journey healthy future

Tampilkan postingan dengan label Kualitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kualitas. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Maret 2014

Kualitas Sel Telur dan Sperma Pengaruhi Mahal Tidaknya Bayi Tabung


Jakarta, Sudah menjadi hal umum bahwa program bayi tabung memiliki harga cukup mahal. Namun di antara beberapa faktor penentu mahalnya biaya, faktor internal lain seperti sel telur pada wanita dan sperma pada pria juga turut mempengaruhi, lho.

Program bayi tabung adalah proses pembuahan sel telur dan sperma di luar tubuh ibu, atau yang secara medis disebut dengan in vitro vertilization. In vitro dalam bahasa latin memiliki arti 'di dalam gelas atau tabung', sementara vertilization berarti 'pembuahan'.


Dalam proses bayi tabung, sel telur yang matang diambil dari indung telur ibu, kemudian dibuahi dengan sperma di dalam medium cairan khusus. Setelah berhasil, embrio kecil yang tercipta dimasukkan ke rahim ibu kembali.


Teknik ini tidaklah mudah, pun dengan risiko kegagalan hingga mencapai 50 persen lebih. Karena itulah biaya yang dibutuhkan untuk menjalani prosedur ini terbilang cukup mahal.


"Faktor yang menentukan biaya bayi tabung itu usia, penyakit yang menyebabkan indung telurnya ibu sedikit, dan sperma abnormal. Semakin abnormal ya semakin mahal," ujar Dr R. Muharam, SpOG, spesialis kebidanan dan kandungan Klinik Yasmin RSCM, kepada detikHealth dan ditulis pada Rabu (12/3/2014).


Sementara itu, dr Ivan R. Sini, MD, FRANZCOG, GDRM, SpOG, Medical Director dari klinik Morula IVF Jakarta, menyebutkan bahwa dalam program bayi tabung umumnya penggunaan obat-obatan juga turut membuat biayanya menjadi mahal, bahkan mencakup 50-60 persen dari total biaya keseluruhan.


"Dalam program ini kan juga ada penggunaan laboratorium, laboratoriumnya ini harus mumpuni, yang terkontrol dengan baik, ini juga memakan biaya cukup besar. Kalau di luar faktor klinis itu yang menentukan adalah jumlah cadangan telur wanita, kalau cadangan telurnya banyak, maka dosis obat yang diberikan akan sedikit, maka biayanya pun akan berkurang," papar dr Ivan.


Untuk urusan biaya, dr Muharam menyebutkan kisaran biaya bayi tabung adalah sekitar Rp 40-80 juta. Sementara dr Ivan menjelaskan biaya biasanya bervariasi, bergantung pada dosis obat. Idealnya program bayi tabung ini memberikan dosis penuh untuk merangsang telur dengan biaya kira-kira Rp 40-70 juta.


"Tetapi sekarang ada juga yang menggunakan mini stimulasi atau natural cycle, biasanya lebih murah, tapi angka keberhasilannya biasanya juga lebih rendah," pungkas dr Ivan.


(ajg/vit)




Powered By WizardRSS.com | Info CPNS Terlengkap | Bisnis Dari Rumah | Kerja Sambil Bisnis

View the original article here

Rabu, 05 Maret 2014

Meski Anggaran Kurang, Kualitas Pelayanan Dokter Diharapkan Tak Menurun


Jakarta, Kurangnya anggaran kesehatan ditakutkan oleh berbagai pihak akan menjadi 'batu sandungan' dalam keberhasilan pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Indonesia. Bagaimana tidak, kurangnya anggaran dapat berakibat pada penurunan mutu pelayanan kesehatan.

Meskipun tahun 2014 ini anggaran kesehatan yang direncanakan sebanyak 5 persen dari APBN dan 10 persen dari APBD mengalami peningkatan, dari yang sebelumnya Rp 36,5 triliun menjadi Rp 46,5 triliun, hingga kini nyatanya belum semuanya diterima.


Selain itu, pemberlakuan sistem kapitasi dalam JKN juga ditakutkan akan menurunkan semangat dokter dalam memberikan pengobatan terbaik bagi setiap pasien. Sistem seperti ini diklaim dapat membuat dokter bekerja dengan memerhatikan tarif dan mengesampingkan standar pelayanan.


"Dokter bekerja secara profesional dan dibayarnya juga profesional. Untuk melayani masyarakat memang tugas dokter, tetapi untuk membiayai masyarakat yang kurang mampu itu tugas pemerintah," ujar Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, Dr. PH, Guru Besar Universitas Indonesia.


Hal tersebut ia sampaikan saat hadir dalam acara Dies Natalis Universitas Indonesia ke-64 tingkat FK UI tahun 2014 di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jl Salemba Raya, Jakarta Pusat, Rabu (5/3/2014).


Menurutnya, 30-40 persen dana pemerintah seharusnya digunakan untuk layanan primer. Sebab jika anggaran kesehatan terlalu rendah, maka inisiatif dokter untuk melakukan upaya promotif dan preventif pun akan semakin rendah.


"Kalau kita lihat pada pasal 4 UU Pendidikan Kedokteran, tujuan pendidikan kedokteran untuk menghasilkan dokter yang berbudi luhur, bermartabat, bermutu, beretika, berdedikasi tinggi, profesional, bermoral, yang intinya itu adalah persoalan moral. Jadi yang tidak kalah penting dari seorang dokter itu adalah moralnya," papar Prof. dr. Budi Sampurna, SpF(K), SH, DFM, SpKP, ditemui dalam acara yang sama.


(ajg/vit)




Powered By WizardRSS.com | Info CPNS Terlengkap | Bisnis Dari Rumah | Kerja Sambil Bisnis

View the original article here

Surat Keterangan Akreditasi FKM UNDIP

Bagi teman-teman yang membutuhkan informasi tentang Akreditasi FKM UNDIP... Silahkan download file di bawah ini... file sudah saya perb...

Find Us on Facebook

Blog Archives

Do Before You Die

Do Before You Die

Visitors


pinjaman utang