journey healthy future

Tampilkan postingan dengan label bakteri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bakteri. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 April 2015

Perang Ribuan Tahun Bakteri Versus Antibiotika

Sebuah penelitian mikrobiologi terbaru menambah pengetahuan atas pandangan umum bahwa resistensi bakteri disebabkan oleh penggunaan obat-obatan antibotika yang tidak terkontrol. Sekelompok peneliti Amerika Serikat dan Venezuela menemukan bahwa gen bakteri flora dapat resisten terhadap obat-obatan antibiotika pada orang yang belum pernah mengonsumsi obat-obatan antibiotika.

Dalam  foto yang diambil pada 7 September 2012 tampak suku   Yanomami  menari di desa mereka, Irotatheri, di  wilayah Amazon, Venezuela.

Temuan dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa bakteri pada tubuh manusia punya kemampuan melawan antibiotika jauh sebelum obat-obatan antibiotika modern digunakan untuk menyembuhkan penyakit.

Penelitian tersebut resmi dipublikasikan di jurnal Science Advances. Laman Universitas Washington di St Louis pada 17 April 2015 juga memberitakan hal itu. ( https://news.wustl.edu/news/Pages/Bacterial-flora-of-remote-tribespeople-carries-antibiotic-resistance-genes.aspx). Hasil penelitian juga dipublikasikan di sciencedaily.com ( http://www.sciencedaily.com/releases/2015/04/150417145023.htm). Kantor berita Reuters memberitakan, Jumat pekan lalu.

Selain Fakultas Kedokteran Universitas Washington, penelitian juga melibatkan FK Universitas New York, Lembaga Penelitian Ilmiah Venezuela, dan sejumlah lembaga lain.

Penelitian dilakukan di pegunungan selatan Venezuela pada anggota suku Yanomami Ameridian, yang merupakan suku terasing di hutan hujan Amazon. Suku ini adalah suku pengumpul dan pemburu semi-nomadik.

Para peneliti menemukan bahwa suku Yanomami Ameridian terisolasi lebih dari 11.000 tahun dari masyarakat sekitarnya. Karena keterisolasian tersebut, populasi bakteri di tubuh suku terpencil ini berbeda dengan bakteri yang ditemukan di Amerika Serikat dan Eropa.

"Ini kesempatan yang ideal untuk mempelajari bagaimana hubungan antara mikroba dan manusia terjadi ketika mereka terbebas dari pengaruh masyarakat modern. Pengaruh itu termasuk perjalanan lintas negara dan paparan antibiotika," ujar Prof Gautam Dantas, Guru Besar Patologi dan Imunologi Universitas Washington, yang menjadi salah satu peneliti.

Mahasiswi pascasarjana Erica Pehrsson menganalisis bakteri-bakteri tersebut di laboratorium Dantas. Bakteri-bakteri itu diambil dari bagian kulit, mulut, dan kotoran 34 orang dari 54 anggota suku Yanomami. Ia menemukan gen pada bakteri tersebut yang resisten terhadap antibiotika.

Peneliti juga membandingkan contoh bakteri di tubuh suku Yanomami dengan kelompok orang di Amerika Serikat; suku asli Amazon Venezuela, Guahibo; dan penduduk pedesaan Malawi di selatan Afrika.

Dalam  foto yang diambil pada 7 September  2012 tampak seorang anak lelaki suku  Yanomami di kawasan Amazonas di Venezuela selatan.

"Orang-orang (Yanomami) ini tidak terpapar antibiotika modern. Satu-satunya antibiotika yang potensial masuk melalui bakteri tanah yang tertelan yang secara alami membentuk obat-obatan ini," kata Pehrsson.

Antibiotika alami

Ribuan tahun sebelum manusia menggunakan antibiotika modern, bakteri tanah memproduksi antibiotika alami untuk membunuh saingan mereka. Mikroba-mikroba tersebut mengembangkan mekanisme pembelaan diri dari antibiotika yang dibentuk mikroba lain dengan cara membentuk gen resisten melalui transfer gen horizontal.

Beberapa tahun belakangan, melimpahnya penggunaan antibiotika dalam dunia medis dan pertanian-terutama peternakan-mempercepat proses resistensi, merangsang perkembangan dan penyebaran gen-gen yang membantu bakteri tahan terhadap paparan antibiotika. Konsekuensinya, muncul galur penyakit manusia yang lebih sulit disembuhkan.

 Peneliti  senior M Gloria Dominguez-Bello dari University Langone Medical Center New York (kanan) dan  koleganya, Oscar Noya-Alarcon dari  University of Central Venezuela, di Sungai  Amazon di Venezuela selatan.

"Kita telah kehabisan obat untuk menyembuhkan infeksi yang resisten terhadap bermacam-macam antibiotika," ujar Dantas.

Seorang peneliti, M Gloria Dominguez-Bello, mengemukakan, ada hubungan antara antibiotika modern, diet dari negara-negara industri, dan berkurangnya keragaman mikrobioma-yaitu komunitas bakteri-di tubuh manusia. Ada triliunan bakteri di tubuh manusia yang bisa menjadi petunjuk kesehatan.

Dantas mengatakan, mikrobioma pada manusia di negara-negara industri kurang beragam 40 persen dibandingkan dengan mikrobioma pada suku Yanomami yang tidak pernah terpapar antibiotika.

Dalam penelitian ini, peneliti curiga bahwa bakteri dari suku terasing ini membawa gen antibiotika resisten secara diam yang dapat aktif ketika terpapar dengan antibiotika. Para peneliti mencoba mengaktifkan gen-gen ini dan kecurigaan itu terbukti. Contoh-contoh bakteri yang mengandung gen resisten tersebut tahan terhadap banyak antibiotika modern.

Penemuan antibiotika modern

Antibiotika modern ditandai dengan penemuan oleh Paul Ehrlich dan Alexander Fleming. Disebut modern karena penemuan antibiotika tersebut dilakukan dengan cara ilmiah modern.

Sejak tahun 1904, dokter Jerman, Paul Ehrlich, bersama ahli kimia Alfred Bertheim dan ahli bakteri Sahachiro Hata mencari obat penyakit kelamin sifilis yang disebabkan bakteri Treponema pallidum. Obatnya dinamakan salvarsan. Pada 3 September 1928, farmakolog Skotlandia, Inggris, Alexander Fleming, menemukan aktivitas antimikroba dari kapang Penicillium sp dan bahan kimianya dinamakan penisilin.

Namun, sebenarnya antibiotika sudah ada jauh sebelum itu seperti ditemukan di Venezuela tersebut. Catatan sejarah antibiotika itu antara lain ditulis peneliti Universitas Aberdeen, Inggris, Rustam I Aminov, dalam "A Brief History of the Antibiotic Era: Lessons Learned and Challenges for the Future" http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3109405/, diakses Selasa, 21 April 2015, 19.25).

Jejak-jejak tetrasiklin, misalnya, ternyata ditemukan di tulang belulang manusia di Nubia (sekarang Sudan) tahun 350-550 Masehi. Bangsa Tiongkok sudah ribuan tahun menggunakan tanaman Artemisia untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk malaria. Kandungan antibiotika tanaman Artemisia baru diekstrak tahun 1970-an. Zat itu dinamakan artemisin.

Sejarah panjang penggunaan antibiotika diduga ikut berkontribusi atas mulai munculnya resistensi bakteri terhadap antibiotika. Namun, Alexander Fleming dianggap orang yang pertama kali mengemukakan potensi resistensi bakteri terhadap penisilin jika digunakan terlalu sedikit atau waktu pemakaiannya terlalu singkat.

Sekarang, resistensi bakteri terhadap antibiotika telah menjadi perhatian global yang penting. Pertanyaannya, bagaimana dengan masa depan penggunaan antibiotika untuk membunuh bakteri?

Saat ini, kematian yang timbul karena resistensi bakteri itu cukup tinggi. Menurut Aminov, setiap tahun sekitar 25.000 pasien di Eropa meninggal karena infeksi bakteri yang resisten terhadap beragam antibiotika. Bahkan, di Amerika Serikat, kematian pasien mencapai lebih dari 63.000 orang per tahun.

Selain kegagalan pengobatan juga muncul kerugian ekonomi. Aminov memperkirakan, kerugian akibat resistensi bakteri sedikitnya 1,5 miliar dollar AS (setara Rp 19,4 triliun) per tahun. Kerugian itu diestimasi dari biaya kesehatan dan hilangnya produktivitas penderita. Belum lagi biaya yang dikeluarkan rumah sakit untuk pengobatan.

Menurut Aminov, tantangan untuk mengatasi resistensi bakteri harus melibatkan banyak pihak, mulai dari mikrobiolog, ekolog, dokter, pendidik, pembuat kebijakan, anggota legislatif, pekerja pertanian dan farmasi, serta masyarakat pengguna antibiotika.

Di Indonesia, Menteri Kesehatan sudah membuat Pedoman Umum Penggunaan Antibiotika yang terbit tahun 2011. Namun sudah menjadi rahasia umum bahwa masyarakat dapat dengan mudah membeli antibiotika di apotek atau toko obat. Salah satu "pasar bebas" antibiotika adalah Pasar Pramuka di Jalan Pramuka, Jakarta Timur.

Pemakaian oleh penderita juga sering tidak sesuai aturan dokter. Sebaliknya, dokter juga mudah memberi antibiotika hanya untuk penyakit ringan seperti batuk pilek. Berbeda dengan Jepang, misalnya, yang menerapkan pemberian antibiotika sangat terbatas di rumah sakit.

Resistensi bakteri juga disumbang oleh dunia kedokteran hewan dan peternakan karena beberapa bakteri penyebab dan antibiotika untuk hewan sama dengan untuk manusia. Hal itu antara lain dilaporkan Peter Collignon dan kawan-kawan dalam "Clinical Impotance of Antimicrobial Drugs in Human Health" (dalam buku Guide to Antimicrobial Use in Animal, Blackwell Publishing, 2008).

Contohnya Escherichia coli, penyebab infeksi perut dan saluran kencing, yang telah resisten terhadap aminopenisilin. Bakteri E coli yang banyak terdapat di peternakan ayam ini sering menulari manusia.

Peternakan, terutama peternakan ayam, masih memakai antibiotika untuk meningkatkan pertumbuhan ayam. Penggunaan antibiotika oleh orang selain dokter hewan-seperti mantri hewan, paramedis veteriner, pengembang biak hewan-yang tidak sesuai dosis dan jangka waktu pemberian turut menyumbang timbulnya resistensi bakteri terhadap antibiotika.

Batasi antibiotika

Pemecahan masalah dapat dimulai dari pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat dengan membuat undang-undang yang membatasi penggunaan antibiotika. Dengan demikian, kedudukan hukumnya lebih kuat dari surat keputusan menteri kesehatan. Kalaupun tidak melalui undang-undang, pembatasan antibiotika dapat diatur melalui peraturan presiden.

Selain pembatasan penjualan antibiotika, undang-undang atau peraturan presiden itu antara lain mengatur dokter dan dokter hewan hanya boleh memberi antibiotika jika terlebih dahulu dilakukan uji sensitivitas. Dengan demikian, diketahui dengan pasti antibiotika yang tepat untuk bakteri penyebab penyakit infeksi tertentu.

Penegakan hukum atas penerapan undang-undang juga penting. Edukasi kepada pihak-pihak yang terkait dengan penggunaan antibiotika serta masyarakat umum perlu dilakukan.

Tanpa upaya yang radikal, "peperangan" ribuan tahun antara bakteri dan antibiotika masih akan dimenangi bakteri. Masyarakat Indonesia akan semakin sulit disembuhkan jika menderita penyakit infeksi yang mematikan.*print.kompas

Kamis, 06 Maret 2014

Tak Kena Bakteri Tapi Telanjur Minum Antibiotik, Apakah Harus Dihabiskan?


Jakarta, Saat memberi resep antibiotik, dokter biasanya akan meminta pasien untuk menghabiskan obatnya agar bakteri tak menjadi resisten (kebal obat). Tetapi ketika tidak terinfeksi bakteri dan pasien telanjur minum antibiotik, apakah tetap harus dihabiskan?

"Ibaratnya kita mau ke Restoran Gemoelai tapi nyasar dulu ke arah Blok M. Apakah kita terus lanjut aja sampai Blok M? Kan tidak, ya berhenti dan cari tahu," jelas dr Purnamawati S Pujianto, SpAK, MMPed, penasehat Yayasan Orang Tua Peduli (YOP), dalam acara Diskusi Media 'Bakteri: Kawan atau Lawan?' di Restoran Gemoelai, Jl Panglima Polim V No 60, Jakarta, Kamis (6/3/2014).


Berhenti dan mencari tahu juga perlu dilakukan ketika seorang pasien yang tidak terinfeksi bakteri telanjur minum antibiotik. Menurut dr Wati, antibiotik yang sudah telanjur diminum harus segera dihentikan ketika diketahui ternyata penyakit yang diderita pasien bukanlah disebabkan oleh bakteri.


"Kadang-kadang butuh waktu untuk diagnosis, kultur darah (pemeriksaan laboratorium). Ketika diagnosis mengindikasikan bakteri, pasien sementara dikasih antibiotik. Tapi diagnosis kan klinis, jadi begitu hasil kultur darah keluar dan tidak ada bakteri, maka antibiotiknya harus dihentikan," kata dr Wati.


Bila tubuh tidak terinfeksi bakteri dan terus diberi antibiotik, dampaknya bisa membunuh bakteri-bakteri baik yang berperan dalam sistem tubuh.


Akibatnya, bakteri jahat akan berpesta-pora karena 'kavling' yang ditadinya dihuni oleh bakteri baik sudah tak lagi berpenghuni. Tubuh akan lebih mudah sakit, bakteri jahat akan semakin kebal, dan tak lagi mempan dengan antibiotik ketika bakteri jahat benar-benar menyerangnya.


"Kalau kita sayang anak, sayang orang tua, bijaklah menggunakan antibiotik sehingga ketika benar-benar butuh, tidak susah mengobatinya. Menemukan antibiotik baru itu butuh waktu lama, jangan sampai antibiotik punah," tutup dr Wati.


(mer/vit)




Powered By WizardRSS.com | Info CPNS Terlengkap | Bisnis Dari Rumah | Kerja Sambil Bisnis

View the original article here

Penggunaan Tak Tepat, Bakteri Malah Resisten Antibiotik


BERAGAM penyakit bisa sembuh dengan sendirinya tanpa butuh asupan antibiotik. Justru, penggunaan antibiotik bisa mengancam keberadaan bakteri di tubuh.

Sedianya, bakteri memang ada di tubuh manusia dan diperlukan untuk kelancaran metabolisme. Karenanya, bakteri tak harus dimusuhi apalagi diberantas habis.


Satya Sivaraman, Communication Adviser dari ReAct dalam diskusi “Bakteri: Kawan atau Lawan” di Restoran Gemoelai, Jl. Panglima Polim V, No. 60  menuturkan bahwa jumlah bakteri di tubuh 10 kali lipat dari sel dan keberadaan bakteri jahat hanya sebagian kecil saja dari jumlah tersebut.


Seperti diketahui, bakteri bukanlah musuh manusia karena manusia tak dapat hidup tanpa bakteri. Dengan memusnahkan bakteri, hal itu justru menciptakan kerugian. Salah satu kerugian yang mungkin timbul ialah resistensi bakteri terhadap antibiotik.


"Kita harus mengubah mindset. Jangan menanggap bakteri itu jahat. Selama ini kita selalu hidup berdampingan dengan kuman. Dan antibiotik tak bisa membunuh infeksi virus," tutur dr. Purnamawati S Pujiarto, SpAK, MMPed, Penasehat YOP dalam kesempatan yang sama.


Ditambahkan Satya, ketika seseorang terinfeksi bakteri bukan berarti dia sakit karena di tubuh ada bakterinya. Karenanya, tak bisa hanya andalkan dokter saja. Penyakit tak hanya ditata saja tetapi disembuhkan. Pasien pun hendaknya perlu mengetahui keterbatasan obat.


"Kita perlu melihatnya juga dari sisi ekologi di mana saling terkait satu sama lain. Bukan manusia mengurangi bakteri, karena sebenarnya yang merugikan itu bakterinya jumlahnya kecil dari puluhan juta yang sebabkan penyakit," jelasnya.


Untuk itu, sesungguhnya manusia tak memerlukan antibiotik karena dari sumber alami bisa terpenuhi kebutuhan itu.


"Kita bisa memenuhinya dari air, madu, buah, yang semuanya mengandung antibiotik tanpa tambahan pil, namun bisa memenuhinya dari makanan sehari-hari," katanya.


Waspadai resisten antibiotik


Perlu dicermati bahwa penggunaan antibiotik yang tak bijak bisa menyebabkan permasalahan di kemudian hari. Salah satu yang perlu Anda waspadai ialah resisten terhadap antibiotik. "Ketika bakteri diserang terus- menerus, maka lambat laun akan resisten. Manusia mem-bom semua bakteri dengan antibiotik. Karena bakteri makhluk hidup, maka dia akan menyerang balik dan akhirnya menjadi resisten. Antibiotik pun tak lagi bekerja," tutupnya.
(tty)





Powered By WizardRSS.com | Info CPNS Terlengkap | Bisnis Dari Rumah | Kerja Sambil Bisnis

View the original article here

Selasa, 04 Maret 2014

Awas, Pakai Pengering Tangan di Toilet Tingkatkan Jumlah Bakteri

AREA publik memang memungkinkan banyak penyakit bermunculan. Anda pun bisa tertular jika berada di tempat tersebut.

Mengingat bakteri menghantui di beberapa area publik, Anda pun patut waspada dengan ancaman tersebut dan meningkatkan kebersihan setiap saat. Beberapa area yang perlu diwaspadai di antaranya berikut ini, seperti dilansir MSN.

Meja kantor

Peralatan di meja kantor ratusan kali lebih banyak terpapar bakteri daripada dudukan toilet di gedung-gedung yang sama, menurut penelitian University of Arizone. Bersihkan bagian telepon Anda, keyboard, monitor dan meja dengan tisu disinfektan setidaknya sekali sehari. Dr Stamm mengatakan, hindarilah makan di depan komputer karena partikel makanan Anda berkontribusi terhadap kuman.

Pintu lemari es

Dalam sebuah studi American Dietetic Association, sebanyak 44 persen lemari es kantor dibersihkan secara bulanan, 22 persen dibersihkan hanya sekali setahun. Apapun yang kebocoran atau tumpahan dapat menjadi tempat berkembang biak bagi bakteri. Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan tahun lalu, setengah dari permukaan yang paling sering disentuh di kantor yakni kulkas, dapat terinfeksi dengan kuman orang sakit oleh makan siang. Karenanya, penting mencuci tangan sebelum makan.

Toilet umum

University of Colorado mengidentifikasi 19 kelompok bakteri, termasuk staphylococcus yang terkait dengan resisten antibiotik infeksi di toilet umum. Wastafel mungkin permukaan yang paling banyak kuman, karena kelembapan memungkinkan mikroorganisme untuk bertahan hidup.

Pengering tangan

Mengeringkan tangan di bawha pengering dapat meningkatkan jumlah bakteri pada kulit Anda hingga 45 persen, seperti dipaparkan dalam Journal of Applied Microbiology. Gunakan handuk kertas untuk mengeringkan dan membuka pintu. (ind)





Powered By WizardRSS.com | Full Text RSS Feed | RFID | Amazon Affiliate

View the original article here

Senin, 03 Maret 2014

Obat Kumur Beralkohol Ampuh Basmi Bau Mulut, Tapi Bakteri Sehat Ikut Mati

Jakarta, Bau mulut atau halitosis bisa jadi masalah besar bagi banyak orang. Sehingga, tak sedikit yang merogoh kocek cukup dalam untuk membeli produk perawatan mulut, terutama obat kumur. Padahal banyak ahli kesehatan yang mengingatkan bahwa obat kumur hanya mengatasi bau mulut sementara.

Obat kumur kebanyakan mengandung alkohol atau bahan kimia chlorhexidine yang memang bisa menghilangkan bau mulut tapi juga sekaligus membunuh bakteri sehat di dalam mulut hingga mengakibatkan bau mulut. Obat kumur dengan kandungan alkohol juga bisa membuat mulut kering.

Baru-baru ini, studi yang dipublikasikan dalam Journal Dental menemukan bahwa penggunaan obat kumur setiap hari bisa menimbulkan faktor risiko signifikan untuk kanker kepala dan leher. Selain itu, penelitian baru yang diterbitkan dalam jurnal Free Radical Biology And Medicine menunjukkan bahwa obat kumur bisa meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke dengan membunuh bakteri baik yang membantu merilekskan pembuluh arah sehingga tekanan darah meningkat.

"Saya mengatakan pada pasien saya untuk menghindari penggunakan obat kumur. Bahan kimia di dalam obat kumur bisa membuat mulut kering serta membunuh bakteri baik yang bermanfaat untuk kesehatan mulut dan usus," papar dokter gigi dari Davenport, Lynn Griebahn, MD.

Menurut dr Griebahn, obat kumur memang bisa menimbulkan sensasi geli untuk meyakinkan bahwa masalah pernapasan bisa dipecahkan. Namun, seiring waktu, obat kumur justru bisa menambah masalah pernapasan. Dikatakan ahli mikrobiologi di University of California, Wenyuan Shi, MD setiap orang mempunyai 100 sampai 200 spesies bakteri dalam mulut.

"Beberapa bakteri ini bisa menyebabkan bau mulut tetapi bakteri lain juga bermanfaat untuk melawan mikroba jahat dan membantu pencernaan. Menggunakan obat kumur justru menghancurkan semua bakteri di mulut, mengacaukan sistem check and balance alami dalam mulut dan membuka jalan infeksi untuk penyakit gusi," jelas Shi.

Dikutip dari Newsmaxhealth, Sabtu (1/3/2014), profesor emeritus mikrobiologi di Tel Aviv University, Mel Rosenberg MD mengatakan sedang membuat formula obat kumur dengan campuran minyak esensial. Cara kerjanya sama dengan penggunaan minyak kelapa atau minyak zaitun pada mulut.

"Gunakan untuk berkumur selama tiga sampai lima menit agar membantu memulihkan kesehatan gusi serta menghancurkan bakteri penyebab bau sambil menjaga bakteri baik," kata Ellen Kamhi dari The Natural Medicine Chest.

Faktor-faktor penyebab bau mulut kronis di antaranya merokok, konsumsi alkohol, gigi berlubang, penyakit gusi, diet tinggi gula, diabetes, serta gangguan ginjal dan hati. Menurut dr Griebahn, menyikat gigi dan flossing secara rutin bisa menjaga napas tetap bersih dan segar.

"Suplemen probiotik dan yogurt juga bisa membantu pertumbuhan bakteri baik dalam mulut guna mendapat napas lebih segar. Jika dalam keadaan darurat, bau mulut bisa dihilangkan dengan mengunyah peterseli atau cengkeh," papar dr Griebahn.

(rdn/vit)



Powered By WizardRSS.com | Full Text RSS Feed | RFID | Amazon Affiliate

View the original article here

Kamis, 07 Juli 2011

Seluruh Susu Formula yang Beredar Bebas Bakteri Sakazakii

Hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Kesehatan RI, Badan POM dan Institut Pertanian Bogor (IPB) memastikan 47 merek susu formula yang beredar di Indonesia selama tahun 2011 aman dari cemaran bakteri Enterobacter sakazakii.

Hasil penelitian ulang terhadap 47 sampel susu formula bayi produksi 2011 tersebut diumumkan hari ini di kantor Kementrian Komunikasi dan Informatika di Jakarta (8/7). "Semua susu formula yang beredar tidak ditemukan bakteri E.sakazakii," kata Trihono, Kepala Litbang Kemenkes.

Trihono mengungkapkan, penelitian dilakukan dengan metode surveilance atau mencari sampai mendapatkan apakah ada bakteri yang ditemukan atau tidak pada semua susu formula yang beredar.

"Setiap merek diambil dua batch atau dua nomor pendaftaran yang berbeda. Contoh susu formula diambil dari tujuh region di 33 provinsi, baik yang beredar di pasar tradisional atau swayalan," lanjutnya.

Seluruh sampel yang diambil oleh petugas dari Badan POM itu kemudian diteliti secara silang oleh ketiga institusi yakni IPB, BPOM dan Litbang Kemenkes menggunakan sejumlah metode riset dan diperiksa dalam laboratorium yang berbeda.

Hasil pengumuman penelitian ini diharapkan bisa memberikan jaminan keamanan pangan bagi masyarakat.



Dalam kesempatan yang sama Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih kembali mengingatkan agar bayi berusia 0-6 bulan diberikan ASI. "Susu formula hanya diberikan pada keadaan tertentu, misalnya jika ibu tidak memungkinkan memberi ASI," katanya.

Sebelumnya hasil penelitian IPB terhadap 22 sampel susu formula dan 15 sampel makanan bayi produksi 2003-2006 menunjukkan 22,73 persen susu formula dan 40 persen sampel makanan bayi positif terkontaminasi bakteri E.sakazakii. (kompas.com)

Surat Keterangan Akreditasi FKM UNDIP

Bagi teman-teman yang membutuhkan informasi tentang Akreditasi FKM UNDIP... Silahkan download file di bawah ini... file sudah saya perb...

Find Us on Facebook

Blog Archives

Do Before You Die

Do Before You Die

Visitors


pinjaman utang