journey healthy future

Tampilkan postingan dengan label diminta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label diminta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Maret 2014

Terancam Defisit, RS Diminta Lebih Efisien


JAKARTA  - Hingga memasuki bulan ketiga, masalah tarif dalam penerapan sistem Indonesia Case Based Groups (INA CBGs) di Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan masih terjadi.  Resiko defisit pun mulai menghantui rumah sakit yang bergabung dengan BPJS kesehatan.


Dalam diskusi yang dilakukan kemarin, Kepala National Casemix Center (NCC) Bambang Wibowo mengatakan memang ada penurunan atau minus pendapatan yang dialami rumah sakit dalam bidang tertentu.


Misalnya dari perhitungan salah satu rumah sakit di Banjarmasin. Rumah sakit tersebut harus mengalami defisit dalam hal operasi cesar. Menurutnya, hal itu disebabkan masih belum optimalnya efisiensi yang dilakukan pihak rumah sakit terhadap pelaksanaan operasi cesar tersebut.


Efisiensi ini dimaksutkanya dalam hal pemberian penanganan lebih maupun obat yang diberikan.


"Namun tertutupi oleh plus dari efisiensi bidang lain. Hasilnya masih untung jika dihitung secara keseluruhan," ungkapnya.


Memang, diakuinya, perubahan pola pentarifan dari fee for service menjadi INA CBGs masih cukup sulit. Terlebih bagi rumah sakit yang terbiasa memberikan semua fasilitas pelayanan pengobatan dan obat-obat bermerk untuk mencari untung. Karenanya, tak jarang terjadi over treatment (kelebihan pemeriksaan), over utility (kelebihan alat/teknologi) dan over precription (kelebihan obat).


"Kalau dulu kan semua biaya ditangguhkan ke pasien, kalau sekarang kan ditanggung bersama. Oleh karenanya, dokter dan rumah sakit harus memiliki teknologi yang cost effective. Sehingga tidak akan mengalami minus," jelasnya. Teknologi cost efefective ini dapat dimulai dari pengadaan obat.


Menurutnya, rumah sakit bisa mulai menggunakan obat-obat generik. Ia mengatakan, dengan penggunaan obat generik bukan berarti kualitas obat akan menurun. Sebab, hingga kini belum ada bukti konkrit mutu obat generik lebih buruk daripada obat bermerk.


"Di Indonesia ini 30-35 persen biaya pengeluaran dari obat. Padahal kalau di negara lain hanya sekitar 20-25 persen. Ini hal dasar yang harus dibenahi," katanya.


Selain itu, perencanaan matang sebelum melakukan pengadaan barang dan jasa juga harus mulai dipikirkan sejak awal. Pemberian pelayanan kesehatan yang berlebihan harus mulai dihindarkan jika tidak ingin mengalami kerugian. Pasalnya, dalam INA CBGs pembayaran sudah dikelompokkan sesuai dengan diagnosis awal.


"Peningkatan pemahaman mengenai INA CBGs oleh manageman rumah sakit dan dokter juga sangat diperlukan. Agar perencanaan bisa benar-benar berjalan dengan baik," ujar Bambang.


Meski masih bermasalah, Bambang yakin sistem ini akan mengahasilkan keuntungan baik bagi rumah sakit maupun pasien. Sebab, ke depannya akan ada perbaikan yang akan terus dilakukan. (mia)


Info CPNS Terlengkap | Bisnis Dari Rumah | Kerja Sambil Bisnis


View the original article here

Sabtu, 01 Maret 2014

Masyarakat Kota Bengkulu diminta waspada kabut asap

Bengkulu (ANTARA News) - Dinas Kesehatan Kota Bengkulu meminta masyarakat mewaspadai kabut asap kiriman dari kebakaran hutan dari provinsi Riau yang meluas hingga ke kota itu.

"Sudah satu minggu Kota Bengkulu ditutupi kabut asap karena kebakaran hutan di Riau dan kebakaran lahan di Provinsi Jambi terbawa angin sampai ke sini, masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan dampak buruk asap pada kesehatan," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Bengkulu, Edriwan di Bengkulu, Minggu.


Dia mengatakan pengaruh asap yang menyelimuti daerah itu, meningkatkan risiko warga terkena infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).


"Selain itu juga bisa menyebabkan iritasi mata, dan juga kecelakaan karena jarak pandang semakin pendek, masyarakat harus berhati-hati berkendara," kata dia.


Dinas kesehatan daerah itu menurutnya telah menambah stok ketersedian obat penanganan kasus infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh kabut asap.


Kita minta seluruh puskesmas dan RS Kota Bengkulu agar memberikan pelayanan maksimal," kata Edriwan.


Kepala Dinas Kesehatan Kota Bengkulu itu mengimbau kepada seluruh warga agar memperhatikan kesehatan dengan menggunakan masker jika beraktifitas diluar rumah.


Pengaruh kabut asap di Kota Bengkulu juga dirasakan oleh nelayan setempat, salah seorang nelayan, Pendi mengatakan dia bersama rekannya tidak melaut karena jarak pandang terbatas.


"Jarak pandang hanya 400--500 meter saja, sangat susah untuk melaut, sampai kabut asap ini reda, kemungkinan kami hanya memperbaiki alat tangkap ikan serta perawatan kapal," ujarnya.



Powered By WizardRSS.com | Full Text RSS Feed | RFID | Amazon Affiliate

View the original article here

Surat Keterangan Akreditasi FKM UNDIP

Bagi teman-teman yang membutuhkan informasi tentang Akreditasi FKM UNDIP... Silahkan download file di bawah ini... file sudah saya perb...

Find Us on Facebook

Blog Archives

Do Before You Die

Do Before You Die

Visitors


pinjaman utang