journey healthy future

Tampilkan postingan dengan label MERSCoV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MERSCoV. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Juni 2015

Kamis, 25 Juni 2015

Potensi Penularan MERS di Indonesia Tinggi

Kewaspadaan terhadap penularan virus korona penyebab sindrom pernapasan Timur Tengah perlu ditingkatkan. Dengan jumlah jemaah sedikitnya 750.000 orang yang pergi umrah ke Arab Saudi per tahun, Indonesia rentan terhadap penyebaran penyakit itu.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Mohamad Subuh mengatakan, pola hidup sehat menjadi cara terbaik mencegah penularan sindrom pernapasan Timur Tengah yang disebabkan virus korona (MERS-CoV).

Hal itu karena belum ada vaksin yang bisa menangkal virus itu. "Belum ada pengobatan bersifat spesifik. Pengobatan yang dilakukan tergantung dari keluhan dan kondisi pasien," kata Subuh, di Jakarta, Kamis (25/6).

Indonesia termasuk negara rentan penularan MERS-CoV. Hal itu karena 13 embarkasi melayani rute penerbangan luar negeri pada pelaksanaan ibadah haji. Tiap tahun, sekitar 250.000 anggota jemaah haji dan sedikitnya 750.000 anggota jemaah umrah asal Indonesia pergi ke Arab Saudi, negara lokasi kasus MERS. "Tidak ada negara sebesar Indonesia yang penduduknya datang dalam jumlah besar ke negara terjangkit MERS untuk waktu lama," kata Subuh.

Pada tahun 2014, ada dua warga negara Indonesia positif terinfeksi MERS-CoV di Arab Saudi, yakni seorang perempuan yang tinggal di Arab Saudi dan seorang anggota jemaah umrah terinfeksi saat beribadah. Setelah dirawat intensif, anggota jemaah itu sembuh dan kembali ke Indonesia.

Untuk itu, jemaah umrah ataupun haji amat dianjurkan memakai masker dan sanitizer. Sebagai upaya pencegahan, pemerintah juga akan menyediakan kartu kendali bagi warga negara asing dan warga Indonesia yang pulang pergi ke Arab Saudi ataupun Korea Selatan, negara-negara dengan kasus MERS-CoV. Kartu berfungsi memantau kesehatan mereka, terutama yang baru pulang dari Arab Saudi dan Korea Selatan.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Tjandra Yoga Aditama mengingatkan, MERS-CoV tak hanya mewabah di Korea Selatan, tetapi penyakit itu masih aktif di Arab Saudi. Terakhir, ada tiga pasien baru MERS-CoV sehingga total pasien terinfeksi 1.038 orang, 459 pasien meninggal dunia, 573 orang sembuh, dan 6 pasien dirawat.

Untuk itu, calon jemaah umrah dan haji perlu mewaspadai penularan virus itu. Sebelum berangkat ke Arab Saudi, mereka dianjurkan periksa ke dokter untuk menangani penyakit kronis, seperti paru-paru, jantung, ginjal, dan diabetes melitus, yang merupakan faktor risiko utama gejala MERS-CoV. Selain kerap mencuci tangan dengan sabun, hindari kontak langsung dengan unta selama berada di Arab Saudi.*print.kompas

Kesiapan Tenaga Kesehatan Jadi Kunci Ketahanan Indonesia terhadap MERS

Setelah kasus MERS-CoV pertama di luar Timur Tengah terkonfirmasi di Korea Selatan dan pertama kali di Asia Tenggara terjadi di Thailand, Indonesia perlu semakin waspada. Kesiapan tenaga kesehatan untuk mencegah penularan dan menangani pasien yang tertular menjadi kunci ketahanan Indonesia.

Salah satu daerah yang sangat rentan menjadi tempat penularan virus MERS-CoV dari luar negeri adalah Jakarta. "DKI berpotensi besar. Hal itu bisa dilihat dari jumlah perjalanan ke Arab Saudi melalui Cengkareng (Bandara Soekarno-Hatta)," kata Direktur Utama Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof Dr Sulianti Saroso, Fatmawati, saat membuka seminar "MERS-CoV Update bagi Petugas Kesehatan Se-DKI Jakarta", Rabu (24/6), di Jakarta.

Seminar diselenggarakan RSPI Prof Dr Sulianti Saroso serta dihadiri dokter dan tenaga kesehatan lain dari seluruh DKI Jakarta. Tujuannya adalah meningkatkan pengetahuan dan kewaspadaan tenaga kesehatan se-DKI Jakarta terhadap MERS-CoV, termasuk langkah-langkah jika seorang pasien diduga terinfeksi virus tersebut.

Fatmawati mengatakan, RSPI Prof Dr Sulianti Saroso sebagai pusat rujukan nasional untuk penyakit infeksi sudah siap siaga menghadapi kemungkinan penularan MERS-CoV sejak virus pertama kali ditemukan di Arab Saudi. Hal ini mengingat banyak warga negara Indonesia pergi ke negara tersebut, antara lain untuk ibadah haji dan umrah.

Pihak RSPI pun sudah memperkuat para anggota staf dari garda terdepan hingga penanganan terakhir pasien. Salah satunya melalui simulasi kedaruratan jika terjadi wabah infeksi setiap enam bulan sekali. "Mulai dari petugas keamanan, operator telepon, petugas registrasi, para dokter, perawat, hingga petugas kebersihan, semua sudah tahu prosedurnya," ujar Fatmawati.

RSPI sudah berpengalaman merawat pasien diduga MERS-CoV. Pada 2014, terdapat 12 orang diduga terinfeksi MERS-CoV dan semuanya dinyatakan negatif. Kemudian, tahun ini, RSPI menangani lima pasien. Empat orang dinyatakan negatif, sedangkan satu pasien masih menunggu hasil uji laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan.

Pasien laki-laki berusia dua tahun ini masuk ke ruang isolasi di RSPI Prof Dr Sulianti Saroso sejak Senin lalu. Pasien ini adalah orang pertama di Indonesia yang diduga tertular MERS-CoV dari Korea Selatan. Para terduga sebelumnya yang dirawat RSPI dan sudah dinyatakan negatif MERS-CoV memiliki riwayat perjalanan ke Timur Tengah.

Direktur Medik dan Keperawatan RSPI Prof Dr Sulianti Saroso, Rita Rogayah, yakin RSPI mampu mencegah penularan penyakit pada orang-orang di kawasan RSPI karena Indonesia sudah lebih waspada. Seperti diberitakan, MERS-CoV menyebar di area rumah sakit di Korea Selatan, dari pasien di satu ruangan ke pasien di ruangan lain. "Mungkin penduduk Korea Selatan yang beribadah ke Arab Saudi sedikit sehingga tidak menyangka dan pemerintah di sana kurang siap," ujar Rita.

Hingga 22 Juni, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan kasus MERS-CoV di Korea Selatan mencapai 171 kasus positif dengan angka kematian 27 kasus. Di Thailand, satu kasus positif dilaporkan pada 18 Juni. Sementara itu, menurut data global WHO hingga 19 Juni, terdapat 1.338 kasus positif dengan kematian mencapai 475 kasus.

MERS-CoV (Sindrom Pernapasan Timur Tengah) merupakan penyakit akibat virus korona baru (novel corona virus) yang menyerang saluran pernapasan dan menimbulkan gejala ringan hingga berat dengan masa inkubasi 2-14 hari. Penyakit bisa semakin parah jika penderita memiliki penyakit penyerta (komorbid), seperti penyakit paru kronik dan penyakit jantung kronik.

Virus MERS-CoV yang baru pertama kali ditemukan di Arab Saudi pada 2012 stabil pada suhu 20-40 derajat celsius dan kelembaban rendah. Virus ini berbeda dengan virus SARS yang juga tergolong virus korona dan mampu menimbulkan pneumonia berat.*print.kompas

Rabu, 18 Juni 2014

WHO Ingatkan Virus MERS Jelang Haji

Wabah virus mematikan MERS masih menjadi masalah serius kesehatan masyarakat, namun peningkatan kasus sudah berkurang dan penyakit tersebut tidak sampai menimbulkan darurat global, kata Badan Kesehatan Dunia (WHO) Selasa.

Virus penyebab Sindrom Pernapasan Timur Tengah (MERS) yang menimbulkan gejala batuk, demam dan kadangkala pneumonia mematikan, dilaporkan menginfeksi lebih dari 800 pasien, terutama di Arab Saudi.

Penyakit tersebut telah menyebar ke negara-negara tetangga dan dalam beberapa kasus ke Eropa, Asia dan Amerika Serikat. Setidaknya 315 orang meninggal akibat penyakit tersebut.

Dalam pernyataan setelah pertemuan keenam komite darurat MERS, WHO mengatakan peningkatan jumlah kasus yang terjadi sejak April mulai menurun dan "tidak ada bukti penularan antarmanusia".

"Upaya-upaya nyata telah dibuat untuk memperkuat pencegahan infeksi dan langkah-langkah pengendalian," katanya. Sebagai hasilnya, "komite secara aklamasi menyimpulkan bahwa syarat bagi Darurat Kesehatan Masyarakat untuk Perhatian Internasional (PHEIC) tidak dipenuhi".

Aturan kesehatan internasional mendefinisikan PHEIC sebagai situasi luar biasa yang membahayakan negara-negara anggota WHO lain melalui penyebaran penyakit, dan membutuhkan tanggapan internasional yang terkoordinasi.

WHO menekankan bahwa situasi MERS masih menjadi keprihatinan, terutama dengan antisipasi meningkatnya kunjungan ke Arab Saudi terkait penyelenggaraan ibadah haji, umroh dan Ramadan.

Jutaan orang datang ke Mekah tiap tahun untuk melaksanakan haji, ibadah yang harus dilakukan setiap Muslim yang mampu setidaknya sekali seumur hidup. Musim haji tahun ini akan dilakukan pada Oktober.

Kamis, 13 Maret 2014

Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV) – update




Disease outbreak news


WHO has been informed of an additional three laboratory-confirmed cases of Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV) infection. One case was reported from the United Arab Emirates (UAE) on 11 March and two cases from Saudi Arabia on 5 March.


Globally, from September 2012 to date, WHO has been informed of a total of 189 laboratory-confirmed cases of infection with MERS-CoV, including 82 deaths.


WHO advice


Based on the current situation and available information, WHO encourages all Member States to continue their surveillance for severe acute respiratory infections (SARI) and to carefully review any unusual patterns.


Infection prevention and control measures are critical to prevent the possible spread of MERS-CoV in health care facilities. Health-care facilities that provide for patients suspected or confirmed to be infected with MERS-CoV infection should take appropriate measures to decrease the risk of transmission of the virus from an infected patient to other patients, health-care workers and visitors. Health care workers should be educated, trained and refreshed with skills on infection prevention and control.


It is not always possible to identify patients with MERS-CoV early because some have mild or unusual symptoms. For this reason, it is important that health-care workers apply standard precautions consistently with all patients – regardless of their diagnosis – in all work practices all the time.


Droplet precautions should be added to the standard precautions when providing care to all patients with symptoms of acute respiratory infection. Contact precautions and eye protection should be added when caring for probable or confirmed cases of MERS-CoV infection. Airborne precautions should be applied when performing aerosol generating procedures.


Patients should be managed as potentially infected when the clinical and epidemiological clues strongly suggest MERS-CoV, even if an initial test on a nasopharyngeal swab is negative. Repeat testing should be done when the initial testing is negative, preferably on specimens from the lower respiratory tract.


Health-care providers are advised to maintain vigilance. Recent travellers returning from the Middle East who develop SARI should be tested for MERS-CoV as advised in the current surveillance recommendations. All Member States are reminded to promptly assess and notify WHO of any new case of infection with MERS-CoV, along with information about potential exposures that may have resulted in infection and a description of the clinical course. Investigation into the source of exposure should promptly be initiated to identify the mode of exposure, so that further transmission of the virus can be prevented.


People at high risk of severe disease due to MERS-CoV should avoid close contact with animals when visiting farms or barn areas where the virus is known to be potentially circulating. For the general public, when visiting a farm or a barn, general hygiene measures, such as regular hand washing before and after touching animals, avoiding contact with sick animals, and following food hygiene practices, should be adhered to.


WHO does not advise special screening at points of entry with regard to this event nor does it currently recommend the application of any travel or trade restrictions.




Powered By WizardRSS.com | Info CPNS Terlengkap | Bisnis Dari Rumah | Kerja Sambil Bisnis

View the original article here

Sabtu, 01 Maret 2014

Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV) – update


Disease outbreak news

On 3 and 15 February 2014, the Ministry of Health of Saudi Arabia announced two additional laboratory-confirmed cases of Middle East Respiratory Syndrome coronavirus (MERS-CoV) infection.

Details of the cases provided to WHO are as follows:

A 22-year-old man from the Eastern Region. He became ill on 3 February and was hospitalised on 9 February and died on 12 February 2014. The patient had an underlying medical condition. He had no reported history of contact with animals or a previously laboratory-confirmed case.

A 67-year-old man from Riyadh. He became ill on 23 January and was hospitalised on 25 January. The patient had an underlying medical condition. He had no reported history of contact with animals or with a previously laboratory-confirmed case.

Globally, from September 2012 to date, WHO has been informed of a total of 184 laboratory-confirmed cases of infection with MERS-CoV, including 80 deaths.

Infection prevention and control measures

Based on the current situation and available information, WHO encourages all Member States to continue their surveillance for severe acute respiratory infections (SARI) and to carefully review any unusual patterns.

MERS-CoV infections that may be acquired in health-care facilities illustrate the need to continue to strengthen infection prevention and control measures. Health-care facilities that provide care for patients suspected or confirmed with MERS-CoV infection should take appropriate measures to decrease the risk of transmission of the virus to other patients, health-care workers and visitors. Education and training for infection prevention and control should be provided to all health-care workers and regularly refreshed.

Early identification of the MERS-CoV is important, but not all the cases could be reliably and timely detected, especially when disease is mild or presents atypically. Therefore, it is important to ensure that standard precautions are consistently used for all patients and all work practices all of the time, regardless of suspected or confirmed infection with the MERS-CoV or any other pathogen. Droplet precautions should be added when providing care to all patients with symptoms of acute respiratory infection, and contact precautions plus eye protection should be added when caring for confirmed or probable cases of MERS-CoV infection. Airborne precautions are indicated when performing aerosol generating procedures.

When the clinical and epidemiological clues strongly suggest MERS-CoV, the patient should be managed as potentially infected, even if an initial test on a nasopharyngeal swab is negative. Repeat testing should be done when the initial testing is negative, preferably on specimens from the lower respiratory tract.

WHO advice

WHO encourages all Member States to continue their surveillance for severe acute respiratory infections (SARI) and to carefully review any unusual patterns.

Health-care providers are advised to maintain vigilance. Recent travellers returning from the Middle East who develop SARI should be tested for MERS-CoV as advised in the current surveillance recommendations.

All Member States are reminded to promptly assess and notify WHO of any new case of infection with MERS-CoV, along with information about potential exposures that may have resulted in infection and a description of the clinical course. Investigation into the source of exposure should promptly be initiated to identify the mode of exposure, so that further transmission of the virus can be prevented.

People at high risk of severe disease due to MERS-CoV should avoid close contact with animals when visiting farms or barn areas where the virus is known to be potentially circulating. For the general public, when visiting a farm or a barn, general hygiene measures, such as regular hand washing before and after touching animals, avoiding contact with sick animals, and following food hygiene practices, should be adhered to.

WHO does not advise special screening at points of entry with regard to this event nor does it currently recommend the application of any travel or trade restrictions.


Powered By WizardRSS.com | Full Text RSS Feed | RFID | Amazon Affiliate

View the original article here

Surat Keterangan Akreditasi FKM UNDIP

Bagi teman-teman yang membutuhkan informasi tentang Akreditasi FKM UNDIP... Silahkan download file di bawah ini... file sudah saya perb...

Find Us on Facebook

Blog Archives

Do Before You Die

Do Before You Die

Visitors


pinjaman utang