Ketahanan Gizi dengan Memberi Tambahan Makanan pada Anak
Kemiskinan merupakan pokok akar masalah gizi buruk. Persentase anak gizi kurang dan gizi buruk berbanding terbalik dengan pendapatan.Semakin kecil pendapatan penduduk, semakin tinggi persentase anak kekurangan gizi, semakin tinggi pendapatan, semakin kecil persentase gizi buruk.ZAT gizi adalah bahan dasar yang menyusun bahan makanan. Zat gizi dikenal ada lima yaitu; protein, kharbohidrat, vitamin, dan mineral, tapi para ahli gizi memasukan air dan oksigen sebagai zat gizi dengan alasan digunakan dalam proses metabolisme tubuh, tapi pendapat lain air dan oksigen tak masuk dan gizi karena zat ini mudah didapat dan tunggal.
Dalam susunan hidangan Indonesia berbagai bahan makanan dapat dikelompokan menjadi 4 kelompok, (1) bahan makan pokok, (2) bahan makan lauk-pauk, (3) kacang-kacangan, tahu, tempe dan sayur-sayuran (4) buah-buhan, seperti pisang.
Kalau melihat kategori status gizi yang penting ialah berat badan/umur (BB/u), tinggi badan/umur, berat badan/tinggi badan. Kita di Indonesia sepanjang diketahui dibagi atas gizi lebih, gizi baik, gizi kurang, gizi buruk. Semua ini memiliki cerita.
Secara umum di Indonesia untuk melakukan atau melihat berat badan di lakukan dengan menimbang si balita suatu parameter yang menggambarkan masa tubuh.
Masa tubah sangat sensitive terhadap perubahan yang mendadak, karena terserang penyakit seperti infeksi, menurunnya nafsu makan/menurunya jumlah makanan yang dikonsumsi.
Berat badan adalah parameter yang sangat labil. Dalam keadaan normal dimana keadaan kesehatan baik dan keseimhangan antara konsumsi dan kebutuhan zat gizi terjamin maka berat badan mengikuti patokan umur.
Faktor umur sangat penting dalam menentukan status gizi. Kesalahan menentukan umur akan menyebabkan interpelasi status gizi menjadi salah. Hasil pengukuran tinggi badan dan berat badan yang akurat menjadi tidak berarti bila tak disertai dengan penentuan umur yang tepat.
Menurut orang pintar hatasan umur yang digunakan adalah tahun umur penuh (completed year) dan untuk anak umur 0-2 tahun digunakan bulan usia penuh (completed month) sebagai contoh tahun usia penuh, umur lima tahun dua bulan dihitung lima tahun, contoh bulan penuh usia empat bulan lima hari dihitung empat bulan dan sebagainya. Umumnya di pedesaan keluarga tidak memiliki catatan, mereka menyebutnya satu setengah tahun dan seterusnya.
Patogenisis Penyakit Gizi
Perjalanan penyakit gizi kurang dan seterusnya melalui lima tahap (1) ketidakcukupan zat gizi. Apabila ketidakcukupan zat gizi ini berlangsung lama maka persediaan/cadangan jaringan akan digunakan ketidakcukupan itu.
Apabila ini cukup lama akan terjadi kemerosotan jaringan yang ditandai dengan penurunan berat badan. Kemudian terjadi perubahan biokimia yang dapat dideteksi dengan pemeriksaan laboratorium. Akhirnya terjadi perubahan fungsi khas yaitu perubahan anatomi.
Kemiskinan merupakan pokok akar masalah gizi buruk. Persentase anak gizi kurang dan gizi buruk berbanding terbalik dengan pendapatan. Semakin kecil pendapatan penduduk, semakin tinggi persentase anak kekurangan gizi, semakin tinggi pendapatan, semakin kecil persentase gizi buruk. Kekurangan gizi berpotensi sebagai penyebab kemiskinan melalui rendahnya pendidikan dan produktivitas.
Karena problem kemiskinan bersifat multidimensi, strategi penanggulangan harus bersifat multidimensi juga. Selama ini dilakukan oleh yang mengatasnamakan pemerintah hanya bersifat ekonomi (BLT, beras raskin, pengobatan Jamkesmas dan lain-lain) semata-mata sehingga apabila kebutuhan ekenomi terpenuhi seolah-olah proyek kemiskinan di anggap selesai.
Kalau lebih jauh lagi melihat pemerintah dalam mengurangi angka kemiskinan 31,02 juta jiwa pada 2010 tapi kenyataan di lapangan penerimaan beras miskin (raskin) rakyat miskin tahun 2010 mencapai 72 juta jiwa begitu juga dengan Jamkesmas mencapai 76,4 juta jiwa.
Data tahun 2010 orang miskin sebanyak 13,33 persen total penduduk Indonesia sebagai kemiskinan makro.
Data ini hanya menunjukan istimasi jumlah dan persentase penduduk miskin yang berguna untuk perencanaan dan evaluasi program kemiskiaan dengan target geoktafi(Kecuk Hariyanto).
Data ini tak dapat menunjukkan siapa, dimana penduduk miskin sehingga tidak operasional (istilah dalam penelitian) untuk program penyaluran BLT, beras rakyat miskin dan Jamkesmas.
Bantuan langsung tak dapat dilakukan sebab tak bisa pakai data kemiskinan mikro karena-nya harus ada sensus sampel dan lainnya.
Jumlah rumah tangga sasaran (RTS) pada 2008 sebanyak 17 juta jiwa. Jadi ada warga negara miskin dan hampir miskin (indikatornya apa).
Penelitian
Penulis mencoba meneliti hubungan antara berat badan dan program PMT di Posyandu yang berada di Desa Kubuan Kecamatan Tanjungpura sampel diambil 13 orang sampel acak.
Dalam penelitian ini dipakai paired t.test ternyata Th>Tt maka hipotesa nol ditolak berarti ada perbedaan berat badan pertama kali ditimbang dan diheri PM-F, vitamin dengan berat badan 6 bulan kemudian di timbang kembali, jadi program PMT tambahan pemberian vitamin tambah susu formula yang dilakukan di Desa Kubuan Tanjungpura sangat baik.
Ini berkat adanya komunikasi di tingkat pedesaan yaitu dengan memperkenalkan teori Roger (1974) mulai dari awareness, interest evaluation trial dan akhir adoption. Demikianlah kiranya Pemda Tingkat II memberikan anggaran APBD memasukan anggaran untuk PMT serta susu pendamping asi.
Dengan teori Roger ini, kita membuat mereka sadar, hanya dengan menimbang berat badan si balita dapat diketahui apakah balita kurang gizi. Ini di ketahui mereka dengan menimbang dimana berat badan balita naik atau turun. Penimbangan ini dilakukan di setiap bulan. Yang penulis ambil adalah saat penimbangan pertama dan enam bulan kemudian di ulang lagi.
Dari uraian yang tertera dalam tabel data-data dapat menunjukan seperti di bawah ini:
1. Ho : tak ada perbedaan data berat badan balita sekaligus diberi PMT tambah vitamin (sejak pertama kali ditemukan/di posyandu dan sesudah 6 bulan berat badan balita di timbang kembali)
2. Ha : ada perbedaan antara penimbangan pertama dan sesudah 6 bulan tambah PM l, tambah susu dengan balita berat badan sesudah 6 bulan kemudian
3. Jenis statistic yang dipakai Paired T-test. Tingkat singniflkan (p=0,05) dp=n-1=13-1=12 titik kritis Tt 2,179.
4. Dimana 5,8 /13 = 0,446
Sa. - _ = 0,668 Thiturtg _-_ 2,41 ,41
Karena Th ( 2,410 > Tt (2,179) maka hipotesa 0 ditolak berarti data berat badan pertama di temukan yang datang ke posyandu dan di timbang dan diberikan PMT tambah vitamin dengan 6 bulan kemudian di timbang kembali. Berarti ada kemajuan pemberian PMT serta vitamin-vitamin. Hendaknya program ini di lakukan sepanjang tahun.
Oleh : HM.Idris Pane
Penulis Adalah dokter mantan Dokabu Kabupaten Langkat Sl (dokter) USU. S2(FKM) UI (analisisdaily.com)

