitu komunitas bakteri-di tubuh manusia. Ada triliunan bakteri di tubuh manusia yang bisa menjadi petunjuk kesehatan.
Dantas mengatakan, mikrobioma pada manusia di negara-negara industri kurang beragam 40 persen dibandingkan dengan mikrobioma pada suku Yanomami yang tidak pernah terpapar antibiotika.
Dalam penelitian ini, peneliti curiga bahwa bakteri dari suku terasing ini membawa gen antibiotika resisten secara diam yang dapat aktif ketika terpapar dengan antibiotika. Para peneliti mencoba mengaktifkan gen-gen ini dan kecurigaan itu terbukti. Contoh-contoh bakteri yang mengandung gen resisten tersebut tahan terhadap banyak antibiotika modern.
Penemuan antibiotika modern
Antibiotika modern ditandai dengan penemuan oleh Paul Ehrlich dan Alexander Fleming. Disebut modern karena penemuan antibiotika tersebut dilakukan dengan cara ilmiah modern.
Sejak tahun 1904, dokter Jerman, Paul Ehrlich, bersama ahli kimia Alfred Bertheim dan ahli bakteri Sahachiro Hata mencari obat penyakit kelamin sifilis yang disebabkan bakteri Treponema pallidum. Obatnya dinamakan salvarsan. Pada 3 September 1928, farmakolog Skotlandia, Inggris, Alexander Fleming, menemukan aktivitas antimikroba dari kapang Penicillium sp dan bahan kimianya dinamakan penisilin.
Namun, sebenarnya antibiotika sudah ada jauh sebelum itu seperti ditemukan di Venezuela tersebut. Catatan sejarah antibiotika itu antara lain ditulis peneliti Universitas Aberdeen, Inggris, Rustam I Aminov, dalam "A Brief History of the Antibiotic Era: Lessons Learned and Challenges for the Future" http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3109405/, diakses Selasa, 21 April 2015, 19.25).
Jejak-jejak tetrasiklin, misalnya, ternyata ditemukan di tulang belulang manusia di Nubia (sekarang Sudan) tahun 350-550 Masehi. Bangsa Tiongkok sudah ribuan tahun menggunakan tanaman Artemisia untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk malaria. Kandungan antibiotika tanaman Artemisia baru diekstrak tahun 1970-an. Zat itu dinamakan artemisin.
Sejarah panjang penggunaan antibiotika diduga ikut berkontribusi atas mulai munculnya resistensi bakteri terhadap antibiotika. Namun, Alexander Fleming dianggap orang yang pertama kali mengemukakan potensi resistensi bakteri terhadap penisilin jika digunakan terlalu sedikit atau waktu pemakaiannya terlalu singkat.
Sekarang, resistensi bakteri terhadap antibiotika telah menjadi perhatian global yang penting. Pertanyaannya, bagaimana dengan masa depan penggunaan antibiotika untuk membunuh bakteri?
Saat ini, kematian yang timbul karena resistensi bakteri itu cukup tinggi. Menurut Aminov, setiap tahun sekitar 25.000 pasien di Eropa meninggal karena infeksi bakteri yang resisten terhadap beragam antibiotika. Bahkan, di Amerika Serikat, kematian pasien mencapai lebih dari 63.000 orang per tahun.
Selain kegagalan pengobatan juga muncul kerugian ekonomi. Aminov memperkirakan, kerugian akibat resistensi bakteri sedikitnya 1,5 miliar dollar AS (setara Rp 19,4 triliun) per tahun. Kerugian itu diestimasi dari biaya kesehatan dan hilangnya produktivitas penderita. Belum lagi biaya yang dikeluarkan rumah sakit untuk pengobatan.
Menurut Aminov, tantangan untuk mengatasi resistensi bakteri harus melibatkan banyak pihak, mulai dari mikrobiolog, ekolog, dokter, pendidik, pembuat kebijakan, anggota legislatif, pekerja pertanian dan farmasi, serta masyarakat pengguna antibiotika.
Di Indonesia, Menteri Kesehatan sudah membuat Pedoman Umum Penggunaan Antibiotika yang terbit tahun 2011. Namun sudah menjadi rahasia umum bahwa masyarakat dapat dengan mudah membeli antibiotika di apotek atau toko obat. Salah satu "pasar bebas" antibiotika adalah Pasar Pramuka di Jalan Pramuka, Jakarta Timur.
Pemakaian oleh penderita juga sering tidak sesuai aturan dokter. Sebaliknya, dokter juga mudah memberi antibiotika hanya untuk penyakit ringan seperti batuk pilek. Berbeda dengan Jepang, misalnya, yang menerapkan pemberian antibiotika sangat terbatas di rumah sakit.
Resistensi bakteri juga disumbang oleh dunia kedokteran hewan dan peternakan karena beberapa bakteri penyebab dan antibiotika untuk hewan sama dengan untuk manusia. Hal itu antara lain dilaporkan Peter Collignon dan kawan-kawan dalam "Clinical Impotance of Antimicrobial Drugs in Human Health" (dalam buku Guide to Antimicrobial Use in Animal, Blackwell Publishing, 2008).
Contohnya Escherichia coli, penyebab infeksi perut dan saluran kencing, yang telah resisten terhadap aminopenisilin. Bakteri E coli yang banyak terdapat di peternakan ayam ini sering menulari manusia.
Peternakan, terutama peternakan ayam, masih memakai antibiotika untuk meningkatkan pertumbuhan ayam. Penggunaan antibiotika oleh orang selain dokter hewan-seperti mantri hewan, paramedis veteriner, pengembang biak hewan-yang tidak sesuai dosis dan jangka waktu pemberian turut menyumbang timbulnya resistensi bakteri terhadap antibiotika.
Batasi antibiotika
Pemecahan masalah dapat dimulai dari pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat dengan membuat undang-undang yang membatasi penggunaan antibiotika. Dengan demikian, kedudukan hukumnya lebih kuat dari surat keputusan menteri kesehatan. Kalaupun tidak melalui undang-undang, pembatasan antibiotika dapat diatur melalui peraturan presiden.
Selain pembatasan penjualan antibiotika, undang-undang atau peraturan presiden itu antara lain mengatur dokter dan dokter hewan hanya boleh memberi antibiotika jika terlebih dahulu dilakukan uji sensitivitas. Dengan demikian, diketahui dengan pasti antibiotika yang tepat untuk bakteri penyebab penyakit infeksi tertentu.
Penegakan hukum atas penerapan undang-undang juga penting. Edukasi kepada pihak-pihak yang terkait dengan penggunaan antibiotika serta masyarakat umum perlu dilakukan.
Tanpa upaya yang radikal, "peperangan" ribuan tahun antara bakteri dan antibiotika masih akan dimenangi bakteri. Masyarakat Indonesia akan semakin sulit disembuhkan jika menderita penyakit infeksi yang mematikan.*print.kompas
