journey healthy future

Tampilkan postingan dengan label Minum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Minum. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Maret 2014

Sembarangan Minum Antibiotik, Hati-hati Tubuh Menggemuk


Jakarta, Tidak semua penyakit bisa diobati dengan antibiotik. Sembarangan mengonsumsinya tidak hanya akan membuat bakteri kebal, tetapi juga berdampak pada berat badan Anda. Mengapa bisa begitu?

"Makin sering minum antibiotik, tubuh makin sering sakit. Makin sering minum antibiotik, risiko tubuh makin gemuk lebih besar," tutur dr Purnamawati S Pujianto, SpAK, MMPed, penasehat Yayasan Orang Tua Peduli (YOP), dalam acara Diskusi Media 'Bakteri: Kawan atau Lawan?' di Restoran Gemoelai, Jl Panglima Polim V no 60, Jakarta, Kamis (6/3/2014).


Hal tersebut diamini oleh Satya Sivaraman, Communication Adviser dari ReAct (Action on Antibiotic Resistance), Menurutnya, hubungan antara penggunaan antibiotik dan kegemukan bisa dilihat dari hewan-hewan di peternakan. Beberapa peternakan sapi sengaja memberi hewan ternaknya antibiotik. Bukan untuk mengobati penyakit yang berhubungan dengan bakteri, melainkan agar sapi semakin gemuk dan meningkatkan harga jual.


"Ini juga terkait pada obesitas yang dialami anak-anak, karena terlalu sering diberi antibiotik," jelas Satya.


Antibiotik diresepkan untuk membasmi bakteri jahat yang menyerang tubuh dan menyebabkan infeksi. Tapi terlalu sering mengonsumsinya dapat merusak keseimbangan bakteri baik dalam usus secara permanen. Akibatnya, sistem metabolisme tubuh akan terganggu dan risiko kegemukan pun semakin besar.


Antibiotik juga dapat mengganggu tingkat hormon yang dapat membuat tubuh merasa lebih lapar. Hal tersebut telah dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan ilmuwan dari New York University Medical Center Langone.




(mer/vit)




Powered By WizardRSS.com | Info CPNS Terlengkap | Bisnis Dari Rumah | Kerja Sambil Bisnis

View the original article here

Kamis, 06 Maret 2014

Tak Kena Bakteri Tapi Telanjur Minum Antibiotik, Apakah Harus Dihabiskan?


Jakarta, Saat memberi resep antibiotik, dokter biasanya akan meminta pasien untuk menghabiskan obatnya agar bakteri tak menjadi resisten (kebal obat). Tetapi ketika tidak terinfeksi bakteri dan pasien telanjur minum antibiotik, apakah tetap harus dihabiskan?

"Ibaratnya kita mau ke Restoran Gemoelai tapi nyasar dulu ke arah Blok M. Apakah kita terus lanjut aja sampai Blok M? Kan tidak, ya berhenti dan cari tahu," jelas dr Purnamawati S Pujianto, SpAK, MMPed, penasehat Yayasan Orang Tua Peduli (YOP), dalam acara Diskusi Media 'Bakteri: Kawan atau Lawan?' di Restoran Gemoelai, Jl Panglima Polim V No 60, Jakarta, Kamis (6/3/2014).


Berhenti dan mencari tahu juga perlu dilakukan ketika seorang pasien yang tidak terinfeksi bakteri telanjur minum antibiotik. Menurut dr Wati, antibiotik yang sudah telanjur diminum harus segera dihentikan ketika diketahui ternyata penyakit yang diderita pasien bukanlah disebabkan oleh bakteri.


"Kadang-kadang butuh waktu untuk diagnosis, kultur darah (pemeriksaan laboratorium). Ketika diagnosis mengindikasikan bakteri, pasien sementara dikasih antibiotik. Tapi diagnosis kan klinis, jadi begitu hasil kultur darah keluar dan tidak ada bakteri, maka antibiotiknya harus dihentikan," kata dr Wati.


Bila tubuh tidak terinfeksi bakteri dan terus diberi antibiotik, dampaknya bisa membunuh bakteri-bakteri baik yang berperan dalam sistem tubuh.


Akibatnya, bakteri jahat akan berpesta-pora karena 'kavling' yang ditadinya dihuni oleh bakteri baik sudah tak lagi berpenghuni. Tubuh akan lebih mudah sakit, bakteri jahat akan semakin kebal, dan tak lagi mempan dengan antibiotik ketika bakteri jahat benar-benar menyerangnya.


"Kalau kita sayang anak, sayang orang tua, bijaklah menggunakan antibiotik sehingga ketika benar-benar butuh, tidak susah mengobatinya. Menemukan antibiotik baru itu butuh waktu lama, jangan sampai antibiotik punah," tutup dr Wati.


(mer/vit)




Powered By WizardRSS.com | Info CPNS Terlengkap | Bisnis Dari Rumah | Kerja Sambil Bisnis

View the original article here

Mau Langsing? Jangan Minum Antibiotik

INILAHCOM, Jakarta- Gemuk tidak hanya dari makanan yang Anda konsumsi. Obat pun bisa membuat Anda gemuk, salah satunya yaitu antibiotik.

"Jadi kalau mau tetap punya tubuh slim (langsing) ya jangan minum antibiotik," urai Satya Sivaraman, Communication Adviser dari ReAct (Action on Antibiotic Resistance) dalam Media Briefing 'Bakteri: Kawan atau Lawan?' di Jakarta, Kamis (06/03/2014).

Apa kaitannya antibiotik dengan kegemukan? Pria asal India ini menerangkan, contohnya bisa terlihat dari hewan-hewan di peternakan. Misalnya seperti sapi yang sengaja mengkonsumsi makanan bercampur antibiotik atau obat antibiotik secara langsung.

Tujuannya, tentu bukan karena si hewan ternak sedang menderita sakit, tapi lebih agar sapi semakin gemuk dan akhirnya meningkatkan harga jual.

"Ini juga terkait pada obesitas yang dialami anak-anak, karena terlalu sering diberi antibiotik," lanjut dia.

Sementara dokter spesialis anak Purnamawati S Pujianto, SpAK, dalam acara sama mengatakan, berlebihan mengkonsumsi antibiotik memiliki dampak yang lebih besar selain dari badan yang membesar.

Salah satunya yaitu bakteri menjadi menolak antibiotik sehingga mempersulit pengobatan untuk penyembuhan.

"Jadi mind-set yang harus diubah, bahwa kalau sakit agar tidak infeksi harus minum antibiotik. Karena sebagian besar infeksi itu ringan bisa sembuh sendiri jadi tidak perlu antibiotik," jelas dia.

Sakit itu, lanjut Purnamawati, sebenarnya adalah proses alami yang terjadi pada tubuh untuk merangsang sistem imun. Sehingga tidak harus selalu mengkonsumsi antibiotik untuk menyembuhkannya.

"Ada yang beraggapan kalau sakit kalau belum minum antibiotik belum lengkap pengobatannya, lama penyembuhannya, ini yang salah lagi, antibiotik bukan mempercepat penyembuhan," tandas dia. [aji]



Powered By WizardRSS.com | Full Text RSS Feed | RFID | Amazon Affiliate

View the original article here

Anak Sakit Tak Selalu Harus Minum Antibiotik

INILAHCOM, Jakarta- Tidak semua anak-anak sakit membutuhkan antibiotik untuk penyembuhan. Nyatanya sebanyak 80% penyakit yang biasa anak-anak idap berasal dari virus sehingga tak membutuhkan antibiotik.

"Sebanyak 80% penyakit pada anak-anak penyebabnya adalah virus, infeksi yang disebabkan oleh virus tidak membutuhkan antibiotik," terang dokter spesialis anak Purnamawati S. Pujiarto SpAK, dalam Media Briefing Bijak Antibiotik oleh Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) dan ReAct (Action on Antibiotic Resistance) di Jakarta, Kamis (06/03/2014).

Penyakit yang Purnamawati maksud antara lain, yaitu selesma atau common cold, flu, batuk dan juga diare.

Sementara antibiotik adalah obat yang umumnya untuk penyakit yang penyebabnya adalah bakteri. Itu pun harus tepat penggunaannya.

Dokter yang juga penasehat YOP ini menyayangkan, banyaknya orang tua yang buru-buru memberikan atau meminta antibiotik ketika anaknya terserang batuk atau pilek.

Sementara untuk diare, Purnamawati mengatakan, selain minum oralit sebagai obat, orang tua harus memastikan agar anak-anaknya tetap terhidrasi atau menjaga kebutuhan cairan sehingga tubuh bisa melakukan penyembuhan dengan sendirinya.

Purnamawati melanjutkan, ada pandangan salah selama ini pada orang tua tentang kebutuhan akan antibiotik ketika anak mereka sakit. Mind set yang salah ini yang seharusnya dirubah.

"Banyak yang beranggapan kalau tidak minum antibiotik tidak lengkap pengobatannya, lama penyembuhannya. Padahal antibiotik bukan mempercepat penyembuhan," terang dia.

Studi YOP tahun 2010 menunjukkan, anak-anak penderita infeksi virus, yang bisa sembuh dengan sendirinya tanpa obat-obatan, yaitu demam mendapat antibiotik sebesar 86,4% kasus. Demikian juga dengan diare sebesar 74,1%.

Para orangtua, lanjut Purnamawati, harus bijak dalam pemberian antibiotik yaitu dengan tidak sembarangan memberi antibiotik, apalagi dengan membelinya tanpa resep dokter.

Selain itu orangtua pun juga harus jadi pasien yang bijak ketika berobat ke dokter. Mereka sebaiknya menanyakan tiga hal ketika berkonsultasi ke dokter, baik ketika anak-anak mereka sakit atau anggota keluarga lainnya termasuk dirinya.

Pertama tentang diagnosis penyakit, tatalaksana penyakit dan kapan harus cemas. Jika mendapat obat, pasien sebaiknya bertanya apakah benar-benar membutuhkan obat, apa kandungan aktifnya, bagaimana cara kerjanya, apa risiko efek sampingnya, kontraindikasi dan cara pakainya. Juga sebaiknya meminta obat generik. [aji]



Powered By WizardRSS.com | Full Text RSS Feed | RFID | Amazon Affiliate

View the original article here

Selasa, 04 Maret 2014

Minum Kopi Efektif Turunkan Berat Badan, Asal.

MINUM kopi tidak selalu berdampak buruk untuk kesehatan Anda. Bahkan, minum kopi bisa membantu Anda menurunkan berat badan.

Memang terdengarnya sedikit aneh, karena biasanya kebanyakan orang menganggap minum kopi dapat meningkatkan berat badan. Namun, minum kopi benar-benar dapat menurunkan berat badan bila dikonsumsinya dengan tepat sebagaimana dilansir Boldsky berikut ini.

Konsumsi pada batas wajar

Kopi baik untuk kesehatan asalkan dikonsumsi dalam batas yang wajar. Terlalu banyak krim kopi yang kaya gula tidak dapat membantu menurunkan berat badan, bahkan menjadi pemicu lonjakan lemak. Selain itu, minum kopi berlebihan dapat menyebabkan depresi yang pada akhirnya mengakibatkan makan berlebihan.

Diminum sebelum berolahraga

Untuk merasakan manfaat penurunan berat badan dari minum kopi, kurangilah gula dan krim, dan pilihlah bukan kopi yang manis, cukup kafein. Hal ini karena kafein dapat meningkatkan energi dan metabolisme tubuh, sehingga bermanfaat diminum sebelum berolahraga. Hal ini akan meningkatkan fokus, energi, dan stamina yang dibutuhkan.

Minum di malam hari bersama salad

Kopi cenderung mengurangi rasa lapar. Oleh karena itu, untuk menurunkan berat badan, Anda harus minum secangkir kopi setelah makan malam. Namun, makan terlalu larut malam dapat menyebabkan kenaikan berat badan. Oleh karena itu, makan salad di malam baik untuk menurunkan berat badan dan secangkir kopi tentunya.

Campurkan kopi

Kopi saja tidak akan begitu efektif dalam penurunan berat badan. Kopi yang tidak murni atau kopi yang sudah dicampur seperti capucino meningkatkan efektifitas diet penurunan berat badan. Secangkir kopi di malam hari dapat membantu mengekang keinginan untuk ngemil snack yang tidak sehat. (ind)





Powered By WizardRSS.com | Full Text RSS Feed | RFID | Amazon Affiliate

View the original article here

Tak Bisa Minum Susu karena Intoleran Laktosa? Akali dengan Diet Ini

Jakarta, Beberapa orang memiliki kondisi intoleran laktosa yang membuatnya tak bisa mengonsumsi produk olahan susu. Meski tampaknya menyulitkan, Anda bisa tetap sehat dan memenuhi kebutuhan nutrisi sehari-hari dengan menerapkan diet tertentu, lho.

Disebut sebagai gangguan genetik, beberapa ahli menyebutkan penyebab utama munculnya intoleran laktosa adalah karena kurangnya laktase, enzim pencernaan dalam usus yang membantu proses pencernaan laktosa. Laktosa sendiri merupakan gula alami yang ditemukan dalam susu, termasuk produk olahannya.

Keluhan yang sering dirasakan oleh mereka yang memiliki kondisi ini adalah munculnya rasa mual, kembung, dan bahkan nyeri setelah minum susu. Meskipun tampaknya tak serius, intoleran laktosa membatasi diet seseorang dan berakibat mengurangi asupan penting yang terdapat dalam susu, termasuk kalsium, lemak dan protein.

"Susu dan produk olahannya menjaga daya tahan tubuh dan menguatkan tulang. Studi telah menemukan bahwa anak-anak yang menerapkan diet seimbang dengan asupan susu tumbuh lebih cepat dan sehat dibandingkan anak-anak yang jarang minum susu," ungkap seorang ahli gizi, Anjali Mahrse, seperti dikutip dari Health Me Up, Selasa (4/3/2014).

Aturan utama yang perlu diperhatikan oleh mereka yang intoleran laktosa menurut pandangan dokter umum, Dr Rahul Warshney, adalah dengan menghindari konsumsi susu murni, mentega asin, minuman yang terbuat dari susu dan keju. Nah, Anda tetap bisa 'menutupi' kekurangan nutrisi dalam susu dengan cara mengonsumsi beberapa alternatif berikut dalam diet sehari-hari:

1. Dadih
Yoghurt tradisional khas Minangkabau yang terbuat dari susu kerbau ini sangat baik untuk kesehatan pencernaan. Konsumsi semangkuk dadih tawar tanpa pemanis setelah makan akan meningkatkan kadar bakteri baik dalam usus, yang pada akhirnya membantu proses pencernaan makanan tanpa efek mual dan kembung.

2. Kopi hitam
Dianjurkan bagi Anda untuk minum secangkir kopi hitam setelah makan siang. Kafein dalam kopi hitam akan membantu menenangkan sistem pencernaan.Next

(ajg/vit)


Powered By WizardRSS.com | Full Text RSS Feed | RFID | Amazon Affiliate

View the original article here

Surat Keterangan Akreditasi FKM UNDIP

Bagi teman-teman yang membutuhkan informasi tentang Akreditasi FKM UNDIP... Silahkan download file di bawah ini... file sudah saya perb...

Find Us on Facebook

Blog Archives

Do Before You Die

Do Before You Die

Visitors


pinjaman utang