journey healthy future

Tampilkan postingan dengan label Remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Remaja. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Juli 2014

Imbauan untuk Remaja Putri Agar Kelak Miliki Anak yang Sehat

Setiap bayi yang lahir ke dunia memiliki ukuran tubuh yang sama. Seiring pertumbuhannya, orangtua pun akan mengetahui apakah anak yang dilahirkannya itu tergolong stanting (berukuran pendek) atau normal. Bila itu terjadi, maka akan sangat sulit untuk diperbaiki.

"Ukuran stanting pada balita mencerminkan kejadian masa lalu selama di kandungan. Untuk mengetahui pendek tidaknya, sudah ada tahapannya, di usia sekian tahun. Semua anak lahir dalam keadaan sama, tapi dalam perkembangannya tidak sama," kata Direktur Bina Gizi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Ir. Doddy Izwardy, MA di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta, Senin (14/7/2014)

Berhubung kondisi semacam ini tidak dapat diperbaiki lagi, Doddy menyarankan, agar para calon ibu memperbanyak makanan yang mengandung FE (zat besi) saat masih gadis. "Imbauan untuk para remaja putri, makanlah yang banyak mengandung FE, seperti sayur-sayuran. Dan, menganut pola makan sehat," kata Doddy.

Selain itu, sejak masih remaja para perempuan mengupayakan agar memiliki berat badan normal, tidak terlampau gemuk, dan tidak juga terlampau kurus. Apalagi di zaman seperti sekarang ini, banyak anak perempuan yang berusaha menjaga mati-matian berat badannya, tapi dengan cara yang salah.

"Dengan pola makan seimbang dan beraneka ragam, akan menghindari mereka dari anemia," kata Doddy menjelaskan.

Nantinya, untuk mengecek apakah mereka menderita anemia atau tidak, dianjurkan untuk mengecek kondisinya di laboratorium. Sehingga, saat memutuskan untuk menikah, perempuan tersebut mampu mengukur tubuhnya sendiri, apakah tergolong kurang energi kronik atau tidak.

"Kalau kurus sekali, itu justru yang sangat berbahaya untuk mereka," kata dia menjelaskan.

Sabtu, 15 Maret 2014

Terungkap Remaja Usia 11 Sudah Pintar Berdandan!



INILAHCOM, Jakarta- Jangan heran kalau melihat gadis remaja saat ini cantik-cantik. Mereka sudah berdandan bahkan sejak usia 11 tahun. Demikian temuan sebuah survei terbaru.


Ini lebih cepat tiga tahun dari generasi sebelumnya yang baru memoles wajah mereka saat 14 tahun.


Tekanan kelompok sebaya baik secara langsung seperti di sekolah atau melalui jejaring media sosial dan juga citra dari para selebritis muda adalah yang mempengaruhi penurunan usia untuk mencoba bedak, lipstik, atau bahkan maskara.


Survei menemukan, hampir dua pertiga atau 61% respoden perempuan mengaku mengatakan, gadis remaja mulai mengenakan tata rias tiga tahun lebih muda dari generasi sebelumnya. Yaitu ketika mereka berusia 11 tahun dan mereka menganggap ini bukan sesuatu yang bagus.


Menurut mereka, para gadis remaja itu seharusnya menunggu hingga usia 14 untuk memakai alas bedak, lalu mencoba riasan mata saat usia 13 dan lip gloss saat usia 12.


Lebih dari 89% perempuan mengatakan, gadis-gadis remaja usia 13 tahun tidak harus make-up kecuali acara khusus, setidaknya dua kali setahun, itu pun paling banyak.


"Mereka mengatakan usia rata-rata mulai menggunakan make - up telah turun secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir dan bahwa mereka secara teratur melihat gadis-gadis semuda umur 11 sudah memakai kosmetik," kata juru bicara Escentual.com yang melakukan survei.


"Mereka khawatir bahwa gadis-gadis pra-remaja mengembangkan obsesi tidak sehat dengan penampilan mereka. Lebih dari 62 persen berpikir ini adalah risiko terbesar dari gadis-gadis muda mulai menggunakan make- up," sambungnya seperti melansir dailymail, Sabtu (15/3/2014). [mor]




Powered By WizardRSS.com | Info CPNS Terlengkap | Bisnis Dari Rumah | Kerja Sambil Bisnis

View the original article here

Senin, 03 Maret 2014

Anak yang Sering Mimpi Buruk Berisiko Alami Gangguan Kejiwaan saat Remaja

Jakarta, Anak mengeluhkan mimpi buruk yang semalam menghantui? Wajar, Anda tak perlu cemas. Tetapi, Anda perlu waspada jika mimpi buruk terjadi terus menerus bahkan hingga anak berusia 12 tahun.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak yang sering mengalami mimpi buruk berisiko lebih besar mengalami psikosis atau gangguan kejiwaan. Psikosis merupakan gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidakmampuan individu menilai kenyataan yang terjadi.

Penelitian menunjukkan mimpi buruk pada anak berusia 12 tahun memperbesar risiko terjadinya gejala psikosis seperti halusinasi dan delusi. Anak-anak berusia dua hingga sembilan tahun yang sering terganggu oleh mimpi buruk juga lebih mungkin menderita psikosis dibandingkan mereka yang tidurnya tidak terganggu.

Meski demikian, para peneliti mengingatkan agar para orang tua tidak terlalu cemas. Sebab mimpi buruk sering terjadi di kalangan anak-anak. Mimpi buruk itu akan menghilang seiring mendewasanya usia.

"Kami tidak ingin membuat para orangtua cemas karena berita ini. Tiga dari empat anak mengalami mimpi buruk pada usia semuda itu," ungkap pimpinan tim penelitian, Professor Dieter Wolke, dari Universits Warwick.

"Akan tetapi, mimpi buruk dalam jangka waktu lama, atau jika serangan teror yang terus berlanjut hingga remaja, bisa jadi merupakan pertanda awal akan sesuatu yang penting di kemudian hari," imbuhnya sebagaimana dilansir Daily Mail dan ditulis pada Senin (3/3/2014).

Dalam studi itu, ia dan timnya merekrut lebih dari 6.700 anak-anak. Seperempat grup anak-anak yang berusia 12 tahun mengaku mengalami mimpi buruk dalam enam bulan terakhir. Sedangkan anak-anak yang mengalami teror jumlahnya kurang dari 10 persen. Teror pada anak sering ditandai dengan jeritan kencang atau duduk tegak dalam keadaan panik secara tiba-tiba.Next

(vit/vit)


Powered By WizardRSS.com | Full Text RSS Feed | RFID | Amazon Affiliate

View the original article here

Senin, 04 November 2013

Kenakalan Remaja Cermin Orangtua yang "Nakal"

Karakter remaja merupakan cerminan pola pengasuhan yang diperoleh dari lingkungan, terutama orangtua. Bila orangtua tidak mengasuh dengan benar, maka remaja dipastikan memiliki pribadi yang buruk. Namun sebaliknya, remaja dengan orangtua yang baik akan mengembangkan kepribadian positif dalam menghadapi masa labilnya.

Hal ini nyata terlihat pada kasus video asusila pelajar SMP yang menggegerkan masyarakat baru-baru ini. Orangtua diduga tidak memberi contoh teladan bagi anak, hingga akhirnya anak terekspos hal negatif di lingkungannya.

"Tak bisa dipungkiri orangtua berperan besar dalam peristiwa ini. Orangtua anak tersebut mungkin 'nakal' dan tidak memberi hak anak terkait masalah seksual," kata dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat UI (FKM-UI), dr Rita Damayanti SPsi, MSPH.

Terkait hak anak, Rita berpendapat, mungkin orangtua pelaku masih beranggapan seks adalah sesuatu yang tabu. Hal tersebut tidak sesuai dengan kepribadian anak sekarang yang kerap bertanya dengan awalan kenapa. Pertanyaan sebab akibat tersebut kebanyakan berbuah keingintahuan lain. Bila tidak memperoleh jawaban meyakinkan, maka anak akan menjadi sangat penasaran dan berusaha memenuhi keingintahuannya.

Bentakan atau omelan, kata Rita, hanya meredam sementara keingintahuan anak. Bila efeknya sudah hilang, maka segala pelarangan tidak lagi memiliki pengaruh. Pengekangan justru memancing rasa penasaran yang menuntut agar hal itu segera terpenuhi. Akibatnya anak segera mendatangi sumber informasi terdekat dan termudah, yang tentunya bukan orangtua. Padahal sumber tersebut tidak memiliki info akurat.

Menghadapi kondisi ini, Rita menyarankan agar orangtua segera mengubah pola pikir yang meyakini seks adalah tabu. Hal ini didukung survei yang mengatakan, 50-60 persen remaja tidak mengetahui, sekali berhubungan seksual bisa menyebabkan kehamilan. 

"Anak kita sudah telanjur terekspos hal yang tidak terjadi di zaman sebelumnya. Yang bisa dilakukan sekarang adalah bagaimana supaya informasi tersebut tidak membuat remaja salah mengambil tindakan," ujarnya.

Orangtua, ujar Rita, harus menjadi pembimbing yang baik. Pembimbing di sini tidak sebatas melarang, tetapi menjelaskan sebab tidak boleh melakukan sesuatu. Selanjutnya, sedapat mungkin orangtua harus masuk ke lingkungan pergaulan anak. Dengan demikian, orangtua bisa mengetahui apa yang sedang tren dan apakah baik untuk perkembangan remaja.

Terkait pendidikan seks, Rita menyarankan agar orangtua bekerja sama dengan pihak sekolah. Pendidikan seks sebaiknya diberikan langsung oleh tenaga kesehatan yang tersedia. Penjelasan oleh dokter atau bidan dinilai lebih netral, dan menjawab keingintahuan remaja terkait seks dan reproduksi.

"Yang penting jangan asal melarang, yang hanya menimbulkan penentangan. Jelaskan tentang seks sebaik mungkin dan adakan pendekatan dengan remaja. Jangan sampai remaja berjalan tanpa bimbingan, di tengah kelabilan dan gejolak hormon yang sedang dilalui," kata Rita.

Referensi :
http://health.kompas.com/read/2013/11/02/1059588/Kenakalan.Remaja.Cermin.Orangtua.yang.Nakal.

Senin, 18 Juli 2011

Tahapan Edukasi Seks di Keluarga

Sejak usia berapa anak Anda mulai bertanya tentang bagian tubuhnya? Apakah anak Anda sudah menyatakan ketertarikannya dengan lawan jenis pada usianya yang masih sangat belia?

Rasa ingin tahu anak tak bisa dijawab seadanya oleh orangtuanya. Karena pada masa inilah, anak sedang mengeksplorasi dirinya. Orangtua seharusnya menjadi tempat paling aman untuk anak, yang mampu memberikan penjelasan yang tepat. Sayangnya, banyak orangtua yang kesulitan memberikan respons yang baik, apalagi menyangkut pertanyaan seputar seksualitas.

Sani B. Hermawan MPsi, psikolog, mengatakan orangtua perlu membekali diri dan menjadi lebih cerdas. Karena pertanyaan anak masa kini semakin cerdas, meski usianya masih sangat belia. Memberikan pemahaman seputar masalah seksual sejak dini, bisa membuat komunikasi orangtua dan anak lebih fleksibel di kemudian hari.

Pendidikan seks dibutuhkan anak usia dini, bahkan hingga seseorang yang telah menikah. Pendidikan seks juga masih diperlukan oleh pasangan menikah.

Lantas pemahaman apa saja yang seharusnya dimiliki orangtua dan disampaikan kepada anak dengan bahasa yang tepat? Bagaimana tahapannya?

Periode dini, saatnya mengenalkan bagian tubuh
Anak usia dini sudah bisa diajak bicara mengenai seks. Tolok ukurnya, saat anak sudah mulai bertanya tentang seks, dan juga saat komunikasi dua arah dengan orangtua sudah terbangun. Rata-rata anak usia 2 - 3 tahun sudah mulai mampu berkomunikasi dua arah dengan orangtuanya.

"Ajarkan anak dengan bahasa ilmiah, kenalkan istilah penis dan vagina kepada anak, bukan dengan menyebutnya dengan istilah lain, seperti burung misalnya.

Pada usia ini, anak juga mulai bisa dikenalkan dengan fungsi tubuh. Vagina dan penis sebagai saluran urin, lubang dubur untuk buang air besar. Pendidikan seks usia dini bisa diawali dari pengetahuan dasar seperti ini.



Periode awal sekolah, saatnya penyadaran dan membuat anak bangga dengan tubuhnya
Anak sekolah dasar sudah mulai keputihan, ini karena celana dalam kotor atau cara membersihkan area kelamin yang salah. Anak sudah harus diajarkan cara membersihkan tubuhnya termasuk area kelamin dengan baik.

Penyadaran yang diawali dengan kebersihan organ tubuh menjadi titik mulanya. Dengan begitu, anak bisa belajar tanggung jawab atas dirinya dan mulai memahami pentingnya merawat tubuh dan kelamin.

Pada usia ini juga anak mulai mengeksplorasi daerah kelaminnya. Apalagi dengan berbagai informasi yang semakin terbuka dan diterima oleh anak-anak.

Ada anak yang bertanya, kenapa saat memeluk bantal-guling dan menjepit guling di area kelamin menimbulkan rasa enak. Atau anak bertanya, mengapa penisnya berdiri pada pagi hari. Orangtua perlu mendapatkan jawaban yang tepat dan memberikan penyadaran.

Ajarkan kepada anak bahwa area kelamin sensitif sehingga perlu dijaga, menambahkan dengan menjepit bantal-guling akan melukai area kelamin. Anak juga perlu diajarkan tentang ukuran penis, yang memang berbeda bagi setiap lelaki. Dengan memahami ini, anak memahami tubuhnya. Jikapun teman sekolahnya, misalnya, membandingkan ukuran penis, anak sudah terbekali dengan pengetahuan yang tepat dari orangtuanya. Dengan begitu, anak merasa bangga dengan apa yang dimilikinya.
Periode remaja, pahami aspek psikologis
Pada masa inilah, anak remaja mengalami pubertas. Pada anak lelaki ditandai dengan suaranya yang membesar dan mimpi basah. Sedangkan perempuan mengawali pubertas dengan menstruasi.

Kenalkan anak dengan aspek psikologis yang akan dialaminya memasuki masa ini. Perempuan menjadi lebih sensitif dan nafsu makan bertambah karena mens, misalnya.

Jangan biarkan anak kebingungan, dan menjalani masa ini tanpa pengetahuan yang jelas. Orangtua perlu lebih aktif dan berinisiatif membekali anak. Namun jangan juga terlalu mengumbar persoalan psikologis ini, fokusnya adalah membekali anak untuk mengendalikan emosinya pada tahapan ini.

Orangtua perlu membekali anak remajanya dengan pendidikan seks, agar anak bisa menerima dirinya, dengan berbagai perubahan fisik dan psikologis. Dengan begitu, anak bisa percaya diri dan mampu mengendalikan keinginan seks yang sudah mulai muncul, apalagi dengan kondisi kekinian di mana banyak remaja sudah berhubungan seksual, meski dengan cara aman sekalipun.

Periode dewasa, kepuasan seksual penting bagi pasangan
Seks yang tepat dan berkualitas perlu dikenali dan dipahami pasangan. Baik yang akan segera menikah maupun yang sudah menikah puluhan tahun.

Bagi perempuan yang sudah menikah, berusia di atas 40 tahun misalnya, seks tak lagi menarik. Sedangkan suami pada usia ini, berada dalam masa puncak terkait seksualitasnya. Hal ini bisa disiasati agar hubungan seks tetap bisa dinikmati pasutri dan berkualitas. Pemahaman lebih lanjut mengenai seks bisa menjawab persoalan. Seks bisa menjadi cara untuk melepas ketegangan.

Jika sudah terlambat menjalani tahapan awal, dan saat ini anak Anda sudah remaja misalnya, tak jadi masalah bila Anda langsung membuka komunikasi dan memberikan pemahaman seks sesuai tahapan usia anak. (kompas.com)

Tak Perlu Lagi Canggung Bicara Seks

Orangtua seringkali mengalami hambatan membicarakan seks kepada anak. Padahal, edukasi seks penting diberikan sejak dini. Alasan kekhawatiran bahwa anak menjadi tertarik dengan seks, lantas mengalahkan manfaat edukasi seks.

Psikolog Sani B. Hermawan, Psi, menjelaskan edukasi seks perlu dipahami sebagai upaya orangtua memberikan penyadaran dan informasi kepada anak tentang seksualitas. Edukasi seks juga diberikan dengan menanamkan moral, etika, komitmen agama agar tidak terjadi penyalahgunaan. Edukasi seks adalah juga cikal-bakal pendidikan berkeluarga.

"Jika edukasi seks di Amerika sudah fokus pada tahapan bagaimana seks yang aman, Indonesia masih malu-malu membicarakan seks. Tetapi, hal ini bisa menjadi gunung es. Bahkan survei YKAI (Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia) menunjukkan 99 persen pelajar SMA melakukan hubungan seks pranikah.

Hambatan apa yang dialami orangtua untuk berdialog terbuka seputar seks?



Sani menyebutkan, orangtua sungkan berbicara seksualitas karena masih menganggapnya tabu. Ketidaktahuan orangtua untuk memulai diskusi menjadi persoalan lainnya. Karenanya sebaiknya orangtua mulai membekali dirinya untuk menambah wawasan seputar parenting dan edukasi seks.

Bahkan tak sedikit orangtua yang belum paham betul manfaat edukasi seks, bagi anak dan kehidupan berkeluarga di masa mendatang.

"Dengan berlandaskan kepada moral, etika, dan agama, edukasi seks bisa menjadi pencegahan dari berbagai penyalahgunaan," imbuh Sani.

Orangtua perlu memahami realitas dalam masyarakat untuk bisa memahami pentingnya edukasi seks. Dengan memberikan edukasi seks sejak dini, keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat, bisa menjadi tempat aman bagi anak, dan menjadi sumber kekuatan anak agar terhindar dari realitas yang mengkhawatirkan.

Sani menyebutkan sejumlah fakta yang ingin membukakan mata, betapa pendidikan seks penting bagi orangtua dan anak.

"Arus informasi semakin terbuka, dan anak mengaksesnya. Kasus pelecehan seksual semakin tinggi, begitupun hubungan seks pranikah. Penularan virus HIV dan penyakit menular seksual semakin mengkhawatirkan. Belum lagi anak putus sekolah karena hamil," Sani menyebutkan sederet fakta dampak minimnya pemahaman seks.

Fakta tersebut sebenarnya bisa dihindari jika komunikasi dua arah dan dialog terbuka antara orangtua dan anak terjalin sejak dini. (kompas.com)

Kamis, 23 Juni 2011

Seks Bebas, 95 Pelajar di Bali Terjangkit HIV/AIDS

Sebanyak 95 remaja di Bali positif terjangkit virus HIV/AIDS. Sebagian besar tertular melalui hubungan seksual. Fakta memilukan tersebut merupakan hasil penelitian terakhir 2011 yang dilansir Komisi Penanggulangan Daerah (KPAD) Provinsi Bali.

“Kelompok usia 15-19 tahun yang terjangkit HIV/AIDS berjumlah 95 orang merupakan kelompok usia pelajar,” ujar dr Made Oka Negara, pengajar Andrologi dan Seksologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana kepada wartawan di Denpasar, Senin (30/5/2011).

Sementara, penyebab penularan HIV/AIDS dari jarum suntik atau IDU cendrung menurun. Penyebab melalui hubungan seksual justru bertambah.

Menurut dia, secara golongan usia maka bisa disimpulkan bahwa tingkat SMP sudah terkena HIV/AIDS.



Oka memaparkan, kelompok usia pelajar yang masih tergolong remaja, sangat rentan terhadap ancaman HIV/AIDS. "Mereka secara psikologis sangat labil sehingga mudah terpengaruh hal-hal yang berbau negatif seperti narkoba dan perilaku seks bebas,” bebernya.

Karena itu, remaja perlu dibekali informasi yang tepat dan hal ini merupakan tanggung jawab semua pihak, yakni pemerintah, orangtua, guru, serta kalangan LSM.

“Remaja perlu dibentuk sebagai pribadi mandiri dan bertanggung jawab agar bisa memilah dan memilih mana hal yang baik dan benar,” ujar Oka yang juga konselor dan dokter klinik Remaja Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Bali.

Fakta lain yang tak kalah mencengangkan, lanjut Oka, pihaknya pernah menemukan kasus kelompok pelajar SMP yang sudah aktif melakukan hubungan seksual setiap pekannya secara rutin dengan mendatangi lokalisasi.

“Ada yang mengaku sebelum berangkat sekolah pada pagi hari pergi ke lokalisasi untuk berhubungan seksual dengan PSK,” ucapnya. Ada istilah populer di kalangan mereka yakni mencari perawan alias PSK yang belum melayani pelanggan lain karena masih pagi hari.

Ironisnya lagi, para PSK juga tetap saja melayani mereka dan tidak mempedulikan apakah pelanggan mereka masih berstatus pelajar atau tidak. (okezone.com)

Kamis, 05 Mei 2011

Kepribadian Narsistik dan Facebook

Dalam ilmu psikologi, mereka yang memiliki kepribadian narsistik merupakan orang yang jauh lebih mencintai dirinya daripada orang lain. Akibatnya seringkali mereka sulit berempati kepada orang lain.

Kecuali narsis, orang yang tidak mampu mencintai juga egois, mau enak sendiri dan kurang percaya diri. Mereka juga sulit terikat dalam komitmen jangka panjang dengan satu pasangan. Makanya orang tipe ini sulit mengikatkan diri pada perkawinan monogami.

Menurut para ahli dari American Psychiatric Association, pada umumnya orang narsistik juga memiliki gangguan kepribadian lainnya, seperti histrionic personality disorder yang sangat ekspresif dalam menunjukkan emosinya.

Meski sebagai awam sulit mengenali ciri-ciri orang yang narsistik, namun sebuah penelitian yang dilakukan para ahli dari University Georgia, Amerika, menyebutkan bahwa laman profil di situs jejaring sosial Facebook bisa mengungkap kepribadian narsis seseorang.

Dalam studi yang mereka lakukan terhadap 130 pengguna Facebook ditemukan jumlah teman dan postingan dinding (wall post) berkaitan erat dengan tingkat kenarsisan seseorang. Orang yang narsis biasanya memiliki jumlah teman yang banyak namun sebenarnya tidak punya relasi yang dalam dengan orang-orang tersebut.



"Dalam kehidupan nyata juga demikian, mereka punya banyak teman tapi tidak ada yang dekat secara personal. Yang penting untuk mereka adalah kuantitas, bukan kualitas," kata Laura Buffardi, Ph.D, ketua peneliti yang risetnya dipublikasikan dalam jurnal Personality and Social Psychology Bulletin.

Facebook juga dipakai sebagai sarana untuk mempromosikan diri orang yang narsis. Karena itu mereka suka memasang foto profil yang menarik dan berbeda untuk membuat orang lain terpesona.

"Orang yang narsistik mungkin terlihat sebagai orang yang menarik hati namun sebenarnya mereka merasa diri lebih hebat. Mereka juga suka menggunakan orang lain untuk keuntungannya sendiri, dalam jangka panjang mereka akan melukai orang lain dan dirinya sendiri," kata W.Keith Campbell, salah seorang peneliti.

Meski begitu, Campbell mengatakan bukan berarti penggemar Facebook adalah orang yang narsis. "Orang yang narsistik menggunakan Facebook seperti mereka menggunakan relasi sosial lainnya, hanya untuk mempromosikan dirinya," katanya. (kompas.com)

Selasa, 03 Mei 2011

No Sex Sebelum Nikah Ternyata Lebih Nikmat

PARA ilmuwan dari Institute of Medicine di Utah, Amerika Serikat, telah menganalisis kehidupan bersama lebih dari 2.000 pasangan yang menikah dari berbagai usia, dan membuat beberapa pengamatan yang menarik.

Pasangan yang berhasil menjaga keperawanan sampai menikah dan melakukan malam pertama, maka hubungan intim dalam perkawinan mereka 21 persen dinilai lebih tinggi daripada suami dan istri yang punya kehidupan seks sebelum mengesahkan hubungan mereka.

Selain itu, orang-orang yang tidak ngeseks sampai menikah, 20 persen lebih merasa puas dengan hubungan dengan pasangan mereka. Pemahaman Mutual ini sepuluh persen lebih tinggi dari pasangan mereka.

Dan banyak kelompok yang memiliki "pantangan dari aktivitas seks sebelum menikah" mencatat bahwa kehidupan seks dalam perkawinan mereka terasa menakjubkan. Demikian yang dinukil dari Genius Beauty, Senin (2/5/2011).



Menurut banyak ahli, hubungan seksual antara suami dan istri tidak hanya komponen hubungan perkawinan bahagia. Namun, seks, atau lebih tepatnya tidak bercinta sampai tiba waktunya pernikahan, memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan pasca-perkawinan.

Penulis studi mengklaim, dampak positif tersebut disebabkan oleh fakta bahwa pada saat hubungan intim pertama pasangan sudah mengenal satu sama lain dalam cara yang sangat baik, dan memahami keinginan pasangan mereka pada tingkat intuisi. (okezone.com)

Senin, 07 Maret 2011

Penelitian: Makin Banyak Wanita Biseks

Kecenderungan wanita memiliki dua rekan seks dari dua lawan jenis alias biseksual kini makin banyak. Berdasar penelitian Centers for Disease Control and Prevention's National Center for Health Statistics (NCHS), jumlah wanita yang double-partners ini kian melambung.

National Center for Health Statistics meneliti perilaku seks 13.500 orang (pria dan wanita), dengan responden usia 15 – 44 tahun antara tahun 2006 - 2008.
Jumlah responden pria dan wanita sama, namun lebih banyak wanita yang biseksual. “Perempuan tiga kali lebih besar daripada laki-laki untuk mengidentifikasi sebagai biseksual,” kata Anjani Chandra, seorang ilmuwan kesehatan di NCHS dan penulis utama studi tersebut.

Wanita usia 15 - 44 tahun dua kali lebih mungkin memiliki hubungan biseksual dari pada pria. Sekitar 12,5 persen wanita melaporkan setidaknya memiliki pengalaman biseksual. Sedang pria hanya 5,2 persen. Chandra menyatakan, pengalaman biseksual di kalangan wanita kuliah bukan cuma sekadar percobaan.

Fakta lain yang ditemukan dari penelitian ini adalah makin banyak yang menganggap suci (belum pernah berhubungan seks) sebagai tren. Baik itu dalam bentuk hubungan oral, vaginal, ataupun anal.

Tak kurang 27 persen responden pria dari rentang usia 15 - 24 tahun yang tidak pernah kontak seksual. Angka ini naik dibanding pada 2002, yang menunjukkan 22 persen responden yang tak memiliki hubungan seksual.

Begitu pula dari kaum hawa. Sebanyak 29 persen wanita dari kelompok usia yang sama belum pernah melakukan hubungan seks. Angka ini juga naik dari 22 persen pada saat studi terakhir.

Angka keperawanan juga makin naik di antara gadis di rentang usia 15 – 19 tahun.

Pada responden usia 25 - 44 tahun, hampir semuanya mengaku sudah melakukan hubungan seks. Sekitar 98 persen wanita dan 97 persen pria mengaku telah melakukan hubungan vaginal, 89 persen wanita dan 90 persen pria pernah melakukan seks oral dengan lawan jenis, dan 36 persen perempuan dan 44 persen laki-laki memiliki hubungan seks anal dengan lawan jenis. (temponterakitf.com)

Surat Keterangan Akreditasi FKM UNDIP

Bagi teman-teman yang membutuhkan informasi tentang Akreditasi FKM UNDIP... Silahkan download file di bawah ini... file sudah saya perb...

Find Us on Facebook

Blog Archives

Do Before You Die

Do Before You Die

Visitors


pinjaman utang