-
Di Sawahlunto, Ada Destinasi Wisata Suasana Eropa - Mau berwisata cantik layaknya di Eropa? Tidak perlu jauh-jauh. Langkahkan saja kaki Anda ke Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Kota ini menawarkan sensasi E...
Rabu, 02 November 2011
Kamis, 14 April 2011
Ketahanan Gizi dengan Memberi Tambahan Makanan pada Anak
Posted by admin |
No Comments |
Kemiskinan merupakan pokok akar masalah gizi buruk. Persentase anak gizi kurang dan gizi buruk berbanding terbalik dengan pendapatan.Semakin kecil pendapatan penduduk, semakin tinggi persentase anak kekurangan gizi, semakin tinggi pendapatan, semakin kecil persentase gizi buruk.ZAT gizi adalah bahan dasar yang menyusun bahan makanan. Zat gizi dikenal ada lima yaitu; protein, kharbohidrat, vitamin, dan mineral, tapi para ahli gizi memasukan air dan oksigen sebagai zat gizi dengan alasan digunakan dalam proses metabolisme tubuh, tapi pendapat lain air dan oksigen tak masuk dan gizi karena zat ini mudah didapat dan tunggal.
Dalam susunan hidangan Indonesia berbagai bahan makanan dapat dikelompokan menjadi 4 kelompok, (1) bahan makan pokok, (2) bahan makan lauk-pauk, (3) kacang-kacangan, tahu, tempe dan sayur-sayuran (4) buah-buhan, seperti pisang.
Kalau melihat kategori status gizi yang penting ialah berat badan/umur (BB/u), tinggi badan/umur, berat badan/tinggi badan. Kita di Indonesia sepanjang diketahui dibagi atas gizi lebih, gizi baik, gizi kurang, gizi buruk. Semua ini memiliki cerita.
Secara umum di Indonesia untuk melakukan atau melihat berat badan di lakukan dengan menimbang si balita suatu parameter yang menggambarkan masa tubuh.
Masa tubah sangat sensitive terhadap perubahan yang mendadak, karena terserang penyakit seperti infeksi, menurunnya nafsu makan/menurunya jumlah makanan yang dikonsumsi.
Berat badan adalah parameter yang sangat labil. Dalam keadaan normal dimana keadaan kesehatan baik dan keseimhangan antara konsumsi dan kebutuhan zat gizi terjamin maka berat badan mengikuti patokan umur.
Faktor umur sangat penting dalam menentukan status gizi. Kesalahan menentukan umur akan menyebabkan interpelasi status gizi menjadi salah. Hasil pengukuran tinggi badan dan berat badan yang akurat menjadi tidak berarti bila tak disertai dengan penentuan umur yang tepat.
Menurut orang pintar hatasan umur yang digunakan adalah tahun umur penuh (completed year) dan untuk anak umur 0-2 tahun digunakan bulan usia penuh (completed month) sebagai contoh tahun usia penuh, umur lima tahun dua bulan dihitung lima tahun, contoh bulan penuh usia empat bulan lima hari dihitung empat bulan dan sebagainya. Umumnya di pedesaan keluarga tidak memiliki catatan, mereka menyebutnya satu setengah tahun dan seterusnya.
Patogenisis Penyakit Gizi
Perjalanan penyakit gizi kurang dan seterusnya melalui lima tahap (1) ketidakcukupan zat gizi. Apabila ketidakcukupan zat gizi ini berlangsung lama maka persediaan/cadangan jaringan akan digunakan ketidakcukupan itu.
Apabila ini cukup lama akan terjadi kemerosotan jaringan yang ditandai dengan penurunan berat badan. Kemudian terjadi perubahan biokimia yang dapat dideteksi dengan pemeriksaan laboratorium. Akhirnya terjadi perubahan fungsi khas yaitu perubahan anatomi.
Kemiskinan merupakan pokok akar masalah gizi buruk. Persentase anak gizi kurang dan gizi buruk berbanding terbalik dengan pendapatan. Semakin kecil pendapatan penduduk, semakin tinggi persentase anak kekurangan gizi, semakin tinggi pendapatan, semakin kecil persentase gizi buruk. Kekurangan gizi berpotensi sebagai penyebab kemiskinan melalui rendahnya pendidikan dan produktivitas.
Karena problem kemiskinan bersifat multidimensi, strategi penanggulangan harus bersifat multidimensi juga. Selama ini dilakukan oleh yang mengatasnamakan pemerintah hanya bersifat ekonomi (BLT, beras raskin, pengobatan Jamkesmas dan lain-lain) semata-mata sehingga apabila kebutuhan ekenomi terpenuhi seolah-olah proyek kemiskinan di anggap selesai.
Kalau lebih jauh lagi melihat pemerintah dalam mengurangi angka kemiskinan 31,02 juta jiwa pada 2010 tapi kenyataan di lapangan penerimaan beras miskin (raskin) rakyat miskin tahun 2010 mencapai 72 juta jiwa begitu juga dengan Jamkesmas mencapai 76,4 juta jiwa.
Data tahun 2010 orang miskin sebanyak 13,33 persen total penduduk Indonesia sebagai kemiskinan makro.
Data ini hanya menunjukan istimasi jumlah dan persentase penduduk miskin yang berguna untuk perencanaan dan evaluasi program kemiskiaan dengan target geoktafi(Kecuk Hariyanto).
Data ini tak dapat menunjukkan siapa, dimana penduduk miskin sehingga tidak operasional (istilah dalam penelitian) untuk program penyaluran BLT, beras rakyat miskin dan Jamkesmas.
Bantuan langsung tak dapat dilakukan sebab tak bisa pakai data kemiskinan mikro karena-nya harus ada sensus sampel dan lainnya.
Jumlah rumah tangga sasaran (RTS) pada 2008 sebanyak 17 juta jiwa. Jadi ada warga negara miskin dan hampir miskin (indikatornya apa).
Penelitian
Penulis mencoba meneliti hubungan antara berat badan dan program PMT di Posyandu yang berada di Desa Kubuan Kecamatan Tanjungpura sampel diambil 13 orang sampel acak.
Dalam penelitian ini dipakai paired t.test ternyata Th>Tt maka hipotesa nol ditolak berarti ada perbedaan berat badan pertama kali ditimbang dan diheri PM-F, vitamin dengan berat badan 6 bulan kemudian di timbang kembali, jadi program PMT tambahan pemberian vitamin tambah susu formula yang dilakukan di Desa Kubuan Tanjungpura sangat baik.
Ini berkat adanya komunikasi di tingkat pedesaan yaitu dengan memperkenalkan teori Roger (1974) mulai dari awareness, interest evaluation trial dan akhir adoption. Demikianlah kiranya Pemda Tingkat II memberikan anggaran APBD memasukan anggaran untuk PMT serta susu pendamping asi.
Dengan teori Roger ini, kita membuat mereka sadar, hanya dengan menimbang berat badan si balita dapat diketahui apakah balita kurang gizi. Ini di ketahui mereka dengan menimbang dimana berat badan balita naik atau turun. Penimbangan ini dilakukan di setiap bulan. Yang penulis ambil adalah saat penimbangan pertama dan enam bulan kemudian di ulang lagi.
Dari uraian yang tertera dalam tabel data-data dapat menunjukan seperti di bawah ini:
1. Ho : tak ada perbedaan data berat badan balita sekaligus diberi PMT tambah vitamin (sejak pertama kali ditemukan/di posyandu dan sesudah 6 bulan berat badan balita di timbang kembali)
2. Ha : ada perbedaan antara penimbangan pertama dan sesudah 6 bulan tambah PM l, tambah susu dengan balita berat badan sesudah 6 bulan kemudian
3. Jenis statistic yang dipakai Paired T-test. Tingkat singniflkan (p=0,05) dp=n-1=13-1=12 titik kritis Tt 2,179.
4. Dimana 5,8 /13 = 0,446
Sa. - _ = 0,668 Thiturtg _-_ 2,41 ,41
Karena Th ( 2,410 > Tt (2,179) maka hipotesa 0 ditolak berarti data berat badan pertama di temukan yang datang ke posyandu dan di timbang dan diberikan PMT tambah vitamin dengan 6 bulan kemudian di timbang kembali. Berarti ada kemajuan pemberian PMT serta vitamin-vitamin. Hendaknya program ini di lakukan sepanjang tahun.
Oleh : HM.Idris Pane
Penulis Adalah dokter mantan Dokabu Kabupaten Langkat Sl (dokter) USU. S2(FKM) UI (analisisdaily.com)
Rabu, 30 Maret 2011
Generasi Perokok
Posted by admin |
No Comments |
Pemerintah sedang disorot pembahasan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang rokok. Content RPP yang akan memberlakukan jumlah rokok dalam kemasan hingga gambaran terburuk akibat rokok belum seluruhnya disambut positif.Bahkan, sejumlah daerah telah memprotes RPP yang tengah digodok Kemeterian Kesra itu. Mereka berdalih pembatasan rokok berakibat pada petani tembakau akan kehilangan pendapatan.
Di sisi lain, pemerintah memang perlu berbuat sesuatu untuk menyehatkan rakyatnya dari bahaya rokok kendati harus kehilangan Rp 63 triliun per tahun dari cukai rokok. Apalagi, sejumlah negara telah meratifikasi UU anti tembakau untuk mereduksi pemakaian tembakau dan zat adiktif di negaranya. Jika tidak, Indonesia akan dikucilkan kendati saat ini duduk kepada ketua ASEAN.
Kebebasan merokok dan perilaku merokok menyebabkan jumlah perokok terus meningkat. Sekitar 65 juta dari 235 juta penduduk Indonesia sebagai perokok aktif. Belum lagi hitungan perokok pasif yang umumnya para generasi muda dan kaum pelajar.
Sebagai cotoh perilaku merokok di Aceh. Seorang mahasiswa luar Aceh nyaris tak percaya dengan kondisi sebuah kampus kesehatan di Banda Aceh sangat leluasa bagi perokok. Para mahasiswa dengan bebas dan nyaman membeli rokok di lingkungan kampus. Kantin kampus setempat pun menyediakan semua jenis rokok yang menjadi pilihan mahasiswa. Nuansa merokok sangat kental menyamai pemandangan merokok di pasar-pasar tradisional. Dia tidak habis pikir, di kampus kesehatan, kebiasaan dan perilaku merokok menyamai pasar.
Mahasiswa ini pun menghitung frekuensi merokok tanpa jeda. Rest area atau kantin berubah menjadi arena kompetisi merokok bagi mahasiswa juga staf kampus tersebut. Kepulan asap rokok tak pernah putus dalam interval satu jam. Rokok hampir saja menjadi "kudapan" wajib bagi mereka yang memang menikmati atmosfir merokok, padahal itu masih dalam kawasan kampus kesehatan.
Bunuh Diri
Rokok bukan saja konsumsi mereka yang dewasa atau remaja, tapi juga anak-anak. Anak usia sekolah dasar sudah terbiasa dengan rokok. Bahkan, mereka tak segan meminta orang lain untuk membakar rokoknya. Kalau pun dilarang, mereka dengan santai berkilah bahwa merokok untuk menghilangkan masalah. Merokok telah merambah ke semua lapisan masyarakat dan jenjang usia. Jumlahnya makin bertambah seiring pengaruh iklan rokok yang membohongi publik.
Anak usia sekolah yang sebelumnya perokok pasif, malah jadi perokok aktif. Bukan hal tabu, ketika melihat siswa sekolah santai menikmati rokok saat menuju ke sekolah. Bahkan tanpa merasa bersalah, mereka mengepulkan asap rokok di depan sekolah saat kegiatan belajar-mengajar masih berlangsung. Sangat bertolak belakang dengan kondisi di era 80-an ketika rokok menjadi "barang haram" bagi anak usia sekolah.
Menurut survei Global Youth Tobacco Survey (GYTS) antara tahun 2004-2006 di enam lokasi sekolah kota besar di Indonesia menemukan 24 hingga 41 persen siswa berusia 13-15 tahun adalah perokok. Bahkan 83 hingga 93 persen anak perokok yang mencoba berhenti merokok tidak berhasil.
Perokok di Indonesia 63 persen adalah lelaki. Konsumsi tembakau menyebabkan 200 ribu orang meninggal dunia per tahun. Satu dari delapan orang meninggal bukan disebabkan langsung atau dialami perokok pasif. Perempuan non-perokok akibat asap rokok di rumah berpeluang 25 persen mengidap penyakit kanker paru-paru.
Mengalihkan sumber dana belanja rumah tangga untuk belanja tembakau berdampak buruk bagi kesehatan keluarga. Survei terhadap 175 ribu rumah tangga miskin perkotaan pada tahun 2004 menyimpulkan bahwa: kepala keluarga yang perokok menimbulkan kemungkinan besar gizi buruk kronis pada anak.
Bukti penelitian yang dilakukan 10 tahun terakhir, 50 persen perokok meninggal akibat kecanduan. Seperti kematian disebabkan kanker, penyakit jantung dan pernafasan kronis adalah penyebab utama kematian akibat rokok. Proyeksinya sebuah lembaga penelitian, kematian akibat rokok pada tahun 2015 adalah 50 persen lebih banyak daripada kematian akibat HIV/AIDS (Survei Sosial Ekonomi Nasional: 2004).
Beberapa daerah di Indonesia telah menerapkan peraturan daerah. Selain DKI Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Palembang, dan Bogor telah menerapkan larangan merokok di tempat umum, sarana kesehatan, tempat kerja dan tempat belajar mengajar, arena kegiatan anak, tempat ibadah dan angkutan umum. Yogyakarta telah menerapkan pajak hingga enam kali lipat dari pajak normal khusus untuk produk rokok. Meskipun, perda tersebut tidak berjalan efektif, paling tidak pemerintah daerah telah berbuat menyelamatkan warganya dari racun, nikotin, dan zat adiktif yang mematikan.
Masalah rokok bahkan telah diharamkan melalui fatwa MUI dan Majelis Tarjih Muhammadiyah. Kedua pimpinan lembaga ini melihat faktor kemudharatan rokok lebih besar daripada manfaat. Merokok merupakan perbuatan tabzir (pemborosan) dan habaits (buruk), Ketua PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas menyatakan, status haram merokok merupakan tujuan dari syari’ah (maqosidussar’iyyah). Karena, tujuan dari maqosidussar’iyyah di antaranya adalah hifdzunnas (menjaga manusia).
Jika dilihat dari akibat dan peringatan terhadap rokok, tak ada yang menguntungkan. Selain menimbulkan kemudharatan dan pemborosan juga mendatangkan kematian. Rokok tidak membunuh pecandunya secara cepat, tapi perlahan hingga zat racun yang mengendap dalam tubuh perokok menyebabkan kematian secara perlahan tapi pasti.
Oleh : Mukhtaruddin Yakob
Jurnalis dan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI ) Banda Aceh
(analisadaily.com)
Minggu, 06 Maret 2011
Uofl Professor to Create New Statistical Model for Cancer Research
Posted by admin |
No Comments |

A University of Louisville professor is developing a statistical model that, among other things, may help determine what prolongs cancer free survival.
Somnath Datta, PhD, a professor in the Department of Bioinformatics and Biostatistics at the UofL School of Public Health and Information Sciences, and his team will incorporate medical and genomic data into the statistical model to find better answers to scientific questions.
A statistical model describes how one or more random variables relates to other variables. A multi-state model, which is the type Datta and his team are developing, looks at process – for example, how a person, moves from one state to another over a period of time.
For someone with cancer, the model could analyze how the disease progresses from one stage to another. Or, for a patient in remission, the model might help determine what prolongs cancer free survival. Datta could incorporate all these factors into his statistical model.
The new statistical model will allow for broad inspection of patient patterns and data collection that are more practical.
“The model will be derived from empirical evidence – based on observation or experience – rather than unverifiable mathematical laws,” Datta said. “As a result, the prediction from the methodology will be more robust and less likely to include model misspecification errors.”
In addition to having applications to cancer research, the new statistical method will be applicable to many other disciplines ranging from engineering to political science that deal with staged systems – or any system that can transition from one phase or stage to another. In politics, for instance, this would involve all the elements from planning a campaign to taking office.
Datta recently received a two year grant from the National Security Agency (NSA) under the Mathematical Sciences Program for this project. Work is expected to begin this month. (biomedme.com)
Kamis, 19 Agustus 2010
Test-retest reliability of selected items of Health Behaviour in School-aged Children (HBSC) survey questionnaire in Beijing, China
Posted by admin |
No Comments |
Children's health and health behaviour are essential for their development and it is important to obtain abundant and accurate information to understand young people's health and health behaviour. The Health Behaviour in School-aged Children (HBSC) study is among the first large-scale international surveys on adolescent health through self-report questionnaires.So far, more than 40 countries in Europe and North America have been involved in the HBSC study. The purpose of this study is to assess the test-retest reliability of selected items in the Chinese version of the HBSC survey questionnaire in a sample of adolescents in Beijing, China.
Methods: A sample of 95 male and female students aged 11 or 15 years old participated in a test and retest with a three weeks interval.
Student Identity numbers of respondents were utilized to permit matching of test-retest questionnaires. 23 items concerning physical activity, sedentary behaviour, sleep and substance use were evaluated by using the percentage of response shifts and the single measure Intraclass Correlation Coefficients (ICC) with 95% confidence interval (CI) for all respondents and stratified by gender and age.
Items on substance use were only evaluated for school children aged 15 years old.
Results: The percentage of no response shift between test and retest varied from 32% for the item on computer use at weekends to 92% for the three items on smoking. Of all the 23 items evaluated, 6 items (26%) showed a moderate reliability, 12 items (52%) displayed a substantial reliability and 4 items (17%) indicated almost perfect reliability.
No gender and age group difference of the test-retest reliability was found except for a few items on sedentary behaviour.
Conclusions: The overall findings of this study suggest that most selected indicators in the HBSC survey questionnaire have satisfactory test-retest reliability for the students in Beijing. Further test-retest studies in a large and diverse sample, as well as validity studies, should be considered for the future Chinese HBSC study.
Author: Yang LiuMei WangJorma TynjalaYan LvJari VillbergZhouyang ZhangLasse Kannas
Credits/Source: BMC Medical Research Methodology 2010, 10:73
Rabu, 24 Februari 2010
Berbahagialah, Maka Penyakit Pun Menjauh
Posted by admin |
No Comments |
Kebahagiaan yang kita rasakan ternyata bukan hanya terpancar dari aura wajah, melainkan juga kesehatan tubuh. Studi terhadap 9.981 orang Australia menunjukkan, orang yang sehat dan puas dengan hidupnya lebih jarang terkena penyakit.Penelitian yang dipublikasikan dalam The American Journal of Health Promotion ini membandingkan tingkat kebahagiaan dan kepuasan responden yang diberikan tahun 2001 dengan status kesehatan mereka pada tahun 2004.
Untuk mengukur kadar kebahagiaan, responden diberikan pertanyaan, seperti "Dalam seminggu terakhir apakah Anda merasa bahagia?" atau "Bila semua hal diperhitungkan, seberapa puas Anda dengan hidup yang dijalani?"
Tiga tahun kemudian, tingkat kesehatan para responden diukur dengan tiga cara. Pertama, mereka ditanya bagaimana kondisi kesehatannya, kemudian mereka ditanyakan apakah mengalami gangguan kesehatan. Terakhir, mereka ditanyakan apakah menderita 17 jenis penyakit yang disebutkan, seperti nyeri punggung atau gangguan mata.
Sebanyak 63 persen responden menjawab mereka selalu merasa happy. Sementara itu, 90 persen mengaku puas dengan hidupnya. Orang-orang dari kelompok itu ternyata lebih sehat. Dengan kata lain, jika saat ini Anda merasa puas dan bahagia dengan hidup, maka dalam tiga tahun mendatang besar kemungkinan Anda akan sehat.
Sebuah penelitian lain yang dilakukan di Amerika Serikat terhadap para biarawati juga menunjukkan hasil tak jauh berbeda. Biarawati yang mengaku berbahagia serta punya harapan dan mencintai hidupnya ternyata lebih panjang umur.
Para ahli mengatakan, kebahagiaan, seperti halnya status ekonomi, harus dimasukkan sebagai indikator kesehatan. (K)
Sabtu, 05 Desember 2009
Potensi Tanaman Asli Indonesia sbg Obat Anti HIV/AIDS
Posted by admin |
No Comments |
Banyak tanaman asli Indonesia yang berpotensi sebagai anti-HIV/AIDS, tetapi belum diuji skrining hingga menjadi obat yang diakui.Skrining itu diawali dengan penentuan sitotoksisitas ekstrak terhadap kultur sel yang telah diinfeksi HIV, hingga skrining terhadap fraksi ekstrak tanaman untuk diketahui mana yang memiliki aktivitas mantap sebagai anti-HIV.
Acemannan yang merupakan polisakarida asetilasi dari lidah buaya (aloe vera) yang diteliti laboratorium di AS dan di Kanada, ternyata bersifat antitumor, imunostimulan, dan antiviral.
Diterpenoid lakton yang terdapat pada sambiloto (andrographis paniculata) dapat menghambat pertumbuhan virus HIV-1 maupun virus HIV-2 dan dipatenkan di Universitas Bastyr dengan nama AndroVir.
Penelitian terhadap akstrak meniran (phyllanthus niruri) bekerja sebagai anti-viral dan imunostimulator (perangsang imunitas) pada penderita HIV/AIDS.
Ekstrak buah mengkudu (morinda citrifolia) telah dipatenkan sejumlah peneliti di negara maju sebagai antiinfeksi dan antikanker.
Ekstrak Bratawali (tinospora cordifolia) mampu menurunkan gejala yang terjadi pada infeksi HIV seperti mual, muntah, anoreksia dan lemah.
Ekstrak jambu biji (psidium guajava) sebagai penghambat virus HIV dan meringankan efek samping penderita HIV, seperti diare.
China yang sudah melakukan skrining terhadap tanaman anti-HIV terhadap 5.000 spesies tanaman obat, hanya menghasilkan sekitar 90 spesies yang menunjukkan aktivitas anti-HIV atau hanya sekitar 13 persen saja.
Sejauh ini penanganan HIV/AIDS mengandalkan HAART (Highly active antiretroviral therapy) yang diperkenalkan sejak 1996, yang mencakup kombinasi tiga obat kimia yang berasal dari sedikitnya dua jenis agen antiretroviral.
HAART membuat adanya stabilisasi gejala dan meningkatkan waktu bertahan penderita antara 4-12 tahun, tetapi tidak menyembuhkan pasien dari HIV dan bisa kambuh kembali setelah perawatan berhenti.
Dengan demikian pasien HIV membutuhkan obat alternatif pendamping dan potensi obat herbal perlu terus digali.
Senin, 28 September 2009
Belgium Phd position in Biostatistics 2009 2010
Posted by admin |
No Comments |

Description of the position
As a research assistant (up to 4 years' tax-free monthly grant of about 1500 Euros) the doctoral student's main activity is working on his/her thesis under the supervision of Prof. Catherine Legrand. Apart from conducting research that leads to journal publications and a PhD. thesis, the candidate is expected to follow the program of the Graduate School in Statistics and Actuarial Sciences and he/she can be involved on a small scale into some teaching activities of the IS.
Description of the working environment
The Institute of Statistics is a renowned research centre of high international reputation which offers a very stimulating working environment. It is equipped with modern computing facilities, a statistics library, a vivid visitors' programme and ample funding for scientific travel. At the IS there are about 15-20 doctoral students working under the supervision of about 10 professors, in a variety of fields of methodological and applied statistics, including biostatistics and actuarial sciences. They are integrated into the Graduate School in Statistics and Actuarial Sciences which offers them an up-to-date training in their field via regular seminar series, short courses and workshops, all in English and often given by international short and long-term visitors. A high percentage of the PhD students graduate from the IS and succeed in starting a promising career, be it in academia or industry.
The IS is part of a large international research network. It has numerous academic contacts, including those to neighbouring fields (medicine, agronomy, social science, economy, finance and engineering) as well as collaborations with industry. It is placed in the heart of a modern, vivid and international university campus, in close proximity of Brussels and its international airport, and in short travel distance to other European capitals.
Required qualifications
The ideal candidate should have a degree on the master level in (Bio)Statistics or in related field. This diploma must be obtained with at least distinction or an equivalent grade.
Beside good background in statistics and mathematics, the candidate should have an interest for applied statistics in clinical settings; good programming skills and experience in the use of statistical software such as SAS and/or R is a plus.
The candidate should be highly motivated, think analytically and creatively and have a good command of French and/or English.
To apply
Applications including a curriculum vitae, a letter of motivation and two letters of recommendation should be sent before November 1st 2009, to:
Prof. Catherine Legrand
Catherine.legrand@uclouvain.be
Institut de Statistique - Université catholique de Louvain
20 Voie du Roman Pays
B-1348 Louvain-la-Neuve - Belgique
More information can be obtained from: Prof. Catherine Legrand
Email: catherine.legrand@uclouvain.be , Phone: +32 (0)10 478798
Further information on the Institute of Statistics can be obtained from http://www.uclouvain.be/en-stat.html.
Senin, 16 Maret 2009
Aktivitas Fisik dan Diet Seimbang Mencegah Kanker
Posted by admin |
No Comments |
Menurut Menkes kanker merupakan penyakit yang tidak diketahui penyebabnya secara pasti, tetapi dipengaruhi oleh banyak faktor risiko, seperti merokok, diet yang tidak sehat, faktor lingkungan, obesitas, kurang aktivitas fisik, dan stress.
Berdasarkan estimasi WHO, faktor obesitas dan kurang aktivitas fisik menyumbangkan 30% risiko terjadinya penyakit kanker. Saat ini, 1,6 miliar orang dewasa di seluruh dunia mengalami berat badan berlebih (overweight), dan sekurang-kurangnya 400 juta diantaranya mengalami obesitas. Pada tahun 2015, 2,3 miliar orang dewasa akan mengalami overweight dan 700 juta di antaranya obesitas.
Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, prevalensi nasional obesitas umum pada penduduk berusia ≥ 15 tahun adalah 10,3%, dengan prevalensi pada laki-laki 13,9%, sedangkan pada perempuan 23,8%. Sedangkan prevalensi berat badan berlebih anak-anak usia 6-14 tahun pada laki-laki 9,5% dan pada perempuan 6,4%, yang hampir sama dengan estimasi WHO sebesar 10% pada anak usia 5-17 tahun.
Menkes mengatakan bahwa, berdasarkan SKRT tahun 2001 penyakit kanker merupakan penyebab kematian nomor 5 di Indonesia setelah penyakit kardiovaskuler, infeksi pernafasan dan pencernaan. Dengan peningkatan kasus kematian penyakit kanker dari 3,4 % pada tahun 1980 menjadi 6 % pada tahun 2001. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, prevalensi tumor di Indonesia adalah 4,3 per 1000 penduduk, dan kanker merupakan penyebab kematian nomor 7 (5,7%) setelah stroke, TB, hipertensi, cedera, perinatal, dan Diabetes Mellitus, ujar Menkes (11,07%), kanker hati dan saluran empedu intrahepatik (8,12%), Limfoma non Hodgkin (6,77%), dan Leukimia (5,93%). Leukimia merupakan kanker yang sering terjadi pada anak.
Sementara itu berdasarkan data registrasi kanker berbasis rumah sakit di DKI Jakarta tahun 2005, kanker pada anak usia 0-17 tahun terbanyak adalah leukemia (33,7%), neuroblastoma (7%), retinoblastoma (5,3%), osteosarcoma (4,8%), dan Lyphoma Non Hodgkin (4,8%). Kanker pada anak merupakan 4,9% dari kanker pada semua usia. Kanker pada anak lebih banyak menyerang laki-laki (53,5%) daripada perempuan (46,5%), kata Menkes.
Upaya pengendalian penyakit kanker di Indonesia telah banyak dilaksanakan oleh Depkes dan pihak-pihak lain di luar pemerintah, seperti Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Penanggulangan Kanker Terpadu Paripurna (PKTP), Proyek Female Cancer Control (FcP), Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI), Yayasan Kasih Kanker Anak Indonesia (YKAKI), dan lain-lain. [D]
Surat Keterangan Akreditasi FKM UNDIP
Bagi teman-teman yang membutuhkan informasi tentang Akreditasi FKM UNDIP... Silahkan download file di bawah ini... file sudah saya perb...
Find Us on Facebook
Category
Blog Archives
Do Before You Die


