journey healthy future

Tampilkan postingan dengan label Ibu Hamil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibu Hamil. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 September 2018

Manfaat Alpukat pada Ibu Hamil

Asupan diet bagi ibu hamil berbeda dengan orang pada umumnya. Tak hanya untuk menunjang kesehatannya, ibu hamil juga memerlukan asupan nutrisi yang bisa menjaga tumbuh kembang janinnya.

Alpukat menjadi salah satu buah yang disarankan masuk dalam menu diet ibu hamil. Alpukat mengandung lemak yang diperlukan tubuh untuk meningkatkan kadar kolesterol baik. 

Mengutip berbagai sumber, berikut sederet manfaat alpukat bagi ibu hamil.

1. Melawan 'morning sickness'

Kehamilan adalah masa yang penting bagi wanita. Ibu hamil bakal diserang oleh 'morning sickness' alias mual dan muntah yang sangat mengganggu pada awal-awal kehamilannya.

Mengutip Huffington Post, Anar Allidina, ahli diet yang berbasis di New York, Amerika Serikat, menyebut bahwa alpukat merupakan buah yang kaya akan serat, vitamin K, folat, vitamin C, potasium, dan vitamin B6. Sederet kandungan itu membantu ibu hamil melawan 'morning sickness' alias keluhan mual dan muntah.

2. Membantu penyerapan nutrisi

Aneka nutrisi yang masuk akan berfungsi optimal jika tubuh mampu menyerap dengan baik. Seorang ibu hamil perlu mengombinasikan asupannya dengan alpukat demi penyerapan nutrisi.

Mengutip Curejoy, alpukat mengandung karotenoid yang dapat larut pada lemak sehingga mengoptimalkan penyerapan nutrisi. Karotenoid juga mampu mengurangi risiko kanker dan penyakit mata. 

3. Mencegah kelainan pada bayi

Kandungan folat pada alpukat dapat membantu perkembangan janin dan mencegah kelainan pada bayi yang baru terlahir. 

Asam folat membantu perkembangan tulang belakang, otak, dan tulang tengkorak pada janin. Pembentukannya dimulai pada empat minggu pertama selama kehamilan. 

Ibu hamil disarankan untuk mengonsumsi multivitamin dengan kandungan asam folat 400 mikrogram per hari. Itu bisa dipenuhi oleh beberapa buah alpukat tanpa kulit dan biji seberat 136 gram yang mengandung 121 mikrogram asam folat.

4. Mencegah kram

Lazimnya, ibu hamil kerap mengalami kram pada kaki. Untuk mencegah kram, ibu hamil disarankan untuk mengonsumsi makanan yang tinggi potasium dan rendah garam seperti alpukat.

Sebanyak 30 gram alpukat mengandung sekitar 152 miligram potasium dan hanya 2 miligram garam.

Kamis, 18 Januari 2018

Bayi Tak Kunjung Lahir dan Lewati HPL, Harus Bagaimana?

Perut sudah sangat besar, usia kandungan pun sudah melewati 38 minggu. Rasa cemas biasanya cenderung makin meningkat ketika tak kunjung muncul tanda persalinan hingga hari perkiraan lahir (HPL) yang diperkirakan dokter.

Pada trimester pertama, HPL biasaya dihitung dengan menambahkan 40 minggu (280 hari) dari hari pertama periode menstruasi terakhir. Lalu dianalisis dengan hasil pemeriksaan ultrasonografi yang menunjukan umur embrio atau janin.

HPL di trimester pertama memang cenderung lebih akurat dibandingkan pada trimester kedua dan ketiga. Jika ternyata kontraksi tak kunjung datang sebagai tanda persalinan, ibu tak perlu panik. Pasalnya HPL bisa meleset satu minggu bahkan lebih.

"Tak perlu cemas jika persalinan melewati HPL. Bisa lewat satu bahkan dua minggu. Banyak ibu yang cenderung panik dan membuat kondisi psikologisnya jadi tak tenang," ujar Alex C. Vidaeff, M.D., peneliti dari University of Texas Medical School di Houston.

Bisa jadi kehamilan sebenarnya masih berusia 39 minggu, padahal diperkirakan sudah 40 minggu. Hal ini kerap terjadi karena kelahiran bayi benar-benar mengikut yang para bayi inginkan dan tak bisa diperhitungkan secara akurat.

"Memang, persalinan yang mencapai 42 minggu atau setelah 40 minggu memiliki sederet risiko. Untuk itu biasanya ketika sudah mencapai 38 atau 39 minggu dokter akan melakukan pemeriksaan lebih intensif," ujar Carri R. Warshak, M.D., asisten profesor dari Departemen Pengobatan Maternal dan Fetal di University of Cincinnati.

Apabila kondisi ibu dan bayi masih stabil, mungkin dokter akan menyarankan untuk menunggu. Tapi jika disarankan untuk melakukan induksi, berarti bayi harus segera keluar, karena jika terlalu lama menunggu maka bisa keracunan ketuban dan makin sulit untuk melahirkan normal.

Dokter atau bidan bisa saja menyarankan induksi setelah usia kandungan 39 atau 40 minggu. Namun induksi ini baru bisa dilakukan paling lambat pada minggu ke-41. Bisa juga ketika leher rahim sudah mulai melebar.

Induksi juga sangat tergantung pada kondisi ibu yaitu kestabilan tekanan darah ibu, kondisi serviks serta jantung bayi harus stabil. Induksi pun bisa saja tak berhasil, kontraksi muncul tapi tak ada bukaan. Jika hal ini terjadi, operasi caesar biasanya jadi pilihan terakhir.

Hal terpenting adalah berkonsultasi intensif dengan dokter. Bisa juga mencari second opinion. Apapun jenis persalinan yang dilakukan kondisi kesehatan ibu dan bayi harus tetap jadi yang utama.dream

Senin, 08 Januari 2018

Seperempat Wanita Hamil Alami Masalah Kesehatan Mental

Dampak kesehatan mental dari masa kehamilan tidak hanya muncul saat bayi lahir saja. Sebuah studi di Inggris yang dilakukan oleh King's College London mengungkapkan bahwa seperempat dari wanita hamil mengalami masalah kesehatan mental selama hamil.

Para peneliti merekrut 545 wanita hamil untuk menghadiri sesi antenatal di sebuah layanan kehamilan di tenggara London antara November 2014 hingga Juni 2016.

Para bidan menanyakan para wanita ini dua pertanyaan mengenai suasana hati mereka, sebuah metode yang diketahui sama efektifnya dalam mengidentifikasi masalah kesehatan mental dengan kuesioner 10 pertanyaan yang diisi oleh pasien.

Mereka menemukan bahwa satu di antara empat wanita mengalami masalah kesehatan mental selama kehamilan. Sebelas persen di antaranya mengalami depresi, 15 persen mengalami kecemasan, 2 persen menderita gangguan makan, dan 2 persen menderita gangguan kompulsif obsesif, dan banyak lagi wanita lainnya yang mengalami kombinasi beberapa masalah.

Para peneliti percaya bahwa tanda kesengsaraan mental seringkali terabaikan karena ada asumsi bahwa wanita merasa bahagia ketika hamil, semua menyenangkan dan penuh kehidupan.

"Ini adalah waktu akan banyaknya perubahan. Ada negosiasi ulang yang besar pada identitas wanita, kecemasan mengenai akan menjadi ibu seperti apa, dan itu seringkali mengaktifkan masalah dari masa kecilnya. Semua itu pemicu potensial dan trauma lama serta masalah yang sudah ada sebelumnya juga bisa kembali lagi," jelas psikolog klinis Dr Camilla Rosan dari Mental Health Foundation.

Dilansir laman Metro.co.uk, kehamilan bisa menjadi masa terjadinya kerentanan dan trauma fisik, dan efek dari isu kesehatan mental selama masa ini bisa bertahan lama, baik pada ibu maupun bayinya.

"Ketika Anda mengalami stres saat hamil, ini akan memicu perubahan kada hormon stres seperti kortisol dan adrenalin," kata Rosan.

Dia menambahkan, beberapa studi menunjukkan hal tersebut bisa berdampak pada perkembangan janin, memengaruhi prestasi akademiknya di kemudian hari dan menyebabkan masalah dengan perkembangan hubungan emosional.

Studi ini menunjukkan bahwa lebih dari yang sebelumnya diperkirakan bagi wanita untuk mengalami masalah kesehatan mental selama kehamilan, dan menekankan akan pentingnya menanyakan wanita hamil pertanyaan yang tepat tanpa penilaian tertentu.

Sangat penting bagi wanita untuk diberikan akses kepada layanan spesialis kesehatan mental maternal dengan cepat ketika mereka membutuhkannya, sehingga mereka tidak memendamnya dalam tekanan untuk tetap menjadi senang terhadap setiap momen kehamilannya.viva

Rabu, 20 Desember 2017

Bahaya Hipertensi Kehamilan pada Ibu dan Janin

Darah tinggi atau hipertensi, biasanya menjadi pemicu para ibu agar segera melahirkan calon bayinya. Hal ini disebabkan oleh bahaya pada ibu dan janin yang bisa sebabkan kejang hingga kematian.

Kondisi preeklampsia pada ibu hamil, ditandai dengan beberapa gejala, yakni bengkak di beberapa area tubuh, tensi tinggi, dan gangguan pembekuan darah. Kondisi tersebut membuat pembuluh darah ibu menyempit dan memicu janin kekurangan oksigen.

"Pada ibu, preeklampsia bisa memicu kejang pada ibu dan berdampak pada kematian. Sama dengan janin, dampaknya turut berbahaya yakni kondisi pertumbuhan janin terhambat (PJT), yang berujung pada kematian. Maka, janin harus segera dilahirkan," ujar Konsultan Fetomaternal dari RSAB Harapan Kita, dr. Irvan Adenin, SpOG(K), ditemui di kawasan Plaza Senayan, Jakarta.

Dilanjutkannya, PJT dapat berdampak fatal pada janin. 26 persen bayi meninggal diakibatkan adanya gangguan pertumbuhan janin. Bahaya PJT adalah janin meninggal dan janin kejang-kejang karena kurang oksigen.

"Dampak kekurangan oksigen pada janin juga antara lain retardasi mental janin, cerebral palsy (gangguan gerak), dan jika dilahirkan, saat dewasa akan berisiko diabetes dan hipertensi," tuturnya.

Kendati demikian, Irvan menegaskan bahwa 70 persen kematian bayi akibat PJT dapat dicegah, jika kelainan dikenali sebelum usia 34 minggu. Pembuluh darah memegang peran penting dalam menyalurkan oksigen, dan nutrisi dari ibu ke janin, sehingga harus dipastikan pembuluh darah ibu hingga ke pembuluh darah perifer harus dalam kondisi sehat (tidak menyempit), yang umumnya disebabkan oleh hipertensi.

"Untuk mencegah PJT salah satu upaya mendapatkan kehamilan sehat adalah dengan memelihara kesehatan pembuluh darah ibu atau calon ibu. Kemudian, mencegah terjadinya kondisi preeklampsia pada ibu. Selain itu, jika ibu memiliki penyakit hipertensi dan diabetes, maka harus dikendalikan penyakitnya."viva

Studi Klaim, WiFi dan Ponsel Dapat Tingkatkan Risiko Keguguran Kehamilan

Sebuah penelitian baru menemukan hasil yang cukup mengejutkan dimana menurut penelitian tersebut telepon seluler dan sinyal WiFi dapat meningkatkan risiko keguguran pada wanita hamil hampir 50%.

Penelitian tersebut mengklaim bahwa hal itu disebabkan oleh radiasi medan magnet (MF) yang dipancarkan oleh saluran listrik dan menara jaringan seluler yang sangat penting dalam hal menghasilkan sinyal bergerak untuk sekian banyak ponsel yang beredar saat ini.

Mereka yang terpapar radiasi medan magnet dengan tingkat tinggi 48% lebih mungkin mengalami keguguran dan kehilangan bayi mereka dari pada wanita yang terpapar dengan jumlah terendah, menurut penelitian di AS.

Penelitian tersebut berasal dari Divisi Riset Kaiser Permanente di Oakland California. Mereka menganalisis 913 wanita hamil pada berbagai tahap kehamilan mereka.

Setiap wanita membawa alat pengukur khusus yang dapat mengukur paparan radiasi medan magnet selama 24 jam sepanjang hari biasa.

Hasilnya menunjukkan wanita hamil dengan paparan radiasi medan magnet tertinggi memiliki risiko 48% lebih besar mengalami keguguran daripada mereka dengan tingkat paparan terendah.

Studi ini diterima untuk dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Scientific Reports.

Penulis utama dalam penelitian tersebut Dr De-Kun Li mengatakan, “Studi ini memberikan bukti dari populasi manusia bahwa radiasai non-pengion medan magnet dapat memiliki dampak biologis yang merugikan pada kesehatan manusia.

“Kami berharap temuan dari penelitian ini akan merangsang penelitian tambahan yang sangat dibutuhkan terhadap bahaya lingkungan potensial terhadap kesehatan manusia, termasuk kesehatan ibu hamil.”sumber:nusantaranews

Menimbang Saat yang Tepat untuk Miliki Anak Kedua

Memiliki anak memang karunia tiada tara. Perasaan bahagia selalu ada di hati setiap orang tatkala menikmati masa-masa menimang anak dan lambat laun melihatnya tumbuh semakin pintar, aktif, nan lucu.

Perasaan bahagia itu tak jarang membuat pasangan suami istri ingin segera memiliki anak kedua dan seterusnya. Tujuannya tak hanya untuk menemani sang kakak pertama, tetapi juga untuk menyempurnakan kebahagiaan orangtua. “Banyak anak, banyak rezeki,” begitu katanya.

Umumnya, orangtua pun mengidamkan jarak kelahiran anak yang tak terlampau jauh. Dengan demikian, kakak dan adik bisa punya hubungan lebih dekat.

Keinginan tersebut tentu tak salah. Namun, setiap orangtua mesti mempertimbangkan betul mengenai jarak kehamilan anak pertama, kedua, dan seterusnya. Pasalnya, jarak kehamilan itu erat kaitannya dengan kondisi kesehatan ibu dan bayi, kondisi psikologis anak dan keuangan. Lantas, kapan waktu yang tepat untuk hamil lagi?

Saat kesehatan ibu kembali ideal

Menurut penelitian, wanita yang sudah hamil lagi sebelum anaknya berusia 1 tahun lebih, berisiko empat kali lipat mengalami osteoporosis di masa mendatang. Hal itu terjadi karena saat hamil ibu akan mentransfer kalsium di tulangnya kepada bayi untuk pertumbuhannya. Nantinya, kecukupan kalsium pada tubuh ibu akan kembali setelah ibu selesai menyusui bayinya.

Dalam waktu satu atau dua tahun, sang ibu belum cukup mendapatkan kembali kepadatan tulangnya. Oleh sebab itu, mempertimbangkan kondisi ini, jarak waktu 2 atau 3 tahun cukup ideal untuk hamil lagi.

Saat mental anak sudah siap

Pakar psikologi melihat bahwa setiap anak memiliki kesiapan mental yang baik untuk memiliki adik lagi saat mereka berusia di atas 2 tahun. Pada usia itu, mereka sudah cukup “dewasa” untuk bisa berinteraksi dan bermain bersama adiknya tanpa ada rasa iri.

Namun bukan berarti anak yang jauh lebih tua akan lebih siap menerima kehadiran adik baru. Misalnya, Anda baru melahirkan anak kedua pada saat mereka berusia 5 atau 6 tahun. Pada usia ini, mereka justru bisa jadi lebih iri. Alasannya, selama 5 atau 6 tahun itu mereka menjadi anak tunggal dan terbiasa mendapat perhatian penuh dari orangtua. Jadi, jika mempertimbangkan kondisi ini, lagi-lagi jarak kehamilan 2-3 tahun juga menjadi ideal.

Saat uang tersedia

Realitanya, merawat anak itu butuh biaya cukup besar. Oleh sebab itu, kondisi finansial cukup menjadi pertimbangan penting untuk memiliki anak lagi. Jika memang berencana punya anak kedua, ketiga, dan seterusnya, pastikan Anda dan pasangan sudah mempersiapkan tabungan yang cukup untuk berbagai keperluan mengasuh mereka.

Mandiri merencanakan kehamilan

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, setiap wanita berhak memutuskan sendiri rencana kehamilannya. Berdiskusilah secara terbuka dengan suami mengenai dampak kesehatan fisik dan psikis terkait kehamilan. Dengan demikian pasangan suami istri bisa membuat program menjaga jarak kehamilan yang sesuai dengan kondisi Anda berdua.

Untuk membantu mengatur jarak kehamilan, pastikan Anda dan pasangan memilih menggunakan alat kontrasepsi yang sesuai kebutuhan dan gaya hidup. Metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) misalnya, dapat menjadi pilihan yang baik. Kontrasepsi jangka panjang dinilai lebih aman dan nyaman digunakan, serta lebih praktis dan ekonomis, karena metodenya sekali pakai untuk rentang waktu yang panjang. Pilihan kontrasepsi jangka panjang yang saat ini banyak dijadikan pilihan adalah IUD dan implan.

IUD merupakan alat kontrasepsi yang dipasang dalam rahim, yang tidak memberi efek samping hormonal, tidak mengganggu kesuburan, serta aman bagi Anda yang menyusui. Cara kerjanya ialah mencegah pertemuan antara sel telur dan sperma sehingga tidak terjadi pembuahan. IUD cukup dipasang satu kali dan bisa memberi perlindungan untuk 3, 5, dan 10 tahun yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan Anda.

Sementara implan merupakan alat kontrasepsi yang dipasang di bawah kulit lengan dalam bagian atas, tidak mengganggu aktivitas harian, dan mampu melindungi dari kehamilan yang tidak direncanakan hingga 4 tahun. Implan mengandung hormon progesteron yang tidak mempengaruhi kualitas dan produksi ASI sehingga aman untuk proses menyusui. Cara kerjanya, hormon progesteron diserap secara perlahan oleh pembuluh darah sehingga mencegah pelepasan sel telur dan mengentalkan lendir rahim, sehingga sulit ditembus oleh sperma.

Senin, 27 April 2015

Wanita Hamil Dianjurkan Makan Alpukat Agar Janin Sehat

Alpukat adalah buah yang mengandung banyak protein nabati dan lemak sehat. Tak hanya orang biasa yang dianjurkan mengonsumsinya demi kesehatan jantung, namun wanita hamil pun sangat disarankan mengonsumsinya. Alpukat memberikan manfaat yang positif untuk kesehatan janin dan ibunya, lho.

Bahkan untuk hal yang tak pernah Anda bayangkan, alpukat juga membantu janin terhindar dari cacat. Seperti apa manfaat alpukat bagi kesehatan ibu hamil? Laman momjunction melansirnya seperti berikut ini:

Cegah cacat

Pada alpukat terdapat zat bernama asam folat yang sangat baik untuk nutrisi pertumbuhan otak janin. Jika kebutuhan asam folat terpenuhi, maka janin terhindar dari kemungkinan terserang cacat. Mengonsumsinya juga baik bagi ibu, sebab wanita hamil membutuhkan lebih banyak nutrisi dibanding wanita yang tak hamil.

Kulit cantik

Mengonsumsi alpukat akan membantu ibu hamil terlihat lebih segar dan berkulit halus. Perubahan hormon yang banyak dialami tubuh wanita hamil kadang membuat mereka melupakan untuk merawat kecantikan kulitnya. Apalagi munculnya stretch mark akibat peregangan kulit. Masalah kulit ini bisa dicegah dengan konsumsi alpukat.

Cegah penuaan dini

Wanita hamil sering terlihat kusam dan kurang terawat kecantikannya, sehingga penuaan dini bisa terjadi saat hamil. Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi kulit baik ibu maupun janin, maka berbagai vitamin dan mineral dalam alpukat dapat membantu. Ada fungsi anti aging yang bisa diberikan alpukat saat seseorang mengonsumsinya.

Menjaga kesehatan sumsum tulang belakang

Alpukat merupakan buah yang salah satu khasiatnya adalah mencegah terjadi penyakit Spina Bifida. Ini adalah penyakit yang menyerang sumsum tulang belakang, dan membuatnya keluar dari jaringan tulang.

Kekebalan tubuh

Alpukat memiliki nutrisi dan vitamin serta mineral lengkap, sehingga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh wanita hamil yang sering mengalami mual dan muntah. Jadi jangan lupa mengonsumsinya saat sedang hamil, ya.*sidomi

Senin, 14 Juli 2014

Imbauan untuk Remaja Putri Agar Kelak Miliki Anak yang Sehat

Setiap bayi yang lahir ke dunia memiliki ukuran tubuh yang sama. Seiring pertumbuhannya, orangtua pun akan mengetahui apakah anak yang dilahirkannya itu tergolong stanting (berukuran pendek) atau normal. Bila itu terjadi, maka akan sangat sulit untuk diperbaiki.

"Ukuran stanting pada balita mencerminkan kejadian masa lalu selama di kandungan. Untuk mengetahui pendek tidaknya, sudah ada tahapannya, di usia sekian tahun. Semua anak lahir dalam keadaan sama, tapi dalam perkembangannya tidak sama," kata Direktur Bina Gizi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Ir. Doddy Izwardy, MA di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta, Senin (14/7/2014)

Berhubung kondisi semacam ini tidak dapat diperbaiki lagi, Doddy menyarankan, agar para calon ibu memperbanyak makanan yang mengandung FE (zat besi) saat masih gadis. "Imbauan untuk para remaja putri, makanlah yang banyak mengandung FE, seperti sayur-sayuran. Dan, menganut pola makan sehat," kata Doddy.

Selain itu, sejak masih remaja para perempuan mengupayakan agar memiliki berat badan normal, tidak terlampau gemuk, dan tidak juga terlampau kurus. Apalagi di zaman seperti sekarang ini, banyak anak perempuan yang berusaha menjaga mati-matian berat badannya, tapi dengan cara yang salah.

"Dengan pola makan seimbang dan beraneka ragam, akan menghindari mereka dari anemia," kata Doddy menjelaskan.

Nantinya, untuk mengecek apakah mereka menderita anemia atau tidak, dianjurkan untuk mengecek kondisinya di laboratorium. Sehingga, saat memutuskan untuk menikah, perempuan tersebut mampu mengukur tubuhnya sendiri, apakah tergolong kurang energi kronik atau tidak.

"Kalau kurus sekali, itu justru yang sangat berbahaya untuk mereka," kata dia menjelaskan.

Kamis, 26 Juni 2014

Perhatian Penting Saat Puasa di Kala Hamil

Puasa memang wajib bagi seluruh umat muslim. Tapi pada kondisi tertentu seperti saat sedang hamil, seorang wanita tidak dianjurkan untuk puasa. 

Bukan tanpa alasan, karena menurut Ahli Gizi yang juga Ketua Indonesian Hydration Working Group (IHWG), Dr. dr. Saptawati Bardosono M, Sc, puasa dapat mengganggu perkembangan janin. Dan kalau sampai ibunya kekurangan cairan, denyut jantungnya akan lebih cepat dan membahayakan janin. Jika itu terjadi, wanita hamil harus menghentikan puasanya.

"Makanya ibu hamil tidak dianjurkan puasa. Kalau nggak, dia tidak akan mendapat manfaatnya melainkan akan celaka sendiri," jelasnya.

Lantas bagaimana jika setelah diperiksa dokter kondisi ibu dan janin sehat dan tetap ingin puasa? Saptawati mengatakan, jika kndisi ibu hamil dan janin baik, Ia tetap harus mengonsumsi lebih banyak cairan. 

"Kalau biasanya, kita dianjurkan untuk minum 8 gelas per hari, ibu hamil harus menambah 300 cc agar sirkulasinya lebih baik," jelasnya. 

Disamping itu, dalam buku ‘Air Bagi Kesehatan’ edisi kedua tahun 2012 yang disusun oleh pakar gizi seperti DR. Dr. Budi Iman Santoso, Sp.OG (K), Prof. DR. Ir. Hardinsyah, MS, DR. Dr. Parlindungan Siregar, Sp.PD-KGH, dan Dr. Sudung O. Pardede, Sp.A (K), disebutkan bahwa kebutuhan air selama kehamilan meningkat untuk mendukung sirkulasi janin, produksi cairan amnion dan volume darah yang meningkat. 

"Terutama di trimester ketiga, wanita hamil akan membutuhkan lebih banyak konsumsi air terutama bila ia mengalami inkontinensia urin fisiologis akibat adanya tekanan pada kandung kemih oleh uterus yang membesar," tulis buku tersebut.

Dalam buku tersebut juga dijelaskan, kecukupan air untuk wanita hamil adalah 2,3 liter per hari. Tapi The Institute of Medicine, National Academies of Science merekomendasikan wanita hamil untuk mengonsumsi air putih sekitar 0,3 liter atau sekitar 12 gelas setiap hari.

Jumat, 28 Maret 2014

Tak Cuma Mendengar, Janin Juga Bisa Kaget Saat Ibunya Bersin Lho

Ketika ada orang yang bersin sebagian besar orang pasti pernah merasa kaget, apalagi jika orang tersebut bersin dengan suara kencang. Nah, hal itu ternyata juga bisa dialami bayi di dalam kandungan, lho.

Diutarakan dr Hari Nugroho SpOG dari Departemen Obstetri dan Ginekologi RSUD dr Soetomo Surabaya, pada dasarnya janin dalam rahim dapat melakukan banyak hal tergantung usia kehamilannya. Sekitar usia sembilan minggu, janin sudah bisa cegukan dan bereaksi terhadap suara keras di sekitarnya, termasuk saat mendengar suara keras atau saat si ibu bersin.

"Kalau ibunya bersin dengan suara keras atau ada suara keras di lingkungan sekitarnya dapat membuat janinnya kaget selama usia janin sudah di atas sembilan minggu ya," terang dr Hari saat berbincang dengan detikHealth dan ditulis pada Jumat (28/3/2014).

Bentuk keterkejutan janin sendiri dikatakan dr Hari bisa berupa gerakan langsung yakni seketika ia akan menendang-nendang perut ibunya. Nah, saat usia janin menginjak 15-16 minggu, ia sudah bisa mendengar, tidur, dan bangun tidur.

Bahkan, dr Hari mengutarakan fase janin saat ia dalam kondisi sadar lalu tidur juga identik seperti manusia dewasa yakni ia akan melewati tahapan REM (rapid eye movement).

"Janin juga bisa merasakan makanan yang dimakan oleh ibunya dan memberikan reaksi terhadap apa yang dimakan oleh ibunya," imbuh dr Hari.

Terkait kemampuan mendengar, di dalam kandungan janin tidak hanya bisa mendengarkan suara, tetapi membedakan suara ibunya dan suara orang lain. Sehingga, menurut dr Hari stimulus apapun yang dilakukan oleh sang ibu dan lingkungan di sekitarnya bisa masuk ke otak janin.

Senin, 24 Maret 2014

Panduan Aman Naik Motor untuk Ibu Hamil

MENJAGA kesehatan janin memang menjadi hal wajib bagi ibu hamil. Karenanya jika ingin mengendarai motor, baiknya ikuti saran ini.

Berikut ini panduan dari dr. Fakriantini Jaya Putri, SpOG Dari RS. Puri Cinere, Limo, Sawangan kepada Mom &Kiddie.

Gunakan Pengaman

Bisa dikatakan helm merupakan perangkat wajib yang harus dikenakan setiap pengendara motor, tidak hanya Anda yang sedang mengandung saja. Dalam kondisi mengandung ini, coba lengkapi juga diri ibu hamil dengan jaket, untuk melindungi diri BuMil dari terpaan angin dan sengatan sinar matahari.

Tidak Perlu Mengebut

Ini bukan waktunya ibu hamil membuktikan kemahiran dalam mengendarai motor. Keselamatan ibu hamil dan si kecil tetap nomor satu bukan? Kendarakan motor ibu hamil dengan kecepatan normal ke lambat dan pilihlah jalanan yang tidak terlalu berlubang. Jika memungkinan pilih mengendarai motor pada jam-jam yang tidak terlalu ramai.

Istirahat dan Ganti Kendaraan

Jika ibu hamil merasa ada keluhan, Anda dapat istirahat, atau ganti memakai kendaraan lain. Apalagi jika merasakan kontraksi dengan frekuensi sering, Anda dapat berkonsultasi kepada dokter kandungan.

Posisi Duduk

Bila kondisi perut Anda sudah sangat besar dan merasa kesulitan duduk menghadap depan, sebaiknya ibu hamil duduk menyamping meski risikonya menjadi tidak seimbang. Namun dengan duduk menyamping, perut Anda pun lebih aman dari benturan jika terjadi rem mendadak.

Ibu Hamil Naik Motor, Bagaimana Efek Kesehatan Janin?

PENGENDARA kendaraan roda dua memang tidak hanya pria, tetapi juga wanita. Namun bagaimana jika wanita tersebut dalam kondisi hamil, apakah diperbolehkan demi keselamatan janin?

Menurut dr. Fakriantini Jaya Putri, SpOG dari RS. Puri Cinere, LImo, Sawangan, mengendarai motor tentu tidak dilarang selama kehamilan, asalkan kondisi medis ibu hamil (bumil) telah diperiksa dan semuanya baik-baik saja. Namun, bumil harus memastikan untuk menghindari guncangan berlebihan serta istirahat yang cukup setelah mengendarai motor.

“Naik motor aman dilakukan, asalkan bumi tidak mengeluhkan adanya flek, perut kram, atau perdarahan. Jika bumi mengeluhkan adanya ngilu, sebaiknya tidak mengendarai motor lagi dan segera memeriksakan ke bidan atau dokter kandungan,” jelasnya kepada Mom & Kiddie.

Selama masih merasa nyaman dan aman, kata dia, bumil bisa terus naik motor. Namun,  sebaiknya ketika usia kandungan mencapai 32 pekan, bumi perlu menguranginya karena rahim sudah terlalu besar untuk mengendarai motor.

“Pada dasarnya, tidak ada batasan yang tegas tentang jarak aman atau jarak minimal pada bumi untuk berkendara motor. Justru yang jadi patokan bagaimana kondisi bumil, kalau ada keluhan salah satu di atas atau tidak. Perlu dicatat kalau usia yang aman adalah trimester kedua, karena pada trimester pertama risiko untuk terjadi keguguran lebih besar,” ulasnya.

Jika Anda merasa lemas, sambung dia, umumnya berarti kurang glukosa, bisa pula terjadi karena rasa tegang, apalagi membawa kendaraan bermotor itu melelahkan dan membuat stres. Nah dikhawatirkan akan berdampak dengan terjadi kontraksi atau kram perutnya, bahkan perdarahan.

Kamis, 11 Juli 2013

Nutrisi Penting untuk Bumil yang Berpuasa

Di bulan Ramadan, ibu hamil (bumil) bisa tetap berpuasa. Syaratnya, si ibu harus memiliki cadangan kalori yang cukup. Sehingga pada saat janin membutuhkan kalori, cadangan kalori dari ibu yang akan membantu atau menggantikan kebutuhannya.

Menurut dr Aria Wibawa SpOG (K) dari Klinik Fetomaternal Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), ibu hamil yang menjalani ibadah berpuasa sebaiknya mengkonsumsi karbohidrat yang diserap lambat, sehingga akan memberi efek kenyang lebih lama. Contohnya adalah gandum, nasi merah, kacang-kacangan, atau protein yang besar seperti daging.

"Bila kita mengkonsumsi jenis makanan ini, maka kadar gula atau kalori dalam tubuh akan bertahan lebih lama dan baru akan turun saat mendekati magrib," terang dr Aria.

Selain jenis makanan di atas, Kurma juga sangat baik dikonsumsi oleh bumil saat berpuasa. "Kurma juga merupakan salah satu karbohidrat yang diserap lambat. Mengkonsumsi Kurma sekitar 3-4 biji akan memberikan kadar gula yang cukup salama bumil berpuasa," jelasnya. Jangan lupa juga untuk mengkonsumsi susu, buah-buahan segar serta mineral yang cukup.

Sebaliknya yang harus dihindari adalah karbohidrat sederhana seperti makanan manis atau kue dengan bahan dasar gula dan sirup. "Saat masuk lambung, jenis makanan ini akan cepat diolahnya, tapi kita akan cepat lapar lagi," terang dr Aria. Akibatnya kadar gula darah menurun sehingga bumil akan cepat lemas dan tidak bertenaga

Tak kalah penting adalah melakukan pemeriksaan setelah dua minggu untuk mengetahui perkembangan janin selama berpuasa. "Dalam pemeriksaan itu, kita bisa melihat apakah pertumbuhan janin tetap normal mengikuti track-nya atau tidak. Bila pertumbuhannya menjadi lambat, sebaiknya si ibu harus menunda keinginanya untuk ikut berpuasa karena dikhawatirkan akan mengganggu perkembagan janin," pesannya.

Tapi berdasarkan pengalaman dr Aria menangani ibu hamil yang berpuasa, menurutnya perkembangan janin si ibu tetap berjalan normal. "Sebagian besar ibu hamil di mana status kalori ibu atau cadangan kalorinya cukup, pertumbuhan bayi pada bumil yang berpuasa tetap berjalan normal," kata dr Aria.

Referensi:
http://www.beritasatu.com/kesehatan/125044-nutrisi-penting-untuk-bumil-yang-berpuasa.html

Yang Harus Diketahui Ibu Hamil Sebelum Berpuasa

Ramadan adalah bulan yang paling istimewa bagi umat Muslim. Karenanya, setiap orang berlomba-lomba untuk mendapatkan pahala. Tidak ketinggalan para ibu hamil (bumil) yang juga ingin ikut berpuasa. Namun, seperti apa puasa yang aman bagi bumil?

Dokter Aria Wibawa SpOG (K) dari Klinik Fetomaternal RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) mengatakan, bahwa bumil dibolehkan untuk berpuasa, selama kondisi kehamilannya tidak bermasalah.


"Sebelum berpuasa, si ibu harus tahu kondisi kehamilannya bermasalah atau tidak. Jadi perlu berkonsultasi kepada dokternya terlebih dahulu," ujarnya.

Kondisi kehamilan itu sendiri, lanjut Aria, terbagi dalam dua jenis. Pertama, hamil normal dan tidak ada risiko atau berisiko rendah. Kedua, hamil dengan risiko tinggi.


"Pada kasus dimana bumil berisiko tertentu, puasa akan memberatkan. Contohnya bila ada gangguan perkembangan janin dimana tubuhnya kecil dan tidak optimal yang disebabkan oleh faktor nutrisi. Bumil dengan kondisi ini tidak disarankan untuk berpuasa, karena bisa membuat pertumbuhan janin semakin sulit," terangnya.


Selain dilihat dari faktor pertumbuhan janin, kondisi yang dialami bumil juga harus diperhatikan. "Kalau bumil kekurangan nutrisi lalu dia berpuasa, pastinya kondisi dia akan semakin buruk," tambahnya Aria.


Sebaliknya pada kehamilan normal dimana bumil memiliki cadangan kalori yang cukup, maka berpuasa tidak akan menjadi masalah. "Sebetulnya kan puasa itu hanya mengubah pola makan saja. Pada saat janin membutuhkan kalori, cadangan kalori dari ibu yang akan membantu atau mengantikan kebutuhan dia, sehingga ibu hamil tetap bisa berpuasa," jelasnya.


Untuk mengetahui perkembangan janin selama ibunya berpuasa, Aria menyarankan, agar bumil melakukan pemeriksaan setelah dua minggu menjalankan ibadah puasa.


"Dokter yang biasa memeriksa biasanya sangat tahu perkembangan ibu dan janinnya. Contohnya pasien saya waktu puasa tahun lalu. Awalnya dia berpuasa, tapi setelah dua minggu, ternyata pertumbuhan bayinya tidak normal mengikuti track-nya. Lalu dia tidak puasa lagi dan akhirnya kembali normal," paparnya.


Tapi, lanjut Aria, sebagian besar bumil dimana status kalori ibu atau cadangan kalorinya cukup, pertumbuhan bayi pada bumil yang berpuasa tetap berjalan normal. Karena itu, bumil yang berpuasa harus menjaga kadar gula atau kalori dalam tubuhnya tetap stabil.


"Untuk ibu hamil yang berpuasa, konsumsilah karbohidrat yang naiknya lambat, turunnya juga lama. Contohnya gandum, nasi merah, kacang-kacangan, atau protein yang besar seperti daging. Bila kita mengonsumsi jenis makanan ini, maka kadar gula atau kalori dalam tubuh akan bertahan lama dan baru akan turun saat mendekati waktu berbuka," jelas Aria.

Referensi:
http://www.beritasatu.com/kesehatan-perempuan/124876-yang-harus-diketahui-ibu-hamil-sebelum-berpuasa.html

Selasa, 24 April 2012

Peraturan Pemerintah Tentang Pemberian ASI Eksklusif

Pembangunan kesehatan sebagai bagian dari pembangunan nasional diarahkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dan dilaksanakan guna tercapainya kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. 

Indikator keberhasilan pembangunan kesehatan antara lain adalah penurunan angka kematian Bayi dan peningkatan status gizi masyarakat. Indonesia saat ini masih menghadapi masalah gizi ganda yaitu kondisi dimana disatu sisi masih banyaknya jumlah penderita gizi kurang, sementara disisi lain jumlah masyarakat yang mengalami gizi lebih cenderung meningkat. Masalah gizi ganda ini sangat erat kaitannya dengan gaya hidup masyarakat dan perilaku gizi. Status gizi masyarakat akan baik apabila perilaku gizi yang baik dilakukan pada setiap tahap kehidupan termasuk pada Bayi. 

Pola pemberian makan terbaik untuk Bayi sejak lahir sampai anak berumur 2 (dua) tahun meliputi: (a) memberikan ASI kepada Bayi segera dalam waktu 1 (satu) jam setelah lahir; (b) memberikan hanya ASI saja sejak lahir sampai umur 6 (enam) bulan. Hampir semua ibu dapat dengan sukses menyusui diukur dari permulaan pemberian ASI dalam jam pertama kehidupan Bayi. Menyusui menurunkan risiko infeksi akut seperti diare, pnemonia, infeksi telinga, haemophilus influenza, meningitis dan infeksi saluran kemih. Menyusui juga melindungi Bayi dari penyakit kronis masa depan seperti diabetes tipe 1. Menyusui selama masa Bayi berhubungan dengan penurunan tekanan darah dan kolesterol serum total, berhubungan dengan prevalensi diabetes tipe 2 yang lebih rendah, serta kelebihan berat badan dan obesitas pada masa remaja dan dewasa. 

Menyusui menunda kembalinya kesuburan seorang wanita dan mengurangi risiko perdarahan pasca melahirkan, kanker payudara, pra menopause dan kanker ovarium; (c) memberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat sejak genap umur 6 (enam) bulan; dan (d) meneruskan pemberian ASI sampai anak berumur 2 (dua) tahun. Penerapan pola pemberian makan ini akan meningkatkan status gizi Bayi dan anak serta mempengaruhi derajat kesehatan selanjutnya.

Namun demikian, saat ini penerapan pola pemberian makan terbaik untuk Bayi sejak lahir sampai anak berumur 2 (dua) tahun tersebut belum dilaksanakan dengan baik khususnya dalam hal pemberian ASI Eksklusif. Beberapa kendala dalam hal pemberian ASI Eksklusif karena ibu tidak percaya diri bahwa dirinya mampu menyusui dengan baik sehingga mencukupi seluruh kebutuhan gizi Bayi. Hal ini antara lain disebabkan karena kurangnya pengetahuan ibu, kurangnya dukungan Keluarga serta rendahnya kesadaran masyarakat tentang manfaat pemberian ASI Eksklusif. Selain itu kurangnya dukungan Tenaga Kesehatan, Fasilitas Pelayanan Kesehatan, dan produsen makanan bayi untuk keberhasilan ibu dalam menyusui bayinya. 

Dalam rangka melindungi, mendukung dan mempromosikan pemberian ASI Eksklusif perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan dukungan dari Pemerintah, Pemerintah Daerah, Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Tenaga Kesehatan, masyarakat serta Keluarga agar ibu dapat memberikan ASI Eksklusif kepada Bayi. Untuk maksud tersebut, maka diperlukan Peraturan Pemerintah tentang Pemberian ASI Eksklusif. 

Dalam Peraturan Pemerintah ini diatur: 1. tanggung jawab Pemerintah, pemerintah daerah pemerintah daerah kabupaten/kota; provinsi, dan 2. Air Susu Ibu Eksklusif; 3. penggunaan susu formula dan produk bayi lainnya; 4. tempat kerja dan tempat sarana umum; 5. dukungan masyarakat; 6. pendanaan; dan 7. pembinaan dan pengawasan. 

Download selengkapnya Di SINI,,,

Rabu, 28 Desember 2011

Pemkab Indramayu Tingkatkan Kesehatan Ibu Hamil

Pemerintah Kabupaten Indramayu berupaya meningkatkan kesehatan ibu-ibu yang sedang hamil. Program ini sekaligus untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi dalam persalinan.

Program Pemkab Indramayu yang dipimpin Bupati Hj Anna Sophanah dicanangkan lewat Gerakan Sayang Ibu di pendopo Raden Bagus Arya Wiralodra, Pemkab Indramayu.

Selain itu juga dilakukan di seluruh puskesmas, puskesmas pembantu, posyandu atau puskesdes (pusat kesehatan desa) se-Kabupaten Indramayu.

Program ini terselenggara berkat kerja sama antara Dinas Kesehatan setempat, Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Persatuan Persalinan Perawat Indonesia (PPNI), dan Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI).

Hal itu diungkapkan oleh Kabid Promosi Kesehatan dan Peningkatan Lingkungan Dinas Kesehatan Indramayu, dr HA Zaenal Arifin, ketika dikonfirmasi Suara Karya di halaman pendopo Indramayu beberapa hari lalu.

"Kegiatan Gerakan Sayang Ibu ini dilaksanakan selama sebulan. Pemeriksaan terhadap ibu-ibu hamil diberikan secara gratis. Persalinan ibu hamil juga bisa ditolong oleh tenaga kesehatan yang ada," kata Zaenal Arifin.

Pembiayaan persalinan itu diberikan melalui program jaminan kesehatan persalinan (Jampersal) lewat anggaran pusat (APBN tahun 2011). Pembiayaan program itu juga didukung anggaran APBD Kabupaten Indramayu untuk mendukung pelayanan kesehatan di masing-masing puskesmas dengan persalinannya. (suarakarya-online.com)

Kamis, 07 Juli 2011

Seluruh Susu Formula yang Beredar Bebas Bakteri Sakazakii

Hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Kesehatan RI, Badan POM dan Institut Pertanian Bogor (IPB) memastikan 47 merek susu formula yang beredar di Indonesia selama tahun 2011 aman dari cemaran bakteri Enterobacter sakazakii.

Hasil penelitian ulang terhadap 47 sampel susu formula bayi produksi 2011 tersebut diumumkan hari ini di kantor Kementrian Komunikasi dan Informatika di Jakarta (8/7). "Semua susu formula yang beredar tidak ditemukan bakteri E.sakazakii," kata Trihono, Kepala Litbang Kemenkes.

Trihono mengungkapkan, penelitian dilakukan dengan metode surveilance atau mencari sampai mendapatkan apakah ada bakteri yang ditemukan atau tidak pada semua susu formula yang beredar.

"Setiap merek diambil dua batch atau dua nomor pendaftaran yang berbeda. Contoh susu formula diambil dari tujuh region di 33 provinsi, baik yang beredar di pasar tradisional atau swayalan," lanjutnya.

Seluruh sampel yang diambil oleh petugas dari Badan POM itu kemudian diteliti secara silang oleh ketiga institusi yakni IPB, BPOM dan Litbang Kemenkes menggunakan sejumlah metode riset dan diperiksa dalam laboratorium yang berbeda.

Hasil pengumuman penelitian ini diharapkan bisa memberikan jaminan keamanan pangan bagi masyarakat.



Dalam kesempatan yang sama Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih kembali mengingatkan agar bayi berusia 0-6 bulan diberikan ASI. "Susu formula hanya diberikan pada keadaan tertentu, misalnya jika ibu tidak memungkinkan memberi ASI," katanya.

Sebelumnya hasil penelitian IPB terhadap 22 sampel susu formula dan 15 sampel makanan bayi produksi 2003-2006 menunjukkan 22,73 persen susu formula dan 40 persen sampel makanan bayi positif terkontaminasi bakteri E.sakazakii. (kompas.com)

Rabu, 15 Juni 2011

3 Kunci Diet agar Cepat Hamil

Survei membuktikan, semakin lama usia wanita melahirkan anak pertamanya, ia menjadi semakin tua. Sejalan dengan itu, semakin banyak juga pasangan yang sulit memiliki anak sehingga kehamilan menjadi pokok persoalan utama dalam kehidupan rumah tangga mereka.

Begitu banyak cara dilakukan pasangan seperti ini agar bisa mendapat momongan. Salah satunya adalah dengan mengonsumsi makanan yang tepat agar kehamilan bisa lebih mudah terjadi. Jorge E Chavarro, MD, ScD, asisten profesor di bidang Nutrisi dan Epidemiologi di Harvard School of Public Health dan penulis buku The Fertility Diet, memberikan beberapa tips berikut ini.

Dapatkan asupan protein dari sumber nabati

Menurut riset Chavarro terhadap 18.000 responden, makanan yang meningkatkan kadar insulin terlalu banyak dapat menyebabkan wanita sulit hamil. "Tidak semua protein dicerna dengan cara yang sama. Protein hewani memerlukan lebih banyak insulin untuk dapat dicerna," begitu penjelasan Chavarro. Karenanya, coba perbanyak konsumsi protein nabati, misalnya dari bahan makanan dari kacang kedelai.



Kurangi lemak trans

Lemak jenis ini banyak ditemukan pada makanan yang diolah dengan cara dipanggang dan digoreng. Lemak trans dapat meningkatkan kadar insulin. Lebih baik, perbanyak konsumsi lemak tak jenuh tunggal, seperti yang terdapat pada alpukat, kacang-kacangan, dan minyak zaitun. Jenis lemak ini diyakini para ahli dapat menurunkan risiko ketidaksuburan.

Hindari lonjakan gula yang berlebihan

Mengonsumsi karbohidrat yang mudah dicerna, seperti roti putih, kentang, dan gula, dapat membuat kadar gula melonjak naik sehingga produksi insulin juga menjadi terangsang. Carolyn Dean, MD, ND, salah satu penulis The Yeast Connection and Women's Health, menyatakan bahwa jenis karbohidrat seperti ini juga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ragi secara berlebihan.

"Hal ini dapat mengganggu kinerja hormon yang diperlukan terhadap terjadinya kehamilan," kata Dean. Lebih lanjut, ia menganjurkan kepada pasangan yang sulit memiliki anak untuk mengurangi konsumsi gula dan tepung. "Ganti bahan itu dengan karbohidrat kompleks yang lebih lambat dicerna dan perbanyak makanan yang kaya serat," imbuhnya lagi. (kompas.com)

Jumat, 20 Mei 2011

Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan Tahun 2011

Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 H ayat (1) menyebutkan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Selanjutnya pada pasal 34 ayat (3) ditegaskan bahwa negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.

Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, pada pasal 5 ayat (1) menegaskan bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya di bidang kesehatan. Selanjutnya pada ayat (2) ditegaskan bahwa setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau. Kemudian pada ayat (3) bahwa setiap orang berhak secara mandiri dan bertanggung jawab menentukan sendiri pelayanan kesehatan yang diperlukan bagi dirinya. Selanjutnya pada pasal 6 ditegaskan bahwa setiap orang berhak mendapatkan lingkungan yang sehat bagi pencapaian derajat kesehatan.

Untuk menjamin terpenuhinya hak hidup sehat bagi seluruh penduduk miskin dan tidak mampu, pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan sumber daya di bidang kesehatan yang adil dan merata bagi seluruh masyarakat untuk memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.



Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih cukup tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Menurut data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, AKI 228 per 100.000 kelahiran hidup, AKB 34 per 1000 kelahiran hidup. Berdasarkan kesepakatan global (Millenium Development Goals/MDG’s 2000) pada tahun 2015, diharapkan angka kematian ibu menurun dari 228 pada tahun 2007 menjadi 102 per 100.000 KH dan angka kematian bayi menurun dari 34 pada tahun 2007 menjadi 23 per 1000 KH.

Upaya penurunan AKI harus difokuskan pada penyebab langsung kematian ibu, yang terjadi 90% pada saat persalinan dan segera setelah persalinan yaitu perdarahan (28%), eklamsia (24%), infeksi (11%), komplikasi pueperium 8%, partus macet 5%, abortus 5%, trauma obstetric 5%, emboli 3%, dan lain-lain 11% (SKRT 2001).

Kematian ibu juga diakibatkan beberapa faktor resiko keterlambatan (Tiga Terlambat), di antaranya terlambat dalam pemeriksaan kehamilan, terlambat dalam memperoleh pelayanan persalinan dari tenaga kesehatan, dan terlambat sampai di fasilitas kesehatan pada saat dalam keadaan emergensi. Salah satu upaya pencegahannya adalah melakukan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.

Menurut hasil Riskesdas 2010, persalinan oleh tenaga kesehatan pada kelompok sasaran miskin (Quintile 1) baru mencapai sekitar 69,3%. Sedangkan persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan baru mencapai 55,4%. Salah satu kendala penting untuk mengakses persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan adalah keterbatasan dan ketidak-tersediaan biaya sehingga diperlukan kebijakan terobosan untuk meningkatkan persalinan yang ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan melalui kebijakan yang disebut Jaminan Persalinan. Jaminan Persalinan dimaksudkan untuk menghilangkan hambatan finansial bagi ibu hamil untuk mendapatkan jaminan persalinan, yang didalamnya termasuk pemeriksaan kehamilan, pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan, dan pelayanan bayi baru lahir. Dengan demikian, kehadiran Jaminan Persalinan diharapkan dapat mengurangi terjadinya Tiga Terlambat tersebut sehingga dapat mengakselerasi tujuan MDGs 4 dan 5.

Download ebook selengkapnya di sini....

Minggu, 06 Maret 2011

Program Jaminan Persalinan Sudah Dilakukan Serempak Di 33 Provinsi

Tahun 2011, 33 provinsi se-Indonesia secara serempak sudah memberlakukan program pembiayaan persalinan.

Saat ini, seluruh ibu hamil yang belum memiliki kartu jaminan persalinan bisa menggunakan jaminan persalinan (jampersal), dan akan mendapat paket pelayanan kehamilan sebesar Rp 420.000. Hal itu dikatakan Kepala Pusat Pembiayaan dan Jaminan Persalinan Kementrian Kesehatan Usman Sumantri.

Dia bilang, jampersal yang baru diterapkan tahun ini merupakan program persalinan yang bisa digunakan untuk ibu hamil dengan mendapat paket pelayanan sebesar Rp420.000. Rinciannya, pemeriksaan sebanyak 4 kali sebelum melahirkan dengan anggaran Rp40.000, biaya persalinan Rp 350.000 dan pemeriksaan pasca persalinan Rp 30.000.

Adapun persyaratannya, ibu yang belum memiliki jaminan persalinan bisa membawa identitas diri dan laporan pemeriksaan kandungan (pantograph).

Namun, ibu yang memiliki jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) tidak dibolehkan menggunakan program ini. Sebab, anggaran Jampersal merupakan bagian dari anggaran Jamkesmas yang besarnya Rp 6,3 triliun.

Usman menyatakan jumlah puskesmas, bidan dan rumah sakit pemerintah di 500 kabupaten dan kota di Indonesia yang terdaftar dalam program ini sebanyak 1020 unit. “Jampersal dilakukan secara serempak se-Indonesia, namun biaya yang diberikan ke Dinas Kesehatan setempat secara bertahap,” ujarnya, saat dihubungi KONTAN, (6/3).

Usman mengatakan, ibu hamil yang menggunakan jampersal bisa melakukan pemeriksaan di bidan, puskesmas maupun rumah sakit. Nantinya, untuk rawat inap di rumah sakit akan diberikan di kelas 3. Biaya persalinan normal maupun caesar akan ditanggung Jampersal. Dia bilang, Kemenkes telah memprediksi 20% proses persalinan akan mengalami resiko. Sebab itu, biaya yang dianggarkan untuk persalinan caesar di rumah sakit sebesar Rp 2,8 juta.

Dia menuturkan, sejak Januari 2011, ibu hamil yang belum memiliki jaminan persalinan sudah bisa menggunakan program jampersal. Menurutnya, dana jampersal yang berasal dari APBN kemenkes 2011 sebesar Rp1,2 triliun itu, telah diserahkan ke setiap Dinkes untuk diberikan ke rumah sakit, bidan maupun puskesmas di daerah. “Dari anggaran Rp 1,2 triliun kita cairkan 30% dulu, nanti kalau sudah habis kita berikan lagi ke setiap Dinas Kesehatan,” terangnya.

Sayangnya, sampai saat ini, masih terdapat beberapa kabupaten dan kota yang belum menjangkau program ini. Karena, belum membuka rekening dan mendaftarkan ke kementrian kesehatan. “Kalau sudah ada rekening, akan kita alokasikan dananya,” ujar Usman.

Dia menambahkan, Jampersal diberikan untuk mengurangi angka kematian ibu dan anak. Setelah melahirkan, ibu tersebut akan diberikan program Keluarga Berencana yang bekerjasama dengan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). (kontan.co.id)

Surat Keterangan Akreditasi FKM UNDIP

Bagi teman-teman yang membutuhkan informasi tentang Akreditasi FKM UNDIP... Silahkan download file di bawah ini... file sudah saya perb...

Find Us on Facebook

Blog Archives

Do Before You Die

Do Before You Die

Visitors


pinjaman utang