Ayah Sudah Berumur, Anak Miliki Sederet Risiko Masalah Kesehatan
Kaum perempuan selama ini telah diperingatkan untuk segera hamil setelah menikah dan di usia yang cukup, tak terlalu muda atau terlalu tua. Hal ini karena fungsi reproduksi yang masih dalam kondisi prima. Alasannya tentu saja kesehatan ibu dan anak, dan juga proses mengasuh yang sangat kompleks dan dibutuhkan fisik yang sehat dan psikologi yang stabil.
Sebenarnya kondisi kesehatan ayah juga berperan besar. Terutama terkait kondisi gen anak yang menentukan kondisi kesehatannya kelak. Diketahui anak-anak yang lahir dari ayah yang berusia lebih dari 40 tahun berisiko tinggi mengalami epilepsi, autisme dan kanker di kemudian hari.
Risiko mengalami keguguran dan prematur juga tinggi pada janin yang memiliki ayah berusia 40 tahun lebih. Lalu dari studi pada 23.821 wanita hamil diketahui, mereka yang memiliki suami berusia 50 tahun tingkat kegugurannya sangat tinggi.
Data kesehatan dari seluruh dunia yang melibatkan 60 tim peneliti kesehatan juga menyimpulkan, ayah yang berusia lebih dari 35 tahun, kemampuan membuahinya menurun sebesar 50 persen. Sebenarnya, pria juga mengalami menopause, tapi sangat berbeda dengan wanita.
Pria tetap dapat memproduksi sperma sepanjang hidupnya. Tapi, menurut penelitian tim dari Centre for Reproductive Medicine, Baylor College of Medicine, Texas, AS, kualitas sperma pria jauh menurun seiring bertambahnya usia. Hal tersebut berimplikasi pada kondisi kesehatan janin atau anak kelak ketika dewasa.
Dari penelitian diketahui, anak-anak yang saat pembuahan sang ayah berusia lebih dari 40 tahun memiliki sederet risiko masalah kesehatan. Seperti risiko epilepsi sebesar 30 persen, risiko Down Syndrome sebesar 37 persen, risiko leukimia 14 persen dan risiko tumor atau kanker di jaringan saraf sebesar 70 persen.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Sebenarnya untuk menghasilkan sperma baru, yang disebut sel sperma "prekursor" sel harus membagi. Pria bisa melakukan ini setiap 16 hari. Ini berarti pada saat seorang pria mencapai usia 70, sel-sel akan dibagi sekitar 1.500 kali.
Dalam proses tersebut selalu ada risiko mutasi DNA dan kecacatan genetik. Sebuah studi dari Islandia pada 2012 menemukan bahwa rata-rata anak yang lahir dari seorang ayah 20 tahun memiliki 25 mutasi DNA dalam gen mereka dan jumlahnya meningkat setiap tahun, mencapai 65 mutasi saat usia 45 tahun. Mutasi gen inilah yang kemudian berdampak pada kualitas sperma yang membuahi sel telur dan bisa berisiko menimbulkan masalah kesehatan pada anak, baik saat mereka masih kecil maupun saat dewasa.

