Keluarga Sadar Gizi, Mewujudkan Keluarga Cerdas Mandiri
SEORANG anak laki-laki berumur dua belas bulan terpaksa dibawa ke puskesmas karena menderita gizi buruk dengan komplikasi penyakit diare. Dalam kesehariannya anak ini diasuh oleh neneknya yang karena kesibukan kedua orangtuanya. Mulai usia tiga bulan ia tidak diberi ASI lagi dan hanya diberi susu botol. Tanpa disadari berat badannya terus mengalami penurunan dan anak tersebut terlihat kurus sekali. Kondisinya menjadi sangat lemah dan sakit-sakitan. Apakah kejadian yang dialami oleh anak laki-laki ini akan menimpa anak-anak lain di negeri ini?
Inilah sepenggal cerita pedih yang banyak dialami oleh anak-anak balita negeri ini bahkan di era modern saat ini. Hasil penilaian terakhir didapat bahwa sekitar 28,04 persen balita di negeri ini mengalami gizi kurang bahkan 8,80 persen diantaranya masuk kedalam status gizi buruk (BPS, 2005).
Gangguan gizi yang terjadi khususnya pada anak balita dan usia sekolah dapat mempengaruhi prestasi belajar mereka dan sudah tentu hal tersebut sangat merugikan bagi generasi kita mendatang. Gangguan gizi ini juga sangat dipengaruhi oleh keadaan asupan gizi yang diterima oleh ibu baik semasa hamil maupun pada saat nifas dan melahirkan.
Masa kehamilan sering disebut sebagai periode kritis terhadap pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental anak. Walaupun demikian, tidak banyak keluarga terutama ibu yang memperhatikan hal tersebut. Banyak faktor yang menyebabkan kondisi tersebut mulai dari faktor kurangnya pengetahuan ibu dan keluarga akan masalah gizi hingga faktor ekonomi yang tidak memungkinkan keluarga memenuhi kebutuhan gizi anggotanya.
Di tengah maraknya kasus gizi kurang dan gizi buruk di negeri ini, gizi lebih ikut-ikutan meledak dengan tajam. Data terakhir juga membuktikan bahwa hampir 30 juta penduduk kita mengalami masalah kesehatan yang berhubungan dengan gizi lebih dan sebagian besar diantara mereka tinggal di perkotaan.
Mereka yang terkena gizi lebih ini cenderung memiliki pola hidup yang serba instan, jarang berolah raga, dan menyukai makanan-makanan tinggi lemak namun rendah mengkonsumsi serat seperti sayuran dan buah-buahan. Hal ini mengindikasikan bahwa Indonesia sedang mengalami transisi epidemiologi penyakit dan masalah gizi ganda (double burden) yang akan memicu penyakit degeneratif di lingkungan kita.
Nah, untuk itulah diperlukan adanya gerakan KADARZI (Keluarga Sadar Gizi) agar masalah yang kita hadapi diatas tidak berlarut-larut terjadi di negeri ini. KADARZI merupakan gambaran keluarga yang berperilaku gizi seimbang, mampu mengenali, dan mengatasi gizi anggotanya.
Perilaku gizi seimbang mencakup pengetahuan, sikap, dan praktek keluarga dalam mengkonsumsi makanan seimbang dan berperilaku sehat. Sedangkan makanan seimbang sendiri merupakan makanan keluarga yang mengandung semua zat gizi yang diperlukan masing-masing anggota keluarga dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan dan bebas dari pencemaran baik mikroorganisme maupun dari bahan-bahan beracun seperti boraks dan formalin.
Keluarga merupakan wadah pendidikan informal dasar yang ada di masyarakat. Di sinilah awal pembentukan moral anak dimulai. Selain itu, pengambilan keputusan dalam bidang pangan, gizi, dan kesehatan dilaksanakan di tingkat keluarga. Keluargalah yang menentukan apa yang terbaik buat anggotanya bukan orang lain.
Dari sisi ini, kita bisa memberikan stimulus kepada anggota keluarga bagaimana memutuskan yang terbaik dan yang benar terutama dalam hal pemenuhan gizi mereka. Keluarga juga menjadi sasaran yang sangat cocok untuk memperbaiki gizi masyarakat karena sumber daya dimiliki dan dimanfaatkan di tingkat keluarga dan masalah gizi yang terjadi erat kaitannya dengan perilaku anggota keluarga tidak semata-mata disebabkan karena kemiskinan dan ketidaktersediaan pangan walaupun sebenarnya kedua hal itu memegang peranan penting terhadap terjadinya masalah gizi. Lagi-lagi dari sisi ini juga dapat memberikan stimulus kepada anggota keluarga bagaimana seharusnya berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Kebersamaan antar keluarga juga dapat memobilisasi masyarakat untuk memperbaiki keadaan gizi dan kesehatan mereka.
Mulai dari hal termudah namun sangat penting, masyarakat dapat memulainya dengan berolah raga secara teratur dan memantau berat badan anggotanya secara teratur juga. Hal ini memang selalu dianggap sepele namun perlu diketahui bahwa perubahan berat badan menggambarkan status kesehatan seseorang di masa itu juga.
Contohnya, perubahan berat badan yang tidak proporsional setiap triwulan kehamilan seorang ibu dapat memberi kemungkinan bahwa ibu tersebut sedang mengalami KEK (Kurang Energi Kronik) atau anemia gizi dan besi.
Penurunan berat badan anak pada usia sekolah juga dapat mengindikasikan kemungkinan terjadinya KEP (Kurang Energi Protein) atau bisa jadi anak tersebut sedang mengalami kecacingan. Pemantauan berat badan sangatlah penting dan dapat dilakukan keluarga dimana dan kapan saja misalnya dengan memiliki timbangan berat badan sendiri di rumah.
Dengan memantau berat badan secara teratur, keluarga dapat mengenali masalah kesehatan dan gizi anggota keluarganya dan diharapkan juga mampu mengatasi masalahnya baik sendiri atau dengan bantuan petugas kesehatan. Khusus untuk anak balita, pemantauan berat badan harus dilakukan minimal sekali dalam sebulan di posyandu dan harus di nilai status per-umbuhannya melalui KMS (Kartu Menuju Sehat) yang harus dibawa setiap kali penimbangan.
Hal lain yang dapat dilakukan keluarga adalah dengan makan makanan yang beraneka ragam. Hal ini disebabkan karena tidak ada satupun jenis bahan makanan yang mengandung semua zat gizi yang diperlukan oleh tubuh setiap harinya.
Makanan yang beraneka ragam bukanlah makanan yang harus mahal harganya namun dapat berupa makanan yang tercantum dalam daftar makanan empat sehat lima sempurna yang hampir semuanya adalah makanan yang mudah didapat dan harganya pun cukup terjangkau.
Di samping makanan yang beraneka ragam, setiap anggota keluarga juga harus memastikan bahwa garam dapur yang digunakan sehari-hari adalah garam beryodium. Walaupun dalam jumlah yang sangat sedikit, zat yodium sangat diperlukan tubuh setiap hari. Kekurangan zat yodium dalam tubuh dapat menimbulkan penurunan kecerdasan anak, gangguan pertumbuhan hingga kretinisme dan pembesaran kelenjar gondok.
Satu hal lain yang tidak kalah penting bagi keluarga untuk menjadi kadarzi adalah pemberian ASI saja kepada bayi sampai berusia enam bulan kecuali ada indikasi medis yang mengharuskan bayi tersebut diberikan susu formula.
ASI merupakan makanan bayi yang paling sempurna, bersih, sehat, dan dapat memenuhi semua kebutuhan gizi bayi untuk tumbuh kembangya dengan normal sampai usia enam bulan.
Selain itu pemberian ASI saja (ASI eksklusif) juga dapat meningkatkan kekebalan tubuh bayi serta dapat menjalin hubungan kasih sayang antara ibu dan bayinya. Pemberian makanan tambahan seperti bubur saring dapat dilakukan setelah bayi berusia diatas enam bulan dan secara bertahap menuju pada pemberian makanan orang dewasa seperti nasi.
Untuk menjadi KADARZI bukanlah hal yang sulit bila kita memulainya dari sekarang dan bersungguh-sungguh melaksanakan pola hidup sehat di atas. Dengan demikian keluarga kita dapat menjadi keluarga sehat, cerdas dan mandiri yang dapat menjadi modal pembangunan bangsa kita bukan malah menjadi beban yang terus menerus di tanggung bangsa Indonesia.
sumber : analisadaily.com
