-
Di Sawahlunto, Ada Destinasi Wisata Suasana Eropa - Mau berwisata cantik layaknya di Eropa? Tidak perlu jauh-jauh. Langkahkan saja kaki Anda ke Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Kota ini menawarkan sensasi E...
Sabtu, 25 April 2015
Kamis, 06 Maret 2014
Tak Kena Bakteri Tapi Telanjur Minum Antibiotik, Apakah Harus Dihabiskan?
Posted by admin |
No Comments |
"Ibaratnya kita mau ke Restoran Gemoelai tapi nyasar dulu ke arah Blok M. Apakah kita terus lanjut aja sampai Blok M? Kan tidak, ya berhenti dan cari tahu," jelas dr Purnamawati S Pujianto, SpAK, MMPed, penasehat Yayasan Orang Tua Peduli (YOP), dalam acara Diskusi Media 'Bakteri: Kawan atau Lawan?' di Restoran Gemoelai, Jl Panglima Polim V No 60, Jakarta, Kamis (6/3/2014).
Berhenti dan mencari tahu juga perlu dilakukan ketika seorang pasien yang tidak terinfeksi bakteri telanjur minum antibiotik. Menurut dr Wati, antibiotik yang sudah telanjur diminum harus segera dihentikan ketika diketahui ternyata penyakit yang diderita pasien bukanlah disebabkan oleh bakteri.
"Kadang-kadang butuh waktu untuk diagnosis, kultur darah (pemeriksaan laboratorium). Ketika diagnosis mengindikasikan bakteri, pasien sementara dikasih antibiotik. Tapi diagnosis kan klinis, jadi begitu hasil kultur darah keluar dan tidak ada bakteri, maka antibiotiknya harus dihentikan," kata dr Wati.
Bila tubuh tidak terinfeksi bakteri dan terus diberi antibiotik, dampaknya bisa membunuh bakteri-bakteri baik yang berperan dalam sistem tubuh.
Akibatnya, bakteri jahat akan berpesta-pora karena 'kavling' yang ditadinya dihuni oleh bakteri baik sudah tak lagi berpenghuni. Tubuh akan lebih mudah sakit, bakteri jahat akan semakin kebal, dan tak lagi mempan dengan antibiotik ketika bakteri jahat benar-benar menyerangnya.
"Kalau kita sayang anak, sayang orang tua, bijaklah menggunakan antibiotik sehingga ketika benar-benar butuh, tidak susah mengobatinya. Menemukan antibiotik baru itu butuh waktu lama, jangan sampai antibiotik punah," tutup dr Wati.
(mer/vit)
Penggunaan Tak Tepat, Bakteri Malah Resisten Antibiotik
Posted by admin |
No Comments |
Sedianya, bakteri memang ada di tubuh manusia dan diperlukan untuk kelancaran metabolisme. Karenanya, bakteri tak harus dimusuhi apalagi diberantas habis.
Satya Sivaraman, Communication Adviser dari ReAct dalam diskusi “Bakteri: Kawan atau Lawan” di Restoran Gemoelai, Jl. Panglima Polim V, No. 60 menuturkan bahwa jumlah bakteri di tubuh 10 kali lipat dari sel dan keberadaan bakteri jahat hanya sebagian kecil saja dari jumlah tersebut.
Seperti diketahui, bakteri bukanlah musuh manusia karena manusia tak dapat hidup tanpa bakteri. Dengan memusnahkan bakteri, hal itu justru menciptakan kerugian. Salah satu kerugian yang mungkin timbul ialah resistensi bakteri terhadap antibiotik.
"Kita harus mengubah mindset. Jangan menanggap bakteri itu jahat. Selama ini kita selalu hidup berdampingan dengan kuman. Dan antibiotik tak bisa membunuh infeksi virus," tutur dr. Purnamawati S Pujiarto, SpAK, MMPed, Penasehat YOP dalam kesempatan yang sama.
Ditambahkan Satya, ketika seseorang terinfeksi bakteri bukan berarti dia sakit karena di tubuh ada bakterinya. Karenanya, tak bisa hanya andalkan dokter saja. Penyakit tak hanya ditata saja tetapi disembuhkan. Pasien pun hendaknya perlu mengetahui keterbatasan obat.
"Kita perlu melihatnya juga dari sisi ekologi di mana saling terkait satu sama lain. Bukan manusia mengurangi bakteri, karena sebenarnya yang merugikan itu bakterinya jumlahnya kecil dari puluhan juta yang sebabkan penyakit," jelasnya.
Untuk itu, sesungguhnya manusia tak memerlukan antibiotik karena dari sumber alami bisa terpenuhi kebutuhan itu.
"Kita bisa memenuhinya dari air, madu, buah, yang semuanya mengandung antibiotik tanpa tambahan pil, namun bisa memenuhinya dari makanan sehari-hari," katanya.
Waspadai resisten antibiotik
Perlu dicermati bahwa penggunaan antibiotik yang tak bijak bisa menyebabkan permasalahan di kemudian hari. Salah satu yang perlu Anda waspadai ialah resisten terhadap antibiotik. "Ketika bakteri diserang terus- menerus, maka lambat laun akan resisten. Manusia mem-bom semua bakteri dengan antibiotik. Karena bakteri makhluk hidup, maka dia akan menyerang balik dan akhirnya menjadi resisten. Antibiotik pun tak lagi bekerja," tutupnya.
(tty)
Selasa, 04 Maret 2014
Awas, Pakai Pengering Tangan di Toilet Tingkatkan Jumlah Bakteri
Posted by admin |
No Comments |
Mengingat bakteri menghantui di beberapa area publik, Anda pun patut waspada dengan ancaman tersebut dan meningkatkan kebersihan setiap saat. Beberapa area yang perlu diwaspadai di antaranya berikut ini, seperti dilansir MSN.
Meja kantor
Peralatan di meja kantor ratusan kali lebih banyak terpapar bakteri daripada dudukan toilet di gedung-gedung yang sama, menurut penelitian University of Arizone. Bersihkan bagian telepon Anda, keyboard, monitor dan meja dengan tisu disinfektan setidaknya sekali sehari. Dr Stamm mengatakan, hindarilah makan di depan komputer karena partikel makanan Anda berkontribusi terhadap kuman.
Pintu lemari es
Dalam sebuah studi American Dietetic Association, sebanyak 44 persen lemari es kantor dibersihkan secara bulanan, 22 persen dibersihkan hanya sekali setahun. Apapun yang kebocoran atau tumpahan dapat menjadi tempat berkembang biak bagi bakteri. Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan tahun lalu, setengah dari permukaan yang paling sering disentuh di kantor yakni kulkas, dapat terinfeksi dengan kuman orang sakit oleh makan siang. Karenanya, penting mencuci tangan sebelum makan.
Toilet umum
University of Colorado mengidentifikasi 19 kelompok bakteri, termasuk staphylococcus yang terkait dengan resisten antibiotik infeksi di toilet umum. Wastafel mungkin permukaan yang paling banyak kuman, karena kelembapan memungkinkan mikroorganisme untuk bertahan hidup.
Pengering tangan
Mengeringkan tangan di bawha pengering dapat meningkatkan jumlah bakteri pada kulit Anda hingga 45 persen, seperti dipaparkan dalam Journal of Applied Microbiology. Gunakan handuk kertas untuk mengeringkan dan membuka pintu. (ind)
Senin, 03 Maret 2014
Obat Kumur Beralkohol Ampuh Basmi Bau Mulut, Tapi Bakteri Sehat Ikut Mati
Posted by admin |
No Comments |
Obat kumur kebanyakan mengandung alkohol atau bahan kimia chlorhexidine yang memang bisa menghilangkan bau mulut tapi juga sekaligus membunuh bakteri sehat di dalam mulut hingga mengakibatkan bau mulut. Obat kumur dengan kandungan alkohol juga bisa membuat mulut kering.
Baru-baru ini, studi yang dipublikasikan dalam Journal Dental menemukan bahwa penggunaan obat kumur setiap hari bisa menimbulkan faktor risiko signifikan untuk kanker kepala dan leher. Selain itu, penelitian baru yang diterbitkan dalam jurnal Free Radical Biology And Medicine menunjukkan bahwa obat kumur bisa meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke dengan membunuh bakteri baik yang membantu merilekskan pembuluh arah sehingga tekanan darah meningkat.
"Saya mengatakan pada pasien saya untuk menghindari penggunakan obat kumur. Bahan kimia di dalam obat kumur bisa membuat mulut kering serta membunuh bakteri baik yang bermanfaat untuk kesehatan mulut dan usus," papar dokter gigi dari Davenport, Lynn Griebahn, MD.
Menurut dr Griebahn, obat kumur memang bisa menimbulkan sensasi geli untuk meyakinkan bahwa masalah pernapasan bisa dipecahkan. Namun, seiring waktu, obat kumur justru bisa menambah masalah pernapasan. Dikatakan ahli mikrobiologi di University of California, Wenyuan Shi, MD setiap orang mempunyai 100 sampai 200 spesies bakteri dalam mulut.
"Beberapa bakteri ini bisa menyebabkan bau mulut tetapi bakteri lain juga bermanfaat untuk melawan mikroba jahat dan membantu pencernaan. Menggunakan obat kumur justru menghancurkan semua bakteri di mulut, mengacaukan sistem check and balance alami dalam mulut dan membuka jalan infeksi untuk penyakit gusi," jelas Shi.
Dikutip dari Newsmaxhealth, Sabtu (1/3/2014), profesor emeritus mikrobiologi di Tel Aviv University, Mel Rosenberg MD mengatakan sedang membuat formula obat kumur dengan campuran minyak esensial. Cara kerjanya sama dengan penggunaan minyak kelapa atau minyak zaitun pada mulut.
"Gunakan untuk berkumur selama tiga sampai lima menit agar membantu memulihkan kesehatan gusi serta menghancurkan bakteri penyebab bau sambil menjaga bakteri baik," kata Ellen Kamhi dari The Natural Medicine Chest.
Faktor-faktor penyebab bau mulut kronis di antaranya merokok, konsumsi alkohol, gigi berlubang, penyakit gusi, diet tinggi gula, diabetes, serta gangguan ginjal dan hati. Menurut dr Griebahn, menyikat gigi dan flossing secara rutin bisa menjaga napas tetap bersih dan segar.
"Suplemen probiotik dan yogurt juga bisa membantu pertumbuhan bakteri baik dalam mulut guna mendapat napas lebih segar. Jika dalam keadaan darurat, bau mulut bisa dihilangkan dengan mengunyah peterseli atau cengkeh," papar dr Griebahn.
(rdn/vit)
Kamis, 07 Juli 2011
Seluruh Susu Formula yang Beredar Bebas Bakteri Sakazakii
Posted by admin |
No Comments |
Hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Kesehatan RI, Badan POM dan Institut Pertanian Bogor (IPB) memastikan 47 merek susu formula yang beredar di Indonesia selama tahun 2011 aman dari cemaran bakteri Enterobacter sakazakii.Hasil penelitian ulang terhadap 47 sampel susu formula bayi produksi 2011 tersebut diumumkan hari ini di kantor Kementrian Komunikasi dan Informatika di Jakarta (8/7). "Semua susu formula yang beredar tidak ditemukan bakteri E.sakazakii," kata Trihono, Kepala Litbang Kemenkes.
Trihono mengungkapkan, penelitian dilakukan dengan metode surveilance atau mencari sampai mendapatkan apakah ada bakteri yang ditemukan atau tidak pada semua susu formula yang beredar.
"Setiap merek diambil dua batch atau dua nomor pendaftaran yang berbeda. Contoh susu formula diambil dari tujuh region di 33 provinsi, baik yang beredar di pasar tradisional atau swayalan," lanjutnya.
Seluruh sampel yang diambil oleh petugas dari Badan POM itu kemudian diteliti secara silang oleh ketiga institusi yakni IPB, BPOM dan Litbang Kemenkes menggunakan sejumlah metode riset dan diperiksa dalam laboratorium yang berbeda.
Hasil pengumuman penelitian ini diharapkan bisa memberikan jaminan keamanan pangan bagi masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih kembali mengingatkan agar bayi berusia 0-6 bulan diberikan ASI. "Susu formula hanya diberikan pada keadaan tertentu, misalnya jika ibu tidak memungkinkan memberi ASI," katanya.
Sebelumnya hasil penelitian IPB terhadap 22 sampel susu formula dan 15 sampel makanan bayi produksi 2003-2006 menunjukkan 22,73 persen susu formula dan 40 persen sampel makanan bayi positif terkontaminasi bakteri E.sakazakii. (kompas.com)
Surat Keterangan Akreditasi FKM UNDIP
Bagi teman-teman yang membutuhkan informasi tentang Akreditasi FKM UNDIP... Silahkan download file di bawah ini... file sudah saya perb...
Find Us on Facebook
Category
Blog Archives
Do Before You Die

